Saya memiliki lumayan banyak teman-teman pendaki meskipun hingga saat ini tidak pernah bergabung di satu kelompok pecinta alam manapun. Beberapa dari mereka selalu, bahkan sering banget, berbagi kisah-kisah menarik dan seru selama pendakian. Sebagian besar tentang keistimewaan gunung-gunung yang mereka daki serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Khususnya larangan-larangan tertentu di masing-masing tempat yang wajib dipahami dan diikuti.

Menonton film seri KISAH TANAH JAWA MERAPI (KTJM) melengkapi (kembali) apa saya ketahui. Terlepas dari genre fiksi, saya yakin banyak adegan atau kejadian yang disajikan adalah benar adanya. Setidaknya ditampilkan mewakili sebuah kisah nyata. Dan ini diperkuat dengan diskusi-diskusi panjang, tentang film ini, yang saya adakan dengan salah seorang teman pendaki yang memang punya “kelebihan” atau kemampuan melihat dunia kasat mata. Dari teman inilah saya banyak mendengar dan belajar bahwa untuk seseorang yang dikarunia talenta seperti dia, gunung adalah tempat untuk mengasah diri agar tetap membuka diri untuk hal-hal yang terkadang berada di luar nalar kita, selalu humble dan bijak baik dalam bertindak maupun berlisan.

Drama Seri Asli Milik IFlix

Kisah Tanah Jawa MERAPI.  Petualangan Menjemput Seorang Teman di Dimensi Lain

KTJM adalah sebuah mini seri original milik IFlix. Disajikan streaming yang bisa diakses lewat semua perangkat teknologi, film bergenre horor ini adalah produksi RAPI Films dan disutradarai oleh Faozan Rizal dan Salman Aristo.

Dirilis mulai 31 Oktober 2019, KTJM dibuat dalam 6 episode dengan konsentrasi cerita yang terpisah tapi berkesinambungan. Episode 1 (Is Rio Still Alive?/Apakah Rio masih hidup?), Episode 2 (Rio Still In Merapi, Lost and Alone/Rio masih di Merapi, tersesat dan sendirian), Episode 3 (Who Can Be Trusted?/Siapa yang bisa kita percayai?), Episode 4 (Should They Stay of Go?/Apakah mereka harus bertahan atau pergi?), Episode 5 (Our Intentions Are Different/Tujuan kita berbeda), dan Episode 6 (Bubrah Market/Pasar Bubrah).

KTJM dikisahkan sebagai film dokumenter yang dibuat oleh Andi (Deva Mahendra) dan Babon (Joshua Suherman). Menceritakan tentang perjalanan mereka menuntaskan amanah untuk mencari serta menjemput sahabat mereka, Rio, yang hilang di Merapi. Mereka selanjutnya ditemani oleh Nadia (Laura Basuki), Dika (Wafda Saifan), Citra (Laura Theux), dan Suratno (Tyo Pakusadewo).

Banyak adegan, mungkin hampir semua/sebagian besar, disajikan melalui rekaman video yang dibuat oleh Babon. Jadi kita seolah-olah diajak kecebur atau terlibat langsung dalam sebuah kisah nyata Andi dan Babon. Mulai dari berita hilangnya Rio, rangkaian persiapan mendaki, hingga akhirnya kembali ke Jakarta/Jogya.

Perjalanan Sarat Misteri

Sebelum Mendaki

Tak perlu waktu lama untuk masuk ke dalam adegan-adegan penuh ketegangan di film ini. Dari episode 1 aja kita sudah diajak untuk memahami bahwa percikan-percikan kehadiran dimensi lain itu memang ada jika kita percayai. Dan itu bisa terjadi pada siapapun. Andi yang awalnya selalu berpegang pada logika, pelan-pelan akhirnya percaya bahwa begitu banyak hal-hal diluar nalar yang mengiringi hilangnya Rio. Seperti misalnya munculnya sesosok perempuan berpakaian pengantin Jawa (profil ini akan sering muncul selama film berlangsung) dan ibu Rio yang mendadak tak sadarkan diri sehabis kerasukan.

