Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera

Photo of author

By Annie Nugraha

Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera
Sepiring menu lengkap Nasi Ayam Kedewatan yang saya nikmati setiap hari

Menemukan sajian yang benar-benar halal di Ubud Bali tuh masih jadi pe-er hingga saat saya meramu tulisan ini. Meski sang penjual sudah menuliskan “No Pork No Lard” sebagai jaminan, nyatanya requirement pemenuhan syarat halal tidaklah semudah itu. Alhamdulillah di tengah badai gempuran pemilihan makan ini, saya menemukan Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku sebagai pemecah masalah saat berada di Ubud.

Bali bagi saya sudah jadi rumah ke-2. Volume kunjungan saya ke Pulau Dewata ini terjadi hampir 3-4 kali dalam setahun sejak 2015 (meski sempat terhenti saat pandemi berlangsung). Kunjungan dulu itu lebih kepada urusan bisnis dan pekerjaan. Di masa itu saya masih sering mengajar craft dan membantu mengontrol roda administrasi dan penjualan produk handmade wire jewelry di salah satu gerai yang berada di pusat pertokoan seputaran Denpasar.

Setelah aktif sebagai blogger di 2017, kegiatan menyusur banyak tempat wisata semakin meningkat. Alhasil minat dan jadwal untuk terus kembali ke Bali jadi ikut terkatrol. Sebagai salah satu destinasi wisata populer di Indonesia dan dunia, ketertarikan saya pada Bali tak pernah ada habisnya hingga kini. Bahkan saat menyentuh berbagai aktivitas yang berhubungan dengan literasi pun akhirnya juga terhubung dengan Bali.

Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera
Tampak depan kedai Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, Ubud, Bali | Nasi Ayam Kedewatan Spesial. Menu favorit saya di kedai ini.

Di akhir Oktober sampai dengan awal November 2024, saya berkesempatan menghadiri Ubud Writers & Readers Festival 2024 yang pusat kegiatannya adalah di Taman Baca Ubud. Demi efisiensi dan efektivitas, khususnya dalam hal transportasi, saya akhirnya memutuskan untuk mencari penginapan yang tak jauh dari venue utama dari event ini. Selain mendekat ke venue, demi kepentingan “kampung tengah,” saya menggali beberapa informasi tempat makan halal yang mempermudah saya untuk menikmati konsumsi tanpa rasa khawatir.

Dari pencarian itulah akhirnya saya bertemu dengan Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku yang berjarak sekitar 2km dari Taman Baca dan sekitar 1km dari hotel tempat saya menginap. Kalau naik ojek motor biayanya kira-kira maximum 20-30an ribu rupiah sekali jalan.

Karena tidak menyewa kamar berikut breakfast, setiap pagi saya memesan Nasi Ayam Kedewatan Spesial Ibu Mangku seharga Rp40.000,00 lewat aplikasi pemesanan on-line. Menu lengkap ini berisikan nasi putih, ayam betutu yang disuwir, ati ampela atau gorengan ayam, sayur urab, kacang tanah goreng, sambal embe (campuran bawang merah, cabe rawit, cabe hijau, terasi matang jeruk limau, garam, dan jeruk), telur pindang (1/2 bagian), sate lilit ayam, pepes ayam, dan kuah ayam betutu yang dihidangkan terpisah.

Persis seperti nasi rames lah. Jika pesan on-line dihantarkan dalam bungkusan seperti nasi padang, beda halnya saat makan di kedainya. Jika makan di tempat, semua campuran tersebut diatas dihidang di sebuah piring jalinan/anyaman rotan, kertas alas nasi, dan lembaran daun pisang. Visualnya lumayan cantik. Setidaknya menarik untuk difoto dan bisa menggunggah selera karena begitu menghibur netra.

Dari sisi finansial ternyata lumayan loh penghematan yang saya rasakan. Selisih harga dibandingkan ngambil/pesan makan pagi di hotel kalau dihitung-hitung adalah sekitar 30k per sekali makan. Bisa tuh uangnya digunakan untuk transportasi dan menikmati jajanan (khususnya kopi dan fresh juice) selama mengikuti serangkaian acara Ubud Writers & Readers Festival.

