Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor | Restaurant & Culinary, Travel, Featured | November 2026

Saya masih terkantuk-kantuk di bangku belakang saat mobil meluncur pelan ke arah Bogor. Subuh masih satu jam lagi tapi saya, suami, dan si bungsu sudah di jalan tol menuju si kota hujan, demi mengantarkan suami ke the Highland Park Resort Hotel, di mana suami akan hiking bareng rekan sekantor

Sepanjang perjalanan menuju Bogor dari Cikarang lalu lintas terasa masih begitu sunyi. Di jalur tol yang kami lewati, sebagian besar diramaikan oleh truk dan container yang mungkin mengejar waktu. Mata saya berulangkali berkedip tak nyaman saat beberapa sorot lampu jauh mobil menghujan dari arah yang berlawanan. Ya. Semenjak bola mata kanan saya mengalami kerusakan, saya sering menghindari nyetir di saat langit dalam kondisi (masih) gelap, seperti saat itu.

Morning then broken.

Selamat pagi dunia. Setelah beberapa masa terlewatkan, akhirnya saya kembali ke Bogor. Kota angkot, kota hujan, yang menyajikan berbagai kehangatan bagi setiap tamu yang menyapa.

Azan Subuh terdengar menggema disana-sini saat kami sudah berada di Bogor dan menyusur jalan kecil berliku. Jalanan padat angkot dan motor dengan lebar yang cukup tricky. Jalur inilah yang menurut GMaps akan mengarahkan kami ke the Highland Park Resort Hotel yang berada di Sukajadi, Tamansari, Bogor.

Saya mendadak membayangkan, di akhir pekan saja, jalanan ini masih padat merayap. Gimana dengan di hari kerja ya?

Sekitar hampir satu jam kemudian saya pun sampai. Saya bergegas melangkah ke salah satu titik terbuka resort karena sinar matahari pagi mulai menyembul. Sinarnya terlihat begitu menggoda untuk direkam lewat lensa kamera. Ah, betapa beruntungnya diri ini. Selain udara bersih yang menyusup ke dalam paru-paru, lingkungan indah yang disajikan oleh tempat ini, eh dapat bonus sun rise yang cerah ceria dengan kombinasi warna yang begitu menyusup istimewa ke dalam netra.

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor

Mencari Makanan Pagi

Lambung mulai bernyanyi lagu keroncong saat saya bersiap mengambil alih kemudi. Jari jemari si bungsu pun dengan lincah bergerak mencari referensi tempat asyik untuk makan pagi. Yang pasti tempat itu sudah buka dalam satu jam ke depan dan berada di lokasi yang mudah untuk dicari.

Penyusuran ini ternyata tidak gampang karena untuk menemukan tempat nongkrong yang buka sejak pukul 07.00 WIB dan dalam kondisi sudah siap dengan sederetan menu, tentunya perlu perjuangan yang tidak sedikit. Apalagi jika kita menginginkan rating tinggi untuk kualitas asupan nya.

Ternyata saya sedang begitu beruntung. Sepagian itu muncul beberapa referensi tempat sarapan yang masuk dalam kualifikasi. Tidak hanya memiliki angka yang tinggi di penilaian kualitas menu tapi juga menghadirkan tempat yang instagenik untuk melampiaskan kegemaran saya memotret.

Ada beberapa pilihan yang ditawarkan si bungsu tapi ada satu yang langsung menohok perhatian saya. Namanya Nakotiam. Lokasinya di Binamarga, Baranangsiang. Membaca kata terakhir, saya langsung bisa memetakan lokasinya. Dekat stasiun bis Baranangsiang dan dalam sebuah kawasan yang tak jauh dari keluar dan masuk tol Bogor (yang tadi Subuh saya lewati), serta di barisan alur jalan yang (dulunya) sering saya datangi. Yup. Sekawasan dengan Novotel Bogor. Tempat di mana dulu saya sering membantu beberapa client menyelenggarakan event.

Baik. Ayoklah gaskeun.

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor

Tentang Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah

Perjalanan turun ke arah dalam kota Bogor ternyata aman dan lancar. Tidak seramai saat saya datang tadi.

Mobil saya cuma sempat berhenti sekian menit karena kelakuan sebuah angkot yang ngisi bensin eceran lalu berhenti di tengah jalan. Bayangkan. Alih-alih merapat ke bahu jalan, si supir dengan cuek nya nangkring di tengah-tengah, lalu santai serasa di pantai berdiri menunggu sang penjual bensin melaksanakan tugasnya. Arus lalu lintas pun mendadak mandek dengan bunyi klakson kencang bertalu-talu. Sementara saya yang berada persis di belakang angkot, cuma bisa melotot dan mengurut dada.

Baiklah. Mari kita buang kegeraman dan gemuruh di dada yang sejatinya pengen ngejitak kepala si supir. Godaan maha tinggi yang bisa merusak suasana hari.

