Saya selalu terpesona dengan film yang lahir atau terinspirasi dari sebuah kisah sejarah. Termasuk diantaranya adalah The Last Princess. Para sineas yang terlibat dalam produksi film bergenre ini biasanya adalah mereka yang sudah punya nama besar dalam industri perfilman, pemerhati sejarah dan pembaca yang baik. Gimana enggak? Untuk melahirkan sebuah cerita sejarah, memindahkan ide tulisan menjadi sajian visual berkualitas, otomatis akan banyak kegiatan sebelum filmnya lahir. Tentu saja biasanya akan melalui sebuah riset yang panjang, makan waktu, tenaga, ketelitian dan pikiran. Karena nyatanya sejarah adalah fakta dan fakta bukan sesuatu yang dapat dipermainkan atau dirubah sesuka hati. Bahkan untuk diadaptasi dalam bentuk seni apapun.

Menikmati sajian karya sinematografi dari The Last Princess selama hampir 2 jam, saya merasakan sebaris kekaguman akan penokohan sang putri, Yi Deok-hye (Deok-hye). Sebagai karakter sentral dari film ini, penggarapan penokohan seorang putri raja, apik dilakukan mulai dari sang putri berumur 7 tahun, remaja, dewasa, hingga masa tuanya. Presentasi total yang tidak sekedar menghadirkan flash back dalam potongan-potongan adegan, tapi juga mampu memunculkan alur cerita yang sangat apik dengan plot twist yang mengalir rapih dan tidak membingungkan.

Sekilas Tentang Putri Yi Deok-hye

THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju).  Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye.  Putri Bungsu Dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.

Yi Deok-hye (Deok-hye) adalah anak perempuan bungsu dari Kaisar Gojong (Gojong). Kaisar Korea terakhir di era/dinasti Joseon. Dari foto di atas diperlihatkan Deok-hye (paling kanan foto yang saat itu berumur 7 tahun) sedang berpose bersama Kaisar Gojong (tengah), kedua kakak lelakinya (2 orang di sisi kiri) dan sang Ratu yang duduk diantara dia dan Kaisar.

Putri Deok-hye yang lahir pada 25 Mei 1912 adalah anak dari seorang selir bernama Yang Gui-in. Selir yang awalnya adalah petugas pembasuh wajah sang kaisar. Deok-hye sendiri baru diakui sebagai seorang putri bangsawan (keturunan raja) setelah berusia 5 tahun dengan gelar Ongju karena lahir dari seorang selir. Sementara untuk anak perempuan yang lahir dari seorang Ratu akan disebut Gongju.

Deok-hye sangat disayangi oleh Gongjo hingga dibuatkan sebuah sekolah TK yang bernama Deoksu Palace. TK yang diperuntukkan bagi anak-anak bangsawan seusianya. Di awal-awal film kita dapat menyaksikan bagaimana Deok-hye bebas bermain kemudian berlari menemui kaisar, meskipun sang ayah dalam suasana pertemuan formil. Kaisar diperlihatkan senang mengusap-usap wajah dan menggendong Deok-hye dengan penuh kasih sayang. Tragisnya justru Deok-hye lah orang yang melihat detik-detik terakhir hidup Ayahnya. Saat dia berlari untuk menunjukkan hasil karya gambarnya, Deok-hye menemukan sang Ayah sekarat, muntah darah karena diracun, di dalam kamar tidurnya.

Saat usianya menginjak 13 tahun, Deok-hye (dipaksa) pindah ke Jepang oleh pemerintah gabungan Jepang-Korea. Dijanjikan akan dipulangkan ke tanah airnya setelah usai sekolah, Deok-hye malah menghadapi rangkaian ketidakadilan hingga akhirnya masuk rumah sakit jiwa, berkali-kali mencoba bunuh diri, karena banyaknya tekanan.

Sang putri sempat menikah (baca: dipaksa menikah) dengan seorang bangsawan Jepang bernama So Takeyuki. Dari pernikahan ini dia melahirkan seorang putri bernama So Masae (dalam bahasa Jepang) atau Jeong-hye (dalam bahasa Korea).

