
Taman Sari Yogyakarta. Satu dari sekian banyak bagian dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keindahannya beserta beberapa mitos yang terbangun, telah menjadi cerita penting dari wisata sejarah di Yogyakarta. Bersama di bungsu saya menyusur setiap sisi keindahan Taman Sari Yogyakarta sembari merekam setiap sudut lewat lensa kamera
Saat itu adalah hari ke-2 dari keseluruhan 4 hari kunjungan saya dan si bungsu ke Yogyakarta. Dijemput pagi-pagi sekali oleh Mas Yudi di Hotel Yats Colony, saya tidak memerlukan waktu lama untuk mencapai Taman Sari Yogyakarta dari kawasan Wirobrajan dimana hotel ini berada.
Sepagian itu saya sudah berpeluh luar biasa karena matahari hadir dengan kekuatan penuhnya. Topi lebar dan berbotol-botol air putih dingin pun sudah siap menemani. Karena merujuk pada kondisi Taman Sari Yogyakarta yang sebagian besar adalah ruang terbuka dan disempurnakan oleh suhu udara yang meningkat, berbagai keperluan tersebut pastinya sangat membantu.
Benar saja. Beberapa menit setelah turun dari kendaraan dan berjalan ke arah loket pembelian tiket masuk, badan saya sudah lepek oleh keringat dengan botol air putih yang sudah kosong setengah kuota. Beberapa pengunjung pun tampak heboh dengan kipas tangan, berpayung, mengenakan topi seperti saya, dan mencari sudut-sudut adem yang terhindar dari sinar mentari.


Tentang Yogyakarta : Keseruan Berwisata Swafoto di Svargabumi Magelang Yogyakarta
Menyusur Keindahan Taman Sari Yogyakarta
Selesai membayar HTM Rp15.000,00/orang (harga untuk orang dewasa dan tamu domestik), saya menyempatkan diri bereksplorasi di taman depan yang menyatu dengan area pembelian tiket. Tempat ini tampak dihiasi oleh beberapa bangunan kecil setengah terbuka dan berbagai tamanan serta rumput gajah yang tampak begitu terawat. Ada juga beberapa jalan setapak yang didampingi oleh pohon-pohon menjulang yang mengiringi langkah kita untuk masuk ke lokasi utama Taman Sari Yogyakarta. Di beberapa titik juga terpasang beberapa informasi cetak yang menceritakan tentang kondisi fisik dan berbagai fasilitas yang ada di Taman Sari Yogyakarta.
Setelah merekam beberapa sudut memarik yang terhidang di taman depan ini, saya kemudian menyempatkan diri naik ke bangunan gerbang masuk dan memotret sekitar taman dari sebuah ketinggian tertentu. Bangunan berbentuk segitiga yang disebut sebagai Gedhong Gapura Hageng ini ternyata artistik juga loh. Meski tidak luas, berbagai ukiran relief burung dan bunga-bungaan yang menyatu dengan dindingnya terlihat sangat indah untuk diabadikan. Kita pun bisa memotret dengan leluasa karena ternyata tidak banyak pengunjung yang berminat naik ke bangunan ini.


Tentang Yogyakarta : Saat Estetika dan Kenyamanan Menyatu di Yats Colony Yogyakarta
Usai berpuas diri berfoto di atas gerbang, saya melangkah bergegas memasuki situs sejarah yang menjadi salah satu dari sekian banyak obyek wisata sejarah yang dimiliki oleh Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kesan pertama yang langsung merasuk dalam jiwa adalah ketenangan dan kedamaian. Meski harus berjuang melawan terik matahari yang membiru di atas kepala, saya yakin situs yang dulu katanya adalah tempat beristirahat, menentramkan hati, dan rekreasi Sultan beserta keluarganya yang disebut sebagai Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun ini, mampu menyalurkan energi kedamaian lewat air yang tenang dan bersih. Dikelilingi oleh tembok-tembok yang tinggi saya yakin tempat ini memiliki privacy yang sangat terjaga. Apalagi di dalam kisahnya di sinilah Raja/Sultan bersama permaisuri, para istri (garwo ampil), putri-putri, dan para gundik, menghabiskan waktu pribadi mereka.
Setelah melangkah melewati beberapa anak tangga yang melebar, terhampar di depan mata 2 buah kolam pemandian berukuran sekitar 12×30 meter yang dipisahkan oleh jalan setapak yang cukup lebar tapi memiliki 3 lubang saluran air yang menghubungkan keduanya. Masing-masing kolam memiliki kedalaman hampir 2 meter dengan dua sisi anak tangga yang membawa kaki kita menyentuh air kolam.
Di setiap sisinya dilengkapi dengan banyak pot bunga yang jangkung dan beberapa pohon yang dibiarkan tumbuh di beberapa titik saja. Di dalam kolamnya juga terlihat beberapa air mancur bermotifkan teratai. Saya berasumsi bahwa beberapa air mancur ini bisa juga berfungsi sebagai wadah pergantian air selain dengan maksud hiburan.
