Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

Photo of author

By Annie Nugraha

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali
Suasana di dalam pura inti Pura Goa Lawah. Kegiatan dan kesibukan sembahyang saya potret dari pintu luar pura

Kunjungan ke Pura Goa Lawah ini jadi bagian dari rute perjalanan menyusur Klungkung dan Karangasem di akhir 2024 yang lalu. Agenda menjelajah Bali yang saya lakukan bersama Mega, ibu dua orang anak yang juga adalah penggiat literasi. Lewat literasilah kami akhirnya terhubung, membangun komunikasi, berada dalam kelompok hobi yang sama, hingga akhirnya mendekat satu sama lain.

Berada di desa Pesinggahan, Pura Goa Lawah sempat beberapa kali kami lewati. Menginap di Candi Dasa dan melakukan wisata ke Klungkung dan Semarapura, kami otomatis melewati pura ini beberapa kali. Kami bahkan sempat beberapa kali melambatkan kendaraan, menyempatkan melirik ke arah pura yang berada persis di pinggir jalan dan berhadap-hadapan langsung dengan pantai dan laut.

Melihat parkiran mobil dan motor yang panjang terbentang dan efek kemacetan yang ditimbulkan, saya jadi selalu menoleh ke arah pura. Terhidang sebuah “pemandangan” yang menentramkan hati. Terlihat barisan lelaki berbaju adat Bali berwarna putih, mengenakan kain dan udeng, kemudian diiringi oleh banyak perempuan mengenakan kebaya, bersanggul dan berdandan cantik, sembari membawa beragam bokor cantik berwarna-warni. Mereka berjalan tertib beriringan memasuki pura. Suasana sakral sembahyangan pun langsung bisa terbaca.

Hati saya tergugah. Apalagi melihat jumlah umat Hindu yang ingin beribadah terus menerus bertambah, membludak, memenuhi jalan masuk. Sebuah pemandangan semangat beribadah yang tidak pernah saya saksikan kecuali saat berada di Bali.

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

Rampung mengunjungi beberapa tempat wisata di Klungkung dan Semarapura (ibukota Kabupaten Klungkung) dan makan siang di kedai Lesehan Sari Baruna yang berada di Jl. Raya Goa Lawah dan hanya sekitar 200 meter dari Pura Goa Lawah, saya dan Mega pun sepakat untuk turun dan mengunjungi pura ini.

Mobil diparkirkan di di sebuah lahan yang ada di seberang pura, di pinggir pantai. Di sisi ini ada serangkaian tempat yang tampak memang disiapkan untuk para wisatawan menghabiskan waktu sembari menikmati pemandangan pantai. Di sini ada patung kelelawar yang tinggi besar. Patung yang selesai pada akhir 2023 ini berdiri gagah dilengkapi dengan banyak ornamen bernuansa Bali. Penampilan visual kelelawar tentunya juga mewakili arti dari Goa Lawah. Goa = gua sementara Lawah = kelelawar. Sehingga Goa Lawah bisa diartikan secara harafiah sebagai Gua Kelelawar.

Berjejer dengan patung tersebut terhampar serangkaian kedai jajan yang menawarkan banyak asupan dan minuman. Sebagian besar di antaranya menawarkan masakan non-halal dan es kelapa muda yang memang menjadi ciri khas jajanan wilayah pesisir. Saat saya berjalan ke arah yang berbeda, saya melihat sebuah resto yang menawarkan jajanan serba halal. Khususnya sate ikan tuna seperti yang ditawarkan oleh Lesehan Sari Buana. Saya bahkan sempat mengobrol sebentar dengan seorang petugas yang sedang berjibaku membakar sate tuna tersebut.

“Masakan di sini semua halal ya Mas?” tanya saya dengan nada sedikit ragu.

“Ya Bu. Ini restoran masakan ala Sunda. Semua halal termasuk sate tuna yang saya bakar ini. Mari silakan masuk dan makan siang di sini,” balasnya ramah. Saya tersenyum semanis mungkin. Semanis gula merah ditambahi gula putih terus dimasukin ke segelas sirup.

