Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata

Saya tertantang!!

Sesaat setelah Yuk Indah Wibowo menandai saya di unggahan akun milik Elfa Mediatama di Facebook, saya pun langsung menelusur berita yang dimaksud. Tertulis di sana sebuah ajakan menulis fiksi mini dengan maksimum jumlah kata 250 buah.

Wah!! Untuk saya yang terbiasa menulis minimum 1.000 kata (sombongnya kumat) hal ini tentu saja jadi sebuah tantangan. Apalagi harus diikuti dengan alur cerita yang jelas dan berakhir dengan plot twist yang menegangkan tapi tidak kabur dari tema utama.

Bisa gak ya?

Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata

Terus terang, untuk saya, 250 kata untuk mengurai cerita dari awal hingga akhir tuh cukup berat. Gak gampang. Saya terbiasa menulis review atau ulasan yang menampilkan banyak rincian. Dari sebuah jeruk yang bisa dibahas mulai dari kulitnya, seratnya hingga isinya. Atau dari sebuah tempat yang dibahas bisa dari gerbangnya, pintunya, terasnya sampai dapurnya.

Sementara untuk antologi ini adalah kebalikannya.

Semua harus ringkas seperti rangkuman. Dan satu lagi yang terpenting adalah kemunculan plot twist yang membuat tulisannya lebih seru, malah sebisa mungkin menegangkan. Setidaknya memberikan kejutan yang tidak terduga sehingga meninggalkan kesan yang tepatri di sanubari para pembaca.

Saya berpikir sejenak. Semedi kilat.

Muncul lagi pertanyaan yang sama. Bisa gak ya?

Alih-alih ragu sama diri sendiri, semakin dipikirin lah kok malah jadi makin penasaran. Anggap aja ini cabaran untuk diri sendiri ya. Meskipun baru sekali ini dicoba, bukan berarti gak bisa kan? Begitulah kira-kira rangkaian kalimat yang terus menerus meloncat-loncat di dalam benak.

Lucunya. Saya sudah terlebih dahulu bilang “iya ikutan” sebelum barisan keraguan itu muncul. Dasar bondo (modal) nekad.

Apa Sih Fiksi Mini Itu?

Project buku keroyokan fiksi mini ini lahir dari ide kebersamaan Elfa Mediatama publisher dengan Ibu Belinda Gunawan, salah seorang penggagas media yang memiliki nama populer di grup media Femina. Beliau bekerja di grup ini selama 30 tahun. Mulai dari majalah Gadis, Femina, Ayahbunda dan Dewi. Jadi saat bicara soal jam terbang, tak usah diragukan lagi lah ya. Profil beliau hingga kini masih sangat dihormati dan disegani oleh banyak pihak yang terlibat dalam dunia kepenulisan.

Saya sendiri dulu sempat mengirimkan tulisan dan dimuat di majalah Femina. Satu tulisan tentang kisah perjalanan domestik sementara satu lagi adalah sebuah cerpen fiksi. Saya sudah lupa itu di edisi yang mana. Tapi yang pasti saat itu saya masih kuliah di dua semester awal. Honornya lumayan meski tidak terlalu istimewa. Tapi saya bangga karena telah berhasil menembus kualifikasi yang dibutuhkan oleh media besar sekelas Femina di masa itu.

Oke. Kembali ke pengetahuan tentang fiksi mini.

Saya mengutip apa yang ditulis oleh Ibu Belinda Gunawan di lembaran sambutan.

Fiksi mini adalah tulisan yang sangat pendek. Biasanya 50-100 kata tapi bisa juga lebih. Bahkan ada teori yang menyatakan, sampai 500 kata pun sebuah karya masih bisa digolongkan sebagai fiksi mini. Sebutannya juga beragam. Ada flash fiction, short story, sudden fiction atau microstory. Yang pasti, fiksi mini sependek apapun adalah cerpen. Ia mengandung semua unsur yang ada di dalam cerpen secara lengkap. Ada judul, plot, tokoh, setting (latar belakang), konflik, klimaks dan ending (akhir cerita).

Selain itu, sebagai layaknya sebuah cerpen, fiksi mini mengandung unsur surprise (kejutan). Artinya, tidak datar dan mengalir saja seperti sebuah catatan harian atau laporan. Ada pula anggapan bahwa unsur kejutan ini perlu dalam sebuah fiksi mini, lebih daripada dalam sebuah cerpen. Harus ada twist ending yaitu akhir cerita yang twisted, yang berbelok tiba-tiba sehingga sangat tidak disangka-sangka pembaca.

