Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang

Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
pindang patin pegagan di warung terapung

Kemanapun, dimanapun, saat traveling, salah satu tujuannya wisatanya adalah makan-makan.

Mencoba makanan, masakan atau panganan khas dari daerah yang kita kunjungi biasanya akan masuk dalam agenda utama jalan-jalan kita. Terutama saat mengetahui bahwa untuk menemukan dan menikmati masakan tersebut adalah salah satu hal yang langka, jarang terjadi atau setidaknya susah ditemukan di seputaran tempat kita tinggal.

Begitu yang saya rasakan dan alami dengan Pindang. Salah satu kuliner andalan kota Palembang selain pempek, tekwan, celimpungan, model, burgo, mie celor, tempoyak dan masih banyak lainnya.

Favorit dan menduduki kasta tertinggi dari semua jenis pindang versi saya adalah pindang iwak patin (ikan patin). Khususnya bagian kepalanya. Catat ya. Ke-pa-la. Bukan bagian badan (tengah-tengah ikan) atau ekor nya.

Eksistensi Pindang Patin di Keluarga Saya

Almarhum Ayah saya lahir di Basemah, Pagaralam. Sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh gunung, sawah, kebun dan perbukitan. Salah satu daerah penghasil kopi dan beras yang cukup produktif di provinsi Sumatera Selatan. Udaranya selalu sejuk bahkan dingin banget saat malam hari. Jadi yang namanya budaya minum kopi sepanjang hari untuk menghangatkan badan tuh sudah jadi kebiasaan yang tidak bisa dilepaskan.

Semasa kecil, saat diajak pulang ke kampung (dusun) Basemah, saya masih melihat berhektar-hektar kebun kopi, sawah dan ladang. Sebagian besar penduduk tinggal di rumah panggung. Di sekeliling rumah tumbuh pohon-pohon tinggi dengan tubuh yang kokoh, berdahan lebar seperti payung alam serta akar-akar meliuk-liuk yang tumbuh menyembul. Diantaranya bahkan melebihi tinggi saya yang masih kanak-kanak.

Keluarga Ayah saya memiliki rumah panggung kembar yang di tengahnya ada tangga kayu yang cukup terjal dengan injakan yang banyak. Dinding rumah dibangun dengan full kayu tebal dengan banyak celah-celah kecil yang membuat udara dingin dari luar bisa merasuk ke dalam rumah.

Jendelanya dibuat lebar dan tinggi. Saya sering banget digendong almarhum Ayah, para paman dan bibi, untuk tegak atau duduk memandangi apapun yang terhampar di depan rumah lewat jendela tersebut. Kadang juga melambaikan tangan sembari menyapa para tetangga/penduduk yang melewati rumah kami. Ngobrol sembari teriak-teriak dalam bahasa daerah yang bikin silaturahim semakin seru dan bermakna.

Almarhum Ayah saya sempat bercerita bahwa jaman beliau masih kecil (tahun 1930-an), hutan belantara tuh masih mendominasi sebagian besar tempat tinggal atau dusun. Masih banyak harimau dan hewan-hewan buas lainnya yang hidup bebas berkeliaran. Jadi rumah panggung memang dibuat agar terhindar dari serangan hewan-hewan buas ini.

Yang masih jadi pe-er saat itu adalah masalah sanitasi. Rumah panggung tersebut dibangun tanpa jamban. Jadi kalau ingin buang air, harus keluar rumah. Jalan sedikit lalu ada tempat khusus yang dipagari oleh pohon-pohon kecil, setengah terbuka dengan pancuran air yang terus mengalir. Airnya dingin nauzubillah. Freezing gak kenal waktu. Jamban ini hanya berupa pijakan kayu dengan got yang cukup dalam di bagian bawahnya. Got ini dialiri air yang cukup deras. Kalau ingin buang air besar, harus jongkok di atas sebuah lubang.

Pengalaman seru di masa kecil yang tak akan terlupakan.

Selain rumah yang cukup luas, Nenek saya memiliki balong ikan yang besar-besar tak jauh dari rumah. Ikannya tumpah ruah. Gemuk-gemuk dan lincah bergerak. Salah satunya adalah ikan patin. Ikan-ikan inilah yang setiap saat kami konsumsi. Mulai dari sarapan, makan siang dan makan malam. Terkadang digoreng tapi sering juga diolah dengan cara lain. Dimasak berkuah dan berbumbu banyak yang belakangan saya ketahui adalah pindang. Dalam beberapa waktu juga dimasak kuah dengan campuran tempoyak. Daging durian yang sudah difermentasi sekian lama. Lezatnya gak kira-kira.