Aktivitas selama mengikuti event ini juga nyaris seperti rutinits harian. Menikmati pagi di hotel dengan mendengarkan indahnya suara burung, berjemur dan menyentuh sinar mentari di teras kamar, sarapan Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, mandi dan bersiap-siap. Saya kemudian melanjutkan kegiatan dengan langsung meluncur ke Taman Baca naik ojek on-line. Makan siang dinikmati di berbagai tempat seperti di Taman Baca, balik ke Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, atau pergi beramai-ramai dengan teman-teman untuk makan bersama di salah satu resto yang tak jauh dari Taman Baca. Begitu terus jadwal acara yang saya jalani selama beberapa hari saat mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 2024.

Selesai mengikuti keseluruhan acara di hari yang bersangkutan, saya biasanya kembali mampir ke Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku untuk makan di tempat jika tidak terlalu malam atau memesan take-a-way lalu menikmati bungkusan tersebut sembari menyegarkan diri di kamar hotel.

Pokoknya tiada hari terlewatkan tanpa menikmati sepiring Nasi Ayam Kedewatan Spesial Ibu Mangku yang sangat mengeyangkan, lezat terasa di lidah, dan terjamin ke-halal-annya.

Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera
Ruang makan yang ada di sisi depan kedai (kiri foto) Serangkaian hidangan Nasi Ayam Kedewatan Spesial Ibu Mangku yang selalu saya pesan (kanan foto)
Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera
Beragam kudapan dan camilan kering yang tersedia di kedai Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku.

Di beberapa waktu saat saya makan langsung di kedainya, Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, seringkali dalam keadaan penuh. Ada saja tamu atau sekelompok tamu yang datang dalam jumlah lumayan banyak. Bahkan pernah ada yang bertamu dengan 2 bis 45 seats saat saya duduk di area makan bagian depan. Suasana kedai pun langsung riuh rendah, ramai, dan dipenuhi dengan gelak tawa serta obrolan panjang lebar tentang pengalaman menyenangkan yang baru mereka lewatkan.

Mereka ini datang dengan reservasi di awal. Terlihat beberapa orang petugas tampak sudah siap di tempat terlebih dahulu dengan alat komunikasi dalam genggaman dan meyakinkan reservasi serta melakukan kegiatan koordinasi dengan beberapa petugas yang ada di kedai.

Saya sempat bingung saat rombongan ini turun dari bis. Dimana mereka duduk ya? Jumlah mereka setidaknya adalah sekitar 90-100 orang. Sementara tempat bersantap yang biasa saya datangi hanya berupa ruang berukuran sedang yang hadir dengan beberapa meja kayu saja. Yah maksimal hanya cukup menampung 20an orang saja. Area ini pun membersamai sebuah meja panjang berisikan berbagai camilan, beberapa buah lemari pendingin, display kaca dimana terlihat jejeran lauk yang bergabung dengan meja kasir.

Tapi saat saya memperhatikan dengan lebih seksama, ternyata mereka berombongan berjalan ke arah belakang. Ada apa di belakang? Saya langsung penasaran dan menyempatkan diri melongok sembari menuntaskan rasa penasaran.

Wah ternyata kedai ini menyediakan tempat makan dengan deretan rumah berdekorasi khas Bali di bagian belakang. Luas dengan penataan yang rapi dilengkapi dengan tanaman serta kebun yang menyenangkan hati. Para tamu bisa makan di dalam rumah atau duduk bersantai selonjoran di terasnya. Situasi dan kondisi yang sangat pas jika kita datang sebatalion. Makan diiringi dengan udara sepoi-sepoi sembari ngobrol asyik berjam-jam.

Nikmat dunia apalagi yang mampu kita dustakan.