Jadi boleh dikatakan, sejak awal menyusun plot di dalam pikiran, penulis fiksi mini sudah merancang sebuah plot twist. Seolah-olah ada pikiran iseng yang berkelebat di kepala. “Bagaimana ya caranya ‘mengakali’ pembaca dengan ceritaku?” Tantangan berikutnya adalah, bagaimana caranya membuat fiksi semacam ini, hanya dengan jumlah kata yang sedikit. Hemat kata adalah ciri lain dari fiksi mini.

Saya mendadak menemukan gumpalan semangat menulis yang melonjak-lonjak. Baiklah. Let’s do it in a fine way.

Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata

Tentang Antologi Hujan dan Air Mata

Untuk memudahkan koordinasi diantara 98 penulis yang menyatakan terlibat di dalam fiksi mini ini, Elfa Mediatama selaku koordinator membuat sebuah Whatsapp Group (WA). Lewat grup pembicaraan inilah saya kemudian mengenal sekian banyak penulis yang tentunya sudah memiliki pengalaman di dunia literasi. Ada yang sudah melahirkan novel solo dan banyak juga yang pernah bergabung di beberapa antologi.

Saya sungguh beruntung.

Berada di tengah rekan sefrekuensi, memiliki minat yang sama, tentunya memberikan dukungan semangat yang tidak sedikit. Apalagi di grup yang sama ada Naomi Kanaya (Naomi) yang bertindak sebagai penanggung jawab dari buku antologi Hujan dan Air Mata ini, sekaligus mewakili Elfa Mediatama sebagai rumah dari berkumpulnya para penulis. Kehadiran seorang seperti Naomi yang disiplin mengontrol dan mengingatkan semua penulis agar berkarya dan menyerahkan naskah sesuai jadwal, nyatanya turut melancarkan serta memudahkan setiap proses yang dibutuhkan demi lahirnya buku antologi Hujan dan Air Mata ini.

Beginilah yang seharusnya terjadi.

Semua penulis diajak untuk menulis secara konsisten, bekerja dalam rentang waktu yang terprogram hingga bisa memenuhi target serta visi dan misi yang telah ditetapkan bersama.

Ketika buku ini sampai di tangan saya lalu kemudian saya baca cerpennya satu persatu, keragaman diksi sebuah fiksi mini dari 98 orang penulis, akhirnya mampu menghanyutkan saya untuk tidak berhenti membaca lembar demi lembar. Sebuah antologi fiksi mini yang sarat dengan plot twist yang cantik menghiasi banyak kisah yang terurai pada setiap cerpen yang dihadirkan.

Saya menyusur setiap plot twist yang jempolan. Terkadang saya tertawa. Terkadang pula mengernyitkan dahi karena piawainya sang penulis meramu plot twist yang tak terduga.

Berbagai Karya di dalam Fiksi Mini Hujan dan Air Mata

Saya menyumbang satu tulisan berjudul Dermaga Terakhir (halaman 57).

Melalui cerpen ini saya menceritakan tentang seorang wanita dan beberapa orang tamunya yang ingin menikmati sunset di satu dermaga tua. Sahabat sang wanita (Rien) sudah mengingatkan agar temannya ini segera kembali. Setidaknya setelah azan magrib berkumandang. Tapi ternyata, karena terhanyut suasana, peringatan ini terlupakan hingga akhirnya sebuah kejadian menimpa wanita ini dan lima orang tamunya.

Lewat cerpen Dermaga Terakhir ini saya ingin menyampaikan cerita bahwa ada di satu waktu, saat kita berada di tempat yang memang istimewa, ada beberapa hal tabu yang sebaiknya kita perhatikan. Memahami dan mengikuti saran dari orang yang tahu persis tentang tempat tersebut, sebaiknya dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang bisa saja merenggut nyawa kita.

Dimana kita berada, disitulah langit dijunjung.

Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata
Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata

Mengulik cerpen berjudul Sebait Puisi Dari Si Ganteng karya Maria M. Lapian. Berkisah tentang seorang suami/lelaki, Eric, yang mendadak emosi dan cemburu pada istrinya Ella. Dia membaca sebait puisi indah yang dikirimkan oleh seseorang ke gawai istrinya. Puisi nan indah dan sangat menyentuh. Eric yang tadinya ingin melabrak istrinya, ternyata malah menemukan sendiri siapa sesungguh pria yang “terlihat” menggoda istrinya tersebut. Bagaimana cara Maria mengungkap siapa sesungguhnya si lelaki ini sungguh bikin saya tertawa.

Cerita tergemas juga saya temukan dalam cerpen Ah, Itu Cuma Mitos yang ditulis oleh Alam Nasyrah. Alkisah, ada sekelompok teman (Zahra, Aliyah, Kaysan dan Faiz) yang treking menuju sebuah air terjun. Di tempat ini dipercaya ada batu berbentuk alat kelamin laki-laki, yang jika dilihat langsung, bisa memberikan rezeki keturunan. Sementara yang sudah menikah akan langgeng pernikahannya. Aliyah pun mengajak suaminya Kaysan untuk melihat batu ini, tapi ajakan itu ditolak oleh Kaysan. Lelaki ini memutuskan untuk duduk di satu tempat bersama Zahra. Kedua orang ini saling tersenyum penuh arti sembari memandang perut Zahra yang sudah “berisi”. Ada sebuah fakta yang terungkap yang tanpa Aliyah tahu sudah menoreh luka di hatinya.

Seru kan ya?

Yok sekarang saya ceritakan beberapa fiksi mini lainnya.

Ijinkan saya mengangkat sebuah cerpen berjudul Janda Oh Janda yang ditulis oleh Febry Suprapto. Adalah sebuah RT gegap gempita, ribut bergibah karena kehadiran seorang janda manis yang tinggal di lingkungan mereka. Bu RT pun semangat mengajak warganya (baca: ibu-ibu di lingkungan tersebut) agar mulai mengucilkan si janda dan memata-matai suami mereka. Tapi usia tidak bisa ditebak, Bu RT meninggal karena penyakit darah tinggi dan visi mengucilkan si janda mendadak berhenti. Ayo tebak karena apa? Aahhh yang tajam intuisinya pasti sudah bisa menduga nih.

Ini salah satu yang lucu banget deh. Saya terpingkal-pingkal hingga kalimat terakhir. Judul cerpennya Pengaduan Heri yang ditulis oleh Nurasiah. Adalah seorang anak, Heri, yang mengadu ke wali kelasnya. Dia bercerita bahwa handphone Ayahnya hancur lebur dibanting oleh Ibunya. Alasannya karena Ayahnya ML dengan temannya. Sang wali kelas terkejut luar biasa dan mengajarkan Heri untuk tidak bercerita atau membahas perkara ini dengan orang banyak. Tapi tak ayal sang wali kelas penasaran dengan apa yang disebut ML oleh Heri tersebut. Tapi ternyata bukan perkara kelakukan orang dewasa loh. Cus lah tebak ML yang disebut Heri tadi apa singkatannya.

Kesan Saya Untuk Antologi Hujan dan Air Mata

Saya harus mengucapkan terimakasih kepada Yuk Indah Wibowo yang sudah “menyeret” saya untuk ikut di dalam fiksi mini Hujan dan Air Mata ini. Karena berkat ajakan beliau, saya jadi punya pengalaman baru. Pengalaman pertama menuliskan cerpen mini dengan sederetan tantangan dan pengalaman yang berbeda dari biasanya.

Buku setebal 263 halaman ini menjadi salah satu jejak keterlibatan saya dalam menerbitkan sebuah buku antologi yang boleh saya katakan spesial. Ternyata ya, menghadirkan sebuah cerpen pendek dengan ending plot twist yang menggetarkan itu bukan perkara gampang. Sama aja perjuangannya dengan menuliskan sebuah cerpen dengan ribuan kata. Penulis dituntut untuk jeli, pandai memilih kata, mengatur plot singkat hingga berakhir dengan ending kejutan yang nancep maknanya.

Untuk semua ini sepertinya saya harus belajar banyak dari banyak senior yang turut serta di dalam fiksi mini Hujan dan Air Mata ini.

Jika diizinkan dan berkenan, saya ingin memberi beberapa koreksi tentang tampilan/visual dari buku ini. Masukan yang ingin saya sampaikan kepada Elfa Mediatama selaku penerbit.