Meski awalnya Andi menolak untuk berangkat mencari Rio, tapi atas desakan Babon akhirnya mereka berdua berangkat ke Jogja dengan penuh semangat dan rasa percaya yang tinggi bahwa Rio itu masih hidup dan tersesat di Merapi. Sebagai modal awal untuk ini, selain uang cash yang diberikan oleh Ibunya Rio, Andi dan Babon mengunjungi 2 orang pria (Rana dan Yudha) yang waktu itu mendaki gunung Merapi bersama Rio. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan atau menggali info awal atas apa yang sesungguhnya terjadi selama mereka mendaki. Tapi ternyata tidak menghasilkan petunjuk yang pasti kecuali kejadian mereka berpapasan dengan Rio sebelum turun dan mengakibatkan mereka trauma untuk mendaki Merapi. Rio tampak yang berdiri kaku dengan wajah, terutama bola mata yang menakutkan.

Akhirnya, dengan modal nekat, Andi dan Babon bergerak menuju desa yang berada di bawah kaki Merapi. Di sana mereka bertemu dengan Kepala Desa Wicaksono yang berkenan mengantarkan mereka menghadap juru kunci Merapi. Hasilnya, si juru kunci melarang keras mereka untuk mendaki karena Rio “sudah aman di atas” dan tidak mau pulang. Tapi justru dengan kalimat inilah, baik Andi maupun Babon, semakin yakin bahwa Rio masih hidup.

Melawan titah juru kunci, Andi dan Babon malah terlempar-lempar ke beberapa kejadian yang tidak mengenakkan hati. Mereka jadi semakin sering diganggu hingga akhirnya Andi bertemu roh Rio yang memaksa Andi untuk pulang. Arwah Rio sempat memegang lengan kanan Andi hingga berbekas dan menimbulkan luka yang semakin parah (Ketempelan). Luka inilah yang akhirnya mempertemukan mereka dengan Suratno. Seorang peternak, lelaki paruh baya, yang bersedia menjadi guide mereka untuk mendaki.

Andi dan Babon yang sebelumnya sudah kesusahan mencari orang yang bisa dipercaya untuk mendampingi mereka, akhirnya kepincut dengan Suratno yang berhasil menyembuhkan lengan Andi lewat doa-doa magis dalam waktu singkat. Tapi sebagai syarat untuk mendaki mereka harus mengumpulkan 3 orang lagi yang mau pergi bersama mereka. Dari sinilah kemudian muncul tokoh Dika, Nadia, dan Citra. Dika dan Nadia adalah sepasang suami istri (newly wedd) yang ingin merayakan 1 bulan pernikahan mereka dengan mendaki gunung bersama. Kemudian Citra dilukiskan sebagai seorang vlogger yang mengkhususkan diri meliput berita-berita misteri.

Selama Mendaki

Awalnya mereka berangkat diiringi dengan 2 porter. Tapi mereka mengundurkan diri karena Suratno memutuskan untuk naik lewat jalur terlarang. Jalur yang seharusnya pantang untuk dilewati.

Gangguan demi gangguan terjadi setelah itu. Adegan-adegan menyeramkan ditampilkan tanpa jeda. Benar-benar menguras ketegangan. Tapi intinya, semua terjadi sebagai akibat dari keteledoran mereka dalam bersikap dan berbicara. Seperti kata temen saya, seharusnya selama mendaki, kita tak boleh sedikitpun sombong, melecehkan, berkata buruk, bahkan hingga buang hajat atau meludah sekalipun. Inilah akhirnya yang menjadi pemicu baik Dika, Nadia, maupun Citra diganggu, dipermainkan oleh mereka yang kasat mata, dan mengalami kejadian buruk atas diri mereka.

