Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah

Senja mulai merangkak.  Sinar mentari perlahan turun mengistirahatkan diri.  Seorang diaspora yang sedang pulang kampung, duduk terpaku menikmati proses tenggelamnya sang mentari.  Dalam keheningan yang hakiki, dia duduk di bibir pantai, di atas ujung sebuah dermaga kayu.  Di hadapannya terbentang selat Halmahera yang menghubungkan Tidore Kepulauan dengan Pulau Halmahera yang tampak tenang ikut menutup siang hari.

Sang diaspora duduk terpekur.  Pandangannya terlihat nanar.  Tidak setenang lautan air yang terhampar di depannya.  Karena ada serangkaian lamunan dan sudut kesedihan di ujung matanya.  Lalu ada percikan hati yang berkecamuk dengan kegalauan dan seakan menemani pekatnya langit yang selalu hadir menemani hari-harinya belakangan ini.

Anitawati, sang diaspora ini, baru saja pulang dari serangkaian acara adat yang diadakan oleh Kesultanan Tidore.  Sebuah acara besar yang diselenggarakan tahunan dan selalu dia sempatkan hadir meski harus mengeluarkan dana transportasi yang lumayan merogoh kantong. Setidaknya ongkos pesawat dari Jakarta ke Ternate dan sebaliknya.

Tapi tak apa.  Karena pulang kampung dan menjadi bagian dari acara ini adalah sebuah penghormatan atas leluhur yang jejak keagungannya mengalir lewat darahnya.  Dia tak akan melupakan darimana dia berasal.  Apapun alasannya, sejauh manapun dia berkelana, Bumi Marijang dan marga Kaicil yang disandangnya, akan selalu menjadi tempat dan alasannya untuk kembali, kembali dan terus kembali. 

Menyadari Sebuah Kehilangan

Ada apa dengan kehilangan?  Apa yang hilang?

Anitawati tidak sedang mengalami kehilangan uang atau segala sesuatu yang berhubungan dengan harta benda yang menyebabkannya melamun sejak sore tadi.  Tapi dia kehilangan satu hal yang jauh lebih besar dan lebih berarti yaitu sebuah jati diri.  Bukan atas dirinya pribadi.  Namun jati diri tanah kelahirannya, Moluku Kie Raha, yang semenjak dia lahir sudah menjadi bagian dari napasnya.

Bagi seorang diaspora yang telah menjadi warga masyarakat global, identitas sangatlah penting.  Pertemuannya dengan warga masyarakat lainnya yang berbeda sudut pandang dan pengalaman hidup dalam sebuah komunitas kompleks dan beragam, justru memunculkan banyak percakapan yang mempertanyakan tentang identitas diri dan atribut sebagai orang Tidore.

Di acara yang super meriah tadi, ibu dari 3 orang puteri ini, bertemu dengan banyak orang penting dan banyak rakyat biasa.  Termasuk beberapa diaspora seperti dirinya.  Mulai dari pejabat pemerintah setempat (Pemerintah Kotamadya Tidore), puluhan perwakilan pemerintah daerah tetangga seperti Kesultanan Ternate, Kesultanan Bacan, Kesultanan Jailolo, dan lain-lain.  Hadir juga para pemangku/Baboto adat kesultanan sebagai tonggak dan tuan rumah sesungguhnya dari acara ini.   Semua tamu istimewa ini tampil megah dan berkelas menggunakan pakaian adat resmi yang diwarisi secara turun temurun.  Gagah dan cantik tiada tara.   Cerminan atas betapa tingginya budaya wastra yang dimiliki oleh bumi Marijang.  Dan juga adalah salah satu wujud penghormatan atas tema utama yang diusung saat itu.

Menyempurnakan makna acara adat sebagai sebuah pesta rakyat, Anitawati turut menyaksikan ribuan masyarakat berduyun-duyun ikut menyaksikan acara ini.  Semua ikut bergembira menyambut acara tahunan yang tentu saja sayang untuk dilewatkan.  Bapak-bapak mengenakan baju koko putih atau baju lengan panjang batik dan bercelana panjang bahan (bukan jeans).  Sementara ibu-ibu tampak berdandan dengan kebaya atau baju kurung dan kain batik atau kain-kain yang berasal dari daerah lain sebagai bawahannya.  Ada juga beberapa dari mereka melengkapi tampilan dengan kain selempang yang juga terbuat dari batik atau kain-kain yang berasal dari daerah lain di nusantara.  Sebuah live fashion show  tentang tingginya kekayaan wastra dari berbagai daerah di tanah air.

Bagaimana tidak.  Yang dikenakan adalah kain batik dengan beragam motif yang menjadi ciri khas tanah Jawa, jenis tenun dari daerah-daerah lain yang ada di tanah air, hingga Songket yang adalah sebuah mahakarya jenis kain dengan tingkat teknologi menenun yang tinggi. Semua didapat dari hasil perdagangan yang menghubungkan antara pulau-pulau lain dengan Ternate serta Tidore serta daerah-daerah lainnya. 

Perdagangan terbuka yang sudah terjadi sejak Tidore masih dalam penguasaan beberapa negara penjajah seperti Spanyol, Portugis dan Belanda.  Lewat kegiatan perdagangan inilah batik dan beragam kain lainnya akhirnya menguasai keberadaan busana-busana resmi atau sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat setempat.  Baik untuk acara pernikahan, pertemuan-pertemuan resmi di kantor pemerintahan, bahkan silaturahmi antara warga dalam kesehariannya.

Hati Anitawati tergugah.  Ada satu bagian dari identitas daerahnya yang tak lagi ditemukan.  Dimanakah kain asli Tidore? Mengapa justru masyarakat tak lagi menggunakan kain asli daerah mereka?

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
anitawati dan tenun tidore

Kisah Penemuan dan Rangkaian Penelusuran

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
anitawati dan selembar jejak sejarah tenun tidore

Sebagai seorang penggiat serta pecinta seni dan anak daerah yang sudah tahunan merantau, Anitawati mulai gelisah.  Makna kehilangan pun langsung merangkak naik dan mengganggu hatinya.  Karena ini bukan urusan main-main.  Ini adalah sebuah kehilangan besar yang tidak boleh dibiarkan.  Sejarah harus kembali.  Identitas daerah itu juga harus hadir kembali.

Tapi apa dan bagaimana caranya agar mimpi ini bisa terwujud? Anitawati tentu saja tidak bisa bergerak dan melakukannya sendiri.  Dua tangan dengan satu kepala tentulah tidak cukup kuat untuk mencari, memungut, dan menyatukan banyak serpihan jejak sejarah.  Bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam hitungan hari.  Bahkan dalam hitungan bulan.  Perlu energi, upaya dan tim besar untuk melakukan semua ini.

Namun jika tidak segera dimulai, siapa yang akan melakukannya?  Jika bukan oleh putera/puteri daerah, adakah orang lain yang bersedia mewujudkan mimpinya?

