VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.

Saya tertarik untuk menonton film korea ini karena 3 alasan. Pertama, ingin tahu gimana actingnya Lee Jong-suk, aktor Korea berwajah imut yang biasa bermain di drakor dengan tema melankolis menjadi seorang psikopat. Kedua adalah kehadiran Jang Dong-gun. Salah seorang aktor senior Korea Selatan favorit saya yang tak diragukan lagi kualitas actingnya. Jang Dong Gun sendiri awal-awal saya tahu lewat drakor All About Eve di awal-awal 2000an. Salah satu drakor yang cukup fenomenal dan mencetak kesuksesan di jamannya. Ketiga adalah menyaksikan bagaimana ruwetnya menangani sebuah kasus kejahatan berat yang melibatkan orang berpengaruh, un-touchable hukum, dan pihak lain yang punya kepentingan berbeda atas kasus tersebut.

Para Aktor Kunci

Film Korea (K-Movie) ini menghadirkan 3 orang pelakon pria senior dan 1 orang pelakon pria berusia muda sebagai aktor kunci. Jang Dong Gun berperan sebagai Park Jae-hyeok seorang intel Korea Selatan, Kim Myung-min sebagai Chae I-do seorang polisi Korea Selatan, Park Hee-soon sebagai Ri Dae-beom seorang (mantan) polisi Korea Utara, dan Lee Jong-suk sebagai Kim Gwang-il sang psikopat. Masing-masing, menurut saya, sudah berperan maksimal dan sesuai dengan tuntutan karakter yang sudah lebih dahulu melintas di kepala saya.

VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.
Lee Jong-suk sebagai Kim Gwang-il sang psikopat

Park Jae-hyeok (Jae-hyeok) yang diperankan Jang Dong-gun (Dong-gun), sesuai dengan posisinya sebagai intel, memang dilukiskan sebagai seorang yang pintar, cool, dengan strategi pergerakan diam-diam layaknya intelejen. Jae-hyeok mendapatkan tugas dari atasannya untuk mengambil alih Gwang-il yang terdeteksi/dicurigai sudah melakukan rangkaian tindak pembunuhan tapi mendapatkan perlindungan dari pemerintah Korea Utara dan intelejen Amerika (CIA). Biasanya memang jika suatu perkara berhubungan atau menimbulkan efek-efek politik apalagi melibatkan orang-orang penting dan atau negara lain, disitulah intel akan terlibat. Pengertian jamak yang tentunya sudah dipahami oleh kebanyakan orang.

Chae I-do (I-do) yang diperankan oleh Kim Myung-min (Myung-min) dihadirkan sebagai salah seorang polisi berbakat dan temperamental tapi dianggap sangat mumpuni untuk menangani kasus-kasus rumit. I-do selalu tampil dengan garis wajah serius tanpa senyum dan berani dalam bersuara, meski di depan atasannya sekalipun. Polisi dengan karakter kuat seperti ini seringnya tampil preman, lebih sangar dari preman aslinya malah. Salut buat Myung-min yang tampil luar biasa. Totalitas seorang aktor senior yang secara fisik memang milik para penegak hukum.

Park He-soon (He-soon) memerankan seorang (mantan) polisi Korea Utara bernama Ri Dae-beom (Dae-beom). Seorang polisi yang berdedikasi tinggi terhadap jabatan. Mempunyai misi khusus untuk meringkus seorang psikopat yang sudah belasan kali melakukan tindakan pembunuhan keji di negaranya. Dae-beom akhirnya dipecat dari kesatuannya oleh pemerintah Korea Utara karena penjahat yang menjadi incarannya nyatanya dilindungi oleh orang berkuasa di negara itu. Dae-beom kemudian hidup dalam dendam dan terus mengejar si psikopat dengan cara membantu I-do, polisi Korea Selatan, lewat informasi sahih yang ada ditangannya. Seperti layaknya warga negara Korea Utara yang hidup dalam kekangan penguasa, dari awal film ini berangkat, saya sudah bisa menebak seperti apa pergerakan dan profil Dae-beom. Wajah dingin, sorot mata tajam, dan ekspresi yang datar.

