SILENCED.  Pupusnya Mimpi Menggapai Sebuah Keadilan
Kelima pemeran utama dalam film Silenced

Jujur. Alasan pertama saya nonton film ini adalah karena Gong Yoo nya. Salah seorang aktor Korea yang saya sukai. Kata temen saya si penggila drakor, babang yang satu ini actingnya rancak bana, gantengnya alami dan jauh dari pisau oplas. Referensi sempurna lah pokoknya.

Jadi ketika di satu waktu ada kesempatan mengistirahatkan mata dari khatam nonton drakor yang episodenya panjang, iseng saya menekan tombol search yang ada di aplikasi Viu. Nama Gong Yoo pun saya masukkan sampe akhirnya bertemulah tautan ke film ini. Itu aja. Gak terbersit untuk membaca sinopsis nya. Apalagi sampe browsing siapa aja pemeran lain kecuali Gong Yoo. Jadi dari detik pertama film diputar tidak ada harapan tertentu yang mampir di pikiran saya.

Alih-alih membawa misi utama “hanya melihat” Gong Yoo, tengah malam itu, saya malah dibuat terpukau oleh film ini. Mulai dari para pemeran, jalan cerita, potongan setiap adegan, dan ending yang dibuat natural. Penutup cerita yang tidak heroik pun menghadirkan satu kenyataan tragis dalam dunia hukum yang nyatanya memang terjadi hampir di setiap belahan dunia.

SILENCED.  Pupusnya Mimpi Menggapai Sebuah Keadilan
Guru Kang berkomunikasi dengan muridnya dalam bahasa isyarat

Film yang menurut info berdasarkan kisah nyata yang kemudian dituliskan dalam novel Crucible karya Cong Ji-Young ini, plot nya gak dibuat bertele-tele menurut saya. Gak sampe 10 menit film ini diputar, kita sudah bisa meraba inti permasalahan yang akan dihadirkan. Mulai dari wajah anak-anak yang tampak tertekan bertemu orang baru, pihak sekolah yang menuntut pak guru Kang In Ho (Gong Yoo) untuk menyetor sejumlah uang, hingga jeritan plus tangisan pilu dari dalam kamar mandi. Mata saya yang tadinya mulai kriyep-kriyep pun mendadak terang benderang.

Bayangkan. Guru baru dikenakan “pajak di bawah tangan” senilai 50.000 Won supaya bisa diterima atau diijinkan mengajar di sekolah itu. Kondisi yang memaksa guru Kang akhirnya meminta bantuan ibu nya untuk menyediakan dana tersebut. Wajah tenang si kepala administrasi (kembaran Kepala Sekolah) yang terang-terangan meminta uang mendadak bikin darah mendidih. “Gak mungkin mereka orang baik kalau berlaku begitu,” ujar ibunya Guru Kang. Satu kalimat yang hakul yakin disetujui setiap penonton. Apalagi belakangan diketahui bahwa lelaki ini juga adalah pelaku tindak pidana pelecehan seksual di sekolah Gwang Ju Inhwa. Sekolah berasrama khusus untuk anak-anak tunarungu, tempat dimana guru Kang mengajar seni lukis.

Jadi kebayang dulu adik saya pernah datang ke rumah salah seorang saudara yang menjadi pejabat di salah satu kementrian dan menjadi incaran kerja adik saya. Terang-terangan diminta dana sekian puluh juta untuk “memuluskan” syarat penerimaan. Aaaiih sama aja dengan menggaji diri sendiri selama sekian tahun dong.

Oke. Back to the movie.

SILENCED.  Pupusnya Mimpi Menggapai Sebuah Keadilan
Yu Jin yang diperankan sangat apik oleh Jung Yu Mi

By the time selama film berlangsung, keganjilan demi keganjilan pun merebak satu persatu. Seorang anak perempuan bernama Yeon Du yang disiksa dengan kepala bolak balik dicelupkan ke mesin cuci. Anak lelaki Min Su yang lebam dengan luka berdarah disiksa oleh salah seorang guru lelaki. Ajaibnya semua penyiksaan dianggap wajar tanpa satu pihak pun yang menyaksikan dapat menghentikannya.

