Menyelami Eco Romance Lewat Buku “Ada Cinta di Suaka Paksi”

Photo of author

By Annie Nugraha

Menyelami Eco Romance Lewat Buku "Ada Cinta di Suaka Paksi"

Menyelami Eco Romance Lewat buku Ada Cinta di Suaka Paksi | Book Review | Mei 2026

Menghadirkan buku romansa dengan latar belakang alam dan lingkungan sepertinya jadi DNA nya Mutia Ramadhani (Mutia). Seperti halnya buku “Ada Cinta di Suaka Paksi” yang satu ini. Pendalaman karakter para tokoh pun membuat jalan ceritanya semakin kuat dari awal hingga saya tiba di bab terakhir dan menutup buku

Kenalan Dulu Sama Penulisnya

Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang” saya ingin mengajak para pembaca blog ini untuk terlebih dahulu mengenal siapa Mutia Ramadhani (Mutia). Setidaknya dari sudut pandang saya pribadi sebagai seorang rekan penulis dan penikmat sekian banyak karya tulis Mutia, baik berupa buku maupun lewat blog pribadinya.

Saya dan Mutia – ibu dari tiga orang anak ini – saling mengenal dari sebuah komunitas blogger hingga kemudian Mutia bergabung di komunitas penulis Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) yang saya rintis sejak 2023. Tapi jika dirunut kembali, sepertinya pertemanan kami sudah lebih dari lima tahun. Meski hanya on-line. Yak on-line. Karena meski sudah selama itu, kami berdua belum pernah sekali pun bertatap muka dan terlibat dalam rangkaian obrolan berlama-lama secara langsung. Tapi jangan tanya kalau sudah ngobrol lewat Whatsapp ya. Duh kalau kolom chatting bisa teriak kecapekan, mungkin kolom nya bisa termegeh-megeh saking penuhnya. Tak kuat menahan cerewet nya kami kalau sudah berbincang-bincang.

Ibu dari tiga orang anak, seorang rimbawan, alumnus Fakultas Kehutanan IPB angkatan 42 dengan spesialisasi konservasi dan ekowisata ini, punya jejak menulis yang cukup mumpuni loh. Selain pernah berprofesi sebagai jurnalis ekonomi dan lingkungan di salah satu media nasional, Mutia juga aktif sebagai blogger di tautan www.muthebogara.blog Di tautan ini Mutia tidak hanya membahas fungsi dan perannya sebagai eco blogger, tapi juga menyentuh banyak hal tentang kehidupan sehari-hari sebagai seorang ibu, ulasan drama atau film, cerita tentang perjalanan, dan masih banyak lagi.

Gaya menulis Mutia di blog tampil sejalan dengan apa yang terhidang di buku Ada Cinta di Suaka Paksi. Rinci tapi singkat, ringkas dan gak bertele-tele, dengan pilihan diksi yang jelas. Tidak pun dibuat mendayu-dayu seperti halnya sebuah novel romansa. Ungkapan kasih dan cinta pada pasangan disampaikan sopan dengan tetap menghadirkan rangkaian kalimat manis yang membuat saya ikut “terlempar” ke situasi di mana kebersamaan itu terbangun. Bisa jadi untaian kalimat straight to the point ini lahir dari pengalaman jurnalistik selama lebih dari sepuluh tahun. Sentuhan menulis di ranah non-fiksi yang sudah memperkaya sudut pandang dan karakter seorang penulis.

Sebagai salah seorang rekan blogger, saya cukup sering mampir ke blog Mutia untuk mengerjakan blog walking. Satu kegiatan di mana kami, para blogger, saling mendukung, saling membaca, saling berkomentar, di akun blog masing-masing. Sebuah ekosistem support yang valuable dan memberi arti. Bagi saya pribadi blog walking ini, mengajak saya untuk jadi lebih rajin membaca dan mengenali karakter rekan penulis, membuka wacana untuk mengenali gaya menulis orang lain, menambah diksi serta ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh rekan seprofesi. Dan tentu saja jadi (lebih) rajin menulis agar bisa berpartisipasi dengan baik di blog walking.

Kembali ke jejak karir penulisan Mutia.