Mengikuti petunjuk arah yang tak henti menyala, hati terasa plong saat mulai bertemu kampus IPB yang berada di Baranangsiang. Sudah dekat berarti. Mobil sengaja saya setir perlahan agar tidak melewatkan belokan apa pun yang diarahkan GMaps. Ternyata lokasinya benar-benar mudah ditemukan. Apalagi jalan utama di mana Nakotiam Binamarga terlihat lapang dan sangat lega. Saya pun parkir dengan mudah dan merasakan keamanan serta kenyamanan saat seorang petugas berseragam menyapa ramah.

Saya ternyata bukanlah tamu pertama karena di barisan saya parkir sudah ada beberapa mobil lain dengan jumlah penumpang yang cukup banyak.

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor
Sepiring Nasi Lemak pesanan saya dan sepiring Roti Cane pesanan si bungsu

Seorang petugas mengarahkan saya dan si bungsu untuk mengunduh barcode yang terpasang di meja. Tautan yang otomatis menghubungkan kami dengan berbagai pilihan menu. Tidak banyak sajiannya tapi sebuah foto kecil mendadak begitu menggugah selera saya sepagian itu.

Nasi Lemak. Namanya terpampang dengan kode favorit pengunjung. Fotonya mengingatkan saya tentang nasi uduk dan berbagai jenis nasi lain yang biasa disajikan di pagi hari. Isinya standard seperti biasa. Nasi yang dimasak dengan santan yang dibarengi dengan ayam opor (saya memilih paha bawah), kering kacang tanah bercampur teri yang digoreng renyah, telur dan tahu bacem, dan beberapa potong sayur. Sajian ini dilengkapi dengan taburan bawang goreng yang, menurut saya, kurang banyak.

Terus terang visual nasi lemak dan teman-temannya ini terlihat biasa saja. Kuantitasnya yang bikin saya jiper karena kuota lambung saya, terutama untuk sarapan, tidaklah seheboh itu. Tapi yang membuat saya terkagum adalah piring yang digunakan. Piring keramik tebal dan berat berwarna broken brown (khas warna keramik) dengan gambar tanaman yang elok sangat. Serasi dengan piring yang digunakan untuk menyajikan Cane Kari yang dipesan si bungsu, serta dua cangkir untuk Kopi O Panas dan Teh Jahe Sereh Panas. Semuanya tebal dan berat.

Saya, terus terang, awalnya tidak menaruh harapan tinggi untuk nasi lemaknya karena saya berulangkali menikmati nasi sejenis dengan plating yang (jauh) lebih istimewa. Isiannya bahkan jauh lebih banyak dan lebih wah ketimbang yang dihidangkan oleh Nakotiam Binamarga ini. Jadi saat dua suapan pertama mampir di lidah, reaksi saya cenderung biasa saja.

Tapi setelah suapan berikutnya, saya mendadak terpaku. Wangi rempah yang sesungguhnya tidak dominan itu, terasa merangsek di indera penciuman saya. Saya seketika tergugu. Gak menyangka bahwa di pagi itu saya bisa merasakan sebuah kelezatan dari wajah hidangan yang tampil sederhana. Seperti rangkaian sebuah pepatah “Don’t judge the book by it’s cover” saya langsung terdiam dan menatap si bungsu dengan sorot mata berbinar-binar.

“Kenapa? Gak enak ya? Udah tinggalin aja. Nanti Adek yang habisin.”

Saya membalas kalimat ini dengan senyum dikulum.

Biasanya sih memang begitu. Baik si bungsu maupun si sulung, biasanya pesan menu dengan kuantitas kecil atau sedang jika melihat saya nafsuan memesan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Dan seperti biasa ujung-ujungnya saya hanya makan setengah porsi (bahkan pernah seperempatnya saja) dan sisanya dilanjutkan oleh mereka.

Biasa. Lapar mata.

Tapi kali ini beda. Sepiring nasi lemak yang bertengger di depan saya dengan plating yang biasa aja ini, ternyata menohok selera. Saya pun terperosok dalam rasa yang sebelumnya tidak saya duga. Nasinya pulen, dimasak dengan kematangan yang pas. Bumbu opor dan bacemnya juga kualitasnya memenuhi apa yang saya harapkan saat makan nasi bersantan. Potongan aneka lauk kecil-kecil itu ternyata memang saya pas buat saya. Gak kekurangan dan juga gak berlebihan.

Usai menuntaskan senyum bahagia yang barusan saya hadirkan di depan si bungsu, saya kemudian lahap mengunyah setiap sendokan. Pelan. Satu demi satu.

“Keknya enak ya? Kok tumben Bunda lahap. Sisain Adek dong.”

