15 Mei 2021. Masih di musim pandemi Covid-19.

Rencana perjalanan kali ini jadi satu acara istimewa buat keluarga kecil saya. Inilah kali pertama saya, suami dan anak-anak memutuskan untuk “keluar kandang”. Tepatnya jalan-jalan ke Jakarta, setelah 1 tahun lebih di rumah aja karena “terjebak” pandemi. Itupun dengan pertimbangan dan persiapan yang matang.

Ada 2 alasan khusus yang membuat kami memutuskan untuk jalan-jalan. Pertama adalah dalam rangka ulang tahun ke-50 adik ipar saya. Kedua mengisi waktu berharga Idul Fitri 1442H karena tidak bisa silaturahim ke Bandung mengunjungi 2 kakak suami yang tinggal di sana. Jadilah libur lebaran tahun ini kami habiskan bersama di pusat kota sembari staycation 2 hari 1 malam di Jambuluwuk Thamrin Hotel, Jakarta Pusat.

Surga Kuliner di Metropole

Lalu lintas lancar jaya. Tak ada kemacetan atau hambatan apapun sepanjang perjalanan dari Cikarang menuju daerah Cikini dan Menteng, Jakarta Pusat. Waktu tempuh yang biasanya 2 hingga 3 jam (bahkan lebih jika macet parah), sesiangan hari itu hanya 1 jam saja. Seandainya tol Cikampek dan jalanan dalam kota Jakarta seperti ini setiap hari, pasti para pekerja yang tinggal di pinggiran Jakarta akan jauh dari stres.

Awalnya saya sekeluarga dan adik ipar yang tinggal di Kelapa Gading akan bertemu di sebuah warung bubur legendaris di daerah Cikini. Tapi ternyata warungnya masih tutup. Padahal saat itu waktu sudah hampir menyentuh pkl. 11:00 wib. Akhirnya diputuskanlah untuk ke Metropole yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari warung bubur tadi. Kebetulan pula, suami dan anak-anak sama sekali belum pernah main ke Metropole. Bahkan tak seorangpun dari mereka yang tahu tentang tempat ini. Sungguh suatu kebetulan yang tidak saya pikirkan pun rencanakan sebelum berangkat.

Setiba di tempat, kami sungguh antusias. Saya, yang memang tukang jalan dan jajan, berusaha menjelaskan fasilitas apa saja yang ada di Metropole. Semua mendadak semangat saat tahu bahwa di salah satu sisi bangunan inti (bioskop) ada foodcourt yang hampir semua masakannya jempolan enaknya. Lagi-lagi, mungkin karena masih bernuansa libur lebaran, foodcourt ini mundur jam bukanya. Lah gagal lagi.

Daripada garing menunggu di tengah panas mendera, saya memikirkan alternatif tempat nongkrong sebelum makan berat di foodcourt. Mendadak saya teringat bahwa di dalam gedung inti Metropole, tepatnya di atas bioskop, ada beberapa tempat makan yang juga jadi tempat favorit para pengunjung. Kami pun langsung menuju lantai 3. Nawaitunya sih pengen nyobain Roemah Kuliner. Tapi, lagi-lagi, tempat yang satu itu menunda jam bukanya. Kami pun langsung belok kiri menuju Hello Sunday yang berada persis di dekat lift. Satu-satunya tempat yang tampak sudah siap menerima tamu.

Awalnya saya kira Hello Sunday adalah coffee shop dengan main menu minuman hangat berikut dengan variasinya hidangan cakes atau camilan-camilan brunch seperti olahan roti yang biasa kita temui seperti di Starbucks. Tapi ternyata saya salah duga. Hello Sunday ternyata juga menyajikan heavy meals. Kami pun memutuskan untuk memesan menu sharing untuk mengisi 1/2 rongga lambung sebelum kembali ke foodcourt.