Deok-hye akhirnya berhasil kembali ke tanah airnya pada 26 Januari 1962, setelah 38 tahun “dibuang” ke Jepang. Beliau wafat pada 21 April 1989 di Sugang Hall, Changdeok Palace pada usia 78 tahun. Dimakamkan di Hongryureung di Namyangju tak jauh dari Seoul.

Sekilas Tentang Film The Last Princess

THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju).  Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye.  Putri Bungsu Dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.

The Last Princess diangkat dari sebuah novel laris yang ditulis oleh Kwon Bi-young. Mengusung judul yang sama, film yang disturadarai oleh Hur Jin-ho ini dipresentasikan secara publik pada 3 Agustus 2016. Karena dalam inti ceritanya adalah masa pendudukan Jepang di Korea, di dalam film ini akan kita temukan pembicaraan dalam 2 bahasa yaitu bahasa Jepang dan Korea.

Dari awal peluncurannya, film ini meraih box office di hari pertama penanyangannya hingga akhir minggu yang jatuh pada 5-7 Agustus. Selama akhir pekan sejak premiere, jumlah penjualan tiket mencapai 1,2 juta buah, 24% bagian penjualan adalah di Korea Selatan. Meraih pendapatan sebesar USD 12,4 milliar dalam 5 hari penayangan dengan total penjualan tiket mencapai 1,7 juta buah. Hingga akhirnya mampu meraih pendapatan kotor senilai USD 35,4 milyar di Korea dan USD 40,35 milyar dari seluruh dunia.

The Last Princess berhasil memenangkan berbagai penghargaan dari berbagai event. Blue Dragon Film Awards (Aktris Terbaik), Grand Bell Awards (Aktris Terbaik, Aktris Pendukung Terbaik, Perancang Kostum Terbaik, dan Musik Terbaik), Korean Film Producers Association Awards (Aktris Terbaik), Golden Cinema Festival (Aktor Terbaik) dan Baeksang Arts Awards (Aktris Terbaik).

Sinopsis

THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju).  Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye.  Putri Bungsu Dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.

Deok-hye lahir di saat negara dan pemerintahan Korea sedang dalam kondisi kritis serta dijajah oleh Jepang. Ayah Deok-hye, Gojong, kaisar terakhir dari dinasti Joseon, di awal cerita dikisahkan mengalami tekanan bertubi-tubi dari pemerintah yang sedang berkuasa. Beberapa petinggi yang datang menghadap Gojong, adalah orang-orang/pejabat Korea yang berpihak kepada Jepang dan diberikan kedudukan sebagai pejabat pemerintahan transisi, gabungan antara Jepang-Korea. Kaisar diminta/dituntut untuk menyerah, mengakui kekuasaan Jepang, dan berlutut pada Kaisar Jepang. Gojong berulangkali menolak dengan tegas bahkan sempat menyatakan kekecewaannya pada saudara sesama warga Koreanya itu. Karena keteguhan hatinya akhirnya Gojong diracun. Kejadian ini sempat memunculkan gelombang protes besar-besaran rakyat Korea.

Salah seorang diantara pejabat yang menekan Gojong adalah Kanselir Han Taek-soo (Taek-soo). Lelaki inilah yang dicurigai meracuni Kaisar Gojong. Dia jugalah yang mendapatkan tugas untuk terus menekan Deok-hye beserta seluruh keluarganya sepeninggal wafatnya Gojong. Taek-soo selalu menekan kakak tertua Deok-hye yang kemudian diangkat menggantikan Gojong sebagai kaisar, untuk menuruti setiap keinginan pemerintahan Jepang. Dalam keseluruhan film ini karakter Taek-soo is the most antagonist and evil man ever. Herannya dia seperti punya pengaruh yang begitu besar sehingga baik Deok-hye maupun kakaknya, Pangeran Yi-un, yang juga diungsikan ke Jepang, tak berkutik menghadapi Taek-soo. Hingga film berakhir Taek-soo tampak masih berbangga diri, berperilaku jahat saat bertemu Deok-hye, dan kembali ke Korea tanpa beban bahwa dia pernah menjadi penghianat revolusi.

