Minggu, 13 Agustus 2017.  Mengejar penerbangan ke Morotai pkl. 11:55wib, kami punya banyak waktu untuk beristirahat.  Waktu tempuh dari hotel menuju airport yang hanya 30menit bener-bener bikin pagi itu jadi nyantai.  Saya, yang bukan morning person, seperti biasa mengalami gegar waktu tidur.  Selisih waktu 2jam antara WIB dan WIT gak klop dengan waktu tidur saya yang biasanya selalu di atas pkl. 23:00wib.  Tapi jadwal check out hotel pkl. 10:00wita cukup bersahabat buat mata, karena setidaknya di belahan barat, saat itu sudah pkl. 08:00wib.  Waktu dimana tubuh sudah bangun dan fungsional.  Maklum bangsawan a.k.a bangsa tangi awan.

Nabung vitamin untuk badan supaya siap menjelajah Morotai dalam beberapa jam kedepan, kami sarapan di resto hotel yang terdapat di bagian basement.  Untuk skala hotel bintang 3, sarapannya cukup buat saya.  Dan dari kemaren pas datang, gak ada kopi yang gagal untuk diminum.  Senangnya lagi, kopi yang dihidangkan adalah kopi bubuk tradisional, walaupun kopi instan juga disediakan.  Kalo sudah begini, saya biasanya memilih kopi bubuk dulu.  Jika gagal, tidak sesuai dengan selera, baru nyedu kopi cepat saji.

Buat saya, Mas Izma, dan Andri, obrolan pagi itu sembari sarapan adalah episode ke-2 dari bincang-bincang seru semalem.  Tapi kali ini jadi tambah rame karena Narendra ikut nimbrung.  Banyak hal yang saya dapat dari bapak-bapak ini.  Dari Mas Izma dan Andri saya jadi dapat cerita-cerita seru mengenai dunia bisnis perminyakan, serunya menghadapi isu human-resources, plus karakter manusia berdasarkan darah yang mengalir dalam tubuh mereka.  Dan ini bener banget.  Dari Narendra, saya jadi penasaran dengan Pulau Nias.  Ternyata keindahan wisata bahari pun tersimpan dengan manis di pulau ini.

 

MENUJU DARUBA

Sesuai jadwal, tepat pkl. 10:00wita kami berangkat menuju Bandara Sultan Babullah Ternate.  Terbang dengan Wings Air, satu-satunya armada/pesawat yang memiliki rute ke Morotai, 1x sehari.  Pesawat ini pulalah yang nantinya akan mengangkut penumpang dari Morotai ke Ternate dalam 15menit setelah mendarat.

Awalnya saya sedikit khawatir naik pesawat ATR karena terbiasa dengan pesawat bermesin jet.  Suara berisik dari baling-baling memang sedikit terasa, tapi karena terbang dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, gangguan di telinga tidak seperti yang saya kira.  Pesawat dengan daya tampung sekitar 70kursi ini pun terbang mulus menuju Bandara Frans Wattimena (yang seringkali disebut sebagai Bandara PITU).  Sebuah bandara yang mengabadikan nama dari pilot Indonesia pertama yang berasal dari Maluku.

Dikelilingi oleh hutan-hutan kecil yang tidak jauh dari bibir pantai, bandara PITU terlihat sederhana tapi cukup akomodatif untuk sebuah kabupaten dengan skala jumlah penerbangan yang masih terbatas.  Dilihat dari ukuran lahan parkir yang ada, tampaknya untuk saat ini bandara PITU peruntukannya hanya bagi pesawat-pesawat kecil.  Tapi dari Ko Sofyan yang mengantarkan kami, pemerintah setempat sedang bekerja keras membangun bandara dengan skala internasional yang cukup besar dengan 5 runway.

Dengan area kedatangan dengan ukuran kecil, pengambilan bagasipun masih dengan pelayanan manual. Menunggu di area parkir mobil yang tampak baru di overlay aspalnya, kami melihat masyarakat bisa menggunakan jasa bentor (becak motor) yang turut parkir bersamaan dengan kendaraan roda dua dan roda empat.  Geliat perekonomian yang bagus untuk dipetakan.

