Tulisan berikut adalah uraian yang disampaikan secara tertulis oleh Jajou Kesultanan Tidore, Bpk. M. Amin Faaroek.  Saya mengadaptasi apa yang beliau berikan ke dalam blog saya, agar menjadi catatan sejarah yang bisa dilihat kembali oleh kita, terutama oleh Ngofa Tidore.  Semoga menjadi peninggalan yang berharga.

 

KESULTANAN TIDORE

Pulau Tidore dengan Masyarakatnya

Tidore adalah salah satu pulau kecil namun besar dimata dunia yang terdapat digugusan kepulauan Maluku Utara, tepatnya disebelah barat pantai pulau Halmahera. Sebelum Islam merambah ke bumi Nusantara, pulau Tidore lebih dikenal sebagai “Kie Duko” yang berarti pulau yang bergunung api. Sebutan atau penamaan ini sesuai dengan kondisi topografi Tidore yang memiliki gunung bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku yang diberi nama “Kie Mar’ijang”, yang artinya gunung atau pulau yang begitu indah.

Sejak awal berdirinya kerajaan ini 502 Hijriyah atau 1108 Miladiyah hingga raja atau kolano ke-4, pusat pemerintahan kerajaan belum bisa dipastikan karena tidak ada rekaman jejak yang jelas, baru pada era Jou Kolano atau raja Balibunga, informasi mengenai pusat pemerintahan kerajaan Tidore mulai terkuak, itupun masih perdebatan. Tempat tersebut adalah Balibungan yang letaknya dibelahan pedalaman Tidore Selatan. Bukti pemukiman ada yang sampai hari ini masih tersisa reruntuhan bangunan seperti bak air wudhu dan reruntuhan fondasi mesjid. Pada tahun 1495 M naik tanhta Kolano atau Raja Ciriliyati dan menjadi penguasa kerajaan Tidore pertama yang memiliki gelar Sultan. Saat itu pusat kerajaan berada di Gamtina pedalaman Tidore Selatan.

Ketika sultan Mansur naik tahta pada tahun 1512 M. ia memindahkan ibu kota kerajaan di Rum belahan Tidore Utara yang berdekatan dengan pulau Ternate dengan limau Jore-jore ibu kota kerajaan Ternate. Posisi ibu kota kerajaan yang baru ini yang sangat dekat dengan kerajaan Ternate yang diapit dengan tanjung mafu gogo dan pulau Maitara dengan keadaan laut yang indah dan tenang dan memiliki sebuah pelabuhan yang sangat strategis yang sampai hari ini menjadi pelabuhan transportasi, pelabuhan ini diberi nama “doro hate kananga”. Dalam sejarahnya perpindahan ibu kota Kerajaan Tidore berpindah-pindah penyebab beraneka ragam seperti kondisi alam, keamanan, dan lainnya.

Kesultanan Tidore (To Adore) terdiri atas sejumlah pulau dengan pulau Tidore sebagai initinya tempat Kadaton Sultan yang dinamakan “Limau”. Pulau Tidore terletak di selatan pulau ternate, pulau dengan luasnya 5 mil persegi ini sesungguhnya merupakan sebuah gunung api yang menjulang dari permukaan laut dengan ketinggian sekitar 1730 meter. Pulau vulkanik ini merupakan bagian dari rangkaian gunung-gunung api membentuk pulau-pulau lain disekitarnya (antara lain gunung Gamalama di pulau Ternate) serta gunung-gunung api di Halmahera Utara . bentuk gunung berapi itulah yang menyebabkan pulau itu sebagian besar terdiri dari pegununangan yang menjangkau sampai ke pantai dengan wilayah pesisir yang tidak terlalu lebar yang dijadikan tempat-tempat pemukiman. Demikian sempitnya daerah pemukiman itu sehingga penduduk harus membangun dusun-dusunnya di lereng-lerang tersebut. Kurangnya sungai-sungan besar dan daerah berawa menyebabkan pohon sagu tidak dapat tumbuh banyak di pulau Tidore.

Oleh sebab itu penduduk sangat bergantung pada pulau-pulau lainnya terutama pulau Halmahera untuk bahan makanan pohon tersebut. Demikian pulau pohon kelapa tidak terlalu banyak tumbuh dan dijumpai di sini namun pohon aren banyak terdapat di sini, terutama di lereng-lereng gunung. Demikian pula kapas tumbuh di sini sehingga memungkinkan timbulnya kerajinan pemintalan benang untuk dijadikan kain (de Clerck 1890).

Dalam dokumen-dokumen VOC dan Hindia Belanda, pemukiman-pemukiman di Maluku Utara dibendakan antara negeri dan bagian-bagian yang disebut kampong. Negeri utama di di pulau Tidore adalah “Soasio” yang terletak di pantai timur pulau itu, menghadap ke bagian dari pulau Halmahera yang dalam dokumen-dokumen VOC dinamkan “pantai Barat ” yang dikuasai Tidore. Inti negeri Soasio adalah Kadaton Sultan Tidore yang dikelilingi tembok. Ciri khas Kadaton ini adalah sebuah rumah jaga pada gerbang utamanya yang juga digunakan untuk berbagai keperluan lain. Bagaimana susunan perumahan para pejabat Kadaton di Soasio sebelum dibakar oleh Belanda dengan sekutunya Ternate pada tahun 1807 yang dikenal dengan Hongi Balangenge tidak dapat diketahui reruntuhan bangunan-bangunan yang bersejarah telah berdiri rumah-rumah penduduk.

Setelah Soasio dibangun kembali pada tahun 1810 masa Sultan Zainal Abidin maka ada dua deretan rumah dengan pekarangan yang cukup luas salah satunya ketika perjuangan pembebasan Irian Barat (Papua) sekarang bangunan tersebut dipakai menjadi Radio Republik Indonesia (RRI Perjuangan Pembebasan Irian Barat). Seluruh penduduk pulau Tidore beragama Islam. Di ibu kota kerajaan (Soasio) dan setiap negerinya lainnya terdapat paling kurang sebuah masjid. Negeri Soasio terdiri dari 9 Soa yang terletak di luar tembok Kadaton, ada dua Soa adalah pendatang asing yaitu Soa Jawa dan Soa Cina, selain negeri Soasio ada 4 negeri masing-masing Mareku Laisa, Mareku Laho, Toloa dan Gurabati. Di pulau Tidore terdapat 44 kampung kecil dan besar.

Ketika pulau Tidore dibumihanguskan oleh Belanda pada 1807 dan negeri Soasio sebagai sasarannya oleh Belanda, ibu kota kerajaan dipindahkan sementara di Rum, pada saat itu kampung Rum belum punya penduduk tetap dan kampong Rum dijadikan tempat berburu rusa, kemudian ibu kota kerajaan dipindahkan lagi ke pulau Maitara terutama keluarga kadaton sehingga sampai hari ini anak keturunan dari sultan-sultan Tidore bermukim di pulau Maitara dan pulau ini diberi nama tambahan “Norwegen Island”.

Setelah ibu kota kerajaan dikembalikan ke Soasio pada tahun 1810 kampung Rum berangsur-angsur menjadi perkampungan baru dengan adanya perpindahan dari kampong lain terutama penduduk negeri negeri Toloa dan sekitarnya. Penduduk Tidore pada umumnya berkebun dan berdusun untuk mendapat bahan makanan, sekalipun sebagian bahan makanan didatangkan dari luar pulau. Selain penduduk yang bertani, ada pula yang secara khusus seperti pandai besi, nelayan, tukang batu, tukang kayu, tukang perahu, kerajinan tangan, industry rumah tangga, menjajah tembakau dan lainnya. Mengenai hubungan kekerabatan tidak dapat dicatat dengan pasti, tapi yang jelas dapat dilihat bahwa lapisan penguasa (para pemimpin) terdiri dari keluarga-keluarga tertentu. Golongan penguasa ini disebut dengan istilah “Bobato” dan dapat diartikan sebagai “pengatur” dan menyandang arti penguasa. Lapisan penguasa di Tidore ini bisa di bagi menjadi dua bagian. Pertama adalah para penguasa negeri dan kampong. Keduanya adalah penguasa kerajaan atau bangsawan. Antara keduanya terdapat pemisahan berdasarkan prinsip keturunan.

Para penguasa negeri menggunakan gelar jabatan “Sangaji” sedangkan para kepala kampong menggunakan gelar “Gimalaha” ataupun “Ngofamanyira”. Para Sangaji sebagai induk negeri dengan membawahi beberapa kampong pemukiman lainnya. Para bangsawan juga terbagi dua seperti pada gelar yang mereka gunakan, pertama mereka yang menggunakan gelar “Kaicil (pria)” yang bisa diterjemahkan sebagai anak raja, dan “Boki (wanita)”. Kelompok ini mempunyai keistimewaan karena hanya dari kalangan merekalah yang diangkat menjadi penguasa kerajaan. Mulai dari Sultan sampai pada kedudukan-kedudukan eksekutif di Kadaton (jabatan melekat) Kapita Lau, Joumayor, Kapita Ngofa, Jodati ngofa, Letnan ngofa, Imam ngofa, Hatib ngofa, ini merupakan sebutan kepangkatan dari kalangan bangsawan disebut “Joumangofa” dan ada juga yang disebut “Ngofabangsa”

Di Kesultanan Tidore pun mengenal ada penggolongan strata seperti golongan rakyat biasa, dan golongan budak, setiap golongan dapat menduduki jabatan dan kepangkatan sesuai dengan strata dan garis keturunan atau asal-usul mereka, karena di Soasio ini ada beberapa marga yang sejak terbentuknya kerajaan ini mereka sudah memegang jabatan dan kepangkatan baik di eksekutif maupun di peradilan agama, seperti Jojau/Jogugu, Tullamo, Hukum Yade, Hukum Soasio, Sadaha, Kapita Kie, Jodati-jodati, Letnan-letnan, dan Alfiris, yang tersebut di atas.

Jojau/Jogugu adalah perdana menteri, Tullamo adalah Sekretaris, Hukum Yade adalah menteri urusan luar, Hukum Soasio adalah menteri urusan dalam, Sadaha adalah penghubung protokoler, Kapita Kie adalah panglima pertahanan keamanan, Jodati dan para Letnan adalah para perwira-perwira pertahanan keamanan. Untuk jabatan peradilan agama seperti Jo Kalem (Qadhi) bisa dari golongan bangsawan dan dari golongan menengah (susu), apabila dari golongan bangsawan maka disebut Jo Qadhi Ngofa, kalau dari golongan menengah maka disebut Jo Ngofa. kalangan Imam. Begitupun dari kalangan Imam ada Imam Ngofa dari golongan bangsawan dan Hatib Ngofa pun dari golongan bangsawan, dan Hatib Ngofa pun dari golongan bangsawan.

Ada dua kategori penduduk lainnya adalah golongan budak dan golongan pedagang atau pendatang (orang asing). Lapisan budak merupakan suatu kategori tersendiri karena tidak terjalin dalam keluarga-keluarga yang menjadi penduduk negeri atau kampong. Kebanyakan para budak ini berasal dari Papua dan kepulauan Raja Ampat, tapi ada berasal juga dari pulau-pulau lainnya di Maluku. Penyediaan para budak di Kadaton dilakukan melalui institusi upeti sedangkan penduduk pada umunya dapat memperoleh dengan cara membeli atau menukar.

Kategori orang asing mencakup para pedagang atau pendatang. Mereka terpisah dari keluarga-keluarga inti dalam negeri atau kampong sekalipun melalui hubungan perkawinan ada pulau terkait dengan penduduk local. Di Tidore mereka berdiam dalam dua lingkungan khusus yaitu Soa Jawa dan Soa Cina, tampaknya penduduk yang berasal dari pulau-pulau lain di Maluku Utara juga berdiam di lingkungan atau soa itu.

Lahirnya Kesultanan Tidore.

Tentang sejarah asal usul dan terbentuknya Kesultanan Tidore dapatlah ditelusuri dari sumber-sumber sejarah tradisional yang ditemukan di kerajaan-kerajaan di Maluku Utara antara lain Sejarah Ternate yang ditulis oleh Naidah dan “Kronik Kerajaan Bacan” serta sumber-sumber sejarah yang dihasilkan oleh orang-orang Portugis dan Belanda. Selain itu hikayat-hikayat yang dijumpai sumber-sumber tertulis lainnya yang dikenal sebagai “Buku Tembaga” di Tidore sendiri dapat membantu menguak sejarah lahirnya kerajaan Kesultanan Tidore di Maluku Utara. Para penulis sejarah seperti Van der Crab dan Van Fraasen menjelaskan kisah legendaries yang terdapat pada sumber-sumber sejarah tersebut seperti telah diuraikan pada bab sebelumnya.

Dikisahkan bahwa pada 10 Muharram 470 H. atau 1980 M. pertemuan seorang tokoh legendaris dari tanah Arab (seorang Syuhada) yaitu Saiyid Jafar Sadik dengan seorang putrid pribumi ternate yang bernama Nur Syafah, telah menurunkan empat orang putra yang merupakan cikal-bakal dari para pemimpin kerajaan-kerajaan di Maluku Utara, dikisahkan bahwa ke empat putra bersaudara itu adalah:

  1. Kaicili Buka menuju Kie Besi pulau Makian, kemudian ke pulau Kasiruta dan terakhir di pulau Bacan, generasinya melahirkan penguasa-penguasa Kesultanan Bacan.
  2. Darajati menuju ke pulau Moti Tuanane dan seterusnya ke Jailolo generasinya melahirkan penguasa-penguasa Kesultanan Jailolo.
  3. Sahajati menuju ke Kie Duko pulau Tidore, generasinya melahirkan penguasa-penguasa Kesultanan Tidore.
  4. Mansur Malamo menetap di Gapi pulau Ternate generasinya melahirkan penguasa-penguasa Kesultanan Ternate.

Kedatangan Saiyid Jafar Sadik pada 10 Muharram 470 H. sekitar 1082 M. dianggap sebagai masuknya Agama Islam ke Maluku Utara, hal ini pun dikuatkan dengan cerita lisan bahwa jauh sebelum kehadiran Jafar Sadik agama Islam telah dan sudah merambah ke empat pulau ini yakni yang dibawah oleh empat orang Syekh buron pelarian dari Irak. Para-penguasa-penguasa dari empat kerajaan ini bergelar Kolano dan memerintah kerajaannya yang dikenal dengan sebutan “Boldan”. Ke empatnya memakai gelar yang sama yaitu “Kolano Maloku”.

Sahjat kemudian diangkat menjadi Kolano pertama di Tidore kemudian diakrabi dengan panggilan Muhammad Nakel yang naik tahta pada 12 Rabiul Awal 502 H. atau 1108 M. kerajaan Tidore pun mulai eksis dan pada periode Kolano ini mencetuskan system pemerintahan yaitu “Kolano se irakyat” yang artinya “Kolano bersama rakyatnya”. Sistem pemerintahan ini berjalan kurang lebih 387 tahun sampai pada masa kekuasaan Kolano Ciriliyati yang kemudian berganti nama “Jamaluddin” dan sebutan Kolano beralih ke sebutan “Sultan”. Pada masa pemerintahan Sultan Jamaluddin (1495-1512), barulah agama Islam berkembang dibawah pimpinan seorang ulama yang dating dari Mekkah yaitu Syekh Mansur. Pada periode Sultan Jamaluddin beliau merubah system pemerintahan yaitu “Kolano se ibobato Dunya se Akhirat” yang artinya “Sultan bersama staf urusan dunia/pemerintahan dan urusan akhirat/agama. Sistem ini pun berjalan kurang lebih 145 tahun yaitu sampai pada masa pemerintahan Sultan Syaifuddin.

Pergantian Sultan pun silih berganti sampai pada era kehadiran Spanyol, Portugis, belanda, Inggris, dan Jepang, dari sekian bangsa Eropa ini yang paling ikut campur tangan dalam pemilihan Sultan adalah Belanda, sehingga pada paskah wafatnya Sultan Ahmad Qawiyuddin alias Syahjuan status kerajaan telah dialihkan oleh pemerintahan colonial Belanda menjadi sebuah daerah otonom atau “swapraja” 1912.

Istana/Kadaton Kesultanan Tidore;

Sejarah Berdirinya Kadaton.

Sejarah Kadaton/Istana Sultan di Soasi tidak dapat dilepaskan dari sejarah pendirian Kadaton Kesultanan Tidore yang pertama baik di Rum, Mareku, Famtina dan Balibunga Seli. Karena Sultan atau Kolano pertama sampai pada yang ke 14 menempati beberapa Kadaton yang berada di tempat-tempat tersebut dengan nama-nama Kadaton, yaitu Kadaton Selawaring di Rum, Kadaton Bijimabunga di Mareku, Kadaton Balibunga di Balibunga Seli, dan Kadato ici di Gamtina belahan Tidore Selatan.

Ketika ibu kota kerajaan berada di Rum yang berhadapan dengan pulau Maitara dan Bandar Ternate di pulau Ternate, Kolano yang ke 9 Ciriliyati yang kemudian berganti nama Jamaluddin dengan sebutan Sultan pemerintahannya berkedudukan di Rum dengan masa kekuasaan 1495-1512. Jauh sebelum masa pemerintahan Sultan Jamaluddin telah berdiri Kadaton Selawaring dengan pelabuhan yang bernama “Hate Kananga” letak pelabuhan ini sangat strategis membuat aktifitas kerajaan makin meningkat dan dimulai perjuangan untuk mempertahankan dan memperkuat wilayah kerajaan Kesultanan Tidore.

Selanjutnya karena perkembangan politik dan perekonomian (perdagangan) pusat pemerintahan ini dipindahkan ke Mareku masa pemerintahan Sultan yang ke 10 Sultan al Mansyur. Di era Sultan Al, Mansyur hadirlah kedua bangsa eropa yaitu portugis dan Spanyol dan ibukota kerajaan ini (mareku) Ditembaki dan di bumi hanguskan oleh Gubernur portugis Antonio Galvao karena adanya koalisi dari empat kesultanan untuk melawan portugis ini dimasa era Sultan Amir Iskandar Zulkarnain yang disapa oleh portugis dengan panggilan ‘King Mir’.Ibu kota Kesultanan Kemudian dipindahkan ke toloa masa pemerintahan Sultan Saiduddin alias gorontalo 1633-1653.Sultan ini kemudian mendirikan sebuah kadaton di Toloa dan diberi nama’Kadaton Biji Nagara’.

Pemindahan pusat pemerintahan dari Rum ke Mareku kemudian kemudian ke tolao disebabkan factor politik dan keamanan menyangkut peperangan yang sering terjadi antara tidore dan ternate.Dilihat dari segi keamanan maka letak pusat pemerintahan di Rum tidak menguntungkan begitupun mareku karena berdekatan bahkan berhadapan langsung dengan Bandar ternate.Faktor inilah barangkali yang menjadi alasan bagi pemerintahan Ibu kota dan kadaton ketoloa.

Akan tetapi pusat pemerintahan di tolao pun tidak bertahan lama karena sering muncul ramalan-ramalan tentang situasi pemerintahan yang tidak stabil itu.Akhirnya di simpulkan bahwa kedudukan dan letak Ibu kota dan Kadaton di toloa itu bertentangan dengan tradisi dan kepercayaan yang berhubungan dengan pandangan kosmologi masyarakat.Menurut kepercayaan masyarakat setempat ketidak stabilan pemerintahan itu di sebabkan karena tempat dan kedudukan Sultan yang salah yaitu bahwa Ibu kota di toloa itu letaknya pada arah matahari terbenam(Disebelah barat pulau tidore.Oleh karena itu Ibu Kota Kesultanan dan Kadaton harus dipindahkan kea rah matahari terbit yaitu di sebelah timur pulau tidore.

Gagasan ini nantinya di laksanakan oleh Sultan Syaifuddin naik tahta 1657 setelah disetujui oleh para bobato dunia dan bobato akhirat se pulau tidore,Alasan perpindahan Ibu kota itupun factor alam karena toloa berhadapan langsung dengan laut lepas,dan letusan gunung mar,ijang yang menimpa toloa bukti sejarah banyak batu-batu yang berserakan di kampong toloa dan sekitarnya dimana lahar panas yang sudah membeku ditanjung tongolo Tuguiha tidore selatan adalah saksi sejarah.Pada akhirnya melalui musyawarah dan mufakat antara Sultan dan para bobato untuk memindahkan Ibu Kota Kesultanan maka Sultan melakukan perjalanan keliling pulau tidore untuk mencari lokasi yang tepat untuk dijadikan Ibu Kota Kesultanan termasuk lokasi Kadaton Baru yang dibangun pada akhirnya menemukan sebuah lokasi yang bernama limau timore dengan luas kurang lebih…..Hektar (soasio sekarang) tepatnya pada tahun 1660M.

Pada era Sultan Syaifuddin membangun sebuah kadaton yang disebut’’kadaton ijo’’yang kemudian dikenal dengan ‘fola ijo’karena rumah itu bercat hijau sampai hari ini.pergantian Sultanpun silih berganti pembangunan kadatonpun demikian dalam bilangan Ibu Kota Kesultanan seperti kadaton mare,Kadaton Gawaya,Kadaton Nyinga Magaro,Kadaton Soarora dan pada erah Sultan Nuku membangun sebuah kadaton yang diberi nama kadaton salero.Kadaton-kadaton tersebut telah rusak kecuali kadaton ijo atau fola ijo masih tetap di pelihara oleh anak keturunannya.

Sedangkan yang lainnya telah berdiri rumah-rumah penduduk dari anak cucu Sultan padahal kadaton itu dibanngun diatas tanah kerajaan bukan milik pribadi,hanya sebuah bekas kadaton yang di atas tanah tersebut dibangun sebuah Sekolah Dasar Negeri yaitu Sekolah Dasar Negeri 1 sampai yang permanen yang diberi nama kadaton kie(Istanah Negara)berusia kurang lebih satu abad 1912 rusak total akibat politik local dari anak-anak keturunan para Sultan dan campur tangan pihak colonial belanda menghapus pemerintahan Kesultanan dan diganti dengan daerah swapraja.pembangunan kadaton kie ini memakan waktu kurang lebih 50 tahun,pembangunan secara bertahap mulai dengan bangunan utama memakan waktu kurang lebih 20 tahun,kemudian pandopo dan Ngora lamo.(Tempat rapat / pertemuan Sultan dan para bobato)yang juga sebagai kantor /sekertaris kesultanan.bangunan asrama dan pos jaga pihak kompania pertahanan keamanan .Bangunan parseban tempat pihak bobato adat dan Syaraa pada saat upacara-upacara besar.bangunan rumah Tansi militer(asrama para serdadu)dari kesekian bangunan ini memakan waktu kurang lebih 50 tahun berdiri 1812 dan sampai selesai1862.

Pembangunan kadaton kie ini dengan arsitektur tidore yaitu’’Long Kie Jiko Sorabi’’yang artinya’’bangunan yang selalu ikut arah gunung dengan mengutamakan ruang tunggu’’ kata Lang Kie yaitu pengalas gunung sedangkan jiko sorabi yaitu ruang tunggu.Kadaton kie ini di kerjakan secara gotong royong oleh seluruh masyarakat Kesultanan Tidore setiap kampong diberi tugas dan dibebani sesuai dengan mata pencarian yang disebut dengan ‘’Dati’’(tanggungan)mulai dari kayu balok,kapur perekat,atap daun rumbia,pasir,bamboo,ijuk,dan sebagainya.begitupun konsumsi di atur secara bergilirdan semua kampung kebagian tugas sampai pembangunan Kadaton dan rumah-rumah yang tersebut di atas selesai.

Sambil menunggu selesainya pembangunan Kadato Kie, maka dibangun sebuah Kadaton kecil yang bangunan konstuksinya dari bamboo maka disebut Kadato Tui (Kadaton Bambu) lokasi Kadaton bamboo pun berdiri rumah penduduk dari kalangan anak cucu para peanguasa saat itu. Kadaton Kie hanya ditempati oleh tiga orang Sultan yaitu Sultan Achmad Syaifuddin, Sultan Achmad Fatahuddin dan Sultan Achmad Qawiyuddin alias Syahjuann, Sultan Achmad Qawiyuddin alias Syahjuan wafat pada 1905 maka berakhirlah pemerintahan kesultanan Tiore karena adanya campur tangan kompeni Belanda dengan alas an tidak ada tokoh yang bisa diangkat menjadi Sultan. Dengan demikian terjadi terjadi perebutan tahta dalam keluarga kerajaan mengakibatkan kekosongan pemerintahan keultanan Tidore kurang lebih 42 tahun.