Dari sinilah akhirnya masakan ikan sudah merasuk ke dalam dunia rasa yang saya kenal. Bahkan saat lebaran atau hari-hari lain saya dan keluarga yang tinggal di Palembang pulang ke dusun Basemah, kami selalu bertamu ke rumah tetangga dalam rangka Pantauan.

Pantauan ini adalah salah satu budaya mengundang makan tamu untuk menikmati hidangan di rumah. Jadi saya dan keluarga, mendatangi rumah tetangga satu persatu, lalu menikmati masakan yang sudah disediakan di ruang tamu. Pilihan lauknya banyak berlimpah, ditaruh di piring-piring kecil. Persis seperti saat kita akan makan di resto padang.

Dari sekian banyak lauk ditaruh, yang selalu saya nikmati duluan adalah pindang ikan. Selalu bergembira ria kalau melihat pindang palak patin. Melebihi level doyan sepertinya.

Karena harus memenuhi undangan setiap rumah, Ibu mengajarkan saya untuk makan sedikit saja di setiap rumah tanpa mengambil nasi. Dengan cara ini perut kita tidak mendadak begah karena makan terus menerus dengan lauk yang hampir sama.

Kegiatan dan budaya pantauan inilah akhirnya saya jadi akrab dengan yang namanya pindang ikan dan semakin menyukainya.

Bahkan saking senangnya saya dengan pindang ikan, hampir seluruh anggota keluarga dari pihak almarhum Ayah, mengenal saya sebagai si ratu pindang ikan. Adik-adik almarhum Ayah yang sempat tinggal di rumah kami pun, sering menjadikan pindang ikan ini sebagai cara untuk memenangkan hati saya atau menjamu saya saat bersilaturahim ke rumah mereka.

Adik perempuan terkecil almarhum Ayah (Bibi) saya misalnya. Karena ikut tinggal di rumah kami, disekolahkan hingga menikah, beliau sudah mengasuh saya sedari kecil. Paham betul akan karakter dan kesukaan saya. Termasuk selera makan.

Jadi setiap saya pulang kampung ke Palembang, beliau selalu memasakkan pindang kepala iwak patin/pindang palak patin sepanci penuh. Besar kepala patin nya juga gak kira-kira. Selain besar dalam arti ukuran, jumlahnya juga bisa berpuluh-puluh. Sengaja pesan khusus ke pedagang ikan agar bisa mendapatkan kepala patin dengan kualitas terbaik.

Meski berhari-hari makan itu aja, saya seakan menemukan surga dunia kuliner yang tak terbantahkan. Apalagi kemudian sajian pindang kepala patin ini dilengkapi dengan bermangkok-mangkok sambal mangga muda, sambal tempoyak dan kerupuk kemplang dari warung langganan Bibi.

Makannya tentu saja dengan minim nasi. Karena bagi saya menikmati pindang patin akan jauh lebih sempurna tanpa kenyang lebih dulu akibat nasi.

Semua bagian kepala saya telusuri dan nikmati satu persatu, pelan-pelan sampai hanya tinggal tulang dan bola mata nya saja. Semua jadi bagian terbaik untuk dikunyah. Terutama bagian leher yang memang dagingnya empuk dengan lemak yang lezatnya tak terlukiskan.

Surga dunia.

Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
pindang iwak patin dan pindang tulang di warung pindang pegagan mbok yah

Berkunjung ke Kawasan Rumah Makan Terapung di Pasar 16 Ilir

Sekitar pertengahan Juli 2022, saya berkunjung ke Palembang bersama putri saya yang saat itu belum lama lulus SMA dan punya banyak waktu luang sebelum memulai masa perkuliahan.

Sepupu saya, anak dan mantu Bibi, sempat beberapa kali mengajak saya untuk berwisata kuliner di berbagai tempat. Mencoba beberapa warung pempek, mulai dari sekelas warung hingga resto, juga menjajal pindang ikan di berbagai tempat.

Salah satu resto atau rumah makan yang saya kunjungi adalah daerah Rumah Makan Terapung yang di Pasar 16 Ilir. Pasar terbesar di kota Palembang yang super duper lengkap dan berada di pinggir Sungai Musi, dekat dengan Jembatan Ampera. Sungai yang membagi kota Palembang menjadi sisi Ulu dan Ilir.