Untuk yang belum mengetahui dengan tepat dimana MOROTAI, berikut saya tampilkan pulau indah ini dalam peta NKRI.  Setitik kecil terlihat diantara besarnya Pulau Halmahera. Dari sini, secara geografis kita tahu bahwa Morotai masuk dalam area Halmahera Utara yang menjadi bagian dari Provinsi Maluku Utara.  Secara administratif kenegaraan, Morotai kemudian disebut sebagai KABUPATEN PULAU MOROTAI.

Selain penerbangan dari Ternate, kita juga bisa terbang dari Manado dengan jarak tempuh sekitar 2jam, dari Makassar tetapi harus transit dulu di Jakarta lalu terbang ke Ternate baru kemudian mengambil connecting flight ke Morotai.  Naik kapal lautpun bisa.  Ada kapal cepat atau kapal ferry yang secara regular berlayar dari Ternate, Tobelo dan beberapa kota lain yang berada di Pulau Halmahera.

 

APA SAJA YANG ADA DI DARUBA

30 menit selesai proses pengambilan bagasi, Ko Sofyan mengantarkan kami menuju sebuah penginapan sederhana, Ria Hotel, di Daruba.  Kota ini adalah pusat kota dan ibu kota dari Kabupaten Pulau Morotai.  Sepanjang jalan terlihat tanah-tanah luas yang terbuka untuk investasi.  Bahkan banyak juga yang sudah dipatok oleh pemiliknya.

Karena sudah terlalu siang, sesampai di Daruba dan ngedrop seluruh bawaan (koper), kami memutuskan untuk berkeliling, memulai tujuan utama untuk riset investasi.  Dengan luas sebesar 2.476km2, Morotai memiliki 5 Kecamatan, 88 desa dan 33 pulau yang menjadi milik Morotai.

Pusat perekonomian pun terlihat jelas di sini.  Sumber-sumber kebutuhan masyarakat banyak terlebih dahulu mampir dan dikelola di Daruba.  Kapal Ferry yang mengangkut kebutuhan pokok tampak regular berlayar ke Daruba.  Baik itu dari Ternate, Jailolo, dan Tobelo.

Pelabuhan Ferry di Daruba

Berkutat di sekitar Pelabuhan Ferry, kami menyaksikan banyak warung, toko, dan kegiatan-kegiatan masyarakat Daruba.  Menghabiskan waktu menikmati makan siang di sebuah warung Makassar di pinggir pelabuhan, lambung yang sempat meraung-raung dimanjakan dengan ikan laut bakar dan sayur-sayuran yang dioseng.

Untuk yang ingin berwisata di dalam kota Daruba, siap-siaplah membiasakan diri dengan menu ikan yang enak luar biasa.  Ada juga sih resto non-ikan, seperti Coto Makassar yang kami cicipi di hari terakhir.  Tapi memang tetap sebagian besar resto berjualan ikan, ayam dan menu-menu seafood.

Selama 4hari keluar masuk resto, beneran, tidak ada satu pun makanan yang gagal.  Semua enak, endes, endang gulindang tak terkira.  Buat saya, anak asal Sumatra, yang dari kecil lebih mengenal ikan sebagai menu utama hidangan di meja, berada di Daruba menjadi surga tersendiri.  Makan lahap terus (baca: rakus).  Apalagi ditemani sekelompok pria yang kalau sudah makan, bikin kita tambah semangat.

Buat kaum hawa, tolong diinget ya, selama di Daruba, gak usah nengok-nengok timbangan.  Lempar dulu itu alat pengukur berat badan.  Nikmati panganan ikan yang dijamin diolah sehat dan justru bagus untuk kebutuhan tubuh.  Karena selama berkutat dengan urusan lambung di sini, ikan diolah dengan cara dibakar.  Saya bahkan tergila-gila dengan ikan yang dibakar dengan mentega.  MasyaAllah, satu ekor rasanya gak cukup (((lapar apa rakus Buk?)))