Tokoh/karakter pria utama dalam film ini adalah Kim Jang-han (Jang-han). Semasa masih hidup, Gojong menjodohkan Deok-hye dengan Jang-han. Seorang lelaki yang sedikit lebih tua dari Deok-hye dan adalah salah seorang anak orang penting dalam jajaran tentara Korea. Gojong sempat meminta agar Jang-han bersedia melindungi Deok-hye dan suatu saat akan menikahi putri bungsunya. Permohonan ini sepertinya menjadi garis hidup Deok-hye karena memang akhirnya, disaat mereka dewasa, Jang-han lah yang sangat berpengaruh dalam kisah perjalanan hidup Deok-hye. Jang-han ditokohkan sebagai seorang pejuang kemerdekaan Korea sembari melaksanakan fungsinya sebagai tentara Jepang.

THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju).  Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye.  Putri Bungsu Dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.

Menetapi janjinya kepada Kaisar Gojong, Jang-han selalu berusaha menjaga Deok-hye dengan sebaik-baiknya. Termasuk diantaranya adalah usaha untuk memindahkan Deok-hye, Pangeran Yi-un (kakak Deok-hye) beserta istri, ke Shanghai untuk mendapatkan suaka. Rencana ini didukung oleh salah seorang keponakan Deok-hye, Prince/Pangeran Yi-wu, bersama dengan beberapa pemuda pejuang bawah tanah yang menginginkan agar Korea merdeka. Namun sayangnya usaha ini gagal. Jang-han tertembak sementara Deok-hye ditangkap kembali.

Lepas dari penangkapan ini, Taek-soo mengatur pernikahan Daek-hye dengan seorang bangsawan Jepang bernama So Takeyuki. Dari sebuah scene ditampilkan kondisi Deok-hye yang sedang duduk dengan tatapan kosong dan terlihat begitu tertekan secara psikologis meskipun suaminya tampak baik dan ingin terus menjaganya.

Kehancuran hidup Deok-hye kemudian berlanjut saat dia ingin kembali ke Korea. Datang ke pelabuhan Shimonoseki bersama anak/putrinya, Deok-hye ternyata masuk daftar cekal dan ditolak oleh petugas untuk berangkat (kembali) ke Korea. Dari adegan inilah kemudian Deok-hye mengalami gangguan jiwa kemudian dinyatakan hilang.

Jang-han yang saat Korea sudah meraih kemerdekaan bekerja sebagai seorang wartawan Seoul News, tak henti mencari jejak keberadaan Deok-hye. Berkat usahanya yang gigih dia akhirnya bisa melacak keberadaan Deok-hye yang ternyata ada di salah satu rumah sakit jiwa di Jepang. Jang-han pada akhirnya berhasil membebaskan Deok-hye dan membawanya pulang ke Korea. Mereka mendarat di bandara Gimpo pada 26 Januari 1962. Jang-han jugalah yang di akhir cerita, mengajak Deok-hye mengunjungi istana yang dulu menjadi tempat tinggalnya.

THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju).  Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye.  Putri Bungsu Dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.
Deok-hye saat berusaha pulang ke Korea dengan membawa anak/putrinya

Beberapa Adegan yang Menyentuh Hati

The Last Princess banyak menghadirkan adegan-adegan dengan sinematography yang jempolan. Busana yang dikenakan pun sangat indah dan mencerminkan fashion dijaman itu. Begitu juga dengan penampakan bangunan, jalanan, serta mobil klasik yang turut meramaikan lensa kamera. Tapi dari sekian banyak kesempurnaan detil yang melengkapi alur cerita, ada beberapa adegan yang menurut saya (sangat) menyentuh hati dan menjadi favorit saya.