Keduanya, baik Sungai Musi ataupun Jembatan Ampera adalah ikon utama kota Palembang dan selalu menjadi destinasi wisata yang tak henti dipromosikan kepada publik nusantara.

Pasar 16 Ilir sendiri sudah jadi legenda kota Palembang. Sudah ada sejak saya belum lahir dan memiliki nilai sejarah yang patut dicatat. Apa saja ada di sini. Mulai dari kebutuhan sehari-hari, aneka jajanan, hingga berbagai pilihan belanja yang dibutuhkan oleh masyarakat luas.

Waktulah yang akhirnya menghadirkan pasar ini berubah secara fisik meski butuh waktu yang cukup lama. Kebutuhan akan sisi wisata akhirnya merasuk juga ke Pasar 16 Ilir dan tempat-tempat yang berada sejajar dengan pasar ini. Jadi masyarakat tidak hanya “melihat” Jembatan Ampera sebagai pusat kebanggaan kota Palembang, tapi juga berbagai sisi sungai Musi yang, saat saya kesana, mulai terurus menjadi lebih baik.

Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
di teras/anjungan dengan berderet warung terapung di pasar 16 ilir
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
warung makan di atas perahu kajang

Menikmati Pindang Patin dan Pindang Tulang Pegagan Mbok Yah

Konsep terapungnya cukup sederhana saja. Agar tidak mengganggu lalu lintas sungai Musi, Dinas Pariwisata Kota Palembang, menyediakan berbagai rumah makan terapung yang dibuat dan diparkirkan menempel di bantaran atau tepian sungai. Rumah makan ini berupa perahu Kajang. Salah satu jenis perahu yang memiliki rumah kayu dengan atap seng di atasnya.

Rumah makan terapung berupa perahu ini berjejer dan dicat warna-warni untuk menarik minat pewisata dan tentu saja dengan tujuan photography serta promosi. Setiap warung rata-rata menyajikan kuliner khas Sumatera Selatan.

Salah satu yang (sangat) menarik minat saya adalah Pindang Patin Pegagan yang ditawarkan oleh rumah makan terapung Mbok Yah. Salah satu jenis pindang yang berasal dari Pegagan. Sebuah sub suku dari suku Ogan yang bermukim di kelurahan Tanjung Raja Barat, Kabupaten Organ Ilir. Mereka bermukim di pesisir aliran sungai Musi. Jadi kehidupan dan mata pencaharian mereka berhubungan langsung dengan berbagai jenis ikan dan berbagai olahannya.

Pindang Pegagan, lauk berbasis Palembang Melayu ini, visualnya merah menggoda, dengan potongan-potongan nanas dan tomat. Rasanya gurih, asam dan pedas sekaligus. Mirip seperti apa yang sering dibuat oleh Bibi untuk saya. Hanya tampak kuahnya lebih oily dibanding dengan pindang patin yang biasa saya makan di rumah Bibi. Tapi yang pasti pindang pegagan yang saya nikmati di rumah makan terapung Mbok Yah itu kuahnya pedas, rasa sedikit asam, warnanya kemerah-merahan dan tercium aroma terasi dan asam jawa.

Menilik resepnya yang terurai di beberapa tautan, ternyata Pindang Pegagan ini banyak juga rempah-rempahnya. Ada cabe merah, bawang merah, bawang putih, terasi, tomat, air asam jawa. Lalu ada juga gula merah, lengkuas (geprek), serai (geprek), daun salam, kemangi, daun bawah, serta tentu saja garam, gula, air dan kecap asin. Kekhasannya kemudian ditutup dengan memasukkan potongan nanas.

Sebagai seorang pecinta pindang, apa yang disajikan oleh rumah makan terapung Mbok Yah, cukup melengkapi pengalaman kuliner terbaru saya di Palembang. Sajiannya diterima dengan baik oleh lidah saya. Bonusnya adalah merasakan rumah makan ini sedikit bergoyang-goyang karena saat ada kapal besar lewat. Sensasi khusus yang tentu saja tidak bisa kita rasakan saat berada di dalam resto yang berada di daratan.

Saya sudah semangat ingin memesan pindang pegagan kepala patin bermangkok-mangkok. Sayangnya, bagian kepala patinnya habis. Laku sejak pagi kata si pemilik. Jadi saya harus berlega hati dengan buntutnya saja.

Selain pindang patin, rumah makan terapung Mbok Yah juga menyediakan pindang tulang dengan kuah dan olahan yang sama. Para keponakan saya menikmati pindang tulang ini hingga ludes sekuah-kuahnya. Pindang tulang bukan berarti tulangnya saja ya. Ada banyak daging yang menempel di tulang. Jadi lumayan mengenyangkan.

