Menelusuri Bali bagian selatan dengan perkembangan yang sangat pesat, benar-benar bikin takjub.  Sisi Bali yang satu ini tak henti menelurkan spot-spot wisata baru khususnya untuk wisata bahari dan mampu memperkenalkan deretan pantai-pantai yang selalu bikin kita berdecak kagum.  Tempat menginap pun dengan cepat menjamur dan semakin dikenal masyarakat lewat tangan-tangan para pejalan yang aktif bermedia sosial.

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali

Saya selalu dibuat terkagum-kagum dengan geliat pengelolaan tempat-tempat baru dan perubahan-perubahan yang cepat dari beberapa lokasi yang sudah ada.  Dari hari ke hari ada aja informasi wisata pantai yang saya temukan dari jaringan internet dan situs-situs referensi liburan dari berbagai sumber.  Dan Pantai Balangan ini adalah salah satunya.

Mengikuti arahan yang ada di google map, kami memasuki jalur arah Uluwatu dan Pecatu yang terlihat di layar HP.  Berkendara lurus ke arah Garuda Wisnu Kencana, kami menelusuri jalan lurus kemudian bertemu perempatan pertama yang memisahkan rute ke Pandawa (di sebelah kiri), Dreamland (lurus terus), dan ke Pantai Balangan (ke arah kanan).

Melewati jalur aspal yang tidak terlalu besar dan signage sepanjang jalan, tampak hutan-hutan kecil di kanan dan kiri jalan.  Layaknya daerah yang pesat bertumbuh kembang, terlihat beberapa hotel/guest house/penginapan dengan sentuhan arsitektur yang beragam.  Mulai dari yang mewah sampai yang sederhana.  Resto-resto unik dengan berbagai jenis masakan pun kami temui di sana sini, termasuk toko-toko yang menjual peralatan surfing.

Semakin mendekat ke Pantai Balangan, kami melihat beberapa toko yang cukup besar menjual atau menyewakan surf board.  Papan seluncur berbahan fiber ini dibuat warna warni, dicat/dilukis dengan sangat apik, atraktif, bener-bener menarik hati.  Deretan papan inilah yang menjadi pertanda jelas bahwa pantai yang akan kami kunjungi ini memang incaran para surfer.  Belum lagi berseliweran bule-bule hanya bercelana pendek, rambut melambai-lambai, dan berkulit gosong, mengendarai motor sambil nyangkring papan seluncur yang disangkutkan di samping motor.

Jalan meliuk-liuk selama 50 menit dengan berbagai pemandangan dan hiburan, kami nikmati hingga akhirnya sampai di sebuah parkiran yang berada di atas bukit.  Saat kami datang, area parkir ini, pijakannya masih berupa batu kapur yang kokoh dan dikeliling oleh hutan.  Tempat parkir kendaraanpun turun menukik.  Jadi buat yang datang membawa mobil, mohon lebih berhati-hati.

Baca juga : TIRTAGANGGA Water Palace.  Jejak Asri di Relung Karangasem, Bali.
PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali
Pantai yang landai dan pasir yang halus banget membuat Balangan menjadi salah satu pantai yang nyaman untuk dijelajahi
PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali
Keindahan bebatuan yang ada di sepanjang pantai

Berjalan turun dari kendaraan sekitar 200 meter, suara debur ombak yang berdentam kencang sudah terdengar menderu-deru di telinga.  Menyelinap di jalan sempit antara 2 resto di pinggir pantai, pasir putih yang bersih mulai terasa memeluk tapak kaki.  Hangat dan lembut.  Deretan payung-payung duduk berwarna-warni terlihat berjejer rapih sepanjang pantai.  Kursi-kursi kayu panjang bertebaran dari ujung ke ujung.  Terik terasa menyengat tapi justru sinar matahari yang persis berada di atas kepala inilah yang mampu memantulkan beningnya air laut di depan kami.

Dari tempat kami berdiri, di tengah tengah jalur pantai, terlihat bukit-bukit tinggi di sisi kanan dan kiri.  Bukit di sebelah kanan terlihat hijau coklat pekat, sementara yang di sebelah kiri berwarna keabu-abuan dan putih kapur.  Sementara di bibir pantai, antara pasir dan air laut, bertebaran batu-batu kokoh yang terlihat melumut di sekujur badannya.