Sebagai akibat dari dari kekosongan pemerintahan maka Kadaton Kie yang tadinya merupakan pusat aktifitas pemerintahan dan tempat tinggalnya Sultan mengalami nasib yang buruk hancur total. Kini di atas reruntuhan Kadaton Kie yang lama telah bahkan sudah berdiri Kadaton Kie yang baru yang permanen berdiri pada tahun 2000 masa Sultan H. Djafar Syah dan selesai pada tahun 2010. Sultan H. Djafar Syah sempat mendiami Kadaton Kie selama tiga tahun yang kemudian beliau wafat di Jakarta karena sakit.

Wilayah Kekuasaan Kesultanan Tidore.

Sekitar abad ke 15 Kesultanan Tidore dan Ternate mulai berperang untuk meluaskan wilayah kekuasaannya. Pada zaman Sultan Nuku (1797-1805) kesultanan Tidore mempunyai wilyah yang luas. Kesultanan Tidore terdiri dari :

  1. Pusat kerajaan yaitu pulau Tidore dan sekitarnya dan pulau Maitara dan pulau Mare.
  2. Daerah Kolano fat, yaitu gugusan kepulauan Raja ampat termasuk pantai-pantai barat dan utara Papua barat.
  3. Seram Timur dengan pulau-pulau Seram laut Gorong, Watubela, Tanimbar dan Kei dan kepulauan Aru, termasuk pantai selatan Papua barat.

Pulau Halmahera yang bentuknya menyerupai pulau Sulawesi, mempunyai tiga buah teluk, yaitu teluk Kao, teluk Maba, dan teluk Weda yang membagi pulau itu menjadi empat jazirah yang berlain-lainan bentuknya. Teluk Kao dan teluk Dodinga di pantai barat hanya dipisahkan oleh genting Dodinga yang amat sempit.

Pulau Gebe yang letaknya disebelah timur Halmahera tepat pada garis khatulistiwa sehingga pada awal abad ke-19 amat dikenal bukan saja oleh orang-orang Tidore dan Ternate, orang Papua, orang Makasar, orang Mindanao dan Sula, tetapi juga oleh orang-orang asing yaitu orang Belanda, Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis, dan Tionghoa. Pada masa kompeni (v.o.c. Belanda) pulau Gebe disebut-sebut dalam laporan-laporan gubernur-gubernur Ternate sebagai sarang perniagaan dan penyelundupan. Gugusan pulau-pulau Raja ampat dalam laporan-laporan Belanda bisa disebut “de papesche eilanden” atau pulau-pulau Papua. Gugusan pulau-pulau ini terdiri dari empat buahpulau besar yaitu, Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misol, masing-masing dikelilingi berpuluh puluh pulau kecil dan tebing-tebing karang. Ada juga pulau yang agak besar, seperti pulau Kafiau, dan pulau Gak. Ada bergugus-gugus seperti pulau-pulau Boo, pulau-pulau kenari, dan plau-pulau Aju. Pulau-pulau tersebut di atas dinamai Gugusan Raja Ampat, karena daerah wilayah kerajaan Tidore ini berada di bawah kuasa pemerintahan empat orang raja yakni raja Salawati, raja Waigeo, raja Waigeme, dan raja Misol. Waigama letaknya di pulau Misol juga.

Daerah yang melingkupi kedua timur Halmahera dan pulau Gebe terbagi atas empat daerah Swatranta (sama dengan otonom) masing-masing dikepalai oleh seorang Sangaji (kepala pemerintahan) yaitu sangaji Weda, Sangaji Patani, Sangaji Maba, dan Sangaji Gebe. Bilamana sesuatu daerah ketiadaan Sangajinya, maka Sultan mengangkat utusan atau Gimalaha untuk sementara waktu di daerah itu. Masing-masing sangaji dibantu pula oleh seorang Kapita Lau(Kepala Angkatan Laut) dan oleh seorang Iman dan Hatib.

Daerah yang melingkupi kepulauan Raja Ampat di perintah oleh seorang Raja,mereka biasa disebut Raja-Raja papua dan berotonomi penuh dalam daerah wilayah masing-masing.Seorang Raja baru harus dilantik dan di ambil sumpah oleh Sultan diTidore.susunan pemerintahan tiap-tiap swapraja sama dengan susunan pemerintahan Kesultanan tidore cara kecil kecilan.Masing-masing Raja ada Jojaunya,Kapita launya,adaQadhi dan Imam serta Hatibnya.Putra Raja bakal pengganti Raja bergelar Raja Muda.

Yang terbesar kuasanya di antara empat Raja itu ialah Raja Salawati daerah wilayahnya selain dari pulau salawati dan pulau batanta dengan pulau-pulau sekelilingnya meliputi juga seluruh tanah papua dan tanjung sele ke selatan dan ke timur,sampai dengan pantai utara teluk borau,dari tanjung sele ke utara dan dari tanjung sorong ke timur.

Raja Misool menguasai pantai barat papua yaitu pantai selatan teluk borau dan jajirah onin.Kepala-kepala suku bangsa papua (waktu itu mereka di sebut orang-orang papua)Takluk pada raja salawati dan misool.ada yang bergelar Raja ada yang bergelar Kolano,korano,Gimalaha dan Sangaji.mereka tidak berhubungan langsung dengan Sultan Tidore.Demikianpun semua perintah dan titah dari Sultan bagi mereka senantiasa diberikan dengan melalui Raja Salawati dan Raja Misool.

Seram timur terdiri dari beberapa negeri atau kampung dan pulau-pulau,kepala-kepalanya berotonomi penuh masing-masing bergelar Raja orang kaya atau Raja Pati.Negeri-negeri diseram besar(yang dinamai juga Nusa Ina)yang termasuk kekuasaan Kesultanan tidore yaitu kilbawar,waru,kian,kwaos,Rarakit,Guli-guli,dan kilmuru dan pulau-pulau di sebelah tenggara seram yaiu pulau kefing,pulau geser,pulau-pulau seram laut,pulau gorong,pulau watubela dan Tior.

Selama Sultan Nuku berkedudukan di waru selaku Ibu Kota Kerajaan untuk semetara waktu Semua Raja-Raja dan Orang – orang Kaya langsung menerima perintah dari Sultan di waru.Sesudah Nuku merebut Kota Tidore dan memindahkan Pusat Pemerintahnya ke Ibu Kota Soasio.Maka untuk Daerah ini di angkat beberapa orang utusan,yang memerintah suatu jangka waktu tertentu atas nama Sultan(E.Katoppo).

Utusan-utusan sedemikian biasanya dikirim juga oleh Sultan ke Daerah Raja Ampat.Selama utusan itu berada di sebuah Negeri,pemerintahan dan kebijaksanan pemerintahan diserahkan diserahkan kepadanya oleh Raja atau Sangaji yang bersangkutan.

Beberapa orang Raja dan orang Kaya yang di seram timur dan pulau-pulau keffing,Geser,Seramlaut dan gorong ,masing-masing mempunyai suatu daerah(Sosolot)semacam daerah uluran atau jajahan di pantai selatan papua barat.Raja atau orang kaya itu memegang monopoli perdagangan dan turut campur tangan dalam pengangkatan kepala suku baru di daerah Sosolot.Sosolot-sosolot itu terletak terutama di pantai barat daya dan pantai selatan papua yaitu daerah Kumawa dan kawiai dan pulau-pulau sepanjang pantai barat daya,yaitu pulau- pulau semai,Karas,Faur,Toburuasa,Adinamotote dan Aiduma.Demikianlah halnya,karena menguasai kepulauan Raja Ampat dan Seram Timur maka Sultan Tidore menguasai dan mengontrol pulau-pulau dan pantai-pantai papua barat.Kapal dan perahu orang asing seperti Belanda,Inggris,Prancis,Spanyol,Tionghoa dan juga dari Indonesia bukan kaula Negara Tidore tidak boleh berniaga dalam wilayah Kesultanan Tidore termasuk papua barat tanpa surat izin,pas atau lisensi dari Sultan.

Kewajiban Gimalaha,Sangaji dan Raja terhadap Kesultanan ialah menyediakan dan memelihara beberapa buah kora-kora untuk keperluan pertahanan dan perhubungan.berapa buah tergantung dari besarnya jumlah penduduk dan kemampuan daerah.

Sebuah negeri kecil hanya wajib menyediakan satu buah kora-kora daerah luas dan mampu,misalnya patani dan salawati dapat menyediakan suatu angkatan kora-kora yang terdiri dari sepuluh hingga dua puluh kora-kora.Angkatan kora-kora biasanya disebut’’Hongi’’Tiap-tiap Raja dan Sangaji yang berarti dalam Kerajaan Tidore mempunyai Hongi tetap.Dipelabuhan Tidore soasio tersedia juga Hongi Kerajaan,yang senantiasa siap sedia akan keluar melakukan tugas.Dalam masa peperangan dan waktu penting jumlah kora-kora tiap daerah dapat dipergandakan,dan semua kora-kora itu di kerahkan terpusat pada beberapa tempat yang sudah di tentukan menunggu perintah dari laksamana yang biasanya adalah Raja Muda.

Lain dari pada menyediakan kora-kora dan perbakalan anak buahnya,maka Raja,Sangaji,Gimalaha,Fomanyira,Orang kaya, dan Jou Hukum,sedikitnya sekali dalam dua tahun pergi k tidore mengantar upeti selatan,dan bagian yang tertentu(..%).Dan upeti sebagai hadiah kepada kapita lau dan sekertaris(Tulamo).Upeti terdiri dari sejumlah orang budak belian,bahan makanan (Sagu dan padi ladang)barang pedagang (pala,masoi,teripang,karet dan lainnya)untuk tiap-tiap daerah dengan jumlah yang tertentu,jika jumlah budak tidak dapat dipenuhi maka nilainya dalam perniagaan diganti dengan kesekian barang dagangan.

Kepala-kepala pemerintahan daerah menuntut upeti dari rakyatnya. Budak-budak biasanya diambil atau dikirim dari Papua sehingga dari bahasa Tidore disebut “Papuha Folamadoya” artinya Budak di dalam rumah. Dari kapal-kapal dan perahu asing yang masuk di pelabuhan-pelabuhan dipungut’’Bea pelabuhan’’yang disebut’’Labuhan Batu’’jumlah labuhan batu itu dipukul rata-rata 10 riggit yang harus dibayar tunai.jika nahkodanya suka,maka pelabuhan batu itu dapat dibayarnya dengan barang dagang import,kain cita,porselin,barang besi dan senjata api.Tetapi harga barang ini di tentukan oleh Raja atau Kapita Lau,kalau di soasio ditentukan oleh syahbandar.

Struktur Organisasi Pemerintahan

Struktur Pemerintahan dan Kepemimpinan.

Sultan Tidore menjalankan pemerintahan bersama-sama empat kementerian masing-masing urusan pemerintahan yang dikepalai oleh seorang patih atau Perdana Menteri dibantu oleh Kapita Lau, dan kedua Hukum, yaitu Hukum Yade dan Hukum Soasio dan para Gimalaha dan Famanyira. Ada urusan pertahanan keamanan yang dikepalai oleh Kapita Kie dan dibantu oleh para Kapita dan Jou Mayor, Letnan-letnan, Jodati-jodati para Alfiris dan Albahdir. Kemudian ada urusan Peradilan agama yang dikepalai oleh seorang Qadhi dan dibantu oleh para Imam dan Hatib serta para Modim. Sedangkan yang menangani administrasi dikepalai oleh seorang Sekretaris dan dibantu oleh Sadaha atau Protokoler, Sowohi Kie urusan Kamar Puji, sahbandar, Fanyira Ngare urusan rumah tangga Kadaton dan seorang Juru Tulis Loa dan Gimalaha Tomayou, pengaturan dan Struktur pemerintahan inipun berlaku pula pada para Sangaji-sangaji di wilayah-wilayah kerjanya masing-masing (disesuaikan).

Sultan Tidore yang berdaulat atas seluruh kerajaan, mengepalai pemerintahan. Seorang Sultan harus dipilih dari antara para pangeran atau dari anak keturunan yang diambil dari empat marga atau diistilahkan “Fola Raha”, masing-masing Fola Yade, Fola Akesahu, Fola Rum, dan Fola Bagus, setiap fola mengutuskan calonnya sesuai hasil musyawarah bersama sesama marga. Calon-calon Sultan harus memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu punya pendidikan minimal bisa tahu tulis baca baik pengetahuan umum, mapun agama, nasab yang jelas, berakhlak mulia, memahami adat istiadat dan budaya, paling tidak menjadi pola anutan masyarakat.

Selain persyaratan-persayaratan tersebut di atas, seorang calon Sultan harus bisa menunjukan kecakapannya sebagai pemimpin dan biasanya sebelumnya paling tidak menjabat Kapita Lau atau Jou Mayor (Laksamana Kerajaan).

Negeri-negeri dan kampung-kampung di pulau Tidore dan Halmahera bagian Tengah dan Timur diperintah oleh Kepala-kepala yang bergelar Sangaji, utusan, Gimalaha, dan Famanyira-famanyira. Kedudukan mereka dapat disamakan dengan kedudukan seorang Bupati walaupun daerahnya kecil dan sedikitnya bala rakyat. Famanyira itu sama seperti seorang Kepala Dusun dan dibantu dan dibantu oleh beberapa orang bawahan yang disebut Suduru atau disetarakan dengan sebutan “Mahimo” dan lainnya.

Gimalaha, utusan, dan Famanyira diangkat oleh Sultan dan jabatan ini adalah jabatan melekat secara turun-temurun, apabila ada yang berhenti atau meninggal dunia dalam bahasa Tidore dengan sebutan “ Ao se Durine Mabarasi”, jabatan secara turun-temurun atau jabatan marga.

 

Organisasi Pemerintahan.

System pemerintahan pada Kesultanan Tidore dapat dibagi atas dua bagian:

  1. Pemerintahan Pusat Kesultanan
  2. Pemerintahan Wilayah Kesultanan

Pemerintahan pusat Kesultanan adalah Pemerintah Pusat yang berkedudukan di Ibu Kota Soasio yang dikepalai oleh Sultan sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Dalam menjalankan pemerintahan (eksekutif) Sultan dibantu oleh suatu Dewan Bangsawan atau Bobato yang disebut “Pehak Raha” yang terdiri dari empat menteri utama yang menangani empat urusan penting dalam Pemerintahan mereka adalah, Pehak Bobato Adat yang menangani urusan pemerintahan. Para bobato ini dipimpin atau diketuai oleh Jojau yang dapat disamakan dengan Menteri Utama atau Perdana Menteri, anggota-anggotanya adalah:

  1. Jou Hukum-Jou Hukum (Pimpinan di Pusat Kerajaan)
  2. Sangaji-sangaji (Pimpinan di wilayah-wilayah)
  3. Gimalaha-gimalaha (Pimpinan di desa kelurahan)
  4. Famanyira-famanyira (Pimpinan di dusun-dusun)

Pehak Bobato Kompania yang menangani urusan pertahanan keamanan dipimpin oleh seorang Menteri Pertahanan Keamanan yang bergelar Kapita Kie anggota-anggotanya adalah:

  1. Jou Mayor
  2. Kapita Ngofa
  3. Letnan-letnan
  4. Alfiris-alfiris
  5. Jodati Ngofa
  6. Jodati-jodati
  7. Sarjenti-sarjenti dan Albahdir

Jabatan-jabatan tersebut adalah Para perwira,tantama,dan prajurit.

Pihak Labe ; yang menangani urusan Keagamaan peradilan Agama dan hokum dipimpin oleh seorang menteri yang bergelar ; Qadhi anggota-anggota adalah;

  1. Para Imam-imam
  2. Khatib-khatib
  3. Modim-modim
  4. Marinyo Agama

Pihak juru tulis ;Menangani urusan administrasi dan tatausaha yg diketuai oleh seorang menteri dengan Gelar Tullamo,anggota-anggotanya adalah:

  1. Sadaha atau penghubung
  2. Sowohi Kie
  3. Sowohi Cina
  4. Syahbandar
  5. Famanyira Ngare
  6. Juru Tulis Loa
  7. Gimalaha Tomayou
  8. Moto-mote atau urusan umum

Aktifitas Kesultanan Tidore berpusat di Soasio, wilayah-wilayah di luar pusat aktifitas disebut “Nyili-nyili” yang dapat disamakan dengan wilayah provinsi kerajaan. “Nyili-nyili” tersebut adalah “Nyili Seba-seba (pulau Tidore dan Halmahera bagian depan yaitu Oba Utara, Oba Tengah, dan Oba Selatan), sedangkan “Nyili lofo-lofo” meliputi Wasile Maba, Weda, Patani, Gebe. Nyili Gulu-gulu meliputi kepulauan Raja Ampat, Papua Gam Sio (Papua 9 negeri) dan Ma for Soa Raha, juga termasuk Seram Timur, Kei, dan Aru atau pulau-pulau tenggara jauh.

Pemerintah Wilayah Kesultanan.

Pemerintah diwilayah kesultanan dibagi dalam tiga wilayah pemerintahan yaitu wilayah pulau Tidore dan sekitarnya, yang dibagi pula atas tiga wilayah pemerintahan yaitu:

  1. Bobato Yade Soasio, Sangaji, se Gimalaha
  2. Bobato Nyili Gamtumdi
  3. Bobato Nyili Gamtufkange

Wilayah pulau Halmahera dan sekitarnya yang dikenal sebagai “Bobato Nyili Lofo-lofo” yang meliputi wilayah Weda, Patani, Gebe, dan Maba yang disebut Gam Range (tiga negeri). serta wilayah Oba dan Wasile. Wilayah-wilayah di Papua dikenal sebagai “Bobato Nyili Gulu-gulu” yang meliputi wilayah kepulauan Raja Ampat, wilayah Papua Gam Sio dan wilaya Mafor Soaraha.

 

Negeri / Kampung dan Para Pejabatnya.

Pemerintah diwilayah Kesultanan berpusat pada negeri-negeri dipimpin oleh para pejabatnya dengan gelar kepemimpinannya yang dapat dicatat sebagai berikut:

Bobato Yade Soasio dan Sangaji se Gimalaha. Para pejabat ini adalah kepala-kepala dan pegawai-pegawai pusat di Tidore, mereka adalah Bobato Yade Soasio yang terdiri dari:

  1. Jojau
  2. Kapita Laut
  3. Hukum Yade
  4. Hukum Soasioa
  5. Bato Ngofa
  6. Gimalaha Marsaoly
  7. Gimalaha Folaraha
  8. Sangaji Moti
  9. Gimalaha Sibu
  10. Gimalaha Matagena
  11. Gimalaha Togubu
  12. Gimalaha Kalaodi
  13. Gimalaha Soakonora
  14. Gimalaha Sinobe
  15. Gimalaha Doyado
  16. Gimalaha Soamafu
  17. Gimalaha Malige
  18. Fanyira Failuku
  19. Fanyira Yab
  20. Fanyira Sosale
  21. Fanyira Jawa
  22. Fanyira Cob0
  23. Fanyira Dikitobo
  24. Fanyira Tasuma
  25. Fanyira Tomado
  26. Fanyira Rum

 

Sangaji se Gimala terdiri dari:

  1. Sangaji Laisa Mareku
  2. Sangai Laho Mareku
  3. Gimalaha Tomalou
  4. Gimalaha Tongowai
  5. Gimalaha Mare
  6. Gimalaha Tuguiha
  7. Gimalaha Tomaidi
  8. Gimalaha Tahisa
  9. Gimalaha Gamtohe
  10. Gimalaha Tomanyili
  11. Gimalaha Banawa
  12. Gimalaha Dokiri

 

Bobato Nyili Gamtomdi dan Nyili Gamtufkange terdiri dari :

  1. Gimalaha Seli Fanyira Tambula
  2. Fanyira Topo Fanyira Ngosi
  3. Fanyira Taran Fanyira Tobaru
  4. Fanyira Laga-laga Fanyira Goto
  5. Fanyira Tomawonge Fanyira Sautu
  6. Fanyira Tofojio Fanyira Tuguwaji
  7. Fanyira Gurabati Fanyira Tomagoba.

 

Nyili Gamtumdi (wilayah tujuh negeri) dari nomor 1 sampai dengan 7. Sedangkan Nyili Gamtufkange (wilayah delapan negeri) dari nomor 8 sampai dengan 15. Bobato Nyili Seba-seba (perangkat adat wilayah dekat) dan Nyili Lofo-lofo (perangkat adat wilayah tengah). Nyili seba-seba berada di pulau Halmaherabagian depan yaitu dari desa Kaiyasa sampai dengan desa Nuku, sedangkan Nyili Lofo-lofo yaitu dipulau Halmahera bagian Tengah yatu Weda, Patani, Gebe, Maba, dan Wasile.

Kini Kabupaten Halmahera Tengah dan Kabupaten Halmahera Timur juga memiliki perangkat adat seperti Sangaji yang setara dengan Gubernur, Gimalaha-gimalaha setara dengan Lurah atau Kepala Desa. Fanyira-fanyira setara dengan Kepala Dusun, Kapita-kapita para Imam-imam, Khatib-khatib, dan Modim. Untuk wilyah Weda, Patani, dan Maba diserahi juga jabatan Kapita Lau (panglima armada laut) yaitu Kapita Lau Weda, Kapita Lau Patani, dan Kapita Lau Maba. Nyili Gulu-gulu (perangkat adat di wilayah jauh). Yaitu kepulauan Raja Ampat, Papua 9 negeri, Seram, Gorong, kei, dan Tanimbar dan negeri-negeri kecil lainnya. Di kepulauan Raja Ampat pun memperoleh kedudukan Sangaji dan Kapita Lau seperti Kapita Lau Salawati, Kapita Lau Waigama, Kapita Lau Misol, dan Kapita Lau Waigeo. Hanya saja kepulaun Raja Ampat memiliki jabatan raja dengan sebutan Raja Salawati, Raja Waigeo, Raja Misol, dan Raja Waigama, juga memiliki jabatan-jabatan lainnya seperti utusan-utusan yaitu pembantu Sangaji.

 

Struktur dan Organisasi Pemerintahan Kesultanan

Struktur Pemerintahan dan Kepemimpinan

Sultan menjalankan pemerintahan bersama sama dengan sebuah dewan wazir dan sebuah majelis kerajaan dibantu oleh suatu kepaniteraan yang dikepalai oleh seorang sekretaris dewan wazir terdiri dari:

  1. Jojau/Jogugu, Pati atau Perdana Menteri
  2. Kapita Lau, Panglima angkatan laut dan Marinyo Lau kepala urusan kelautan
  3. Hokum Yade dan Hukum Soasio, kedua pejabat ini secara bergantian menurut gilirannya mengepalai urusan dalam negeri dan peradilan.

Majelis kerajaan yang terdiri dari 31 orang anggota yang terdiri dari 27 Bobato dan 4 orang wazir bersama-sama dengan Sultan berwenang menetapkan kebijaksanaan umum pemerintahan, pengangkatan dan pemberhentian raja-raja (Raja Ampat) dan para sangaji-sangaji dan perangkat lainnya. Juga menyatakan pernyataan perang maupun perdamaian. Majelis pengadilan yang disebut Pengadilan Adat yang diketuai oleh Jojau atau Pati Perdana Menteri dan dibantu oleh Johukum Yade dan Johukum Soasio, para Gimalaha dan Imam serta seorang panitera/sekretaris dan dibantu oleh Marinyo Kie sebagai urusan umum.

Sultan Tidore yang berdaulat atas seluruh kerajaan mengepalai pemerintahan. Sultan dipilih dari antara pangeran-pangeran dari keturunan yang dikenal dengan sebutan “Fola Raha” atau empat marga dengan mekanisme yang diatur dalam hukum adat secara demokrasi karena kesultanan Tidore tidak menganut system putra mahkota. Calon sultan terpilih dikukuhkan secara hakikat oleh Sowohi tertentu yang kemudian diumumkan kepada masyarakat lewat Bobato pemegang syariat yang kemudian bersama masyarakat membentuk panitia penobatan.

