
Toko Kopi Tuku Jogjakarta, Lahir Karena Mimpi, Besar Karena Tetangga | Featured & Travel | April 2026
Usai bertamu ke Toko Buku Akik, saya langsung meluncur ke Toko Kopi Tuku yang terletak di kawasan Kotabaru, Gondokusuman, Jogjakarta. Ini menjadi kunjungan pertama saya ke Toko Kopi Tuku Jogjakarta setelah sekian lama hanya mendengar nama mereka yang sudah populer senusantara dan menjadi topik perbincangan hangat di antara teman-teman pengusaha dan penggemar kopi pastinya
Yok Ah. Pengen banget jadi tetangga nya Toko Kopi Tuku

Lambung baru saja terisi penuh saat saya mengajak Mas Adi untuk menemani saya ngopi. Seperti biasa, rasa kantuk sehabis makan siang tuh sering banget muncul tanpa diundang, tanpa bisa ditahan, dan meminta perhatian.
“Mau ngopi di mana Buk?”
Pertanyaan Mas Adi ini membuat saya sempat terdiam beberapa saat. Otak saya mendadak ogah diajak berpikir. Kemana ya? Secara, meskipun sering bolak-balik ke Jogjakarta saya lebih sering menghabiskan waktu untuk makan besar. Jika pun diajak ngopi sama teman seperjalanan, palingan nongkrong di tempat makan yang sama. Bukan di kedai yang khusus menghidangkan kopi sebagai tawaran utama.
“Ibuk mau ke Kopi Tuku? Kebetulan belum lama bukak. Gak jauh juga sama tujuan kita ke Stasiun Tugu.” Sambung Mas Adi sembari melirik saya dari spion tengah mobil.
Saya mendadak duduk tegak. “Wah boleh banget Mas. Ya udah ke sana aja kita.”
Mata saya berhenti minta ditutup. Saya kemudian teringat janji pada diri sendiri untuk suatu saat menerima undangan seorang creative director, sahabat lama saya, yang tinggal di kawasan Cipete, di mana Toko Kopi Tuku pertama kali menjejakkan kaki di dunia bisnis kopi.
“Lo keknya wajib ke sini deh sebelum buka coffee library. Konsep dan tempatnya apik, sederhana, tapi menarik.” Begitu pesan promosi yang bolak-balik pernah dia sampaikan.
Saya pun langsung menyapa sang teman lewat WA.
“Akhirnya gue ke Toko Kopi Tuku juga.”
Pesan ini dijawab dengan emoticon ketawa yang berkepanjangan. “Ke Cipete?” balasnya.
“Bukan. Gue ke kedai mereka yang di Jogja.”
Emoticon mata melotot pun hadir. Tak lama beliau menelepon. “Jadi gimana ceritanya?” Ujar sang teman sembari masih tertawa.
“Yah karena gue lagi di Jogja lah.”
“Giliran gue ajakin ke Cipete susah banget ngewujudin nya. Sok sibuk lah. Jauh lah. Payah lo ah. Etapi entar cerita-cerita ya ke gue. Gimana kesan lo setelah ke sana ya.”
Saya mengangguk sendiri diiringi tawa berderai-derai. Mas Adi pasti kebingungan liat reaksi saya barusan. Pasti ngebatin. Baru diajak ke Toko Kopi Tuku aja sudah riang gembira begitu ya.
Tak lama kami pun sampai di kawasan Tokobaru, Gondokusuman. Terpaksa parkir di bahu jalan karena teras parkir kedai sedang dalam perbaikan. Rintik hujan pun datang menyambut langkah saya. Heran. Kok cuaca bisa berubah mendadak begitu ya. Padahal udara terasa sumuk tak terkira.
“Yok Mas Adi. Turun. Temenin saya ngopi. Aneh kalo nongkrong sendirian.”
Mas Adi tampak terkejut dengan tawa tertahan. “Yah buk, saya pakai sandal jepit aja nih.”
Lagi-lagi saya tertawa ngakak. “Emang ada urusan dengan sandal jepit? Udahlah masuk saja.”
Eneiwei busway, emang ada aturan dilarang masuk kedai kopi karena pakai sandal jepit ya?

Resmi Jadi Tetangga Toko Kopi Tuku
Dari berbagai lini informasi saya mendapatkan kata “tetangga” sering banget digunakan oleh Toko Kopi Tuku. Termasuk dicantumkan untuk Kopi Susu Tetangga. Salah satu sajian kopi yang menurut teman saya ini terlaris dan wajib dicoba. Gak heran kalau dia meminta saya mencoba kopi tipe ini dulu sebelum mengulas tempat ini lebih lanjut. Khususnya new customer seperti saya. Apa ya kira-kira maksudnya?