Di meja yang jumlahnya sangat terbatas itu, rumah makan terapung Mbok Yah juga menyajikan lalapan gratis, aneka sambal, lalu ada tempe goreng serta ikan asin. Tambahan asupan yang ternyata asik juga dinikmati dengan pindang. Saya mencoba sepotong ikan asin ini. Ya ampun, bikin nambah nasi berulangkali. Luar biasa enaknya.

Kami menghabiskan biaya sekitar Rp 290.000,- untuk 7 (tujuh) orang. Pindang patin ditawarkan dengan harga Rp 20.000,-/mangkok, pindang tulang Rp 35.000,-/mangkok dan 7 (tujuh) The Botol Rp 7.000,- botol. Nasi, lalapan dan sedikit gorengan tadi terhitung compliment. Kami makan 4 porsi pindang pegagan iwak patin dan 4 porsi pindang pegagan tulang.

Kami cukup beruntung menjadi rombongan terakhir yang menikmati pindang pegagan iwak patin, karena setelah itu rumah makan terapung Mbok Yah hanya menyisakan Ikan Baung yang siap disiram dengan kuah pindang pegagan. Dan itu ukuran ikannya besar-besar banget. Ya ampun. Ngeliatnya aja bisa bikin saya langsung kenyang.

Saya juga sempat diijinkan memotret berpanci-panci lurik besar yang isinya pindang tulang. Panci-panci tersebut berada di atas kompor dengan api kecil. Kuahnya merah menggoda dengan potongan nanas yang masih segar. “Biar tetap hangat Bu,” jawab di pedagang saat saya mengintip bagian bawah panci.

Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
ikan baung. salah satu pilihan menu yang ditawarkan di warung terapung mbok yah. besarnya nauzubillah
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
sepanci penuh pindang tulang pegagan yang ada di warung terapung mbok yah

Berkeliling Pasar 16 Ilir dan Pinggiran Sungai Musi

Sebelum makan di pindang patin pegagan di rumah makan terapung Mbok Yah dan berjalan pulang ke tempat mobil sepupu saya terparkir, saya menyempatkan diri berkeliling sisi luar dari Pasar 16 Ilir ini. Saya bertemu dengan banyak ibu-ibu yang menjual pempek di ruang terbuka. Tanpa kios tertutup. Dagangnya di pinggir jalan. Aneka pempeknya ditaruh di atas tampah besar dan tertutup plastik untuk menghindari debu. Sang penjual menyediakan bangku-bangku kecil agar konsumen mereka dapat duduk sembari menikmati pempek di tempat yang sama.

Saya melihat salah seorang pembeli yang duduk di sana. Seru banget sebenarnya. Makan pempek di tengah jalan (betulan loh di tengah jalan). Jadi semakin seru karena bonus ngobrol-ngobrol asik antara penjual dan pembeli. Entah apa yang dibicarakan. Tapi melihat mereka tertawa berderai-derai, pastilah tentang sesuatu yang menggelikan.

Di dekat ibu-ibu yang jualan pempek ini, ada juga kios-kios yang menjual kerupuk/kemplang khas Palembang dan aneka oleh-oleh seperti dodol, bumbu-bumbu masakan, kerupuk-kerupuk mentah serta masih banyak lainnya. Mereka tidak menempati toko permanen. Sama seperti Ibu yang menjual pempek tadi. Hanya kios terbuka dengan atap yang terbuat dari terpal. Dan itu berjejer penuh menguasai hampir sebagian besar sisi terluar pasar.

Jika saya amati, area yang mereka tempati ini seharusnya diperuntukkan bagi lahan parkir. Atau setidaknya jalan bebas untuk kendaraan mondar-mandir dengan lebih leluasa.

Mungkin inilah yang menyebabkan pengunjung Pasar 16 Ilir ini susah mencari parkir yang proposional. Sekeliling pasar semrawut. Badan jalan penuh dengan pedagang.

Pekerjaan rumah nih bagi dinas tata kota Palembang.

Di pinggir sungai Musi pemandangannya berbeda, terlihat perahu-perahu bermesin tunggal yang sepertinya menjadi salah satu moda transportasi kegiatan perdagangan antara sisi Ulu dan Ilir Palembang. Berbagai kesibukan sangat terlihat di kawasan ini. Bongkar muat bagasi termasuk turun naiknya penumpang yang menjalankan bisnis di Pasar 16 Ilir. Atau sekedar menyeberang dari kedua bagian kota Palembang yang dipisahkan oleh sungai Musi.

