Disclaimer: Kisah yang saya tuliskan berikut adalah kisah nyata yang diceritakan oleh Dea (pemeran dan pelaku utama) kepada saya. Semua diganti demi privacy, kenyamanan dan keamanan. Ada hikmah di balik cerita. Semoga bisa menjadi pelajaran hidup bagi kita semua. Terimakasih.

Pemantik Perkara

Dea baru tiba di rumah saat melihat suaminya, Bram, tergopoh-gopoh mengenakan sandal jepit di teras. Sarungnya masih miring-miring. Ujung kain yang mulai tampak lusuh itu digenggam Bram supaya tidak menghalangi penglihatan. Kesibukan yang mengiringi suara adzan dari masjid komplek itu jadi pemandangan baru buat Dea setelah 5 tahun mereka menikah.

“Pergi dulu ya Ma, takut ketinggalan sholat berjamaahnya.”

Dea cuma mengangguk. Maklum dan tersenyum. Alhamdulillah, jeritnya dalam hati. Sudah hampir sebulan ini suaminya makin rajin sholat berjamaah di masjid. Biasanya jangankan sholat di masjid, pulang kantor aja selalu melewati waktu Isya. Alasannya apalagi kalo bukan menumpuknya kerjaan kantor yang gak bisa ditinggal dan wajib selesai hari itu juga. Maklum masih jadi kuli orang lain.

Pernah disindir Dea. “Kok tumben?”. Yang disindir malah nyengir. Belakangan akhirnya Bram bercerita kalau dia ketemu seorang anak muda, setidaknya lebih muda dari dia, yang menginspirasi. Gak sengaja ngobrol setelah sholat Isya di masjid dan jalan kaki bareng menuju rumah masing-masing.

“Katanya rumahnya gak jauh. Di komplek ini juga. Tapi masih ngontrak”. Jelas Bram di akhir cerita. Aahhh begitu toh. Baiklah.

Karena terlihat perubahan yang begitu drastis pada suaminya, sesungguhnya Dea penasaran berat sama si lelaki ini. Seseorang yang pada akhirnya tak diketahui nama jelasnya. Tapi apa boleh buat, dia tak kunjung berhasil melihat sendiri dan bertemu dengan orang yang dimaksud. Apalagi di waktu-waktu berikutnya, suaminya bukan hanya pergi di waktu maghrib, tapi juga nyambung bertahan di masjid hingga Isya selesai. Jadi gak mungkin banget bela-belain nunggu sekedar untuk kenalan.

“Sekalian sholat Isya Ma. Dzikir dari Maghrib ke Isya. Terus biasanya ada kajian atau kita ngobrol-ngobrol sambil ngopi bareng.”

Penjelasan yang masuk akal pikir Dea. Ya sudahlah. Yang penting semoga perubahan ini memberikan pengaruh positif untuk suaminya. Begitu Dea berusaha menghibur hati.

Hingga suatu hari terjadi bibit perkara yang gak akan Dea lupakan seumur hidupnya.

Sore itu Dea mendapatkan telpon dari babysitter di rumah, kalo Randi, anaknya, demam dan mendadak panas tinggi. Karena masih meeting dan blom bisa pulang, Dea meminta si mbak untuk berbicara dengan suaminya supaya membawa Randi ke dokter.

Tapi dengan terbata-bata si Mbak menjawab bahwa dia sudah melakukan itu. “Udah Bu. Tapi Bapak nyuruh saya nunggu Ibu aja. Dan biasa Bu, Bapak langsung ke masjid.”

Sekali dua kali, tiap ada peristiwa penting di rumah, Bram makin gak peduli. Ujung-ujungnya bisa ditebak. Dea jadi marah. Pertengkaran demi pertengkaran tidak terhindarkan. Bahkan hal-hal kecil pun akhirnya menjadi besar. Intinya Dea protes. Tak ada yang melarang suaminya aktif di masjid. Tapi bisa dong, kalau ada hal yang musti ditangani di rumah dan sementara Dea tidak ada, suaminya bisa mendahulukan keluarga.

Rasa curiga pun makin merebak. Apalagi beberapa minggu belakangan, suaminya terlihat lebih klimis dan tampak peduli dengan penampilan. Insting wanita pun muncul. Aaah masak sih selingkuh. Masak janjiannya di masjid? Di titik ini Dea sempat bercerita panjang lebar kepada saya. Tapi tetap tidak yakin suaminya selingkuh. 7 tahun pacaran disambung dengan 5 tahun pernikahan, Dea merasa cukup kenal dengan tabiat dan karakter suaminya. But who knows!! Semua mungkin terjadi dan manusia bisa berubah.