Rangkaian pertanyaan ini pun akhirnya bermuara.  Semesta mengijinkan perempuan gigih ini bertemu dan menata bekerjasama dengan beberapa peneliti dari Universitas Indonesia dan Rumah Cinwa.   Anitawati, menjejak satu demi satu langkah lama yang terjadi dan terkubur sejak puluhan tahun yang lalu.   Barisan peneliti dengan kualifikasi terbaik pun dibentuk dan dipimpin oleh 3 srikandi yaitu Dr. Ade Solihat, S.S, M.A, Dwi Woro Retno Mastuti, M. Hum dan Dr. Ari Anggari Harapan, M.Hum

Pencarian sekian banyak data sahih pun digali, dikumpulkan dan disiapkan serta disusun menjadi sebuah buku yang setara dengan sebuah penelitian ilmiah.  Tumpukan bukti disajikan dengan tujuan mengangkat kembali rangkaian jejak sejarah dan didukung oleh presentasi bukti yang dapat dijamin keabsahannya.

Dari sinilah kemudian cikal bakal pemantaban revitalisasi kain tenun Tidore terpatri.

Ini juga membuktikan bahwa rangkaian kegiatan demi “melahirkan kembali” tenun Tidore sungguh bukan main-main.  Termasuk diantaranya merangkai sekian banyak fakta sejarah yang membuat seluruh tim semakin bersemangat untuk menghadirkan kembali kain tenun, wastra milik Tidore, yang kemudian diberi nama sebagai Puta Dino

Puta berarti kain.  Sementara Dino berarti jahit/susun.  Jadi jika kedua kata itu digabungkan maka Puta Dino berarti jahitan/susunan kain, dalam bahasa daerah Tidore.

Untuk masyarakat Tidore sendiri, kisah pencarian jejak Puta Dino mengalami proses dan usaha yang tidaklah sedikit.  Catatan awal yang terangkat adalah bahwa busana adat non-tenun terbagi berdasarkan atas strata/kedudukan dari seseorang.  Berbagai jenis pakaian yang dikenakan pada masa lampau lebih banyak bersumber dari perdagangan dengan berbagai negara.  Jenisnya pun beragam.  Mulai dari sutra, katun, dan bahan-bahan lain yang biasa digunakan untuk membuat pakaian.  Bahkan tercatat bahwa materi pakaian kala itu banyak diambil dari batik-batik Jawa atau kain jenis lain yang dikirim atau diperdagangkan di Tidore.  Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa pada masa itu, tenun tidaklah menjadi satu produk yang dominan dikenakan atau diperkenalkan dalam kegiatan sehari-hari.

Jejak tenun Tidore sendiri dimulai dari ditemukannya alat tenun gedogan sulam yang sudah tua, rapuh, dan tidak terawat yang ada di Kadato Kie (Istana Sultan) di Soasio.  Di lantai bawah istana yang megah ini didapatkan juga alat pengurai kapas, alat pemintal dan alat pewarna tenun.  Dari bentuknya bisa diambil kesimpulan bahwa alat tenun yang dulu digunakan adalah alat tenun pakan.  Yaitu jenis tenun yang dihasilkan dari teknik mengikat kain pakan (kain yang dipasang secara horisontal).  Tenun jenis ini jugalah yang banyak mendapat pengaruh dari bangsa-bangsa asing dan biasanya banyak dikembangkan oleh masyarakat pesisir.  Masyarakat yang tinggal di pinggir laut dan mengandalkan hidup dan penghasilan dari jalur laut.

Memperkuat bukti tersebut di atas, seorang sejarawan, Anthony Reid (2014:1006), dalam tulisannya juga mengungkapkan bahwa masyarakat Tidore menenun untuk memenuhi kebutuhan primer mereka, khususnya dalam bidang sandang, secara internal.  Di setiap rumah dapat dijumpai alat tenun gedogan yang menunjukkan kegiatan swaproduksi sandang.  Namun, masyarakat Tidore pada saat itu juga menikmati transaksi penjualan kain-kain dari mancanegara maupun nusantara lewat pasar-pasar yang diafiliasi oleh pihak kesultanan.

Di istana Sultan juga ditemukan juga beberapa pertinggal busana bangsawan pada masa lampau yang umumnya terdiri dari celana longgar, baju atasan dan jubah sepanjang lutut.  Bahkan ada yang hingga melewati lutut.  Foto-foto yang merekam tentang hal ini berikut keterangannya dapat kita jumpai di istana ini.  Dari lembaran foto-foto inilah kemudian diproduksi seperangkat pakaian yang digunakan oleh para pejabat kesultanan dalam penyelenggaraan acara-acara adat saat ini.

Jadi kalau bisa dicatat dengan tinta emas, alat-alat inilah yang menuntun para peneliti untuk melangkah lebih jauh dengan lompatan-lompatan besar sarat arti.

Pengungkapan keberadaan tenun Tidore di masa lampau ini dibantu dengan studi pustaka, mewawancara beberapa informan yang sudah berusia di atas 70 tahun seperti Ibu Zainab dan paman Amien Faroek yang juga adalah Jojau/Perdana Menteri Kesultanan Tidore, serta beberapa helai kain tenun yang masih disimpan oleh masyarakat dalam jumlah terbatas.  Itupun dalam kondisi fisik yang hanya sebagai pajangan saja.  Nyaris tidak mewakilkan wajah suatu budaya yang punya nilai tinggi bagi masyarakat.

Lewat wawancara dengan Ibu Zainab diperoleh informasi bahwa dia pernah menyaksikan ibunya dan beberapa perempuan di tempat dia berasal (Gurabati) sering melakukan kegiatan menenun.  Mereka menghasilkan sarung, baju dan juga mukena untuk shalat.  Sementara kain untuk kebutuhan sehari-hari mereka dapatkan dari pasar.  Menurut keterangan beliau, masyarakat Tidore, dalam hal ini pare perempuan Tidore, pada masa lampau, banyak menggunakan kain (biasanya batik) dan kebaya.  Sementara saat dia beranjak remaja, pakaian yang dikenakan dipengaruhi oleh budaya barat yaitu mengenakan rok sebatas lutut dan blus berlengan pendek.

Ibu Zainab juga melihat alat tenun sederhana yang digunakan oleh Ibu dan para perempuan lain di desanya.  Hanya sayangnya sebagian besar alat yang dibuat dari kayu ini sempat punah karena kebakaran.  Ibu Zainab sendiri tidak menenun.  Kegiatan yang sudah tidak dilanjutkan kembali hingga beliau pindah ke Soasio.  Yang tertinggal adalah sebuah kain tua pemberian ibunya dan digunakan sebagai kain alas untuk menyetrika.  Kain ini lah yang menjadi salah satu pertinggal bahwa kain tenun pernah ada di jaman orang tua Ibu Zainab masih hidup.

Wawancara berikutnya adalah dengan paman Amin Faroek yang tinggal di Soa Cina.  Lelaki berusia 80an tahun saat penelitian dilaksanakan tersebut berlangsung menceritakan bahwa saat dia kecil, dia menyaksikan ibu, kakak perempuannya serta banyak perempuan dewasa yang tinggal di lingkungannya tinggal, melakukan pekerjaan menenun dan menghasilkan kain-kain polos berwarna gelap untuk kebutuhan hidup sehari-hari.  Kain berwarna gelap ini biasa juga digunakan untuk berkebun di lereng-lereng gunung yang berada di dekat rumah mereka.