Selain dijaga dan dikelilingi oleh tembok yang tinggi, keindahan Taman Sari Yogyakarta juga dilengkapi dengan kolam kecil yang lebih private di sisi kiri dan sebuah ruangan tertutup yang kabarnya dulu digunakan oleh para Sultan untuk bersenda gurau dengan para “pendampingnya.” Sekarang, saat saya berada di sana, ruangan ini digunakan untuk menampilkan beberapa rempah-rempah yang diolah secara tradisional menjadi jamu dan keperluan perawatan tubuh.
Saya tidak berlama-lama di sini karena ruangan sedang penuh sesak pengunjung dan tidak ada ventilasi yang memadai untuk kita bernafas dengan baik. Tapi dari apa yang saya dengar lewat seorang tour guide yang sedang menyertai sebuah rombongan, semua rempah-rempah ini sesungguhnya adalah warisan berharga yang kemudian diturunkan kepada para perempuan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menjaga keelokan tubuh.


Warisan Situs Bersejarah
Taman Sari Yogyakarta, dalam catatan sejarah, diprakarsai pembangunannya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Beliaulah penggagas utama dari tempat yang juga dikenal dengan sebutan Water Kasteel (Kastil Air) ini. Mulai dibangun pada 1758, Taman Sari Yogyakarta tercatat selesai pada 1765/9.
Menilik beberapa referensi tertulis tentang Taman Sari Yogyakarta, saya membaca bahwa taman ini dulu luasnya adalah 10 hektar dengan 57 bangunan seperti kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah. Beberapa fasilitas yang tersedia adalah sumur gumulina, gedong sekawan, umbul binangun, dan gapura panggung. Sayangnya saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencari dan menjelajah beberapa tempat yang disebutkan ini.
Taman ini pun seperti tidak seluas apa yang disebutkan di atas. Tapi yang pasti bangunannya terjaga dengan baik, secara struktur maupun tentang kebersihannya. Satu lagi yang saya kagumi tentang tempat ini adalah tentang sudut estetikanya. Mudah sekali menemukan berbagai sudut yang istagenic, mudah tertangkap dalam keindahan photography. Hanya saja karena berlimpahnya pengunjung, kita perlu sabar menunggu dan jeli “menangkap” sisi mana yang akan kita potret tanpa bocor oleh kehadiran wisatawan lain. Datang di hari kerja dan bukan di musim libur mungkin salah satu solusinya.
Membahas tentang lingkup sejarah, merampungkan tulisan singkat tentang kunjungan saya ini, saya berencana mencari setidak 1 buku cetak yang berisikan informasi sahih tentang Taman Sari Yogyakarta yang diselimuti oleh berbagai mitos. Seperti misalnya tentang keberadaan Lorong Sumur Gumilang yang desas-desusnya digunakan oleh Sultan Hamengkubuwono untuk bertemu Nyi Roro Kidul dari/di Pantai Selatan. Lalu tentang bangunannya yang direkatkan oleh putih telur. Isu sama yang saya dapatkan saat berkunjung ke Masjid Raya Sultan Riau yang ada di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.
Tentang Yogyakarta : Berburu Foto Ciamik di Gamplong Studio Alam Yogyakarta
Namun yang pasti, wisata sejarah dan pendidikan yang ada di tengah kota Yogyakarta ini, telah meninggalkan banyak kesan penting dalam serangkaian kisah perjalanan saya. Saat akan mencapai pintu keluar, saya menyempatkan diri berfoto di depan Gedhong Gapuro Panggung yang tampak menjulang tinggi dilengkapi oleh bertumpuk ukiran yang fenomenal untuk dinikmati.
Saya tidak sempat mampir ke Sumur Gumiling yang katanya punya keistimewaan, baik dari segi sejarah maupun photography. Banyak rekan traveler yang berfoto di sumur ini dengan tampilan tangga dari berbagai sisi dan lorong yang menghubungkan kita pada beberapa sisi tertentu. Tempat ini kabarnya dulu digunakan sebagai masjid. Tapi saya sendiri belum sempat menyusurinya.
Melewati sebuah pintu keluar berbahan dasar kayu dengan tinggi yang cukup terbatas, saya mendapatkan serangkaian pemandangan berupa berderet-deret rumah penduduk sebelum mencapai parkiran kendaraan. Menyusur jalanan ini terlihat banyak rumah yang kemudian difungsikan sebagai tempat berdagang. Makanan, minuman, cinderamata, kerajinan tangan, produksi kaos dengan tema wisata Yogyakarta, produksi camilan, dan masih banyak lainnya. Saya berjalan pelan dengan harapan bisa menutup serangkaian cerita menyusur Taman Sari Yogyakarta dengan kenangan yang akan terus terjaga dalam ingatan.
Sampai bertemu lagi Taman Sari Yogyakarta. Doakan semoga di Yogya lah sisa hidup saya akan berlabuh. Pensiun di tempat yang tenang, nada dan ritme kehidupan yang tidak terburu-buru, sembari menunggui sebuah cafe library kecil sebagai penyambung hidup hingga nafas terakhir bersemayam di tubuh.
Semoga Allah berkenan meridhoi dan mengabulkan.