Jika tadi di bagian darat penuh sesak dengan pedagang, di pinggir sungai situasinya terlihat jauh lebih berwarna. Selain kawasan rumah makan terapung, penumpukan perahu jadi wisata tersendiri. Terutama di bagian kolong Jembatan Ampera.

Berdiri di sekitar sini, saya terusik dengan sisi kebersihannya. Hampir sepanjang bantaran sungai Musi yang airnya berwarna coklat susu ini dipenuhi oleh sampah. Tak berlimpah tapi cukup mengganggu. Berbagai tanaman air pun tumbuh bergoyang-goyang dan beranak pinak, berdesak-desakan dengan berbagai sampah yang tampak minta diangkut. Banyak diantaranya “terjebak” diantara pijakan semen dan sebuah dermaga dengan beberapa jalan setapak.

Kasus sampah mengapung juga saya temukan saat berada di kawasan rumah makan terapung yang hanya beberapa langkah dari dermaga tadi. Dan semakin meresahkan saat melihat tumpukan sampah tersebut berada di sekitar perahu Kajang. Karena antara pinggir sungai dan perahu terhubung dengan pijakan kayu yang terbentang di atas sungai, sampah-sampah ini seakan menjadi tim penyambutan sebelum kita memasuki rumah makan.

Tergemas pokoknya. Seandainya ya sampah-sampah sungai ini bisa rutin dibersihkan dan diperhatikan. Wisatawan pastinya akan mendapatkan kesan baik dan yakin akan higienitas lingkungan plus rumah makan terapung yang berada di atasnya.

Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
saya dan fiona (putri saya) di depan dermaga yang ada di bantaran sungai musi
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
sampah-sampah yang bertebaran di sekitar perahu kajang yang menjadi tempat bagi rumah makan terapung. seandainya sampah-sampah itu dibersihkan, kawasan rumah makan terapung ini akan lebih sedap dipandang mata

Impian Saya untuk Kawasan Rumah Makan Terapung dan Pasar 16 Ilir Palembang

Kunjungan saya ke kawasan rumah makan terapung dan Pasar 16 Ilir ini sudah lama ingin saya lakukan saat berada di Palembang. Tapi baru terwujudkan pada pertengahan tahun 2022. Selain terbatasi waktu dengan kunjungan ke rumah sanak famili, banyak diantara teman-teman saya di tanah kelahiran ini tidak begitu mereferensikan rumah makan terapung yang ada di Pasar 16 Ilir ini. Alasannya beragam.

“Nantilah kalau tempatnya sudah lebih tertata, bersih dan apik. Biar lebih nyaman.”

“Aaahh, menikmati pindang pegagan gak musti atau harus di kawasan rumah makan terapung sana kali. Banyak yang lebih enak di daratan.”

“Tempatnya kurang higienis. Tapi kalau perut atau lambung kuat sih bolehlah dicoba sesekali biar gak penasaran.”

Jujur ya. Saya sempat maju mundur. Alasan utama yang merasuki pikiran adalah masalah kebersihan. Apalagi mengingat lambung saya cukup sensitif dan pemilih dalam soal kandungan rempah, sehingga masalah kebersihan pengolahan asupan menjadi pertimbangan utama yang cenderung tidak boleh ditawar.

Tapi dilain pihak, rasa penasaran itu semakin membuncah. Apalagi kota Palembang tuh tak banyak pilihan destinasi wisata alamnya. Satu-satunya yang seru untuk dibahas adalah tentang kuliner. Itu pun kita harus jeli dalam memilih tempat. Jangan terjebak hanya pada jenama yang populer karena nyatanya banyak produsen makanan rumahan yang tidak begitu berkibar namanya tapi memiliki kualitas di atas rata-rata.

Jadi saat akhirnya memutuskan datang ke dan makan di kawasan rumah makan terapung di Pasar 16 Ilir ini, saya sudah menyiapkan diri akan beberapa hal yang menjadikan saya berpikir kembali. Terlepas dari beberapa hal minus tentunya ada banyak plus yang bisa didapat. Setidaknya menikmati sensasi kuliner di rumah makan yang memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh tempat lain.

Tentu saja, sebagai seorang diaspora dan travel blogger, setidaknya tulisan tentang pindang patin pegagan dan rumah makan terapung di Pasar 16 Ilir ini menjadi referensi bagi siapapun yang berminat berkunjung ke kota Palembang. Salah satu tempat yang tematik yang dimiliki oleh satu tempat dengan sebuah sungai yang besar yang membelah kota.

