Menyegarkan kunjungan saya ke Malang, Jawa Timur di akhir Maret 2017 yang lalu, kami (saya dan Mbak Yayuk) memutuskan untuk menghabiskan 1 hari penuh untuk berwisata.  Mengingat waktu yang terbatas dan jarak tempuh yang dibutuhkan, kami sepakat untuk pergi ke BATU, sebuah kota administratif yang telah terpisah dari Kabupaten Malang sejak 6 Maret 1993, dan kemudian ditetapkan sebagai kota otonom pada 17 Oktober 2001.

Kota yang menghubungkan antara Malang – Kediri dan Malang – Jombang, dan berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan ini, sudah banyak berubah semenjak saya meninggalkan kota Malang di tahun 1988.  Dari suasana yang sangat pedesaan dengan dominasi lahan hijau plus kebun Apel, sekarang menjadi kota tujuan wisata dengan berbagai obyek wisata modern.

Udaranya pun telah banyak berubah.  Seiring dengan bertambahnya manusia yang menetap di sini, bangunan yang terlihat bertambah secara signifikan, dan tentu saja pengaruh perubahan iklim, suhu udara yang dulu berkisar antara 20-an derajat celcius sekarang sepertinya sudah menyentuh angka 30an.

Dulu, ketika saya masih SMA dan sering touring motor bebek (bukan moge) ke Batu bersama teman-teman, kami wajib pakai sweater tebal supaya tidak menggigil.  Tapi di kunjungan yang barusan, jangankan merasa udara dingin, mengusap muka dengan air aja gak terasa sejuknya walaupun air masih sangat bersih.

 

PENEMUAN TANPA SENGAJA

Niat awal ke Batu ini sebenarnya pengen ke  COBAN RAIS.  Memilih wisata Coban, yang artinya AIR TERJUN, karena saya sangat menyukai wisata air.  Santi, ipar Mbak Yayuk yang kebetulan tinggal di Malang, sempat juga menginformasikan bahwa ada tempat wisata baru di Coban Rais.  Tempat yang cantik buat foto-foto.  Okelah.  Mari kita kemon.

Jadi ketika tiba di TKP melewati lebar jalan yang pas-pasan, saya baru menyadari bahwa hari itu hari libur nasional.  Parkir mobil yang sulit dan kerumunan manusia yang membludak, sempat meluruhkan semangat jalan-jalan.  Makjang, sepagi ini sudah penuh aja.  Terus terang, saya gak begitu suka berada di satu tempat yang terlalu ramai.  Ngap jantung dibuatnya.  Udara segar yang sepatutnya bisa dinikmati manusia dalam jumlah terbatas, sekarang harus berbagi dengan ratusan orang yang menyemut di tempat ini.

Atas informasi tukang ojek, cara ternyaman untuk mencapai tujuan adalah dengan naik motor.  Jarak tempuh sekitar 1km dan jalur yang menanjak ternyata memang butuh perjuangan (((manja kumat))).  Jadi, terlepas dari mencari rejeki, sepertinya usulan tukang ojek tuh oke banget.  Dengan membayar Rp 10.000,-/motor, kita bisa nyampe ke titik tertinggi tempat wisata ini dalam 10menit sajah.

Jalannya juga cukup menantang.  Dibangun dengan conblock dengan lebar sekitar 3m, kita bisa menikmati lereng Gunung Panderman, jurang hutan di sisi kiri dan bahu gunung di sisi kanan dengan aliran sungai bening mengalir.  Antara jalan dan jurang ada yang dibatasi dengan pagar bambu.  Tapi kebanyakan sih tidak berpagar.  Kebayang dong, gimana sedapnya berada di boncengan motor dengan kecepatan tinggi seperti yang saya alami (((peecaaahhh))).

pemandangan jalur lintas sepanjang lereng gunung

Turun dari ojek, melanjutkan nawaitu untuk ke Coba Rais, saya pun gagah berani jalan kaki  mengikuti signage kecil yang terpasang.  Mendadak terhenti karena 3 teman seperjalanan tiba-tiba kalah sebelum perang.  Informasi bahwa harus menjelajah hutan sepanjang 2km kedepanpun bikin rontok mental.