Lee Jong-suk (Jong-suk) sebagai Kim Gwang-il (Gwang-il). Memandang wajahnya yang imut, Jong-suk mewakili kebengisan Gwang-il lewat ketawa-ketawa mengejek serta seringai muka yang tampak sadis. Sorot matanya sih kurang keji menurut saya. Tapi untuk melengkapi profil seorang psikopat sesungguhnya gak mesti terlihat jelek/buruk. Malah seringkali justru orang-orang dengan wajah tenang, tanpa ekspresi, yang sesungguhnya berjiwa sadis. Karena kesadisan adalah masalah kejiwaan bukan penampilan fisik semata.

Salut untuk Jong-suk yang mau menerima peran yang sungguh jauh dari image/personal branding dia selama ini. Setidaknya, kalau saya jadi dia, bermain dalam film dengan pilihan peran yang menantang, tentunya bikin ritme hidupnya sebagai seorang aktor jadi lebih bervariasi. Dari beberapa tautan yang saya baca, dalam film ini, Jong-suk mendapat bantuan arahan acting dari para aktor senior. Satu hal yang menurut Jong-suk sudah sangat membantu dia dalam memerankan sosok Gwang-il.

Ulasan Film

VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.
Gwang-il di bawah acungan pistol Jae-hyeok (intel Korea Selatan) dan I-do (polisi Korea Selatan)

Film berdurasi 128 menit dan released pada 2017 ini bergenre action, crime, dan thriller. 3 kompilasi genre yang tentunya hanya diperuntukkan bagi penonton dewasa. Sajian ketegangannya pun langsung bisa kita saksikan di fase awal film diputar. Sangat mengiris hati malah. Sebuah prolog (fase ke-1) menampilkan deskripsi sang psikopat yang memberikan kesempatan kepada kita untuk lebih dulu tahu kejahatan dan kekejian seperti apa yang dilakukan oleh Gwang-il.

Di fase ini pula kita disodorkan sebuah kenyataan bagaimana Gwang-il telah meluluhlantakkan harga diri kepolisian Korea Utara. Seorang polisi pintar, Deo-reom, terpuruk dalam hancurnya harga diri sebagai penegak hukum. Polisi yang tak mampu menuntaskan kewajibannya karena pengaruh orang yang sedang berkuasa.

Intinya, semua yang disampaikan pada fase ke-1 ini lebih banyak menghadirkan flashforward atau latar belakang dari kisah yang terjadi di fase-fase berikutnya.

Pada fase ke-2 berjudul Tersangka, penonton diajak mengikuti cerita penangkapan Gwang-il yang penuh drama. Baik kepolisian maupun intel Korea Selatan merasa punya hak utama atas diri Gwang-il. Menurut kepolisian, karena Gwang-il melakukan tindak kriminal di Korea Selatan, mereka berhak memproses lelaki muda ini untuk disidangkan. Sementara dari sudut pandang intel, Gwang-il seharusnya ditangani mereka. Meskipun melakukan kejahatan di teritori Korea Selatan, mereka harusnya menerima kenyataan bahwa Gwang-il adalah warga Korea Utara dan memiliki/menyimpan beberapa fakta yang bisa menjatuhkan penguasa di sana. Seperti yang kita mahfum, ketegangan psikologis antara Korea Selatan dan Korea Utara itu awet berlangsung hingga saat ini.