Proses penobatan Sultan secara hakikat akan diuraikan pada lembaran lain. Negeri-negeri dan kampung-kampung di pulau Tidore dan Halmahera Tengah dan Halmahera Timur diperintah oleh kepala-kepala yang bergelar Sangaji, Gimalaha, Famanyira, Hukum. Jabatan Jou Hukum ini hanya terdapat di Desa Pintatu Halmahera Timur. Kedudukan para kepala-kepala ini dapat disamakan dengan sekarang yaitu Bupati walaupun daerahnya kecil dan bilangan rakyat (bala rakyat se ngosa-ngosa) sedikit. Para Sangaji, Gimalaha, Jouhukum dan Famanyira diangkat langsung oleh Sultan, jabatan-jabatan tersebut adalah jabatan melekat, jadi apabila ada yang mangkat maka harus dicari dari garis keturunan bapak atau laki-laki.

 

Organisasi Pemerintahan

Sistem pemerintahan pada Kesultanan Tidore dapat dibagi atas dua bahagian:

  1. Pemerintahan pusat Kesultanan
  2. Pemerintahan wilayah Kesultanan

 

Pemerintahan pusat Kesultanan

Pemerintahan pusat Kesultanan adalah pemerintah pusat yang berkedudukan di ibu kota Soasio Tidore yang dikepalai oleh Sultan sebagai kepala Negara dan kepala pemerintahan. Dalam menjalankan pemerintahan (eksekutf) Sultan dibantu oleh suatu dewan bangsawan atau Bobato yang disebut “Pehak Raha” yang terdiri dari empat menteri utama yang menangani empat urusan penting dalam pemerintahan.

 

Tata Cara Pemilihan dan Pengangkatan Sultan Tidore

Pada era Kolano atau Raja Pemilihan dan pengangkatan disesuaikan dengan kondisi saat itu, dimana masyarakat seanteru pulau Tidore belum mengenal dan memahami tulis baca yang sesungguhnya, apa lagi dengan menggunakan huruf arab gundul.

Dimasa kekuasaan kolano Adkur Madero alias Madero Nakel yang kemudian berganti nama Muhammad Nakel dan di akrabi dengan panggilan Kolano Syahjati menggunakan sistem pemerintahan “Kolano Se irakyat” artinya Kolano bersama Rakyat, Kolano atau Raja belum memiliki staf atau pembantu.

Selang beberapa tahun kemudian datang para pedagang dari melayu, Arab, Pakistan dan Cina maka mulai sedikit membawa perubahan, menyusul lagi datang para ulama-ulama dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Makassar membawa dampak yang lebih baik lagi, peradaban masyarakat semakin berubah dan membaik.

Memasuki abad XV dengan kehadiran dua bangsa Eropa yaitu Portugis di Ternate dan Spanyol di Tidore maka terjadi pergeseran yang sangat mendasar dimana masyarakat Tidore berinteraksi langsung dengan orang-orang pendatang terutama dalam dunia perdagangan, memasuki abad ke XVI perubahan secara besar-basaran di era inilah terjadi perubahan dalam pemilihan dan pengangkatan Sultan.

Ketika Kaicil Golofino alias Syaifuddin naik tahta 1657 di Toloa yang kemudian melakukan pemindahan Ibukota Kesultanan dari Toloa ke Limau Tidore dan untuk menghindari perebutan kursi Sultan Syaifuddin membagi marga anak cucu keturunan menjadi empat bagian dengan sebutan Jou Folaraha yaitu Fola Akesahu, Fola Yade, Fola Rum, dan Fola Bagus ke empat fola itu masih dalam satu keturunan barangkali Syaifuddin melihat dari bakat dan ketrampilan ke empat puteranya itu masing-masing membawahi, Mansyur membawahi Fola akesahu, Fulad membawahi Fola Yade, Hamjah Facruddin membawahi Fola Rum dan Bagus membawahi Fola Bagus.

Keempat putera ini kemudian melahirkan anak-anak keturunan yang kemudian cikal bakal menjadi pimpinan di Kesultanan Tidore melalui mekanisme yang di atur berdasarkan hukum adat dengan proses sebagai berikut:

  • Setiap marga melakukan pertemuan interen marga tanpa interfensi dari siapapun
  • Setiap marga memasuki nama-nama calon dalam sampul tertutup dan di serahkan kepada kepala bangsa perwakilan dari empat marga.
  • Keempat marga berkumpul di rumah tua yang di sebut Fola Ijo dengan menggunakan pakaian adat dan dihadiri oleh empat utusan masing-masing Failuku, Kalaodi, Togubu dan Tumcala

Keempat marga ini lengkap dengan segala peralatan kebesaran bersama para anak cucu Fola Raha membawa nama-nama calon Sultan yang diletakkan di atas baki dengan penutup yang bernama “sabutanga”.

Prosesi mengantar nama-nama calon Sultan diawali dengan ritual khusus yang dilakukan oleh tetua marga, dalam perjalanan menuju ke Kadaton Kie dalam suasana hening tanpa ada pembicaraan berjalan penuh dengan tawaddu, perwakilan empat marga adat yaitu Failuku, Kalaodi, Togubu dan Tumcala mengawal dengan perjalanan yang sakral (mahluk gaib ikut mengawal prosesi ini) setibanya di Kadaton Kie para bobato adat dan syara telah siap dengan segala kebesaran.

Di Pandopo Kadaton di adakan serah terima baki yang berisi nama-nama calon Sultan, baki yang di lengkapi dengan tempat sirih pinang di bawah masuk ke kamar puji memohon restu dan petunjuk di hadapan Mahkota Sultan untuk beberapa saat kemudian pembacaan doa khusus di kamar puji, selanjutnya baki dengan berisi nama-nama calon dibawah dan di antar ke Kadato Karnono, Kadaton Gimalaha Tomayou, Nyili Gamtufkange.

Pihak     keluarga Fola Raha anak cucu keturunan tidak ikut serta yang membawa nama-nama calon tersebut dari perwakilan dan merupakan tugas pokok yaitu Fomanyira Failuku, Gimalaha Kalaodi, Gimalaha Togubu dan Famanyira Tumcala. Tugas selajutnya adalah tugas dari bobato karnono atau bobato hakekat karena aturan sudah di atur, ritual sudah di atur dengan istilah “Fati Fara se Filang“ kiasannya Batas, pisah dan saling memberi yaitu batas tugas antara syariat dan hakekat artinya Bobato Syariat tidak boleh sama sekali mencampuri urusan Bobato Hakekat begitupun sebaliknya.

Masing-masing bobato tahu akan tugasnya dan memahami fungsinya masing-masing. Prosesi dikamar gelap adalah tugas bobato hakikat dengan memohon petunjuk dari Sang Khalik, para calon-calon Sultan hanya menunggu siapa yang paling pantas menduduki kursi Khalifat, dari sekian nama-nama calon pupus satu persatu alam pun ikut berbicara di saat prosesi akhir.

Guntur petir dan kilat menyapa Negeri yang bernama Limau Soasio maka muncullah sosok dengan sebutan Ngofa Ngona Ngofa Khalifat kiasannya “engkaulah anak kami, dan engkaulah anak khalifat”. Di saat yang sakral itu petugas langsung menjemput sang khalifat dimana anda tinggal dan berdiam, malam itu saja anda di hadirkan langsung ke kamar puji dan dipadankan dengan sosok yang gaib itu Wallahu Alam Bissawab. Hanya kebesaran Allah jualah di atas segalanya.

Suasana yang penuh dengan kesakralan di liputi dengan rasa haru tetesan air mata tak terasa isak tangis dan haru menyelimuti suasana di malam itu, alam pun mulai bersahabat cerah alam sekitarnya. Pada besok hari nama Sultan pun di umumkan ke khalayak ramai. Bahwa secara hakikat telah selesai diproses tinggal secara syariat, maka tugas para bobato hakikat selesai, dan bergeser ke tugas Bobato Syariat acara penobatan di Kadaton Kie dengan pembentukkan panitia dengan melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat.

Mekanisme dan prosesi pemilihan dan pengangkatan Sultan Tidore secara demokrasi baru di mulai pada era Sultan Syaifuddin pada tahun 1669 M. Kemudian di tetapkan dengan keputusan Dewan Kementerian Pejabat-pejabat tinggi Kesultanan sekaligus pengesahan dan plakat Sultan yang tersebut “ Khalifattul Mukarram Saiyidissaqalaini Alaa Jabalit Tidore “ yang kiasannya; Yang Mulia Aku Bertahta Diatas Singgasana Memerintah Bala Rakyatku Dua Bangsa Yaitu Jin dan Manusia. perlu di perjelas bahwa kata “Saqalaeni” itu bersifat jamak dua bangsa yaitu jin dan manusia.

Ritual salai jin masih di pertahankan di Tidore sebuah upacara ritual sebagai ungkapan syukur dan terima kasih atas kebersamaan selama ini. Falsafah di Negeri Tidore “Madofolo Zikirullah, Madarifah Papa Se Tete “ Berpegang kepada Allah, dan bersandar kepada Sang Leluhur “

Pemilihan dan pengangkatan para kolano dan raja di sesuai dengan kondisi pada saat itu, pemelihan prosesi secara demokrasi baru pada era Sultan Syaifuddin, sehingga Tidore tidak menggunakan sistem putera mahkota, walaupun calon-calon Sultan dari anak keturunan para Sultan – Sultan terdahulu tetapi tidak menggunakan sistem putera mahkota, karena melalui proses sebagaimana di atur dengan aturan sebagaimana tersebut sehingga tidak ada rasa kecemburuan antara sesama anak keturunan.

Tetapi tidak di pungkiri suka dan tidak suka itu selalu ada, namun tidak mempengaruhi jalannya roda pemerintahan adat dan budaya. Pergantian Sultan bila yang mana Yang Mulia mangkat tenggang waktu pelaksana tugas adalah Jojau atau Perdana Menteri sekaligus mengadakan persiapan-persiapan pemilihan Sultan.

Demikian proses pemelihan dan pengangkatan Sultan Tidore,tanpa ada rekayasa dari siapapun, didahului pengangkatan secara hakikat (Alam Sihir/Gaib ) dan kemudian secara Syariat (Alam Nyata ) itulah Tidore.

 

Kilas Balik Jejak Kerajaan Tidore

Tugas dan merawat sejarah dan masa lalu adalah sebuah cara kita menikmati kemanusiaan sebab masa lalu dan sejarah adalah bagian dari serangkaian perbuatan kebudayaan. Menghadirkan masa lalu dengan cara member makna kekinian, adalah sebagian dari tugas sejarah.

Keperkasaan dari kerajaan kesultanan Tidore di Nusantara yang menjadi tugas sejarah di masa itu, hendaklah menjadi inspirasi bagi kita hari ini dalam mengarifi kehidupan yang kian kompleks pada hari ini dan masa depan dan akan datang. Sejarah adalah guru kehidupan, orang yang lupa atau buta akan sejarah maka cenderung tak memahami masa lalu, dan tak mampu mengelola masa kini untuk mendesain masa depan masyarakat. Dan sejarah bukanlah sebuah upaya untuk mengenang romantisme semata, ia adalah sebuah refleksi akan perkembangan kebudayaan.

Kota Tidore yang juga adalah sebuah kerajaan Islam tidaklah hadir secara kebutulan, ia bukanlah nama sebuah kota yang dipungut dari berlalunya sebuah proses peradaban.Secara politis kota ini dinyatakan sebagai kota kepulauan lewat Undang-Undang No. 11 Tahun 2003 oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun secara historis kota Tidore telah memiliki nama yang cukup harum, seharum cengkeh, pala, dan kayu manis di mata dunia. Ketiga komoditi ini yang membuat bangsa Eropa harus bertarung nyawa untuk mendapatkan pulau yang bernama Tidore.

Catatan Antonio Galvao, salah seorang gubernur Polrtugis yang humanis kepribadiaannya yang sangat baik, begitupun sejarahwan Valentin berkembangsaan Belanda dan Empu Prapanca dalam Negara Kartagama menulis bahwa jauh di unjung timur Indonesia, telah berdaulat empat pusat kekuasaan yang disebut “Maluku Kie Raha”, Tidore salah satunya.

Menyebut Tidore tidaklah berarti hanya terbatas pada sebuah nama tanpa makna, sebaliknya Tidore adalah nama yang kepadanya melekat sejarah para momole, kapita, bahkan sampai pada perjuangan para kolano, ulama dan politisi, bersama rakyat dalam menentang syahwat ekspasionisme Eropa yang sengaja datang kemudian membawa pulang rempah-rempah ke masing-masing Negara asalnya.

Tidak itu saja, dolabololo dan syair yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits Rasulullah sangat terpatri di hati sanubari rakyat sebagai pedoman hidup masyarakat. Sistem pemerintahan yang menempatkan bobato dunia dan akhirat, para sangaji dan gimalaha adalah fakta yang menunjukkan betapa kokohnya sebuah negeri yang dikenal bernama Tidore, sebagai bagian dari negerinya para kolano di Jazirah Almaluktulmulukiyah. Dengan demikian muatan antologis dari kata Tidore pada kenyataannya sarat dengan makna sejarah, budaya serta citra sebuah nama yang memiliki asal-muasal.

Sebelum Islam merambah ke Nusantara dan nama Tidore-pun belum tampil dan muncul di panggung sejarah, nama Duko muncul lebih awal untuk lokasi yang letaknya agak ke Barat mengarah ke pegunungan dari kelurahan Rum sekarang. Bermula dari sebuah pemukiman tua yang diberi nama oleh penduduk setempat sebagai perkampungan “Duko”, yang kemudian diakrabi dengan sebutan Kie Duko yang artinya pulau yang bergunung api. Pulau ini pernah mengalami guncangan vulkanik dengan meletusnya gunung Mar’ijang. Puncak gunung ini diberi nama Mar’ijang yang artinya “puncak yang begitu indah”. Bukti sejarah letusan gunung ini adalah lahar panas yang sudah membeku ditanjung Tongolo Kelurahan Tuguiha Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan.

Penduduk negeri ini hidup terpencar-pencar dan berkelompok, setiap kelompok dikepalai oleh seorang yang tangkas dan pemberani yang di kenal dengan sebutan “Momole”. Para momole kemudian memperlihatkan kemampuan dan kebolehannya dalam memperluas wilayah tanah pertanian yang cikal-bakal menjadi daerah kekuasaannya. Para momole ini kemudian diangkat oleh sekelompok komunitas masyarakat sebagai pimpinan. Satu hal yang perlu dicermati, sebenarnya negeri-negeri di Nusantara ini jauh sebelumnya telah berpengalaman hidup berbangsa dan bernegara.

Pada era kekolanoaan/kerajaan di Nusantara sudah mengenal sistem ketatanegaraan walaupun masih sangat sederhana. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya manuskrip tentang aturan bernegara yang tertulis berdasarkan penuturan sejarah. Sistem ketatanegaraan yang digunakan relative bias menjawab kebutuhan para stekholder pada masa itu. Menurut Van Volenhoven menyatakan sebagaimana yang dikutip oleh M. Hamid Attamimi mengatakan bahwa pada tahun 1596 ketika kapal yang berbendera Belanda yang pertama memasuki perariran Nusantara (kepulauan Indonesia) wilayah ini secara hokum ketatanegaraan bukanlah wilayah yang liar dan kosong, di sanalah terdapat setumpuk lembaga-lembaga pengaturan dan kewibawaan, meliputi pemerintahan oleh atau terhadap suku-suku, desa-desa, persatuan desa, republik-republik, dan kerajaan-kerajaan, bahwa Van Volenhoven menegaskan ketatanegaraan tersebut tetap bersifat pribumi meskipun pengaruh Hindu dan Islam pada kehidupan rakyat tetap berlangsung. Bahkan apabila kita perhatikan jauh sebelum itupun, yakni pada zaman megalitikum organisasi masyarakat Indonesia juga sudah teratur walaupun masih sangat sederhana.

Berdasarkan cerita lisan bahwa dipenghujung abad ke-8 takdir di atas segalanya hadirlah seorang anak cucu bani Adam dari atas angin menuju ke bawah angin yaitu Syech Yakub, pelarian dari Iraq menabur benih Islam di Kie Duko Tidore dan Kie Besi Makian dan pada akhirnya berkubur sepi di puncak gunung Kie Besi Makian.

Tidore dimaknai dari rangkaian kata (To dan Adore), to adore yang artinya “aku telah sampai”. Dikisahkan bahwa para momole-momole kie duko bersepakat untuk mengadakan pertemuan dibukit Togorebo Topo pada purnama 14 malam bulan Rabi’ulawal membicarakan dan mencari figur pemimpin Kie Duko, maka dengan gesit para momole memperlihatkan kebolehannya masing-masing secara serentak tiba ditempat pertemuan yang telah ditentukan dengan teriakan “to ado re”, “to ado re”, “to ado re”, secara bersamaan jadi tidak ada yang mendahului, dalam kesepakatan siapa yang duluan tiba, dialah yang menjadi pemimpin.

Jadi tidak ada yang lebih duluan tiba. Siapa yang terlebih dahulu tiba di tempat pertemuan tersebut maka dialah yang memimpin pertemuan tersebut. Pertemuan itu mengambil waktu pada purnama 14 malam bulan Rabiulawwal, salah seorang momole mengira bahwa dialah yang pertama tiba sembari berteriak to ado re, maka momole yang lainpun bersahutan berteriak dengan kalimat yang sama to ado re…to ado re, begitu serentak tibalah Syech Yakub serta merta beliau berujar dengan bahasa Arab dialeg Irab “Anta dore” yang artinya ”kau datang” sambil menunjuk kea rah momole, karena tidak ada yang memenangkan pertarungan itu maka disepakati Syech Yakub yang memimpin pertemuan tersebut, maka pertemuan itu dikenal dengan nama “pertemuan Togorebo”, pertemuan itu membicarakan tentang Kie Duko dengan kepemimpinannya.

Sejak itu sebutan dan nama Kie Duko mulai pupus dan hilang secara perlahan-lahan, dan mulai mengakrabi dengan sebutan Kie Tidore; perpaduan antara bahasa daerah to ado re, dan bahasa Arab dialeg Iraq “Thad ore”. Roda waktu terus bergulir takdirpun menyertai seorang anak cucu bani Adam Adkur Madero alias Madero Nakal yang kemudian menyempurnakan namanya menjadi Syahajat Muhammad Nakel, naik tahta pada 12 Rabiulawwal 1502 Hijriyah di Balibunga Rum. Maka terbentuklah pemerintahan awal yang dipimpin oleh seorang kolano sebagai kepala pemerintahan, bentuk dan sistem pemerintahan yaitu Kolano se I rakyat, artinya pemerinyah bersama rakyat, dapat dimaklumi bahwa pada era atau zaman itu pada umumnya manusia belum memahami tulis baca sehingga kolano belum dapat menyusun sistem atau bentuk pemerintahan yang terstruktur, memang sukar dideteksi karena rekaman jejak tidak ada sama sekali mulai dari kolano pertama sampai ke kolano yang ke tujuh ( Kolano Syahajati sampai dengan Kolano Seli).

 

Masa Pemerintahan Kolano.

  1. Kolano Adkur Madero alias Madero Nakel (Syahjat) 12 Rabiulawwal 1502 Hijriyah atau 1108 Miladiah.
  2. Kolano Bosa Mawange.
  3. Kolano Suhud.
  4. Kolano Balibunga (bermukim di Balibunga Seli gam mayou ada bekas pemukiman).
  5. Kolano Duko Madoya.
  6. Kolano Kie Matiti
  7. Kolano Seli (bermukim di gam ma you Seli ada bekas pemukiman).
  8. Kolano Matagena.

Dari kolano yang memegang tampuk pemerintahan pada era tersebut tidak semuanya anak keturunan dari Jafar Sadiq, lihat silsila Matagena. Kepemimpinan pada era itu adalah kemampuan dan kharismatik.

Perihal Kolano / Raja Balibunga

Masa kekuasaan tidak terekam, data yang didapat dari pulau Banda bahwa Kolano / Raja ini pernah menikah di pulau Banda dengan seorang perempuan yang bernama Baynusi dan memiliki 6 orang anak, yaitu empat anak laki-laki dan dua orang perempuan, yang laki-laki masing-masing; 1. Saerun Haeruddin, 2. Saaerun Kamaluddin, 3. Saerun Zaenudin, 4. Saerun Nuruddin, sedangkan yang perempuan yaitu; 1. Baylamo, dan 2. Bayputih Katadore, keenam anak-anak ini dibawah ke Tidore, kemudian menjelang dewasa Putri Bae Putih Katadore kembali ke pulau Banda dan menikah dengan Kapitan Bey Bila di Banda. Bukti peninggalan dari Kolano / Raja Balibunga adalah ada dua buah kerangka perahu “kora-kora” yang dibawah dari Kerajaan Tidore. (Sumber Kolano/Raja Balibunga dari A. Taher dari Banda).

Silsilah Kolano/Raja Matagena

Qadhi Muhtasib beranak Qadhi Muhtalib beranak Kolano/Raja Matagena masa kekuasaan 1354-1372. Kolano Matagena memiliki 8 orang anak terdiri dari 5 laki-laki dan 3 perempuan. Yang laiki-laki masing-masing; 1. Noms, 2. Asa, 3. Gotowasi, 4. Gilolo, 5. Nau, sedangkan yang perempuan masing-masing; 1. Kalsum, 2. Boki Sin, 3. Fat. Dari kedelapan anak itu hanya Gotowasi yang melahirkan keturunan yaitu: 1. Gimalaha A. Latif, 2. Qadhi Asar dan 3. Jabar. Gimalaha A. Latif memiliki seorang anak laki-laki yaitu Gimalaha Giyon, sedangkan Qadhi Asar memiliki 2 orang anak laki-laki yaitu 1. Imam Amir dan 2. Imam A. Rahim. Sedangakan Jabar memiliki seorang anak laki-laki yyaitu Maba. Gimalaha Giyon memiliki dua orang anak laki-laki masing-masing; 1. Gimalaha A. Rasid (2015 sampai sekarang) dan Ence. Imam A. Rahim memiliki 3 orang anak laki-laki yaitu; 1. Insan H. Husain A. Rahim, 2. Gimalaha A. Rasid A. Rahim, dan 3. Syaefuddin A. Rahim, sedangkan Ence memiliki 5 orang anak masing-masing 1. Ishak, 2. Qadhi Jakub, 3. Abjan, 4. Negro, 5. Samha Kolano/ Raja Matagena meninggal dunia di Desa Gotowasi Halmahera Timur, benda-benda pusaka yang ditinggalkan yaitu satu buah Al Quran tulis tangan yang masih tersimpan rapi di desa Gotowasi oleh anak keturunannya. Makam Kolano Matagena dirawat oleh anak cucu keturunan dan diziarahi oleh penduduk setempat sampai sekarang. Kolano / Raja Matagena adalah Kolano / Raja ke-8 kerajaan Tidore. (Sumber Kolano/Raja Matagena dari anak keturunan yaitu Gimalaha Gotowasi A. Abdurrasid)

 

Masa Pemerintahan Kesultanan

Pada era tahun 1459 M. terkuaklah kerajaan Tidore berkenaan dengan kehadiran seorang ulama besar dari Mekah tiba di teluk Tongowai dan pemukiman berada di Gamtina (belakang kelurahan Tongowai dahulu). Pada periode ini banyak jejak yang tidak terekam, contoh seperti kolano Matagena, dilihat dari garis keturunannya dari bapak dan sang kakeknya jelas keturunan muslim sejati tetapi pada era itu masih menggunakan sebutan jabatan kolano, tersebut dua raja Tidore dengan tahun berkuasanya masing-masing raja atau kolano Nuruddin yang memerintah pada tahun 1343 M. dan kolano Hasan Syah yang menggantikannya pada tahun 1372 M. penggunaan nama Islami kedua kolano (raja ini) menunjukan bahwa di kerajaan tersebut telah terbentuk komunitas muslim dan mulai menyebar ke lingkungan istana/kadato serta pusat kekuasaannya.

Kolano Ciriliyat yang kemudian berganti nama Jamaluddin sebutan kolano pun mulai pupus perlahan-lahan sebutan Sultan pun mulai melekat semua ini karena berkat bimbingan Syech Mansur dari Mekah seorang ulama besar.

 

Nama-Nama Sultan.