Perempuan berdarah Minang ini telah menerbitkan empat buah buku solo. Sialang dan Tualang (2023), Once in A Moon (2024), dan Suaka Cerita (2025). Jadi Ada Cinta di Suaka Paksi ini adalah buku ke-4 yang dibidani oleh Mutia. Semua buku ini konsisten di ranah fiksi yang mengusung genre eco-romance, sebuah pendekatan penulisan yang memadukan kisah cinta dengan beragam isu lingkungan dan keberlanjutan.

Klop banget. Sinergi antara dua bidang yang begitu dikuasai agar bisa saling mengisi dan mendukung Mutia dengan scope pengetahuan yang berkompilasi dengan baik. Penguatan ilmu tentunya membuat Mutia bebas bereksplorasi dan mampu memberikan warna yang masih jarang dihadirkan oleh penulis lainnya.

Yok sekarang saya ulas tentang isi bukunya.

By the way, berikut adalah ulasan Mutia untuk buku solo ke-2 saya “Sepuluh Perempuan Bercerita”


Menyelami Eco Romance Lewat Buku "Ada Cinta di Suaka Paksi"

Para Tokoh dan Semburat Cinta

Novel ini menghadirkan empat tokoh yang saling terhubung sangat lekat dengan lingkaran kehidupan asmara yang saling terpaut. Lingkar pekerjaan mereka pun saling berhubungan, sama-sama di dunia konservasi dan pemeliharaan lingkungan, hingga pada akhirnya melahirkan koneksi yang begitu lekat hingga akhir cerita.

Fiora Aranyani (Fiora)

Gadis muda yang keras kepala tetapi berhati lembut ini adalah tokoh utama yang dihadirkan Mutia untuk buku Ada Cinta di Suaka Paksi. Dia bergabung sebagai seorang peneliti muda di dan untuk sebuah konservasi bersama Suaka Paksi yang didirikan dan digawangi oleh Gandi Nayara dan ibunya. Lokasi konservasi ini di Bogor dan Fiora mendampingi Gandi untuk menjalankan fungsi operasional dari Suaka Paksi.

Fiora sendiri memiliki keunikan. Dia adalah seorang vegeto-zoomensi. Sebuah kelainan genetik yang membuatnya sering dianggap aneh karena bisa berkomunikasi dengan tumbuhan dan satwa sekaligus bisa merasakan emosi hewan dan tanaman tersebut. Di Suaka Paksi lah Fiora kemudian bertemu, berkomunikasi, dan bersahabat dengan beberapa tumbuhan yang dipelihara di sana. Diantaranya adalah Dora, Sam, Budi, dan Aisha. Tanaman-tanaman inilah yang menjadi teman bicara sekaligus teman ngegosip Fiora saat dia menikmati masa-masa yang berharga saat bekerja di Suaka Paksi.

Selain urusan internal dan penelitian di Suaka Paksi, Fiora jugalah yang mendampingi Gandi untuk bekerja sama dengan Green Glamor Group. Pihak ke-3 yang membangun eco-resort yang dipimpin oleh Sangga Biru dan ibunya.

Gandi Nayara (Gandi)

Lelaki pelit bicara ini adalah seorang dokter hewan dan kepala peneliti di Suaka Paksi. Bekerja sama dengan Fiora adalah kegiatan sehari-harinya.

Keahlian Gandi adalah menangani bedah satwa liar, perilaku raptor, rehabilitasi raptor, dan penelitian veteriner. Dia juga memiliki keunikan yaitu seorang yang sangat rasional, bisa membedakan jenis raptor hanya dari bentuk sayapnya saat terbang. Gandi juga adalah orang yang teliti dan bisa memecahkan masalah yang tersulit sekalipun.

Limpahan waktu yang dia alokasi dalam memimpin Suaka Paksi, membuatnya semakin dekat dengan Fiora. Termasuk saat Suaka Paksi bergelut dengan berbagai peristiwa penting yang terjadi di Green Glamor Group.

Gandi kemudian memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Wageningen University and Research di Belanda. Keputusan ini membuat dia dan Fiora harus melewati dan merasakan long distance relationship selama empat tahun lamanya.

