
Mie Sapi Tapak Sembilan, Rekomendasi Kuliner di Cikarang yang Menggugah Rasa | Culinary & Restaurant Review | Juni 2026
Kedai ini sudah lama saya incar. Tapi setiap lewat di depannya, kepadatan antrian tamunya dengan mudah terlihat dari sisi luar. Jadi saat parkiran terlihat lebih lowong, saya pun bergegas bertamu. Seenak itu kah sampai tamunya bererot?
Cabang matahari ke sembilan di Cikarang tampak sudah garang petantang petenteng di langit kabupaten Bekasi meski waktu baru menunjukkan pukul 10.00 WIB. Saking panasnya, saya mendadak ingin buka penyewaan kolam renang supaya setiap tetangga bisa ikutan saya berendam di kolam yang besar dengan air dingin karena dicampur es balok. Mimpi!!
Sebenarnya saat itu saya berencana ke sebuah toko buku di kawasan Jababeka dan melewati Mie Sapi Tapak Sembilan. Melihat parkiran di depan resto ini lebih lowong, tanpa ba bi bu saya mengajak suami untuk mampir.
Loh kok tumben.
Berkali-kali lewat, lahan depan kedai selalu padat oleh motor yang berjejer berlapis-lapis. Mirip sebuah dealer motor yang baru saja menerima pengiriman produk baru yang diturunkan dari car carrier. Sebuah kendaraan dua tingkat yang biasa membawa pengiriman kendaraan atau memindahkan sekumpulan kendaraan dari pabrik ke dealer.
Tanpa instruksi panjang kali lebar, suami pun langsung membelokkan kendaraan dan parkir di tempat strategis.
“Mumpung lowong,” ujarnya semangat.
Saya? Tentu saja mengangguk. Tak keberatan. Selain karena selain penasaran seenak apa sajian Mie Sapi Tapak Sembilan, hari itu waktu saya terasa lowong untuk menikmati sajian masakan ala Negeri Tirai Mambu. Salah satu menu yang masuk dalam kualifikasi tiga besar sajian favorit saya sejauh ini.
Cus lah. Mari kita makan enak menggugah rasa di Mie Sapi Tapak Sembilan.

Kedai Makan yang Sederhana
Kedai makan yang mengadopsi dua ruko dua lantai ini, terlihat lengang saat saya masuk. Tak ada kesibukan berarti di dapur kecil yang ada di lantai bawah. Hanya ada beberapa meja makan yang terisi, sudut menunggu bagi mereka yang take-a-way atau abang-abang Go Food dan sejenisnya.
Seorang petugas menyambut dengan selembar kertas menu yang dilaminating sembari tersenyum lebar.
“Ada ruangan ber-AC?”
Pertanyaan ini saya lontarkan karena serbuan rasa gerah yang semakin membabi buta. Rombongan bulir keringat pun membahasi jidat saya yang jenong dan punggung belakang tubuh yang sering penuh dengan kerokan.
“Di lantai atas Bu. Mejanya juga lebih banyak,” jawab sang petugas sembari kembali tersenyum manis secarah bon-bon bulat warna-warni yang disukai anak-anak. “Lewat tangga yang itu ya Bu.” Sambungnya sembari menunjukkan barisan tangga di sisi yang berbeda.
Suami menyempatkan melongok sebentar lalu menggamit tangan saya. Ternyata tangganya cukup suram para pembaca. Karena takut saya jatuh lalu mengakibatkan HNP saya kumat, ayah dari kedua anak saya ini, langsung menggenggam telapak tangan saya yang penuh dengan jari-jari sebesar pisang susu Lampung.
Saat tiba di lantai dua, saya merasakan suasana yang sama dengan lantai satu yang barusan saya datangi. Kedua ruangan tampil sederhana saja. Meja dan kursi dengan tampilan seadanya, dengan dinding ruangan yang tak bersolek. Tak ada hiasan apapun dengan warna dinding yang sama dengan rumah KPR. Tampaknya sang pemilik tak terinspirasi dengan sosial media atau jalan-jalan ke kedai makan sejenis untuk mendapatkan ide mengatur ruangan agar terlihat estetik.
Tapi ya sutralah ya. Ada segolongan orang – pemilik resto, warung atau kedai – yang lebih memilih meningkatkan kualitas asupan ketimbang mempercantik visual ruangan.