Pengen sih. Tapi sayang lambung saya yang kisut menuju lansia ini masih penuh karena makan cukup banyak dengan porsi heboh di Lesehan Sari Buana tadi.

Saya melirik ke arah Mega yang senyum-senyum tanpa arti. kemudian menjawil tangan saya untuk segera menyeberang dan menelusur Goa Lawah.

“Yok Mbak. Takut keburu hujan,” lanjutnya lagi.

Eh iya. Langit di seputaran Klungkung dan Karangasem memang lagi senang bercanda. Kadang terang tapi tiba-tiba bisa mendadak hujan deras. Kayak orang galau yang sekian masehi belum ketemu jodoh.

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali
Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

Saya sempat salah jalan. Tangga dan pintu gerbang besi berwarna hitam yang hampir saya buka itu ternyata jalan masuk utama yang langsung terhubung dengan pura. Gak ngeh kalau ada tulisan “wisatawan dilarang masuk.” Ya ampun untung tadi gak nekad buka pagar dan langsung masuk.

Seorang pecalang kemudian menyapa saya dengan ramah dan memberikan arahan untuk masuk lewat pintu lain yang berada di ujung yang berbeda.

Mengikuti arahan yang dimaksud, saya berjalan melipir sepanjang jalan setapak di bahu jalan hingga bertemu sebuah bale-bale besar dengan atap tinggi. Bentuknya seperti sebuah function hall tanpa dinding luar. Saat melangkah ke arah bale-bale ini tampak sudah ada banyak orang yang. sedang berbincang atau sekedar bersantai-santai, bahkan ada yang tertidur. Terlihat juga beberapa pedagang asongan yang menaruh dagangannya di sebuah kotak di lantai bale-bale. Persis seperti halnya mbok-mbok pedagang jamu yang sering beredar atau berjalan kali sembari berjualan ke sana kemari.

Belakangan saat melangkah pulang, para pedagang asongan itu jadi semakin banyak. Saya menemukan pedagang seperti ini berjejer di bahu jalan. Ada yang menjual minuman, makanan ringan, jajajan khas Bali (yang non-halal). serta masih banyak lagi. Saya sempat membeli segelas plastik minuman dingin. Es teh tawar seharga Rp10.000,00. Lumayan untuk melepas dahaga di udara yang sedang tidak menentu.

Mengikuti petunjuk, saya dan Mega mendekati sebuah pondokan yang menjual tiket masuk Rp30.000,00/orang dewasa. Harga ini sudah termasuk kain yang wajib dikenakan selama berada di dalam kawasan pura.

Baiklah. Mari kita menjelajah.

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

Pintu masuk dengan gapura berbatu hitam berukir ini ternyata adalah pintu yang terhubung dengan sebuah taman yang berada di salah satu sisi pura utama. Ada bale-bale yang berdiri di dekat pintu masuk, tersambung dan menyatu dengan jalan setapak menuju pintu selanjutnya. Gapura hitam dengan batu berukir atau ukiran khas Bali yang langsung terhubung dengan kawasan pura utama. Area sembahyang tidak boleh dimasuki wisatawan pada saat itu.

Di tengah-tengah taman ada sebuah kolam kecil dengan sebuah monumen mini dan beberapa pancuran air berukuran kecil. Keindahan taman kemudian dilengkapi oleh payung-payung kain warna-warni khas Bali yang dipasang di beberapa titik. Kehadirannya membuat taman dengan rumput gajah yang tumbuh segar ini menjadi lebih menarik dan cukup estetik untuk dipotret.

Saya dan Mega pun kemudian melangkah ke arah kiri di mana terdapat sebuah pohon besar tinggi yang “pinggang” nya ditutupi kain kotak-kotak hitam putih. Ada sebuah petunjuk yang mengarahkan wisatawan untuk berfoto di sana. Kami pun memanfaatkan masa ini sembari memandang ke arah taman yang hening sembari menyesap ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali ini.