Sangga Biru (Sangga)

Lelaki gagah ini adalah mantan kekasih Fiora. Hubungan mereka terpaksa kandas karena Sangga tak berhasil mengatur waktu dan hati untuk memelihara cinta mereka. Mereka bertemu kembali saat Fiora dan Gandi bertandang ke kantor Green Glamor Group dalam rangka membicarakan sebuah proyek eco-resort yang dimiliki oleh perusahaan ini. Lelaki karismatik, visioner, dan ambisius ini mengajak Suaka Paksi untuk menangani pelestarian lingkungan dan semua tanaman serta hewan yang akan berada di eco-resort ini.

Lewat beberapa ulasan, saya memahami bahwa Sangga sesungguhnya ingin Fiora kembali padanya. Menjalin hubungan yang sempat terjalin tahunan yang lalu.

Adila Tamnge (Adila)

Perempuan cerdas dan ceria ini adalah seorang dokter hewan seperti halnya Gandi. Kehadirannya di Suaka Paksi adalah meneliti kehidupan raptor yang berada di bawah pengawasan Suaka Paksi. Spesialisasi nya adalah menganalisa kesehatan dan penyakit satwa liar.

Adila sesungguhnya adalah salah seorang aset penting bagi Suaka Paksi. Kepintaran dan kemampuannya menganalisa sangat mendukung setiap penelitian yang dilakukan Gandi. Tapi ternyata dibalik semua yang dilakukan oleh Adila untuk Suaka Paksi, dia menyimpan rasa untuk Gandi. Akankah usahanya ini akan berhasil?

Menyelami Eco Romance Lewat Buku "Ada Cinta di Suaka Paksi"

Cerita cinta di antara empat tokoh ini cukup menarik untuk diikuti.

Fiora datang ke Suaka Paksi dengan serangkaian luka lama yang digores oleh Sangga. Bergabung dengan Suaka Paksi membuat dirinya mengenal dan dekat dengan Gandi. Lelaki hemat bicara yang juga adalah pemilik tempat di mana Fiora bekerja. Kebersamaan, banyak tugas penelitian, serta beberapa kejadian lah yang akhirnya membuat Fiora dan Gandi mengikat rasa sebagai sepasang kekasih.

Meski komitmen mereka kuat, godaan ternyata datang dari Sangga yang ngotot ingin balikan dan memperbaiki hubungannya dengan Fiora. Sangga terus berusaha mendekatkan diri agar Fiora mau mempertimbangkan dia kembali. Lelaki anak pengusaha kaya ini tak main-main dalam usahanya mendekatkan diri kembali dengan Fiora. Tapi kemudian akhirnya menyerah setelah melihat bagaimana Fiora dan Gandi terikat begitu erat dan saling melengkapi.

Kemudian hadir Adila yang mencoba menarik perhatian Gandi. Adila bahkan bersengaja melanjutkan sekolah S2 di universitas yang sama dengan Gandi di Wageningen Belanda. Di kota inilah dia mencuri-curi waktu dan kesempatan agar bisa terus bertemu dengan kekasih Fiora ini. Ngobrol di cafe, makan bareng, sengaja bertanya sesuatu atau berdiskusi beberapa hal tentang penelitian agar Gandi mau bertemu dan menghabiskan waktu berlama-lama dengan dirinya. Dia juga mengajak Gandi menghadiri acara dengan sesama perantauan di Belanda, dan menyisipkan perhatian ke Gandi secara pribadi.

Lewat beberapa unggahan di media sosial Adila, khususnya tentang rangkaian foto kebersamaan Adila dan Gandi, Fiora pun terpancing cemburu yang tak bisa ditahan. Dugaan yang tak menyenangkan pun muncul, menggerutu sendiri, dan membuat sesak hati. Tapi Gandi, mencoba bertahan dan menjaga kepercayaan yang diberikan oleh Fiora. Karena sejatinya bertumbuh dengan orang yang kita sayangi dalam kondisi berjauhan secara fisik tentunya tidak gampang. Butuh kepercayaan, kesiapan mental, dan tentu saja komunikasi dewasa yang melahirkan ketenangan hati bagi kedua belah pihak.

Sanggupkah akhirnya Fiora dan Gandi terus bersama di tengah lelahnya mempertahankan long distance relationship?

