Sempat dua kali batal ke Coffee Shop ini. Pertama, karena nyasar. Kedua, karena macet gak ketulungan. Barisan kendaraan dua arah berjejer dan berhenti gak bergerak. Posisi mobil yang saya kendarai waktu itu masih terlalu jauh. Jadi saya memutuskan untuk balik arah ketimbang harus jalan kaki di siang bolong menyengat (maklum kulit priyayi. Glodak!!). Tapi kali ini, di pertengahan Maret 2019, semesta sepertinya mengijinkan saya untuk membuktikan kerennya tempat nongkrong yang satu ini, tanpa macet dan tanpa nyasar.

Jl. Kayu Cendana, Uma Seminyak, lokasi dimana Titik Temu terbaca di peta, memang jalurnya sempit. Ngepas banget buat dua mobil berlawan arah. Lalu lintas (tambah) menjadi masalah kalo ketemu motor parkir semaunya, motor nyalip di tengah-tengah (biasanya kelakuan bule) atau ada kendaraan yang menaikkan dan menurunkan penumpang sampai bermenit-menit. Tulah. Nambah perkaro.

Signage Titik Temu juga kecil banget. Ngegantung terlalu tinggi jadi gak bakalan mudah untuk tertangkap mata dalam sekali lewat. Biar gampang dan gak rempong, ada baiknya kita parkir di Seminyak Village, mall yang berada persis di seberang gang/jalan masuk menuju Titik Temu. Kalau naik kendaraan umum, mintalah supir untuk menurunkan kita di lobby depan Seminyak Village. Nah dari lobby ini tinggal nyebrang dan terus jalan kaki sekitar 100an meter.

Coffee Shop milik Raisya dan teman-temannya ini jadi satu komplek dengan Toko Pasar-pasaran, ruangan khusus pameran (saat saya datang sedang menampilkan mural), dan sebuah resto makanan Thailand. Di salah satu sisi ada sebuah lapangan rumput lumayan luas, yang kalau dilihat dari akun IG nya Titik Temu, sering digunakan untuk acara ngumpul-ngumpul.

Bertemu di Titik Temu
Ruang Pameran

Bangunan Titik Temu sendiri dibuat 2 lantai. Lantai bawah berkonsep industrialis, semen tanpa polesan dan dengan dinding kaca bening. Dapur dan sentral pelayanan ada di sini. Dining area disetting menyudut dengan jumlah meja kursi yang lumayan mepet satu sama lain. Tempatnya tertutup rapat. Menandakan bahwa lantai bawah ini bebas asap rokok.

Konsep yang berbeda bisa kita rasakan di lantai 2. Menaiki tangga yang lumayan curam, di atas ini ruang makannya berupa lesehan. Hanya tikar dengan beberapa meja yang disusun memanjang. Gak ingin lesehan?Jangan kuatir. Memanfaatkan lahan yang ada, Titik Temu mengatur beberapa kayu panjang dengan meja kayu balok, yang dibuat permanen, untuk para pengunjung. Kecuali ruang lesehan tadi, di dudukan kayu ini tidak beratap. Asyik banget buat nongkrong, ngobrol berlama-lama, sambil merasakan angin semilir menyapu wajah dari ketinggian tertentu.

Bertemu di Titik Temu
Ruang makan lesehan di lantai 2
Bertemu di Titik Temu
Pemandangan dari lantai 2 | Sisi kiri ada bangku-bangku panjang yang disusun seperti tangga plus meja-meja permanen

Panasnya udara dan teriknya matahari siang itu, membuat kami, saya dan Fuli, memutuskan untuk makan di lantai bawah saja. Tak ingin salah pilih di tengah lapar yang sudah melanda, kami memutuskan untuk mengikuti rekomendasi salah seorang waiter. Satu piring Fish and Chips untuk saya, sementara Fuli memilih sepiring nasi goreng kambing. 2 menu yang ternyata jitu dan tidak mengecewakan.

Menu yang saya nikmati berisikan ikan dori yang digoreng crispy bertaburkan kelapa sangrai di atasnya. Sebagai pelengkap ada segenggam sambal matah yang didominasi oleh irisan bawang merah, serutan/potongan tipis-tipis kol ungu, mayonaise secukupnya, dan tentu saja segambreng french fries yang pas banget gorengannya (gak kekeringan dan gak letoy). Baru kali ini loh saya menikmati hidangan fish and cips dengan komposisi seperti ini. Rasanya? Apa coba ekspresi yang pas untuk mewakili piring bersih tanpa sisa? Rakus? Hahahaha

Bertemu di Titik Temu
Fish and Chips ala Titik Temu
Bertemu di Titik Temu
Nasi Goreng Kambing ala Titik Temu

Ngelirik ke piring tetangga. Air liur saya tertahan. Perlahan tapi pasti Fuli menghabiskan sepiring besar nasi goreng kambing lengkap dengan potongan acar, telor ceplok setengah matang, dan emping. Baru beberapa suap, 1 kata “enak” langsung meluncur dari mulut ibu 3 orang anak ini.