Di resto yang homy banget nuansanya ini, kami memesan 1 pan chicken pizza tipis dengan 8 slices untuk dikeroyok bersama. Fiona memesan soft serve ice cream rasa ube dengan waffle, potongan kacang almond, marshmallow dan wafer roll coklat. 2 english breakfast yang bisa refill sepuas mungkin dan 1 cangkir americano coffee untuk saya, suami dan Fauzi. Everything was perfect meskipun harus menunggu agak lama. But worth it karena kualitas semua hidangan above our expectation. Platingnya juga cantik dan menarik hati. Surga bagi food photographer. Quantity nya juga pas. Tidak berlebihan tapi tidak juga kekurangan.

Ruangannya juga nyaman meski tidak begitu besar. Terbagi atas ruangan dalam, fully airconditioned dan satu teras panjang dengan beberapa meja panjang yang sepertinya khusus untuk smoking area atau lebih memilih merasakan udara alam bebas. Dinding penghubung kedua ruangan didominasi oleh kaca. Jadi gak perlu banyak lampu untuk penerangan dalam ruang. Tersedia beberapa sofa, bangku dan meja berukuran sedang dan tanaman-tanaman hidup untuk memberikan sentuhan adem.

Venue yang nyaman, makanan minuman yang enak dan pelayanan ramah, menjadi 3 poin plus Hello Sunday. Recommended untuk tempat nongkrong sembari menunggu jadwal nonton atau khusus datang kesini untuk bertemu sahabat dan ngobrol berlama-lama. Tentu saja dengan catatan agar tetap mematuhi prokes selama pandemi masih mengelilingi kita.

Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Berlima di Hello Sunday before leaving for another meals at foodcourt
Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Chicken Pizza. Tipis, delicious and fully tasty. Isinya gak ribet tapi rasanya jempolan banget. Apalagi buat saya yang penggemar pizza tipis.
Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Soft Serve Ice Cream ala Hello Sunday. Ice cream ungu yang dilengkapi oleh waffle, potongan kacang almond, marshmallow dan wafer roll coklat

Kami melangkah keluar Hello Sunday menuju foodcourt yang sedaritadi masih terbayang dalam pikiran, tak lama setelah adik ipar saya bergabung.

Tempat yang kami tuju ini tampak mulai padat pengunjung meskipun para petugas disiplin mengarahkan tetamu untuk duduk di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Kami diinformasikan bahwa hanya 3 outlet yang sudah buka, yaitu pempek, sate dan rujak buah. 3 pilihan menu, yang setahu saya, memang favorit pengunjung. Kami pun memesan 3 porsi sate kambing (sate isi 10 tusuk dengan lontong), 2 piring rujak buah, 1 porsi pempek kapal selam dan 1 porsi pempek lenjer.

Semuanya enak-enak, tanpa cela dan sangat pas dengan selera kami. Daging kambing untuk satenya lembut dan gampang dikunyah. Begitupun dengan lontongnya. Seperti sate kambing kebanyakan, kuah satenya cukup dengan kecap dan potongan tomat, bawang merah dan cabe rawit.

Pempeknya juga oke. Asam cukonya pas dan semakin gurih karena ditaburi oleh remahan ebi. Sebagai puteri kelahiran “negara pempek”, olahan ikannya meskipun tidak terlalu dominan, hasil akhirnya tetap mendapatkan pujian. Gak kaget kalau dari jaman jebot, pempek yang mengusung jenama Pempek Megaria ini, sudah populer di kalangan penggemar kuliner olahan ikan di Jakarta.

Rujaknya? yang pasti buahnya segar-segar dengan rasa manis sedang plus potongan-potongan jumbo (mungkin kalo potongan kecil bikin repot dan lama pelayanannya ya). Keistimewaannya adalah justru di bumbu kacangnya. Gak terlalu kental tapi hasil ulekannya pas. Apalagi ditambah dengan campuran asam Jawa yang bikin bumbunya menghadirkan 3 kombinasi rasa. Gurih, manis dan asam. Kurangnya cuma 1. Kacangnya kurang banyak (suka apa rakus?). Seingat saya dulu, kacangnya tidak semua diulek. Ada yang berupa potongan-potongan besar dan kasar yang disebarkan di atas bumbu ulekannya.