Citra misalnya. Sempat ngomong “potong kaki gue kalo gue bohong”. Akhirnya benar-benar mengalami luka parah di kaki yang dalam penglihatan Citra selalu digandoli oleh kuntilanak berjubah merah. Citra jugalah yang seringkali mengolok-olok temannya penakut sampai akhirnya dialah yang harus mengalami ketakutan tanpa henti.

Dika juga sempat menyombongkan diri kalau dia sudah expert dalam pendakian. Tertawa melihat serombongan pemain musik (yang menurut saya juga bukan manusia nyata) dan berteriak “wah wah kesurupan itu kesurupan”. Eh malah dia yang akhirnya bener-bener kesurupan.

Istrinya, Nadia, juga akhirnya jadi bulan-bulanan wewe gombel. Sosok berbulu, tinggi besar, dengan mata merah. Nadia melihat wewe ini sebagai Dika suaminya. Jadi ada beberapa adegan bersetubuh antara Nadia dan wewe dalam kondisi Nadia kesirep seolah-olah melihat dan sedang bermesraan dengan Dika. Pertama terjadi saat mereka masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang ada di tengah hutan. Kemudian yang kedua terjadi di sebuah batang pohon besar yang tumbang.

Sementara Andi dan Babon tampak diselimuti oleh rasa berdosa karena tidak menjelaskan misi awal mengapa mereka mendaki. Tapi akhirnya dikatakan juga dengan jujur setelah terlalu banyak peristiwa-peristiwa aneh yang menimpa mereka selama dalam perjalanan. Apalagi saat mereka tau bahwa sebenarnya mereka akan dijadikan tumbal oleh Suratno, yang pada awalnya mencari pesugihan agar cepat kaya. Suratno akhirnya ditemukan tewas karena gagal menuntaskan tugasnya. Keberadaan guide pun digantikan oleh Darmo. Seorang guide yang dulu mendampingi Rio dan teman-temannya.

Dari penuturan Darmo lah rombongan ini akhirnya mengetahui niat awal Suratno. Darmo juga menyampaikan bahwa serangkaian peristiwa aneh yang sudah terjadi sebenarnya merupakan wujud penolakan Merapi atas kehadiran mereka di sana. Jadi Darmo mengajak semua untuk turun, tidak melanjutkan pendakian hingga puncak. Tapi meskipun rombongan “sudah mengalah” untuk turun, Andi ternyata tidak kenal menyerah. Dia tetap ingin sampai puncak dan menemukan Rio.

Di puncak inilah akhirnya Andi melihat Pasar Bubrah (Pasar Ghaib) dan iring-iringan pengantin dengan Rio yang tampak mengenakan pakaian nikah adat Jawa. Rio mendekati Andi dan mengatakan bahwa dia sudah bahagia dan memenuhi takdir hidupnya untuk menjadi pengantin Merapi. Rio juga meminta Andi untuk mengikhlaskannya, pulang, dan menyampaikan berita ini kepada ibunya dan Lidya, tunangan Rio. Saat itulah menjadi titik puncak penuntasan rasa penasaran Andi akan keberadaan Rio. Fisiknya pun diangkat dan diantarkan oleh si pengantin wanita Merapi ke titik dimana dia bisa bertemu anggota rombongan yang lain. Seperti kata Darmo, “Andi telah diselamatkan oleh semesta.”

Kisah Tanah Jawa MERAPI.  Petualangan Menjemput Seorang Teman di Dimensi Lain
Andi saat berada di Pasar Bubrah di puncak Merapi. Menyaksikan bagaimana rakyat menunduk menyaksikan iring-iringan pernikahan penguasa Merapi dengan Rio. Foto: screenshot film
Kisah Tanah Jawa MERAPI.  Petualangan Menjemput Seorang Teman di Dimensi Lain
Dua pengantin Merapi. Pengantian perempuan tampak duduk di atas joli-joli. Sementara pengantin lelaki (Rio) berjalan di bawahnya. Foto: screenshot film
Kisah Tanah Jawa MERAPI.  Petualangan Menjemput Seorang Teman di Dimensi Lain
Rio mendatangi Andi. Menyuruh sahabatnya itu pulang dan membawa pesan untuk Ibu dan tunangannya Lidya. Foto: screenshot film

Setelah Semua Terlewati

Kita diajak untuk menyaksikan rekaman kesaksian dari Andi, Babon, Citra, Nadia, dan Darmo di fase terakhir sebelum film berakhir.