Para perempuan ini juga menenun dan menghasilkan kain-kain dalam berbagai warna yang kemudian dijahit menjadi kebaya. Sementara materi yang digunakan untuk membuat benang biasanya diambil dari pepohonan liar yang tumbuh di pekarangan atau lereng-lereng  pegunungan.  Terkadang juga mereka membuat benang dari serat nanas atau dari pohon pisang yang menghasilkan serat pisang.  Sementara untuk pewarnaan, mereka menggunakan sari pati buah-buahan serta dedaunan yang sangat beragam dan tumbuh bebas di berbagai sudut tanah Tidore.

Hampir setiap rumah yang berada di Soa Cina memiliki alat tenun sederhana.  Sementara kegiatan menenun hanya dilakukan oleh kaum perempuan.

Pencarian dan pengungkapan jejak Puta Dino kemudian berlanjut.  Dalam sebuah dokumen yang ada di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang berasal dari sebuah museum yang ada di Belanda, terungkap adanya dokumen serta foto otentik yang menceritakan adanya kain dan busana berlabel Tidore/Halmahera bermotif hitam putih.  Lalu kemudian ditemukan juga motif tenun pada anyaman bambu yang masih tersimpan di istana kesultanan.

Untuk selanjutnya, tim peneliti bertemu dengan satu informan lagi yaitu Bapak Muhamad Usman yang sudah berusia 85 tahun.  Beliau tinggal di Gurabati (salah satu dari 5 negeri bagian Tidore yang sekarang disebut sebagai Kelurahan).  Kelurahan ini letaknya berada tidak jauh dari Soasio, pusat kota Tidore, dimana Istana Sultan Tidore (Kadato Kie) berada.

Menurut Pak Usman, masyarakat Gurabati pernah berkegiatan menenun atau membuat kain dengan alat yang sederhana, yang disebut Dino atau alat tenun.  Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para wanita dewasa pada siang hari.  Tapi kegiatan menenun ini kemudian menghilang pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (sekitar 1942-an).

Dari berbagai kegiatan penelusuran inilah akhirnya bisa dipastikan bahwa jaman dahulu, di satu waktu, ada kegiatan/kehidupan menenun dan memproduksi tenun di Tidore.  Dengan demikian berarti sebenarnya puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu, wastra asli Tidore sudah ada di muka bumi.  Hanya saja karena tidak ada yang meneruskannya eksistensi dari kain tradisional daerah ini tidak berkembang sebagaimana mestinya.  Apalagi saat itu Tidore masih diliputi dengan peperangan demi peperangan menghadapi penjajah yang terus menggempur dan berusaha mendominasi serta memonopoli tanah Tidore yang kaya akan rempah.

Membawa banyak bukti yang meyakinkan, Anitawati pun bertemu, berkunjung dan berdikusi dengan banyak penenun serta ahli dalam bidang tenun di tanah air maupun beberapa ahli luar negeri.  Seperti misalnya audiensi dengan pakar kain dari Silk Museum China dan sejarawati tenun, Ibu Judi Knight Achyadi.  Dia pun mencoba memvisualisasikan motif-motif yang ditemukan dalam sebuah gambar dan membawanya ke beberapa pembuat tenun yang berada di Nusa Penida Bali dan Ternate.  Lalu menghadiri sekian banyak seminar tentang kain/tenun.  Semua dalam rangka menggali dan mencari tahu tentang Puta Dino.

Lalu, setelah semua ini terkumpul dengan baik, apa yang bisa Anitawati lakukan untuk menjadikannya sebuah kenyataan, sebuah benda yang bisa diwujudkan, dibuat dan ditampilkan serta dikenalkan kembali kepada dunia?

Anitawati butuh dukungan yang jauh lebih besar lagi.

Mewujudkan Penemuan Menjadi Sebuah Karya Nyata

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
rumah tenun puta dino kayangan ngofa tidore. area display di lantai 2
Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
barakati (yang diberkati). satu dari tiga motif awal puta dino kayangan

Catatan sejarah dan bukti otentik sudah ditangan, data pendukung dari berbagai sumber sudah dimiliki.  Termasuk diantaranya serangkaian motif yang telah meninggalkan jejak lewat berbagai media (foto, peralatan, dll.).  Langkah selanjutnya adalah mewujudkan penemuan-penemuan tersebut menjadi sebuah karya nyata, yang bisa dipegang, bisa dipakai dan tentu saja bisa dipamerkan. 

Sekali lagi, rangkaian langkah-langkah penting harus dilakukan dengan melibatkan sedemikian banyak sumber daya manusia dan tentu saja sumber pendanaan (finansial) agar semua ini bisa terjadi.  Tugas besar di pundak Anitawati yang akhirnya menghubungkannya dengan Bank Indonesia cabang Maluku Utara.

Presentasi pun disampaikan.  Pengajuan kerjasamapun diajukan.  Berproses dari hari ke hari hingga akhirnya pihak Bank setuju untuk memberikan dukungan dana.  Satu lagi sebuah jejak sejarah kembali tertoreh.  

Dukungan ini adalah sebuah tindakan dan bukti nyata bahwa dengan revitalisasi Puta Dino, program pemerintah menggerakkan pertumbuhan ekonomi berbasis kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat pun dapat diwujudkan.  Berpartisipasinya Bank Indonesia cabang Maluku Utara juga adalah bukti kepedulian dan rangkaian tindakan nyata salah satu stakeholders  yang memegang kunci pembangunan ekonomi kreatif di Maluku Utara.

Siapa lagi yang akan dilibatkan? Masyarakat? Tentu saja.  Anak mudanya? Sudah seharusnya.

Pemetaan pun dilakukan.  Melalui pengamatan lapangan dan penelusuran literatur, seperti yang disampaikan oleh para peniliti lewat buku Revitalisasi Puta Dino Tenun Tidore yang Telah Punah (2019), ditemukan ada 3 potensi yang dimiliki oleh masyarakat Tidore, yaitu potensi kesejarahan yang dibangun dari pengalaman sejarah, potensi budaya dan kearifan lokal dan potensi kekayaan alam Tidore.  Semua potensi yang turut mengajak masyarakat untuk bergerak dan secara bersama menjadi bagian penting dari suatu perubahan.  Khususnya generasi muda yang bisa menjadi agen perubahan tersebut.

Anitawati pun bergerak dan mendirikan Yayasan Ngofa Tidore untuk mengumpulkan anak muda Tidore sekaligus menjadi wadah untuk mereka berkarya dan berkegiatan dan melakukan banyak hal bermanfaat dan bernilai bagi tanah kelahiran mereka.  Sesuai dengan arti dari 2 kata Ngofa Tidore adalah anak muda Tidore. 

Lewat yayasan ini pulalah Anitawati dan Bank Indonesia cabang Maluku Utara mengumpulkan sekian banyak anak muda untuk belajar menenun di Jepara selama 1 bulan lamanya.  Mereka dilatih secara profesional dan oleh ahlinya.  Mulai dari mengenal jenis benang, beradaptasi dengan mesin tenun tradisional tanpa mesin, melihat berbagai jenis tenun dari hampir setiap penjuru nusantara hingga akhirnya perlahan bisa menenun mengikuti pola dan rancangan yang sudah disediakan.