Segaris lurus dengan apa yang terurai di atas, saya (sangat) berharap bahwa kota Palembang kedepannya akan memiliki lebih banyak tempat wisata yang unik, tematik, estetik dan menjual dari segi bisnis.

Poin terakhir menurut saya maha penting karena tanpa memikirkan bisnis, tempat sebagus apapun tidak akan bertahan lama. Eksistensinya hanya sekejap karena euforia lalu kemudian meredup.

Dan itu nyatanya banyak terjadi. Tempatnya sudah apik, bergema dan dikenal oleh publik, tapi karena dipegang oleh mereka yang tak paham akan bisnis, tempat ini pun akhirnya kalah pamor oleh tempat-tempat baru yang berada di lini yang sama.

Kok menyangkut bisnis sih? Iya dong.

Contoh soal rumah makan terapung di Pasar 16 Ilir ini. Harus ada organisasi atau institusi yang berpikir agar tempat unik ini berkembang dengan baik sesuai dengan visi dan misi saat pertama kali dibangun dan dioperasikan. Lalu bagaimana caranya agar sederetan rumah makan terapung tersebut bisnisnya tetap berjalan? Butuh promosi tentunya kan? Butuh tangan-tangan dan mulut-mulut lain yang membantu memperkenalkan atau menyebarkan informasi tentang tempatnya, tentang kualitas makanannya plus tentu saja tentang banyak hal yang bisa menjadikan kawasan ini layak untuk disosialisasikan. Termasuk untuk urusan kebersihan dan higienitas. Sayang kan sudah dibangun sedemikian rupa, memfasilitasi beberapa UMKM dibidang kuliner, lalu didiamkan begitu saja?

Inilah sederetan impian untuk tanah kelahiran saya.

Muluk kah? Engga juga sih. Tapi justru ini adalah salah satu wujud kecintaan saya akan kota Palembang. Dengan menulis artikel ini juga adalah cinta tanpa pamrih untuk tanah kelahiran saya.

By the way, teman-teman sudah pada tahu belum sih jika ingin berwisata kuliner, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Ada beberapa tips menikmati wisata kuliner yang diuraikan oleh sahabat blogger saya, Maria Tanjung. Tips nya sih simpel aja sebenarnya. Salah satunya adalah keinginan kuat kita untuk menikmati makanan yang kita tuju. Seperti halnya dengan apa yang saya lakukan di warung terapung Mbok Yah ini.

Asiknya lagi, sambil menikmati masakan umami, kita pergi bareng dengan teman yang mempunyai kesukaan dan minat yang sama. Misalnya dengan teman-teman sesama penyuka drama korea. Duuhhh langsung lancar deh tuh obrolan. Salah satu topik yang menarik adalah tentang para aktor yang menjadi favorit masing-masing. Kalo sudah begitu, bisa panjang banget ngobrolnya. Acara makan bareng pun jadi semakin seru dan menyenangkan.

Koleksi Foto

Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
bermangkok-mangkok ikan baung yang siap disajikan
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
pindang tulang pegagan di rumah makan terapung mbok yah
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
semoga sampah-sampah yang mengapung itu menjadi perhatian institusi terkait dan segera dibumihanguskan
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
sederetan rumah makan terapung yang ada di pasar 16 ilir
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
pedagang pempek dan lauk kuah yang ada di bantaran sungai musi
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
perahu-perahu bermesin tunggal baik yang berukuran kecil maupun besar. perahu-perahu ini terparkir rapi di bawah jembatan ampera
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang
asiknya ngobrol sambil jajan
Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang

Travel Blogger | annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

29 thoughts on “Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang”

  1. Saya kira makanan khas Palembang itu cuman pempek saja, ternyata banyak ya…
    Saya gak bisa bayangkan pindang kepala ikan patin… Pasti nendang ya rasanya, sama-sama pedas gitu kan?
    Apalagi makannya di rumah makan yang suasananya unik… Surga kuliner nih…

    Reply
    • Banyak banget Mas Taufiq. Pindang aja banyak sekali versinya. Rata-rata setiap kampung pesisir sungai Musi punya bumbu masing-masing. Yang pasti makan ikan buat saya tuh sudah mendarah daging sedari bocah hahaha. Jadi doyan banget dengan berbagai olahan ikan. Termasuk diantaranya pempek dan segala variasinya

  2. Ternyata Mbak Annie dari Pagaralam Sulawesi Selatan

    sedaerah dengan Helmi Yahya dan Tantowi Yahya dong ya?

    hihihi sok tau ini mah, karena perasaan pernah dengar podcastnya, mereka berasal dari sana

    daannnnnn….. masakan patinnya emang the best.