  1. Sultan Jamaluddin 1494-1512
  2. Sultan Almansur 1512-1526
  3. Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain (King Mir) 1526-1547
  4. Sultan Kie Mansur 1547-1569
  5. Sultan Iskandar Syani Amirul Matlum Syah 1569-1586
  6. Sultan Amir Bifadlil Sirajul Arifin alias Gapi Baguna 1586-1599
  7. Sultan Zainuddin alias Mole Majimo 1599-1626
  8. Sultan Alauddin alias Ngora Malamo 1626-1633
  9. Sultan Saiduddin alias Gorontalo 1633-1653
  10. Sultan Said Abdillah 1653-1657
  11. Sultan Malikiddin alias Mole Maginyao 1657-1659
  12. Sultan Syaifuddin alias Jou Kota 1659-1668
  13. Sultan Hamjah Faharuddin 1689-1700
  14. Sultan Abdul Fadlil Mansur             1700-1707
  15. Sultan Hasanuddin 1708-1728
  16. Sultan Amir Bifadlil Aziz Muhiddin 1728-1756
  17. Sultan Muhammad Mas’ud Jamaluddin 1756-1779
  18. Sultan Muhammad Mansur Badiuddin alias Patra Alam 1797-1784
  19. Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar (Jou Lada) 1784-1797
  20. Sultan Amiruddin Muhammad Al Ma’bus Saidul Jehad (Nuku) 1797-1805
  21. Sultan Zainal Abidin (Jou Maba) 1806-1810
  22. Sultan Muhammad Taher Muijuddin 1810-1821
  23. Sultan Ahmad Mansur Sirajuddin 1821-1857
  24. Sultan Ahmad Syaifuddin 1857-1865
  25. Sultan Ahmad Fatahuddin            1865-1877
  26. Sultan Ahmad Qawiyuddin alias Syahjuan 1877-1905
  27. Sultan Zainal Abidin Syah 1947-1967
  28. Sultan Hi. Djafar Syah 1999-2012
  29. Sultan Hi. Husain Syah 2014-………

 

Bahwa ibu kota kerajaan/kesultanan ini tidak menetap dan berpindah-pindah, ini beralasan bahwa di era masa sultan Al Mansur, hubungan antara Tidore dan Ternate sudah mulai renggang, kedua kerajaan ini saling berseteru dengan kehadiran dua bangsa Eropa yaitu Portugis dan Spanyol, kedua kerajaan/kesultanan ini bergengsi tinggi.

Portugis tiba di Ternate pada 1512 M. kerajaan Ternate pun bermitra dengan Portugis sekaligus bekerjasama. Spanyol tiba di Tidore 1521 M. walaupun rentang waktu 10 tahun Tidore tetap menunggu hanya sebuah persaingan kehadiran kedua bangsa Eropa ini membuat kedua kerajaan ini hilangnya kebebasan dan kemerdekaannya.

 

Sistem Pemerintahan

Pada masa pemerintahan Sultan Djamaluddin terbentuk sistem yang dikenal dengan sebutan Kolano sei Bobato Dunia (adat urusan pemerintahan) dan Bobato Akhirat (urusan peradilan agama) sei rakyat yang artinya Sultan dengan pembantu Bobato Dunia (adat) dan Bobato Akhirat (agama) bersama rakyatnya. Namun pada masa pemerintahan para kolano telah menggunakan sistem pemerintahan yaitu Kolano sei rakyat artinya Pemimpin bersama rakyatnya dapat dimaklumi karena pada masa itu tidak semua orang mengetahui tulis baca maka pada era kekolanoan tidak ditemukan jejak rekam mulai dari kolano pertama sampai pada kolano yang ke tujuh, sedangkan kolanon ke delapan yaitu kolano Matagena ada daftar silsilah yang jelas dan makamnya berada di desa Gotowasi Maba (Kab. Halamahera Timur).

Pada era Sultan Syaifuddin alias Jou kota, bentuk pemerintahan yang dikenal dengan Kolano sei bobato pehak raha sei suduru, artinya Sultan dengan empat kementerian bersama staf dan rakyatnya. Sistem dan bentuk pemerintahan Kolano sei bobato pehak raha sei suduru masih tetap dipertahankan sampai dengan saat ini walaupun kefakuman cukup panjang sejak wafatnya Sultan Ahmad Qawiyuddin alias Syahjuan sampai dengan penobatan Sultan zainal Abidin Syah 42 tahun lamanya, kemudian dari wafatnya Sultan Zainal Abidin Syah sampai pada penobatan Sultan H. Djafar Syah 32 tahun lamanya, sistem ini tetap dipertahankan. Bobato adat pehak raha adalah suatu model (bentuk) pemerintahan yang kemudian ditetapkan dengan plakat sultan yang dikenal sebagai “peraturan Kie se Kolano” dan Cap sultan. Bahwa pada era pemerintahan Sultan Ahmad Fatahuddin ada sebuah dokumen hukum kesultanan Tidore tentang peraturan Kie se Kolano, kedudukannya dapat disamakan dengan konstitusi (UUD). Menurut pakar hukum tata Negara Yazim Hamidi, peraturan “Kie se Kolano” secara legal drafting (minimalis) telah memenuhi kaidah pembentukkan peraturan perundang-undangan yang baik.

Substansi peraturan Kie se Kolano mengandung nilai-nilai ketatanegaraan sebagai berikut:

  1. Proses pembuatannya melalui mekanisme rapat dewan kementerian,
  2. Mengenal sistem demokrasi dengan mengedepankan prinsip musyawarah mufakat,
  3. Menjunjung tinggi norma sebagai aplikasi dari konsep Negara hokum,
  4. Memegang teguh budaya malu dan takut kepada Allah swt,
  5. Menerapkan teori pemancaran kekuasaan dengan konsep mandate dan delegasi,
  6. Mengedepankan pelayanan publik prima,
  7. Mengenal lembaga yudikatif,
  8. Hukum acara peradilan konstitusi/ketatanegaraan,
  9. Sultan tidak diktator, menjunjung tinggi keputusan dewan kementerian,
  10. Mengenal hukum perkawinan, waris, dan wasiat,
  11. Membentuk semacam lembaga kepresidenan,
  12. Wilayah kekuasaan cukup luas meliputi P. Tidore, P. Halmahera bagian Tengah dan Timur, P. Seram, Pulau-pulau Raja Ampat dan Papua serta Pulau-pulau Tenggara jauh, menerapkan prinsip-prinsip Negara kesatuan dalam arti kesultanan Tidore mampu menyatukan berbagai keragaman suku, agama dan budaya. Dan rumusan norma larangan bagi pejabat Negara kesultanan sangat tegas.

Secara filosofis esensi pengungkapan sejarah adalah kejujuran, keberanian dan kebenaran, sebab sejarah tidak pernah menanggalkan cerita yang dusta, karena sejarah adalah guru kehidupan.

Pada dimensi nilai kejujuran, keberanian dan kebenaran itulah titik sentral yang dicari dan diperjuangkan oleh filsafat. Hal ini sejalan dengan substansi sumpah adat (Bobato) “jaga loa se banari” (tegakkan keadilan dan kebenaran), janji tarsebut semata-mata untuk tujuan menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan orang banyak. Sistem birokrasi kesultanan Tidore diatur dalam sebuah regulasi yang cukup baik pada zamannya. Pengaturan tidak saja ditujukan pada rakyat biasa, akan tetapi menjangkau sampai pejabat tinggi kesultanan.

Hal ini dirumuskan secara jelas sebagaimana tertuang dalam peraturan Kie se Kolano tahun 1285 H / 1868 M. Sejarah masa lalu dan kontribusi kesultanan Tidore dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk peran membantu perjuangan diplomatis mengembalikan Irian Barat (Papua) ke pangkuan Republik Indonesia. Rekam jejak kesultanan Tidore harus dan pantas diakui karena sejak abad ke 15 telah gigih melawan imperialism di wilayah kedaulatannya, maka pasca kemerdekaan lewat Undang-Undang No. 15 Tanggal 16 Agustus 1956, Tidore dipercayakan sebagai Ibu Kota pembebasan Irian Barat (Propinsi Irian Barat) dan dilantiknya Zainal Abidin Syah sebagai Gubernur pertama Propinsi Irian Barat yang juga sultan Tidore.

Ironisnya usai perjuangan pengembalian Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia, Tidore turun status menjadi kewedangan Tidore dipimpin oleh Hasyim Assagaf (mantan Sekretaris Propinsi Irian Barat) kemudian beruah status lagi menjadi daerah Irian Barat gaya lama di bawah pimpinan Muhammad Dano Podo (mantan Kepala Pemerintah setempat/KPS Weda) setelah Muhammad Dano Podo memasuki usia pensiun dijabat oleh Drs. Salim Assagaf.

Kemudian lewat surat edaran Gubernur Maluku status berubah lagi menjadi Daerah Administratif Halmahera Tengah di bawah pimpinan Bapak Drs. Achmad Malawat dengan jabatan/sebutan Bupati Pemimpin Daerah Halmahera Tengah. Drs. Achmad Malawat, memasuki usia pensiun dijabat oleh Drs. I.E. Toekan dengan jabatan/sebutan Bupati Pemimpin Daerah Halmahera Tengah. Kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1990 wilayah administrasi Halmahera Tengah ditetapkan sebagai daerah otonom; Daerah Kabupaten Tk. II. Halmahera Tengah dan beribukota di Soasio Tidore dengan pejabat Bupati Drs. Abdul Bahar Andili, maka diadakan pemilihan Bupati dan wakil bupati maka Ir. Hasan Husain Doa terpilih sebagai bupati dan Drs. Ridwan Ilyas terpilih sebagai Wakil Bupati untuk satu periode.

Kemudian Tidore berubah status lagi lewat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 menjadi Kota Tidore Kepulauan dengan pejabat Walikota Drs. M. Nur Djauhari, maka ditunjuk Pj. Walikota Drs. Machmud Adrias sekalian mempersiapkan perangkat daerah termasuk mengadakan pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tidore Kepulauan. Sesudah terbentuk DPRD Kota Tidore Kepulauan maka diadakan persiapan pemilihan Walikota dan Wakil Walikota yang defenitif, maka pada tanggal 29 September 2005 pemilihan Walikota dan Wakil Walikota secara langsung untuk pertama kalinya dilaksanakan dan Drs. H. Achmad Mahifa dan Salahuddin Adrias ST. terpilih sebagai Walikota dan Wakil Walikota periode 2005 – 2010, roda waktu terus bergulir dengan berakhirnya masa jabatan Achmad Mahifa dan Salahuddin Adrias, maka Achmad Mahifa maju bertarung lagi pada periode kedua berpasangan dengan Ibrahim Marajabessy yang juga Sekretaris Kota Tidore Kepulauan sebagai calon Wakil Walikota namun satu dan lain hal yang bersangkutan sakit menahun dan ketika Achmad Mahifa berhasil meraih suara terbanyak menjadi Walikota periode 2010 – 2015 maka atas penunjukan Gubernur Maluku Utara, Drs. Hamid Muhammad menjadi Wakil Walikota Tidore mendampingi Drs. Achmad Mahifa.

Kemudian berakhirnya masa jabatan Walikota dan Wakil Walikota periode 2010 – 2015, maka diadakan pemilihan Walikota dan Wakil Walikota periode 2015 – 2020 yang diikuti oleh tiga pasangan , masing-masing: 1). Drs. Hamid Muhammad calon independen berpasangan dengan A. Rahim Saraha SH, 2). Drs. H. Muhammad Hasan Bay dan H. Mochtar Sangaji, 3). Kapt. Ali Ibrahim berpasangan dengan Muhammad Senen SE. pada akhirnya pasangan urutan nomor 3 meraih suara terbanyak menyisihkan dua pasangan lainnya.

Dalam pentas kesejarahan Tidore pernah menjadi Ibu Kota Pembebasan Irian Barat dengan Ibu Kota Soasio dan dilantiknya Gubernur pertama Propinsi Irian Barat adalah Zainal Abidin Syah yang juga Sultan Tidore. Tidore juga sebagai pusat penyiaran Islam di kawasan Timur Indonesia sampai ke Cape Tawn Afrika Selatan, juga sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan sejak 502 H. atau 1108 Miladiah sampai sekarang.

 

Tidore Pada Periode Para Momole

Sebuah ungkapan lokal yang melekat pada masyarakat Tidore sebelum nama tidore muncul di panggung sejarah, tidore diakrabi dengan sebutan Kie Duko yang secara umum artinya pulau yang bergunung api fakta sejarah yang masih membekas ditanjung tongolo Kelurahan Tuguiha Tidore Selatan bebatuan lahar panas yang sudah membeku hanya saja kapan dan tahun berapa gunung tidore ini meletus.

Momole adalah sebutan yang melekat pada seorang sosok laki-laki yang bertubuh besar, pemberani dan memiliki spritualisasi yang Khusus ketangkasan dan keberanian adalah modal utama momole ini diangkat oleh sekelompok masyarakat yang mendiami wilayah tertentu dan dia sebagai penguasa diwilayah dan penduduk masih hidup berpencar-pencar. Pembagian wilayah tidak melalui musyawarah tetapi jelajah sang momole untuk memperluas wilayah dengan menetapkan batas wilayah kekuasaannya disebut jojoko.

Para momole dengan sekelompok komunitas masyarakat ini hidup dan bermukim diatas bukit lereng dan lembah mereka tidak mendiami pesisir pantai, perkelahian antar para momole sering terjadi dan saling membunuh satu dengan yang lain karena belum memiliki peradaban masih menggunakan hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa tetapi perjalanan para momole ini tidak berjalan panjang hadirlah para ulama-ulama dari jazirah Arab antara lain Syekh Yakub, Syekh Maimun, Syekh Abdurrahman Almagribi, Syekh Almansyur, Syekh Umar Tamimi, Syekh AtTamimi, kemudian pula hadir para ulama-ulama dari Sumatera dan Jawa membawa peradaban-peradaban yang alami dan islami sentuhan-sentuhan agama islam melalui faham syiah imamiah maka secara perlahan-lahan para momole dan komunitas masyarakat pribumi mulai meninggal faham animisme yang mereka anut beberapa abad lalu selain para momole tidore pun memiliki beberapa orang kapita yang tangkas dan kebal antara lain Kapita Kie Matubu, Kapita Baikole, Kapita Tela maoko, Kapita Lufudorota, Kapita Kujum dan banyak kapita-kapita lainnya yang berjasa bagi tidore. Pada waktu perluasan wilayah ke Papua kapita-kapita Kiematubu yang terdepan disusul kapita-kapita dari Patani, Gebe, Wasile dan Maba perluasan ke Papua memakan waktu 227 hari. Momole yang pernah eksis pada zaman itu adalah Momole Tagafura, Momole Buku Fululu, Momole Gumira Mabuku, Momole Cagarora dan ada beberapa momole yang popularitasnya kurang menonjol.

 

Tidore Pada Periode Para Kolano / Raja

Memang agak sulit untuk mengungkapkan jejak para Kolano/Raja Tidore karena tidak ada rekaman jejak yang pasti yang merujuk kepada sebuah keterangan silsilah seperti kolano awal yang bernama Adkur Madero alias Madero Nakal kemudian nama kolano ini dihubungkan dengan Syaid Djafar Sadik lalu berganti nama Muhammad Nakel, Muhammad Nakel naik tahta pada 12 Rabiul awal 502 Hijriyah yang bertepatan dengan 1108 Miladiah berapa tahun beliau bertahta tidak ada catatan, menyusul Kolano Bosa Mawange, Kolano Suhud, Kolano Balibunga, Kolano Dukomadoya, Kolano Kiematiti, Kolano Seli.

Dari Kolano pertama sampai dengan kolano yang ketujuh tidak ada catatan yang menunjukan keabsahan bahwa mereka adalah satu garis keturunan dari Syaid Djafar Sadik, lain lagi dengan Kolano Matagena memiliki daftar silsilah yang lengkap kemudian makamnya terpelihara dengan baik bahkan sebuah Al-quran tulis tangan yang masih tersimpan rapi pada ahli warisnya di Desa Gotowasi Maba, penulis memperoleh dari ahli waris yaitu daftar silsilah menunjukan bahwa Kolano Matagena adalah dari keturunan ulama.

Bahkan ketika naik tahta Kolano Adkur Madero berselang beberapa tahun dengan sistem pemerintahan kolano seirakyat belum memiliki wilayah/ daerah kekuasaan maka disuatu saat beliau mengumpulkan para kapita dan momole lalu beliau bertitah agar mereka mencari daerah kekuasaan mulai dari pesisir pulau Haliyora bagian depan dari Lolinga menyisir sampai ke Toseho dari Lolinga para kapita dan momole menyinggahi beberapa dusun yaitu ngai madodera, ake ara, Toniu, Kaiyasa, Guraping, Balisosa, barumadoe, Galala, Sofifi, Oba, Somahode, Kusu, Sirimake, Toburo, Pasigau, Tepatiti, Noram ake, Paceda, dan seterusnya sampai ke dusun Akelamo.

Dari dusun Akelamo para kapita dan momole menyisir terus sampai di dusun toseho, setelah beristirahat beberapa hari mereka kembali ke tidore dan melapor kepada kolano bahwa mereka telah menemukan beberapa dusun ( jiko ) yang masih berfaham animisme dan hidup selalu berpindah-pindah tempat lalu kolano memerintah kepala momole dan kapita agar mempersiapkan perahu yang berukuran besar yang menampung 100 orang sudah termasuk pendayung dan prajurit perang untuk mencari wilayah yang jauh dan besar dalam waktu 6 bulan perahu sudah siap, layar perahu terbuat dari pandan hutan ( buro-buro ) perangkat lainnya seperti dayung, penggayung, persenjataan seperti panah, tombak, tameng/salawaku, parang, batu mangga, potongan kayu lolaro, setelah semua perlengkapan dan bekal tahan lama seperti sagu kering dan ikan kering sudah siap maka ditunggu saatnya untuk berangkat melaut untuk menemukan daerah atau pulau-pulau yang mereka dapati mereka berlayar ke laut lepas dari laut lepas kea rah timur mereka menemukan tanjung liboba mereka buang jangkar di tanjung liboba, di tanjung liboba berdiam sekelompok komunitas tobelo conga-conga ( perompak ) maka terjadi perang kecil, tobelo conga-conga mereka menyingkir kedalam hutan yang lebih jauh gubuk-gubuk mereka dibakar, kebun-kebun dirusak, selang beberapa minggu para kapita dan momole melanjutkan perjalanan angin selatan gane bertiup kencang pada akhirnya mereka menemukan sebuah pulau yang tampak dari jauh seperti seekor ular yang melata ada ekor dan kepalanya maka salah seorang kapita berteriak eee ge…bi…yang lain bertanya… kabee… yang lain menjawab gee mereka mengarahkan haluan perahu kearah pulau kecil yang memanjang lalu melempar jangkar dan beristirahat di pulau kecil itu yang kemudian pulau itu disebut pulau Gebi yang kemudian menjadi pulau Gebe setelah beristirahat beberapa hari sambil memperbaiki layar dan perlengkapan lainnya melanjutkan perjalanan pelayaran dan menemukan sebuah pulau besar dengan satwa yang indah maka mereka menyebut Kie Jang Gi yang artinya pulau dengan burung-burung yang bagus, ketika mereka merapat penduduk dipesisir pantai melarikan diri ke hutan tidak ada perlawanan apa-apa.

Selang beberapa hari kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulang dan menyinggahi beberapa pulau kecil yang kemudian kita kenal dengan kepulauan raja ampat. Angin timur bertiup kencang pergi dan pulang tidak ada aral yang melintang 107 hari melakukan ekspedisi kecil berangkat dari pelabuhan hate Kananga Rum di penghujung bulan zulhijjah 503 Hijriah dan tiba kembgali dipelabuhan hate Kananga pada pertengahan Rabiul 504 Hijriah dua hari kemudian mereka melapor kepada kolano hasil perjalanan mereka dan membawa serta beberapa ekor burung yaitu cendrawasih dan merak mereka menyebut bahwa burung-burung tersebut berasal dari khayangan mereka bercerita tentang hal ikhwal yang ditemui selama dalam perjalanan yang pada akhirnya menemukan pulau besar yang belum bernama, lalu Kolano Madero bertanya “ Kie enage kie lamo ? para kapita dan momole menjawab suba jou kie lamo, kie enage yo seba, bolo yo gulu, yo papo se kie haliyora bolo ua, jawaban para kapita dan momole papo ua, pada akhirnya sebutan pulau itu menjadi “ Papua “ asal kata papo dan ua. Pulau Papua dan pulau-pulau kecil lainnya hanya menjadi sebuah ingatan dan kenang-kenangan, pergantian kolano silih berganti papua pupus dari ingatan, kekuasaan kolano Adkur Madero tidak terekam seberapa lama begitupun pada kolano Bosa Mawange, kolano Suhud, kolano Balibunga, kolano Dukomadoya dan kolano Kie Matiti. Konon cerita bahwa pada zaman kolano Ki ematiti ia bersemedi di puncak gunung selama beberapa hari seraya bermohon kepada Tuhan semoga gunung api Kie Duko dipindahkan ke Kie Gapi dengan sebutan Kie mahito ternate.

Selang beberapa hari setelah selesai dari pertapaan/ semedi dan kembali ke kadato disuatu malam beliau masuk kekamar puji untuk melakukan ritual ditengah malam yang sepi itu beliau gaib hilang entah kemana, bala rakyat gelisah, tokoh-tokoh adat dan tetua-tetua kampung melakukan ritual-ritual sesuai dengan keahlian mereka maka muncullah petunjuk bahwa akan hadir ditengah-tengah masyarakat para sowohi yaitu juru kunci negeri ini penjelmaan roh kolano kiematiti akan turun dan masuk kepada para sowohi dan akan mengabarkan sesuatu kepada masyarakat, orang-orang luar akan berdatangan ke negeri ini karena negeri ini adalah pusat dari empat kerajaan besar. Ketika keberadaan para sowohi dan mulai melakukan ritualnya dengan memohon petunjuk agar diberi tata cara atau aturan tentang kehadiran negeri ini maka muncul pentunjuk lewat suara yang kharismatik, suara gaib “uci te ngofa ngona ngofa sowohi kie matiti” kiasannya “akan turun kepadamu anak juru kunci negeri ini” yang kemudian kita kenal dengan sowohi kie matiti, bersama sowohi lainnya dengan tugasnya masing-masing dengan satu ikatan kebersamaan. Dari sekian sowohi ada satu sowohi yang dituakan dalam marga-marga sowohi yaitu “sowohi fola sowohi” sepertinya penasihat. Demikian sekilas tentang kolano kie matiti yang terekam lewat cerita lisan tuturan tetuah-tetuah anak negeri, wallahua’lam.

Bahwa kolano Seli bertahta dan bermukim di atas bukit yang bernama gam magonora belakang perkampungan Seli/Kelurahan Seli sekarang. Di atas bukit batu itu ada sebuah pemukiman ada bekas fondasi Mesjid dengan kolam air/tempat berwudhu, fondasi-fondasi rumah, bekas kadaton yang fondasinya kecil dan sederhana. Ada dua bekas fondasi kadaton yaitu kadaton fola bicara dan kadaton fola puji yang artinya rumah tempat bermusyawara dan rumah tempat ritual pengesahan. Jejak kolano Seli terekam sedikit, bahwa kolano Seli menikah dengan seorang perempuan sawai pedalaman Weda, perempuan ini adik kandung dari kapita Cekel, Cekel memiliki postur tubuh yang tegap, tinggi mencapai 3 setengah meter, bekas tapak kaki ada di Sawai, Cekel berkubur sepi di sana. Hasil perkawinan antara Kolano Seli dan perempuan Sawai melahirkan 6 orang anak, empat anak laki-laki dan dua anak perempuan, keempat anak laki-laki cikal bakal menjadi pemimpin di Toloa gam lamo dan satu anak perempuan yang melahirkan sangaji adat mareku, dan yang satu lagi hijrah ke Galela Halmahera (Soakonora) yang bernama Boki Bola. Keempat anak laki-laki masing-masing Marajabesi, Dukomalamo, Malagapi, dan Marajalus.

Kolano Seli berkubur di Gam mayou Seli, sedangkan istrinya berkubur sepi di belakang kampong Dokiri. Bukti sejarah sebuah mata air kecil di tanjung Tongowai tepat di piaraan penyu dari istri dan anak kolano Seli, mata air itu diberi nama Ake Malagapi. Samping kanan mata air Malagapi tempat pendaratan Syakh Mansyur dari Mekkah. Tarian Soya-soya Seli adalah peninggalan dari putrid Kolano Seli, gerakan dan langgam Soya Seli lembut dan indah, peralatan lainnya seperti gong, jalangpong, peralatan music penghibur Sultan/Kolano dibawah ke Mareku termasuk para nelayan dan dayang-dayang Kolano semua masih terekam pada saat penobatan sangaji adat Mareku Mochtar Sangaji di Gammayou Seli pada hari Kamis 3 Djumadil Awwal 1421 H. bertepatan dengan 3 Agustus 2000 M. Jam 11.00 siang WIT, penobatan secara hakikat, kemudian pada Jumat 11 Jumadil Awwal 1421 H atau 11 Agustus 2000 M penobatan secara sariat oleh yang muliah Sultan Tidore Hi. Djafar Syah di Mesjid Kolano pada ba’da Sholat Jumat. Selanjutnya sangaji dan rombongan meninggalkan Mesjid Kolano menuju ke teluk Seli dan bermalam semalam di atas perahu Juanga yang kemudian pada besok pagi Juanga menuju ke Leo Tobaru dan selanjutnya melakukan prosesi sodorine ronga.

