Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung

Surga jajan pasar di Toko Kue Lakker Bandung. Jajan pasar sudah lekat dalam kehidupan saya sehari-hari. Penganan yang sudah merasuk dan menyentuh lidah sedari kecil. Kehadirannya juga melengkapi kekayaan kuliner nusantara yang begitu beragam dari setiap daerah. Jadi ketika bertemu dengan Toko Kue Lakker di Bandung, saya seperti kembali ke masa-masa tumbuh kembang di beberapa provinsi di Indonesia.

Menyusur Braga Dari Masa ke Masa

Saya lebih mengenal Bandung sejak menikah karena di kota inilah suami melewati masa kecil hingga lulus kuliah. Sebelumnya jarang sekali menginjakkan kaki di kota Paris van Java ini karena sebagian besar dari masa kecil saya lewati dengan berpindah-pindah kota mengikuti tugas alm. Ayah. Jika pun saya ke Bandung, selalunya dengan rombongan teman-teman sepermainan naik kereta api Parahyangan dari Gambir. Pertama kali tuh saat masih kuliah. Kemudian balik beberapa kali di tahun-tahun berikutnya bersama teman kantor karena ada beberapa acara yang harus dihadiri.

Di setiap kunjungan ke Bandung dengan menaiki mobil sewaan saya melewati beberapa jalan-jalan besar di Bandung yang menghadirkan arsitektur ala Eropa. Salah satu materi ikonik yang selalu ingin dihadirkan oleh Bandung kepada para wisatawan. Braga adalah bagian dari itu. Sebuah jalan yang dipenuhi oleh bangunan artistik dengan arsitektur kolonial di sisi kanan dan kiri jalan. Keindahan hakiki secara visual yang begitu memanjakan indra penglihatan kita.

Saya begitu kagum saat pertama kali melewati dan berjalan kaki di Braga. Sederetan karya rancang bangun dengan tiang-tiang kokoh, jendela besar, keramik indah yang designnya long lasting, atap-atap tinggi, klasik, dan elegan. Pemandangan estetik yang langka bisa saya nikmati di ibu kota.

Ketika saya kembali ke Braga setelah belasan tahun lamanya di May 2023, saya merasakan banyak sekali perbedaan. Braga jadi lebih penuh sesak dengan kehadiran beragam tenant. Ada museum, hotel, resto dan kedai, mini market, toko fashion, dan lain-lain. Bahkan di salah satu sisi ada sebuah mall yang cukup menarik perhatian. Di saat itu saya juga menyempatkan diri menaiki Banros yang titik berangkat dan pulangnya ada di halaman depan Braga Citywalk. Sebuah mini bus semi terbuka yang membawa para penumpang berkeliling selama kurang lebih 30-45 menit ke beberapa titik wisata Bandung. Biayanya cuma Rp25.000,00/orang. Sebuah perjalanan seru yang dibimbing oleh seorang tour guide. Jadi untuk yang awam dengan Bandung akan mendapatkan informasi tambahan dari perjalanan singkat ini. Oia, di kunjungan ini saya bertemu dengan sekelompok street photographer dari sebuah komunitas photography (ya iyalah, masak dari komunitas memasak). Bayarannya adalah dari jumlah foto yang kita beli – Rp5.000,00/lembar – dari sekian banyak jepretan yang sudah dibuat.

Balik lagi ke Braga beberapa bulan kemudian – di November 2023 – berdua dengan si bungsu, kedatangan saya ke Braga sudah lebih terencana. ada dua tempat yang sangat ingin saya hampiri yaitu Toko Kue Lakker dan Kopi Toko Djawa. Tempat nongkrong yang sering diposting oleh banyak vlogger, food blogger, dan youtuber serta Instagram celebrities (celebrgam) dengan audience yang cukup banyak dan response yang masif. Foto-foto yang dihadirkan pun keren-keren dengan sudut pengambilan gambar yang cakep maksimal. Benar-benar bikin penasaran.

Tentang Braga : Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Braga, May 2023

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Braga, November 2023

Surga Jajan Pasar

Kesibukan terjadi saat saya melangkah masuk ke Toko Kue Lakker.