Tak ingin terbenam dengan rasa penasaran, Dea memutuskan untuk menguntit suami, menuruti nasehat yang saya berikan. Pulang on time dari kantor, langsung menuju masjid komplek, buru-buru berwudhu, mengenakan mukenah, dan duduk di shaf wanita. Bener. Suaminya tampak terlihat memasuki masjid dan sholat berjamaah. Selesai sholat langsung keluar tanpa menoleh ke kanan dan kiri. Gak tuh ikutan berdzikir apalagi melanjutkan kegiatan dengan sholat Isya. Jalannya pun tampak tergesa-gesa.

Loohh pergi kemana? Beberapa kali diikuti, selalu Dea kalah langkah. Suaminya tampak berjalan cepat dan tetiba hilang di perempatan dekat rumahnya. Benar-benar tak terkejar. Menelusuri rumah-rumah di belokan itu, tak terlihat batang hidung suaminya. Lenyap begitu saja. Apalagi di deretan itu hampir semua rumah kosong tak berpenghuni. 

Dalam minggu yang sama, tertekan oleh rasa penasaran, Dea kembali melakukan pengintaian. Hingga sampai di pengintaian ke-3, Dea tak pernah melihat si teman lelaki yang diceritakan. Padahal menurut versi cerita Bram, lelaki temannya ini orang paling rajin “menyentuh” masjid. Tapi sudah 3 kali diikuti suaminya kok selalu tampak sendiri dan tidak bersosialisasi dengan bapak-bapak yang lain. Bahkan kali berikutnya, di pengintain terakhir, Bram tak datang ke masjid meski dilaporkan terlihat pergi bersarung dan berkopiah dari rumah.

Ketika Bara Api Semakin Membesar

Dea lelah menunggu berjam-jam di ruang tamu malam itu. Menantikan kesempatan untuk ngobrol dengan suaminya. Namun usahanya sia-sia dan Dea jatuh tertidur di sofa depan TV. Badannya mendadak terasa rontok saat bangun pagi berikutnya. Dea memutuskan untuk cuti kantor hari ini dan berniat menuntaskan perkara penting atas kejadian kemarin.

Subuh baru berlalu. Melangkah masuk ke kamar tidur, Dea menemukan suaminya terlelap di kasur. Nyenyak banget. Meringkuk di dalam selimut dengan wajah yang tampak sangat kelelahan. Entah jam berapa dia kembali karena seingat Dea terakhir dia menengok jam dinding itu, jarum menunjukkan pukul 2 dini hari.  Ingin banget Dea membangunkan Bram dan membombardir lelaki itu dengan banyak pertanyaan. Tapi suara Randi, putra semata wayangnya, membuyarkan semuanya.

Pagi mendadak rame karena Randi menangis keras tanpa henti. Dea, babbysitter, dan seorang ART seketika sibuk. Suhu tubuh Randi kembali meninggi. Aaahh ternyata keputusan untuk cuti memang harus diambil. Sudah hampir seminggu anaknya demam dan rewel, sementara Dea terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, urusan kantor, dan suami. Benar saja. Tergesa ke UGD rumah sakit yang ada di komplek, Randi ternyata harus diopname karena dicurigai menderita DBD.

Dea kembali ke rumah 3 jam setelah semua persyaratan administrasi rawat inap selesai diurus. Mengambil pakaian dan membeli sarapan untuk dia dan babbysitter yang saat itu menunggu di RS, Dea sudah tidak menemukan suaminya di rumah. Kamar tidurnya pun tampak berantakan. Ada beberapa baju kantor, celana panjang, dan pakaian dalam yang dikeluarkan dari lemari dan dilemparkan begitu saja ke kasur. Kisruh luar biasa.

“Baru 15 menit yang lalu Bu berangkat kantor. Bawak koper kecil Ibu yang hitam itu,” begitu penjelasan Fitri si ART.

Dea cuma mengangguk dan terdiam. Perempuan berusia 35 tahun ini memutuskan untuk menahan segala amarah dan rasa ingin tahu yang membludak sejak kemarin.