  1. Di saat Deok-hye akan meninggalkan istana menuju Jepang. Sang putri diwajibkan mengenakan Kimono (baju tradisional Jepang). Saat melangkah keluar, puluhan pelayan istana tampak memberikan penghormatan, bersujud dan menangisi kepergian Deok-hye. Dalam ceritanya, di saat itu Deok-hye berumur 13 tahun. Masalah pakaian ini juga jadi satu tekanan psikologis khusus bagi Deok-hye. Pemerintahan gabungan Jepang-Korea menginginkan sang putri tampil dengan “wajah” Jepang sementara yang bersangkutan tetap ingin mempertahankan identitasnya sebagai putri raja Korea;
  2. Atas tekanan yang diberikan oleh Taek-soo, Deok-hye dipaksa berpidato di depan ratusan buruh asal Korea yang bekerja untuk perusahaan Jepang (Daeso Industries). Mereka berdiri di sebuah lahan luas dengan baju lusuh dan kondisi tubuh yang mengenaskan. Deok-hye yang tadinya patuh ingin membaca pidato yang sudah disiapkan oleh Taek-soo mendadak berorasi penuh semangat agar semua warga Korea yang hadir tetap optimis bahwa Korea akan merdeka. Dari tindakannya ini, Taek-soo sempat memukul Deok-hye bertubi-tubi, tapi berhasil dihalangi oleh Jang-han;
  3. Proses pelarian Deok-hye yang didampingi oleh Jang-han. Mereka sempat bermalam di sebuah gubuk setelah melewati terjangan timah putih dan kejaran tentara Jepang. Saat itu mereka berhasil lolos meskipun akhirnya Jang-han tertembak di bagian kaki. Saat mereka menghadapi gempuran itulah Jang-han sempat mengucapkan berbagai kata dan kalimat yang terus diingat Deok-hye sampai tua bahkan ketika dia hampir hilang ingatan. Seperti “Pergilah dulu Yang Mulia, saya akan menyusul dalam 10 menit”, “Larilah lurus ke arah pantai. Apapun yang terjadi jangan menoleh ke belakang”, “Saya berjanji akan menyusul Yang Mulia”;
  4. Saat Deok-hye berada di pelabuhan Shimonoseki bersama putrinya. Mengetahui kekalahan Jepang dalam perang dunia ke-2, sejumlah besar orang-orang Korea yang berada di Jepang, mengantri untuk pulang. Optimisme tampak diwajah Deok-hye. Dia ikut mengantri dan yakin akan bisa pulang. Tapi nasib berkata lain. Di pelabuhan ini pulalah dia bertemu lagi dengan Taek-soo yang dengan kejinya berkata bahwa dia meyakinkan dan menjamin bahwa Deok-hye tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di Korea;
  5. Ketika akhirnya Deok-hye bersama Jang-han tiba di Korea. Di area penjemputan tamu tampak beberapa mantan pelayan istana menyambut kedatangan Deok-hye. Mereka mengenakan Hanbok dan berdandan rapih. Diantara para pelayanan ini terselip Bok-soon. Seorang wanita penuh semangat yang menjadi pengasuh Deok-hye sedari balita hingga akhirnya dideportasi ke Korea karena memukul Taek-soo.
THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju).  Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye.  Putri Bungsu Dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.
Deok-hye dan So Takeyuki, suaminya yang berkebangsaan Jepang
THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju).  Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye.  Putri Bungsu Dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.
Deok-hye kecil bersama sang Ayah, Kaisar Gojong

Resensi Pribadi

The Last Princess menjadi salah satu film yang menambah pengetahuan kita tentang saat-saat kekaisaran Korea (mulai) berakhir. Meskipun hanya setitik dari ribuan kisah sejarah tentang hal yang sama. Sementara di saat yang sama kita juga diajak untuk menikmati keindahan sebuah karya seni sinema klasik dengan semua aspek yang mendukung di dalamnya.

Untuk saya yang suka mengulik dan membaca kisah-kisah menyentuh dari sebuah kisah nyata, film ini menghadirkan nuansa haru biru seorang putri raja, yang mengalami perjalanan hidup yang tidaklah gampang. Dari seorang yang berkelimpahan kasih sayang di masa kecil, terbuang dari tanah kelahiran saat usia menginjak remaja, ditakuti karena berbagai hal yang hampir tidak masuk akal, mengalami berbagai tekanan mental, sampai akhirnya (sempat) terkurung menjadi pasien rumah sakit jiwa.

Deok-hye hanyalah seorang perempuan yang harus menerima kenyataan pahitnya hidup dalam pantauan orang lain. Tercampakkan dari sebuah strata tinggi menjadi bukan siapa-siapa. Meskipun kebutuhan fisiknya masih berkecukupan dan terpenuhi, tapi belenggu kebebasan terus menghantuinya lahir dan batin. Sejatinya Deok-hye adalah korban dari sebuah rangkaian cerita sejarah yang menimpa Korea sebelumnya akhirnya negeri ginseng ini berubah menjadi sebuah negara yang dipimpin oleh seorang Presiden.