Pertama adalah saya berharap agar rancangan cover depan dan belakang yang seharusnya bisa lebih dipercantik dengan sentuhan seni dan artistik yang lebih mumpuni. Termasuk diantaranya adalah membuat blurb yang biasanya melahirkan ketertarikan dari publik untuk sedikit mengintip isi dari buku.

Kedua adalah lem buku yang kurang berkualitas. Pelekatan setiap lembarnya terlalu kaku sehingga buku tidak lemas dan gampang menurut saat dibuka. Kesulitan membuka terutama saya alami saat berada di lembaran halaman 150 ke atas. Mau saya tekan tapi takutnya robek. Sayang kan jika lembarannya harus terlepas.

Itu aja sih.

Selebihnya looks fine.

Pengen terlibat kembali di fiksi mini lainnya? So pasti dong. Bikin ministory seperti ini tuh seru ternyata. Kita diajarkan untuk cerdik dalam memilih kata, merangkai kalimat, meski dalam banyak keterbatasan dan beragam tuntutan.

By the way, ngomongin tentang penulis buku saya punya seorang rekan sesama blogger dan penulis yang juga bekerja sebagai editor freelance. Siapa tahu ya ada diantara pembaca artikel ini yang membutuhkan bantuan beliau. Blog resminya adalah https://www.trianiretno.com

Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata

Book Reviewer | annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

Anda ingin bukunya saya ulas, yok simak beberapa informasi berikut ini

Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata
Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata
Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

24 thoughts on “Menyusur Plot Twist di Antologi Hujan dan Air Mata”

    • Betul banget. Dan ternyata gak gampang mengolah plot twist dengan jumlah kata yang lumayan sedikit itu

    • Duh, sayang banget jilidannya nggak kuat. Aku pernah dapat yang begini waktu meresensi sebuah novel (sekarang novel itu udah difilmkan). Memang jadi mengganggu kenyamanan membacanya sih.

      Btw, makasih rekomendasi nya, Mb Annie :))

  1. saya malah pernah ikut challenge 7 kalimat

    gilak sih, dari sekian banyak mungkin cuma berhasil 20 persennya

    udah mah saya lemah di fiksi, waktu itu ikut flash fiction

    tapi, kalo mau profesional, kita memang harus menantang diri dan menaklukannya

    Reply
    • Wuih. Saya mah nyerah kalau 7 kalimat. Sama seperti short quote itu sih hahahaha.
      Bener banget Mbak Maria. Tantangan justru membuat kita berlatih. Kita terdorong untuk kreatif dan mencabar skill yang kita sudah punya

    • Berarti fiksi mini itu benar-benar penuh tantangannya ya Mba. Tulisannya singkat tapi harus memunculkan daya pikat di plot twist-nya itu..

  2. MashaAllah~
    Kak Annie selain produktif sebagai blogger juga selalu menantang diri untuk explore banyak hal terkait literasi seperti menulis fiksi mini atau menulis buku solo.
    Ini sungguh luar biasa, kak Annie.

    Aku terhibur juga nih dengan kisah ML.
    Hahah…aku pikir kalau karya fiksi mini kudu yang mencekam, plot twist endingnya yang greget dan suram. Ternyata bisa diambil kisah lucu juga ya..

    Sangat memukau sekali BUku Antologi Hujan dan Air Mata.
    Sukses selalu ya, kak Annie..

    Reply
    • Alhamdulillah. Saya akhirnya bisa juga bikin fiksi mini hahaha. Sempat tersendat itu Len. Punya banyak ide tapi tak mampu menyusutkan jumlah katanya. Tapi setelah selesai dan baca keseluruhan isi buku, akhirnya ikutan lega. Ah akhirnya.

    • Jadi ingat buku zaman dulu ya, kak Annie…
      Istilahnya zaman sekarang “Fiksi Mini” tetapi zaman dulu “Cerpen”.
      Ada banyak kisah mencengangkan dan aku pernah dulu bergabung di milist cerpen pemenang lomba kepenulisan Jakarta. Memang kualitas bercerita, setting hingga penyusunan plotnya gak biasa.

      Point pertama adalah ide cerita yang kuat dan tidak terlalu panjang.
      Kedua, penyusunan kalimat yang sederhana, mudah dipahami dan terakhir penulis sudah tau betul endingnya akan dibawa kemana.