Sekedar tambahan info untuk teman-teman yang ingin mampir kemari. Kedai ini berada di persis di depan jalan besar yang menjadi lalu lintas utama kendaraan. Layaknya jalan di Ubud yang sangat terbatas, hanya dua jalur yang pas untuk dua kendaraan, kita sepantasnya jeli dan bijak saat memarkirkan kendaraan. Untuk kendaraan roda dua tentunya tidak ada masalah. Tapi untuk roda empat, tempatnya sangat terbatas.

Saya sempat melihat signage yang bertuliskan “area parkir khusus untuk tamu kedai” tapi tak pun menengok ke sana. Tapi mudah-mudahan tempatnya cukup luas untuk menampung banyak kendaraan agar tidak mengganggu lalu lintas yang ada persis di depan kedai.

Opsi lain adalah naik kendaraan umum seperti yang saya lakukan atau menyewa mobil dengan supirnya agar kita tidak terjebak dengan pikiran dan kesibukan untuk menitipkan kendaraan.

Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera
Rumah bernuansa Bali yang adem dan nyaman untuk menikmati serangkaian sajian sarat rasa dan selera di kedai Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku Ubud (kanan foto)
Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera
Beberapa rumah tempat bersantap yang tersedia di halaman belakang kedai (kiri foto) | Area makanan di sisi depan kedai yang terlihat dari belakang (kanan foto)

17 thoughts on “Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera”

  1. Ah bener, kalau skip sarapan di hotel, lumayan menghemat, walau sedikit lebih repot aja, tapi selama pengaturan waktunya oke harusnya ndak jadi masalah dengan rencana kegiatan seharian itu.

    Aku tadi pas baca ada rombongan sampe 2 bus datang ikutan degdegan haha untung mereka udah pada reservasi. Sebab kalau mendadak, ya mungkin mereka akan kebagian makanan, tapi kasihan yang walk in costumernya kecewa. Dan soal makanan halal ini, honestly sering aku denger juga. Tapi kalau mulai banyak resto yang menyediakan makanan halal, syukurlah biar wisatawan lebih banyak pilihan saat ke sana.

    Reply
    • Karena jadwalnya agak siangan, jadi berani pagi-pagi berleha-leha sambil menikmati waktu tanpa terburu-buru. Santai pol pokoknya hahahaha.

      Alhamdulillah sekarang pilihan makanan halal sudah mulai banyak Yan. Berbeda banget dengan tahun 1996/1997 saat aku begawe di sano. Semoga konsep wisata halal semakin diserap dengan baik di Bali. Toh yang non-muslim kan bisa juga makan asupan halal. Berbeda dengan kebalikannya.

  2. Mba, aku lho belum pernah makan nasi ayam Kedewatan Ibu Mangku, kalau di Ungasan ada nasi Bu Oki. Dari tampilannya mirip, cuma bedanya nggak pakai pepes.
    Berarti nanti pas acara di Ubud mesti singgah ke sini buat nyobain langsung apalagi halal-nya udah terjamin.
    Jadi inget trip kita kemarin, susah banget ya cari yang bener-bener halal. Akhirnya ikan jadi solusi tepat kita ya, Mba.

    Reply
    • Ya ampyun. Nanti pas UWRF Mega wajib coba berarti. Yang pasti ayem di hati lah. Ke-halal-annya terjamin.

  3. Ternyata, ada ruangan di belakang yang bisa menampung rombongan dalam jumlah besar ya, jadi nggak masalah kalau banyak pembeli yang datang dan ingin makan di situ.

    Ada kacang goreng utuh sebagai tambahan lauknya, wah ini bisa dicemilin ya

    Reply
    • Kalau ada sekompi memang enak makan di teras rumah-rumah di halaman belakang itu Mbak Nanik. Di teras rumahnya itu disediakan meja dan alas untuk kita melantai. Keliatan nyenengin banget.

      Camilannya memang menggoda banget Mbak. Aku sering beli untuk dibawa ke hotel. Lumayan nemenin duduk-duduk sambil ngopi.

    • Cus mampir. Wajib cobain Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku ini. Selain di Ubud ada juga di Denpasar.