Menyelami Eco Romance Lewat Buku "Ada Cinta di Suaka Paksi"

Pendapat Pribadi

Saya menikmati lembar demi lembar buku ini dalam empat kali periode membaca. Berusaha memahami setahap demi setahap peristiwa yang dijalani bersama oleh Fiora dan Gandi. Mulai dari saat Fiora mengetuk pintu Suaka Paksi hingga akhirnya mengabdi di tempat ini. Saya juga pelan menyelami bagaimana rasa cinta itu bertumbuh antara Fiora dan Gandi. Mulai dari rangkaian perhatian kecil, saling peduli, hingga mereka merasakan keterikatan satu sama lain. Apalagi keduanya sempat mengalami rangkaian peristiwa penting yang melibatkan mereka sebagai peneliti dan pendukung utama lahirnya eco-resort yang dimiliki oleh Green Glamour Group.

Duduk saya pun semakin tegak saat episode cinta Fiora dan Gandi beranjak pada hubungan jarak jauh. Meski memahami, cukup berat bagi Fiora untuk melepaskan Gandi untuk menimba ilmu di negara lain. Salah satu fase yang sama dan membuat dia “terpaksa” memutus hubungan dengan Sangga bertahun-tahun yang lalu. Tapi dengan Gandi, Fiora punya kepercayaan yang berbeda.

Alur percintaan yang dibangun oleh Mutia untuk buku Ada Cinta di Suaka Paksi menurut saya berhasil mengalun dengan indahnya dan melahirkan rasa penasaran akan seperti apa akhirnya hubungan asmara antara Fiora dan Gandi. Birama turun naik di antara keduanya, bikin saya gemas gak ketulungan. Malah saya sempat berharap agar Fiora menerima kembali Sangga aja. Karena keahlian Fiora sesungguhnya klop dengan usaha yang dibangun oleh Sangga. Tapi luka hati memang tidak semudah itu diobati ya. Dinding yang sudah terpaku (terpasang paku) lalu kemudian pakunya dicabut, sisa jejak pakunya tentunya tidak akan mengembalikan dindingnya sama seperti yang dulu.

Banyak cerita tentang kehidupan asmara yang berputar pada beberapa tokoh, tapi yang bikin buku Ada Cinta di Suaka Paksi ini menarik untuk disimak adalah tentang lingkungan yang terbangun serta profesi para tokohnya. Saya jadi menabung banyak pengetahuan tentang dunia eco system dan beberapa gerakan nyata dalam menjaga lingkungan. Termasuk beberapa profesi yang terlibat dalam dunia pelestarian dan pengembangan flora dan fauna. Dan itu disampaikan dengan begitu “menyenangkan” lewat untaian diksi yang ditulis oleh Mutia.

Novel 294 lembar dengan 42 bagian ini diterbitkan oleh Insan Pustaka Berkreasi (imprint dari IPB Press) dan dicetak oleh PT. Penerbit IPB Press. Sebuah jaringan yang tentunya menjejak Mutia sebagai salah seorang alumnus IPB.

Lewat Kata Pengantar yang ditulis oleh Mutia khususnya tentang dunia konservasi, alam, dan segala isinya, telah mendorong Mutia untuk mengajak publik agar lebih peduli pada kesadaran baru akan keterbelanjutan, sustainability yang menjadi jargon ilmiah dan menjadi kata kunci di setiap obrolan pun pertemuan yang membahas tentang lingkungan.

Buku Ada Cinta di Suaka Paksi membuat saya menyelami bagaimana tema tentang eco-romance cukup menarik untuk diangkat. Bukan hanya sekedar hiburan tapi juga mengajak kita agar lebih peduli dan menanamkan cinta yang besar akan lingkungan, bumi di mana tempat kita berpijak, bertumbuh, dan berkembang.

Semoga di novel ke-5, ke-6, ke-7, dan selanjutnya, Mutia akan tetap bertahan di tema eco romance atau setidaknya melahirkan banyak kisah yang seru dan menantang tentang bumi dan seisinya.

Menyelami Eco Romance Lewat Buku "Ada Cinta di Suaka Paksi"

Menyelami Eco Romance Lewat Buku "Ada Cinta di Suaka Paksi"

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Leave a Comment