Asumsi saya sih simpel aja. Kata tetangga ini, menurut saya, diasumsikan sebagai pelanggan yang terhitung sebagai partner bisnis mereka untuk berkembang dan bertumbuh. Identifikasi branding yang mendekatkan Toko Kopi Tuku dan publik yang mengenal mereka, serta menjadi bagian penting dari setiap langkah dan keputusan yang diambil.
Dalem banget gak sih asumsi nya?
Masuk dalam antrian yang panjang mengular, saya mengisi waktu dengan membaca tautan resmi mereka tuku.coffee/id dan akun Instagram @tokokopituku. Berlimpah info positif nan mencerahkan yang membuat saya tak henti terkagum-kagum. Bahkan hingga saat ini rasa kagum saya akan pergerakan bisnis mereka, tak pernah luruh. Membayangkan dari sebuah warung di kawasan Cipete, memiliki puluhan cabang dalam dan luar negeri, menyajikan banyak langkah yang mendekatkan diri pada personal dan peduli akan lingkungan, hingga akhirnya dengan gagah berani menyematkan nama di stasiun MRT Cipete Raya Tuku.
Berani betol. Tak sanggup saya memikirkan bagaimana panjangnya mereka berjuang untuk menyematkan nama di fasilitas publik. Ijin dan approaching nya tuh pasti menguras tenaga, pikiran, dan kocek. Sebuah statement yang gak main-main dan wajib dipertahankan dan atau untuk mempertahankan nama baik dalam jangka waktu lama.
Tak ayal jika Toko Kopi Tuku yang merupakan bagian dari Maka Group, berdiri pada 2015, dan dipimpin oleh Andanu Prasetyo, dengan slogan Lahir Karena Mimpi Besar Karena Tetangga ini, mendapatkan perhatian banyak orang dan menjadi contoh sebagai salah satu entrepreneur yang bisa jadi panutan. Termasuk saya yang penasaran dengan how they manage these successful steps.
Lewat tautan di atas, saya menandai bahwa Toko Kopi Tuku konsisten bertumbuh dengan menyematkan tiga pilar utama, yaitu spesialisasi produk, rantai keterbelanjutan, dan bertetangga baik. Bahkan demi menjaga standar kualitas, jenama ini membangun warehouse dan rostery sendiri. Mengolah biji kopi dan terbaik secara mandiri untuk menjaga cita rasa yang konsisten.
Terdorong oleh serangkaian diksi yang berarti ini, saya jadi semangat untuk mencoba Kopi Susu Tetangga di beberapa tempat yang mereka miliki. Pengen membuktikan aja, apakah konsep “menjaga cita rasa yang konsisten” itu benar-benar mereka jaga dan buktikan. Apakah segelas Kopi Susu Tetangga yang saya sesap di Jogjakarta beneran sama dengan yang akan saya rasakan di outlet mereka lainnya.

Tempat yang Nyaman dan Teduh
Menempati rumah klasik bernuansa lawasan, selangkah dari pintu masuk, kita akan disambut dengan sebuah foye yang apik betul. Ada minuman (air putih), meja kecil, dua tempat duduk, yang diramaikan dan disejukkan oleh beberapa tanaman. Dari sini ada dua pintu. Kanan untuk masuk dan kiri untuk keluar.
Saya sempat minta ijin ke salah seorang petugas untuk memotret dan merekam video. Dan itu dijawab dengan tiga kata “dengan senang hati” bonus senyum semringah yang manis bak gula jawa.
Antrian langsung saya rasakan saat berbelok ke kanan. Sebuah area khusus yang penuh dengan segala pilihan kudapan langsung menggugah selera. Kudapan kekinian maupun jajan pasar terlihat berderet rapi dan cantik tertata meskipun berada di area yang cukup terbatas.
Antrian ini ternyata cukup cepat. Jadi saya gak butuh waktu lama untuk masuk di sisi depan. Dua buah board hitam yang terpajang di dinding, memberikan kemudahan kepada kita untuk melihat dan membaca apa yang Toko Kopi Tuku Jogjakarta tawarkan. Baik untuk kudapan (Tukudapan) maupun untuk kopinya sendiri. Minumannya ada pilihan black, white, dan non-coffee. Iced atau hot dalam berbagai jenis asupan.