  4. Walah pagi-pagi di bulan Ramadan lihat foto nasi ayam kedewatan Ibu Mangku

    andai sedang di bali pasti langsung pesen untuk buka

    Sepintas mirip nasi gudeg ya? Mungkin karena sama-sama berbumbu “lekoh”

    Sayang, dahulu banget sewaktu ke Bali saya belum tahu kuliner ini dan seperti kata Mbak Annie, harus was-was dengan menu gak halal
    Akhirnya beli makan di resto Padang, gak asyik banget ya?
    Masa ke Bali makannya makanan Padang

    Reply
    • Bumbunya memang mantab pisan Mbak Maria. Tasty maksimal. Membangkitkan selera pokoknya. Kita juga bisa milih bagian ayam mana yang kita suka.

      Ya bener Mbak. Konsepnya nasi rames. Hanya opsi masakannya aja yang berbeda karena proses pengolahan dan ciri khas makanannya.

      Tapi memang jika gak yakin dengan ke-halal-annya, makan naspad tuh sudah yang teraman pokoknya.

  5. Benar Bu Annie, kalau hanya sekadar “No pork, No lard” saja belum tentu halal kesemuanya. Jadi memang harus yang berlabel “Halal”, agar lebih menenangkan untuk kita konsumsi.
    Lewat artikelnya Bu Annie ini, bisa jadi rekomendasi, buat daku khususnya ketika ke sekitaran Ubud, bisa mampir ke Kedewatan Ibu Mangku ini yang banyak menu makanannya dan terjamin halalnya ya

    Reply
    • Perjalanan dari Denpasar ke Ubud ini lumayan yaa..
      Jadi, jangan sampai kelewatan kuliner khas Ubud yang halal ini.
      Dan aku barruu memahami kalau tulisan “No pork, No lard” ini bukan jadi penanda halal yang mutlak.

      Kalau seandainya yang datang pakai jilbab, apakah tetap ada petunjuk dari penjualnya, ka Annie?

    • Bener Fen. Karena status muslim di Bali masih minoritas, kita masih belum dapat perhatian yang layak dari pemerintah setempat. Jadi memang untuk urusan asupan ini kita yang harus super teliti.

  6. Mbaaaaaakkk, aku liatnya udah ngileeerrr! Terus bagus banget itu fotonya. Buatku yang orang Jogja, Nasi Ayam ini seperti Nasi Gudeg Komplit yang ada suwiran ayam, telur, sambal krecek, dan kacang tolo.

    Nasi Ayam Kedewatan ini cuma ada di Ibu Mangku atau ada di tempat lain?

    Reply
    • Betul banget Gi. Konsepnya adalah ramesan. Sama seperti dengan Nasi Gudeg ya. Beda di komponen asupannya ya.

      Nasi Ayam Kedewatan memang sudah jadi merek patennya Ibu Mangku. Jadi penamaannya sudah jadi satu kesatuan.

      Selain di Ubud ada juga di Denpasar.

  7. Aku mampir lagiiiiiii. Long time no see. Baca tulisan Mbak Annie ini bikin perut langsung keroncongan pas lagi puasa. Detail banget sampai kebayang suasana kedainya yang rame pas kami juga ke sana beberapa waktu lalu pas di Bali. Seporsi Nasi Ayam Kedewatan udah ngenyangin banget. Anak-anak sampai makan seporsi berdua. Salut deh, Mbak Annie selalu bisa bikin cerita kuliner jadi lebih hidup. Jadi makin mampir lagi ke sana kalau ada rezeki ke Ubud lagi.

    Reply
    • Where have you been sista. Kangen banget baca tulisan di blognya Mutia juga. Yang terakhir aku baca sungguh luar biasa. Alur menjelaskannya pun sangat menyentuh hati dan menambah pengetahuan dengan bonus kecintaan kita akan wastra nusantara.

      Semoga suatu saat kita bisa bertemu langsung ya Mut. Can’t hardly wait to see that fabolous times.

Leave a Comment