Seiring dengan berjalannya waktu, Ngofa Tidore mengumpulkan dan mendidik banyak anak-anak muda untuk mendalami kegiatan menenun serta mengajak mereka untuk menjadi agen perubahan (agent of changes) dalam rangka mengembalikan kembali eksistensi Tidore lewat wastranya.

Sejalan dengan pelaksanaan pembelajaran ini, di Tidore juga diadakan Focus Group Discussion (FGD) di Universitas Nuku, Tidore, pada 21 Oktober 2019.  Bpk. Idris Sudin, S.P, M. Si, rektor Universitas Nuku, menyampaikan sebuah terminologi tentang revitalisasi Puta Dino.  Beliau menyampaikan bahwa rekonstruksi adalah terminologi yang lebih sesuai untuk pengembangan tenun Tidore.  Merevitalisasi Puta Dino berarti merekonstruksi sejarah dan kearifan lokal Tidore yang disesuaikan dengan kebutuhan jaman.  Yang dalam konteks ini adalah bahwa dengan merekonstruksi Puta Dino berarti membangun  ulang nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Tidore lewat media tenun.  Karena itu masyarakat Tidore harus diajak untuk ikut terlibat dalam pelaksanaan revitalisasi tersebut.

Hal lain yang tidak boleh terlupakan adalah bahwa Puta Dino, kebudayaan yang direkonstruksikan ini dijadikan pilihan untuk kembali memunculkan identitas Tidore sebagai salah satu khazanah wastra Indonesia.

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
motif jodati. terlihat mewah dan cantik dengan sentuhan warna ungu. photo by fola foto – tidore

Inspirasi Motif Puta Dino

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
jodati hitam dan abu. cantik dan berkelas. photo by fola foto – tidore

Untuk melahirkan kembali tenun Tidore, semua pencatatan yang sudah ditemukan selama penelitian pun dihadirkan kembali.  Penggambaran setiap media pun diejawantahkan dan diwujudkan melalui sebuah bilik produksi yang difasilitasi oleh Ngofa Tidore.

Sebagai langkah awal adalah mengamati dan menggambarkan kembali motif tikar yang wujudnya bisa dilihat melalui dokumentasi ANRI pada 1930.  Dari sinilah kemudian lahir 2 motif awal Puta Dino yaitu Barakati dan Marasante.

Barakati berarti yang diberkati.  Motif ini menggambarkan mahkota yang menghadap ke atas dan kebawah serta gambar 4 penjuru mata angin.  Hal ini juga mencerminkan pemimpin yang melindungi seluruh masyarakatnya.  Barakati juga membawa kita untuk mengingat salah satu gelar yang diberikan kepada Sultan Nuku yaitu Jou Barakati.  Seorang pemimpin yang diberkati dan sangat dicintai oleh seluruh masyarakat Tidore.  Salah seorang Sultan yang sebagian besar, puluhan tahun masa hidupnya, dilewati dengan berjuang melawan penjajah yang mencoba mendominasi Maluku.  Perjuangan yang membuahkan kemenangan dan tercatat indah di dalam sejarah Indonesia.

Barakati juga melahirkan arti bahwa tanah, alam dan masyarakat Tidore diberkahi oleh Allah SWT.

Sementara Marasante berarti keberanian.  Hal ini tercermin dalam daerah kekuasaan kesultanan Tidore yang begitu luas.  Kekuasaannya meliputi daerah Seram, sebagian Halmahera, Papua, Raja Ampat dan beberapa bagian dari negara Australia.  Suatu kisah sejarah yang menceritakan perjuangan yang penuh keberanian dan tidak mudah tapi mampu dicapai oleh Tidore.

Motif lain yang menjadi jejak awal hadirnya Puta Dino adalah Jodati yang berarti ketulusan hati.  Kata ini sengaja disematkan untuk mengingat kebiasaan rakyat Tidore yang pada umumnya sering melakukan sesuatu bersama-sama dan mengesampingkan kepentingan pribadi.

Ketiga motif diatas yaitu Barakati, Marasante dan Jodati ditetapkan sebagai motif utama Puta Dino.  Karena ketiga motif inilah yang pertama kali direkonstruksi dan dilahirkan kembali.  Kemudian disusul oleh kelahiran motif-motif lain yang terinspirasi dari sejarah dan kekayaan alam Tidore.

Motif berikutnya yang menjadi bagian dari Puta Dino adalah Amo yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai buah sukun.  Motif ini menggambarkan Pulau Tidore yang merupakan salah satu daerah penghasil buah sukun dengan kualitas baik.  Motif ini dulunya pernah dibuat dan dilahirkan kembali.

Motif lainnya yang tak kalah indahnya adalah Kalajengking.  Hewan ini adalah salah satu hewan sakral kesultanan Tidore.  Kesakralannya tersebut bahkan diwujudkan pada bangunan kesultanan Tidore dan beberapa artibut kesultanan yang menggunakan bentuk kalajengking.  Hewan ini juga merupakan simbol dari karakter Sultan Nuku yaitu hati-hati dan penuh perhitungan, teguh dan fokus kepada tujuan, penuh perjuangan, dermawan dan sarat kasih sayang.

Motif berikutnya yang diambil dari salah satu kekayaan alam Tidore adalah motif Cengkeh.  Seperti yang telah kita ketahui, Tidore dan Maluku pada umumnya adalah penghasil rempah-rempah dengan kualitas terbaik.  Karena inilah banyak negara-negara lain berusaha menguasai kawasan timur ini sebagai salah satu lumbung bagi mereka untuk mendapatkan rempah-rempah tersebut.  Jadi tidak heran jika akhirnya Maluku dijuluki sebagai spice island.  Salah satu rempah yang banyak dijumpai, berlimpah dan dihasilkan oleh Tidore adalah cengkeh.  Mengabadikan kondisi inilah, cengkeh akhirnya menjadi salah satu ide yang tepat untuk menjadi bagian dari serangkaian tenun Tidore.

Motif lain yang terinspirasi dari benda-benda yang ada di Kadato Kie adalah Mapolu yang berarti mengayomi.  Inspirasinya diambil dari lambang Kadato Kie itu sendiri.  Sesuai dengan keberadaannya motif ini mengungkapkan bahwa Kesultanan Tidore selalu mengayomi atau melindungi rakyatnya.

Salah satu motif lain yang terinspirasi dari sebuah kisah sejarah adalah Perisai yang dalam bahasa Tidore disebut Salawaku.  Pada saat kesempatan kunjungan ke Cape Town, Sultan Husain Sjah, Paman Amin Faroek, Anitawati dan rombongan dari Tidore mengadakan audiensi ke pemerintah Afrika Selatan pada Oktober-November 2017.  Pada kesempatan itu, anak keturunan Tuan Guru yang berada di Cape Town mempresentasikan ide perisai/tameng kepada rombongan.

Motif ini menceritakan kebesaran Tuan Guru asal Tidore yang kemudian tinggal di Afrika Selatan.  Memiliki nama asli Imam Abdullah Qadhi Abdussalam, Tuan Guru adalah seorang pangeran Tidore yang dilahirkan oleh seorang Boki yang bernama Putri Nuriniyah.  Tuan Guru pernah memerintah Tidore selama proses pengasingan Sultan Jamaluddin.  Namun karena beliau menentang peraturan kolonialisme tentang penetapan pajak yang tinggi kepada kaum pribumi, Tuan Guru kemudian diasingkan ke Cape Town, Afrika Selatan pada 1780.