Makjaaannggg.  Lah kalo akika pigi sendirian bijimana kasusnya? Hutan yang terpampang di depan mata terlihat melambai lambai di depan.  Tapi menoleh kanan kiri, laaahh kok pada bubar.  Gak cuma rombongan kami, tapi grup pejalan yang lainnya pun begitu.  “Cek uaodhe reeekk.  Opo ora rontok awak” begitu sahutan dari ibu-ibu yang tampak sudah siap dengan sepatu kets dan payung.  Saya pun mendadak ngakak.  Iseng, ngajakin bapak-bapak yang terlihat berminat melangkah lebih lanjut, eeehh malah dijawab dengan senyum   “Bojoku loh Bu, ra gelem mrono” jawabnya sambil tersenyum kecut seperti bocah-bocah yang habis diomelin emaknya berjam-jam.  Yakin bener yak kalo saya mengerti bahasa Jawa hahahahaha.  Yasudlah.  Tampaknya kasus 2km harus dijalani dengan tim pejalan yang lain.  Next time, must come back here with bloggers lebih mantab, isn’t that right?

Jalan hutan menuju Coban Rais

Menata hati yang kecewa (((taela))) karena gak bisa nyambangi Coban Rais, kami pun tolah toleh melihat sekeliling.  Memperhatikan antrian yang terlihat mengular dan mengintip dari balik pagar bambu, saya baru nyadar bahwa di balik pagar ini, ada beberapa tempat-tempat indah yang tampak dibangun untuk narsisme.  Terlihat juga sebuah bukit dengan dinding dan puncak taman bunga, mendadak hati kepincut.  Yoweslah, mari kita melok ngantri, kali aja di depan ada pembagian sembako (((gubrak))).

 

TAMAN BUNGA dan SPOT FOTO YANG CANTIK MERONA

Tidak lama berdiri, pagar bambu pun terbuka.  Tampak di sebelah kiri sebuah rumah kayu lengkap dengan peralatan elektronik di setiap sudut.  Antrianpun bersambung di tempat ini.  Tampak seorang orator terus menerus memegang toa dan memberikan instruksi.  Si Mamas yang tampak seperti pendaki ini, berulang kali mengingatkan pengunjung agar mematuhi aturan yang berlaku selama berkunjung, mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan (((ini keren banget))), dan menawarkan tiket VIP senilai Rp 100.000,-/orang beserta fasilitas yang akan didapatkan sebagai pengunjung kelas ini.

Antrian tiket

Saya mendadak clingak clinguk mencari Santi yang mengantri untuk kami.  Pengen meneriakkan, “Rocker juga manusia” aaahh….gak nyambung.  Pengen tereak ngambil tiket VIP aja, tapi nyari orangnya aja gak ketemu diantara antrian.  Kepala tertutup jilbab bikin tingkat kesulitan semakin bertambah. Laaahh mukanya aja gak keliatan  (((gubrak))).

Spot foto khusus untuk tiket VIP

Sekitar 30menit kemudian, tiket regular pun mendarat di tangan.  HTM seharga Rp 25.000,-/orang ini pun mengijinkan kami berfoto di 5 spot dengan urutan kunjungan yang sudah ditetapkan.  Good arrangement.  Dengan cara begini, antrian tidak menjalar hanya di satu titik.

Melongok ke lembaran print out HTM, kami diharuskan menjajal fasilitas Hammock terlebih dahulu (2 spot foto), ke Sepeda Gantung, Puncak Renungan, dan terakhir di Taman Bunga puncak bukit.  Dari setiap spot, kita akan mendapat jatah foto 3x, difotoin sama photographer mereka, dan kesemuanya dapat diambil soft copynya di counter tertentu yang sudah diatur oleh penyelenggara.  Yang lagi-lagi pake ngantri.

Baiklah.  Mari kita liat tantangan Hammock dulu.

Untuk mencapai titik ini, perlu usaha mendaki bukit karena lumayan tinggi.  Tapi jangan takut.  Pengelola sudah menyiapkan tapak-tapak kayu dengan ketinggian yang tidak jahanam seperti Ake Celeng di Tidore.  Ngos-ngosan sih pasti ya secara mamak yang satu ini hampir tidak pernah olah raga (((ngumpet))).