Tapi karena ini kunjungan perdana, saya menetapkan niat untuk mencoba Kopi Susu Tetangga lebih dahulu. Lalu ditambah dengan dua potong arem-arem dan lemper untuk menemani rasa. Satu untuk saya dan satu lagi untuk Mas Adi. Setidaknya ada sesuatu yang asin yang mampir di lidah untuk mengimbangi kopi susu nya. Harga minumannya antara 18K hingga 35K. Tahta termahal jatuh pada minuman berwarna putih.
Sembari mengantri juga saya melihat setiap dudukan di bagian dalam ini sudah dipenuhi oleh banyak orang. Padat luar biasa. Selain deretan meja layanan, ada juga meja panjang yang menghadirkan berbagai jenis bungkusan kopi yang bisa kita beli. Ada juga serangkaian informasi tentang produk yang dihadirkan. Saya juga melihat sebuah piano merapat ke sebuah dinding. Di sini juga ada beberapa foto dalam frame dan printed polaroid dengan beberapa pesohor, yang kesemuanya menghadirkan keceriaan dan banyak langkah yang sudah diukir oleh Toko Kopi Tuku Jogjakarta. Di sini suara seperti berdengung karena obrolan, tawa, dan canda banyak orang.
Ketika masih dalam antrian itu juga, saya melihat tiga lampu gantung yang unik betul. Bohlam besar berwarna teduh itu melengkapi cantiknya rangka lampu gantung tersebut. Ya ampun. Cantik banget deh. Jadi penasaran belinya di mana. Pengen punya untuk mini library saya di rumah. Cahayanya adem dan hakul yakin sangat cocok untuk ruang baca.

Karena tidak ada tempat lowong di dalam, saya memutuskan untuk melangkah ke teras luar. Mas Adi ternyata sudah menunggu tepat di belakang saya. Dia pun tergopoh-gopoh membantu membawa dua cangkir kopi dan wadah kertas untuk kue yang saya pesan.
Saat berada di teras belakang sebuah ruang lega terhampar di indra penglihatan. Teras luar yang memanjang dalam kondisi setengah terbuka. Ada banyak dudukan di pinggir dinding luar, serta toilet yang bersih. Toko Kopi Tuku Jogjakarta juga menyediakan banyak bangku tanpa sandaran untuk diambil sendiri. Tampaknya mereka sudah siap dengan tamu yang ingin merasa lebih lega sembari ngobrol dan ngopi, di sisi belakang rumah mereka.
Sembari ngobrol tentang banyak hal bersama Mas Adi, saya melemparkan pandangan ke bangunan yang dimiliki oleh Toko Kopi Tuku Jogjakarta. Saya menikmati penggabungan warna antara krem, abu-abu muda, hijau sage, coklat kayu dan atap merah bata yang bertebaran dimana-mana. Semua berkomposisi dengan indahnya. Estetik dan cantik sekaligus. Dan semua masih terlihat baru.
Lewat ucapan Mas Adi, saya menandai bahwa Toko Kopi Tuku Jogjakarta ini baru resmi dibuka pada 24 Desember 2024. Sementara saya mampirnya sekitar Agustus 2025. Belum terlalu lama lah ya.
Kehadirannya langsung diserbu. Mas Adi sendiri ingat saat harus melewati kemacetan panjang mengantarkan tamu yang ingin bertamu ke sini. Ya ampun. Pasti perjuangan banget sih karena jalan di depan kedai tuh ukurannya terbatas betul. Meskipun sudah dibuat satu jalur. Tapi jika bahu jalan sudah dipake parkir, sisa area pasti harus ditembus dengan jalan pelan-pelan.
Gimana tentang Kopi Susu Tetangga nya?
Kalau mau jujur, saya belum bisa menikmatinya secara maksimal karena saya pecinta kopi hitam sejati. Selama hidup dan menyesap kopi, pilihan saya 95% adalah kopi hitam. Jika pun mencoba kopi putih itu karena iseng atau menjawab rasa penasaran aja. Termasuk saat berada di Toko Kopi Tuku Jogjakarta ini. Jadi terus terang, saya tak menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk mewakili apa yang barusan saya rasakan.
Tapi yang pasti karena ada efek manis yang mampir di lidah, setiap selesai menghabiskan yang manis-manis ini, saya menutup semua dengan air putih sebanyak mungkin.
Tadi saat melihat pilihan menu yang ada di board hitam itu, saya sempat tergoda untuk juga memesan kopi hitam. Tapi karena tak yakin akan bisa menghabiskannya, niat ini saya batalkan.
Next visit lah ya. Saya akan coba kembali sembari mencocokkan konsep tentang menjaga stabilitas rasa.

Mampir ke Toserbaku
Apalagi ini?