Tuan Guru sendiri menghabiskan masa hidupnya dengan tetap bertahan di Afrika Selatan.  Beliau malah mendapatkan gelar pahlawan dari pemerintah setempat karena semasa hidupnya beliau menyampaikan dakwah Islam kepada banyak komunitas muslim di Afrika Selatan sekaligus menjadi tokoh ulama besar asal Indonesia negara tersebut.  Atas usaha beliau jugalah akhirnya berdiri madrasah dan masjid pertama di Afrika Selatan.  Buku karya Tuan Guru yang berjudul Ma’rifat wal Iman wal Islam (Pengetahuan Iman dan Agama) dijadikan panduan bagi umat Islam di Cape Town hingga kini.

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
motif kalajengking yang terinspirasi dari tuan guru

Kelahiran Puta Dino Kayangan dan Rumah Tenun

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
area display rumah tenun puta dino kayangan di lantai 2
Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
area display rumah tenun puta dino kayangan di lantai 2. alat display menggunakan bambu totol khas maluku yang juga sering digunakan pada furniture rumah tangga di banyak rumah di tidore

Dari berbagai jejak sejarah dan berbagai tulisan tersebut diataslah, semangat Anitawati berkobar.  Ketetapan hati untuk mewujudkan proyek revitalisasi atas Puta Dino menjadi semakin kuat.  Sebuah kerjaan besar dengan berbagai cara yang memungkinkan agar dapat menghidupkan kembali Puta Dino yang sebelumnya menjadi sangat penting dalam tatanan kehidupan masyarakat Tidore.

“Setidaknya inilah yang bisa saya lakukan sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah leluhur saya,” jawab Anitawati berkaca-kaca ketika pada sebuah zoom meeting ada yang menanyakan tentang alasan kuat dibalik niatnya untuk menghidupkan kembali Puta Dino.

“Saya juga ingin agar apa yang saya lakukan ini bisa menjawab sebuah pertanyaan besar yang muncul saat melihat ketidakhadiran kain khas Tidore dalam setiap kesempatan formal.  Termasuk diantaranya upacara-upacara adat,” sambungnya lagi dengan nada terharu.

Saya yakin semua yang mendengarkan penjelasan ini akan ikut merasakan betapa besar dan beratnya kecintaan Anitawati terhadap kekayaan wastra Tidore.  Seorang puteri daerah bermarga Kaicili, satu dari 5 marga terbesar di tanah Tidore, yang begitu bersemangat untuk menjadi bagian dari sejarah dan yang mengukir sejarah itu sendiri.  Marga besar yang juga dimiliki oleh Sultan Nuku (Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan Jou Barakati).  Salah seorang pahlawan nasional asal Maluku Utara yang makamnya hingga saat ini terawat serta terjaga dengan baik di Kelurahan Soasio dan berada hanya beberapa langkah dari Kadato Kie.

Sebelum lanjut ke rangkaian aktivitas nyata dalam rangka revitalisasi ini, yuk kita kupas terlebih dahulu apa arti nama Puta Dino Kayangan?

Seperti yang telah didiskripsikan sebelumnya, secara generik Puta Dino berarti tenun atau kain jahitan/susun sementara kata Kayangan sendiri adalah yang tertinggi atau jika mengikuti Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kayangan berarti tempat dewa atau surgaloka. 

Kata Kayangan sendiri adalah ide atau sumbangan kata yang diberikan oleh Husain Alting Sjah, Sultan ke-37 dari Kesultanan Tidore yang masih memerintah hingga saat tulisan ini dibuat.  Beliau juga adalah anggota DPD RI perwakilan dari Provinsi Maluku Utara yang dilantik pada 2019.

Jadi jika kita gabungkan tiga kata tersebut di atas, maka dapatklah kita asumsikan bahwa penentuan nama Puta Dino Kayangan adalah kain jahitan/susun milik Tidore yang ditinggikan atau dimuliakan.

Puta Dino Kayangan saat ini sudah memiliki sebuah rumah tenun 2 lantai yang berada di kawasan Topo Tiga.  Letaknya tak jauh dari Kadato Kie.  Dibangun pada 2018, rumah tenun ini mulai beroperasi pada 2019. 

Pemberi dana bantuan terbesar dalam proyek revitalisasi termasuk pembangunan gedung atau rumah tenun ini adalah Bank Indonesia cabang Maluku Utara.  Sementara untuk pembelian tanah tempat berdirinya bangunan ini didanai bersama oleh banyak orang dengan menggunakan sistem wakaf.  Masyarakat atau komunitas yang berminat diajak bergotong-royong membeli tanah tersebut untuk kemudian menghibahkannya kepada komunitas atau yayasan Ngofa Tidore.

Rumah tenun ini kemudian diberi nama sebagai Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore yang tulisannya dipajang di halaman depan bangunan.  Tulisan ini dilengkapi dengan sebuah foto Boki (putri) asal Tidore.

Masih di halaman bangunan, dibuat juga sebuah prasasti peresmian berdirinya Rumah Tenun yang ditandatangani oleh Ibu Destry Damayanti, Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia pada 14 September 2019.  Di salah satu sisi prasasti ini tercantum sederetan nama yang sudah berpartisipasi dalam pemberian wakaf.

Di lantai bawah rumah tenun ini kita dapat melihat beragam mesin tenun tradisional dengan beberapa peruntukan yang berbeda-beda.  Di ruang inilah, semua penenun menghasilkan karya dalam bentuk kain lembaran untuk kemudian dipamerkan dan diperjualbelikan di lantai 2.

Kegiatan menenun dilakukan setiap hari mulai dari pkl. 09:00 – 17:00 WIT.  Waktu operasional yang sama untuk menyambut banyak tamu.

Keunikan ruang pamer di lantai 2 ini adalah penggunaan bambu totol yang menjadi salah satu sumber daya alam atau produk bambu yang memang menjadi ciri khas Maluku.  Bambu-bambu ini dirakit sedemikian rupa hingga menjadi tempat duduk, meja dan tiang-tiang display dalam bentuk yang sangat menarik dan fungsional.

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
RUMAH TENUN. PUTA DINO KAYANGAN NGOFA TIDORE YANG BERADA DI SOASIO

Mengenalkan Puta Dino di Mata Dunia

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
barakati biru. cerah ceria tapi tetap berkelas. photo by fola foto – tidore

Kegiatan menghidupkan kembali Puta Dino dan kebudayaan menenun yang dilakukan oleh Ngofa Tidore bersama Puta Dino Kayangan, merupakan sebuah fenomena global, yaitu kembalinya masyarakat di dunia global kepada penegasan identitas kelokalan.  Dan agar usaha ini terus lestari dan berkesinambungan, ada sederetan tugas khusus yang menyertainya.

Diantaranya adalah usaha terus menerus dalam menggali berbagai sumber sahih di bidang sejarah serta mencermati ribuan ciri khas Bumi Marijang yang begitu kaya, untuk diangkat atau menjadi motif Puta Dino.   Hal ini tentu menjadi sangat penting untuk dicermati agar Puta Dino dapat terus berinovasi dengan melahirkan beragam rancangan baru  untuk ditawarkan kepada publik.