Saya sudah menelan setengah porsi dan memutuskan untuk berhenti karena merasakan perut mulai terasa padat. Sisanya akhirnya dinikmati si bungsu yang kemudian terpekur menghabiskan tanpa noleh-noleh lagi.

“Ih, enak banget ternyata ya. Mau pesen sepiring lagi tapi takut gak habis. Roti canenya banyak banget tadi.”

Saya tersenyum penuh arti sembari menyesap teh jahe sereh panas yang saya pesan. “Mau pesan lagi?” tawar saya. Si bungsu menggeleng pasti. Jika menimbang bagaimana dia menghabiskan roti cane yang bertumpuk banyak tadi, saya bisa paham rasa kenyang itu sudah tak bisa ditawar lagi.

Kocaknya lagi, si bungsu ternyata lupa kalau dia sempat memesan tiga buah salt breads milik jenama Hi Mondey yang kedai kecilnya ada di halaman Nakotiam Binamarga ini. Awalnya sih kami akan duduk-duduk dulu, membiarkan perut agak lowong, baru lanjut makan roti. Toh tidak sedang ada yang diburu-buru. Etapi nyatanya kami berdua tak mampu menghabiskan bahkan menyentuhnya pun tidak. Walhasil jadi bekal selama di jalan.

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor
Tiga potong salt breads dari Hi Mondey, Kopi O Panas, dan Teh Jahe Sereh Panas Nakotiam Binamarga
Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor

Bangunan Menarik Nan Cantik

Tadi, sembari menunggu pesanan datang, saya menyempatkan diri berkeliling dan memotret setiap sudut resto.

Saat datang tadi saya sempat memotret fasad resto ini. Mumpung halaman depannya belum tertutup oleh mobil yang terparkir dan biru terangnya langit masih nyaman di mata. Struktur bangunannya menarik betul. Atap depan dibuat miring 45′ sehingga area duduk di bagian dalam tidak gampang terlihat dari parkiran. Pun tidak gampang tampias jika hujan turun.

Sejenak kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya Nakotiam Binamarga ini secara keseluruhan tidak dikelilingi oleh dinding penuh. Semua bangunan setengah terbuka. Bahkan untuk dapur dan beberapa fasilitas umum. Ruang makannya berbentuk persegi panjang dan langsung bisa berinteraksi dengan dapur terbuka.

Area makan lainnya ada di sisi depan. Posisinya terbuka dengan meja dan dudukan permanen serta injakan batu koral yang menjerit-jerit saat dipijak. Area ini lebih diperuntukkan kepada para ahli hisab. Atau bisa juga sembari mengajak anak-anak menikmati kolam kecil yang ada ikannya. Pas udara lagi adem sepertinya asyik juga berlama-lama di sisi depan ini.

Keistimewaan lain dari tempat ini adalah hadirnya beberapa dekorasi ruangan yang menghadirkan aksara Jepang (Hiragana, Katakana, dan Kanji). Hadir juga lukisan-lukisan atau rangkaian tulisan sederhana yang membuat setiap dinding bangunan lebih berisi dan menarik sekaligus.

Jika punya tanah melebar, rancang bangun Nakotiam Binamarga ini bagus juga untuk ditiru. Tapi tentu saja bangunan intinya dirancang sebagai bangunan tertutup. Luas tanahnya sendiri barangkali adalah sekitar 500an m2. Atau bahkan lebih. Karena saya tidak melihat dan mengamati sisa tanah di bagian belakang.

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor
Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor

Salah Satu Sarapan Terbaik

Saya menghabiskan sisa waktu yang ada dengan menyempatkan diri berdiri di teras depan resto. Memperhatikan jalan setapak berbentuk lorong kecil dengan beberapa anak tangga. Area inilah yang mengantarkan kita masuk ke bagian dalam resto. Saya tersentak kagum dengan secuil area ini. Sederhana tapi begitu menarik hati. Apalagi kemudian dilengkapi dengan beberapa pot putih yang seakan menyatu dengan beberapa bohlam putih bulat yang terpasang di atasnya.

Saya langsung membayangkan betapa indahnya sederetan lampu ini jika serentak menyala di sore hingga malam hari.

Pengunjung mulai menyemut dan parkiran pun padat di segala sisi saat saya melangkah meninggalkan Nakotiam Binamarga ini. Untungnya mobil saya terparkir di sisi terluar jadi mudah untuk keluar.

Saya sekali lagi membatin bahwa sarapan di Nakotiam Binamarga dengan sepiring nasi lemak yang memanjakan lidah ini adalah salah satu pengalaman sarapan di luar rumah yang terbaik. Saat cerita ini saya bagikan ke suami di keesokan harinya, dia terliputi oleh rasa penasaran yang tak terelakkan.

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor
Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor
Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor

Sepiring Nasi Lemak yang Memanjakan Lidah di Nakotiam Binamarga Bogor

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Leave a Comment