Oia, pelengkap dari setiap hidangan, saya baru ngeh kalau setiap rumah makan seafood selalu menghidangkan dabu-dabu (sambal dabu-dabu) yang sarat akan tomat, bawang, dan irisan bawang.  Diolah mentah dan pas banget jadi teman ikan bakar.  Sambil menulis ini, mendadak air liur menetes dan pengen balik ke Daruba hahahahaha.

Jadi jangan khawatir bakal kelaparan di kota kecil ini ya.  Restoran menyebar di segala penjuru.  Kecuali warung nasi padang yang cuma 1 dan kecil banget.  Makanan pun sebagian besar halal karena mengolah hasil laut.  Pergi jalan-jalan pun gak usah khawatir nyasar karena jalan di seputaran kota tuh itu-itu aja.  Saya berani bertaruh, jika saya dilepas keliling kota naik motor, dalam 2 jam ke depan, pasti sudah hafal semua jalan di sana…eaaaa….

Untuk tempat menginap, Daruba, sejauh yang saya lihat sudah memiliki beberapa penginapan kecil dan resort yang sudah berskala nasional dan internasional.  Hotel Ria adalah salah satu contoh dari penginapan yang ada. Kemudian ada Penginapan Ampera, Marina Putri Losmen, Penginapan Sentayu, Penginapan Tonga, Penginapan Pacific Inn.  Untuk resort, telah berdiri dan beoperasi D’Aloha Resort dan Moro Madoto Resort.  Nama yang terakhir adalah resort dengan manajemen yang mendunia dengan biaya sewa menggunakan mata uang asing.

Daruba juga memiliki Museum Perang Dunia ke II, Danau Kaca yang dulu dipakai oleh Douglas Mac Arthur untuk mandi, dan Air Terjun Wayabula.  Sayangnya saya dan tim tidak punya cukup waktu untuk ke sini, dan mengabadikan tempat-tempat ini dalam bingkai kamera.

 

PANTAI DAN TANJUNG YANG BERADA DI DARUBA

Berada di satu tempat yang dikelilingi oleh wisata bahari, gak klop rasanya kalo saya tidak menghadirkan beberapa obyek wisata kelautan.  Berikut adalah beberapa pantai dan tanjung yang sempat kami datangi dan bisa menjadi referensi selama berkunjung ke Daruba.

Dehegila (Tanjung Panjang)

Tanjung ini berada di ujung selatan Daruba. Menjorok dengan batu-batu koral yang kuat dan dalam.  Batu-batu ini terlihat dalam gradasi warna yang cantik luar biasa.  Di pinggir tanjung juga tampak pohon-pohon besar yang tampaknya sudah sangat tua dan sebuah kuburan Jere (manusia aulia) yang menurut Ko Sofyan makamnya tidak pernah tersentuh air laut walaupun air sedang pasang.

 

 

Pantai Nunuhu

Berjarak 66km dari Daruba atau sekitar 60menit berkendara (mobil), Pantai Nunuhu memiliki pesona dan keindahan tersendiri.  Berada di Desa Bido, untuk mencapai tempat ini kita harus melewati beberapa desa seperti Naruba, Totodoku, Momojio, Sabatai Baro, Sabatai Tua, Sabala, Daeo, Sambiki Baro, Sambiki Tua, Sangowo, Mira, Wewemo, Buho Buho, dan Lifao.

Hanya ada signage kecil dari kayu di sisi kanan jalan sebagai pertanda dari pantai ini.  Jadi kalau sudah sudah melewati Desa Lifao (dari arah Daruba), jangan lupa untuk melambatkan lari kendaraan ya.  Jalan masuk menuju Nunuhu sedikit menanjak dan jika kita tidak hati-hati plang nama pantai agak sulit terlihat.