Berusaha untuk tetap tenang, Dea tidak melupakan kewajibannya untuk menghubungi suami. Usahanya sia-sia karena telpon tidak diangkat dan pesan singkat via WA tak tampak terbaca. Ingin menangis? Pasti. Seharusnya, di saat-saat seperti inilah, dia sangat membutuhkan uluran tangan suaminya. Sayalah orang ke-2 yang akhirnya Dea hubungi ketika waktu sudah beranjak ke jam 12 siang dan tetiba menyadari bahwa dia lupa mengabari orang kantor.

Permohonan ijin cuti yang disampaikan kepada saya pun langsung disetujui. Ada tangis tertahan di ujung telepon. Gak tega untuk menegur keteledorannya, saya berusaha untuk tidak memancing dan membiarkan Dea untuk sementara bertahan dengan kondisi yang sedang dia hadapi. Tapi sekuat-kuatnya dia memendam pilu, akhirnya pecah juga ketika kami berpelukan di hadapan Randi yang tampak terlelap di ruang perawatan.

Cuma kata sabar dan ikhlas yang terus saya ucapkan untuk Dea. Dan tentu saja menyampaikan bahwa dia dipersilahkan mengambil cuti dan tak perlu memikirkan urusan kantor sampai dia tenang. Setidaknya sampai Randi diijinkan kembali ke rumah.

1 jam berbincang di kamar rawat, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Turun menuju lobby rumah sakit, saya menangkap sekelebat bayangan suami Dea. Tampak berdiri dan khusuk dengan HP nya, tapi kemudian berjalan terburu-buru. Saya berusaha menempatkan diri agar mudah terlihat oleh Bram. Harapannya supaya dia menyapa. Tapi ternyata usaha ini gagal. Bram tampak seperti “pura-pura tidak melihat”. Seperti yang pernah diceritakan Dea, penampilannya tampak lebih wah dan wangi dari yang biasa saya lihat. Beda banget dengan yang dulu-dulu. Yang terbiasa memegang hem/baju kantor bermerk, biasanya akan tau semenit setelah melihat baju berkelas ini dikenakan.

Terpikirkan oleh saya pasti lelaki ini buru-buru ke lantai 6 untuk menjenguk anaknya. Jadi saya pun tidak berminat untuk mengejar dan bertegur sapa. Tapi ternyata dugaan saya salah karena ternyata sejak hari itu Dea tidak lagi bertemu suaminya selama hampir 3 bulan kedepan.

“Mbak, kalo dalam seminggu ini urusan saya gak kelar, mungkin saya minta un-paid leave dulu hingga waktu tak terhingga. Mohon maaf belum sempat menjelaskan apapun untuk saat ini,”

Saya terduduk membaca pesan singkat dari Dea. Jelas, singkat, dan lugas. Terbaca banget kalau dia ingin segera menyelesaikan masalah yang sedang dia hadapi. Jadi saya memutuskan untuk membalas pesan itu dengan satu kata “Ya” dengan emoticon peluk beberapa kali.

Jejak Pertama

Seminggu sudah berlalu. Randi sudah keluar rumah sakit dan Dea memutuskan untuk cuti kerja dalam rentang waktu yang belum mampu dia putuskan. Berat memang. Tapi ini pilihan terbaik yang terpaksa dia buat karena sampai hari ke-4 Randi opname, suaminya tak kunjung tampak batang hidungnya. Jangankan menengok anaknya, untuk sekedar mampir ke rumah pun tak pernah dia lakukan. Apalagi membangun komunikasi via HP. Kalau awal-awal masih terdengar dering tersambung, belakangan malah tak terhubung sama sekali.

Saya pernah mengusulkan Dea untuk meminta bantuan anggota keluarga lain, terutama ketiga orang kakak lelakinya. Setidaknya membantu untuk mencari tau atau apalah yang bisa membawa suaminya kembali bersama. Tapi usulan ini ditolak Dea dengan alasan bahwa dia tidak ingin menimbulkan keruwetan dan keributan di keluarga besar. Kalau bercerita, pasti infonya akan sampai ke Ibu. Dan bukan gak mungkin merambah ke telinga kedua orang mertuanya yang berada di Jogya.

“Buuuu….saya ketemu Bapak di Alfa Midi depan,” teriak Fitri yang ngos-ngosan di depan pintu rumah.