Titik balik pengungkapan tindak kriminal dan asusila yang sudah terjadi dimulai saat Yuri, salah seorang dari ke-3 anak yang diperlakukan keji, meminta bantuan guru Kang, untuk menolong Yeon Du yang sedang disiksa. Diikuti kemudian sikap acuh kepala sekolah saat guru Kang melapor dan seorang guru lelaki yang terang-terangan menyeret Min Su seraya membawa stick golf sebagai media penyiksaan. Dari sinilah akhirnya mengalir rangkaian cerita yang sungguh memilukan hati.

Tersentuh dengan kondisi yang ada, guru Kang akhirnya menghubungi Seo Yu-Jin (Jung Yu-Mi). Perempuan muda penggiat LSM yang dia kenal saat menuju kota Muji. Kota yang menjadi asal cerita dari film ini. Kesaksian Yuri, Min Su, dan Yeon-Du direkam satu persatu. Meskipun dalam bahasa isyarat, guru Kang menterjemahkannya dengan kalimat yang terbata-bata. Menyaksikan ini, bisa dipastikan emosi penonton lebih teraduk-aduk.

Chemistry diantara guru Kang dan Yu Jin terbangun dengan baik meskipun tidak ada selipan romansa diantaranya. Mereka saling bahu membahu, saling menguatkan, untuk melindungi ke-3 anak-anak yang menjadi saksi. Anak-anak tunarungu (tuli) korban pelecehan seksual 3 lelaki dewasa, yang gagah berani bersaksi di ruang sidang, berjuang demi mendapatkan keadilan. Meski dalam keterbatasan dalam berkomunikasi.

Tragisnya sepanjang film berlangsung, penonton disuguhkan satu demi satu kenyataan kelamnya dunia hukum. Terang-terangan kita diajak menjadi saksi bagaimana guru Kang dan Yu-Jin harus berjuang menghadapi berbagai pihak dalam berbagai tekanan. Penanggungjawab pendidikan kota, pihak kepolisian, hingga jaringan penegak hukum pun diceritakan begitu korup dan menyebalkan. Belum lagi pihak sekolah yang mencoba membungkam pihak korban/penuntut dengan imbalan uang. Termasuk guru Kang yang ditawarkan duit setas penuh supaya mau berdamai dengan terdakwa. Satu hal yang begitu menggiurkan bagi guru Kang. Tapi sukurnya tidak meruntuhkan mental guru Kang.

Kejahatan penyelewengan hukum dan keadilan dikisahkan dilakukan secara sistematik dari berbagai pihak. Apalagi pada kenyataannya, si kepala sekolah adalah orang yang disegani oleh masyarakat setempat karena keterlibatan aktifnya dalam kegiatan keagamaan.

Ketika kita sampai di ujung cerita, saat pembacaan hasil persidangan, saya tidak menaruh harapan apa-apa. Meskipun pengacara ke-3 anak tuli ini berhasil menggiring opini yang membangun kepercayaan Hakim dan hadirin tentang kebenaran bahwa kejahatan seksual itu sungguh telah terjadi, berbagai scene justru memperlihatkan bahwa dark law itu akan dan tetap mampu mengalahkan rasa keadilan.

Jadi ketika ke-3 terdakwa mendapatkan hukuman yang ringan, kerusuhan di dalam ruang sidang membludak, gelombang protes masyarakat merambah ke jalan raya, nyatanya pihak penuntut harus menerima “kekalahan” dengan lapang dada.

SILENCED.  Pupusnya Mimpi Menggapai Sebuah Keadilan
Minsu

Dari sekian banyak adegan yang dihadirkan ada beberapa kejadian yang sangat memilukan hati saya.

Pertama. Adegan guru Kang memukul kepala salah seorang terdakwa (guru kelas) dengan pot bunga anggrek. Guru yang keji ini sedang menyeret-nyeret Minsu dari ruang kepala sekolah sambil mengacung-acungkan stick golf. Kejadian inilah yang menjadi cikal bakal terbangunnya simpati, empati, dan semangat guru Kang untuk membela Yuri, Min Su dan Yeon Du.

