
Bale RW Garut, Menyajikan Pengalaman Menginap yang Berbeda dan Mengesankan | Featured and Travel | Juni 2026
Memilih tempat menginap selama berlibur bersama keluarga besar tidak selalu mudah. Dari pengalaman pergi bareng, saya dan keluarga besar suami lebih memilih villa ketimbang kamar hotel. Alasannya ringkas. Villa biasanya menyajikan pengalaman menginap yang berbeda dan mengesankan. Termasuk saat kami memutuskan memesan Bale RW saat pelesiran ke Garut
Alasan lainnya di balik keputusan ini adalah agar bisa merasakan kembali serumah, mudah mengadakan acara-acara bersifat kekeluargaan, membangun komunikasi yang intens, dan kebersamaan tanpa harus terganggu dengan kehadiran orang lain. Keseruannya memang beda dibandingkan dengan memesan kamar hotel yang setidaknya harus lima kamar karena kami bersepuluh. Harus berpencar dan berpisah-pisah plus butuh usaha ekstra untuk bersama di satu tempat.
Dari segi finansial pun hitungannya jadi lebih hemat. Setidaknya dari nilai sewa per hari nya. Jika pesan lima kamar yang standard aja, harganya sekitar Rp500.000,00/malam belum termasuk pajak dan service charge. Jadi setidaknya kami butuh dana Rp2.500.00,00/malam ++ untuk penginapan saja. Lumayan juga kan. Sementara dengan uang Rp2.000.000,00/malam kami bisa mendapatkan satu rumah besar yang lega dengan segala fasilitasnya. Seringnya bahkan, kalau rezeki, kami mendapatkan satu rumah yang luas dengan beberapa fasilitas plus seperti kolam renang dan layanan sarapan dari pemilik tempat.
Kesenangan lainnya adalah kami bisa berkumpul kapan pun kami mau. Seperti pindah rumah aja. Dan karena sesama anggota keluarga, saya dan beberapa saudara serta keponakan perempuan gak perlu dandan pakai baju muslim. Untuk menjaga kesopanan di depan keponakan-keponakan lelaki saya biasanya mengenakan baju tidur lengan panjang.
Soal makanan gak repot-repot amat. Pernah saat di Pangandaran, dua kakak ipar yang pandai masak, bawa segala perlengkapan dan bahan makan dari rumah. Duh riweh betul dah. Bawa beras, bawak lauk basah dan kering untuk dihangatkan, dan masih banyak lagi. Tapi sekarang-sekarang sih, paling bawa kopi dan teh sachet. air putih botolan satu box, dan sedikit camilan. Untuk makan besar kami ngacir aja ke warung terdekat atau pesan on-line.
Semua dibuat mudah aja.


Menemukan Bale RW Garut
Agenda perjalanan ke Garut dibuat sekitar H-20 hari. Karena jatuh bukan di masa liburan publik, semua pengaturan selesai jauh sebelum kami berangkat. Sebenarnya ini perjalanan singkat aja. Cuma satu hari satu malam dengan dua jam berkendara dari Bandung. Tapi kali ini rute ke Garut kami isi dengan menumpang kereta wisata Panoramik dari stasiun Bandung menuju stasiun KA di Garut.
Untuk akomodasi, adik ipar dan saya biasanya berselancar lewat Air BnB karena sebagian besar informasi tentang villa dan atau private home mudah didapatkan lewat aplikasi tersebut. Pergi bersepuluh, syarat pertama yang jadi ketentuan pilhan adalah setidaknya tempat itu memiliki tiga kamar. Dua kamar untuk rombongan perempuan berjumlah tujuh orang. Sementara lelaki yang ikut kali ini hanya tiga orang. Plus satu orang driver langganan keluarga.
Sementara untuk persyaratan lain bisa mengiringi.
Setelah hampir seminggu berselancar on-line, adik ipar saya menemukan Bale RW ini. Infonya kemudian dia teruskan ke saya untuk dijelajahi lebih lanjut. Lokasinya ada di Ngamplangsari, Cilawu. Salah satu titik di kota Garut yang tidak berada di sentral/pusat kota. Tapi lokasi ini justru menurut saya menyenangkan karena toh kami memanfaatkan villa ini sebagai tempat beristirahat total, bukan sebagai sentral tempat tinggal di tengah kesibukan dan keramaian kota Garut.