Belasan orang tampak asik memilih kue dengan nampan yang tampak sudah berisi. Beberapa rak kayu terlihat penuh berisi aneka penganan dan jajan pasar. Ada yang baru saya lihat atau kenal, tapi sebagian besar sudah mengisi masa kanak-kanak saya. Selain penganan basah dengan beberapa hidangan khas Jawa Barat, tersedia juga puluhan makanan kering, keripik, serta minuman dalam berbagai rasa dan packaging yang menarik. Semua tertata sangat rapi dengan banyak petugas yang siap membantu. Setiap sajian dilengkapi dengan nama produk serta harga. Informatif untuk semua customer. Sungguh satu surga jajan pasar yang (sangat) memanjakan indera perasa dan selera kita.

Puas menyusur area display yang ada di depan, saya lalu memutuskan untuk berkeliling sembari memotret.

Toko Kue Lakker juga menyediakan meja dan kursi yang tidak begitu banyak tapi cukup untuk mengakomodir kebutuhan para pengunjung yang ingin santai menikmati camilan dan minuman di kedai sembari mengobrol tentu saja. Menyusur hingga ke teras belakang toko kue ini, saya bertemu dengan banyak tamu yang sedang menikmati berbagai kue enak dan minuman dingin yang terlihat sangat menggoda. Saya berulang kali harus mondar-mandir dan menunggu, hingga akhirnya bisa duduk di sebuah meja kecil yang berada persis di depan kasir.

Sembari duduk saya melihat dua sepeda ontel yang mempercantik dekorasi ruangan depan. Satu diletakkan di atas lemari kayu berukir yang jika tidak salah asumsi adalah lemari lawas yang biasa ada di rumah makan oriental. Sementara satu lagi ditaruh persis di samping lemari ukir tadi. Keduanya mengingatkan saya akan film Gita Cinta dari SMA yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessy Gusman. Film lawas garapan tahun 1979 yang begitu populer di kalangan remaja di masa itu. Saat itu sepeda ontel digunakan sebagai properti film yang sering ditampilkan dan menjadi hits pada zamannya.

Dari berbagai sisi ruangan, saya melihat dinding terbuat dari batu bata yang tidak diplester. Hanya dicat putih saja. Kondisi yang justru menyempurnakan sentuhan kayu kecoklatan yang mendominasi furniture pengisi ruangan. Saya juga memperhatikan di atas atalase yang menyanggah sekian banyak tray yang berisikan aneka kue tersebut, terdapat beberapa papan informasi. Tertulis di papan tersebut beberapa jajanan tradisional lengkap dengan foto, ingredients atau resepnya, dan asal-usulnya. Plus rangkaian diksi yang menceritakan tentang sejarah Toko Kue Lakker. Pemandangan yang sungguh asik banget. Tapi karena diletakkan persis di atas rak, ada baiknya jika kita menikmati tulisan ini saat toko sedang tidak ramai.

Meski tak lama berada di dalam, saya menyaksikan banyak tamu datang dan pergi sembari tentu saja membawa belanjaan dan tas spunbond putih dengan logo Toko Kue Lakker. Karena banyak yang mencari tempat untuk duduk dan makan, saya dan si bungsu pun segera merampungkan santapan kami lalu segera beranjak pergi.

Tentang Kuliner Bandung : Rela Mengantri Demi Dim Sum Enak di Bandung

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Sepiring penganan pilihan saya dan si bungsu di Toko Kue Lakker Bandung

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Bakso goreng. Salah satu kudapan favorit saya.

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Jika banyak orang tidak menyukai belut. Tapi bagi saya belut justru sedap untuk digoreng atau dijadikan keripik seperti di Toko Kue Lakker ini

Sekilas Tentang Toko Kue Lakker

Dari tulisan yang terpampang di kaca depan kedai, saya membaca sebuah tulisan yang menginformasikan bahwa Toko Kue Lakker sudah berdiri sejak 1986. Jadi jika dihitung hingga 2024 – saat artikel ini dibuat – kedai jajanan ini sudah beroperasi selama 38 tahun. Bukanlah waktu yang sedikit pastinya. Dan di usia segitu – usia dewasa – Toko Kue Lakker tentunya sudah kenyang dengan pengalaman serta pasang surut bisnis yang selalu menantang dari waktu ke waktu.