Dea menyambar kunci motor dan ngebut ke minimarket yang tak jauh dari rumah itu. Dadanya bergemuruh tapi marah dan bencinya sudah luntur. Setidaknya dia dapat bertemu suaminya dan membujuknya untuk pulang. Tapi ternyata tidak membuahkan hasil. Dea sudah menelusuri setiap jengkal sisi mini market, parkiran, sampai ke beberapa warung yang berada tidak jauh dari Alfa Midi. Semua nihil.

“Yakin Fit tadi kamu ketemu Bapak?” sahut Dea setibanya di rumah.

“InshaAllah yakin Bu. Lah wong amprokan sama saya pas Bapak ngambil deodoran. Tapi anehnya kok Bapak seperti gak kenal dengan saya ya Bu. Bahkan sapaan saya gak dibalas,”

Dea tertegun.

Kejadian ini bukan pertamakalinya. Laporan yang sama pernah dia dengar dari beberapa tetangga. Melihat, mendekat, tapi kok seperti gak kenal. Mereka tak tahu bahwa sesungguhnya lelaki itu tak pun berada di rumah. Dan dari sekian banyak ibu-ibu yang “tak sengaja bertemu” itu semua komentarnya sama. Bahkan Ibu Ana, tetangga yang juga pedagang froozen food di emperan ruko dan sudah jadi langganan Dea, menyampaikan bahwa meski suami Dea tampak lebih kurus, dia masih bisa mengenalinya. Tapi ya gitu, tak pernah membalas sapaan orang lain.

Herannya, setelah sekian lama, Dea sendiri tak pernah sekalipun amprokan dengan suaminya. Pernah bahkan saking penasarannya, Dea bela-belain nangkring di warung dekat dan beberapa titik strategis di seputaran ruko. Pilihan tempat yang memungkinkan dia bisa melihat lingkungan ini dengan sudut pandangan terbuka. Hasilnya ya tetap nihil.

Sampai di hari ke-14, Dea yang awalnya menolak untuk menggunakan jasa “orang pintar” (kita sebut saja Pakde), akhirnya luruh berkat bujukan salah seorang kakaknya. Kakak yang sudah berjanji akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Dari Pakde ini Dea mendapatkan informasi bahwa memang suaminya masih berada di lingkungan tempat tinggal Dea sekarang. Tapi sayangnya hanya itu info yang bisa digali. Selebihnya ada pihak lain yang sekarang “menjaga” suaminya. Orang lain yang memiliki kemampuan jauh lebih hebat dari Pakde.

“Tapi saya tetap akan bantu Ibu ya. Saya akan coba menerawang semampu yang saya bisa,” begitu yang disampaikan Pakde sembari menatap Dea dengan penuh rasa kasihan.

Terbakar oleh rasa penasaran, Dea dan kakaknya menyusuri satu demi satu jalan dan rumah yang ada di kompleks. Terutama di jalan yang terakhir Dea liat suaminya berbelok. 9 dari 10 rumah yang ada jelas tak berpenghuni. Bahkan beberapa diantaranya terlihat tidak terawat bahkan hampir rubuh bagian depannya. Semua tampak terkunci rapat dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.

3 hari Dea dan kakaknya berjuang tapi tak ada tanda-tanda keberhasilan. Dea pun akhirnya membujuk Pakde untuk datang ke rumahnya. Alot pada awalnya. Tapi melihat Dea yang begitu gigih memohon bantuan, akhirnya Pakde pun mengalah dan berkenan datang.

“Tapi saya hanya bisa datang setelah Isya ya Bu,”

Dea tak membantah. Bahkan jika pilihan itu adalah tengah malam atau dinihari sekalipun, kehadiran Pakde sangat dinantikannya.

Benar saja. Sekitar jam 10 malam, Dea, kakaknya, dan Pakde bertemu dan berunding bersama di rumah Dea. Setelah melewati masa “penerawangan” mereka pun berjalan kaki menuju titik yang dicurigai adalah tempat dimana suami Dea berada. Tapi sebelum berangkat, Dea dan kakaknya diminta untuk tidak membawa handphone, berwudhu, dan masing-masing hanya membawa senter kecil yang dipegang di tangan kanan. Dea pun diingatkan untuk tidak berteriak apalagi menangis. 2 permintaan yang sesungguhnya cukup berat untuk apa yang sudah dialami selama ini.

