Meninggalkan Desa Sidomukti dengan kesan yang tak terlupakan, siang itu, sesuai rencana, perjalanan kami lanjutkan ke Candi Gedong Songo.  “Gak jauh kok Bu” begitu kata supir kami tak lama setelah beberapa menit keluar dari komplek Umbul Sido Mukti.  Secara teori, karena berada di Kecamatan yang sama, Bandungan, tentunya pernyataan ini tidak diragukan.  Apalagi si Mas yang mengemudi mobil Livina kami hari itu, memang lahir, besar, dan tinggal di Bandungan.

Lagi-lagi melewati jalan menanjak dan cukup berliku, tidak sampai 20menit kami sudah berada di parkiran depan Candi Gedong Songo.  Kedatangan kami disambut langit yang terlihat pekat dan kabut yang mulai turun.  Membayar HTM sebesar Rp 6.000,-/orang, kami melewati signage besar di halaman masuk bertuliskan CANDI GEDONG SONGO dan rumput sintetis dengan liukan jalan setapak putih dengan sebuah logo.  Dari titik ini, terlihat deretan bukit dan hutan hijau yang mengepung Desa Candi, dimana destinasi wisata ini berada.  Terlihat pohon pinus menjulang di sana-sini.  Pohon yang menjadi ciri khas jika kita berada di tempat wisata alam dengan jangkauan yang luas.

Rintik-rintik pun mulai turun ketika kami berjalan menanjak dari pintu masuk.  Berhenti dan berteduh di deretan warung yang berada tidak jauh dari gerbang depan, aneka gorengan, pop mie, dan minuman ringan, yang ditawarkan sungguh jadi godaan.  Apalagi waktu itu udara sangat mendukung.  Duuhh kalo gak inget-inget habis ngopi dan makan singkong goreng di Umbul Sido Mukti, saya musti njajal dagangan si Ibu yang tak berhenti tersenyum ke arah saya.

Belum selesai terpana melihat tempe goreng tepung yang melambai-lambai minta dibeli, lamunan saya buyar karena teguran seorang mas-mas berseragam biru yang ternyata menawarkan jasa sewa kuda.  Dari keterangannya saya dapat info bahwa harga sewa tergantung paket wisata yang diminati oleh customer atau jarak ke candi yang kita tuju dari titik saya berdiri dan BERAT BADAN yang menaiki kuda.

Saya sempat terpingkal-pingkal mendengarkan rincian terakhir.  Tapi begitu melihat rute yang terpampang di dekat istal kudanya, saya baru mengangguk-angguk mengerti.  Pantes aja. Dengan jalur yang sedemikian jauh, tentunya penumpang dengan bodi semlohai butuh kuda dengan fisik yang lebih perkasa.  Nah kuda yang dipakai untuk berat badan manusia di atas 80kg adalah kuda jantan.  Kalau pake kuda jantan, makannya juga lebih banyak.  Modalnya juga lebih gede.  Begitu ulasan si mas panjang kali lebar sampe terengah-engah.  Dan saya pun tetap ketawa ngakak.

Papan perincian rute dan penyewaan kuda. Sumber: www.semarangplus.com

Okelah.  Memutuskan untuk mengelilingi keseluruhan candi, saya pun memilih penyewaan all in (rute keliling penuh maksimal 1jam).  Tanpa tanya-tanya, saya membiarkan si Mas menebak dan menentukan kuda jenis apa yang harus saya naiki.  Gak sampai 5menit, dia mempersilahkan saya naik kuda berukuran sedang dan ternyata berjenis kelamin betina.  Hahahahaha ternyata dia tau persis kalo timbangan badan saya kira-kira tidak menembus 80kg.

Setelah belasan tahun tidak pernah menunggang kuda (dan memang gak punya kuda), di 15menit awal perjalanan, sungguh suatu siksaan buat saya.  Berada di lereng Gunung Ungaran, jalan kuda setapak yang dibuat dalam jejeran batu kali kotak-kotak, ternyata 90% adalah jalur mendaki, sementara 10% sisanya adalah jalur turunan dan mendatar.

Langkah kuda yang meliuk-liuk menyesuaikan dengan kontur tanah, membuat kita, yang duduk di atasnya, harus menyesuaikan diri.  Mengikuti instruksi si Mas yang ikut berjalan dan memegang kuda, jika jalan menanjak, badan kita condongkan ke depan.  Sementara jika jalurnya menurun, badan dimiringkan ke belakang, dengan kaki menginjak pijakan yang ditahan ke depan.  Dan sayapun sering keliru, malah melakukan kebalikannya.  Hadeeehh.  Jangan-jangan saya sudah menyiksa kuda betina ini ya.