Ibu Farisa – pemilik Toko Kue Lakker – yang dulunya tinggal di Cimahi, memang sudah akrab dengan bisnis pembuatan kue dan jajan pasar. Beliau memang dikelilingi oleh para pembuat dan penjual aneka penganan, menjadi pemasok banyak toko makanan di Bandung, hingga akhirnya di tahun 2022 (tepatnya 19 Desember 2022) memutuskan untuk mendirikan usahanya sendiri. Masa peresmian atau grand opening toko yang saat ini berada di Braga Heritage Bandung. Aneka jajanan jadul yang ditawarkan kepada publik adalah buatan sendiri dengan tetap menampung beberapa produk buatan kerabat hingga rekan kerja semasa menjalankan usaha kue.

Bagaimana cara kita untuk mengenali produk apa yang adalah produksi original Toko Kue Lakker? Kita cukup melihat sebuah label bertuliskan “Resep Original 1986” yang ditempelkan ke produk yang bersangkutan.

Saya mengenal kata Leker dari bahasa Belanda yang berarti enak karena kata ini sering digunakan oleh salah seorang bos tempat saya bekerja dulu. Beliau selalu mengucapkan kata leker sembari mengacungkan jempol saat menikmati atau merasakan masakan yang lezat. Jadi awalnya saya kira kata Lakker yang digunakan oleh toko ini terinspirasi dari kata Leker tersebut. Tapi ternyata bukan itu yang dimaksud. Lakker adalah akronim dari kata laku keras. Sebuah kata yang juga adalah doa. Berharap bahwa semua jajanan basah dan yang dijual di toko ini bisa laku keras dan disukai publik.

Menyusur sederetan foto dan informasi yang bisa kita lihat di akun IG @tokokue.lakker, kedai kue tradisional yang buka sejak pkl. 07:00 wib ini tampak menghadirkan puluhan kue tradisional dengan jenis, rupa, dan warna yang sangat membangkitkan selera. Tapi ada satu yang begitu menarik perhatian saya. Namanya kue Poffertjes. Ada yang familiar dengan kue ini?

Kue bulat kecil semok ini, sudah saya kenal sejak SD. Camilan pancake bulat mini ini, menilik dari susunan huruf dan pengucapannya, memang berasal dari Belanda. Poffer berarti pancake, sementara tjes atau tje berarti mini. Kue tradisional berbahan dasar tepung terigu ini adalah salah satu kue tradisional negara kincir angin tersebut. Jadi kehadirannya di bumi nusantara tentunya terhubung dengan masa penjajahan Belanda selama tiga setengah abad. Kue ini sering juga dikenal sebagai pancake mini, panekuk mini, kue cubit khas Belanda, pancake bola, dan masih banyak lagi. Tapi kalau menurut saya sih, dilihat dari bentuknya, Poffertjes mirip dengan Takoyaki asal Jepang. Yang membedakannya adalah soal rasa manisnya. Poffertjes sepertinya memang ditakdirkan sebagai kue manis. Bahkan toppingnya adalah gula tabur, mentega cair, atau sirup manis. Sempurna sudah paket manisnya ya.

Lalu apa hubungannya dengan Toko Kue Lakker?

Toko kue ini menghadirkan Poffertjes dengan cita rasa nusantara dan resep mereka sendiri. Bahkan beberapa kali mengadakan live cooking yang bisa diikuti oleh para tamu. Acara yang tentunya asik banget bagi mereka yang senang dengan dunia baking.

Dari sekian banyak akun di media sosial yang menghadirkan Toko Kue Lakker dalam bentuk foto maupun video, saya membaca bahwa sebagian besar dari para pengunjung saat terkesan akan presentasi dari tempat ini. Kehadirannya sebagai surga jajan pasar di Bandung, juga telah ikut meramaikan wisata kuliner dengan sentuhan khas yang membalut kue tradisional jadi naik kelas.

Jika dulu kue-kue jadul ini hanya bisa kita lihat dan beli di pasar atau warung-warung, kini dihadirkan di sebuah toko modern kekinian dengan penataan yang estetik dan istagenic. Lokasinya di Braga pun menjadikan Toko Kue Lakker sebagai salah satu destinasi wisata kuliner yang bisa menjadi preferensi apik saat berkunjung atau berwisata ke Bandung.