Makan babak kedua di foodcourt ini jadi penutup rangkaian surga kuliner saya dan keluarga selama di Metropole. Pengen sih kembali lagi kemari seperti permintaan anak-anak. Next, jika kondisi memungkinkan dan kondusif dari segi kesehatan, kami ingin mencoba nonton sekaligus berwisata jajan di Roemah Kuliner. Salah satu food promenade yang menyajikan originalitas masakan Indonesia di Jakarta.

Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Sate kambing ala Metropole foodcourt. Lembut dan tidak berbau. Lontongnya pun lembut dan nyaman dikunyah.
Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Rujak buah ala Metropole foodcourt dengan potongan yang besar-besar dan bumbu yang pedesnya pas banget

Memori Dengan Metropole

Waktu saya masih SD (kelas 5 kalo gak salah), menjelang akhir tahun 70an, saya diajak rombongan arisan kompleks yang diikuti oleh Ibu untuk nonton bareng di Metropole. Kagum banget dengan keindahan tempat ini. Dibangun dengan design art deco ala Belanda oleh seorang arsitek bernama Liauw Goan Sing, Metropole jadi salah satu destinasi wisata dalam kota yang patut dipertimbangkan. Kemegahannya pun langsung terlihat dari kejauhan karena tempat yang sudah dinyatakan sebagai cagar budaya sejak 1993 ini, memiliki 1 tiang tinggi dengan ujung besi penangkal petir yang bisa terlihat dari dari jarak yang cukup jauh.

Berlokasi di area elit Jakarta Pusat, persimpangan pertigaan antara Jl. Diponegoro, Jl. Pegangsaan Timur dan Jl. Proklamasi, Metropole di tahun itu (akhir 70an) murni dipakai sebagai bioskop yang biasanya memutar film-film produksi MGM (Metro Goldwyn Mayer) yang terkenal dengan opening cover auman singanya. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya industri perfilman tanah air, Metropole akhirnya juga memutar film-film karya para sineas Indonesia. Nah di jaman itu salah seorang artis yang punya nama besar adalah Suzana. Film Suzana yang berjudul “Beranak Di Dalam Kubur” inilah yang saya tonton bareng rombongan emak-emak itu. Judulnya aja “menekan mental” itu ya.

Kalo dipikir-pikir tega bener yak saya diajak nonton film horor begitu (ngekek).

Walhasil selama hampir sebulan setelah nonton itu, saya gak bisa tidur nyenyak. Sampai susah memejamkan mata malah. Grasa-grusu tidur mepet sama siapa aja (ngekek). Terus sensitif banget sama aneka sumber suara. Masih terlintas di pelupuk mata bagaimana Suzana dibunuh setelah dinodai padahal saat itu dia sedang hamil tua. Dan karena tak ingin meninggalkan jejak, para pelaku kejahatan, menguburnya sekaligus dengan anak yang masih dalam kandungan. Habis itu langsung bisa ditebak dong. Arwah Suzana gentayangan dan membalas dendam (baca: membunuh) satu persatu para pelaku yang mengakhiri hidupnya. Yang bikin mencekam itu bukan penggambaran proses pembunuhannya. Tapi lebih pada suara menyayat, mata melotot, seringai khas Suzana dan ringkihan yang bikin bulu kuduk merinding. Menurut saya, beliau ini tokoh/artis fenomenal yang aura horornya tak terkalahkan oleh pelakon-pelakon lain yang hingga kini terus bermunculan.

Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Metropole di 1951. Fasadnya masih kotak-kotak. Tapi tiang legendarisnya sudah tampak dominan.