Menuntaskan pendakian pertama dan setelah melewati sebuah hutan yang masih asri, kami berhenti di sebuah lapangan luas dengan pemandangan hutan terhampar di depan mata.  Di lapangan sebesar 1/2 lapangan bola ini, pihak pengelola menyediakan rumah-rumah kayu untuk disewa para pedagang makanan dan minuman ringan.  Berdiri di sini, kita bisa melihat 3 titik keberadaan candi dari keseluruhan candi yang ada.  Entah urutan yang keberapa, tapi dari keterangan si Mbak yang membantu memegang kamera saya, di dekat kami adalah Candi ke-3, dan 5.  Sementara yang terlihat dari kejauhan adalah Candi ke-8.

Rumah-rumah kayu yang disewakan kepada para pedagang. Berada persis di pinggir sebuah halaman rumput luas

Tapi info dari si Mbak pemotret sempat dibantah oleh Ibu pedagang dimana kami akhirnya duduk-duduk sambil menyeruput kopi.  Menurut versi beliau, pada waktu ditemukan oleh orang Belanda (belakangan saya tau namanya Sir Thomas Stamford Raffles) di tahun 1804, urutan nomor candi itu tidak baku dan baru ditemukan 7 saja.  Yang ada sekarang juga jumlah tidak 9, begitu tambahan info dari beliau.  Kalau dihitung dengan beberapa reruntuhan, mungkin klop 9 buah candi.  Tapi bisa jadi reruntuhan itu asalnya bukan dari candi.  Saya pun ngangguk-ngangguk sambil menikmati segelas kopi hitam di hadapan saya  (((ngopi lagi)))

Candi yang berada di ujung halaman rumput luas (sisi kiri deretan warung)
Candi Gedong ke-5. Berada di sisi kanan halaman rumput yang luas dan berada di sebuah bukit kecil. Jadi harus menaiki beberapa tangga untuk mencapai candi ini
Candi Gedong ke-8 yang terlihat dari kejauhan. Foto diambil dari halaman rumput luas

Penjelasan ibu warung yang tampak antusias itu, mendorong saya untuk membaca beberapa literature dan tulisan-tulisan lain mengenai rangkaian candi ini.  Dari beberapa bahan bacaan tersebut,  pada awalnya memang Raffles lah yang menemukan rangkaian 7 candi yang ada.  Beliau menamakan penemuan ini sebagai Candi Gedong Pitu (Pitu = tujuh).  Kemudian di tahun 1908-1911, seorang arkeolog Belanda, Van Stein Callenfels, menemukan 2 candi lagi dan mengganti namanya menjadi Candi Gedong Songo (Songo = sembilan).  Tapi seiring dengan berjalannya waktu, candi-candi yang merupakan warisan dari kebudayaan Hindu di jaman Raja Syailendra di abad ke-9 atau 927 Masehi ini, ada yang hancur dan tidak lagi terawat.  Sehingga tidak lagi ditemukan dalam jumlah yang utuh.  Waaahh sayang banget ya.

Hujan dan kabut yang sedari awal terlihat, kemudian tiba-tiba menghantam bumi, beberapa menit setelah saya meninggalkan lapangan rumput yang luas tadi.  Tidak siap dengan payung dan topi, dan tidak mungkin memacu kuda berlari kencang melintasi medan jalan yang semakin sulit, saya harus berpasrah diri kehujanan.  Hanya doa sungguh-sungguh yang akhirnya (mendadak) menghentikan hujan.  Sempat khawatir basah kuyup karena tidak membawa baju ganti.  Dan gak seru aja kalo harus meriang selama traveling karena kehujanan.

Hutan yang masih sangat asri dan kami lewati sembari berkuda. Tampak pohon-pohon tinggi menjulang dan kabut yang masih betah berada di daun-daun tertinggi

Melanjutkan perjalanan melalui tapak-tapak jalur kuda, pemberhentian berikutnya adalah sumber air panas yang terletak diantara lembah yang curam.  Bau belerang yang keluar dari sumber air panas yang sangat menyengat, asap mengepul yang berkejar-kejaran dengan kabut dari atas, serta rintik hujan yang mulai datang lagi, mendorong saya untuk bersegera meneruskan rute berkuda yang ternyata baru 1/2 jalan.

Sumber mata air panas yang berada di dalam kompleks Candi Gedong Songo

Melewati area ini, ternyata jalur kuda yang harus kami lalui lebih menantang.  Banyak kelokan menanjak, bahkan ada yang berada di bibir/pinggir jurang kecil.  Hutan-hutan kecil tersembunyi dengan beberapa titik sempat membuat bulu kuduk berdiri.  Kabut yang tadinya berada di atas pohon tinggi, sekarang terlihat mulai turun, terutama ketika melewati sekelompok villa dengan pintu masuk berupa kayu kecil dan tertutup pohon bambu yang menjulang.