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Talam yang begitu menggoda. Favorit saya adalah Talam dengan taburan ebi di atasnya.

Tentang Kuliner Bandung : Bakmi Ayam dan Bakso Goreng Anugerah. Kuliner Kaya Rasa di GOR Pajajaran Bandung

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Nasi Bali. Isinya nasi, ayam suwir, tempe, mie, dan telor. Terbungkus rapi dengan daun pisang.
Mengingatkan saya akan Nasi Kucing ala Bali yang sering saya lihat di berbagai sudut tempat wisata di Bali.

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Arem Daging Sapi. Padat dan terlihat bakal sangat mengenyangkan

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Ketan Unti. Jajanan yang baru saya lihat di Toko Kue Lakker.

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Saya diantara barisan keripik dan jajanan lawas yang tertata apik di banyak wadah tradisional

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung
Barisan jajanan yang begitu menggoda untuk dinikmati atau dibawa pulang

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung

Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

24 thoughts on “Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung”

  1. auto ngeces, hehehe
    Padahal saya baca ini sesudah berbuka lho, jadi kenyang banget
    Dulu sering mampir ke Lakker dan kayanya semua camilannya enak banget
    Bikin kalap mata dan belanja ini itu
    Sesampainya di rumah baru deh “deleg-deleg” (duh gak tau persamaan kata dalam bahasa Indonesianya)
    Kalo ibunda saya masih ada pasti dijewer ngelihat kerakusan saya

    Reply
    • Jajan pasar memang selalu bikin ngiler ya Mbak hahahaha. Apalagi di zaman kita tuh jajanan yang ada ya kue basah begini.

  2. Toko kue Lakker jajanan pasarnya memang jempolan rasanya dari dulu.
    Saya tahun 99-an sepertinya lidahnya berkenalan dengan produk kue dari toko ini, waktu itu dolan bareng teman menyusuri Braga,
    dan lidah Sumatera kita langsung jatuh cinta, hehe.
    Sekarang foto-foto mba Annie sukses bikin auto laper pengen nyicip, tapi puasa #eh.

    Reply
    • Tampilan dan packagingnya juga menggoda selera. Rasanya pengen diborong semua. Dibeli dan dirasakan semua.

  3. daku lagi baca artikel ini ditemani kakakku, eh dianya ngomong: “enak-enak bener itu makanannya” hahaha.
    memang sih bikin ngiler dah melihatnya
    apalagi untuk urusan harga terbilang terjangkau ya Bu Annie
    bisa buat oleh-oleh juga atau dihabiskan sendirian hehe

    Reply
    • Lebih seru lagi kalau bisa datang langsung Fen. Duuuhhh semua rasanya pengen dibeli dan dirasakan. Apalagi sebagian besar diantaranya mengingatkan saya akan masa kecil. Bernostalgia sembari memanjakan lidah.

  4. Toko Kue Lakker ibarat kata sudah melegenda ya mbak Annie, 38 tahun berdiri kokoh dengan segala naik turun omset untuk tetap eksis di jaman yang jajan kekinian juga bermunculan.
    Menurutku tetap unik, karena rasanya pasti ada yang khas dan membuat surganya jajan pasar teta di hati masyarakat

    Reply
    • Betul Mbak Windi. Mempertahankan sebuah bisnis selama 38 tahun itu tentunya gak mudah. Apalagi untuk bisnis kuliner yang tidak bisa menyimpan produk dalam waktu yang lama. Sebagian besar produknya, khususnya jajanan pasar yang basah dan gampang basi. Jadi menciptakan ragam jajanan agar terus menarik minat customer hingga terjual habis adalah salah satu kunci kesuksesan Toko Kue Lakker.

  5. Wah aku baru tahu toko iniii. Semoga pas ke bandung nanti bisa ke Braga dan mampir ke sana. Wow banget udah bertahun2 berdiri tapi masih jaya. Apalagi kyknya kue2nya otentik jadi banyak pelanggan datang dan datang lagi ya mbak.

    Reply
    • Kudu mampir. Tempatnya nyaman dan menyenangkan. Jangankan orang tua, anak-anakpun pasti betah. Banyak jajanan yang pas untuk segala umur.