Sedangkan empat anak keturunan laki-laki yang berada di Toloa Gamlamo menduduki jabatan Gimalaha dan yang lain menduduki jabatan Imam dengan demikian maka Kolano Seli memiliki rekaman jejak yang jelas dan sampai hari ini masih tertata rapi hubungan emosional dari anak keturunan Kolano Seli terjaga dan terpelihara.

Tentang Kolano Matagena bahwa tanggal 10 Mei 2015 saya penulis bersama Sultan Tidore dengan rombongan sebanyak 82 orang terdiri dari bobato adat, syara, dan beberapa orang yaya goa yang di dalamnya termasuk permaisyuri Sultan berangkat dari Tidore dan tiba di Maba pada hari itu juga ada yang melalui jalan darat dan ada yang menggunakan pesawat udara untuk menghadiri undangan dari Sangaji Maba dalam pengukuhan perangkat adat dan syara Sangaji Maba dan Sangaji Bicoli, sekaligus pemasangan tapal batas antara Sangaji Patani dan Sangaji Maba/Bicoli.

Seusai pengukuhan para bobato adat dan syara maupun pemasangan tapal batas antara dua sangaji Sultan Tidore Hi. Husain Syah dan rombongan meninggalkan Maba menuju ke Tidore baik yang lewat jalan darat maupun lewat udara/pesawat terbang. Saya penulis dalam jabatan kesultanan sebagai Jojau/Perdana Menteri ditahan untuk member materi pada seminar budaya dan musyawarah kerja bobato adat Sangaji Maba yang berlangsung pada tanggal 12 -14 Mei 2015. Dari seminar inilah penulis memperoleh data yang akurat dari anak cucu keturunan Kolano Matagena yang juga menjabat sebagai Gimalaha Gotowasi.

Dari daftar silsilah jelas bahwa Kolano Matagena adalah keturunan ulama dari garis keturunan bapak Kolano Matagena adalah seorang Kadi, begitupun kakeknya seorang Kadi, nah kalau kita tarik untuk menghubungkan Kolano Matagena dengan Kolano Cerilyati ada dua Kolno/raja yaitu Kolano Nuruddin yang berkuasa pada tahun 1343 M dan Kolano Hasan Syah mulai berkuasa pada 1372 M. masa kekuasaan Nuruddin ke Kolano Hasan Syah 29 tahun, masa dari Kolano Hasan Syah ke Kolano Cirilyati 123 tahun. Antara Kolano Hasan Syah dan Kolano Ciriliyati ada terdapat seorang Kolano yang tidak terekam jejaknya. Jadi menurut penulis usia Kota Tidore (kerajaan Tidore) yang pada April 2015 berusia 907 tahun dengan kepemimpinan Kolano/ Raja atau Sultan paling sedikit 60 sekian Kolano/raja/Sultan yang berkuasa di Kerajaan Tidore, jadi antara Kolano Adkur Madero alias Syahjati sampai dengan Kolano Seli ada beberapa Kolano yang tidak terdeteksi nama mereka. Dalam buku yang ditulis M. Adnan Amal “Portugis dan Spanyol di Maluku”.

Pengantar Adrian B. Lapian. Hal. 9 dan 10. Pertemuan Sultan Mansur dan raja Maluku. Pada masa pemerintahan Sultan Mansur Syah, berkunjung ke Malaka seorang Sultan dari Maluku. Kunjungan sultan dari Maluku tersebut merupakan kinjungan kehormatan tanpa menyebut sultan dari mana asalnya. Raja/Kolano Maluku mana yang melakukan misi muhibbah tersebut pada pertengahan abad ke 15. Ada terdapat empat kerajaan besar di Maluku yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Yang paling penting dari kerajaan tersebut yaitu Ternate dan Tidore.

Apabila ditelusuri sultan kerajaan Maluku manakah yang mengunjungi Malaka ? boleh jadi yang menjadi tamu Sultan Malaka adalah Siltan Ternate. Marhum yang memegang kekuasaan antara 1466 sampai 1486 M. disamping itu rujukan di atas menunjukan bahwa yang berkunjung ke Malaka adalah Sultan Maluku. Pada masa itu hanya Sultan Ternate telah menyandang gelar Maluku ma Kolano (raja Maluku). Menurut penulis sebutan Maluku ma Kolano tidak ada, yang ada hanya Alam Ma Kolano hasil persekutuan Moti, tetapi tertutup kemungkinan bahwa raja Maluku yang dirujuk adalah Kolano Matagena. Dari Tidore kunjungan kehormatan raja Maluku kepada raja Malaka kala itu bersamaan waktunya dengan kunjungan serupa sultan Trengganu dan raja Rehan. Bagi raja Maluku yang datang dari wilayah jauh diunjung kawasan Timur Indonesia, kunjungan ini sangat penting bagi upaya peningkatan derajat dan martabatnya ada keistimewaan lain dari raja Maluku yang satu ini, ia mempunyai prestasi tinggi dalam olah raga sepak takraw.

Selama kunjungan di Malaka Sultan Maluku mengadakan pertandingan kehormatan melawan putra sultan Malaka yang selalu dimenangkannya. Diceritakan bahwa raja Maluku dapat memainkan sepak raga seorang diri selama berjam-jam tanpa bola menyentuh tanah, bila orang menendang bola ke arahnya, ia dapat mengelak dan menendang bola itu sebanyak 150 kali, baru diberikan kepada pemain lain. Penulis akan memihak pada raja Matagenan karena pada 29 November 2015 ada kunjungan ramah tamah delegasi Universitas Kebangsaan Malaysia Fakultas Sains dan Teknologi sebanyak 15 orang dengan gelar Profesor dan Doktor di Kadato Kie Kesultan Tidore saya mewakili Sultan dalam memberikan penjelasan sekilas tentang keberadaan kesultanan Tidore.

Maka terjadi dialog singkat antara para delegasi dan pihak kesultanan, seorang ibu asal Brunei Darussalam mengatakan bahwa di Brunai Darussalam Malaysia ada sebuah kuburan tua, kuburan seorang Kadi yang asal-usulnya dari Tidore, kalau kita lihat silsilah dari raja Matagena nama dari bapaknya adalah Qadi Muchtalib, kemudian kakeknya Qadi Muchtasyib, sebab asal-usul Weda, Patani, dan Maba, mulanya ada ada tiga orang pendatang dengan sebutanyang melekat pada diri mereka masing-masing yaitu “Rajaman Mau Rajo di Weda, Raja man Kasurau di Patani, Rajaman Satria di Maba”, sebutan-sebutan seperti ini berarti kalau tidak dari Sumatra dari rumpun Malaysia. Raja Matagena kemudian ke maba dan meninggal di kampong Gotowasi. Di Maba ada sebuah bekas benteng Portugis mereka menyebut benteng Tansi. Dari sekian raja-raja Tidore yang bergelar Kolano hanya Kolano Matagena dan Kolano Ciriliyati yang kuburnya terdeteksi atau ada, yang lainnya tidak terdeteksi sejak Kolano Adkur Madero alias Syahjati s/d Kolano Seli.

Tentang nama-nama Kolano atau Raja masih menggunakan gelar atau nama kecil, masyarakat pribumi masih terlalu kaku menggunakan nama-nama para Nabi, para Sufi, nama ulma, para cendekiawan sebagai contoh nama Muhammad disapa dengan hama, Ahmad dipanggil hamadi, ada unsure ikhtiar jangan sampai disaat yang tidak sadar ia dimaki, dari kebiasaan ini terbawa. Contoh dalam silsilah Kolano/raja Matagena di Gotowasi Maba itu menggunakan nama kecil alias nama kampong, lihat silsilah terlampir. Seperti Kolano Adkur Madero alias Madero Nakel, yang kemudian disempurnahkan namannya “Syahjat Muhammad Nakel” orang Tidore menyebut dengan panggilan “Jou Syahajati Kolano bosa ma wange” Kolano ini kemungkinan besar sehariannya betah dengan fenomena alam sehingga bergelar kolano bosa ma wange.

Kolano Suhud alias Suhu, beliau ini barangkali pada masanya seorang pekerja keras tapi pemarah. Kolano Balibungan karena bertahta di puncak Balibunga jadi melekat nama panggilannya Kolano Balibunga. Kolano Duko Madoya, menyimpan dan memegang teguh rahasia-rahasia keajaiban alam. Kolano Kie Matiti pemegang kekuasaan punggung negeri. Kolano Seli bertahta di Seli Gammayou jadi melekat panggilan Kolano Seli. Kolano Matagena terambil dari kata Matai sama dengan sendirian, sedangkan Gena artinya itu yang kiasannya dia itu sendirian bahwa Kolano Matagena adalah asing pendatang dari negeri-negeri besar. Kolano Matagena berasal dari keturunan Rajaman Satria.

Hal ini tidak bias dipungkiri maka makam tua yang diakrabi dengan sebutan jere tersebar di sana sini kuburan-kuburan keramat para habib-habib yang sampai hari ini tetap diziarahi oleh penduduk setempat. Selain ada kuburan para keramat local seperti jere Gamgau, jere Toroka, Jere Hiri, dan beberapa keramat local lainnya. Sedangkan keramat para pendatang seperti keramat al Habib Abdurrahman al Magribi, keramat Syah At Tamimi, keramat Nurul Mubin alias Jou Guru Bifi, keramat al Habib Umar Faaroek Rahmatullah, keramat al Habib Abdulwahab Datullah, keramat al Habib Mahdum Abdul Qadir, keramat Syufi Darwis, dan beberapa keramat lainnya yang berada di puncak gunung, ada di laut, mereka menyebar se anteru pulau Tidore. Keramat di pulau Filonga, keramat di pulau Mare, keramat di pulau Maitara, keramat di pulau Sibu, negeri ini dipagari oleh dengan kuburan dan keramat para syufi dan aulia sehingga menjadi sebuah kewajiban apabila ada penobatan Sri Sultan Tidore yang baru maka selang beberapa bulan Sultan harus melakukan ziarah kepada para keramat-keramat atau disebut jere yaitu makam para ulama dan auliya, makam para Sultan melalui laut yang disebut Lufu Kie mengelilingi mengitari pulau Tidore dengan menggunakan perahu Juanga atau kora-kora.

 

Tidore Pada Periode Kesultanan

Sebutan Sultan mulai melekat pada Ciriliyati yang kemudian berganti nama Djamaluddin. Di era ini nama Tidore mulai terkuak sebutan Sultan dan Kesultanan mulai muncul di panggung sejarah sebagai kerajaan Islam walaupun jauh sebelumnya Islam telah menyentuh negeri ini.

Begitu Sultan Djamaluddin menyandang predikat Sultan, beliau mencoba memperluas wilayah sekalian mengangkat para Sangaji yaitu di Weda, Patani, dan Maba, di pertengahan abad ke 14 perluasan wilayah sebutan Weda, Patani, dan Maba yang dikenal dengan sebutan Gam Range artinya Tiga Negeri, sekaligus mengangkat tiga orang sangaji dan member cocatu budaya Coka Iba Adat yang dipentaskan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. ketiga sangaji adat itu tetap bertahan sampai pada hari ini anak keturunan dari ketiga sangaji itu tetap memelihara adat istiadat yang mereka peroleh dari leluhurnya. Budaya Coka Iba itupun   diberikan kepada Nyili Gamtufkange dan eksis sampai pada tahun 1959, sesudah itu tidak ada lagi sama sekali. 1512 naik tahta Sultan Al-Mansyur, pada era beliau memindahkan ibu kota kerajaan dari Gamtina Tidore Selatan ke Rum Tidore Barat.

Pada 1516 Sultan Mansyur memperluas   wilayah ke Papua. Pelayaran ekspedisi ini pun tidak memakan korban bahkan membuahkan hasil yang gemilang. Sultan mulai mendarat di sebuah teluk yang bernama Indame bahasa Patani Gebe yang artinya kita berdamai, kemudian Belanda menyebut teluk   Wandamen, kemudian melanjutkan pelayaran dan menyinggahi   beberapa tempat seperti Tobati, Biak, dan Numfor, lalu putar lagi ke Fak-fak sampai ke Mareke, dan kemudian kembali menyinggahi sebuah tanjung dan lego jangkar di situ lalu Kapita Patani dan Gebe berseru Jou Bo Polane artinya kita sudah boleh pulang…Belanda kemudian menyebut Bonpolen. Pelayaran ekspedisi itu memakan waktu 288 hari. Pada tahun 1521 Sultan Mansyur menerima dua buah kapal Spanyol yang dikomandani oleh Juan Sebastian d’Elcano, masing-masing kapal Victoria dan Trinidad, konon cerita jauh tempo Sultan Mansyur sudah bermimpi akan hadir dua buah kapal Spanyol itu.

Mengutip M. Adnan Amal, Portugis Spanyol di Maluku, pengantar A.B. Lapian, halaman 292 dan 293, sultan Tidore Al – Mansyur menerima kehadiran dua buah kapal Spanyol dengan sangat antusias, sambil menatap dan mengarahkan wajah ke langit, ia mengngkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil berucap dalam bahasa Melayu yang fasih, kata Al-Mansyur:

“Hingga hari ini telah lewat dua tahun sejak saya mempelajari dan memperoleh pengetahuan dari observasi saya tentang bintang-bintang yang telah memberitahukan kepada saya bahwa kalian diutus oleh raja diraja yang besar untuk mencari negeri ini. Oleh sebab itu, kedatangan kalian pada hari ini akan memberikan berbagai kemungkinan kepada saya lantaran semuanya telah terlihat keutamaannya melalui bintang-bintang. Dan saya bahwa tak ada kejadian apapun terhadap kalian.

Saya bukanlah orang yang menentang keterbatasan dan keburukan yang telah ditetapkan oleh nasib dan bintang-bintang, tetapi saya menghendaki spontanitas untuk mengerahkan kemajuan dan masa depan saya, berikut pemerintahan di negeri ini dan saya hanya menjadi raja muda dari kerajaan anda. Oleh sebab itu bawalah kapal anda ke pelabuhan dan perintahkan kepada kru anda untuk mendarat dengan aman, setelah terlalu lama di laut dan melewati berbagai halangan yang mengancam. Kini waktunya bagi kalian bersenang-senang dengan kehidupan di darat dan pelabuhan. Segalanya seperti yang berlaku menurut aturan raja anda”.

Mengakhiri sambutannya, Al-Mansyur kemudian menyalami semua kru kapal dan mempersilahkan siapa di antara mereka yang mendarat untuk mendarat. Bahkan para perwira dan kapten kapal pun dipersilahkan ke Istana Sultan di Mareku. Setelah mengakhiri sambutannya, Al-Mansyur naik ke kapal, setelah semuanya mengambil tempat duduk, Sultan menyatakan bahwa ia bersama seluruh rakyat kerajaannya berhasrat menjadi teman yang paling setia dan tunduk kepada Raja Spanyol.

Ia bahkan mau menamakan pulau itu (Tidore) dengan Castilla untuk menggantikan nama Tidore. Dalam catatan Pigafetta mengimformasikan : kami memberinya (sultan) hadiah berupa jubah, beberapa potong kain lenan halus, 8 yard kain merah warna menyala, sepotong kain sutra brokat, dua kopiah dan segalanya, kepada putranya kami hadiahkan pakaian dari India yang terbuat dari sutra dan emas, sebuah kopiah dan dua pisau. Dan kepada Sembilan orang pengiringnya juga kami bagikan hadiah. Kami diminta untuk memindahkan kapal ke dekat kota dan siapapun yang naik ke atas kapal di malam hari boleh dibunuh.

Sultan kemudian mengizinkan orang-orang Spanyol melakukan transaksi perdagangan untuk keperluan tersebut dibangun sebuah pusat perdagangan. Inilah pusat perdagangan pertama orang-orang Eropah di Maluku. Selama berhari-hari kayumanis dan cengkih dikumpulkan. Rempah-rempah ber tong-tong (drum) dikumpulkan dan ketika di Tidore telah habis, orang-orang Sultan mencari di Makian bahkan sampai ke Bacan.

Spanyol membeli cengkih dengan harga yang lebih tinggi, sebagian besar cengkih Ternate dan Moti lari ke Tidore transaksi berlangsung dengan tukar menukar dengan barang yang dibawah hanya dalam waktu 40 hari (8 November-18 Desember 1521) seluruh palka Tarinidad dan Victoria terisi penuh, mereka berhasil memperoleh rempah-rempah sebanyak 2.200 kwintal (tiap kwintal berisi 100 pon). Selama berada di Tidore Elcano mengunjungi beberapa daerah sekitarnya seperti Moti Makian dan Mare untuk meneliti sumber rempah-rempah.

Ketika palka kedua kapal telah dipenuhi dengan cengkih dan dokumen muatan kapal yang diperlukan dari pengawas Tidore ditandatangani oleh Mansyur sendiri diperoleh, maka kedua kapal itu bersiap untuk berangkat. Lebih jauh kehadiran Spanyol di Maluku dan lebih khusus di Tidore tidak menyenangkan Portugis.

Pada saat Victoria dan Trinidad akan pergi dari Tidore Sultan Al-Mansyur sempat menyampaikan cendera mata kepada raja Spanyol berupa tiga ekor burung “Manuco Diata” yang katanya berasal dari surge. Sementara kapten Victoria dan Trinidad masing-masing menerima seekor burung tersebut, Sultan Al- Mansur juga mengirimkan satu kwintal cengkih untuk raja Spanyol, Carles V.

Pada 18 Desember 1521 kapal Trinidad dan Victoria bertolak dari Tidore menuju ke Ambon, dalam pelayaran menuju Ambon Trinidad mengalami kebocoran yang hebat, badan kapal digerogoti oleh sejenis binatang rayap laut (bahasa Ternate tTambelo) yang memaksanya kembali ke Tidore. Kapal ditarik ke darat untuk diganti papannya, tapi di Tidore tidak ada ahli perkapalan sehingga hamper tiga bulan Trinidad tidak terurus.

Gubernur Portugis untuk Maluku de Brito memerintahkan agar kapal dibawah ke Ternate ke pelabuhan Talangame. Ketika kapal keluar dari pelabuhan Mareku, topan kencang menghempas Trinidad yang nahas itu ke dasar laut persis didepan benteng Gamlamo. Dari Ambon Victoria berlayar menuju Banda dan dari laut Banda menuju Flores di Nusa Tenggara Timur. Dari sana ia menuju samudra India menuju Tanjung Harapan. Dalam perjalanan pulang ini Victoria juga membawa 15 orang Tidore sebagai awak kapalnya. Akhirnya pada 6 September 1522, setelah tiga tahun kurang 14 hari kapal Victoria tiba di Sevilla raja dan rakyat Spanyol menyambut keberhasilan de Elcano keliling dunia untuk pertama kalinya. Ekspedisi Magelhaens yang berangkat dengan lima kapal dan 253 kru ini, kini tiba kembali dengan sisa armada satu kapal dan 18 kru, termasuk 15 orang Tidore.

 

Masa Jabatan Para Sultan

Masa Kekuasaan Sultan Amir Iskandar Zulkarnain 1526-1547.    

Ketika Sultan Iskandar Zulkarnain yang diakrabi dengan sebutan King Mir naik tahta 1526 menggantikan almarhum sultan Al-Mansur bertahta di Mareku, Sultan ini mengadakan pertemuan dengan Sultan Deyalo Ternate, Sultan Jailolo Katarabumi, Sultan Bacan Alauddin untuk membentuk sebuah koalisi untuk melawan Portugis pertemuan dilaksanakan di Mareku semua perlengkapan perang disiapkan, suatu informasi rahasia yang sampai ke telinga Gubernur Portugis Antonio Galvao yang tiba di Maluku (Ternate) pada 27 Oktobor 1536 sebelumnya ada beberapa Gubernur yang notabene berperilaku kasar. Galvao mengirim pesan dan mengajak berdamai dengan para Sultan-sultan yang bersekutu karena “setahun berdamai sebanding dengan seratus tahun berperang”,ia mengutus Gonzalo V as Sernache, Komandan utama armadanya, untuk menyampaikan pesan ini dan berlayar ke Tidore dengan sebuah karavel (kapal yang berukuran sedang) yang dipersenjatai dengan baik.

Sernache menyampaikan pesan tertulis itu kepada Sultan Tidore Amir Inkandar Zulkarnain-dikenal sebagai King Mir. Para Sultan Maluku Kie Raha yang berkumpul di Tidore menyampaikan pesan balasan bahwa mereka berminat dengan sebuah perjanjian damai yang didahului oleh perundingan, agar para Sultan dapat berkenalan lebih dekat dengan Gubernur dan para penguasa Portugis lainnya, pertukaran pesan berlangsung selama beberapa hari. Tetapi para Sultan Maluku Kie Raha akhirnya menolak pesan perdamaian Galvao dan menyerangnya. Serangan para Sultan ini gagal, penolakan tersebut muncul karena para Sultan terutama SultanTidore dan Jailolo, terlalu percaya diri lantaran kemenangan yang mereka raih ketika melawan de Ataide- Gubernur Portugis sebelum Galvao, karena pesan perdamaian ditolak, Galvao memutuskan menyerang balik para Sultan tersebut,.

Galvao menggelar pertemuan dengan para anggota dewan membahas rencana penyerangan. Ternyata, mayoritas anggota (council) menolak, alas an mereka karena di Tidore terkosentrasi pasukan-pasukan Deyalo (Ternate) Katarabumi (Jailolo) King Mir (Tidore) dan Alauddin (Bacan) dalam jumlah yang sangat besar, sebagian anggota dewan mengusulkan tidak melakukan perang terbuka, tetapi pasukan besar itu dapat ditundukan dengan suatu perang gerilya. Galvao mempertimbangkan semua pendapat tersebut. Tetapi pada akhirnya ia sampai pada solusi bahwa walaupun dengan logistic yang terbatas dan pasukan yang kecil, ia harus total dalam memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia untuk berperang. Dengan mempercayakan keamanan benteng kepada mantan Gubernur de Ataide, Galvao menuju pelabuhan Talangame tempat kapalnya berlabuh.

Kepada awak kapal, termasuk para kapten , Galvao menyatakan bahwa mereka semua di konsinyasi. Siapa yang meninggalkan kapal tanpa perintah akan dihukum. Setelah itu Galvao kembali ke benteng dan memerintahkan pasukannya ke pelabuhan Talangame dan bersiap siaga diatas kapal. Pada keesokan paginya, Galvao telah berada di atas kapal komando, ada sekitar 300 perahu layar yang menyertai kapalnya, sebuah kapal besar lainnya membawa pasukan, dan sebuah kapal bertiang dua berikut perahu tradisional lainnya. Pasukan Portugis yang turut dalam ovensi ini berjumlah 170 personil bersenjata api, sejumlah bangsawan dan kesatria, serta 100 penembak jitu, 120 budak. Pasukan gabungan dipihak Kerajaan Maluku Kieraha dibawah pimpinan Kapita Laut kerajaan Tidore- Kaicil Rade, yang amat cerdas dan disegani. Pasukan-pasukan kerajaan Maluku Kieraha dilengkapi sejumlah meriam, kelewang, bom, dan tombak hasil rampasan dari tentara Portugis atau disuplai oleh Spanyol.

Pasukan koalisi Tidore hamper semuanya bertepi dan berpelindung dada yang terbuat dari kulit sapid an dilengkapi dengan senjata tradisional lainnya. Pasukan gabungan kerajaan itu cukup menimbulkan kesulitan bagi pasukan Portugis. Galvao berada di atas kapal komando berlayar paling depan diikuti armadanya. Sementara music memperdengarkan lagu-lagu Portugis, mengantar pelayaran mereka menuju Tidore.

 

Ibu Kota Tidore Ditembaki

Ketika armada Portugis mendekati Mareku, ibu kota kerajaan Tidore, Galvao memerintahkan armadanya menembaki kota tersebut. Tembakan meriam armada tersebut di sambut dengan tembakan serupa dari benteng-benteng pertahanan Tidore. Maka berlangsunglah tembak-menembak yang seru antara pasukan Portugis dengan pasukan-pasukan Tidore yang mempertahankan Ibu Kota Mareku selama beberapa jam.