Citra tampak duduk di kursi roda dengan kaki kanan yang buntung. Sementera Nadia tampak berbicara tersiksa karena belum menerima kenyataan bahwa suaminya, Dika, sudah wafat. Dan yang lebih mengagetkan adalah kehadiran bayi hitam berbulu hasil hubungan intimnya dengan wewe gombel. Kesaksian Darmo lah yang menegaskan kembali bahwa pendakian yang sudah dilakukan benar-benar adalah suatu kesalahan. Karena saat itu Merapi sedang mempersiapkan acara besar (pernikahan) dan tidak ingin/mengijinkan rombongan mereka untuk datang.

Kisah Tanah Jawa MERAPI.  Petualangan Menjemput Seorang Teman di Dimensi Lain

Kesan Pribadi

Thriller dan Horor adalah 2 genre film, drama, atau buku, yang selalu jadi incaran saya. Terutama jika ada teman yang memberikan referensi untuk ini. Tentu saja, teman atau mereka yang juga menyukai hal yang sama dan bisa dipegang omongannya. Sama seperti referensi tempat makan. Kalau dia memang jago masak, ahli incip-incip, atau memang pejajan, biasanya saya langsung (cepat) percaya. Secara yang ngomong memanglah ahlinya.

Seperti KTJM ini. Gak perlu waktu lama untuk saya mengakses IFlix saat membaca pesan Ratu di WA. “Mbak, udah nonton KTJM blom? Kalau blom coba deh liat. Horornya “bagus” dan jalan ceritanya sesuatu banget.” Aaahh kata “sesuatu” itu yang memunculkan imajinasi di kepala saya bahwa pastilah film ini sudah menghadirkan sebuah kisah yang tidak over acting, over expose, dan over over lainnya yang biasanya kita lihat setiap nonton film thriller atau horor produksi manapun dan siapapun.

Plotnya saya suka. Ketegangan-ketegangan yang intens juga mampu memperkuat isi cerita. Cuma satu yang tampaknya dilepas oleh film ini yaitu sudut pandang dan sentuhan nilai agama. Dari awal sampai akhir sering banget saya temukan kata-kata toxic seperti (maaf) anjing loh, sialan loh, dll. Tidak terucapkan sekalipun kata istighfar yang (biasanya) digunakan untuk meredakan ketegangan. Memang sih cerita dibuat untuk tidak menghadirkan mereka yang mampu “melawan” makhluk-makhluk astral seperti pengusiran setan. Tapi setidaknya selipkanlah satu kalimat nasehat tersirat dan jadi titik kulminasi pembelajaran dalam bersikap dan berbicara yang berakhlak. Khususnya saat kita mendaki gunung atau mengunjungi berbagai tempat yang memiliki nilai kesakralan tinggi.

Selain Andi, Suratno, dan Darmo, pemain lain actingnya tidak terlalu istimewa menurut saya. Tapi mereka terbantu oleh alur cerita yang sangat menarik. Jadi nikmati saja filmnya tanpa harus gemes dengan sekian banyak pelakon yang turut meramaikan film ini. Yang penakut tapi pengen nonton, mending muter filmnya siang hari aja ya. Kecuali kalo memang ingin mencabar kekuatan mental. Nontonlah malam-malam, di tempat tertutup, cus matikan lampu.

logo annie nugraha

#KisahTanahJawaMerapi #ResensiFilm #FilmHoror #FilmHororIndonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here