Salah satu wujud nyata dari kegiatan sales dan marketing adalah dengan berdiri dan beroperasinya Rumah Tenun Puta Dino Kayangan.  Keberadaan Rumah Tenun Puta Dino Kayangan di Topo Tiga bisa jadi adalah salah satu sarana dan wadah pengungkapan eksistensi Puta Dino.  Rumah ini telah memproduksi banyak kain dan produk turunan dan variasinya sepertinya ikat kepala, masker, dompet, tas selempang, kalung, serta berbagai produk lain yang menjadi konsumsi dan atau kebutuhan publik.  Sebagai satu destinasi wisata budaya di Tidore, Rumah Tenun sudah menerima banyak tamu baik domestik maupun luar negeri yang sedang berkunjung ke Tidore.  Apresiasi para tamu akan Puta Dino sungguh sangat mengesankan.

Para penenun yang sebagian besar adalah anak-anak muda Tidore, selalu produktif dan menghasilkan banyak kain tenun yang berkualitas tinggi hingga saat.  Beberapa dari mereka bahkan mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dan ketrampilan tambahan (kuliah kembali) tentang kain agar Puta Dino dapat bersaing dengan wastra dari daerah lain yang telah terlebih dahulu eksis di tanah air.  Ilmu buku dan ketrampilan yang nantinya akan dia bagikan kepada teman-temannya yang sekarang tetap tekun menenun.

Anitawati memberikan keleluasaan kepada anak-anak ini untuk secara mandiri mengolah dan mengatur manajemen Rumah Tenun.  Semua pendapatan yang dihasilkan dari penjualan kain dan semua produk kreatif yang ada di Rumah Tenun semua diserahkan kepada mereka.  Selain memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi penenun yang profesional, mereka dididik untuk menyadari bahwa berkegiatan positif dan berusaha di bidang ekonomi kreatif, akan mampu membawa mereka kepada keberhasilan hidup.  Upaya ini juga mematahkan stigma yang sudah lama terpatri di anak-anak muda Tidore.  Satu paham yang selama ini menyebutkan bahwa kesuksesan akan diraih saat mereka menjadi PNS.

Menyadari pentingnya eksistensi dan pengenalan Puta Dino baik untuk domestik maupun mancanegara, Anitawati telah membuka berbagai jalur kerjasama dengan berbagai pihak.  Termasuk diantaranya para perancang pakaian yang sudah mendapatkan tempat istimewa di dunia fashion seperti Didi Budiardjo, Dian Oerip, dan lain-lain.  Didi Budiardjo adalah salah seorang fashion designer yang bergabung dalam organisasi Cita Tenun Indonesia (CTI). Sebuah organisasi mandiri dibawah pimpinan Ibu Syamsidar Isa (Bu Tjammy) dibawah pembinaan Ibu Oke Hata Rajasa. CTI dikontrak oleh Bank Indonesia untuk menularkan ilmu tentang wastra/tenun kepada Puta Dino Kayangan hingga bisa menorehkan banyak prestasi hingga saat ini.

Puta Dino Kayangan pun sering berpartisipasi pada banyak event (pameran, presentasi, webinar dll.) yang merupakan satu kesempatan baik untuk mengenalkan Puta Dino.  Harapannya adalah wastra khas Tidore ini bisa mendapatkan perhatian yang lebih dari publik, khususnya para pecinta wastra di Indonesia.

Seiring dengan semakin meluas dan populernya Puta Dino di kancah eksistensi wastra asli Indonesia, kehadiran kain tenun ini pun menjadi satu wajah istimewa bagi Tidore.  Kain ini sering dijadikan buah tangan saat ada tamu-tamu istimewa yang berkunjung ke Kadato Kie.  Seperti pada saat Ibu Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, berkunjung dan bertemu Sultan Husain Sjah di Kadato Kie. 

Beberapa pejabat negara dan tokoh masyarakat pun banyak mengapresiasi Puta Dino dengan membeli dan memakainya.  Seperti Bpk. Perry Warjiyo (Gubernur Bank Indonesia) yang menggunakan Puta Dino saat memberikan sambutan pada event Karya Kreatif Indonesia, Bpk. Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) pada saat menghadiri pelantikan Rektor Universitas Indonesia, Bpk. Wishnutama (former Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) pada saat memberikan sambutan di event Anugrah Bangga Buatan Indonesia, Ibu I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) saat audiensi dengan tamu-tamu penting, serta masih banyak tokoh-tokoh publik lainnya.

Tenun Tidore yang indah ini juga dijadikan seragam khusus semua karyawan Bank Indonesia cabang Maluku Utara.  Termasuk juga menjadi seragam untuk guru-guru besar Universitas Indonesia.

Puta Dino pernah juga diliput dan difoto oleh salah seorang diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika.  Profil tentang Puta Dino hadir menjadi salah satu artikel berjudul Tidore Women Indonesia, Puta Dino Kayangan di sebuah majalah fashion, International Fashion & Arts New York, edisi Januari 2021. 

Anitawati yang memegang tampuk sebagai founder dari Puta Dino Kayangan, secara pribadi, berhasil mencetak sebuah penghargaan yang tidak main-main.  Lewat event Anugerah Kebudayaan Indonesia yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Tenaga Kerja dan Lembaga Kebudayaan, Direktorat Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, Anitawati diganjar penghargaan sebagai penerima anugerah Kebudayaan Indonesia 2021 dalam kategori pelestari.  Usahanya yang tidak kenal lelah, menghadirkannya sebagai salah seorang perempuan Indonesia yang patut diperhitungkan dalam kancah eksistensi wastra asli Indonesia.

Sebagai sponsor dan pendukung utama proses revitalisasi Puta Dino, Bank Indonesia juga menghadirkan tenun khas Tidore ini di majalah tahunan mereka dengan menghadirkan artikel yang berjudul “Seabad Hilang, Tenun Tidore Kembali Eksis”.  Tulisan ini menjadi bagian dari rangkaian karya tulis yang membahas tentang Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Perempuan.

Pada saat tulisan ini disusun, Puta Dino Kayangan sedang mengikuti pameran Adiwastra Nusantara 2022, pameran yang khusus menampilkan kain-kain cantik dari seluruh penjuru Indonesia dan diadakan di Jakarta Convention Centre (JCC).  Pameran yang difasilitasi oleh Kementrian Perindustrian ini diberikan kepada Puta Dino Kayangan setelah melewati kurasi dari banyak UKM yang ada di seluruh Indonesia.

Di saat yang sama, Anitawati bersama rombongan penggiat produk kreatif dibidang fashion juga tengah berada di New York dalam rangka New York Indonesia Fashion Week.  Acara yang diadakan di 48th Wall Street Events ini diikuti Puta Dino Kayangan bersama dengan 9 jenama lainnya dan akan tampil secara official pada 11-12 Februari 2022.

Rangkaian usaha dan anak-anak tangga istimewa agar Puta Dino Kayangan semakin dikenal di belahan dunia yang lain sembari memperluas torehan pencapaian dikancah internasional.