Ke-3 orang ini berjalan kaki perlahan sampai akhirnya mereka tiba di jalan yang nyaris tak berpenghuni itu. Pakde mendadak berhenti berjalan dan berdiri di rumah nomor 58. Tangannya seketika gemetar hebat. Kakinya mendadak bergerak cepat menuju salah satu kaca rumah yang tampak tidak dipasang tirai. Rumah ini gelap gulita. Sangat gelap karena rumah di kanan dan kirinya juga tak ada sumber penerang.

“Itu suamimu. Ada di dalam,” sahut Pakde pelan sambil menunjuk ke arah dalam rumah.

Dea mendadak lemas. Dimana? Tak ada yang dia lihat. Rumah ini kosong melompong dan gelap. Isak tertahan dan airmata deras mengalir sesaat setelah mata batin Dea dibuka. Tampak di hadapannya suaminya sedang duduk dan menonton tv di dalam rumah. Pandangannya lurus tanpa ekspresi. Wajahnya tampak pucat dan kurus. Dunia mendadak gelap gulita bagi Dea.

Jejak Kedua

Dea terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Wajah khawatir kakaknya begitu terlihat di ujung ranjang. Lelaki yang usianya hanya terpaut 2 tahun dari Dea itu mendadak berdiri ketika melihat Dea mulai siuman.

“Kamu pingsan. Jadi digotong pulang,” ucapnya hati-hati.

Ya Allah. Dengan tangan yang masih bergetar, Dea berusaha duduk kemudian menangis sejadi-jadinya. Ingatannya perlahan mulai berloncatan. Kemarin dia sempat melihat suaminya. Di rumah nomor 58 yang lokasi tak lebih dari 300 meter dari rumahnya. Suaminya hanya sedekat itu? Kenapa dia tidak pulang ke rumah? Ngapain dia tinggal di sana? Daaaann masih banyak pertanyaan yang terus menghujan pikirannya.

Tak ingin adiknya jatuh sakit dan semakin tertekan, Toni, sang kakak, bersikeras memaksa Dea untuk makan dan menenangkan hati. Meminta adiknya untuk istirahat dan kembali dalam kondisi terbaik di 2 hari ke depan. Yak tepat di 2 hari berikutnya Toni akan datang kembali bersama dengan Pakde. Lelaki sakti seusia kakeknya itu berjanji akan “mempelajari” kasus Dea dengan lebih serius, beranjak dari penemuan awal yang terjadi kemarin.

“Jangan lakukan apapun sampai saya kembali,” begitu pesan penting Pakde yang disampaikan oleh Toni kepada Dea.

“Saya harus memecah “benteng” dulu. Mudah-mudahan berhasil besok. Saya akan minta bantuan teman,” ujar Pakde sebelum pamit kepada Toni tengah malam barusan.

Hanya anggukkan yang diberikan ketika Toni menanyakan bantuan apa yang bisa dia lakukan. Pakde hanya menggeleng dan menepuk pundak Toni. “Yang terbaik adalah adikmu harus siap lahir bathin. Biarkan dia istirahat. Tenang sampai saya datang kembali,”

Suasana rumah berubah mencekam sejak hari itu. Dea tampak lebih banyak diam membisu. Pun saat saya mampir dan mencoba mengecek keberadaannya setelah jam pulang kantor. Tak banyak yang sanggup dia ceritakan kepada saya. Tapi setidaknya dari pertemuan kami, saya jadi tau bahwa sudah ada 2 orang, mungkin lebih, yang saat ini sedang berusaha keras mengungkap misteri yang ada.

Entah apa yang terjadi diantara obrolan kami hingga akhirnya Dea tersentak mendengar pertanyaan saya.

“Kamu sudah coba menghubungi kantor Bram gak?”

Jujur. Sebenarnya pada awalnya saya tidak terlalu serius menyampaikan ini karena menurut dugaan saya tentunya langkah ini sudah dijalankan oleh Dea. Perempuan yang saya tau sangat kritis, mampu berpikir cepat dalam kondisi apapun, dan hampir selalu berhasil memecahkan masalah yang dia hadapi di kantor.

Tapi kali itu matanya mendadak terbelalak. Saya mendapatkan ekspresi yang biasa saya lihat ketika Dea mengakui sebuah kesalahan di depan saya.

“Astaghfirullaaahh. Betapa bodohnya saya. Kok gak terpikirkan ya?” ujarnya terengah-engah sambil menggapai HP yang tergeletak di meja.