Lahan hijau dengan hutan yang berada di belakang pohon besar ini tampak begitu padat dan rindang. Saya memutuskan untuk duduk di bangku semen yang ditanam di sekitar akar pohon yang terlihat menonjol di atas tanah. Kekar dan berkarakter kuat. Tak heran jika banyak wisatawan bersengaja mengambil foto di sini.

Saya dan Mega memutuskan untuk duduk sedikit lama sembari menyaksikan banyak orang mondar-mandir melewati taman, keluar masuk Pura Goa Lawah. Saya mencoba memotret sedikit bagian dalam pura lewat lensa zoom dan mendapatkan keramaian di tempat berdoa yang ada di lahan terbuka persis di depan pura. Keheningan begitu terasa seiring dengan suara alunan doa yang semilir terdengar tanpa henti.

Saat beranjak keluar dan mengembalikan kain ke loket tiket tadi, saya melihat sebuah prasasti yang terpasang di bawah pepohonan yang rindang. Isi prasasti yang cukup besar ini menghadirkan sekilas sejarah tentang Pura Goa Lawah dan orang-orang penting yang terlibat di dalam pendiriannya.

Izinkan saya mengutip setiap kata dan kalimat yang diukir di prasasti berbatu hitam dan ditutupi oleh kaca tersebut.

“Pura Goa Lawah terletak di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, merupakan pura di mana terdapat sebuah goa yang dihuni oleh sekumpulan kelelawar. Kata Goa berarti gua dan Lawah berarti kelelawar. Ribuan kelelawar di Goa Lawah ini dipercayai oleh umat Hindu sebagai penunggu Pura Goa Lawah dan sebagai binatang yang dikeramatkan. Salah satu upacara besar di Pura Goa Lawah adalah upacara Piodalan yang jatuh pada Anggara Kasih, Medangsia. Pura Goa Lawah merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan Jagat di Bali. Di dalam goa ini diyakini terdapat sebuah lubang yang tembus sampai ke Pura Besakih di Gunung Agung, sebagai tempat bersemayamnya Naga Basuki, yang menjaga keseimbangan dunia.”

“Dalam beberapa lontar disebutkan bahwa pura-pura beserta bangunan lainnya di Bali dibangun oleh Mpu Kuturan sekitar tahun 1072 Masehi. Sebagaimana diceritakan dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, Mpu Kuturan adalah seorang pendekar besar yang datang ke Bali dari Jawa Timur. Pada masa pemerintahan Raja Airlangga di Jawa Timur (991-1042). Mpu Kuturan diundang ke Bali oleh Raja Udayana untuk menyatukan berbagai sekte yang ada di Bali.”

“Menurut kenyataan sejarah, Mpu Kuturan adalah seorang tokoh spiritual yang membawa perubahan penting bagi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Bali terutama tentang pelaksanaan upacara keagamaan. Ia juga yang memperkenalkan konsep Tri Kahyangan Desa, yaitu pura desa yang terdiri atas Pura Desa Bale Agung, Pura Puseh, dan Pura Dalem.”

“Disamping nama Mpu Kuturan dikenal pula nama Pedanda Sakti Wawu Rauh yang dikenal juga sebagai Dan Hyang Nirartha yang datang ke Bali sekitar tahun 1460 Masehi pada masa pemerintahan Dalam Waturenggong, seorang raja yang sangat berjasa dalam membawa kejayaan Bali.”

Saya sempat tertegun. Membaca apa yang didiskripsikan kalimat demi kalimat berulangkali untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Saya kemudian teringat pada sebuah pelajaran sejarah saat saya masih di SMP atau SMA. Ketika itu ada cerita tentang akulturasi budaya antara kerajaan di Jawa dan di Bali, di mana saat itu agama/kepercayaan Hindu masih begitu kuat bercokol di nusantara. Dan jika menyimak apa yang dituliskan di atas, jelas bahwa pengaruh kerajaan Hindu di Jawa untuk kerajaan Hindu di Bali sangatlah kuat.