Lewat beberapa kanal informasi, secara fisik bangunan, Bale RW ini sangat menarik. Bangunannya dirancang oleh ahlinya dengan pembagian ruang yang lepas dan minim sekat. Tanah di mana villa itu berdiri cukup luas. Adalah mungkin sekitar 500-600an m2. Bangunannya berada di tengah sementara di sekitarnya masih tersisa tanah lapang nan luas.
Daya tampungnya pas banget dengan apa yang saya cari. Antara sepuluh hingga dua belas orang. Fasilitas tiga kamar tidur dan dua kamar mandi. Kemudian ada ruang TV/keluarga, area meja makan dan dapur yang sangat luas. Semua saya nikmati lewat beberapa foto yang mewakili uraian ini.
Posisi bangunannya sendiri tidak langsung di pinggir jalan. Masuk sedikit setelah melewati sebuah tanah terbuka yang penuh dengan rerumputan. Akses masuknya juga private karena bukan berada di dalam kompleks atau kawasan tertentu.
Lahan terbuka di sekitar bangunan inti ini dipenuhi oleh batu-batu koral, semen-semen konblok yang tersusun rapi dan jalurnya tampak disediakan khusus untuk jalan kaki atau joging. Ada beberapa tanaman tumbuh subur di sekitar taman ini meski tidak terlalu banyak dan jauh dari kata rimbun. Fasad rumah dibentuk seperti segitiga limasan yang menjulang tinggi kemudian berpadu apik dengan bentuk persegi panjang di beberapa bagian. Saat pagi saya memotret, saya bisa menikmati keindahan bangunan ini dengan jauh lebih baik lagi.
Pagi sehabis hujan lebat semalaman yang mengizinkan saya mencium petrikor yang membuat kesyahduan pagi itu sangat terasa.


Senandung Indah Bale RW Garut
Saat tiba di Garut saat tengah hari, saya daun keluarga diserbu oleh rasa lapar yang tak tertahankan. Padahal selama berada di dalam kereta api Panoramic, tak pernah berhenti makanan kecil dan beberapa jenis minuman disajikan. Usai tiba di stasiun kereta api Garut, kami pun saat itu langsung menuju Rumah Upi untuk makan siang. Kemudian menyambung kunjungan ke beberapa tempat hingga sampai di Bale RW di sore harinya.
Hujan deras menyambut. Gencarnya cucuran air dengan butir sebesar jagung terlihat mengepung setiap jengkal tanah dan bangunan Bale RW. Waktu sebenarnya baru melewati Ashar tapi langit menggelap begitu cepat. Waktu demi waktu hingga warna pekat hadir sebelum maghrib tiba.
Lelah melewati masa perjalanan sedari pagi kami bersegera membersihkan diri dan menyambut empuk dan nyamannya tempat tidur bersih yang sudah disediakan. Saya bahkan sengaja berkeliling bagian dalam rumah untuk memotret sebelum terikat dalam lelap. Meski tubuh terasa lelah, memotret di saat semua kondisi masih rapi tentunya sangat menyenangkan.

Bagaimana kondisi di bagian dalam rumah?
Tentang lantai dasar
Kesan pertama yang saya dapatkan dari Bale RW adalah kebersihannya. Beroperasi sejak 2024, Bale RW begitu terjaga keindahannya. Tampilannya juga sama persis dengan apa yang saya lihat di IG @bale_rw dan tautan Air BnB di mana Bale RW mensosialisasikan keberadaan mereka.
Konsep interior design industrial yang minim sekat melahirkan rangkaian kekaguman tanpa henti. Rumah terkesan lebih luas dan melegakan. Warna yang dipilih pun sederhana dengan furniture kombinasi antara besi dan kayu yang begitu apik. Tampak mudah untuk membersihkannya.
Setelah menikmati masa memotret di sore hari kemarin. Pagi ini saya memutuskan bersengaja kembali berkeliling untuk mendapatkan lebih banyak foto ciamik.