“Coba hubungi hapenya orang HRD aja. Jam segini kan kantor pasti sudah tutup,”

Dea mengangguk seraya menekan nomor orang yang saya maksud. Saya tau persis Dea pasti menyimpan nomor itu karena dulu, beberapa tahun yang lalu, Dea harus menghubungi orang ini berkenaan dengan kecelakaan motor yang dialami Bram. Biasa. Urusan asuransi dan tetek bengeknya.

Kami mendadak saling bertatapan penuh kebingungan saat Dea kembali menceritakan hasil pembicaraannya via telpon. Bram ternyata masih bekerja seperti biasa tapi hampir 3 minggu belakangan dia berada di Hong Kong untuk tugas kantor. Seharusnya sih dia sudah kembali tapi berkali-kali dibatalkan karena setiap akan berangkat ke airport, Bram demam tinggi bahkan pernah sampai tidak bisa bangun dari kasur. Untungnya kantor perwakilan di Hong Kong selalu membantu setiap kejadian ini berulang.

Sungguh saya terlonjak ketika akhirnya Dea bersuara, “Jadi yang semalem saya liat itu siapa ya Mbak?”

Penemuan Tak Terduga

Hari yang dinantikan pun tiba. Suasana jadi lebih ramai sore itu karena ke-3 kakaknya datang. Pelukan dan tangisan pun pecah kembali sesaat Dea melihat saudara-saudaranya itu turun dari mobil.

“Maafkan. Tapi saya harus cerita. Kak Anto dan Kak Lutfi sudah mulai curiga. Mereka memaksa saya.” Dea mengangguk pasrah. “Tenang aja, mereka sudah berjanji tidak akan bercerita kepada Ibu. Setidaknya sampai pada titik dimana kita mampu menyimpan rahasia ini,” lanjut Toni.

Tak lama Pakde pun tiba. Kali ini berdua dengan temannya. Orang pintar yang katanya memiliki kemampuan lebih kuat dibandingkan Pakde.

“Ba’da Isya kita kembali ke rumah itu,” tegas Pakde.

Tidak ada pembahasan atau persiapan apapun yang dihadirkan Pakde sebelum mereka beranjak keluar rumah. Saat berada di rumah pun yang Dea dengar adalah cerita berulang dan diskusi antara Kak Anto, kakak tertuanya dengan Pakde. Itupun sebagian besar dijawab dengan “Kita lihat hasil penelusuran kita malam ini” yang diucapkan Pakde dengan helaan napas penuh kebimbangan.

Sebelum berangkat, sekali lagi Pakde mengingatkan Dea untuk tidak berteriak dan menangis kencang. Semua yang ikut diminta berwudhu dan hanya membawa senter kecil, persis seperti aturan 2 hari yang lalu.

“Sepertinya kita harus membawa linggis Pakde. Jika diizinkan saya ingin mendobrak rumah itu,” Kak Anto berbicara dengan hati-hati. “Saya akan menanggung segala kerusakan, mencari dan berbicara dengan si pemilik rumah,” Semua yang mendengar tampak terkejut dengan usulan ini termasuk Dea. Pakde dan temannya tampak terpukau tapi akhirnya mengangguk menyetujui.

Gelap pekat dan sunyi menyambut kedatangan rombongan. Semakin menggetarkan karena langitpun tidak memunculkan bintang. Lampu-lampu jalan menyala tapi hidup segan mati tak mau. Dea baru menyadari bahwa halaman rumah ini, meskipun kecil, sudah dipenuhi oleh ilalang dan tanaman liar yang tingginya sudah sedengkul kakaknya yang paling tinggi. Pantesan Dea merasakan sayatan-sayatan kecil di seputaran betis dan berasa nyeri saat dia mandi.

Pakde dan 4 lelaki lain bergantian mengintip ke dalam. Tapi hanya teman Pakde yang berhasil melihat bayangan Bram diantara sorot minim lampu senter. “Sudah, kita dobrak saja Mas,” kalimat yang sesungguh sudah sedaritadi ingin didengar oleh Kak Anto.