Metropole dan Wisata Jakarta

Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Metropole dengan nama Megaria 21 di 20017

Tegak berdiri di lahan seluas 11.800m2, Metropole mengalami rangkaian perubahan nama. Nama awalnya adalah Bioscoop Metropool (mengikuti ejaan Belanda). Diresmikan oleh Wakil Presiden pertama yaitu Bapak Muhammad Hatta di 1949. Namanya kemudian berganti menjadi Megaria di 1960 mengikuti kebijakan Presiden Soekarno yang saat itu mencanangkan gerakan anti barat. Berganti lagi menjadi Metropole 21 pada 1989. Dan akhirnya menggunakan nama Metropole XXI di 2008 hingga kini.

Saat ini Metropole dikelola oleh Ciniplex 21 setelah sempat mengalami renovasi besar-besaran, baik untuk interior maupun eksteriornya, pada 2008 hingga 2013. Gerakan renovasi yang sempat mengalami pendapat pro dan kontra dari publik. Sejak renovasi rampung, Metropole akhirnya memiliki 1 gedung bioskop inti dengan 3 teater, bangunan tambahan di sisi kiri yang digunakan untuk foodcourt, 1 bangunan di belakang yang difungsikan sebagai teater tambahan, dan 1 bangunan lagi yang sekarang digunakan untuk pameran dan penjualan produk-produk sanitasi asal Jerman (Grohe). Masing-masing teater yang beroperasi memiliki kapasitas sekitar 170 orang.

Berada di samping jalur kereta api Cikini dan Gondangdia, Metropole, sangat pantas untuk dijadikan destinasi wisata yang cukup menjanjikan di ibukota. Jadi kalau ada tamu dari luar kota atau luar negeri, Metropole bisa menghadirkan salah satu bukti jejak sejarah entertainment premises dan satu-satunya bioskop sejak kita masih dijajah oleh Belanda.

Metropole menjadi satu kompleks panjang yang segaris lurus dengan RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Rumah sakit sarat pendidikan yang hingga saat ini masih menggunakan beberapa gedung ber-arsitektur Belanda yang masih terawat dan fungsional. Jika saya tidak salah presepsi, RSCM menjadi barometer perkembangan dan penelitian semua fenomena kesehatan di Indonesia. Sementara bangunannya juga bisa mengingatkan kita bahwa bangunan Belanda yang khas dengan ceiling tinggi dan jendela besar, masih tegak berdiri di daerah Cikini.

Selain itu, sekitar 500 meter dari Metropole, berjalan ke arah Jl. Proklamasi, kita akan menemukan Tugu Proklamasi yang berada di dalam Taman Proklamasi. Di sini kita bisa melihat patung 2 proklamator RI (Soekarno-Hatta) yang terbuat dari marmer hitam. Patungnya dibuat tegak berdiri persis pada saat Soekarno mengumumkan kemerdekaan RI. Ada juga lempengan salinan naskah proklamasi RI yang bentuk tulisan serta isinya dibuat sama persis dengan lembaran aslinya.

Mau ke Monas (Monumen Nasional) juga gak begitu jauh. Kalau gak kuat jalan kaki, bisa naik bajaj yang sering berbaris rapih di samping stasiun KA Cikini. Jika berniat jalan kaki, kita bisa mampir ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Salah satu pusat pendidikan seni ternama dan terpopuler di Indonesia. IKJ sendiri sudah direnovasi. Saat saya lewat, lahan depan IKJ sudah berubah total. Sentuhan seni modern pun tampak mendominasi dengan indahnya. Di dalam kompleks IKJ juga ada planetarium. Tapi saya kurang yakin apakah tempat ini masih beroperasi dengan baik saat ini.

Bangunan cantik lainnya di lingkungan ini adalah Masjid Cut Meutia yang berhadap-hadapan dengan Hotel Sofyan yang juga mempertahankan keindahan bangunan Belanda. Saya belum punya kesempatan khusus untuk memotret masjid ini. Tapi keindahannya banyak mendapatkan pujian dari banyak rekan blogger.

Bagaimana dengan wisata kuliner? Wuih banyak banget kalau mau ditelusuri. Sebagian besar dari tempat makan di area ini sudah berdiri puluhan tahun dan tetap beroperasi hingga saat ini. Tapi diantara kesemuanya, ada 2 tempat yang jadi favorit saya. Selain tentu saja foodcourtnya Metropole yang sudah diuraikan di atas.