Tetiba di sindang, antrian sih tidak terlihat mengekor, taaappiiii ternyata yang baru mau naik itu adalah orang dengan nomor antrian 6.  Eeett daaahh.  Laaah saya nomernya 26 coi.  Persiapan aja setidaknya 10menit di ground, adu mulut antara Mamas penjaga dan konsumen yang seperti episode sinetron karena gentar (((gak terhitung waktunya))), manjat beberapa anak tangga di pohon yang tegang berdiri kek tutup salep, dan proses mencapai dan duduk di dalam hammock, aslik bikin saya berfikir untuk nyari nasi padang sambil gelar tiker dan piknik berjam-jam di bawah pohon sambil menunggu dipanggil.

Hebatnya, menyadari bahwa proses menunggu akan membunuh waktu, pengelola tempat wisata ini sudah menyediakan berpuluh-puluh hammock yang dipasang di pohon sekitar bukit.  Tentu saja dengan ketinggian sepinggang agar tidak merepotkan kalau terjadi hiperbola pengunjung yang takut dengan ketinggian.  Kami pun, daripada garing, akhirnya berfoto-foto ria di sini, walaupun akhirnya ngungsi juga karena nomor urutan antri gak mencapai 10 setelah 30menit kemudian.

Beranjak dari kegagalan mencoba hammock, kami pun meluncur ke spot ke-2 yaitu Sepeda Gantung.  Ada gubuk kecil disediakan di dekat fasilitas ini dan keliatan tempat duduknya sudah penuh terisi.  Yaelah, alamat ngantri maning nih.  Baru berdiri sebentar, eh, gak taunya nomor saya sudah dipanggil.  Iseng mulut nanya sama ibu-ibu yang duduk di sana. “Looh ibu antriannya nomor berapa?”.  Si ibupun menyebutkan nomor sebelum saya.  Laahh kok gak naik duluan ya? Melihat muka bingung saya, si ibu pun menjawab “Monggo duluan Mbak.  Saya sedang tarik nafas dulu.  Masih takut mau naik”.  Ketawa dalam diam mendadak membuncah.  Mo ngakak takut digeplak.

Coba ya di setiap antrian banyak emak-emak yang kek gini.  “Ayoooo siapa yang mau menata hati dulu? Monggo pinarak.  Saya mau naik duluan yaaaaa”.  Maka hidup saya pun tidak akan direpotkan oleh antrian (((catet))).

Mendapatkan keberuntung dari antrian para penata hati (baca: penakut), saya dan Mbak Yayuk tidak melepaskan kesempatan ini.  Mari kita kemon Mbak.  Masalah tetiba jejeritan di tengah-tengah tali itu urusan belakang.  Yang penting kita nekad.  Dan jadilah foto-foto keren berikut ini.

Terikat safety belt di paha kanan kiri, kemudian di pinggang yang tersambung ke tali besi di atas kepala, saya mendahului Mbak Yayuk mengayuh sepeda di atas tali besi.  Sepeda yang tidak ada ban ini pun melaju ke tengah-tengah dengan goesan tanpa tenaga.  Berhenti di titik tercantik untuk foto yang membelakangi Taman Bunga, jepretan 3x photographer ini, akan jadi kenangan yang tak terlupakan.

Selesai jeprat jepret dan melambai-lambai ala Putri Indonesia yang tereliminasi (((herannya kok gaya berdua bisa samaan gitu))), saya dibikin kaget ketika sepeda mendadak mundur.  Ealahdalah, ternyata bukannya maju mengayuh sampe ujung satunya lagi, kita malah ditarik mundur seperti pita kaset rusak.  Kami pun ngakak kegelian.  Bener yak.  Tujuannya memang buat foto-foto doang.  Padahal loh saya sudah pengen merasakan diuji nyali, dan mencoba keberanian seperti pemain sirkus.