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
performance puta dino kayang di new york indonesia fashion week 2022

Puta Dino Kayangan dan Media Sosial

Mengikuti arus perkembangan teknologi dan jangkuan pemasaran produk melalui media sosial, Puta Dino Kayangan memiliki dan mengelola akun Instagram @putadinokayangan serta @katalog_tenuntidore yang memungkinkan publik mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai Puta Dino.

Kedua akun ini tentu saja dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja.  Serta melayani transaksi penjualan kapan pun kita berminat dengan pengiriman ke seluruh belahan dunia.

PUTA DINO KAYANGAN : Jl. Topo 3, Samping Kadato Kie, Soasio, TIDORE 97811

Dukungan literasi : Buku REVITALISASI PUTA DINO. Tenun Tidore yang Telah Punah. Universitas Indonesia dan CINWA

Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

58 thoughts on “Puta Dino Kayangan. Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah”

  1. Respek dengan ketekunan dan kerja keras Ibu Anitawati untuk membangkitkan kembali tenun Tidore
    Semoga dari pihak berkepentingan bisa turut mendukung misalnya dengan adanya pendampingan dan dukungan untuk program tenun Tidore agar semakin berkembang lagi

    Reply
    • Betul banget Mbak Siti. Pendampingan terutama di bidang sales, marketing dan brand image, sekarang ini sangat dibutuhkan agar Puta Dino Kayangan mampu meraih popularitas yang jauh lebih baik lagi.

  2. bagus sekali namany, Puta Dino Kayangan

    sesuai kain tenun Tidore yang begitu indah

    jadi ingat saya pernah datang ke festival tenun dan batik di Pekalongan

    waw amazing, rasanya betah seharian di sana, gak mau pulang

    Reply
    • Kalo sudah lihat langsung rasanya terharu ya Mbak. Saya lihat orang menenun dengan alat tenun bukan mesin aja rasanya gimana gitu. Prosesnya kan butuh waktu dan kesabaran. Jadi saat lihat hasil akhirnya, hati tuh langsung maknyes gitu.

  3. Namanya bagus ya mbak, Puta Dino Kayangan
    Pas banget sama kecantikan kain tenun khas Tidore
    Memang harus dilestarikan ya mbak, kekayaan bangsa yang satu ini
    Pengen punya satu jadinya

    Reply
    • Yup betul banget. Kata KAYANGAN itu membuat PUTA DINO semakin istimewa. Nama tambahan yang diberikan oleh Yang Mulia Sultan Tidore, H. Husain Sjah, yang masih bertahtah hingga saat ini.

  4. Beruntung ya ada yang memperhatikan kain nusantara Tidore yang sempat punah jadi masih bisa diabadikan jejak kainnya dan terselamatkan wujud kainnya karena ada yang membidani lagi.. bagus sekali motif kainnya

    Reply
    • Betul banget Fit. Alhamdulillah BANK INDONESIA Cabang MALUKU UTARA sangat concern akan lahirnya kembali PUTA DINO di jelajah wastra nusantara.

    • Memang harus ada volunteer nya untuk merawat warisan budaya ini.
      Jangan sampai terlewatkan ya, karena jadi ciri khas bangsa juga

  5. Dulu saya kira diaspora itu hanya untuk yang meninggalkan tanah kelahirannya ke negara lain..
    Sungguh salut pada Ibu Anitawati yang telah berjuang melahirkan kembali dan melestarikan kain tenun Tidore yang sempat punah. Meski berliku akhirnya perjuangannya membuahkan hasil sehingga Puta Dino Kayangan bisa dikenal dunia. Motifnya cantik sekali apalagi kalau sudah berwujud busana indah seperti di artikel ini. Bangga saya dengan wastra Nusantara!

    Reply
    • Betul Mbak Dian. Dalam berkembangnya dunia global, banyak sekali akhirnya para diaspora yang mengangkat nama baik daerah yang sudah ditinggalkannya. Seperti saat ini di New York. Seorang puteri Indonesia yang tinggal disana, bekerjasama dan berkolaborasi dengan KJRI New York mengadakan Indonesia New York Fashion Week 2022 yang melibatkan PUTA DINO KAYANGAN sebagai salah satu pesertanya.

      Sebuah langkah besar yang sangat dibanggakan.

  6. Namanya bagus ya Mba..
    Dan terharu banget dengan proses berdirinya Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, banyak pihak yang ikut serta dalam perjalanannya, dari masyarakat hingga instansi besar..
    Memang harus saling sokong untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya kita. ^^
    Semoga bisa main-main ke sana..

    Reply
    • Aamiin YRA. Semoga suatu saat Mbak Cindi bisa berkunjung ke Tidore dan menyaksikan sendiri proses pembuatan PUTA DINO di RUMAH TENUN PUTA DINO KAYANGAN NGOFA TIDORE.

  7. Salud dengan semangat Ibu Anitawati memperkenalkan Puta Dino Kayangan tidak saja secara nasional tetapi juga go internasional. Aku termasuk pencinta kain khas Indonesia kak Annie.Bangga saja memakainya. Seperti ketika married aku pakai kebaya yang bawahannya kain songket Palembang. Terkadang pakai baju dari ulos Batak, kok kerennya berasa ya kak? he he he

    Reply
    • Aih sepakat Kak Dennise. Mengenakan wastra Indonesia untuk event-event tuh rasanya berkelas banget. Saya juga penggemar wastra nusantara Kak. Sama kita.

  8. Semoga ada banyak yang seperti Ibu Anitawati mantap melestarikan kebudayaan kita.
    Karena kalau dipikirkan lewat kain tenun kita bisa mengenal kebudayaan. Maka ke-khasannya di tiap daerah perlu kerja bersama dan ada volunteer untuk merawatnya.

    Reply
    • Aamiin YRA. Semoga khazanah wastra khas daerah di Indonesia tetap eksis sepanjang masa ya. Bukan hanya sebagai sebuah produk tapi juga adalah sebuah kekayaan budaya yang wajib dijaga dan dilestarikan.

    • Aamiin YRA. Semoga PUTA DINO KAYANGAN semakin berkibar dan berjaya dengan karya-karya tenun yang luar biasa.

  9. Respek banget saya mbak dengan tulisan ini, nggakcuma puta dino yang hari ini semakin hari semakin terlihat di tinggalkn.
    Tapi banyak juga unsur2 budaya kita yang juga mulai di tinggalkn.

    Reply
    • PUTA DINO tidak ditinggalkan. Malah semakin berkibar seiring dengan nama PUTA DINO KAYANGAN yang semakin berkibar dan dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan baru-baru ini, di 11-12 Februari 2022, PUTA DINO KAYANGAN menjadi salah satu peserta dari event berskala internasional yaitu INDONESIA NEW YORK FASHION WEEK.

      Semoga jejak PUTA DINO KAYANGAN juga diikuti oleh daerah-daerah lain yang juga memiliki kekayaan wastra yang cantik tiada dua.

  10. Mbaaa, ini aku lagi baca artikel inflight magazine di pesawat full-service… atau baca blog siik? :P
    Foto2nya, profilnya, story-telling-nya daebaakk semuaaa!
    aku sampe terkiwir-kiwir dgn profil diaspora dan para pecinta wastra nusantara yg di-mention di sini.
    kerenn banget ah mba Annieeee

    Reply
    • MashaAllah. Makasih banyak untuk complimentnya Nurul. InshaAllah jadi semangat untuk menuliskan lebih banyak lagi tentang kekayaan budaya tanah air.