Bubur ayam Cikini yang dikenal dengan nama Bubur Cikini (Burcik) masuk dalam deretan utama dari resto yang wajib kunjung setiap ada kesempatan main ke daerah Cikini. Bubur ini loh yang tadi masih tutup. Nama aslinya sih Bubur H. R. Suleman. Lokasinya berhadap-hadapan dengan stasiun kereta api Cikini dan berdampingan dengan resto fastfood KFC. Gak gampang menemukan parkir saat hendak kemari. Apalagi area pedestrian di depan warung bubur ini sudah ditinggikan dan dipasang tiang-tiang permanen setinggi pinggang orang dewasa. Oia, selain menyajikan bubur ala Cirebon, BurCik juga menawarkan martabak telor bebek yang sama lezatnya. Dua menu inilah yang sering banget dipesan oleh para pengunjung.

Kemudian ada Bakmie Gondangdia. Resto yang sudah berdiri sejak 1968 ini selain menyajikan mie ayam sebagai menu andalan, juga menawarkan berbagai chinese food yang dimasak fresh dan kaya rasa khas sajian Tionghoa. Di dekat pintu masuk, kita akan bertemu dengan abang penjual Es Podeng yang bisa kita pesan untuk diantar ke dalam. Mie nya istimewa menurut saya. Tipis, keriting dan selalu ditemani dengan semangkok kecil kuah kaldu yang gurih banget. Potongan jamur, pangsit rebus, sayur dan ayamnya pun selalu enak dan tidak keras.

Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Bakmie Gondangdia. Pilihan menu mie nya tak pernah mengecewakan. A must place to visit saat berada di seputaran Menteng, Cikini dan Gondangdia.

Jadi kalau memang niatan berekreasi ke daerah Cikini, Metropole bisa jadi titik awal untuk menjelajah beberapa touristic venues lainnya. Beberapa tujuan wisata yang juga bisa menorehkan pengalaman mengunjungi ring 1 ibukota Indonesia. Akan lebih seru kalau kita juga nginap di kawasan ini. Banyak banget hotel yang menawarkan jasa menginap. Mulai dari yang berkelas (bintang 3 hingga 5), guest house, capsule hotel, bahkan kos-kosan harian. Semuanya bisa disesuaikan dengan budget kita. Yang bertetangga dengan Metropole itu adalah Double Tree by Hilton Hotel Jakarta. Dengan jaringan internasional Hilton tentunya sudah punya gambaran gimana eloknya hotel yang satu ini. Salah satu hotel yang masuk dalam wishlist saya untuk direview.

Balik lagi ke Metropole? Kenapa enggak? Selalu menyenangkan untuk punya kesempatan beranjangsana ke kawasan ini. Tapi yang pasti, karena masih dalam masa pandemi, kita dituntut untuk disiplin protokol kesehatan 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Metropole XXI dalam kondisi terkini. Foto diambil pada Sabtu, 15 Mei 2021.
Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta
Saya di depan pintu masuk utama Metropole XXI
Beranjangsana ke Cagar Budaya Legendaris Metropole Megaria Jakarta

#MetropoleJakarta #MetropoleXXI #WisataJakarta #JakartaTourism #KelilingJakarta #VisitJakarta #WisataSejarah #WisataKuliner

28 COMMENTS

  1. Ada sate Kambing dan rujak buaaaahhhh *terhura*
    duh, aku auto pengin nih mbaaa
    secara, aku ini penggemar olahan kambing, tapi rada syusyaahh cari yg maknyus di sekitaran rungkut – surabaya.

    kapan2 aku mauuuk ke Metropole Megaria jugaa

    • Nginep aja di seputaran Cikini. Puas deh nikmatin jajanan di kawasan ini. Pokoknya wajib kabarin aku kalau ke Jakarta ya Nur.