Ketika tembak-menembak agak reda, Galvao mengirim utusan yang membawa pesan kepada koalisi kerajaan Maluku Kieraha yang dipimpin King Mier. Perutusan Galvao diterima panglima kerajaan koalisi Maluku Kieraha yaitu Kaicil Rade. Dalam pesan Gubernur Galvao mengatakan bahwa ia datang bukan untuk memerangi Raja-raja Maluku, tetapi untuk menjalin persahabatan dan memberikan penawar jika mereka merasa dilukai, karena Raja Portugis tidak menginginkan hal lain kecuali mereka dilayani para Gubernurnya dan orang-orang Portugis diperlakukan dengan baik.

Sebagai jawaban pasukan koalisi Kerajaan-kerajaan Maluku Kieraha bahkan menembak utusan Galvao. Pasukan koalisi tersebut berteriak-teriak sambil mencaci maki pasukan Portugis. Tetapi Galvao memerintahkan pasukannya tidak membalas tembakan dan tidak pula melayani caci maki tersebut. Galvao tahu bahwa pasukan koalisi kerajaan-kerajaan Maluku Kieraha terdiri dari dari berbagai suku dan berbicara dalam berbagai bahasa daerah. Karena itu adalah wajar kalau mereka mencaci maki Portugis dihadapan para Raja, kaum bangsawan dan bobato mereka sendiri. Ketika malam tiba meriam-meriam Mareku kembali menghujani armada Galvao dengan tembakan semalam suntuk, sehingga memaksa Galvao memindahkan armadanya agak jauh dari ibu kota Mareku.

Di pagi keesokan harinya Galvao mendaratkan pasukannya diunjung kota Mareku, tembakan artileri pasukan koalisi cukup menghambat pendaratan Portugis, karena pertahanan koalisi dipusatkan diunjung kota, Galvao mendaratkan pasukannya di tengah kota yang lemah pertahannya. Pasukan Portugispun berhasil menangkap seorang serdadu pasukan koalisi dan memaksanya member keterangan tentang pertahanan mereka, terutama letak benteng yang ingin diduduki pasukan Galvao dengan meriam-meriamnya. Dengan petunjuk serdadu koalisi tersebut, Galvao mengirim satu satuan elit dengan target merebut benteng dan membungkam meriam.

Pasukan elit ini mulai bergerak ditengah malam. Pada keesokan harinya ketika mata hari terbit Galvao menerima laporan bahwa benteng yang terletak di bukit itu agak sukar diduduki dan meriamnya sulit dibungkam karena pasukan koalisi mengawasi suatu daerah yang luas dan jumlah tentara koalisi pada Sultan Maluku Kie Raha cukup banyak, sulit bagi Galvao menaklukkannya dengan pasukan elit yang hanya sedikit. Jadi hasil maksimal pertempuran malam itu kegagalan pasukan Galvao merebut benteng dan menghentikan tembakan-tembakan meriamnya. Tentara Portugis yang telah didaratkan diperintahkan beristirahat di tepi pantai.

 

Merebut Pusat Pertahanan.

Pada tengah malam berikutnya, Galvao mengunjungi semua kapal yang tergabung dalam armadanya dengan sebuah perahu kecil untuk konsolidasi. Kepada para komandan kapal ia member instruksi bahwa semua kapal harus siaga dan dipagi buta melepaskan tembakan ke arah kota dan membunyikan tanda bahaya, seolah-olah pasukan akan didaratkan, setelah itu Galvao mendaratkan seluruh pasukannya yang berjumlah lebih dari 200 orang, di antaranya 80 penembak jitu, kemudian para budak dengan senjata konvensional-yakni tombak dan panah.

Di tengah malam itu Galvao dan pasukannya dengan penunjuk jalan tawanan perang dari pasukan koalisi, menuju pusat pertahanan pasukan musuh. Target mereka adalah merebut benteng dan pusat pertahanan pasukan koalisi. Ketika mendekati sasaran, Galvao mengumpulkan semua pasukan dan mengucapkan pidato singkat:

“ Kalian semua berada di tengah malam, bahaya dan maut mengelilingi kalian. Tak seorangpun akan bebas terkecuali dengan menggunakan pedangnya. Kapal-kapal yang membawa kita tak lagi terlihat dan kalian tak lagi kembali ke kapal terkecuali melalui kota yang penuh dengan tentara dan pertahanan musu, olehnya itu bertempurlah, supaya kita menang”.

Galvao menutup pidatonya dengan kata-kata: tidak boleh membunuh atau melukai siapapun yang tidak bias membela dirinya dan jangan menangkap orang tua, perempuan dan anak-anak. Usai mengucapkan pidato singkat ini, perjalanan diteruskan. Ketika matahari terbit, mereka telah berhadapan dengan pasukan terdepan musuh, pasukan koalisi segera mengirimkan isyarat dengan teriakan sambung-menyambung.

Komandan pasukan koalisi berteriak agar menangkap serdadu-serdadu Portugis. Dari jarak jauh Galvao melihat formasi pasukan koalisi Sultan Maluku Kie Raha sebagai berikut:

Dengan jatuhnya benteng tersebut, pasukan koalisi Sultan Maluku Kie Raha menghentikan perlawanan. Galvao memandang penghentian perlawanan itu sebagai sebuah kemenangan yang diraih pada hari Saint Thomas, 21 Desember 1536. Deyalo sendiri meninggal dunia lantaran luka parah yang dideritanya. Tetapi kerajaan Ternate tidak mengumumkan kepulangan Sultannya ini, karena menurut adat, Sultan atau mantan Sultan yang tewas dalam suatu perang yang berakhir dengan kekalahan pantang diumumkan.

 

Berdamai Dengan Sultan Tidore.

Galvao mencatat pertarungan bersenjata antara pasukannya dengan pasukan koalisi para Sultan Maluku Kie Raha sebagai kemenangan. Argumennya adalah setelah benteng yang merupakan pusat pertahanan pasukan koalisi direbut, seluruh perlawanan praktis terhenti. Perlawanan mulai mereda setelah Deyalo terluka dan harus dibawah pergi dari menad pertempuran. Ketika perlawanan pasukan koalisi mereda, Galvao memerintahkan pasukannya naik ke kapal. Juangan Tidore masih berupaya menyerang armada Portugis pada waktu menyeberang ke Ternate. Sebelum Juangan Tidore beraksi, salah satu Juangannya ditangkap armada Galvao.

Sementara itu pasukan koalisi masih mencari cara yang tepat untuk menggempur kembali pasukan Portugis. Gempuran kali ini dilakukan melalui laut. Setelah terjadi pertemputran laut yang singkat, pasukan koalisi mengundurkan armadanya dan menghentikan semua aksi militer. Jalan perundinganpun mulai diupayakan. Aksi-aksi perusakan oleh pasukan-pasukan Portugis masih dilanjutkan setelah itu. Pohon-pohon di tebang termasuk rumpun-rumpun pisang dan tanaman the termasuk kebun ketela poshon dan jagung. Sebuah desa yang terletak tidak jauh dari benteng yang direbut dibakar setelah penduduk melarikan diri. Kemudian Galvao memperoleh berita bahwa para sultan Maluku Kie Raha berkumpul di Seli, bebrapa kilometer dari Mareku.

Setelah diselidiki ternyata semua Sultan telah kembali ke negerinya masing-masing dan yang ada di Seli tinggal King Mir Sultan Tidore. Timbullah niat Galvao menyerang Seli. Tetapi sebelum persiapan penyerbuan rampung, perutusan King Mir tiba dan minta berjumpa dengan Galvao. Dengan ramah Galvao menerima perutusan tersebut dan memberikan hadiah. Tetapi setelah melihat utusan yang dating itu hanya orang biasa, bukan pejabat tinggi kerajaan., Galvao berujar “katakana pada King Mir, jika mau berdamai, Sultan harus mengirimkan seorang ksatria yang terkenal”.

Tak lama kemudian datanglah seorang petinggi kerajaan Tidore lengkap dengan pengawalnya, ditemani utusan terdahulu dan memperkenalkan dirinya sebagai utusan King Mir. Galvao bertanya kepada petinggi kerajaan itu, tentang maksud kedatangannya yang dijawabnya oleh utusan tersebut sebagai berikut:

“King Mir berpesan, bila Gubernur hendak berdamai seperti yang diperlihatkan, sekaranglah saatnya dan perdamaian harus segera dilaksanakan dengan sarat Gubernur harus hengkang dari pulau ini dan jangan lagi berperang dengannya karena Sultan Jailolo telah kembali ke negeri asal mereka masing-masing”.

Petinggi kerajaan itu tidak menyebut tentang Deyalo Sultan Ternate karena telah meninggal. Kematian Deyalo dirahasiakan. Dialah sultan Maluku Kie Raha tidak mengizinkan Sultan dilukai apalagi dibunuh, karena Sultan merupakan tokoh yang mulia dan suci. Kematiannya harus dibalas demi kejayaanya. Galvao menegaskan bahwa perdamaian hanya mungkin bila ia dan Sultan Tidore King Mir duduk berhadapan dalam satu meja perundingan. Untuk itu King Mir harus datang kepadanya.

Tetapi petinggi kerajaan utusan King Mir menjawab bahwa tak mungkin Sultan mereka dating kepada Galvao, karena hal itu bertentangan dengan tradisi kesultanan. Untuk sampai pada pertemuan, jauh hari sebelumnya sudah harus dirancang, sedikitnya tujuh sampai delapan bulan yang lalu. Ini adalah tradisi yang tidak bias di ubah. Petinggi kerajaan untusan King Mir menyarankan kepada Gubernur Galvao untuk bertemu dengan Kaicil Rade, saudara kandung Sultan Tidore. Kaicil Rade adalah tokoh yang dihormati serta terpandang dan kini menjabat sebagai Kapita Laut Tidore. Galvao menyetujui saran ini, tetapi utusan King Mir kembali menimpali bahwa tradisi Kerajaan Tidore tidak membolehkan hal itu baik Sultan , saudara kandungnya atau para bangsawan dan cukup dirinya, karena ia merupakan utusan resmi Sultan.

Mendengar argumentasi itu itu Gubernur Galvao utusan sultan pergi, karena mustahil suatu perdamaian akan tercapai tanpa bertemu dengan Sultan atau Kaicil Rade, setelah utusan itu diberi hadiah, ia lalu pergi. Tetapi tidak lama kemudian ia kembali lagi dengan membawa pesan bahwa Gubernur berunding cukup dengan Sangaji. Tetapi Gubernur menolak dan menyuruh utusan itu pergi dengan menitipkan pesan bahwa perundingan hanya dapat digelar bila yang hadir adalah Sultan sendiri dan Kaicil Rade.

 

Pertemuan Gubernur Galvao dengan Kaicil Rade dan King Mir.

Gubernur Galvao dan beberapa perwiranya bersiap berangkat ke Seli, kota di mana King Mir berada. Tetapi sebelum berangkat, sebuah pesan tiba yang menyatakan Kaicil Rade segera datang dengan pengawalnya. Mereka semua akan berpakaian putih-putih. Mendengar pesan ini, Galvao dan stafnya pergi menyongsong rombongan Kaicil Rade. Galvao tahu profil Kaicil Rade sebagai pria yang santun, berwibawa, dan cerdas. Selama pemerintahan Sultan Amiruddin Zulkarnain atau King Mir, Kaicil Rade adalah otak seluruh aktivitas kerajaan dan kinerja Sultan Tidore itu. Dia adalah adik King Mir, bias berbahasa Spanyol dan Portugis dengan lancer dan fasih. Dalam jajaran pemerintahan Kesultanan Tidore , Kaicil Rade menjabat sebagai Kapita Laut Kerajaan. Tetapi tugas dan pekerjaan yang dilaksanakan atau yang dijalankannya melebihi dari itu.

Para sejarawan Barat berpendapat bahwa sebenarnya Kaicil Rade-lah yang mengendalikan pemerintahahan Kesultanan Tidore. Setelah bersalaman terjadi omong-omong sebentar, usai basa-basi terjadilah dialog antara Galvao dan Kaicil Rade yang oleh Galvao direkam dalam bukunya, berujar kepada Kaicil Rade;

“ Tuan Kaicil Rade, saya tahu bahwa anda seorang pria terhormat, dan sebagai tambahan bagi derajat anda, anda terkenal sebagai sosok yang paling adil dan berbudi pekerti di negeri ini, selama menjadi kapten utama melawan Portugis, seperti diperlihatkan oleh tanda-tanda berbeda yang anda kenakan dan oleh unggulnya keberanian anda. Tentang semua yang saya dengar mengenai anda, saya dengan senang hati, memberikan kepada anda atas nama raja Portugis, kerajaan ini, karena bukan keinginan saya, kakak anda memerintahnya (lagi) ataupun salah satu Sultan yang lain, karena mereka telah memberontak setiap hari melawan benteng. Jika para kapten dan orang Portugis melakukan kejahatan terhadap mereka, seperti kata mereka, ada gubernur tempat mereka mengeluh. Atau mereka bias mengirim keluhan mereka ke Portugis, karena

Raja berpikiran begitu terbuka dan baik hati, sehingga ia tidak saja berbuat keadilan terhadap mereka, seperti yang diperintahkannya kepada para kapten, tetapi juga memberikan kepada mereka banyak bantuan dan kehormatan”

Sementara Kaicil Rade mengucapkan sambutan dan beberapa persoalan lain, ia meneteskan air mata. Gubernur Galvao melihatnya dengan merasa iba dan berkata; “Tuan Kicil Rade, saya sangat menyesal melihat memperhatikan kelemahan anda. Perempuan saja tidak pantas melakukannya, apalagi anda seorang petinggi Kerajaan.” Kaicil Rade lalu menjawabnya;

“ Ini bukanlah akibat suatu kelemahan atau kehilangan suatu kepercayaan terhadap diri dan kehidupan. Karena saya tahu hal-hal seperti ini sering kali terjadi di dunia. Tetapi ia muncul dari sebuah perasaan, bagaimana telah saya dilahirkan disebuah negeri yang jahat dan saya harus dipandang sebagai salah satu putranya. Karena itu, tuan Galvao saya mohon anda berhenti mendesak saya dengan tawaran-tawaran perihal kerajaan ini dan membiarkan saudara saya tetap bertahta. Saya berjanji kepada anda bahwa ia tidak akan memberontak selama masa tugas anda, atau Gubernur lainnya, selama saya masih hidup. Saya akan terima tawaran anda bagi kerajaan yang kesusahan ini, dengan tanggung jawab saya, bahwa anda akan dilayani dengan baik olehnya, jika saudara saya dan keluarganya tetap dalam status mereka”.

Kata-kata dan janji Kaicil Rade yang diucapkan pada pertemuan tersebut oleh Gubernur Galvao kemudian dibuktikan sebagai janji yang benar dan dapat dipercaya. Antara Galvao dan Kaicil Rade kemudian terjalin persahabatan erat dan keduanya saling bersapa dengan sebutan “saudara”. Kaicil Rade dapat melunakan kesombongan dan egoisme Gubernur Galvao, terbukti dari keinginan Gubernur untuk mengganti King Mir dengan Kaicil Rade dapat diredamnya. Kehendak untuk menurunkan King Mir dari tahtanya didasarkan pada jalan pikiran bahwa perang telah berakhir dengan kekalahan King Mir sebagai Raja yang dikalahkan, King Mir harus didepak dari tahtanya dan Portugis seolah-olah menggantinya dengan orang lain.

Demikianalur piker Gubernur Galvao. Sementara keinginan Galvao bertemu dengan King Mir akan diusahakan Kaicil Rade dengan sebaik-baiknya, walaupun hal itu sukar dilakukan tanpa menerobos tradisi yang selama ini berlaku di Kerajaan Tidore tentang hak Prerogatif Sultannya. Galvao sempat menyatakan kepada Kaicil Rade apabila ia tidak dapat bertemu dengan King Mir, gencatan senjata akan dicabut. Hal ini berarti Portugis dan Tidore akan kembali berkelahi. Pada hari berikutnya Kaicil Rade mengirim pesan kepada Gubernur Galvao supaya tetap menunggu ditempatnya dan seorang kurir akan ia kirim. Di suatu pagi, ketika Galvao mendarat dari kapalnya ke pantai, Kurir Kaicili Rade memberitahukan bahwa rombongan Kaicil Rade akan datang. Tak berapa lama setelah kurir itu pergi, para penjaga (pasukan yang berpiket) member informasi kepada Gubernur bahwa mereka melihat banyak orang menuju ke tempatnya, tetapi tampaknya mereka tidak bersenjata.

Gubernur dan stafnya baik sipil maupun militer, menyongsong rombongan besar yang datang. Tampak King Mir berjalan di tengah, Kaicil Rade di tengah depan, diikuti sejumlah pembesar kerajaan, para kapita dan bobato lainnya, semuanya berpakaian serba putih-putih sebagai penghormatan kepada almarhum Sultan Ternate Deyalo, dan sepupunya yang tewas dalam perang melawan Portugis beberapa hari yang lalu. Gubernur mengambil tempat duduk di samping King Mir dan Kaicil Rade. Setelah berbagai masalah dibahas sebulum zhuhur, perundingan selesai.

Gubernur Galvao kemudian menjamu para peserta dengan makan siang. Walaupun perundingan resmi telah berakhir, kedua belah pihak masih tinggal sampai malam tiba, saat armada portugis bertolak kembali menuju ke Ternate membawa Gubernur dan pasukannya. Obor dan lilin dalam jumlah besar dinyalakan ketika Gubernur Galvao naik ke kapal, semua pihak termasuk King Mir merasa puas (sumber M. Adnan Amal-Portugis dan Spanyol di Maluku, pengantar A.B. Lapian- Hal. 105 s/d 118).

Belajar dari pengalaman Portugis dan Spanyol, Ternate menggandeng Portugis dan Tidore pun bergengsi menggandeng Spanyol, kehadiran kedua bangsa Eropa ini kedua kerajaan secara tidak sadar kehilangan kemerdekaan dan kebebasan. Portugis berkuasa di Maluku dan Maluku Utara: 1521-1575, sedangkan Spanyol berkuasa di Maluku dan Maluku Utara: 1521-1663. Kedua bangsa Eropa ini bercokol selama 142 tahun.

 

Masa Pemerintahan Sultan Kie Mansur; 1547-1569.

Periode Sultan Kie Mansur meneruskan jejak Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain rekaman jejaknya tetap menyatu dengan rakyatnya selalu mengasi rakyatnya agar tidak mudah terpengaruh dengan misi Jesuit. Sultan ini selalu bekerja sama dengan para ulama negeri dan tetap memberikan tekanan kepada misi Jesuit untuk tidak membabtis para masyarakat pribumi.

 

Masa Pemerintahan Sultan Iskandar Sani; 1569-1586.

Pada periode Sultan Iskandar Sani, Sultan ini sangat berhati-hati apabila hendak mengambil suatu kebijakan terhadap misi Jesuit. Diberitakan bahwa suatu ketika ada seorang bangsawan kerajaan Tidore hendak melakukan konversi ke agama Kristen, tetapi lantaran kuatnya pengaruh ulama, akan tetapi pada awal 1578, kecenderungan dan kepedulian mulai tumbuh setelah dengan izin Sultan Tidore, Portugis berhasil membangun sebuah benteng di Tidore pada Januari 1578.

Pada 1605, benteng tersebut ditinggalkan untuk VOC. Pembangunan benteng Portugis ini berawal ketika Sultan Tidore Iskandar Sani datang dan minta bantuan Portugis pada 1576. Dalam kesempatan itu, Sultan Iskandar sekaligus mengundang seorang vikaris dan menjanjikan sebuah tempat untuk membangun sebuah rumah hunian dan Gereja yang akan dikerjakan orang-orang Tidore. Gereja itu dibangun berdekatan dengan benteng, yang dipimpin seorang kapten. Wewenang kapten benteng tersebut hanya sebagai komandan pasukan.

Benteng Portugis di Tidore itu dinamakan “dos Reis Magos” pada 1578, untuk pertama kalinya perayaan Natal dirayakan dan diadakan di Tidore, dan berlangsung dalam benteng yang baru dibangun. Setelah gereja selesai dibangun pada 1580, Fraster Ferari memindahkan semua kegiatan Misi Jesuit ke gedung yang baru di bangun itu. Menurut izin Sultan Tidore , gereja itu hanya boleh berdiri dekat benteng. Pada masa Sultan Iskandar Sani, umat kristiani dibolehkan mengikuti misi bila benteng selesai dibangun dan dijaga ketat oleh tentara. Tetapi, Iskandar Sani melarang penginjilan terhadap pribumi. Karena larangan itulah, jarang atau hamper-hampir tidak pernah terjadi pembabtisan terhadap warga pribumi Tidore.

Jadi walaupun misi Jesuit telah memiliki gereja sendiri di Tidore, namun yang mengikuti kegiatan gerejani hanyalah orang-orang Portugis, orang-orang Moro dan Bacan yang dideportase dari benteng Gamlamo ke Tidore berdasarkan perjanjian yang dibuat ketika Portugis menyerah kepada Babullah. Kehadiran Portugis dan misi Jesuit di Tidore juga telah menimbulkan sejumlah konflik, bahkan antara Portugis dengan Spanyol, karena yang terakhir ini tidak suka melihat orang-orang Portugis bercokol di negeri sekutu mereka. Mulai 1610, Fraster Jorge Fonseka “memelihara” stasiun Jesuit di Tidore hingga 1623. Pada 1612 Fraster Fonseca hampir berhasil membaptis istri seorang pangeran Tidore, tetapi dengan sangat hati-hati ia memutuskan menangguhkannya. Keputusan ini diambil Fraster Fonseca untuk menghindari hal-hal spektakuler dan resiko yang mungkin terjadi lantaran konversi tersebut.

Tetapi pada 1665 terjadi pembabtisan seorang pangeran Tidore di Manila. Karena pertimbangan psikologis dan keselamatan pangeran itu sendiri (sumber; M. Adnan Amal. Portugis dan Spanyol di Maluku hal. 144 s/d 146. Pengantar A.B. Lapian. Catatan; Pangeran Tidore sekeluarga yang dibaptis di Manila tidak disebut namanya).

 

Masa Pemerintahan Sultan Amir Bifadlil Sirajul Arifin, alias Gapi Banguna: 1586-1599.

Pada periode Sultan ini pun agak moderat terhadap misi Jesuit . tetapi sifat moderat itu mempunyai latar belakang politik. Sultan Gapi Baguna mulai jinak terhadap Portugis karena khawatir akan kekuatan militer Ternate dibawah Babullah. Dialah yang mengizinkan Portugis membangun sebuah benteng di Tidore pada 1587, dengan menyediakan lokasinya dan mengundang seorang Fraster untuk bertempat tingggal disekitar benteng guna , memberikan pelayanan spiritual kepada orang-orang Portugis dan Spanyol yang bermukim di Tidore tetap dilarang.

Masa Pemerintahan Sultan Mole Majimo 1599-1626.

Pada periode Sultan Mole Majimo, keadaan Portugis di Maluku Sudah sangat lemah. Fraster Bafaerl de Barafo dalam suratnya pada 30 Mei 1665, yang dikirim kepada Fraster General Roma, memberitahukan bahwa seorang pangeran Tidore pada 1665 telah dikonversi bersama keluarganya di Manila, bukan di Tidore. Tidak disebut nama pangeran Tidore tersebut. Tetapi dialah satu-satunya bangsawan Tidore yang berhasil di konversi dari Islam ke Kristen.

Masa Pemerintahan Sultan Alauddin Ngoramalamo 1526-1633.

Pada periode Sultan Ngora Malamo ketika Kesultanan Tidore masih bermitra dengan Spanyol dan sudah dipenghujung kekuasaan Spanyol 1663, usia kekuasaan Sultan ini hanya tujuh tahun.

Masa Pemerintahan Sultan Saidduddin, Gorontalo 1633-1653

Pada periode Sultan Gorontalo Kesultanan Tidore masih bermitra dengan Spanyol, kondisi kerajaan tetap sama. Begitupun masa pemerintahan Sultan Said Abdillah 1653-1657. Masa pemerintahan Sultan Malikiddin Molemaginyau 1657-1659. Dan masa pemerintahan Sultan Syaifuddin Jou Kota 1659-1668. Bangsa Eropa pada periode itu penguasa Kamar Dagang adalah Spanyol meninggalkan pelabuhan Soasio Tidore pada 1664.