  11. Mbak annie oh mbak annie ini tadi kukira cerpen yang akan diusung oleh Mbak Annie itu, kukira ini sudah jadi ternyata ini data² yang sudah lengkap yang disusun begitu apik dengan diksi yang ciamik. Iya gak sih mbak? Wuiiih keren Mbak😍 temanya masuk banget, perempuan, budaya dan cinta.

    Reply
    • InshaAllah cerpen yang akan saya buat akan berangkat dari tulisan ini Mbak Julia. Pola penyajiannya saja yang akan diubah. Jika tulisan ini lebih ke arah presentasi komunikasi informasi, untuk antologi inshaAllah akan lebih santai penyampaiannya. Doakan ya.

      Dan terimakasih untuk complimentnya. Semoga apa yang sudah saya tuliskan membawa banyak manfaat bagi para pembacanya.

  12. MasyaAllaah, ketekunan mbk Anitawati membuahkan hasil. Masa kain secantik ini bisa “hilang” ya. Berkelas dan elegan banget semuanya.
    btw Aku sllu suka mbaca tulisanmu, mbk. Meski memanjang seperti aliran sungai, tapi aku betah dari hulu ke hilir. Sehat terus ya mbk…

    Reply
    • Perjuangan yang luar biasa.. From zero to hero. Dari merangkak hingga bisa berdiri tegak seperti sekarang ini. InshaAllah akan membawa banyak kebaikan bagi perkembangan dunia wastra di Indonesia.

      Terimakasih untuk complimentnya Kak Suci.. Semoga ini jadi semangat buat saya untuk terus menulis.

  13. Aku kira ini tuh, cerpen lo. Ternyata sebuah mini feature tentang sebuah biografi pembuatan tenun di Indonesia timur. MasyaAllah luar biasa banget ini tulisannya. Diriku ngiler enggak cuma melihat kain tenun yang harganya pasti jutaan, tapi juga cara bunda Annie menuliskan kata-katanya, begitu indah. Mantap bun.

    Reply
    • Tulisan ini memang akan direwrite untuk sebuah novel antologi tentang wanita dan budaya. InshaAllah akan menjadi jejak langkah pertama saya bersama komunitas IIDN. Dan terimakasih untuk complimentnya Mbak Lita. Semoga bisa menjadi semangat bagi saya untuk terus menulis materi-materi yang membawa banyak manfaat untuk kita

    • Setuju banget. Wastra Indonesia pantas mendapatkan tempat istimewa di hati publik tanah air. Salah satu caranya adalah dengan terus mensosialisasikan wastra ini kepada masyarakat. Tanpa lelah. Tanpa henti

    • Couldn’t agree more. Pada kenyataannya sebuah karya wastra dilahirkan dari filosofi yang membidani kelahirkan dari wastra tersebut.

  14. Pas baca judulnya, kirain Puta Dino ini nama orang yang mempelopori pengembangan tenun khas tidore, ternyata bukan.

    Tahun ini Maluku utara jadi salah satu propinsi binaan instansi tempat saya bekerja, semoga aja ada kesempatan bertugas ke sana dan bisa mampir ke rumah tenun Puta Dino

    Reply
    • MashaAllah. Jika benar-benar akan berangkat ke Tidore, sila hubungi saya ya Mbak Nanik. InshaAllah nanti saya bisa memberikan beberapa referensi orang, kegiatan dan wisata terbaik selama berada disana.

  15. yg motif kalajengking gagah bgt ya mba, motifnya klasik dan unik. smoga kain tidore kembali dikennal dan laris di tengah masyarakat. yg barakati bagus bgt

    Reply
    • Setuju. Filosofi dari Kalajengking juga kuat sekali. Pas untuk mewakili karakteristik kuat dari sebuah karya Puta Dino

  16. Menjaga kearifan lokal sangat penting, dan kita sebagai konsumen pun harus mencintai produk dalam negeri/produk lokal. Kain tenun tidore pastinya harus mendunia, dan tentunya butuh kerjasama semua pihak, termasuk pemberdayaan UMKM di daerah itu.

    Saya yakin, dengan semakin banyaknya generasi sekarang yang peduli dengan budaya dan kearifan lokal, khususnya kain tenun tidore, maka kain tenun ini akan semakin membuka kesempatan “mengepakan sayap” di pangsa pasar yang lebih luas. Semoga saja, aamiin.

    Reply
    • Well-written Mas Wahid. Budaya dan kearifan lokal tentunya akan memperkaya khasanah seni tanah air. Termasuk salah satunya adalah tenun asli Tidore

  17. Semoga Pemda setempat lebih mengayomi dengan memberikan bantuan agar lebih terkenal lagi tentunya dengan tidak meninggalkan pakem² dari budaya tsb.

    Reply
  18. Perjuangannya sangat panjang…
    Motifnya unik dan itu saya baru merasa hitam dan abu dipadupadankan ternyata sangat cantik ya hasilnya.
    Senang bisa menambah wawasan terkait Putra Dino
    Terimakasih ulasannya Bu

    Reply
  19. Apa yang diperjuangkan Ibu Anitawati berhubungan dengan kain tenun ini perlu didukung sehingga tetap ada kekhasan dan nilai budaya yang terjaga, bisa diwariskan. Melihat kain tenun langsung kebayang kainnya lentur dan dingin saat di pakai

    Reply
  20. Lama belum membaca sejarah kain tenun asal Tidore, salah satu pusat penyebaran Islam di tanah air nusantara. Kain tenunnya khas puta Dino menjadi aset tenun nusantara.

    Reply
  21. Sebuah perjalanan yang cukup panjang demi lahirnya kembali Kain Tenun Tidore yang sempat punah ini, beruntung Ibu Anitawati sangat gigih bersama team untuk mencari berbagai informasi tentang tenun ini. Dan semuanya membuahkan hasil, motif dari Puta Dino ternyata luarbiasa indah ya mbak. Semoga program kain tenun Tidore ini semakin banyak mendapatkan perhatian dan dukungan dari pihak terkait, serta makin dikenal di dunia.

    Reply
    • Aamiin YRA. Semoga wastra asli Tidore ini semakin tersosialisasi dengan baik untuk di dalam negeri maupun di kancah internasional.

  22. Kalo jalan2 ke suatu daerah saya suka beli oleh2 khas dari daerah tersebut. Saya jadi tertarik buat mengunjungi Tidore suatu hari nanti biar bisa mengunjungi dan beli kain tenun khas Tidore yang nggak bisa ditemui di tempat lain

    Reply
  23. Mau banget aku punya satu aja kain tenun tidore tuh. Dibanfingkan kain khas lainnya kain ini agak susah aku dapetin.
    Harganya pun lumayan ternyata. Memang motifnya khas banget.

    Reply
  24. Motifnya cantik-cantik. Pasti ada filosofinya dalam setiap kainnya. Seneng banget ada Rumah Tenun Puta Dino Kayangan ini, semoga Kain Tidore ini bisa mendunia juga, ya. Bagus kualitasnya

    Reply

Leave a Comment