  2. Aku tuh selalu suka baca tulisanmu mbak. Enak dibacanya. Dannn fix dikau memang tukang jalan dan jajan. Hehhehe sangat menginspirasi tempat asik buat hangout. Aku tunggu tempat asiknya yang ramah anak daerah Bogor, yo..

    • MashaAllah. Terimakasih untuk complimentnya Laila.

      Pertengahan 2020 sebenarnya saya dapat undangan menginap dan meriview 2 hotel yang berada di Bogor. Tapi dibatalkan karena pandemi. Mudah-mudahan ya suatu saat bisa ke Bogor agak lamaan biar puas keliling kota hujan ini.

  3. Salam lebaran. Maaf lahir batin ya….
    Ga apa sesekali keluar kandang, lagian emang jenuh juga. Apalagi kalau ada acara spesial. Yg penting kita terapkan prokes 5 M ya…

    Mie ayam eh bakmie Gondangdia emang terkenal ya …

    • Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Maaf lahir batin juga Okti.

      Betul banget. Setelah 1 tahun lebih baru kali ini berani pergi ke tempat yang jauh bersama keluarga. Itu juga dengan pertimbangan yang matang dan selalu jaga prokes 5M

  4. Wah aku malah sampai sekarang belum keluar kandang nih mba hiks…hiks…hiks. Karena ada bayi juga jadi belum keluar jauh-jauh. Semoga pandemi segera berlalu ya mba. Ngomong-ngomong walau aku tinggal di jabodetabek tapi belum pernah ke Metropole. Keliatan ya aku jarang keluarnya hihihi. Mba itu es cream hello sundaynya meni menggoda. Warnanya itu lho menarik banget. Cerah. Jadi pengen

    • Wah kalau masih punya bayi memang akan jauh lebih bijak tidak keluar-keluar rumah dulu selama pandemi. Ntar kalau si bayi sudah lebih besar, cus main ke Metropole ya. Tempatnya menyenangkan dan aman untuk anak-anak. Apalagi kalo pandemi sudah minggat dari tanah air.

  5. Metropole selalu punya tempat nostalgia di hati saya. Dulu, di area belakang Metropole adalah perumahan karyawan bioskop. Keluarga uwa saya pernah tinggal di sana. Saya SMPnya di seberang Megaria. Ketika masih masuk siang, kalau pagi di rumah uwa dulu. Sepulang sekolah, baru deh dijemput orang tua.

    Lingkungannya juga cukup akrab. Mungkin karena di perusahaan yang sama. Masih teringat, hujan-hujanan main sepakbola ma anak-anak di sana. Bahkan ketika 17 Agustusan pun, kami selalu ikutan kemeriahan di Megaria. Padahal kami bukan warga sana.

    Kalau dulu rasanya kayak tinggal di komplek dengan fasilitas bioskop dan beberapa rumah makan. Sekarang, udah jadi 100% kawasan bisnis. Udah gak ada lagi yang tinggal di sana. Tetapi, tiap kali ke Metropole, saya selalu ingat kenangan masa kecil.

    • Wah Mbak. Bener-bener memori yang menyenangkan ya. Gak bakalan terlupakan seumur hidup itu.

  6. Alhamdulilah bisa jajan di hari ketiga Lebaran

    Apalagi dapat menu segar sepeerti rujak

    karena selalu jadi pekerjaan rumah saya paska Lebaran

    akhirnya stok makanan seminggu seperti makaroni schotel yang gampang bikin bikinnya :D :D

    • Iya Mbak. Refreshing sambil tetap menjalankan prokes. Alhamdulillah kami sekeluarga disiplin.

      Menu rujak sepertinya wajib nih Mbak Maria. Biar bisa mengimbangi asupan-asupan penuh lemak selama lebaran

  7. aku pas kemaren ikutan walking tour gitu, dijelasin tentang metropole yang dulu bernama megaria, lalu kaca2 patri pun dicerain sejarahnya. cakep.. akhirnya selesai walking tour aku makan di restorannya.

    kangen ke jakarta yuk.