  6. Waaa kak Annie dulunya sering pindah-pindah kota sesuai tempat tugas ayahnya ya. Pengalaman yang unik dan menarik ish. saya setuju kalau sekarang jalan Braga itu padat sekali alias rame. Wah enggak ngeuh di Braga ada Toko Kue Lakker. Seneng banget liat desain tokonya yang jadul tapi aestetik. Udah gitu makanan yang saya suka kayak lemper, ketan unti, arem, dan lainnya ada di situ. Ah next mesti ke sini deh kalau ke kota Bandung

    Reply
    • Iya Mbak. Tiap dua tahun pindah ngikut Ayah yang dimutasi kesana-kemari. Asik juga. Jadi banyak pengalaman dan banyak teman di banyak kota.

      Betul Mbak, Braga sekarang sudah banyak berubah. Khususnya soal penataan tempat, kebersihan, dan estetika nya. Semoga pihak yang berkepentingan dan punya tanggung jawab dalam kepengurusan kota Bandung, bisa lebih memperhatikan hal ini. Sayang banget tempat seindah itu tidak ditangani dengan baik dan serius.

  7. Yeeayy~
    Aku jadi punya tempat jajanan baru karena info dari ka Anniee, hehhee.. Soalnya aku kalo ke Braga andalannya ke cafe yang diujung jalan, punyanya ITB angkatan 78 apa yaa.. Hihihi, Koffie Braga namanya.
    Sekarang uda ada Jabarano, jadi makin banyak pilihan cafe nyaman ajak anak-anak.

    Reply
    • Banyak pilihan tempat nongkrong memang di Braga ini ya Len. Saya juga penasaran sama JABARANO milik Ridwan Kamil ini. Lihat di medsos kok kelihatan banget cantiknya. Gak heran lah ya karena yang punya adalah seorang arsitek kenamaan, punya reputasi baik dengan karya-karya yang luar biasa di beberapa kota besar di Indonesia.

  8. Pernah jadi anak kost di Bandung sekitar 2 tahun, tapi belum pernah sekalipun ke kawasan Braga. Duh seandainya dulu sempat ke sana dan tahu toko kue Lakker ini, pasti bakal sering ke sini deh. Jajanannya banyak dan harganya juga masih terjangkau lah. Apalagi ada arem-arem, jajanan yang sudah lama sekali nggak saya jumpai sejak merantau ke Malang.

    Reply
    • Bandung dan Malang tuh, menurut saya, punya ambience kota yang sama. Keduanya diwarisi banyak bangunan yang dulu didirikan semasa penjajahan Hindia Belanda. Bangunannya megah, besar, estetik, khas bangunan Eropa. Salah satunya kawasan Braga ini. Kapan dinas ke Bandung, kudu mampir ke sini Mbak Nanik. Cobain kue-kue enak di Toko Kue Lakker.

  9. Ini toko kue yang jual bagelan ga, kak? Kayaknya dulu aku pernah nyicip bakery sama snack2 yang ada di toko pojokan jalan braga. Tapi lupa nama tokonya. Kalo yang bacang itu isiannya macem2 ya. Jadi pengin cobain bacang karinya, kak

    Reply
    • Kalau di pojokan Braga itu beda lagi, jika saya tidak salah. Toko Kue Lakker lebih mendekat ke arah Braga Citywalk Mall.

  10. kalau di malang ada kawasan kayutangan bu annie, di situ juga banyak fotografer dan nuansanya mirip-mirip dengan jl. braga ini, banyak jajanan dan cafe estetik juga, duh jadi pengen jalan-jalan deh

    Reply
    • Yup. Saya tahu persis kawasan Kayu Tangan di Malang karena pernah tinggal di sini selama SMA. Bangunan-bangunan di Malang memang banyak adalah warisan dari masa penjajahan Belanda. Termasuk sekolah saya, St. Albertus, yang dikenal dengan panggilan Dempo.

  11. Wah bisa banget nih masuk ke list-nya kami. Apalagi kalau menikmati kue-kue tersebut bersama si kecil (demikian panggilannya, meskipun sudah besar anaknya). Ditambah jalan-jalan santai di Braga sembari menikmati lukisan dan mereka yang sedang berfoto pre-wedding.

    Reply
    • Semoga, by the time, Braga juga semakin diurus ya Mbak Irra. Lebih bersih dan tertata dengan lebih baik lagi.

Leave a Comment