Nuansa thriller bertambah porsinya ketika kita memasuki fase ke-3 yaitu Serangan dan Pertahanan. Pada bagian ini emosi penonton terhadap Gwang-il semakin dikocok-kocok. Terutama pada saat Gwang-il dengan santainya tertawa mengejek kepolisian Korea Selatan yang akhirnya harus melepas dirinya diambil alih oleh intel. Gwang-il malah sempat mengutarakan “kesenangannya” menyaksikan bagaimana para korbannya merintih kesakitan meregang nyawa. Kejadian inilah yang menyebabkan I-do semakin membenci Gwang-il dan berjanji akan menyeret penjahat itu kembali.

Dari sini akhirnya I-do bertemu dengan Dae-beom secara diam-diam. Dari semua bukti-bukti fisik yang diberikan Dae-beom, polisi gagah berani itu semangat kembali mengumpulkan banyak jejak kejahatan Gwang-il. Diantaranya adalah foto-foto dan video yang dibuat oleh Gwang-il dan kaki tangannya sebelum, disaat, dan sesudah melakukan setiap aksinya. I-do berharap bahwa dengan semakin kuatnya bukti-bukti yang dia miliki, Gwang-il dapat dia tarik kembali menjadi pesakitan kepolisian Korea Selatan.

Fase ke-4 film yang berjudul Tamu Penting dari Utara kemudian menjadi fase yang sungguh ruwet, complicated, ngeselin, dan menguji kesabaran penonton. Fase klimaks pertama dari keseluruhan film VIP.

Gwang-il yang dalam pengawasan intel di satu tempat tertentu, mendadak “kumat” ngerjain wanita. Yang dikerjain itu kebetulan polisi/petugas yang mendapatkan jadwal menjaga Gwang-il. Jae-hyeok langsung muntab dan memukuli Gwang-il habis-habisan. Sementara yang dipukuli terus aja ketawa sinting tak berdosa. Dari kejadian ini Jae-hyeok semakin yakin akan kerusakan jiwa Gwang-il. Bahkan saat Gwang-il berbicara dengan Paul Gray, seorang agen CIA, Jae-hyeok semakin menangkap jauhnya keterlibatan pemerintah Amerika untuk menghancurkan kekuasan ayah Gwang-il di Korea Utara.

Di tengah keseruan pengungkapan pembunuhan berantai yang sudah dilakukan Gwang-il oleh Paul Gray, tetiba muncul rombongan I-do sambil membawa bukti-bukti lain yang menguak kejahatan Gwang-il. I-do malah sempat mentertawakan Gwang-il yang, maaf, impoten, sebagai alasan untuk menyiksa para wanita. Reaksi Gwang-il sungguh luar biasa. Dia mengamuk dan sepertinya disinilah akhirnya Gwang-il menaruh dendam pada I-do.

Gwang-il pun berpindah lagi menjadi tahanan kepolisian Korea Selatan. Tapi ternyata kemenangan yang dirasakan I-do hanya sementara. Tak lama setelah penangkapan ini, kondisi kembali jadi ruwet karena atasan I-do meminta dia menyerahkan Gwang-il kepada intel dan menganggap bahwa kasus pembunuhan berantai ini masuk ke ranah kekuasaan intel dan CIA. Raut kekecewaan pun hadir di wajah I-do yang kemudian membawa Gwang-il berkendara di dalam mobilnya. Kepergian I-do ini diiringi oleh rombongan CIA dan Jae-hyeok. Hingga di satu tempat I-do menghentikan mobilnya dan tampak berbicara dengan Jae-hyeok dari hati ke hati di pinggir jalan.

VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.
Chae I-do (kiri foto) dan Park Jae-hyeok (kanan)

Gwang-il pun seperti mendapatkan kesempatan untuk lari dari I-do melihat rombongan CIA berada di dekatnya. Melalui akal bulusnya Gwang-il berhasil merebut pistol anggota CIA dan menembak I-do berkali-kali hingga tersungkur. Jae-hyeok yang berada di sebelah I-do tentu saja tersentak. Tampak, sekali lagi, yakin dengan kekejaman Gwang-il yang tak terkira.