    • Tempatnyo memang menyenangkan yo Ded. Aku masih pengen balik lagi. Belum kesampean nongkrong di Roemah Kuliner. Padahal stong point Metropole ado di tempat itu

  8. Kalau ke Jakarta, mau ah ke Metropole ini. Saya penasaran sama rasa pizza ayam. Belum pernah coba pizza rasa ini. Terus es krimnya unyu banget warna ungu. Saya tuh penyuka es krim banget Mba. Lagi iftar udah kenyang pun, kalau lihat es krim auto engga bisa nolak. Selalu suka deh baca reviewnya Mba Anie. Alhamdulillah sekarang udah sehat kembali ya Mba. Moga sehat-sehat seterusnya ya.

    • Penggabungan antara ayam, jamur dan keju yang berlimpah. Bikin pizza tipisnya enak tak terkira.

      Alhamdulillah fisik sudah berangsur kembali seperti kondisi biasa. Makasih untuk doa-doanya ya Lia.

  9. wah senangnya mbak bisa jalan jalan setelah lebaran
    memang jalan-jalan dan jajan saat lebaran itu perlu ya mbak
    selain mengisi waktu libur juga biar nggak bosen makan opor terus, hehe
    harga kulineeran di metropole brp an mbak?

    • Iya. Kebetulan juga adik ipar berulangtahun dan mengajak kami untuk main ke Jakarta.

      Kalau di foodcourt berkisar antara 20-50rb/porsi. Tergantung jenis makanannya. Enaknya tuh makan beramai-ramai (sharing). Jadi bisa nyoba banyak menu yang ditawarkan di sana.

  10. Suka banget baca tulisan kak Annie ini, yuhu…favorite pokoknya..haha.

    Wah, metropole yang dulu tahun 51, 07, 21 beda jauh ya kak, yang sekarang gedungnya nampak lebih segar karena banyak tanaman-tanaman produktif di sekitarnya..hehe.

    Film Suzana “beranak dalam kubur”, yes saya juga suka film2 besutan suzana yang emang cocok dia sebagai pemeran film2 horor.

    Baca ulasan kak Annie pokoknya harus lengkap….wajib hehe. Makasih kak, annie.

    • Makasih banyak untuk complimentnya Mas Wahid. Semoga tulisan-tulisan saya bermanfaat untuk siapapun yang membacanya.

      Proses renovasi 2008-2013 sempat dapat tanggapan pro dan kontra. Karena Metropole sudah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 1993. Jadi harus hati-hati untuk urusan renovasi sekecil apapun itu. Untuk saya pribadi sih puas dengan hasilnya. Apalagi, seperti yang Mas Wahid katakan, sentuhan penghijauan di sekitar gedung sudah membawa perubahan yang positif secara kenyamanan. Lebih adem.

  11. Kelihatan nyaman sekali tempatnya nih,beberapa kali ke Jakarta belum pernah coba kesini. Desainnya juga cakep untuk foto-foto nih bangunan dari Metropole. Btw,ada banyak aktifitas menarik juga yang bisa dilakukan disana ya,Mba terutama nikmati kuliner enak bener deh.

    • Next trip kalau ke Jakarta, kudu mampir ke Metropole Mbak Ririn. Nginep di seputaran Cikini biar puas wisata sejarah dan kuliner. Kabarin saya ya kalau ke Jakarta.

  12. Metropole sajiannya khas dan terbukti menyenangkan buat penikmat kuliner, menjadi pilihan dan primadona dari masa ke masa. Sepertinya saya perlu kesana jika ada kesempatan.

  13. Ternyata makanannya enak, terus juga di dalamnya suasananya asik. Wah daku malah belum pernah berkunjung sampai dalamnya Bu, seringnya lewat aja baik saat berangkat atau pulang kerja, hix. Semoga suatu saat kesampaian eksplorasi di sana.

    • Saya dulu waktu ngantor di daerah Menteng, jarang banget main ke sini. Padahal kalau naik bajaj paling bayar 10rb atau bisa juga jalan kaki kalo niat hahaha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here