Saya – pada awal – sejujurnya sempat ragu untuk masuk ke Pura Goa Lawah ini karena memahami bahwa setiap ada kegiatan sembahyang, pura akan ditutup total. Jika pun ada kawasan sekitar yang dibuka, pembatasan area kunjungan pastinya tidak akan mencapai titik terpenting dari pura yang bersangkutan. Jadi saat saya “hanya” bisa menikmati taman yang berada di sisi pura, sebenarnya saya kurang puas dan masih terbius pada rasa penasaran. Apalagi Pura Goa Lawah sejatinya adalah melihat lubang di dalam pura yang kabarnya menjadi tempat hidup banyak kelelawar. Hal unik yang saya baca di berbagai sumber informasi wisata Bali.

Ingin banget saya memotret secara rinci dan melihat plus membuktikan sendiri bagaimana pura ini memiliki kesakralan dengan pengetahuan sejarah yang mendalam, keunikan budaya serta pengalaman spiritual yang memikat. Posisinya yang berada di pertemuan antara perbukitan dan pantai juga membawa Pura Goa Lawah memiliki nilai wisata yang menarik. Dalam sebuah tautan sejarah saya juga mencatat bahwa lokasi di mana gua ini berada adalah salah satu titik fokus/titik penting terjadinya perang Kusamba. Perang di mana terjadi pertempuran dahsyat antara warga Klungkung dan penjajah Belanda.

Semoga saya bisa kembali ke goa yang dilindungi oleh sang Hyang Widhi ini. Dewa pelindung gunung dan penguasa laut yang mendapat tempat istimewa di hati warga penganut agama Hindu di Bali.

Ada yang pernah berkunjung ke sini dan punya cerita istimewa? Bagi ceritanya dengan saya di kolom komen ya.

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com

25 thoughts on “Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali”

  1. Saya belum pernah ke Goa Lawah di Klungkung ini Mbak. Udah lama juga engga ke Bali, terakhir 2017 ke wilayah Ubud dan Gianyar. Menikmati upacara adat di Bali tuh menarik, apalagi sering banget ya di sana. Kapan-kapan pengen ke Bali Utara nih…

    Reply
    • Kuy Mbak Hani. Kalau saya bikin jadwal regular untuk ke Bali. Kebetulan di sana banyak teman-teman (ada yang blogger juga) yang sudah lama berkomunikasi dengan saya. Mereka rajin banget nganterin kemana-mana. Seneng jadinya bisa eksplorasi.

  2. Untung pecalang sigap memberikan informasi, ya. Kebayang kalau udah terlanjur masuk hehehe. Semoga ada kesempatan untuk kembali lagi ke sini. Bisa menikmati lebih puas tidak hanya di taman sisi pura.

    Reply
    • Iya Mir. Duh saya juga gak hati-hati. Padahal palangnya jelas-jelas terpasang/berdiri di dekat pintu masuk. Jadi memang pura besarnya memang ditutup untuk kegiatan sembahyang. Mudah-mudahan bisa mampir lagi kemari.

  3. Wisata sejarah juga bisa wisata kuliner di Bali ya Bu… Btw saya salfok sama es teh tawar harganya cukup mahal yaitu 10rb tapi drpd kehausan ya gpp juga, hehehe. Dan kita kalau ke Bali memang harus tanya terlebih dahulu ya ke penjual makanan, khawatir kalau ada yg non halal

    Reply
    • Yup betul banget. Sejauh ini kalau di Bali kita masih butuh perhatian tentang sajian/makanan. Khususnya di berbagai tempat wisata.