Pada periode Sultan Syaifuddin alias Jou Kota beliaulah yang menata kembali system pemerintahan yang kita kenal dengan “Kolano sei Bobato Pehak Raha se isuduru” yang dipraktekkan sampai pada saat ini bahkan sampai dengan seterusnya. Pada era Sultan ini juga lahirlah demokratisasi dan mekanisme dalam pencalonan Sultan Tidore. Jauh sebelumnya tata cara pencalonan Sultan Tidore belum mengenal istilah “Fola Raha”, barangkali mekanismenya tersendiri sesuai dengan situasi dan kondisi pada waktu itu.

Masa Pemerintahan Sultan Syaifuddin atau Jou Kota 1659-1668.

Syaifuddin naik tahta pada 3 Rabbiul Awal 1066 H. bertepatan dengan 1657 M di Toloa Gamlamo, tiga tahun kemudian Syaifuddin memindahkan ibu kota kerajaan dari Toloa ke Limau Timore (Soasio sekarang). Ketika masa kekuasaannya di Toloa, Belanda membumihanguskan negeri itu karena Sultan Syaifuddin menolak peraturan Belanda tentang pembayaran blasting pajak kepada pemerintahan Belanda. Pemindahan ibu kota kerajaan dari Toloa ke Limau Timore dengan alas an geografis.

Syaifuddin mencetuskan system pemerintahan baru yang dikenal dengan “Kolano Se Ibobato Pehak Raha se Isuduru”, yang artinya Sultan bersama Empat Kementrian dan Stafnya, system ini berjalan sampai pada saat ini, pada periode Sultan Syaifuddin yang diakrabi dengan sebutan Jou Kota membangun sebuah jembatan laut yang disebut Dou-dou Kolano yang dilengkapi dengan sebuah bangunan tempat pertemuan yang disebut Bululu Madee, atau “ujung bundaran”, sebuah pos jaga dan muara tempat berlabuh armada Sultan yang disebut Juanga Kagungan. Ada pintu Labuan masuk disebut Doro Kolano, dan tempat berlabuhnya armada umum disebut Gurua Tagalaya. Di Bululu Madee tempat bersidang para utusan-utusan dari wilayah-wilayah atau yang disebut Utusan Nyili-nyili. Yang kemudian melahirkan Peraturan Kie se Kolano yang setara dengan Undang-undang Dasar Negara. Syaifuddin pun mencetuskan Lima Pola Dasar Kerajaan yaitu:

  1. Kie se Kolano atau Sultan bersama wilayah kekuasaanya.
  2. Adat se Lakudi yaitu Prikemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Atur se Aturan yaitu pelimpahan wewenang.
  4. Fara se Filang yaitu pembagian keuangan antara pusat pemerintahan dan daerah.
  5. Syah se Fakat setiap keputusan atas dasar musyawarah dan mufakat.

Pencetus demokratisasi tentang mekanisme dalam pencalonan dan pemilihan Sultan Tidore yang sampai hari ini dipraktekan. Uraian tugas dan system Bobato Pehak Raha se Isuduru akan kami uraikan pada halaman tersendiri.

Masa Pemerintahan Sultan Hamjah Fachruddin 1689-1700.

Periode Sultan Hamjah Fachruddin belum sempat berbuat apa-apa karena hanya setahun beliau bertahta kemudian wafat pada pertengahan tahun.

Masa Pemerintahan Sultan Abdul Fadlil Mansur 1700-1707

Periode Sultan ini meneruskan dan mempertahankan apa yang telah dilakukan oleh Sultan Syaifuddin.

Masa Pemerintahan Sultan Hasanuddin 1708-1728.

Periode Sultan ini belum ada gerakan tambahan, meneruskan dan mempertahankan apa yang telah dilakukan oleh Sultan Syaifuddin, bahkan pasca wafatnya Jou Kota, para Sultan lebih menyebarluaskan ilmu filososfi kemanusiaan;

  1. Suba se tabea, saling menghargai dan menghormati sesame manusia; Suba se Tabea, ketika berpapasan dengan orang tua yang lebih tua umur dan orang tua tersebut memakai tutup kepala peci atau kopiah lalu kita menyampaikan salam dan akan menyalami tangannya, maka tangan kiri kita diangkat seraya meletakan di diatas ubun-ubun kepala kalau kita tidak memakai tutup kepala atau peci. Kemudia kalau kita mau melewati orang yang lebih tua usia baik mereka dalam keadaan duduk atau berdiri maka kita harus menyampaikan kata “tabea jo”. Begitupun bertemu kepada orang lebih tua usia, ketika kita dipersilahkan duduk maka kita menyampaikan “suba Jo” seraya mengakat “sumba”
  2. Oli se Nyemo-nyemo Ge Budi se Bahasa, beretika dalam tutur kata dan bahasa; Oli se Nyemo-nyemo Ge Budi se Bahasa. Dalam bertutur kata, menggunakan kata atau kalimat yang sesuai dengan strata seperti mempersilahkan makan atau minum seperti “silahkan makan”; “talesa jo”, silahkan minum; “tales ate jo”, kalau kita sudah makan dan minum, jadi ada perbedaan antara hewan dan manusia.
  3. Ngaku se Rasai, memegang teguh amanah pendirian; Ngaku se Rasai adalah sebuah pengakuan yang harus dijaga, kepercayaan harus dipegang teguh
  4. Mae se Kolofino, mengutamakan rasa malu pada diri pribadi keluarga, tetangga, lingkungan bahkan kepada Tuhan yang maha Esa.
  5. Cing se Cingeri, selalu rendah hati dan merakyat; Cing se Cingeri, selalu rendah hati dan merakyat. Menempatkan diri sesuai proporsinya masing-masing dan selalu santun dan ramah menyesuaikan diri.

Inilah dasar Adat se Atoran Kesultanan Tidore tinggal bagaimana masyarakat mempraktekan dalam kehidupan bermasyarakat itu sendiri. Adat se Atoran ini disebarluaskan ke seluruh wilayah kekuasaan dengan menggunakan bahasa daerahnya masing-masing seperti daerah Gam Range yaitu Weda, Patani Gebe, dan Maba yaitu; Budi re Bahasa, Suba re Tabea, Ngaku re Rasai, Mae re Kolofino, Cing re Cingeri. Masyarakat sangat menjaga dan menjunjung tinggi Adat se Atoran ini sehingga terpelihara adat istiadat mereka tidak pernah bergeser walaupun adanya pergeseran nilai perkembangan zaman.

Masa Pemerintahan Sultan Amir Fifadlil Aziz Muhiddin 1728-1756

Periode Sultan ini pun tidak banyak berbuat kecuali meneruskan apa yang telah dilaksankan oleh para Sultan pendahulu.

Masa Pemerintahan Sultan Mas’ud Djamaluddin 1756-1779.

Periode Sultan ini sangat gigih melawan Kolonial Belanda pada akhirnya beliau ditangkap dan diasingkan ke Batavia dan meninggal dunia di sana dengan sebutan Jou pulang Batavia.

Masa Pemerintahan Sultan Patra Alam 1779-1784.

Patra Alam yang dianggap tidak mampu dan lemah secara politik membeli dukungan pejabat Gubernur Cornabe dengan cara menyuapnya menggunakan sejumlah hadiah. Jika diingat kembali, cukup adil untuk mengatakan bahwa kebijakan politik Gubernur Cornabe memperparah situasi politik.

Kedua putra Sultan Djamaluddin pangeran Kamaluddin dan Pangeran Nuku yang sangat tidak puas dengan pengangkatan pangeran Patra Alam menjadi Sultan Tidore. Mereka bersumpah tidak akan mengakui pangeran Patra Alam sebagai penguasa dan mengancam akan membuat masalah dan membahayakan kesultanan. Penolakan terhadap wali raja baru secara terbuka ini menunjukan bahwa ketidakpatuhan mereka sama sekali tidak boleh diragukan, Gubernur Cornabe percaya bahwa lawan-lawannya telah melakukan segala macam kebrutalan terhadap penduduk Tidore.

Pangeran Patra Alam dan Gubernur Cornabe memutuskan menyerang mereka. Gubernur Cornabe mengirimkan dua buah kapal ke Tidore di bawah komando Komisioner De Chahalmet. Setelah tiba di sana, Onderkoopman Hemmekam ditugaskan untuk memberikan peringatan “bersahabat” kepada kelompok Pangeran Nuku, Ia tidak perlu bersusah payah mengatakannya karena pemberontak bahkan tidak mau mendengarnya.

Ketika seorang peterjemah dikirim untuk menyampaikan peringatan terakhir, Hemmekam memobilisasi pasukannya untuk menyerbu. Pada 14 Juli 1780 negeri Toloa akhirnya diserang, dalam upaya mengusir para pemberontak, Gubernur Ternate menggunakan bantuan empat kora-kora yang membawa 100 orang Eropah dan milisi pribumi alifuru. Pertempuran sengit terjadi antara para pemberontak Tidore dengan orang alifuru dari ternate, sekitar 30 orang Tidore terbunuh dan orang-orang yang selamat melarikan diri ke pedalaman. Hanya satu orang Eropa dan beberapa orang alifuru yang terluka.

Negeri Toloa lalu dibumihanguskan, sebagian besar pangeran, para pejabat kesultanan Johukum, Sangaji dan beberapa Gimalaha dari Toloa yang memimpin perlawanan ditangkap.

Gubernur Cornabe menobatkan Patra Alam sebagai Sultan Tidore pada 17 Juli 1780. Kamaluddin dan para pangeran lainnya dikirim ke Batavia, 10 hari kemudian pangeran Nuku dan Malikkiddin orang yang sangat penting berhasil lolos dari penangkapan dan melarikan diri ke Papua didampingi oleh beberapa orang bobato yaitu Jojau/Jogugu, Jou Hukum, dua Gimalaha dan Fomanyira serta 400 orang Tidore.

Mereka melarikan diri lewat Payahe, dan dari sana mereka berhasil lolos ke Weda, Patani dan seterusnya ke Maba, tempat orang Belanda melihat mereka pada 22 Juli 1780. Daerah-daerah yang dipilih para pemberontak sebagai tempar pengungsian terletak di Maluku Tengah dan Timur dimana control Belanda relative lemah. Disana pula orang Papua dan Seram Timur memegang tradisi lama yaitu menumbangkan kekuasaan VOC Seram Timur menjadi pangkalan utama pangeran Nuku.

 

Traktat 1780; Hilangnya kemerdekaan.

Di Tidore sebuah traktat baru antara Patra Alam dengan Gubernur ditandatangani di benteng Oranje pada 17 Juli 1780, dalam kesempatan ini VOC secara formal mengubah secara keseluruhan status hubungannya dengan Kesultanan Tidore. Traktat-traktat sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Pada masa kekuasaan Sultan Syaifuddin (memerintah 1657-1689) telah memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan orang Spanyol dan sebaliknya berupaya membuat persekutuan dengan orang Belanda pada 1667.

Sebuah traktat yang dibuat oleh atau antara VOC dan kesultanan Tidore, dimana VOC mendapatkan status pelindung, traktat 1780 dapat dilihat sebagai akhir Tidore sebagai Negara “merdeka” sebagai bawahan, para Sultan sekarang harus mengirimkan upeti tahunan berupa empat orang budak, 10 ekor burung kakak tua, dan 10 ekor burung nuri kepada Gubernur Jendral di Batavia. Kesultanan bahkan secara formal diwajibkan untuk menyerahkan inventaris semua perhiasan emas dan perkakas perak rumah tangga yang dimilikinya. Sebagian besar kewenangan politiknya dihapuskan tanpa belas kasihan.

Sultan tidak lagi diperkenankan berkomunikasi dengan Negara tetangga atau Negara-negara asing yang lebih jauh tanpa mendapatkan izin terlebih dahulu dari VOC. Tidak ada benteng atau konstruksi lain yang boleh dibangun tanpa persetujuan VOC. Demikian traktat yang dibuat antara Patra Alam dengan Gubernur Cornabe.

Masa Pemerintahan Sultan Kamaluddin 1784-1797.

Sultan Tidore melawan Sultan Papua dan Seram, setelah menurunkan dari tahta dan menghukum Sultan Patra Alam yang sebelumnya setia. Belanda mengangkat pangeran Kamaluddin yang sebelumnya mereka tangkap dan diasingkan ke Sri Lanka, paska serangan Tidore pada 1780 (Toloa Tidore) sebagai Sultan.

Pengukuhan pangeran Kamaluddin sebagai Sultan Tidore ditandatangani di Batavia pada 18 Oktober 1783. Dibawah traktat kekuasaan absolute dan kepemilikan VOC terhadap kerajaan Tidore secara eksplisit dinyatakan kembali. Sultan Kamaluddin tiba di Ternate pada 18 April 1783 dan dinobatkan pada hari yang sama, Muhammad Arif Bila mantan Sangaji Tahane yang pernah ditangkap pangeran Nuku di Makian pada 1783 diangkat menjadi Jogugu, Batta diangkat menjadi Kapita Laut, dan Abdul Gani sebagai Sekretaris.

Sultan Kamaluddin terpaksa menetap untuk sementara waktu di Ternate, karena dalam serangan gabungan Ternate-Belanda terhadap Ibu Kota Tidore, Soasio pada 1783 istanah telah dihancurkan. Diangkat pangeran Kamaluddin sebagai Sultan Tidore adalah strategi cerdik untuk mendapatkan kestian orang Seram dan Papua, terutama orang Tidore yang pernah mendukung pangeran Nuku. Sultan Kamaluddin lebih berani bertindak dari pada pendahulunya, Patra Alam. Dalam masa lima tahun pertama di atas tahta, ia berhasil mengkonsolidasikan kerajaan Tidore di bawah kekuasaannya. Pangeran Nuku menulis sepucuk surat kepada Sultan Kamaluddin.

Dalam surat tersebut ia menyatakan bahwa ia akhirnya menyatukan pasukannya dengan pasukan Inggris, mencapai apa yang sudah diusahakan dalam waktu begitu lama. Ia menjamin bahwa dirinya dirinya tidak akan menyakiti kesultanan Tidore, sebaliknya ia menawarkan persekutuan memerintah Tidore bersama-sama dalam kedamaian. Gubernur melarang Sultan Kamaluddin untuk membalas surat itu. Gubernur Budach mengamati bahwa sebagian besar berita atau isyu tersebut tidak benar dan sengaja dibuat untuk menakut-nakuti penduduk.

Namun demikian ia tetap waspada, pangeran Nuku adalah seorang diplomat ulung dan seorang kesatria yang tegar dan tegas. Roda waktu terus bergulir pada tanggal 11 April 1797 pangeran Nuku mengutuskan Abdul Djalal ke Soasio Tidore menemui Sultan Kamaluddin menyampaikan ultimatum Nuku sebagai berikut:

  1. Angkatan perang Nuku hanya memerangi kompeni Belanda dan sekutunya.
  2. Masing-masing pasukan melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri dan melaporkan pada hari yang telah ditentukan.
  3. Jangan membunuh orang yang telah menyerah, dan jangan membakar rumah dengan sia-sia.
  4. Barang rampasan berupa senjata dan amunisi dan mesiu harus dibawah ke markas besar.
  5. Orang-orang belanda yang tertahan jangan dibunuh melainkan dihadapkan kepada Nuku.
  6. Penyerbuan ke Tidore ditetapkan pada 12 April 1797.

Sultan Kamaluddin dikelilingi oelh pembesar-pembesar Belanda dengan tegas menolak ultimatum Pangeran Nuku. Dan pada malam gelap gulita itu Sultan Kamaluddin melarikan diri ke Ternate dikawal serdadu-serdadu Belanda dan beberapa orang Bobato serta keluarganya Sultan menggunakan lima buah kora-kora.

Masa Pemerintahan Sultan Amiruddin Muhammad Al-Mab’us 1797-1805.

Ketika ditangkapnya Sultan Mas’ud Djamaluddin, ayahnya dari pangeran Nuku bersama kedua saudaranya pangeran Zainal Abidin dan Nurlaela, Sultan Djamaluddin menetap di Batavia, sedangkan Zainal Abidin dan Nurlaela diasingkan di Sri Lanka, Zainal Abidin kemudian pulang ke Tidore dengan menumpang sebuah kapal Inggris sedangkan Nurlaela menikah dan tinggal di sana dengan sebutan Nurlaela Kolombo.mengenal sosok Sultan Amiruddin yang diakrabi dengan panggilan Nuku sangat melekat di hati masyarakat se anteru Maluku dan Papua sedangkan orang Tidore menyebut dengan panggilan Jou Barakati.

Ia adalah pemimpin pemberontakan yang berhasil melawan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie atau Perusahan Dagang Hindia Timur 9 Belanda ) dan para sekutu pribuminya yang berlangsung selama 25 tahun. Dilahirkan pada awal Juli 1738 di Tidore. Pada 1780 ia melarikan diri dari Tidore dan mengungsi ke Seram Timur, Halmahera dank e Raja Ampat, tempat ia melancarkan pemberontakan. Pada awal pemberontakan berpusat di Tidore, pusat Kesultanan. Pulau Tidore hanya memiliki luas sekitar 12.950 Km2, walaupun ukurannya mungil pegunungan dipulau ini tingginya mencapai 1730 m dari atas permukaan laut.

Pusat pemerintahan kesultanan Tidore berawal di Rum Duko, kemudian ke Balibunga, Seli, kemudian ke Toloa dan pada akhirnya di Soasio, dan untuk selamanya. Sultan Nuku adalah pahlawan Nasional yang ditetapkan dengan surat keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 071/TK/1995. Tanggal 7 Agustus 1995. Sebagai Pahlawan Nasional dengan penganugerahan “Bintang Maha Putra Adi Pradana”. Sejarah dan perjuangan Sultan Nuku banyak ditulis oleh para sejarahwan; G.A. Ohorela (1990) Perlawanan Nuku di Tidore, A. Basuki; (1976) Nuku Pahlawan Tidore yang mengalahkan Belanda, Elianus Katopo (1950) Pemberontakan Nuku, Benyamin Marazabessi (2002) Perjuangan Mempertahankan Kedaulatan Tidore, Muridan Wijoyo (2013) Pemborantakan Pangeran Nuku; Persekutuan Lintas Budaya.

Sepak terjang Sultan Nuku banyak tertuang dalam buku buku sejarahnya. Nuku memproklamirkan kemerdekaan Kerajaan Kesultanan Tidore pada hari rabu 12 April 1797 jam 12.00 siang tanpa ada perlawanan. Nuku meninggalkan tanah ibu pertiwi tempat ia dilahirkan selama 25 tahun dalam perjuangan dan pengasingan tetesan air mata bunda pertiwi berakhir pada 12 April 1797. Delapan tahun bertahta di kadaton salero dan pada 14 November 1805 Nuku berpulang ke Rahmatullah dalam usia 67 tahun. Sultan Nuku adalah seorang suhada wasy shalihiin. Amin ya Rabbal Alamin

Masa Pemerintahan Sultan Zainal Abidin 1805 -1810.

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Tidore dan Belanda mencapai status quo, bermusuhan karena perundingan-perundingan antara Nuku dengan Belanda tidak pernah terselesaikan. Pada akhir 1805 bentrokan senjata dimana pangeran Major Ceilon terluka, memperparah situasi. Cransen segera menulis surat kepada Sultan Zainal Abidin agar dapat berbaikan dengannya.

Namun sebagaimana dikeluhkan Gezaghebber Ternate, Weiling, Sultan Zainal Abidin tidak sedikitpun menunjukan sikap mau berdamai, sementara Raja Jailolo terus mengganggu kapal-kapal VOC. Pada 6 Juli 1806 posisi Sultan Zainal Abidin semakin kuat dengan kedatangan skuadron angkatan laut Inggris. Belandapun dalam posisi bertahan mencemaskan serangan gabungan Inggris-Tidore.

Setelah orang Inggris pergi, pada 13 November 1806 pasukan Belanda dan Ternate melancarkan serangan terhadap Tidore, mereka menduduki kembali Tidore yang sebelumnya Nuku merebutnya pada 12 April 1797. Sepuluh hari kemudian, sejumlah pemimpin Tidore menandatangani amnesty, Haji Omar yang merupakan salah satu pendukung terbesar dan terpenting Sultan Nuku diserahkan kepada Belanda dan dihukum mati. Dua hari sebelum serangan, seorang pangeran Ternate memata-matai kekuatan militer Tidore dan situasi setempat. Pihak Tidore beruntung; pangeran Tidore Abdul Halim memberitahu Sultan Zainal Abidin dan Raja Jailolo serta para bangsawan Tidore tentang serangan tersebut sehingga mereka bias meloloskan diri ke Weda.

Di Weda Sultan Zainal Abidin menjelaskan bahwa ia siap memimpin perang melawan Belanda, tetapi orang-orang Weda menolak, ia lalu pindah ke Patani, di sana Sultan Zainal Abidin memerintah agar menyusun sebuah expedisi untuk menyerang Kao, Gelela, Makian, dan Tidore, namun ia mendapat penolakan tegas. Ketika ia menghadapi perundingan yang sia-sia ini, armada Wieling mengejarnya di sekitar Maba, Weda, dan Patani. Sebagian besar pendukung Tidore berada di Bicoli Maba. Ia akhirnya tersudut pada Februari 1807. Reputasi Sultan Zainal semakin menurun. Ia gagal mempertahankan Tidore.

Tidore dikepung kurang lebih selama tiga tahun oleh Belanda dan sekutunya Ternate yang dikenal dengan Hongi Balangenge, nyaris penduduk Tidore hampir mati kelaparan Sultan Zainal Abidin melarikan diri ke Bicoli dan meninggal dunia di sana dengan sebutan “Jou Pulang Bicoli”, kuburan berada dan terletak di samping Kali Kasuba, masyarakat setempat menyebut dengan sebutan “Jere Popo”. Pada tahun 1972 saya (penulis) sempat menziarahi makam Sultan Tersebut, dan kemudian pada 12 Mei 2015 Sultan Tidore yang ke 37 bersama Bobato Pehak Raha (empat kementrian) bersilaturahim ke Maba dan menyempatkan waktu berziarah ke makam Sultan Zainal Abidin di Bicoli.

Masa Pemerintahan Sultan Muhammad Tahir Muijuddin 1810-1821.

Sebelum naik tahta menjadi Sultan Tidore Muhammad Tahir adalah seorang desainer dan seniman. Beliau mulai menddesain bentuk Kadato Kie dan kemudian bekerjasama dengan para ulama setempat, pada era itu pengaruh ulama di Tidore sangat kuat.

Begitu beliau naik tahta menggantikan Sultan Zainal Abidin, beliau mengirim utusan ke wilayah-wilayah untuk menyampaikan bahwa kerajaan kesultanan Tidore mau membangun sebuah Mesjid kerajaan di ibu kota kerajaan Tidore di Soasio dan membangun sebuah Kadaton Sultan yang lebih baik dan besar dari Kadaton-Kadaton sebelumnya, walaupun Mesjid Sultan sudah dibangun pada 1710 sebagai Mesjid Sultan yang ketiga setelah dua Mesjid berada di Toloa Gamlamo.

Dalam waktu yang singkat itu datang dan hadir para tukang dari wilayah-wilayah yaitu dari Raja Ampat, Maba, Patani, dan Weda. Kerja keras Sultan Muhammad Tahir berhasil membangun sebuah Kadaton dengan kepala tukang dari dari soa Kipu Bela Toduho yang kita kenal dengan arsitektur Tidore “Lang Kie Jiko Sorabi”. Pembangunan Kadaton ini memakan waktu hampir lima puluh tahun. Kadaton ini kemudian diberi nama “Kadato Kie” setara dengan istana Negara. Bentuk kadaton ini menyerupai kalajengking jantan yang dalam bahasa Tidore disebut “ Hai Mole “. Takdir menyertai perjalanan hidup Sultan Muhammad Tahir beliau wafat pada tahun 1821.

Kemudian pembangunan Kadaton ini dilanjutkan oleh Sultan Ahmadul Mansyur Sirajuddin dan Sultan Ahmad Syafiuddin, yang sempat menempati Kadato Kie adalah Sultan Ahmad Fatahuddin dan Sultan Ahmad Qawiyuddin alias Syahjuana. Kadaton ini rusak pada tahun 1912. Pengrusakan dilakukan oleh Jojau Muhammad Alting (Nau Cenge) bersama para pangeran dan keluarganya.