      Kan ada tuh.. penulis yang mendadak mengubah ending. Kaya dipaksakan atau mencoba untuk terlihat tidak tertebak, tapi malah berakhir ZONK.

      Kalau Fiksi Mini, pasti sedari awal sang penulis uda jelas banget arahnya kemana sehingga sangat meninggalkan kesan setelah membaca.

  3. buat yang terbiasa nulis panjang, untuk menulis pendek itu memang tantangan banget yaa, Mba. Saya sejak dulu pengen bisa nulis fiksi mini tapi sampe saat ini belum bisa-bisa juga, hiks

    Reply
  4. Kalau yang terbiasa nulis di atas 1000kata tetiba menulis 250 kata, sama menantangnya dengan yang terbiasa menulis 300kata harus menulis 2000 kata ya, hehe.
    Apalagi yang terbiasa menulis fiksi harus menulis non fiksi, nah duaar dah (soalnya pernah kaget bagian ini, wkwkwk)
    Tapi di situ serunya, jadi tahu bahwa ada kelemahan dan kekuatan dalam diri tentang menulis

    Reply
  5. Seru banget pasti baca fiksi mini karya teman2 lain. Meski singkat dan padat, biasanya ending fiksi mini cenderung plot twist, jadi pasti ada unsur yg menyegarkan sampai akhir cerita ya, mb.

    Reply
  6. Wah ceritanya plot twist banget ya. Penasaran sama singkatan ML dan plot twist lainnya. Keren antalogi cerpennya. Harus baca nih

    Reply
  7. Wuih keren, penulisnya banyak. Sekarang ini aku lebih suka baca yang begini. Fiksimini atau paling panjang ya kumpulan cerpen. Soalnya bikin bisa dibaca sedikit-sedikit tanpa kehilangan vibes. Mana kan kalo fiksimini itu ujungnya suka unpredictable. Plot twist. Dan ini, temanya, aduh aku suka. Hahaha, iya, gak tahu kenapa aku suka deh dengan cerita2 berair mata. Semoga kesampaian bisa baca buku ini.

    Reply
  8. Jadi inget beberapa tahun lalu ada tantangan nulis status one day one post cerpen maks 100 kata. Kedengarannya gampang ya cuma 100 kata, ternyata begitu syuliiiiitt. prakteknya. Sampe bolos beberapa kali karena kehabisan ide.

    Saya termasuk suka baca buku antologi. Karena dalam 1 buku bisa baca banyak pengalaman berbeda dari penulis berbeda pula. Begitu juga Hujan dan Air mata, penasaran pingin baca ….

    Reply
    • Tantangan menulis cerpen memang seru.
      Apalagi dengan dibatasi jumlah kata, nah ini nih bikin muter otaknya double : cari ide mau nulis apa sekaligus menghitung jumlah kata haha

    • menarik bila ngomongin fiksi mini. Plot twist inilah yang jadi penentu pembaca penasaran apa enggaknya. Sama nih mbak, agak sombong bila disuruh nulis 250 kata 😅, tapi ttp kudu belajar terus Krn fiksi mini ini masuk dlm pembaca era masa kini dan harus dicoba. Kalau di FB biasanya sy baca karya kang iwok abqory, tulisannya keren fiksi mininya.

    • Nah bener, aku juga ikut baca-baca tulisan para pesertanya. Keren-keren ya mereka. Dengan kata sesedikit itu tapi bisa membuat tulisan berkesan. Kemaren juga ada tantangan 30 hari bercerita. Seru-seru, aku sampe kabawa baper baca cerita-ceritanya. :D

  9. Hehehe… ternyata walau terbiasa menulis secara detail, dan tulisannya selalu panjang, bisa juga mbak Annie nulis cerita singkat.

    Enak ya kalau baca fiksi mini gini, sekali duduk bisa dapat banyak cerita.
    Udah lamaaaa banget saya nggak nulis fiksi mini, dulu pernah berhasil setiap hari selama sebulan penuh menulis cerita, jaman itu ikut tantang 30 hari menulis FF. Jadi tiap hari udah ditentukan topiknya.

    Reply
  10. Yang dimaksud Heri ayahnya ML lalu hp nya dibanting istrinya hingga rusak itu Mobil Legend alias nama sebuah game online kali ya? Bukan ML hubungan pasangan suami istri…?
    Soalnya di tempat saya juga ada kejadian seperti itu. Hehehe

    Reply

Leave a Comment