CIA kemudian menyeret Gwang-il masuk ke dalam mobil, memacu kendaraan, melarikan si psikopat. Adegan berikutnya adalah kejar-kejar mobil sepanjang jalan. Dengan penuh amarah Jae-hyeok yang memanggil seluruh anggota unitnya untuk ikut turun ke jalan, menangkap kembali Gwang-il. Sampai di satu tempat, tanpa diduga, mobil yang membawa Gwang-il ditabrak oleh sebuah mobil lain dalam kondisi kencang. Ternyata mobil ini dikendarai oleh Dae-beom, si mantan polisi Korea Utara. Dae-beom kemudian menyeret Gwang-il dan membawanya pergi (adegan menyeret ini memorable banget loh menurut saya). Dalam kondisi berdarah-darah dan mobil ringsek, plus diterjang tembakan bertubi-tubi dari Paul Gray, Dae-beom melarikan mobilnya sekencang mungkin.

Aslik. Sampai di bagian ini, saya yakin penonton tambah gemas dan pengennya si psikopat langsung dihajar peluru atau tewas saat tabrakan terjadi. Tapi ternyata nyawa Gwang-il sama seperti kucing. Dalam tawanan Dae-beom, Gwang-il diseret menuju kapal tongkang di tengah laut, yang dalam presepsi saya akan dibawa kembali menuju Korea Utara. Namun kejadian di luar dugaan kembali muncul. Orang-orang yang berada di kapal tongkang itu ternyata orangnya Gwang-il. Dan akhirnya Dae-beom pun dihajar peluru. Laaahhh selamat lagi. Yah gimana sih?

VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.

Film kemudian dirampungkan oleh fase ke-4 yaitu Epilog. Ketegangan ternyata belum rampung. Di bagian akhir ini terungkap bahwa ayahnya Gwang-il sudah keok, sehingga Gwang-il harus melarikan diri dari Korea Utara. Tempat persembunyiannya diketahui CIA. Tapi karena tak ingin terlibat langsung dalam penangkapan (terikat etika antar intel negara), Paul Gray meminta bantuan Jae-hyeok untuk menyeret Gwang-il dari sebuah apartemen lusuh dan membawanya menuju mobil yang sudah disiapkan oleh CIA. Percakapan antara Paul Gray dan Jae-hyeok ini sempat dimunculkan saat prolog. Jadi kita diajak kembali ke adegan awal.

Awalnya saya pikir cuma akan terjadi perang senjata antara Jae-hyeok dengan para pengawal Gwang-il. Tapi ternyata saya salah. Klimaks terpenting dari VIP justru terjadi di sini. Jae-hyeok yang sudah dipenuhi kemarahan luar biasa malah menyiksa Gwang-il dan memutilasi kepalanya setelah sebelumnya mengucap “Matilah kau” dan meletuskan peluru dari mulut Gwang-il.

Ending yang sungguh diluar dugaan saya.

VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.

Secara keseluruhan VIP, film Korea yang satu ini, sudah menghadirkan cerita kekejaman pribadi yang rusak dan merasakan nikmatnya menjadi seseorang yang tidak tersentuh oleh hukum karena kekuasaan orangtua. Seorang psikopat yang melakukan pembunuhan berantai di berbagai kota/negara demi kepuasan jiwanya sesat.

Hentakan-hentakan thriller memenuhi setiap menit selama proses menonton berlangsung. Jadi, sekali lagi, film ini hanya cocok untuk mereka yang dewasa, baik secara mental maupun cara berfikir. Penampilan 4 aktor kunci, menurut saya, layak dapat apresiasi. Mereka nyatanya sanggup mempresentasikan karakter yang pas sesuai dengan penokohan.

VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.
VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

2 thoughts on “VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.”

    • Seru Dha. Untuk ukuran thriller lumayan mencekam. Tapi gak boleh sama sekali ditonton non dewasa. Ada beberapa adegan kekerasan yang cukup ngeri

Leave a Comment