Penyebab pengrusakan Kadato Kie ini, karena ada seorang lelaki yang bernama “Besi”, berambisi menjadi Sultan Tidore menggantikan Sultan Syahjuan yang wafat pada 1905. Besi memiliki pendukung yang cukup besar mulai dari Weda, Ptani, dan Maba. Massa pendukung terkosentrasi di Gita dan menunggu saatnya mereka akan menyerang ke Tidore. Hal ini membuat Jojau Muhammad Alting alias Nau Cenge mengambil keputusan karena panic, sebab orang Tomalou yang memukul sagu di Gita datang dan menyampaikan kepada Jojau Muhammad Alting bahwa massa pendukung Besi cukup banyak dengan perbekalan makanan dan persenjataan yang lengkap.

Jojau Muhammad Alting mengutuskan beberapa pangeran dan Bobato adat para Gimalaha dan Fomanyira ke Ternate melaporkan kepada Konteler Ternate maka Konteler Ternate mengirim bantuan ke Tidore dan seterusnya ke Gita dan menghalau Besi dan pengikutnya. Namun di pagi subuh Nau Cenge beserta keluarga besar Alting telah emukul rata Kadato Kie, harta benda milik Kadato Kie sebelumnya sudah diungsikan keluar. Apa mau di kata, menyesal kemudian tak berguna. Kadato Kie rata dengan tanah tinggal puing-puing berserakan “Besi “ tak kunjung tiba.

Masa Pemerintahan Ahmad Mansur Sirajuddin 1821-1857

Pada periode Sultan ini beliau menetapkan hak-hak ulayat kesultanan Tidore yaitu pulau Papua tanah besar dan sekitarnya termasuk pulau-pulau Raja Ampat dan pulau Gebe dan pulau-pulau kecil lainnya.

Selain itu beliau menerima kunjungan dua misonaris Kristiani berkebangsaan Jerman yaitu Pendeta C.W. Ottow dan Giesler membawa misi Kristen Katolik. Kedua pendeta ini diterima oleh Sultan dengan para Bobato Pehak Raha (Empat Kementrian). Kedua pendeta ini tinggal beberapa bulan di Tidore, sebelum kedua pendeta ini ke Papua terlebih dahulu Sultan Ahmad Mansur Sirajuddin mengutuskan dua orang pangeran satu orang juru bicara ke Papua untuk mengadakan pendekatan dengan masyarakat setempat.

Karena jauh sebelumya ada dua orang misionaris berkebangsaan Belanda dan Amerika ketika mereka menginjakkan kaki di Papua keduanya diperlakukan oleh sekelompok yang penuh dengan kekerasan dan akhirnya kedua misionaris itu dibunuh kemudian dagingnya dimakan oleh orang-orang kanibal kemudian tulang-belulang mereka disimpan dengan baik di sebuah gua. Hal ini terungkap nanti pada abad ke 19 berkenaan dengan kehadiran beberapa misionaris baik dari Amerika dan Perancis, itupun para misionaris tersebut dipanah bahkan diperlakukan dengan kasar.

Berdasarkan informasi berbentuk manuskrip tulisan tangan berbahasa Tidore yang salinan terakhirnya ditulis pada tanggal 3 Mei 1952 dijelaskan bahwa kedatangan Otto dan Giesler ke Manokwari ini diantar oleh pejabat dari Kesultanan Tidore. Diceritakan bahwa jauh sebelum kedua misionaris ini ke Manokwari, pada tanggal 18 Agustus 1712 Sultan Tidore yang bernama Dano Said Muhammad Alting datang ke pulau Mansinam bersama adiknya Dano Muhammad Hasan dan Telawa Marwa (Kasim Raja) dengan sejumlah pengiring.

Semula kedatangan Sultan diperlakukan tidak ramah oleh penduduk setempat, akan tetapi setelah seorang pemimpin masyarakat setempat bernama yang Mayor Keruni Rumander berdialog dengan Sultan melalui seorang juru bicara akhirnya Mayor Keruni masuk Islam, dan dipersilahkan Sultan ddan pengikutnya turun ke darat, masyarakat setempatpun menerima kehadiran Sultan Tidore dan sampai kapan tidak ada kabar berita.

Masa Pemerintahan Sultan Ahmad Syaifuddin 1857-1865

Periode Sultan ini meneruskan dan melanjutkan apa yang telah dibuat oleh Sultan pendahulunya.

Masa Pemerintahan Sultan Ahmad Fatahuddin 1865-1877

Periode Sultan inipun demikian membenahi apa yang sudah dilakukan oleh Sultan-Sultan sebelumnya.

Masa Pemerintahan Sultan Ahmad Qawiyuddin alias Syahjuan 1877-1905

Dipenghujung bulan Mei 1904 terjadi peristiwa “Hongi Gamtufkange”, Nyili Gamtufkange berontak menyerbu ke Kadato Kie hendak membunuh Sultan Syahjuan, tetapi pada saat itu Sultan Syahjuan tidak berada di tempat (Kadaton) lagi, beliau melakukan perjalanan ke Papua. Sasaran mereka yang pertama yaitu Sri Sultan, kemudian Kapita Laut, kemudian Jou Mayor dan Qadhi.

Perabot-perabot rumah Kapita Laut dan Jou Mayor mereka rusakan, begitupun gerbang rumah Jou Qadhi, kemudian mereka lanjutkan penyerangan ke Kadaton melalui dua jalur dari arah depan Kadaton Topo lama dan dari arah kiri Tapak Yade lewat lorong Soambelo dengan teriakan dan caci maki yang tidak pantas. Untung tak dapat diraih malang tidak dapat ditolak, disudut tembok Kadaton bagian depan bersiap-siap bersiap-siap beberapa serdadu Jawa berpangkat Kopral dengan senjata api ketika barisan Hongi Gamtufkange mendekati Kadato dan mau berusaha masuk ke pintu gerbang Kadaton para serdadupun melepaskan tembakan kea rah masa dan mengena tiga orang langsung tertembak dan tewas yang lainpun lari kucar-kacir dan membubarkan diri tanpa ada komando.

Pada esok hari ahad 10 April 1904, jam 06.00 pagi, Qadhi Sadaruddin dan seorang mudim ke Kadato Kie ketemu seorang laki-laki Gamtufkange yang terluka parah kena tembakan di kedua pahanya sehingga tidak bias berjalan. Lelaki tersebut dipapah dibawah ke Kadato Kie tepatnya di rumah pos jaga. Tidak lama kemudian datang Jojau dan Tullamo, kedua lalu memeriksa Abas Tosofu nikene atas peristiwa pada hari kemarin, lalu Abas menceritakan hal ikhwal satu persatu.

Keterangan dari Abas Tosofu nikene bahwa rencana Hongi ini pada bulan Dzulkaidah, tetapi baru terjadi pada bulan Muharram. Pemicu dari peristiwa ini karena Sultan Syahjuan memberhentikan Kapita Laut Muhammad Taher dan Jojau Ali keduanya dari marga Fola Akesahu. Hal ini membuat keluarga Akesahu tersinggung dan atas perintah Dano Jafar lakukan Hongi perang. Kemudian Jojau dan Tullamo membuat laporan ke Residen Ternate maka pada besok pagi jam 08.00 pagi Residen dan Konteler dan beberapa serdadu Belanda datang dan tiba di Ternate dangan kapal. Lalu memerintah kepada beberapa orang Opas memanggil pejabat-pejabat Nyili Gamtufkange dan Nyili Gamtumdi untuk meminta keterangan, pemeriksaan di lakukan di Bululu Madoe.

Pemeriksaan ini berlangsung cukup lama sampai dengan pada 28 Safar 1322 baru ada putusan bertepatan pada 28 April 1904. Mendengar keterangan dari saksi-saksi baik dari Nyili Gamtufkange maupun Nyili Gamtumdi maka pada kesimpulannya ketiga-tiganya bersalah telah memprofokasi masyarakat Nyili Gamtufkange dan pasukan baru penjaga Kadato Kie untuk mengusir para pelayan atau dayang-dayang (Jou Majaru) dan Ake magui pengisi air untuk meninggalkan Kadato Kie. Ketiga orang masing-masing; Jojau Maguci Ali (mantan Perdana Menteri) Kapita Laut Maguci Dano Muhammad Taher (mantan Kapita Laut) dan Dano Jafar. Ketiganya dibawah ke Ternate untuk menjalani hukuman, sambil menunggu kepulangan Sultan Syahjuan dari tanah Papua.

Kurang lebih dua bulan Syahjuan berada di Papua dan bersegera kembali ke Tidore setelah memperoleh berita tentang peristiwa penyerbuan ke Kadaton oelh Nyili Gamtufkange. Pada pertengahan Juni 1904 Syahjuan tiba di Tidore dank e esokan hari melaksanakan pertemuan dengan petinggi-petinggi kerajaan, setelah mendangar berbagai keterangan dari para petinggi kerajaan maka pada besok harinya Sultan Syahjuan dan beberapa orang petinggi kerajaan ke Ternate untuk bertemu dengan Residen dan Konteler Ternate., kedua belah pihak dipertemukan di kantor Residen dengan berbagai pertimbangan pihak yang terlapor mengakui segala kesalahan dan kehilafan mereka dan sanggup membayar ganti rugi atas pengrusakan perabot rumah tangga Jou Mayor dan Kapita Laut berupa kursi dan tiga buah meja knap (meja marmer) pada akhirnya mereka bertiga mendapat pengampunan dari Sultan Syahjuan dan dibebaskan dari hukuman penjara, ada belas kasihan dari Sultan karena ada hubungan keluarga.

Masa Pemerintahan Sultan Zainal Abidin Syah 1947-1967.

Periode Sultan ini banyak berbuat untuk daerah ini, pemerintah Belanda tidak mau melepaskan tanah Papua ke pangkuan Republik Indonesia dengan berbagai alas an dan argumentasi yang mereka sampaikan, padahal mereka tahu bahwa tanah Papua adalah bagian dari wilayah kekuasaan kesultanan Tidore.

Zainal Abidin berperan aktif sebagai seorang tokoh masyarakat yang juga sebagai tokoh politik ikut berbicara tentang status tanah Papua di Bali bersama Mr. Muhammad Yamin dan tokoh nasional lainnya. Tidak tinggal diam Muhammad Soleiman tokoh politik nasional asal Tidore menyampaikan kepada pemerintah pusat agar sesegera mungkin menetapkan Undang-Undang penetapan Propinsi Perjuangan Irian Barat.

Maka lahirlah Undang-Undang Nomor: 15 Tahun 1956 Tanggal 16 Agustus 1956 tentang pembentukan Propinsi Irian Barat dengan ibu kota Soasio-Tidore, dan dilantik Zainal Abidin Syah sebagai Gubernur Irian Barat pada tangal 23 September 1956. Diplomasi dan peran aktif Sultan Zainal Abidin Syah dalam perjuangan pengembalian Irian Barat (Papua) ke pangkuan Republik Indonesia. Pada 1962 oleh PBB Sultan Zainal Abidin Syah diundang untuk membicarakan tentang tanah Papua, pertemuan dilaksanakan di puncak Malino Makasar bersama Belanda.

PBB memediasi pembicaraan itu perwakilan dari Belanda adalah Van Mook, didalam pembicaraan itu mereka menawarkan tiga opsi kepada Sultan Tidore Zainal Abidin Syah, pertama; Tidore Papua mau merdeka, kedua; Tidore Papua mau ikut Belanda, dan ketiga; Tidore Papua kembali bergabung dengan NKRI. Maka Sultan Tidore Zainal Abidin Syah memilih opsi yang ke tiga Tidore Papua kembali bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka pada bulan Mei 1962 pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatan tanah Papua (Irian Barat) ke pangkuan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Maka pada 1963 ibu kota Propinsi Irian Barat di Soasio Tidore dipindahkan ke daratan tanah Papua (Irian Barat) yang beribu kota di Soekarno Pura (Jayapura sekarang). Sultan Zainal Abidin Syah yang juga Gubernur Irian Barat memasuki usia pensiun, dan dipindahkan ke Jakarta sebagai pegawai tinggi di Kementrian Dalam negeri. Saksi-saksi bisu perjuangan pembebasan Irian Barat masih ada di sekitar kita. Setelah itu Tidore mengambang 42 tahun lamanya, namun negeri ini telah dan sudah memberikan yang terbaik kepada Negara

Jejak Lngkah Sultan Zainal Abiin Syah:

  1. Zainal Abidin dilahirkan di Tidore pada tanggal 5 Agustus tahun 1912, putra dari pasangan Dano Husain dan Dano Salma.
  2. Pendidika HIS Ternate 1924, Mulo Batavia 1928 dan ASVIA Makasar 1934.
  3. Memegang AMBTENAAR, HULP BISTUR dan BISTUUR di Ternate, Manokwari dan Sorong 1934 s/d 1942.
  4. Kepala Pemerintahan Kerajaan Tahun 1942 s/d 1943 (Kevakuman Sultan Tidore).
  5. Kepala Kehakiman Ternate pada masa pendudukan Jepang Tahun 1943 s/d 1944.
  6. Ditawan oleh Jepang dan diasingkan ke Jailolo Tahun 1944 s/d 1945.
  7. Diangkat menjadi Sultan Tidore di Denpansar Bali 1946, dan dinobatkan di Soasio Tidore pada 15 Januari 1947.
  8. Menjadi Sultan Tidore sejak Tanggal penobatan 15 Januiari 1947 s/d 1967 (Mangkat di Ambon pada 4 Juli 1967).
  9. Menjadi Residen DPB pada Gubernur Maluku sebagai Kepala Daerah Maluku Utara di Ternate (SK Menteri Dalam Negeri Nomor: UP. 512/4, Tanggal 14 Maret 1952.
  10. Berdasarkan Undang-Undang Nomor: 15. Tahun 1956, Tanggal 16 Agustus 1956 Tidore ditetapkan sebagai Ibu Kota Pembebasan Provinsi Irian Barat dan dilantiknya Gubernur pertama Irian Barat adalah Zainal Abidin Syah yang juga Sultan Tidore ke 35. Dilantik pada Tanggal 23 September 1956. (SK. Presiden RI. Nomor: 412/Tahun 1956).
  11. Gubernur DPB pada Kementerian Dalam Negeri RI. Di Jakarta (SK. Presiden RI. Nomor: 220/Tahun 1961, Tanggal 4 Mei 1962).
  12. Diperbantukan pada Operasi Mandala di Makassar Tahun 1962 (Trikora).
  13. Perwakilan Delegasi Indonesia membicarakan pengembalian Irian Barat di Puncak Malino Makassar antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda, yang dimediasi oleh PBB, dengan menawarkan 3 (tiga) opsi, yaitu:
  14. Tidore dan Irian Barat (Papua) mau merdeka silahkan,
  15. Tidore dan Irian Barat (Papua) bergabung dengan Belanda, maka Belanda menjamin keamanan, kesejahteraan dan sebagainya selama tujuh turunan.
  16. Tidore dan Irian Barat (Papua) bergabung dengan Negara Republik Indonesia, maka Sultan Tidore Zainal Abidin Syah memilih bergabung dengan Negara Republik Indonesia, maka lahirlah apa yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  17. Membangun sarana dan prasarana perkantoran dan perumahan pegawai dan para pejabat Propinsi Irian Barat di Tuguwaji dan Goto (kelurahan Indonesiana sekarang) antara lain Kantror Gubernur, Kantor Kepolisian Negara (Polda Sekarang) dan Instansi Dinas lainnya, termasuk asrama Polisi dan perumahan para perwira Polri.
  18. Pembangunan Dermaga Laut Goto (Dermaga Trikora sekarang) di Dermaga Goto inilah berangkat pasukan gerilya 500 orang yang dipimpin oleh Letnan Infantri J. Komontoi ke daerah perbatasan dan berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di Pantai Saoka Irian Barat (Daerah Kepala Burung) dan di Dermaga ini pula berangkat pasukan gerilya 400 orang yang dipimpin oleh Srikandi Herlina.
  19. Masa pensiunan bebas tugas pada tanggal 1 Juni 1963.
  20. Berpulang ke Rahmatullah/ mangkat pada Tanggal 4 Juli 1967 di Ambon dan dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kapaha Ambon (di Tantui) kemudian kerangka jenazahnya dipindahkan ke Soasio Tidore pada hari Jumat, 11 Maret 1986 dan dimakamkan di kompleks Kadato Kie.

 

Masa Pemerintahan Sultan H. Djafar Syah 1999-2012.

Pada periode Sultan ini ikut membendung peristiwa yang kita kenal dengan kerusuhan antar warga yang sebelumnya adalah kerusuhan horizontal yang kemudian mengarah ke nuansa sara. Padahal semua yang terjadi dilakoni oleh kelompok elit politik untuk kepentingannya. Patut kita renungkan dan ingat kembali, peristiwa “kuning” dan “putih”. Pasukan kuning di dominasi masyarakat adat kesultanan Ternate , pasukan putih masyarakat adat non kesultanan Ternate yang saling menyerang dan mebumihanguskan beberapa rumah warga yang tidak tahu menahu apa motif penyerangan ini.

Sultan Tidore H. Djafar Syah mengambil langkah sebagai penengah persuasive memediasi ke dua kelompok yang bertikai. Hanya Tuhanlah yang Maha Mengetahui kebesaran jiwa Sultan H. Djafar Syah yang cepat dan tepat mengamankan Kadaton Sultan Ternate satu-satunya kebanggaan kita di kala itu, karena Tidore dan Jailolo belum memiliki Kadaton Sultan yang sesungguhnya. Sejarah adalah guru kehidupan, tidak boleh kita lupakan.

Sesudah Ternate Sultan H. Djafar Syah bersama para Bobato inti menyapa ke Halmahera Oba, Weda, Gane Timur Mafa, kemudian bersama Sultan Bacan Gahral ke Halmahera Barat, Jailolo, Ibu, Susupu dan desa adat Lolori membawa misi perdamaian. Tidak ada kalah dan menang dalam perseteruan ini…Mari kita mengambil hikmahnya, cukup adan cukup untuk kita saja jangan kepada generasi kita lagi…

Sultan Tidore H. Djafar Syah dinobatkan pada hari Senin 18 Oktober 1999 bertepatan dengan 8 Rajab 1420 H. bertempat di lapangan Soninge Salaka (Taman perak). Sultan H. Djafar Syah dalam masa bhaktinya selalu bekerja sama dengan Pemerintah Daerah baik Pemerintah Kabupaten Kota maupun Pemerintah Propinsi, sehingga membuahkan pembangunan Kadato Kie, Mesjid Sultan (Sigi Kolano) dan dermaga Sultan.

Pada tahun 2000 Sultan Tidore H. Djafar Syah mencalonkan diri untuk menjadi Anggota Depan Perwakilan Daerah Maluku Utara dan beliau berhasil meraih suara yang signifikan dan duduk di Parlemen untuk satu periode. Pada periode lanjutan Sultan H. Djafar Syah mencalonkan diri kembali tetapi gagal. Pembangunan Kadato Kie dimulai pada tahun 2002 dengan dana awal sebesar Rp. 500.000.000 (Lima Ratus Juta Rupiah) bantuan gubernur Maluku Utara yang pada saat itu dijabat oleh Pejabat Gubernur Maluku Utara S.H. Sarundajang.

Pembangunan Kadato Kie sampai dengan selesai memakan waktu Sembilan tahun (2002-2010), dan kemudian meninggal dunia pada 13 April 2012 di Jakarta di Rumah Sakit Husada Bakti dan Zenazah dipulangkan ke Tidore pada 14 April 2012 dimakamkan di kompleks makam Sultan Nuku, dengan upacara kebesaran kerajaan.

Masa Pemerintahan Sultan H. Husain Syah 2014-sampai sekarang.

Sultan H, Husain Syah dinobatkan pada hari Rabu 22 Oktober 2014, bertepatan dengan 28 Djulhijah 1436 Hijriah bertempat di Kadato Kie Kesultanan Tidore. Sebelumnya H. Husain Alting menjabat sebagai Kapita Laut kesultanan Tidore masa pemerintahan Sultan H. Djafar Syah.

Semasa jabatan Kapita Laut H. Husain Alting sangat aktif ikut dan turut serta bersama Sultan H. Djafar Syah dalam penyelesaian konflik horizontal di Maluku Utara, bahkan Kapita Laut Husain Alting memimpin tim Bobato Adat ke Gane Timur Foya mafa Desa Kesayangan untuk misi perdamaian. Di desa Kesayangan pengungsi berasal dari desa Payahe dan sekitarnya, adalah bagian dari masyarakat kesultanan Tidore. Kesultanan Tidore berperan aktif dalam penyelesaian konflik horizontal di Maluku Utara.

 

Sederetan Nama-nama Indah Yang Pernah Memerintah Kerajaan Tidore

Periode Momole – Momole Cagarora, Momole Gumira Mabuku, Momole Tagfure

Periode Kapita – Kapita Tolamaoko, Kapita Baikole, Kapita Lufudorota, Kapita Kurjum

Periode Kolano (1108-1494) – Kolano Adkur Madero Nakel (kemudian berganti nama Sahajati), Kolano Bosa Mawange, Kolano Suhud, Kolano Balibunga (Gelar Jou Alam Macahaya), Kolano Duko Madoya (Gelar Jour Alama Makomalo), Kolano Kie Matiti (Gelar Jou Alam Maguraci), Kolano Seli, Kolano Matagena, Kolano Nuruddin (1343-1370), Kolano Hasan Syah (1372), Kolano Ciriliyati (1495-1512) kemudian berganti nama dan sebutan dari Kolano ke Sultan Ciriliyati berganti nama Djamaluddin.

Periode Sultan – Sultan Djamaluddin (1490-1512), Sultan Almansyur (1512-1526), Sultan Amirudin Iskandar Zulkarnain (King Mir) Saidil Karamah (1526-1547), Sultan Kie Mansur (1547-1569), Sultan Iskandar Syani Amirul Matium Syah (1569-1586), Sultan Amir Bifadili Sirajul Arifin alias Gapibaguna (1586-1599), Sultan Zainuddin alias Molomajimo (159901626), Sultan Alauddin alias Ngora Malao (1626-1633), Sultan Saidduddin alias Gorontalo (1633-1653), Sultan Said Abdillah (1653-1657), Sultan Malikiddin alias Mole Manginyau (1657-1659), Sultan Syaifuddin alias Jou Kota Kaicil Golofino (1659-1668),  Sultan Hamjah Faharuddin alias Kaicil Seram (1689-1700), Sultan Abdul Fadlil Mansur Kaicil Maloko (1700-1707), Sultan Muhammad Said Alting (1707-1712), Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia (1712-1728), Sultan Amir Bifadlil Aziz Muhiddin Kaicil Gebe (1728-1756), Sultan Muhammad Masúd Jamaluddin (1756-1775), Imam Abdullah bin Qadi Abdussalam (1775-1779),   Sultan Muhammad Mansur Badiuddin alias Patra Alam (1779-1784), Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar (Jou Lada) (1784-1797), Sultan Amiruddin Muhammad Al Mab’us Kaicil Paparangan (Nuku) (1797-1805), Sultan Zainal Abidin (Jou Maba) (1806-1810),  Sultan Muhammad Taher Muljuddin (1810-1821), Sultan Ahmad Mansur Sirajuddin (1821-1857), Sultan Ahmad Syaifuddin (1857-1865), Sultan Ahmad Fatahuddin (1856-1877), Sultan Ahmad Qawiyuddin alias Syahjuan (1877-1905), Jojau Nau Muhammad Alting (1904-1928), Jojau Soleiman Doa (1928-1934), Jojau Hamdjah Fachruddin (1934-1944), Sultan Zainal Abidin Syah (1947-1967), Sultan H. Djafar Syah (1999-2012), Sultan H. Husain Sjah (2014-…..)

Sederetan nama-nama indah yang pernah memimpin Kerajaan dan Kesultanan Tidore sejak zaman momole hingga zaman kapita, zaman kolano, zaman kolonial, sampai dengan zaman kemerdekaan.

Dimasa kefakuman, kepemimpinan diambil alih oleh Imam Abdullah bin Qadhi Abdussalam menentang peraturan kolonialisme tentang penetapan pajak untuk pribumi yang besar dan harus dibayar ke pemerintah Belanda bukan kepada kerajaan. Imam Abdullah melakukan perlawanan pada akhirnya beliau ditangkap dan diasingkan sampai ke Cap Tawn Republik Afrika Selatan, setelah dibebaskan tidak pilih pulang ke Tidore, tinggal membina umat Islam yang minoritas di negeri hitam yang kejam.