Pesan Apa dan Seenak Apa?
Beberapa menit setelah membaca daftar menu ini, saya dan suami tak ragu memesan mie sapi kecil sedang (23.736), mie sapi kecil asin (22.704), dimsum ayam (16.512), dimsum nori (18.576), bakso goreng (21.672), es teh tawar (10.320), dan sebotol minuman soda berjudul Badak dengan es batu (22.704).
Tak butuh waktu lama untuk menunggu karena beberapa menit kemudian apa yang kami pesan datang bergantian tetapi dalam waktu yang berdekatan. Ajaibnya, ruang yang tadinya kosong melompong mendadak dipenuhi tamu yang datang satu persatu. Bahkan ada yang datang sebatalion dan menyebabkan petugas kelimpungan menata ulang meja dan kursi. Untungnya meja dan kursi yang ada terbuat dari kayu ringan dan berbentuk kotak. Hingga mudah untuk diangkat dan ditata ulang.
Saya mendadak tergugu. Bukan karena polusi suara karena meja kursi digeser-geserkan tapi karena takut pesanan kami selesainya lebih lama.
Tapi ternyata keraguan saya tidak terbukti.
Yang pertama datang dan terenak menurut saya adalah dimsum ayam. Meski disajikan hanya tiga dalam sebuah piring kecil, dimsumnya ternyata semog-semog. Kulitnya lembut dengan ingredients yang tercampur sempurna. Rasa ayamnya dominan dan terolah begitu lezatnya. Saya tadinya pengen nambah seporsi lagi tapi sayangnya tidak ada yang mau membantu menghabiskan.
Mie sapi kecil nya juga mouth entertaining betul. Mie nya keriting meski tak kribo seperti rambut Arie Keriting. Lembut saat dikunyah. Tapi saya gak kuat dengan tingkat kepedasannya karena memang saya tak kuat menerima pedas dalam skala apapun. Jika gak sengaja ketelen apa pun yang pedas, biasanya muka saya langsung memerah dan minum air putih langsung sebotol kecil.
Sajian lain seperti dimsum nori dan bakso goreng juga seng ada lawan. Keduanya membuat saya tak henti memuji. Umami sampai kunyahan terakhir. Renyah bakso gorengnya pas betul. Kriuknya terasa dengan rasa ikan yang tetap menempel dengan baik.
Yang gagal itu adalah minuman soda cap Badak. Saya sudah nasihatkan si bungsu bahwa minuman jenis dan dari jenama itu tuh, baunya persis seperti obat batuk. Tapi karena penasaran, yasudah saya ijinkan si bungsu mencoba. Hasilnya? Saya langsung terbahak-bahak saat lihat ekspresinya yang berkerut lebar sembari bergidik-gidik lalu menjulurkan lidah. Kapok kan?
Pendapat Pribadi
Dari kualitas sajian, apa yang saya pesan di Mie Sapi Tapak Sembilan, cukup menyenangkan. Tidak istimewa tapi juga tidak mengecewakan. Mungkin karena saya sudah pernah menikmati aneka hidangan ala Tiongkok di resto yang lebih berkelas dibandingkan Mie Sapi Tapak Sembilan. Jadi mata dan lidah sudah “terjebak” pada rasa yang lebih ketimbang apa yang sempat saya nikmati di kedai yang berada di Jl. Puspa Raya No. 28, Jababeka, Cikarang ini.
Presentasi dan cara menyajikan makanan pun saya rasa perlu ada koreksi. In whatever reasons, aneka dimsum sebaiknya ditaruh di dalam klakat yang sebelumnya dihangatkan. Jadi saat tiba di meja pengunjung, hangatnya dimsum masih bisa kita rasakan. Menata isi sajian mie juga harus terlihat rapi. Topping disusun sedemikian rupa dan tidak seperti tambahan yang dilemparkan begitu saja ke dalam mangkok. Seni plating mungkin sifatnya pendukung saja ya. Tapi menurut pendapat saya, plating akan sangat membantu para penikmat makanan dalam membangkitkan rasa dan first impression atas apa yang sudah mereka pesan. Apalagi untuk seorang food photographer atau mereka yang menyukai fotografi seperti saya. Bagus juga kan jika hasil foto yang bagus dihadirkan ke hadapan publik lewat media sosial? Bisa loh membantu Mie Sapi Tapak Sembilan mensosialisasikan produk dan layanan mereka.