Mahal gak? Gak terlalu. Untuk saya, sepiring fish and chips dengan air mineral (merk luar), saya mengeluarkan uang sekitar 125ribu (sudah termasuk pajak). Sementara Fuli, harus membayar lebih mahal karena selain sepiring nasi goreng kambing, dia juga memesan segelas tinggi juice. Harga yang setara dengan kualitas yang didapat.

Berhubung akan melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat lain dan perut yang sudah terlalu kenyang, niatan awal untuk ngopi sesudah makan terpaksa kami batalkan. Takut gak sanggup ngangkat badan coi (lebay).

Makasih ya Titik Temu. Pengen balik lagi deh. Merasakan duduk-duduk, nyeruput kopi dan ngobrol sepuas mungkin sebatalion di lantai 2.

Bertemu di Titik Temu
Area dapur dan menyeduh kopi
Bertemu di Titik Temu
Menuju lantai 2

Bertemu di Titik Temu

42 COMMENTS

  1. ternyata di Bali
    Saya gugling di mana Uma Seminyak, maklum kudet nggak pernah jalan-jalan :D :D

    Titik Temu nih cozy ya mbak, bikin betah
    harga makanan jadi worth it deh karena ambiencenya melenakan

    • Di Jakarta juga ada Mbak. Justru yg ini saya belum pernah mampir.
      Tempatnya gak besar sebenarnya. Tapi bangunannya unik dan bisa memanfaatkan ruang dengan maksimal. Sayangnya gak di pinggir jalan. Jadi kalau mau kemari memang harus diniatkan nyarinya.

    • Iya Mbak. Apalagi kalau duduk di atas pas sore-sore atau malam hari. Nyaman banget buat ngobrol-ngobrol

  2. Jadi ingat, di sini adanya titik kumpul Mba :)
    Ada juga titik koma, hahaha.

    Ini tempatnya kece ya.
    Pricenya juga sepadan sih ya, kalau liat makanannya menarik dan enyak😁

    Viewnya juga kece.

    Semoga pandemi segera berlalu, kasian banyak usaha gini yang tutup.
    Padahal lumayan menyedot tenaga kerja kan ya.

  3. Oya? Wah baru denger ada cafe dengan nama Titik Kumpul dan Titik Koma hahaha. Ntar coba tak browsing ah. Jadi penasaran.

    Ya. 2 menu yang saya dan teman coba enak-enak semua. Banyak dan berkualitas. Setara dengan harganya. Kalau ada kesempatan balik lagi, saya mau banget main ke sini lagi.

    Aamiin YRA. Semoga pandem segera minggat dari tanah air. Jangan sampai ulang tahun ke-2 tahun depan ya. Kesian juga bisnis pariwisata di Bali. Menderita karena pandemi.

  4. Kupikir tadinya yuk Annie ke ujung pulau We Aceh loh.. kecele aku hahahha
    Aku pun ngiler sangat liat foto ikan dori yang disajikan rapi tertata, ya.

    Kalo nasi goreng kambing? Dibungkus pake daun aja udah ngiler apalagi disajikan cantek manjyah kek gitu!

    • Hahahaha. Kalau WE ACEH itu Titik Nol ya hahahaha.

      Kelebihan cafe dan resto gitu ya. Platingnya jagoan dan cantik banget. Ngeliatnya aja membangkitkan selera. Apalagi terus masakannya enak. Waahh seneng banget.

      Hahahahaha Nasi Goreng Kambing ini salah satu favoritku kalau tensi anjlok. Daging kambingnya membantu menaikkan tekanan darah.

  5. Wah asik juga ya tempatnya. Dulu kalau ke seminyak, saya nongkinya di Kafe Tahu, tapi ternyata ada tempat nongki baru yang nggak kalah asiknya. Semoga pas ke sana bisa mampir.

    • Setiap sudut di Bali rasanya banyak tempat nongkrong yang asik ya. Apalagi Seminyak yang super padat. Ntar browsing ah Kafe Tahu. Siapa tau nanti bisa mampir dan makan di situ. Makasih infonya Mbak Annisa.

    • Iya Mbak Nanik. Lokasinya gak persis di pinggir jalan.
      Eh bener banget Mbak, kelapa sangrai nya itu seperti jadi signaturenya Fish and Chips nya Titik Temu. Dan itu uenak bangets.

  6. Mbaaa aku kadang malu makan sampai piring bersih tak bersisa di resto, tapi kalo emang enak gimana dong? Ya habis juga, wkwkq … lagian aku kan ngga bisa masak, jadi di lidahku semua makanan itu lezat. Semacam pemakan segala akutu. Apalagi tempatnya bikin betah kek gini.

