Kalo nyebut kata SAGU, pasti mendadak teringat Ambon.  Saya sempat gak ngeh loh kalau sejatinya Tidore juga masih masuk dalam area Maluku.  Bagian Utara lebih tepatnya.  Jadi yang namanya Sagu ya jadi salah satu makanan pokok di sini selain nasi, sama seperti Ambon.

Sagu, yang saya tahu selama ini berasal dari Pohon Sagu.  Prosesnya adalah sagu dilelehkan, mengental (gak boleh keenceran), kemudian diplintir-plintir sampe nyangkut dan menggumpal di sumpit atau garpu, baru setelah itu masuk ke mulut.  Upacara makan yang sungguh butuh perjuangan.  Kudu sumpit apa garpu yak, karena kalo pake sendok, dijamin bakalan emosi jiwa dan gak selesai-selesai makannya.  Sagu leleh ini kenyalnya tidak bertahan lama, kalo sudah dingin otomatis mengeras seperti agar-agar.  Kalo sudah sampai pada tahap ini, sagu bisa dipotong-potong dan dimakan dengan menggunakan sendok.  Cuma memang keseruan makannya berkurang tuh.

Pernah main ke rumah teman yang berdarah Ambon dan disuguhkan sagu yang dilelehkan.  Orang Ambon menyebutnya Papeda.  Buat saya yg jago nyumpit dari hasil didikan orang Jepang asli (ciee sumbung), nguntel-ngutel sagu di ujung sumpit bukan masalah besar.  Cuma bagian yang rada njengkelin itu adalah nyelupin untelan sagunya ke kuah kuning, temennya Papeda.  Kadang-kadang di tahap itu mendadak sagunya meluncur lagi dan terlepas dari sumpit. Aeeeh mak jaaanngg.

Nah kalo di Tidore, sagu dari pohon sagu, dibikin dan dijual di pasar dalam bentuk balok yang sudah dipadatkan.

Sagu dari Pohon Sagu yang sudah dipadatkan

Persis seperti di Ambon, sagu akan dilelehkan dulu sebelum dikonsumsi.  Kalau di Ambon disebut Papeda, di Tidore dikasih nama POPEDA. Beda-beda tipis lah.

Alternatif lain dari olahan sagu pohon adalah dibuat seperti roti panjang berikut ini

Sagu batangan dari Pohon Sagu

Berbeda dari sagu yang diencerkan, sagu yang di atas diolah menjadi roti panjang setelah melalui proses pemanggangan, berwarna kecoklatan dan lumayan keras.  Enaknya sih direndam dulu pake kuah lauk baru dimakan supaya gigi-gigi gak perlu susah payah mengunyah.

Menyambung urusan sagu ini, saya juga baru tahu kalau ada juga Sagu yang bahan dasarnya SINGKONG yang biasa disebut KASBI. Penampakannya secara umum persis seperti roti tawar bakar.  Bentuknya aja yang sedikit berbeda.  Kalau roti tawar berbentuk segiempat, nah Sagu Singkong itu pipih persegi panjang. Rasanya? sagu singkong pastinya lebih berserat dan lebih cepet ngenyangin.  Lebih legit dari roti tawar.

Pada kunjungan ke Tidore akhir Desember 2016, saya diajak ke Kelurahan Jaya untuk melihat proses pembuatan sagu singkong yang kabarnya mulai sedikit pembuatnya di sana.

Singkong yg sudah diparut dan siap dibuat Sagu Singkong

Langkah pertama adalah membuat parutan singkong sehalus mungkin sambil menyiapkan cetakan (terbuat dari bahan gerabah diproduksi oleh masyarakat Pulau Mare Tidore) yang dipanaskan di atas bara api.  Di tempat saya meliput ini, cetakan dijejerkan di atas kayu dengan suhu pembakaran yang tinggi.  Panas terasa sekali menyengat ke muka ketika memasuki dapurnya

Cetakan Sagu Singkong di atas bara api (bagian atas)

Cetakan berbentuk kotak dengan selongsong di bagian atas sebagai saluran lalu lalang asap agar tidak terkungkung di dalam cetakan.  Jika bagian atas cetakan ada “leher”nya, di bagian bawah kita dapat melihat kotak-kotak pipih panjang seperti pada foto berikut ini

Cetakan Sagu Singkong (bagian bawah)

Dalam suhu tertentu, cetakan diangkat dari panggangan kemudian didiamkan sekitar 5menit sampai hembusan asap dari bara api yang melengket di cetakan sudah hilang.  Jika sudah mencapai tahap ini, kemudian masukkan bubuk singkong yang sudah disiapkan di setiap lubang cetakan.   Ibu pembuat sagu singkong ini menggunakan tatakan bambu untuk menuang bubuk singkong.  Dengan disebar dan dikudek mondar-mandir, proses tuang bubuk singkong menjadi tidak berantakan dan bisa lebih berhemat. Aaahh bener juga ya.  Secara lobangnya pipih dan pastinya akan tumpah sana sini kalau tanpa alat bantu.

Cetakan Sagu Singkong yang sudah diisi penuh dengan parutan halus singkong

Tidak berapa lama, sagu singkong pun matang (terlihat dari efek bakar di sisi kanan dan kiri) dan bisa dicongkel/dilepaskan dari cetakannya.  Biarkan sekitar 3menit, panganan yang menyelerakan ini pun siap dimakan.

Sebagai salah satu makanan pokok pengganti nasi, sagu singkong paling pas jika dikonsumsi bersamaan dengan lauk ikan (bakar, panggang, berkuah ataupun goreng).  Sebagai teman ngopi, ngeteh atau minum Guraka (minuman khas Tidore) pun rasanya maksimal.  Atau jika ingin lebih “berisi” cocok aja tuh jika ditambahkan topping selai jenis apapun.

Pembuat sagu, seperti obrolan kami sambil menunggu cetakan panas, jumlahnya mulai/sangat berkurang di Tidore.  Padahal panganan khas seperti ini seharusnya wajib dilestarikan bahkan jika mungkin disebar di beberapa kelurahan lainnya.  Semoga saja beberapa tempat makan, di beberapa titik-titik wisata, mau menghadirkan proses pembuatan sagu singkong sebagai entertainment khusus bagi pengunjung dan ditawarkan sebagai salah satu hidangan utama mereka.

Oia sekedar tambahan informasi, Sagu Singkong ini dijual seharga 10.000/8pcs.  Harga dari tangan pertama, asli dari pembuat rumahan.

Untuk teman-teman yang berminat berwisata ke Tidore, silahkan hubungi

Email: visittidore@gmail.com

Facebook Comment