Rate saya untuk film ini adalah 8/10.

Nilai tinggi saya berikan untuk alur cerita, keindahan cinematography, acting Son Ye-jin yang berperan sebagai Putri Deok-hye dan Park Hae-il yang memainkan tokoh Hang Ja-han. Pantas jika pada akhirnya kedua pelakon ini mendapatkan penghargaan atas peran mereka di film ini. Chemistry diantara keduanya terbangun begitu apik meskipun tidak ada adegan-adegan romantis yang mewakili sebuah cinta yang terbangun sedari mereka masih kanak-kanak.

THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju).  Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye.  Putri Bungsu Dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.

#TheLastPrincess #FilmKorea #FilmSejarah #PutriYiDeokHye #SinemaKorea

24 COMMENTS

    • Iya Mbak Alif. Film yang 1 ini, selain diangkat dari cerita sejarah juga diadaptasi dari sebuah novel best seller dengan judul yang sama

  1. Udah nonton Film the last emperor tentang kaisar Cina?

    Nggak kalah tragis dengan The last empress Korea, karena politik selalu makan korban ya ?

    Termasuk pilpres di Indonesia dan baru baru ini USA. Bedanya korban ngga diasingkan seperti putri Deok Hye 😀😀😀

    • Ah bener Mbak. The Last Emperor juga tragis ya. Film lama banget itu. Tapi tetap fenomenal. Saya jadi pengen nonton lagi

  2. Masya Allah, saya terharu melihat adegan yang saat Deok-Hye keluar dari istana mengenakan kimono.

    Ini seperti potongan film Kaisar Pu Yi ngga sih, yang The Last Emperor itu?
    Buatku semua film sejarah seperti ini menarique banget….

    Yang sedih pasti pas Deok-hye ingin kembali ke Korea,
    Ngebayangin waktu datang ke pelabuhan Shimonoseki bersama putrinya, dan…. dicekal! Padahal dia putri kerajaan Korea kan? Ya mungkin pemerintah takut kalau dia balik menimbulkan simpati di hati rakyat ya mbak Annie

    • The Last Emperor juga fenomenal tuh Mbak Tanti. Penggarapannya menurut saya jauh lebih bagus. Apalagi dengan penokohan seorang raja ysng diperlakukan sampai titik terendah. Ah jadi pengen nonton The Last Emperor lagi

  3. huwaaaa… tengkiu reviewnya Mba, saya mau nonton ini ah setelah blog walking dan nulis malam ini.
    Saya pecinta film Korea yang basic at true story gini, apalagi kalau ngomongin sejarah, duh favorit banget.

    Film-film Korea yang basic at true story, meski kadang banyak yang diubah alurnya dikit, tapi tetep menarik ditonton :)

    • Wah sama kita ya. Sejarah dan true story itu biasanya menyentuh banget. Ada sesuatu yang enak untuk ditonton dibandingkan dengan cerita fiksi.

    • Iya. Lumayan menguras air mata. Tapi happy ending. Karena akhirnya Putri Deok-hye akhirnya bisa pulang ke tanah airnya dan wafat di sana.

  4. Lama banget nggak nonton film. Baca sinopsis yang mbak Annie tulis berasa ni film keren banget walopun sedih ceritanya. Dan film ini dari kisah nyata kan ya? Wah… nambah serunya nih.

  5. Ada Kim Jae Wook. Ya ampuuun. Formatnya film ya, bukan series. Saya jadi tertarik ini nontonnya. Semoga ada di Netflix. Betul ini, The Last Princess bukan sekadar film. Ini tuh saksi sejarah yg sentral banget untuk rakyat Korea. Wajar lah keuntungan produksi dan peluncuran film ini besar banget. Penontonnya juga banyak.

    • Belakangan juga saya lebih sering nonton Film ketimbang Drama. Ternyata Korea punya loh film-film bagus dan berkualitas. Dari film ini saya semakin suka dengan actingnya Son Ye-jin

  6. Saya jadi tergoda unruk nonton film The Last Princess ini deh. Semoga ada di aplikasi nonton yang saya punya ya.

    Senang bisa mampir ke mari. Detail sekali bikin saya tergoda untuk ikut menonton filmnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here