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali
Landai dengan bebatuan yang sangat indah
PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali
Deretan tempat duduk kayu yang bisa kita sewa

Tidak terlalu banyak pengunjung hari itu karena memang bukan weekend atau hari libur.  Tapi keramaian tetap terasa.  Musik reggae dari salah satu cafe di pinggir pantai kok ya pas dengan suasana.  Apalagi memutarkan lagu Red Red Wine, mbah nya lagu reggae, dari UB40.  Aiihh mantab.  Kalo gak nahan malu siang-siang bolong, saya pasti sudah berjoget.  Apalagi sedikit melirik ke arah cafe, sederetan brondong bule bertelanjang dada asyik minum bir yang tampak berpeluh.  Wah, bisa ditepukin dan disiulin kenceng-kenceng kalo saya nekad ajojing.  Glodak!!

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali
Cafe dan Resto yang siap memanjakan kita menikmati Pantai Balangan

 PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali

Takut makin gak kuat iman karena panggilan musik reggae yang menggoda iman, saya memutuskan untuk melipir ke arah kiri.  Berjalan pelan merasakan hangatnya pasir dan debur ombak, serta hilir mudik para pengunjung yang berlarian di pinggir pantai asik berfoto-foto, saya melenggang melewati barisan noni-noni bule yang tanpa segan tengkurep di atas alas kain.  Saya jadi senyum-senyum sendiri.  Saya setengah mati melindungi diri dari cahaya matahari, eh mereka malah ada yang sampe tertidur menikmati kulit terpanggang menantang matahari.

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali
Barisan para pecinta tanning. Ada yang tertidur. Ada yang asik membaca. Tapi ada juga yang rame mengobrol dengan teman di sebelahnya

Terus menyusuri pantai ke arah kiri, saya menemukan tebing dengan gradasi warna abu-abu yang berlapis-lapis tercampur dengan batu kapur.  Tebing yang kira-kira setinggi 80-100meter ini di beberapa bagian terlihat melengkung terkikis air pasang.  Di spot inilah saya berhasil mengabadikan beberapa foto diri dengan sentuhan yang berbeda.  Setidaknya berada di bagian ini, keistimewaan Pantai Balangan, jauh lebih terlihat.  Pasirnya pun sangat lembut dan terasa dingin karena tidak begitu tersentuh sinar matahari dan terlindungi oleh tingginya dinding bukit.

Baca juga : Taman SOEKASADA.  Kekayaan Peninggalan Kerajaan Karangasem di Timur Bali

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali
Dinding kapur di pinggir pantai. Keceh banget buat pepotoan di sini
PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali
Yang baju biru jangan sampai lewat

Selesai merekam dan berpuas diri menikmati keindahan alam yang sangat jarang bisa dinikmati ini, keringatpun bercucuran menghujan pakaian yang mulai berasa lepek.  Hauspun mulai sangat terasa menyiksa.  Kering tenggorokan yang tak terkira akhirnya membawa kami bersegera menuju sebuah cafe/resto terdekat yang dari jauh tampak meriah dengan penjor kain berwarna-warni.

Resto dengan posisi yang dibuat lebih tinggi dari pantai ini, penuh pengunjung ketika kami datangi.  Menyediakan teras yang menjorok di dua sisi, duduk di sini serasa memegang teropong panjang dengan kemampuan melihat ke segala penjuru.  Pantes aja ada beberapa tamu yang betah nongkrong dari sebelum kami datang hingga kami pulang.

Lagi-lagi dentuman musik pecah mengelilingi isi dalam cafe.  Memesan 2 gelas juice dengan rasa berbeda, kami memilih duduk di pojokan depan yang relatif lebih menyendiri tapi tetap bisa menikmati keindahan pantai.  Siang menjelang sore yang mulai redup pun mengantarkan angin semilir yang mulai menyapu muka.

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali
Pemandangan pantai dari tempat kami duduk di cafe

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali

Pantai yang menghadap ke Barat Laut ini sejatinya lokasi yang tepat untuk menikmati sunset.  Semakin sore tampak manusia mulai menyemut di sepanjang pantai.  Cafe yang kami singgahipun mulai dipenuhi pengunjung seiring dengan house music yang diputar lebih keras.  Tadinya kami ditawarkan untuk tidak segera pulang dan duduk hingga matahari terbenam.  Tapi melihat awan gelap yang tidak bergerak sedikitpun, malah makin bertambah jumlahnya, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Dengan langkah pelan kami meninggalkan Pantai Balangan sambil membawa puluhan kenangan yang tak terlupakan dan puluhan lain harapan agar pantai ini tetap terjaga kebersihan dan keindahannya.