Ya sutralah.  Setidaknya urusan sepeda lancar jaya.  Mari kita coba tantangan berikutnya yaitu Puncak Renungan.  Sampe sekarang, saya belum menemukan diskripsi yang tepat kenapa spot yang satu ini dinamakan Puncak Renungan.  Spot ini berbeda sisi dengan Hammock, tapi berada berdekatan dengan Taman Bunga.  Seperti biasa, kami pun harus antri.  Kalau tadi bisa goler-goleran menunggu, di tempat ini, semua yang mau foto harus berbaris rapih.  Dasar tukang ngoceh, di tengah garing terpanggang sinar matahari, saya pun asik komen sana sini, terutama menggoda Mamas dan Mbambak yang tampak tegang difoto dan berpose dengan gaya yang diulang-ulang.

Di bagian ini kami beruntung.  Meskipun berada di antrian panjang, proses jeprat jeprit per orang tidak lebih dari 5menit. Naahh ini nih foto-foto saya yang sempat menggetarkan peserta Asian Next Top Model (((mendadak muntaber)))

Selesai melentik-lentik bergaya bak foto model dak dapat kontrak, saya pun turun sambil cengengesan dan berceloteh sana sini.  Leherpun kering kerontang karena berkicau gak kenal waktu.  Mau meneruskan foto ke spot berikutnya mendadak pudar.  Sudah gak semangat duluan ngeliat, lagi-lagi, antrian panjang seperti rombongan semut.  Kamipun menyudahi kunjungan kami hari itu.

Kembali naik ojek menuju parkiran mobil, jalan yang tadi ketika berangkat penuh, kali ini lebih penuh lagi dengan pengunjung yang berjalan kaki.  Tanah seluas sekitar 11 hektar yang dikelola oleh Perum Perhutani ini sepertinya memang jadi lokasi wisata yang menarik untuk warga Batu, Malang, dan sekitarnya.  Dibuka pada awal Desember 2016, hanya dengan jarak 4 bulan saja, pengunjungnya membludak tak terbendung.

Dari segi pertumbuhan ekonomi, keberadaan tempat ini, setidaknya sudah mengangkat sumber usaha dan pendapatan penduduk setempat, Desa Oro Oro Ombo.  Selain menyediakan jasa ojek, ada yang berjualan makanan yang dipusatkan di taman bawah, tukang parkir, penjaga keamanan, photographer, dan lain lain, yang pastinya mendapatkan rejeki sesuai dengan ladang rejeki masing-masing.

Semoga kedepannya, Batu Flower Garden dan Coban Rais, bisa lebih berkembang, lebih cantik fisiknya, dan tentu saja dengan tetap terjaga keasrian, kebersihan dan keindahannya.  PERBANYAK TEMPAT SAMPAH.  Karena hal ini adalah salah satu poin terpenting untuk kelestarian sebuah wisata alam.

 

Sedikit tips untuk teman-teman yang ingin berkunjung:

Pertama.  Datang di hari-hari kerja sepertinya adalah pilihan terbaik untuk menghindari kemacetan ke dan dari tempat wisata.  Termasuk antrian berfoto di setiap spot yang ada.

Kedua. Di waktu kedatangan saya, pengelola sepertinya belum siap menyediakan tempat-tempat sampah.  Bak sampah yang terbuat dari karet (sisa ban), bertutup dan ditanam dengan pegangan besi, hanya tersedia di beberapa titik.  Jadi bawalah plastik untuk sampah pribadi untuk kemudian dibuang di tempat sampah tadi.

Ketiga. Mengikuti aturan alur berfoto yang sudah ditetapkan oleh penyelenggara.  Dengan disiplin mengikuti arahan ini, penumpukan manusia di titik titik tertentu dapat dihindari.

Keempat.  Ikuti arahan Mamas petugas di setiap spot.  Apa yang disampaikan tentunya demi keselamatan kita.  Berhenti beragumentasi seolah-olah kita lebih tahu akan safety point.  Ngotot gak mau ini itu justru akan melambatkan proses foto dan bakalan diomelin sama sederet orang yang sudah ngantri di belakang kita.

Kelima.  SABARLAH MENGANTRI

 

 

 

 

Facebook Comment