Rumah Kontrakan.  Cerita Tentang Dea
Foto ilustrasi | Sumber www.winnetnews.com

Tidak susah dan butuh tenaga besar untuk melakukan hal itu. Apalagi untuk kakak tertua Dea yang tinggi dan kekar. Dalam sekali congkelan, pintu yang sudah rapuh itupun terbuka. Pemandangan di dalam rumah ternyata lebih menyeramkan dibandingkan dengan saat diintip dari luar. Enternit sebagian besar terkelupas. Lantai sudah tak terlihat lagi bentuk asli keramiknya. Sejenak Dea membayangkan beberapa film horor yang pernah dia tonton. Tidak menyangka akan melihat setting nya dengan mata kepala sendiri.

Rumah seluas tidak lebih dari 100m2 ini langsung memunculkan bau yang tidak enak. Bau apek khas rumah yang tak pernah diurus. Tata letak bangunannya masih asli dan tak banyak sekat. Jadi tak perlu waktu lama untuk menemukan beberapa potongan tulang belulang dan tengkorak manusia yang tergeletak di salah satu sudut kamar. Bentuknya sudah tidak utuh karena banyak yang sudah digerogoti binatang-binatang kecil. Entah apa namanya. Tapi tengkorak itu jelas-jelas menunjukkan itu adalah tengkorak manusia.

Dea memutuskan untuk keluar persis disaat yang bersamaan dia melihat Fitri berlari kencang ke arahnya. Gadis 20an tahun itu tampak terengah-engah dengan muka pucat pasi dan keringat bercucuran. Mulutnya menganga, kesusahan mengatur nafas, sambil mengangkat-angkat tangan, melambai-lambai kearah Dea. Dea pun bergegas mendekat hingga akhirnya mampu mendengar apa yang ingin dikatakan Fitri. “Pulang Bu. Cepat pulang Bu”

Tak perlu waktu lama untuk Dea menanyakan alasannya atau apa yang sedang terjadi di rumah. Yang terpikirkan olehnya saat ini adalah Randi. Sambil mengucap istighfar berulang kali, Dea berlari sekencang mungkin dan mendadak berhenti, terpaku dengan mata membulat ketika melihat Bram, suami yang selama ini dicarinya, berdiri dengan wajah kebingungan di depan pintu rumah mereka.

Akhir Sebuah Cerita

Malam itu menjadi sejarah penting bagi seluruh warga komplek termasuk keluarga Dea.

Rombongan polisi, Pak RT, Pak RW, dan banyak tetangga berkerumun di rumah nomor 58 tadi, tak lebih dari 30 menit setelah Kak Anto menelepon satpam komplek. Pakde, temannya, dan kedua kakak Dea memutuskan untuk menyusul pulang ke rumah. Hanya Kak Anto yang masih bertahan beberapa waktu karena diminta oleh polisi sebagai saksi. Dari mulut Kak Anto, Dea mengetahui bahwa tengkorak itu sudah tergeletak setidaknya lebih dari 4 bulan. Bahkan mungkin lebih lama. Begitu yang disampaikan oleh salah seorang polisi yang hadir di TKP. Tidak ada informasi lebih lanjut yang ingin Dea dengar karena dia sendiri sibuk menghadapi kenyataan hidup yang seperti sedang mentertawakannya.

“Maaaa. Oi Ma, kamu itu kemana aja sih? Berhari-hari loh kamu saya cari Ma.” Bram berteriak dengan nada tinggi namun terselip getaran pilu diantaranya.

Dea terpaku tak percaya. Bram mencari saya? Ngapain dia mencari saya? Bukannya kebalik?

Tapi kalimat bernada tinggi itu seketika lenyap tersusul banjirnya airmata saat Bram memeluk Dea seerat mungkin. Dea pun larut dalam tangis dan isak tak henti-henti di pelukan Bram. Entah apa rasa yang tepat untuk diutarakan saat itu.

Pakde, temannya, dan kedua kakak Dea yang tiba di rumah setelahnya pun tampak terpana tidak percaya. Mendapati Bram tiba di rumah, memeluk istrinya, dengan wajah yang penuh keheranan jadi sebuah kenyataan yang tak pernah mereka duga. Terutama bagi Toni yang selama ini membantu Dea mencari keberadaan Bram.

“Lo kemana aja Bram. Hampir 3 bulan kita cari.” Toni tampak tak kuasa menahan haru setelah berhasil merengkuh bahu Bram. Sementara yang ditanya terlihat bingung dengan kening berkerut. “Itu juga yang pengen gue tanyain Ton. Gue mencari Dea dan Randi belakangan hari. Sampe akhirnya sore tadi gue dipanggil orang HRD. Katanya Dea menelpon dan menanyakan gue. Jadi selesai meeting di Jakarta, gue balik ke sini dan baru berhasil menemukan Dea, ya sekarang ini.”