  4. Oh … ternyata mpu kuturan seorang spiritual yang sangat membawa perubahan penting bagi kehidupan masyarakat Bali. di Bali kepercayaannya sangat kuat ya . .. aku pernah 2x kak ke Bali, jalan jalan disana, banyak orang bule

    Reply
  5. dulu, setiap mengunjungi pura, candi dan semacamnya, saya bingung (kecuali ada guidenya)

    sesudah sering menonton channel ASISI di YT, saya jadi paham “dalam dan kaya”nya budaya kita

    sayang udah lama saya gak ke pura dan candi jagi

    jadi penasaran dengan puraa Goa Lawah ini

    Reply
    • Worth visiting ini Mbak. Tempat ini sudah lebih tertata dibanding tahunan yang lalu. Pantai di depannya pun sudah lebih cantik dan banyak tempat nongkrong yang asyik. Sayang saat itu hujan. Jadi gak sempat berlama-lama.

  6. Kayaknya pengelola atau staff rumah makan di Bali tuh sudah terbiasa dengan pertanyaan soal halal atau nggaknya makanan ya, Kak.
    Tapi, daripada ada keragu-raguan dalam hati. Emang mending nanya sih. Biar makan dengan tenang.

    Reply
  7. Emang ngga lengkap ke Bali kalo ngga berkunjung ke Pura ya, Bu. Secara emang itu ciri khasnya.
    Rasanya butuh berapa hari yaa kalau mau menghabiskan semua pura disini. Minimal yang terkenal aja deh mungkin semingguan ngga cukup.
    Suci pernah ke Pura Besakih belasan tahun lalu dengan ciri khasnya 7 pancuran. Keknya pura ini pun udah ngga setenar dulu lagi.
    Keinget juga sama Sangeh, tempat ratusan monyet dan di rindangnya pohon ulat bulu berjatuhan. Hiiii kalo inget itu masih merinding.
    Aaaah rindunyaa, smoga ada rezeki usia uang dan kesempatan bisa berkunjung lagi ke Bali.

    Reply
    • Bali tuh cepat sekali perubahannya Ci. Jangankan belasan tahun. Dalam hitungan bulanan atau setahun aja perubahannya sungguh mengesankan. Saya yang termasuk sering ke Bali suka takjub dengan banyak hal baru yang tiba-tiba hadir. Apalagi terus promo medsosnya gencar banget.

    • Bener Mas. Dan perjalanan itu menjadi semakin bermakna saat kita pergi dengan orang-orang terdekat. Jadi bisa ngobrol banyak tentang apa aja.

  8. Bali memang sangat indah dengan akulturasi budaya, bahasa, dan keindahan alamnya yang berpadu dengan toleransi beragama yang kental.

    Rasanya tetap merasakan kehangatan meski dari bukan ummat yang sama yaa.. ka Annie. Berada di Pura Goa Lawah Klungkung Bali gak menimbulkan kecanggungan sama sekali yaa, ka Ann..

    Reply
    • Alhamdulillah nyaman aja. Kalau ke pura, ikuti aja petunjuk para petugas di sana supaya kita tidak salah langkah. Kayak waktu saya datang ini, pura ini sedang ada sembahyangan, jadi ada aturan ketat yang tidak boleh dilakukan oleh wisatawan.

  9. Saya pun pernah memperoleh informasi bahwa pura Goa Lawah ini ada tembusannya ke Besakih mbak.

    Pura di Bali itu memang menarik ya untuk ditelusuri, masing-masing punya sejarah awal mulanya. Tapi memang sebagai yang bukan umat Hindu, wajib maklum juga bahwa ada beberapa bagian Pura yang tidak boleh di masuki, apalagi saat ada upacara. Dan kita harus menghormati dan mematuhi aturan ini

    Reply
    • Betul banget Mbak Nanik. Saya juga sempat ngobrol dengan seorang petugas sesaat setelah baca apa yang tertulis di dalam prasasti yang berada di dekat pintu masuk. Walahuallam, yang terbaik adalah menghormati apa yang sudah dipercayai oleh masyarakat setempat dan menjaga semua jejak sejarah apa adanya.