Kedua adalah Yuri (korban termuda) yang terkencing-kencing di bangku saksi ketika mengalami tekanan mental, hentakan pertanyaan, yang membuatnya takut. Terutama kata dan kalimat tegas yang diarahkan oleh pengacara terdakwa.

Ketiga. Saat Yeon Du diuji kejujurannya. Diantaranya adalah kemampuan dia mengenali dan membedakan antara kepala sekolah dan saudara kembarnya. Dengan langkah yakin dan tatapan kuat, Yeon Du berhasil meyakinkan semua hadirin di dalam ruang sidang bahwa dia bisa mengenali si kepala sekolah dari reaksinya ketika Yeon Du mengulangi ancaman kepala sekolah (mengiris leher) jika menceritakan kejadian pelecehan kepada orang lain.

Keempat. Saat Min Su, satu-satunya anak lelaki korban pelecehan, menjerit pilu ketika mengetahui bahwa dia tidak akan tampil bersaksi. Pada kenyataannya, keluarga Min Su, menerima permohonan maaf dan sejumlah uang dari keluarga kepala sekolah. Kemiskinan dan keadaan telah “mendesak” nenek Min Su untuk mengalah. Min Su akhirnya lepas kendali, mengejar guru yang memukulinya, yang ternyata juga pernah melecehkan adiknya hingga bunuh diri. Keduanya terlibat dalam perkelahian emosional hingga akhirnya mati tertabrak kereta api. Kejadian ini sempat disaksikan oleh guru Kang dan Yu Jin. Klimaks cerita yang sangat mengesankan.

SILENCED.  Pupusnya Mimpi Menggapai Sebuah Keadilan
Minsu

Banyak sebenarnya film-film lepas atau serial TV yang mengetengahkan tema yang sama. Kejahatan seksual. Black law and lawyer. Intimidasi. Korupsi. Terutama yang mengkisahkan tentang lingkaran mafia hukum dan kejahatan sistemik di dunia pengadilan. Tapi Silenced menorehkan satu kesan yang berbeda buat saya. Bukan karena ciamiknya acting dari Gong Yoo dan Jung Yu-Mi, tapi justru oleh kehadiran ke-3 pemeran anak-anak tuli yang dihadirkan sebagai korban. Anak-anak yang punya bakat luar biasa dalam dunia perfilman.

Dari berbagai referensi yang saya baca, dalam kenyataannya, perkara hukum yang satu ini jadi isu luar biasa di kota Muji. Sebuah kota kecil yang berada di provinsi Jeolla Utara (North Jeolla). Gelombang keras pun muncul dari berbagai lapisan masyarakat terutama saat diberikannya hukuman ringan bagi para terdakwa. Sekolah tuna rungu Giwang Ju Inhwa yang sudah berdiri puluhan tahun pun harus ditutup seiiring dengan semakin derasnya protes dari masyarakat. Bahkan kalau tidak salah, kasusnya diangkat dan disidangkan kembali (pengacara naik banding), dan para terdakwa dikenakan hukuman yang lebih berat.

Jika Anda suka dengan cerita-cerita thriller emosional yang diangkat dari kisah nyata dengan sudut pengambilan gambar yang cenderung “gelap”, Silenced bisa jadi pilihan yang tepat. Mungkin. Ini mungkin ya. Lewat film ini kita bisa mengasah rasa empati khususnya atas penderitaan yang menimpa anak-anak berkebutuhan khusus. Kita diajak menyadari bahwa dari jutaan, milyaran, trilyunan cerita bahagia anak-anak, terselip rentetan kedukaan di berbagai tempat, yang mungkin saja jumlahnya sama.

Rating saya untuk film ini adalah 9/10.

SILENCED.  Pupusnya Mimpi Menggapai Sebuah Keadilan

#silenced #koreanmovie #filmkorea #gongyoo #resensifilm

Note: foto-foto saya ambil dari berbagai tautan on-line

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here