Apa yang kamu rasakan ketika berbulan-bulan mimpi sampe ngigau ke suatu tempat, kemudian tiba-tiba ada orang yang menawarkan kamu pergi ke tempat itu gratis?  Mendadak pingsan? Tiba-tiba kejang-kejang? Nangis? Loncat-loncat? Atau jejeritan?  Kalo saya? TERTAWA.  Loh kok ketawa sih? Iya beneran.  Karena tertawa adalah salah satu ungkapan bahagia versi saya dan tentu saja dibarengin dengan Hamdallah, Alhamdulillah ya Allah.  Sssttt..biasanya sih …ketawa dulu baru baca hamdallah (((kedip2)))

Ini loh yang terjadi antara SAYA dan MOROTAI.

Flashback dulu yak.  Setelah beberapa perjalanan dan pengalaman ke Indonesia bagian timur (baca: Tidore, Maluku Utara), hati ini langsung nyetrom sama keindahan alam di sana.  Eeehh kebaca pulak di satu waktu, kalau salah satu destinasi wisata di Maluku, Morotai, masuk dalam 1 dari 10 daerah wisata WAJIB KUNJUNG di Indonesia 2017.  Cus, langsung ngubek-ngubek semua informasi yang menyangkut Morotai.

Hasilnya? hati tambah tercabik-cabik (((lebay))).  Alamaaakk cuantiknya tempat ini.  Kapan yaaa bisa sampe ke Morotai dan keliling pulau-pulau indah disekitarnya yang kaya dengan pasir putih membentang?  Motret sepuas mungkin. Narsis seseing mungkin.  Membiarkan kulit terpanggang (((padahal takut banget jadi hitam))).  Merasakan dunia kuliner yang sarat dengan hasil laut  (((makanan lagi))) dan melihat kehidupan masyarakat di sana dengan lebih dekat.  Mimpipun dilengkapi dengan segepok informasi how to get there and how much you must spend.  Weleeehh, lumayan juga yak (((meringis liat dompet))).  Setakat itu, pencarian saya pun terhenti.

Untuk yang berdomisili di bagian barat Indonesia, usaha untuk mencapai Indonesia timur itu bukan perkara kecil.  Apalagi untuk mencapai beberapa gugus kepulauan yang tidak dapat diraih dengan 1x rute penerbangan.  Ya seperti Morotai ini.  Sudlah.  Edisi harapan pun ditutup seiring dengan hati yang terluka  (((halaahhh…mental rinto dibawak-bawak))).  Tapi saat itu saya berjanji, seandainya ada teman, Dinas Pariwisata Tidore, atau Yang Mulia Jou Sultan Tidore mungkin, khilaf mengundang saya lagi untuk terbang ke bumi Marijang, saya akan menyisihkan dana supaya bisa hinggap sampe ke Morotai.  Entah bagaimana caranya.  Pokoknya, kudu sampe Morotai.

Pulau Maita. Salah satu pulau cantik yang masuk dalam gugus Kabupaten Pulau Morotai

Daaannn (((sambil mengusap muka))) ketika sesuatu yang kita inginkan itu diucap terus berulangkali maka malaikat pun mencatat.  Harapan pun jadi doa. Dan doa pun jika dibathinkan dengan permohonan yang tulus, insyaAllah akan menjadi kenyataan. Itu saya percaya banget karena sudah membuktikan sendiri dari serangkaian peristiwa.  Kecuali ingin langsing, seksi dan pintar nyanyi seperti Beyonce yang belom kesampaian (((catet))).

Eeehhh, gak ada badai topan lewat, mendadak saya dihubungi untuk ikut melancong ke Morotai dengan atribut sebagai Travel Blogger dan handyman foto-foto untuk kebutuhan proposal dari sebuah konsultan.  Kemudian saya tertawa.  Yak tertawa.  Ngimpi apa ya?? perasaan semalem mimpi makan pempek di pinggir sungai Musi.  Kok jadi kenyataannya makan ikan bakar di Morotai.  Tuuhh kaann.  Jika Allah berkehendak dan mengijinkan, mimpi apa yang bagi Beliau tidak akan terwujud? Jadilah, ketika kalender menginjak angka 12 di Agustus 2017, saya berangkat ke Ternate bareng Trio Libels, eh salah, bareng 3 orang bapak-bapak, yang jadi travel-mate paling asyik sedunia dalam 5 hari kedepan (Mas Izma, Andri, dan Narendra).

 

MENUJU TERNATE

Pagi yang panas membara di Sabtu, 12 Agustus 2017.

Dengan jam keberangkatan yang tanggung (09:45wib), untuk saya yang harus melewati 3 provinsi agar mencapai Bandara Soetta di Tangerang, jadi sebuah dilema tersendiri.  Apalagi di saat ini, tol Cikampek sedang digempur pembangunan LRT, yang butuh kesabaran setinggi langit bagi para penggunanya.  Kok setinggi langit? Ya iyalah, gak ada acara bongkar membongkar jalan aja rute ini selalu macet dan penuh dengan berbagai macam kendaraan.  Apalagi jika ada proses pembangunan seperti ini.

Jadilah, setelah semalam sebelumnya ngobrol dengan Mas Izma (komandan tim kecil kami), saya memutuskan untuk berangkat subuh, naik bis DAMRI jam 5 pagi dari Cikarang, supaya bisa tiba di Soetta maksimum jam 8 pagi.  Intinya lebih baik njagong di airport daripada ketinggalan pesawat.