  10. Keren ya umat Hindu Bali
    Memperbolehkan turis masuk ke area luar tempat mereka beribadah

    Tapi emang pura mereka dibangun di area yang bikin orang penasaran seperti Goa Lawah ini atau Pura Tanah Lot yang dibangun di atas batu karang
    Ternyata jawaban AI adalah
    Alasannya adalah konsep keseimbangan alam, nilai spiritual, dan fungsi sebagai tempat suci (Kahyangan Jagat) untuk memuja manifestasi Tuhan. Lokasi ini dipilih karena dianggap sakral dan memiliki energi alam yang kuat

    Mmm.. pantesan ya? Berbeda dengan konsep pembangunan gereja dan masjid yang dibangun (salah satunya) untuk silaturahmi umat, sehingga dibangun berdekatan/di dalam perumahan

    Reply
    • Keputusan mereka untuk tetap menjaga Pura Goa Gajah sebagai satu destinasi wisata yang berharga patut dihormati. Apiknya pura ini ada tempat menunggu yang nyaman untuk pengunjung non-hindu. Tapi saya masih penasaran dengan goa gajahnya. Pengen masuk dan mengamati. Plus tentu saja memotret di sana. Ah, semoga bisa balik lagi.

  11. Mbak (atau Ayuk ya? Kan sesama dari Sumsel hehe) , ajarin dong biar bisa nulis perjalanan lampau gini dengan menarik.
    Apa dulu sudah buat catatan kecil atau murni berdasarkan ingatan? Riset terkini ka
    Soalnya.. draft blog tentang perjalanan numpuk tapi mau di lanjut keburu takut tak update infonya.

    Btw, kalau memang ada tembusan guanya sampai ke Pura Besakih, harusnya diriset secara empiris ya..

    Reply
    • Cari guru nulis yang sesuai dengan apo yang kito butuhkan Nis. Karena dunia ilmu itu luas nian. Aku awal-awal jugo merangkak. Belajar sano-sini sampe akhirnyo sampai di titik “oh ternyata kekuatan diksi ku ado di ranah ini”. Dan pastinyo itu butuh waktu yang idak sebentar. Semangat Nis!!

      Walahuallam tentang benar ato idaknyo. Tapi pernyataan itu sudah tersampaikan bertahun-tahun, dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

  12. Wah, Annie!
    Baca tulisanmu tuh kayak diajak ngopi santai sambil nunggu senja di pinggir pantai Goa Lawah. Deskripsimu bikin aku ngerasain vibe tenang tapi tetap penuh rasa ingin tahu, terutama pas kamu cerita soal barisan umat yang datang sembahyang โ€” itu momen yang bener-bener ngena banget!

    Gua suka banget gimana kamu nggak cuma โ€˜jalan turisโ€™, tapi serius nulis soal nuansa budaya dan sejarah pura, plus dilema lucu kamu soal makan sate tuna halal sebelum masuk area pura. Itu bikin cerita ini bukan sekadar travel log, tapi juga refleksi pengalaman yang relatable banget.

    Terus, detail soal prasasti tentang Mpu Kuturan dan sejarah pura yang menghubungkan Bali dan Jawa itu bener-bener nambah wawasan!

    Ditunggu cerita Bali lainnya dari kamu, Annie! Komen-komen kayak gini tuh bikin orang lain yang belum ke sana, ikut ngerasa “calm & curious” sama tempatnya.

    Reply
    • Sejak pulang dari Goa Lawah aku jadi banyak berpikir Tan. Seperti ada serangkaian misteri yang ingin aku gali tapi masih tertinggal di sana. Berharap setidaknya bertemu dengan seseorang yang begitu paham akan rangkaian sejarah Goa Lawah, khususnya tentang pengaruh kerajaan di Jawa yang kemudian terbawa ke Bali.

      Makasih untuk compliment nya Tan. Means a lot though. Semoga semua teman-teman bisa hadir dengan banyak/beragam tulisan yang merabuk jiwa. Plus membawa manfaat bagi orang banyak.

Leave a Comment