Semoga diijabah Allah SWt cita-cita Mbak Annie dan keluarga pensiun di Yogya ya Mbak. Nanti aku mampir…hehe…
Keponakan ada di Yogya, anaknya keponakan yg lain juga mau sekolah di Yogya. Jadi ada aja alesan buat kami main ke Yogya kaaan.
Rasanya duluuuu banget pernah ke Taman Sari, tapi airnya ijo dan banyak lumut. Ternyata sekarang udah bagus banget & layak untuk dikunjungi. Wish list deh…
Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Pengennya di Yogya pinggiran aja Mbak Hani. Menikmati keindahan alam yang masih pure dengan pemandangan sawah yang membentang. Terpikirkan betapa bahagianya menikmati waktu berharga di sisa hidup dengan lingkungan yang masih asri.
Nah bener banget Mbak Hani. Saya pun dulu pernah melihat kolam-kolam besar itu penuh lumut. Wisatawan jadi segan untuk datang. Alhamdulillah sekarang sudah cantik banget. Setiap sudut istagenic betul.
Saya bersyukur banget lihat Taman Sari direnovasi dan sekarang jadi destinasi wisata
karena saya pernah ke sini semasa masih kumuh, siapa pun bisa masuk dan merusak
sedih ngelihatnya
Untunglah sekarang sudah diperbaiki dan kita bisa membayangkan pangeran serta putri keraton mandi dan bersukaria di sini
Iya Mbak. Sekarang sudah cantik dan terawat banget. Setiap sudut jadi menarik untuk dipotret.
Jujur ini emang keren banget. Waktu saya kesana saya langsung kagum. Tempat mandi para raja Jogja emang elegan dan bisa sekeren ini.
Kebersihannya juga terjaga ya. Jadi nyaman berlama-lama. Hasil foto pun jadi ciamik luar biasa.
Eh, mau pindah haluan mbak, pensiun di Jogja aja? Kayaknya dulu pernah baca pengen menjalani mas pensiun di Bali.
Tamansari dibangun tahun 1700 an, dengan bangunan yang masih terawat hingga sekarang. Emang kualitas bahan dan rancangannya beneran bagus ya. Perkara perekatnya dengan putih telur, ini juga yang membuat saya penasaran akan kebenarannya
Kunjungan terakhir saya ke Bali sudah membalikkan kesan saya terhadap tempat ini. Bali sedang tidak baik-baik saja pastinya. Sudah banyak berubah dengan tingkat kenyamanan yang sudah jauh berkurang.
Naaahh soal perekat dari putih telur itu bisa jadi iya Mbak. Salah satu tempat yang mengclaim tentang hal yang sama adalah Masjid Sultan yang ada di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Kalau saya sentuh acian dindingnya sih memang mirip terasa dan terlihat.
Aku lupa tahun berapa tepatnya, aku juga pernah mengunjungi Taman Sari Yogyakarta. Seingatku, waktu itu aku masih tinggal di Semarang.
Kayaknya, aku sempat berfoto di Sumur Gumiling. Cuma karena liburan awal tahun, kondisinya ramai sekali. Fotonya tiidak estetik. Hehehe
Dari deskripsi bu Annie yang bilang di sana nyaman, daku pas lihat fotonya memang tergambar sih kenyamanan itu. Ada rasa ademnya buat healing manis. Pantas aja ya bisa jadi tempat buat yang mau prewed atau pepohonan, karena ada harga khusus juga ya yang lumayan.
Betul Fen. Terlihat sekali tempat ini serius dirawat dan dijaga sekali kebersihannya. Layak untuk difoto dari berbagai sisi.
Setiap kali saya membaca ulasan tentang Taman Sari, suka kepikiran kayaknya pernah deh diajak ke sini waktu kecil. Sayannya banyak foto masa kecil yang raib. Jadi antara yakin atau enggak pernah berkunjung ke Taman Sari. Sepertinya memang harus ke sana. Supaya saya jaid bisa lebih ingat.
Berarti wajib kembali ke Taman Sari ya Myra. Aku pun dulu pernah kemari. Tapi di kunjungan terakhir ini, Taman Sari sepertinya sudah lebih bersolek. Tampak cantik, bersih, dan indah.
Amin untuk doanya, mbak.
Tulisannya detil dan passionate sekali lho untuk sebuah objek seluas Taman Sari. Mungkin terkesan tidak seluas yang disebutkan karena sebagian “terisi” kawasan pemukiman penduduk, jadi seperti beberapa spot kecil terpisah. Sumur Gumiling memang unik dan apik, kalau ke Taman Sari lagi semoga sempat ke sana mbak.
Anw, pusat kota Jogja sendiri sudah ramai seperti di Bandung, mbak. Yang masih tenang mungkin kawasan pinggiran kota atau di pelosok kabupaten, seperti Gunung Kidul.
Makasih untuk doa dan complimentnya Nugi. Setelah melewati beberapa kali kunjungan, sepertinya menghabiskan masa pensiun di Yogya tuh pilihan yang tepat. Semoga Allah SWT berkenan mengabulkan.
Iya ih. Pengen banget lihat dan berfoto di Sumur Gumiling. Lihat postingan banyak orang, sepertinya tempat ini memang memorable.