Saat berkeliling lantai satu, saya kembali terpaku pada teras depan dengan atap segi tiga yang tinggi tadi. Teras kecil ini dilengkapi oleh dua sofa dan sebuah meja kayu dengan sentuhan warna dan rancangan yang sama dengan sofanya. Saya membayangkan betapa nyamannya duduk di teras ini sembari ngopi dan menikmati sepiring besar pisang serta singkong goreng yang masih mengepul hangat. Tentu saja sembari ngobrol dengan orang terdekat dan melihat taman koral berbentuk setengah lingkaran yang bersih dan terawat, persis di depan teras ini. Sayangnya sisa-sisa hujan dan rintik yang menyentuh bumi sedari semalam, masih betul-betul enggan meninggalkan bumi. Jadi niatan ini tidak bisa terwujud.
Beberapa hal menarik lainnya juga saya temukan di lantai dasar. Di antaranya adalah ayunan besi yang lumayan besar di teras yang satu lagi. Posisi ayunan ini menghadap ke lahan kebun yang dimiliki oleh warga yang berada di sekitar Bale RW. Ada juga beberapa petak sawah yang jauh di belakangnya terlihat Gunung Cikuray. Semua pemandangan ini sempat saya nikmati di malam hari saat kedatangan kami. Hanya sayang saya tidak bisa berlama-lama menikmati syahdunya malam karena hujan yang terus menderas.
Langkah-langkah pelan kemudian mengajak saya kembali ke lantai dua. Tangga yang saya injak nyatanya memberikan kesan yang tak biasa. Di setiap injakan sang perancang ruang tentunya ingin kita menikmati bagaimana kombinasi antara kayu dan semen bisa melahirkan sebuah pertinggal dalam ingatan. Penyusunan pijakannya pun cukup landai sehingga tak menyebabkan kelelahan kaki saat melangkah. Saya langsung membayangkan akan membuat tangga yang persis sama jika Dia mengizinkan saya memiliki rumah pensiun.
Sekarang saya ajak Anda ke lantai dua ya
Selain dua kamar besar yang masing-masing bisa menampung empat orang tamu, di lantai dua ini ada meja besi panjang yang sejajar dengan fasad bangunan. Dari meja besi ini kita bisa memantau ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga dan teras depan yang tadi saya sambangi. Menemani meja ini ada beberapa bangku tinggi yang mengizinkan kita duduk berlama-lama karena nyaman banget.
Di sini juga ada space terbuka yang bisa kita gunakan untuk bersantai. Bale RW menyediakan dua karpet besar-besar dan beberapa kasur single serta banyak bantal guling untuk digunakan oleh para tetamu serta beanbag warna-warni yang mengingatkan kita untuk senantiasa bersantai. Saya mencoba membaringkan badan sejenak di sini dan bisa membayangkan bagaimana dua keponakan saya begitu menikmati tidur mereka tadi malam. Di tengah hujan deras, tanpa pendingin ruangan, tempat ini tentunya telah menghadirkan suhu dalam ruang yang begitu menyenangkan untuk membawa kita terlelap.
Satu yang istimewa di lantai dua ini adalah kehadiran patio yang berada persis di atas ayunan besi di lantai dasar. Dibuat dengan pijakan melebar, Bale RW menyediakan pagar dan beberapa bangku tinggi untuk para tetamu melempar pandangan sejauh yang kita bisa. Meja besi yang menyertai pagar tadi, dibuat sedemikian rupa agar kita bisa menaruh makanan dan minuman. Tentu saja seraya mengagumi keindahan lahan hijau dan gunung Cikuray yang tampak bak lukisan di jaman sekolah dulu.
Saya tak henti berdecak kagum.
Seandainya semalam gak hujan deras ya. Kemungkinan besar saya akan berlama-lama di patio ini. Mengukir banyak memori semalaman karena tak tahu bakal kapan bisa balik lagi ke Bale RW. Sebuah tempat tinggal yang menyajikan pengalaman menginap yang berbeda dan mengesankan.
Sebuah panggilan untuk sarapan membuyarkan lamunan saya sepagian itu. Salah seorang keponakan sudah memesan nasi uduk lengkap dan bertumpuk-tumpuk serabi untuk kami nikmati sebelum kembali menyusur kota Garut.