    Paling tidak kata teman-teman yang gak nemuin rasa yang seenak pindang patin Palembang

    Reply
    • Pagaralam itu Sumatera Selatan Mbak Maria. Yahya bersaudara orang Indralaya. Beda kampung dengan alm. Ayah saya. Ayah saya orang gunung sementara Yahya bersaudara orang pesisir.

      Pindang ikan memang salah satu masakan yang populer di Sumatera Selatan. Apalagi yang diolah dengan tempoyak (daging durian yang sudah difermentasi)

  3. Bener Bu Annie, namanya jalan² ya ujungnya makan-makan haha.
    Apalagi gak mungkin nolak deh kalau disediain hidangan nikmat, yang mana ada beragam pindang. Untung aja baung nya gak di asapin, kalau misalnya iya kan, daku mau nitip buat dibawain Bu Annie, eh wkwkwk

    Reply
    • Hahahaha iya Fen. Jalan-jalan tuh gak lengkap tanpa wisata kuliner. Jadwal wajib itu sih.
      Waaah next time ya. Kalau saya pas pulang kampung lagi. Tapi kalau saya sih kurang selera dengan masakan asap. Lebih suka berkuah, goreng atau pepes.

  4. MasyaAllah, baca ini tengah malam bikin perut berdenyut-denyut, lapaaaarrr hahahaha.
    Ikan laut itu buat saya luar biasa sih dibanding lauk lainnya. Apalagi dimasak pindang, duh ngiler rasanya.
    Asyik banget ya di sana, banyak makanan dan kudapan berbahan ikan, mana enak-enak pulak.
    Bikin kalap itu mah :D

    Reply
  5. Wahhh sayang gak ada resepnya mammi Annie biar bisa recook pindang pegagannya di rumah.

    Baru tau pegagan bisa dimasak juga ternyata karena aku suka sekali sama sup ikan patin, tapi biasanya aku masak pakai daun kemangi.

    Lihat jajan pempek dan kudapan lain berbahan ikan aku tergoda kayanya kalo ditempat aslinya pempek disana lebih enak rasanya dibanding yang ada di bandung hahahha

    Reply
    • Eh btw sekarang banyak bumbu instan pindang. Tinggal nambahin potongan tomat dan nanas seharusnya sih sudah endes betul. Iiihhh jadi pengen nyobain bikin sendiri hahahahaha.

      Pempek memang gak semua orang bisa bikin yang enak. Bahkan meskipun orang Palembang asli, adonannya itu hasilnya berbeda-beda. Pempek di warung-warung kecil seringnya lebih sedap loh. Gak harus fanatik dengan jenama-jenama yang sudah populer.

  6. Sebenarnya dilestarikan rumah makan terapung agar menjadi sebuah ikon jika kita berkunjung ke Palembang sana, ya mbak. Namun jika kebersihan dan kepedulian sampah tidak diperhatikan, sepertinya bukan tampil menarik dan indah lagi, tapi malah sebaliknya.
    Semoga pemerintah setempat dan warga sekitar bisa bahu-membahu mempedulikan sampah dan menjaga kebersihan sekitar destinasi kuliner rumah terapung, aamiin.

    Reply
    • Setuju banget Mbak Nanik. Kasus sampah ini sebenarnya klasik tapi banyak orang sering gak peduli. Seharusnya sih di tempat wisata, apalagi kuliner, sampah tuh harus sangat diperhatikan menurut saya. Kita juga kan jadi nyaman makan di area yang bersih. Dan bener ini bukan cuma tanggungjawab pemerintah tapi juga publik yang berada di sekitarnya.

  7. Duuluu waktu masih kecil, paling suka dengan ikan itu di bagian ekornya.
    Sekarang kepala. KE PA LA…
    Apalagi kalau diolah dengan banyak rempah dan ada kuahnya, wiiiih paling enak diemut-emut dah, hehee

    Seru banget itu warungnya terapung. Di Medan, sih ada, Tapi bentuknya biasa aja ngga kayak kapal perahu begitu.
    Ada sensasi goyang-goyangnya ngga bu pas lagi makan? :D

    Reply
    • Hahahaha. Kalau saya kepala ikan tuh sudah melebihi level doyan keknya hahaha. Suka aja dengan bagian dagu dan leher yang penuh lemak seperti ikan patin ini. Dimakan tanpa nasi tuh bisa bermangkok-mangkok pastinya.