Alhamdulillah, skenario awal ngebolang ke Morotai berjalan lancar.  Perjalanan dari Jawa Barat (rumah) – DKI Jakarta – hingga Provinsi Banten (Airport Soetta) pun tanpa drama (baca: macet parah) dan penerbanganpun tidak tertunda.  Kami berempat kemudian menikmati masa menembus awan selama 3jam dari Jakarta ke Ternate dengan hanya (mungkin) 50% dari total tempat duduk.  Inilah penerbangan saya ke Ternate untuk ke-3 kalinya dalam waktu yang berdekatan, yaitu akhir Desember 2016, April 2017, hingga Agustus 2017.  To Adore Ternate!! Saya tiba lagi untuk menyapamu.

 

MENGINAP SEMALAM DI TERNATE

Karena jadwal penerbangan menuju Morotai dari Ternate hanya 1x sehari, dan tidak ada connecting flight ke Morotai yang pas dengan jam ketibaan dari Jakarta di tanggal 12 itu, tim kami memutuskan untuk stay semalam di Hotel Emerald Ternate.  Hotel minimalis dan bersih yang berada di Jl. Branjang (tengah kota) ini terlihat seperti layaknya hotel-hotel bintang 3 lainnya.  Dengan rate berkisar antara Rp 500.000,- – Rp 550.000,-/malam, hotel ini cukup layak untuk dijadikan referensi penginapan selama di Ternate.

Untuk yang baru pertama kali ke Ternate, sangat saya anjurkan untuk tidur di hotel bintang 3 ketimbang guest house.  Apalagi jika ada teman yang bisa diajak berbagi biaya.  Selisih harga yang tidak seberapa, nyatanya sangat bernilai dalam ukuran kenyamanan, HIGIENITAS, dan pelayanan.

Poin mengenai higienitas ini sepertinya memang menjadi catatan penting untuk pengusaha penyedia jasa inap.  Nilai dari kebersihan ini, untuk saya pribadi, jauh lebih bernilai dari jumlah bintang yang disandang oleh hotel, guest house, hostel, atau apapun jenis tempat menginap.  Baru setelah itu tersambung dengan aspek-aspek penilaian lain yang menyertainya, seperti layanan/service, makanan, lokasi, dan harga.  Kalaupun ada tempat menginap dengan harga miring, biasanya baru saya percayai kualitasnya jika informasi saya dapat langsung dari teman pejalan.  Thus tentu saja yang walau murah, kebersihannya tetap terjaga.

Mengisi sisa hari itu, kami makan siang menjelang malam di Restoran Ibu Haji (Air Guraka Ibu Haji) di daerah Tapak 2.  Restoran ini tampak paling besar diantara sederetan resto lainnya yang berada di area yang sama.  Di seberang jalan resto ini, tampak laut membentang, tapi tidak berpantai, plus gelap kalau malam hari.  Sebagian besar resto menghidangkan menu yang sama yaitu panganan hasil laut, minuman buah-buahan, minuman rempah-rempah (kopi dan teh), dan tentu saja AIR GURAKA dan KOPI DABE yang memang khas Maluku.

Saya memutuskan untuk tidak makan banyak nasi dan lauk-pauk karena si iman sudah tergoda dan mata sudah tidak bisa berpaling dari PISANG MULU BEBE.  Pisang khas Tidore yang cuma bisa diiris dan tidak bisa dikupas seperti jenis pisang lainnya.  Menghidangkan pisangnya pun menggoda.  Sengaja dibuat 2 versi (irisan tebal dan irisan tipis yang crunchy banget) plus sambal (dabu-dabu roa), kacang tanah goreng, dan ikan teri goreng.  Kalo pertama kali ngeliat pasti bingung.  Dulupun saya begitu.  Kok bisa ya makan pisang bareng kacang, sambal, dan ikan teri? Tapi setelah sekian hari konsisten ngeganyem pisang ini selama tinggal di Tidore, saya pun jadi terperangkap dengan pisang mulu bebe.

Pokoknya kalo ke Ternate dan mampir makan-makan di daerah Tapak 2, WAJIB cobain panganan ini ya.  1 porsi bisa untuk bertiga.  Dengan catatan ketiga orang ini makannya dalam kondisi normal, tidak terburu-buru kek supir bisa antar kota yang lagi ngejar setoran.  Nih liat deh penampakkan si penggoda iman.

Menjadi kaum Hawa sorangan di tengah rombongan Adam yang kuat makan, sore itu perut saya KO dengan sukses.  Sampe sulit bernafas karena lambung penuh sampe ke sudut-sudut selepitannya.  Badan yang tadinya berasa remuk karena kelamaan duduk di pesawat dan rasa kantuk yang mendadak timbul, akhirnya melek lagi karena karbohidrat berlebihan.  Tobat bener.

Merasa gak bener kalo habis makan (berlebihan) langsung tidur, saya, Mas Izma dan Andri, menghabiskan hari dengan ngobrol di lobby hotel.  Percakapan pun menggarap topik dari Sabang sampai Merauke.  Dari pengalaman serius, sedih, lucu, memalukan, sampe hal-hal ghoib.  Gelak tawapun tak henti menggema sampai akhirnya bener-bener sudah maksimal menahan letih.  Gerombolan kecil ini pun terpaksa bubar karena besok, Minggu, 13 Agustus 2017, kami akan berangkat ke Morotai dan memulai serangkain riset yang bakal lebih menguras energi.

Facebook Comment