Jalan masuk pun masih berupa hutan kecil tapi cukup aman untuk dilalui kendaraan. Sekitar 2-3menit dari jalan raya, kita dapat parkir di bawah pepohonan kelapa, kemudian mengikuti jalan setapak menurun di hadapan.

Di tempat ini ada beberapa pondokan terpal dan batang-batang kayu yang dijadikan tempat duduk maupun meja. Bentangan pasir yang putih dan meliuk, serta air laut yang bening, menyempurnakan keindahan pantai yang tersembunyi ini.  Tampak ada 1 pulau tak berpenghuni dengan pepohonan tinggi di salah satu sudut pantai.

 

 

Pantai Army Dock

Saya melihat 2 versi keindahan dari Pantai Army Dock.  Di satu tempat, pantai ini terbalut karang yang warnanya senada dengan karang yang terbentang di Dehegila, sementara di sisi lain, saya melihat sebuah pantai dengan pasir putih berkelok indah.  Jika di Dehegila bentuknya mengantong ke arah daratan,  di Army Dock karang bergradasi ini lebih panjang melebar dalam satu garis pantai.

 

Pesisir Pantai Perdana

Dari Ko Sofyan yang memandu kami, pantai dengan bebatuan hitam pekat ini bernama Pantai Wawama.  Tapi kemudian dari sebuah akun IG wisata Morotai, saya mendapatkan informasi bahwa tempat ini bernama Pesisir Pantai Perdana.  Manapun nama yang benar, pantai ini telah menyambut kami dengan deru ombak yang cukup deras.

Dengan sedikit pasir putih setelah rimbunan pohon, saya melihat hamparan karang hitam yang langsung bersentuhan dengan air laut.  Kami berdiri di sebuah karang besar dan tertampar-tampar angin laut sore dengan cahaya matahari yang mulai meredup.

 

Pantai Pelabuhan Ferry

Tempat ini adalah obyek pantai pertama yang kami singgahi.  Sejatinya pantai ini belum begitu dikelola menjadi destinasi jalan-jalan karena tanah yang berhadapan dengan pantai ini masih belum digarap.  Lingkungan sekitar berupa hutan dengan pohon kelapa yang tinggi menjulang.  Bahkan masih ada beberapa makam yang akan dipindah agar pemda setempat dapat membangun jalan sepanjang pantai.  Beberapa hektar tanah pun sudah dipersiapkan untuk pembangunan resort yang diharapkan dapat selesai seiring dengan selesainya sarana dan prasarana transportasi.

Saya tertarik dengan beberapa tanaman rambat yang tumbuh subur di pinggir jalan.  Tak melewatkan kesempatan ini, saya pun meminta salah seorang pendamping kami untuk mengabadikan foto saya di sini.  Bisa jadi, dalam beberapa tahun dekat, tanaman ini sudah berganti dengan aspal atau bangunan-bangunan permanen untuk fasilitas wisata.

MOROTAI dan Daruba-nya, saat ini sedang bergerak cepat, nyaris berlari menantikan para investor untuk menamankan saham mereka di sini.  Dari Ko Sofyan saya mendapatkan informasi betapa tingginya minat warga negara asing, seperti Australia, Korea, Jepang, dan Cina, yang seolah berlomba-lomba menantikan kesempatan untuk mendapatkan tempat terbaik.  Harga tanah bisa berubah dalam hitungan bulan, bahkan dalam hitungan hari.

Investasi asing bagaikan dua sisi yang saling bertarung.  Membawa perkembangan ekonomi di satu pihak, tapi bisa jadi satu ancaman jika penyelenggara negara setempat tidak berhati-hati dalam urusan kepemindahan kepemilikan (terutama kepada WNA).  Semoga pemerintah daerah Kabupaten Pulau Morotai lahir dari semangat merah putih yang tetap terjaga, dengan nasionalisme yang tidak akan tergerus, dan tetap menempatkan kepentingan rakyat banyak di atas segala tujuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comment