Baca juga : LEEBONG ISLAND Belitung.  Pulau Dimana Keindahan Alam Menjadi Satu

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali

PANTAI BALANGAN. Destinasi Wisata Istagenic di Uluwatu Bali

#PantaiBalangan #BalanganBali #PantaiDiBali #Pecatu #Uluwatu #Bali #WisataPantaiBali #WisataBali

21 COMMENTS

  1. MasyaALLAH…. Bali Selatan punya panorama secantiikkk ini?
    Aku belum pernah ke Bali lagiiii, trakhir kali Sidqi masih umur 2 thn (sekarang doi 15 thn) :D

    Wahh, kudu di-budget-kan dgn serius nih, semoga thn ini atau thn depan, daku sekeluarga bisa cuss ke Pantai Balangan.
    Super hepi kalo explore Bali ya Mbaaa

    • Bagian selatan memang belakangan tersentuh. Sengaja dibuat virgin biar gak sumpek hahaaha.
      Aih dah lama banget itu ya Nur. Saya juga biasanya 3-4x ke Bali dalam setahun karena memang ada bisnis di Bali dan bercita-cita akan pensiun di Bali juga. Doakan ya.

  2. huhuhu… lagi dan lagi berasa ikut mbak Annie menelusuri Bali

    kali ini pantai Balangan

    bahkan ikut nyicipin jus jeruknya. Itu pakai serutan kelapa muda atau sekadar busa mbak?

    Kalo di Bandung ini lazim es jeeruk kelapa muda

    • Itu sekedar busanya Mbak Maria. Dan seger banget.
      Iya. Saya juga suka banget gabung es jeruk dan kelapa muda. Duh meleleh deh hahahaha

    • Aamiin YRA. Semoga setelah pandemi usai, bisa balik lagi ke Bali dan sempat ke Pantai Balangan ya Mbak

  3. Hangat mentari +62 khususnya di Bali membuat para bule betah berjemur ya. Udah lama banget nggak ke Bali. Terakhir ke Bali pas SD hahaha.. udah lama banget kan ya. Itupun karena ortu ada tugas belajar di Surabaya, jadi untuk ke Bali cukup pake jasa travel via darat, nyampe deh. Begitu tante ada tinggal di Sidoarjo, malah nggak kepikiran mau travelling ke Bali.

    • Wah padahal dari Sidoarjo gak begitu jauh ke Bali ya. Naik travel pasti banyak tuh.

      Ayok Mbak Mia ngelencer lagi ke Bali. Setelah pandemi pastinya. Biar bisa beraktivitas sepuas hati tanpa rasa khawatir

  4. Pantai kita emang indah-indah ya mbak ☺️ semoga kebersihannya tetap terjaga…

    Jadi kangen Bali nih, terakhir ke sana itu sebelum nikah hahaha udah lama bener. Pasti sudah banyak yang berubah, sudah banyak tempat baru yang bermunculan juga ya. Nantilah jika panjang umur dan pandemi berlalu ingin ke sana juga…

    • Bali itu selalu ngangenin dan gak pernah ngebosenin buat saya. Perubahannya juga pesat. Padahal saya 3-4 sekali musti ke sana (kecuali masa pandemi ini). Setiap datang, ada aja yang baru. Entah itu tempat wisata atau tempat nongkrong.

      Aamiin YRA. Semoga ada rezeki dan kesempatan untuk Mbak Dwi ke Bali lagi.

  5. Huhuhu Bali, kangen banget deh bisa ke sana lagi. Setiap sudutnya Bali tuh, rasanya indah dan cakep untuk di foto. Ya pantainya, gunungnya, desanya, dan semuanya. Semoga pandemi segera berakhir. kepengen liburan ke Baliiii… :D

    • Aamiin YRA. Setuju banget Mbak Nia. Apalagi saya yang biasa 3-4 kali setahun ke Bali. Dah kangen banget pengen balik lagi

  6. Walaupun cuaca lagi berawan dan cenderung mendung tapi nggak menyurutkan wisatawan buat berada di pantai.

    Bikin kangen suasananya karena sejuk, Hmm awas kalau sampai ketiduran terus bangun-bangun udah malam haha..

    Memang nyaman ya dan selaku menarik untuk diulas pantai di Bali ini

    • Mantai itu favorit saya Mbak Fenni. Seneng aja dengerin ombak yang bolak balik mampir. Nongkrong di pinggiran sambil dengerin lagu dan baca buku. Apalagi kalo bisa makan camilan dan ngobrol bareng teman. Wooaahh kangennya.

  7. ini ceritanya sungguh bikin ngiler.

    ke uluwatu lupa tahun berapa, belum ada kayanya yg ini2. cakep bet.

    etapi ga terlalu rame kan ya di sini, mbak? tak lagi menyukai kerumunan. membayangkan berhening2 di pesisir 🥰

  8. Mupeng….bagus banget ini pantainya. Bangunan-bangunan resto/cafenya dari kayu, menambah eksotik. Saya belum pernah menjelajah pantai-pantai di Bali. Ke Bali juga baru sekali, itupun karena ada tugas dan nggak sempat jalan-jalan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here