      Pas ada kapal besar lewat sih berasa juga goyang-goyangnya. Gak begitu seru sih hahahaha

  8. Nyaaamm ngiler liat poto2 pindang patinnya, pas banget makan siang ini :D
    Oh ternyata di dekat jembatan yang tersohor di palembang itu ada resto2 terapung ya mbak? Jadi kalau ke sana wajib deh kulineran juga yaa.
    Ooo jd walaupun tempat2 makan itu udah eksis tapi msh blm ada pihak yg kyk menetapkan standar kebersihan dll gtu kah mbak? Padahal ini sebenarnya kudu dipikirin yaa. Apalagi kalau wisatawannya bule hehe khawatir gk cucok ma pencernaannya. Tapi kalau org Indonesia mungkin tahan2 aja hehe.
    Pokoknya kalau ke sana kudu pilih2 sebelum masuk yaa.
    TFS.

    Reply
    • Iya. Aku juga baru tahu saat diajakin sama sepupuku. Banyak banget rumah makan terapungnya. Berderet dan berada di satu kawasan khusus. Pe-er banget memang soal kebersihan itu. Setidaknya, jika memang tujuannya adalah untuk pariwisata, masalah sampah harus bisa ditangani dengan serius.

  9. Enak-enak ini,,pindang, pempek..duh ngiler saya, tapi kalau diminta beli untuk dimakan disitu mikir juga. Sayang sampah bertaburan begitu ya. Setuju dengan Mbak Annie, harusnya dipikirkan tuh, tempatnya asyik, makanannya enak tapi kebersihan sangat mengecewakan. Semoga nanti bisa ditata lebih baik lagi

    Reply
    • Harapannya begitu Mbak Dian. Ada petugas dan tim khusus yang bertanggungjawab soal kebersihan dan pengurusan sampah. Sayang banget kan, tempat yang mau dijadikan obyek wisata kok gak memperhatikan soal pembuangan sampah ya.

  10. Pindang ikan patin emang lezat banget kalo dimasak dengan cara yang benar. Kalau nggak benar, ya tetap amis rasanya. Hehe.. Apalagi makan pindang patin di Palembang langsung. Uuu lezatnyaūü§©

    Reply
  11. Lihat gambar deretan ikan yang sudah dimasak bikin pengen nyomot satu. Apalagi ikannya masih segar-segar banget tuh Mbak. Pastinya menikmati sekali makan di rumah makan terapung. Sambil diterpa hembusan angin dari luar.

    Reply
    • Kalau ke Palembang mampir kemari Mas Sugi. Cobain olahan pindang pegagannya. Kalau sudah ikan, pasti ketagihan

  12. Ternyata Mbak Annie ini penikmat pindang Ikan Patin ya, pantes, ada historinya ya, kebiasaan dari kecil hingga terbawa sampai dewasa. Btw saya penasaran ikan pindangnya yang diolah dengan tempoyak (fermentasi dari durian). Kira-kira gimana rasanya ya itu?

    Reply
  13. Saya termasuk yang jarang masak patin karena kadang nggak bisa ngolahnya tapi kalau liat pindang patin Pegangan RM terapung ini rasanya jadi pengen nyobain juga. Saya cuman tahu pempek Palembang aja, ternyata pindang patin juga makanan olahan sana ya.

    Reply
  14. Aku sampai googling, dimana lokasi Basemah, Pagaralam.
    Menu Pindang Patin ini menarik dan menambah selera makan banget, kak Annie.
    Karena suamiku hobi makan kepala ikan. Dan ibukku pernah 20 tahun tinggal di Sumut. Jadi paling bahagia kalau ketemu makanan dengan masakan homemade begini..
    Rasanya kuahnya aja sudah menggiurkan yah..

    Reply
  15. Masya Allah mbaa, baru lihat foto2nya uda bikin ngiler bangett ini, duh apalagi kalau disantap dengan nasi panas ya ampuuunnnn…
    Btw rumah makan terapungnya bikin penasaran niih, suasana tempat makannya unik. Siap makan auto nggak mau pulang dulu wkwkwkw

    Reply
  16. Wah, seru sekali wisata kuliner mbak Annie di Palembang
    melihat kuah pindangnya kok segar gitu
    kalau aku di surabaya biasa masak pindang serani, dari daging gitu

    Reply

Leave a Comment