Bener-bener tempat yang pas untuk menyepi, melupakan hiruk pikuk, lepas dari rutinitas dan semua hal yang terus membunuh waktu sehari-hari.  Gak kebayang aja kalo menjelang maghrib.  Gimana ya suasananya? Memikirkan berada sendiri terkepung kabut tebal dengan penerangan seadanya dan hanya ditemani suara jangkrik serta semua binatang-binatang kecil  (((krik krik krrriikkk)))

Di balik pepohonan tinggi yang berada di kiri saya itu adalah villa yang disewakan untuk umum. Saking tingginya pepohonan yang memagari kompleks villa, kebayang dong betapa sepinya di bagian dalam ketika malam menjelang
Jalur kuda naik turun dengan pemandangan hutan di sisi kanan dan kiri jalan

Tak ingin larut dengan kesunyian dan pikiran yang kerap berandai-andai, saya menikmati setiap langkah kuda betina yang saya naiki dan tampak masih kuat berjalan dengan irama tapak yang terjaga.  Sempat bertemu dengan beberapa penunggang yang lain.  Ada yang sendirian.  Tapi ada juga yang dalam jumlah banyak.

Dalam sebuah rombongan, saya memperhatikan ada seorang pendamping kuda berjalan sambil membawa sapu lidi.  Biasanya yang membawa sapu ini adalah pendamping yang berjalan di urutan terakhir.  Gatal mulut bertanya karena penasaran, Mas yang berjalan bersama kudu saya menjelaskan bahwa sapu lidi itu digunakan untuk menyapu/membuang kotoran kuda yang buang hajat sambil berjalan.  Aaahhh, jadi untuk urusan bersih-bersih hajat ini diserahkan kepada yang berada diurutan buncit.

Kembali membicarakan mengenai keberadaan candi yang masih berdiri kokoh saat ini, berikut adalah foto-foto yang sempat saya rekam melalui lensa kamera.  Ada beberapa foto hasil jepretan si Mbak2 tukang potret keliling, yang bersedia diberi amanah memotret dengan kamera saya. Hasilnya cukup lumayan loh untuk seukuran emak-emak tukang jepret, hidup di desa, dan memiliki ilmu photography otodidak seperti saya.

 

Berada di 1.200 meter di atas permukaan laut (1.200mdpl), apalagi dengan kondisi matahari yang enggan untuk muncul, rute garis terakhir berhasil mendekap saya dalam kesejukan dan terpaan angin dingin yang mulai muncul.  Saya menginstruksikan si Mas pendamping untuk segera menyudahi kunjungan saya, berbarengan dengan terdengarnya suara gemuruh yang datang silih berganti.  Benar saja.  Tidak lama setelah kami kembali ke istal (kandang kuda), hujan deras tetiba datang tanpa ampun.  Sayapun kembali terjebak di warung gorengan, titik dimana saya memulai perjalanan mengelilingi Candi Gedong Songo.

Istal Kuda yang berisi puluhan kuda yang siap untuk disewakan. Kalau dalam musim-musim libur, kudanya akan lebih banyak dan bisa keliling berkali-kali dalam 1hari

Buat teman-teman yang ingin berkunjung kemari, siap-siap bawa jas hujan atau payung ya.  Karena jauhnya rute yang harus ditempuh (baik berjalan kaki maupun menunggang kuda) dan minimnya tempat berteduh, adalah sangat bijak untuk membawa pelindung badan dari basah kuyup yang mengundang penyakit.  Syukur-syukur pas berada di deretan rumah kayu/warung yang berada di pinggir halaman rumput luas.  Kalo tetiba hujan dan kita berada di tengah-tengah hutan, bisa lain cerita tuh.

Kunjungan kami berakhir dengan acara berlari-lari kecil menuju parkiran.  Hujan ternyata masih betah melahap bumi walaupun tidak sederas ketika kami pulang dari perjalanan jauh mengelilingi Candi Gedong Songo.  Tapi begitu masuk mobil, hujan deras pun turun kembali tanpa ampun.  Wew. Tampaknya hujan memang tak ingin menghabisi pakaian saya yang sudah mulai anyep-anyep lembab.  Udara dingin, habis lari-lari, tersentuh AC, dah lewat tengah hari, nyatanya benar-benar situasi yang pas untuk makan kenyang.  Berkat (lagi-lagi) referensi seorang teman yang jago jajan, mobil kamipun meluncur tenang menuju Sate Pak Kempleng  yang berada di Ungaran.

 

 

 

Facebook Comment