    Btw, kulit priyayi itu kek mana tho? Ahaha

    • Justru kudu ludes setiap makan. Dulu waktu kecil kalo makan gak habis, bisa diomelin dari Subuh sampe Maghrib sama ortu hahahaha.

      Hahahaha. Maklum sedikit lama kena matahari, kulit langsung merah kepanggang. Repot yak hahahaha

  7. Ini milik Raisa yang penyanyi itu ya,mba? Keren desainnya ya mba,kelihatan nyaman sih di dalamnya. Hmm,aneka masakannya juga buat tergiur apalagi melihat saat puasa gini,kwkwkkwkw. Btw,Itu memang bule kalo bawa motor suka nyalip ya mba?

    • Yup betul. Raisha yang penyanyi. Dia kerjasama dengan beberapa temannya.
      Interior cafenya memang gak ribet dan sederhana. Jadi nyaman banget.
      Hahahaha saya juga jadi kepengen nih buat buka puasa. Apalagi keduanya favorit saya.
      Bule kalo di Bali banyak yang suka ngasal hahahaha.

  8. Auto like nih sama kafenya.. Sempurna. Udah tempatnya enak..penyajian menunya juga cakep banget.. Semoga kalo ke Bali bisa mampir ke kafe ini…tanpa harus bermacet-macet..

  9. Hidangan yang disajikan pasti enak, ditambah yg foto super duper ahli, jadi makin membawa suasana seolah koya ikut menikmatinya nih…
    Cuma nasi goreng kambing kalau punya tekan darah tinggi harus dikurangi ya…

    • Wah makasih compliment untuk fotonya Mbak Okti.

      Nah kalo saya kebetulan tensi selalu cenderung rendah. Makan per-kambing-an jadi salah satu solusi kalo tensi sudah drop.

  10. Aku suka suasannya, hijau-hijau gitu jadi segar liatnya.
    Dan penasaran sama ikan crispynya dicampur parutan kelapa gitu. Dan penyajiannya enak dilihat.
    Ngomong2 dari namanya aku kira akan berkisah tentang pertemuan hihi
    Ternyata bisa untuk pertemuan dengan teman sambil makan hehe

    • Fish and Chipsnya jempolan pokoknya. Parutan kelapanya bikin penyajian dan rasanya berbeda dari yang lain.

  11. Pas baca ada menu nasi goreng kambing, udah langsung terbayang, enak nih rasanya. Eh lihat gambarnya kan makin menggugah selera. Harganya tentu sesuai ya.

    Bagian area dapur, serta suasana di coffee shop temu ini memang sesuai dengan namanya, bisa bertemu di titik temu hehe. Mudah diingat bila suatu saat ke sana.

  12. pantesan dibela belain meski nyasar dan menembus kemacetan ya mbak
    cafenya nyaman banget, banyak ijo ijo bikin segar
    menunya juga sangat menggoda selera
    terutama nasi goreng kambing, duhhh ini makanan favorit aku

    • Bener banget Mbak Dian. Review nya juga kece-kece. Mangkanya saya niatin banget datang kemari

  13. Pas lihat foto yang paling atas, terkesan kayak biasa aja tempatnya. Cuma unik di bagian yang botol-botolnya. Tetapi, begitu lihat foto-foto lainnya langsung merasa ‘harus ke sini suatu saat!’. Ternyata lokasinya di Bali ya, Mbak. Berarti harus bener-bener diniatin sampai ketemu, nih. Soalnya udha jauh-jauh datang ke Bali :D

  14. Tempatnya menarik dan nyaman ini. Kalau boleh tahu yang menu Fish and Chips itu apakah bawang merah mentah yang disajikan di bagian bawahnya? Itu cara dimakannya bareng ikannya atau gimana Kak? Unik soalnya hehe.

    • Iya bawang merah mentah. Konsepnya sih sebagai sambal matah khas Bali tapi sedikit cabenya. Saya sih nikmati bamer nya dengan ikan. Jadi ada efek-efek pedas saat ikannya dikunyah.

  15. yuk Annie, rasanya itu properti piring pengen jadi koleksi yaa hahahaha..

    selalu suka ulasan dari yuk Annie tentang food ini. jadi pengen ketemu lagi dan kita hunting kulineran hahaha..

    • Hahahaha. Ado nian Ded. Aku sampe nanyo mereka beli dimano piring itu.

      Aku yang pengen nian balek Palembang Ded. Blusukan ke tempat-tempat pedagang makanan samo tempat pembuatan kain tuh.

  16. Ciamik banget sih konsep coffe shop nya kak, betah berlama lama nongkrong disini pas kumpul keluarga.
    Apalagi ada ruang pameran nya juga di coffe shop ini, jadi gak boring.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here