Teka teki pun perlahan mengurai setelah Pakde dan temannya mengajak seluruh anggota keluarga berbincang. Rangkaian misteripun akhirnya terungkap dan tersambung satu-persatu.

Menurut teman Pakde raga Bram “sementara terpinjam” oleh arwah seseorang yang dianggap hilang oleh keluarganya selama 6 bulan terakhir.

“Tengkorak yang tadi kita temukan Pak?” jerit Toni tertahan.

Teman Pakde mengangguk. Jadi mata hati Bram diajak menelusuri apa yang ingin arwah itu cari. Dalam waktu tertentu, arwah ini mengijinkan Bram kembali seperti biasa. Pergi ke kantor itu misalnya. Tujuannya agar tidak menimbulkan perkara lebih serius karena pelaporan hilangnya Bram. Tapi si arwah ini tidak ingin berbagi fisik dengan Dea. Bram memang belakangan tinggal di rumah nomor 58 itu. Tapi itu di luar kesadarannya. Dia merasa itulah rumah dia, yang dia tempati bersama keluarganya. Namun ketika sudah berada di kantor, Bram merasa ada sesuatu yang hilang tapi dia tidak menemukan apa yang hilang tersebut. Hingga akhirnya kembali kesadarannya setelah mendapatkan telpon dari orang HRD di kantor. Jadi ketika ada seseorang yang mengingatkan, lonceng kesadaran dari dalam tubuhnya otomatis bergerak.

Opsi lain yang kuat menunjukkan bahwa Bram mulai lepas dari arwah ini adalah proses ketika Pakde dan temannya mulai bisa membuka mata batin Bram dari jauh.

“Tapi kok Bram tadi mengaku mencari-cari Dea dan Randi Pak? Berarti kan dia sadar?”

Nah, hal ini terjadi dimasa Pakde mulai pelan-pelan berhasil menemukan fisik Bram secara utuh. Tentu saja dari hasil berkomunikasi dengan arwah yang tergeletak tadi. Tanggal dan waktu pun dicocokkan. Ternyata benar Bram mulai sadar untuk mencari Dea sehari setelah Pakde, Dea, dan Toni melihat Bram berada di dalam rumah no 58.

Dalam proses penelusuran yang dilakukan Pakde di dalam alam ghaib, sebenarnya almarhum baru akan mengijinkan Pakde “mengembalikan” Bram setelah jazadnya ditemukan. Tapi ternyata ijin itu melunak setelah teman Pakde mengajaknya berkomunikasi lebih jauh dan berjanji bahwa malam kemarin, jejak si arwah pasti akan ditemukan.

“Allah juga yang membantu kita Mas-mas dan Mbak Dea. Alhamdulillah Mbak Dea sholat dan dzikirnya tak pernah putus. Allah Maha Mendengar apa yang diminta oleh umatnya.”

Dalam beberapa hari kemudian, baik Bram maupun Dea mengikuti proses “pembersihan” seperti yang diusulkan Pakde. Memperbanyak waktu sholat (wajib dan sunnah) kemudian berpuasa dalam 7 hari. Merekapun meluangkan waktu khusus, berlibur bersama Randi, lepas dari rutinitas.

Wajah Dea tampak jauh lebih bersinar ketika dia mampir ke rumah saya sehari setelah pulang liburan. Entah berapa jam kami berbincang layaknya sepasang sahabat yang terpisahkan oleh laut dan daratan beribu-ribu kilometer jauhnya. Saya ikut merasakan letupan kebahagiaan yang dirasakan oleh Dea. Bukan hanya sebagai seorang sahabat tapi juga sebagai superior yang sempat tungganglanggang mengambil alih tugas seorang tangan kanan andalan.

“Mayat yang ditemukan itu akhirnya gimana De?” tanya saya penuh rasa penasaran.

“Entahlah Mbak. Saya juga gak berminat untuk cari tau. Yang penting Bram sudah pulang dan keluarga saya kembali utuh.”

Aaaahh bener juga.

Rumah Kontrakan.  Cerita Tentang Dea

Catatan: Sumber foto cover dari www.brilio.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here