Untuk area makan, ada baiknya jika sedikit bersolek lah ya. Pasang aja dulu foto-foto masakan atau minuman yang ada di dalam menu atau deretan informasi yang layak dicatat oleh pengunjung. Warna dinding dibuat lebih ceria. Ah dah terbayangkan jika ada beberapa spot mural di salah satu dinding yang terlihat begitu luas.
Saya langsung membayangkan. Jika nanti saya kembali berkunjung ke Mie Ayam Tapak Sembilan yang ada di Jababeka ini, kondisi visual dan presentasi menunya sudah jauh lebih baik.
Bisa dong. Ya bisalah.





Ngakak baca dari atas sampe bawah! >_<
An, baca review lo soal Mie Sapi Tapak Sembilan ini bikin gue auto lapar tapi sekaligus mempertanyakan platting mie yang di foto 1 hahhaaa .. bener juga yaaa, platting itu poin penting!
Tulisan super kocak tapi serius ini *eeh gimana… berhasil bikin gue ngebayangin semangkuk mie panas dengan topping sapi yang generous, kuah gurih yang comforting, dan aroma yang pasti bikin susah nolak.
Btw bener juga yaaa, gw juga suka banget observasi kecil yang manusiawi banget: kadang kita tuh kalau lihat ada tempat makan yang rame sampai orang rela berderet ngantri, malah jadi makin penasaran dan ikutan pengen nyoba ๐ Kayaknya emang naluri manusia begitu yah, kalau banyak orang bela-belain datang, otak langsung kasih sinyal kalau tempat itu pasti punya "sesuatu yang spesial". Entah rasanya enak, porsinya mantap, atau vibes-nya bikin nagih. Dan review lo makin bikin rasa penasaran itu naik level sih.
Tulisan sedetail ini bikin pembaca nggak cuma tahu makanannya kayak gimana, tapi juga bisa ngerasain experience-nya. Fix, habis baca ini Mie Sapi Tapak Sembilan resmi masuk wishlist kuliner gw….
hooh nih kak. Aku kalau baca tulisan Kak Annie tuh jadi bisa memunculkan visualisasi dari apa yang kubaca di pikiranku. Kalau itu makanan, aku jadi ngiler. Kalau itu tempat, aku jadi ikutan nyaman
Nih kayak mie sapi tapak sembilan ini. Bikin aku pingin-pingin gimana gitu
Kalau mau populer jaman sekarang tuh, kalau gak viral ya mainnya di visual. Apalagi sekarang kan banyak ngandalin fotografi. Jadi menurut gue plating memang penting banget.
Kapan ke Cikarang ntar kita makan di sini ya. Tempatnya sederhana aja tapinya. Gak seperti resto2 lain yang tempatnya didandani maksimal.
Hmmm…. Tanggung jawab, mbak. Saya banget pengen nih nyobain. Apalagi ada aneka dimsum ya.
lihat pesanan Mbak Annie dan harganya jadi ingat mie gacoan
mirip, bedanya mie gacoan menggunakan ayam, jadi harganya bisa setengahnya
mungkin karena yang disasar pangsanya pasarnya berbeda, terlihat juga dari dimsumnya
walau mie sapi tapak sembilan ini juga sangat terjangkau, gak heran pembelinya selalu antri
Iya Mbak. Saya belum nemu cerita dibalik penulisan harga itu. Kenapa ya angkanya gak dibulatkan? Apa ada paham tertentu untuk itu ya? Jadi penasaran.
Tiba-tiba aneh sendiri bacanya, eh Mie Sapi? Padahal kan ya macam Mie Ayam, gitu, beda di lauknya aja. ((((Lauk)))). Saya sampai mencoba challenge diri untuk gak lihat fotonya dulu, mencoba membayangkan kira-kira daging sapinya bakal dibuat seperti apa, kebayangnya sih slice, ternyata minced beef alias daging sapi cincang gitu ya. Wah, jadi lebih mudah dikunyah tuh. Maklum, ini lagi sakit gigi wkwk, mikirnya langsung ke sana