Tahu kan tadi ada dua pintu yang berbeda arah. Ke kanan dan ke kiri. Masuk lewat pintu kanan nanti keluarnya lewat pintu kiri. Melangkah keluar inilah saya kemudian menemukan ruang khusus tempat penjualan cendera mata (merchandise) dengan nama Toserbaku.
Ya salam godaan apalagi ini ya?
Semua pernak-pernik itu sungguh menggoda iman dan dompet. Sebagian besar bahkan mungkin semuanya hadir dari konsep daur ulang. Bahkan botol-botol yang digunakan untuk menjual literan berbagai jenis kopi juga lahir dan proses daur ulang ini.
Langkah saya terhenti tanpa bisa ditahan. Padahal persis sebelum ini saya belanja pernak-pernik di ARTLINX Store yang berada di Sleman. Dan itu kalapnya luar binasa. Tapi seperti biasa, memegang semboyan “lebih baik nyesel beli daripada nyesel gak jadi beli” saya pun mengadopsi block notes sebagai oleh-oleh buat si bungsu dan koleksi pribadi di wadah perlengkapan journaling saya.
Panas terik kejengkang menyambut langkah keluar saya. Toko Kopi Tuku Jogjakarta menutup rangkaian kunjungan saya di kota slow living bulan itu. Banyak foto apik tersimpan dan menyemangati saya untuk konsisten menulis. Salah satu nya adalah tempat well managed ini.
I see you when I see you Toko Kopi Tuku. Sudah ku tandai kau ya. Sampai bertemu di Cinere.









Diantara semua versi kopi bertebaran aku paling suka Tuku. Pas di lidah dan enak. Kisah Toko Kopi Tuku ini inspiratif banget, dari mimpi sederhana bisa tumbuh besar karena dukungan sekitar. Konsep โtumbuh bersama tetanggaโ terasa hangat dan dekat. Jadi bukti kalau bisnis yang tulus pasti punya tempat di hati pelanggan.
Well-written Des. Nyatanya Kopi Tuku ini sangat inspiratif. Jadi gak kaget hingga saat ini jenama ini terus berkembang dan bergerak maju. Manajemen bisnis yang patut dicontoh.
Lama-lama jadi hapal juga dengan Mas Adi nih Yuk. Secara beliau setia hadir dalam beberapa postingan selama perjalanan di YK ini.
Btw, akhirnya saya tahu juga nih latar belakang Kopi Tuku. Sayang belum sampai ke lokasi saya tapi pernah coba juga pas ke Batam dan saya lumayan suka
Hahahaha. Dio memang supir langganan aku Nis. Setiap ke Jogja pasti diolah yang aku hubungi. Bolak-balik dak pernah bosan karena wongnyo jugo lemak diajak ngobrol. Dio jugo selalu melayani di skala premium plus hafal dan pacak mereferensikan tempat-tempat asyik di Jogja.
Kalau aku penasaran dengan home base mereka di Cipete, Jakarta Selatan Nis. Titik pertamo Kopi Tuku berdiri hingga punyo puluhan kedai di dalam dan luar negeri. Salut dengan manajemen mereka yang rapi dan tertata sampai bisnisnyo bertahan hingga sekarang.
wah kok kebetulan banget
rencananya besok ambil obat di Boromeus trus mau mampir ke Kopi Tuku Bandung. karena dokternya lagi ke luar negeri, jadi disuruh ambil obat aja.
Ngapain coba PP Cinanjung-Bandung cuma buat ambil obat?
kepikiran deh buat ke perpustakaan (jalan Seram) yang deketan dengan Kopi Tuku Jalan Ambon. Saya penasaran dengan Es Kopi Susu Tetangga nya, hehehe
Baca review Mbak Annie, saya jadi berpikir ulang, apa coba Kopi Hitam Tetangga aja apa ya? :D
Nah sama pemikiran kita Mbak. Tahunan berlalu, Kopi Susu Tetangga sepertinya masih jadi favorit publik. Bahkan sudah disediakan edisi literannya untuk ditawarkan kepada publik. Tempat yang disediakan pun bukan tipe cafe, tempat yang luas dan vancy untuk duduk berlama-lama. Hanya ada bangku dan meja-meja kecil saja.
Memang keren banget nih Toko Kopi Tuku, bisnis kopi yang berawal dari tugas business project anak PrasMul hingga sepesat ini perkembangannya. Sampai-sampai saat resmi menyesuaikan harga untuk menu andalannya, Es Kopi Susu Tetangga (KST), naik Rp2.000 dari harga sebelumnya, heboh warga sosial media:)
Kopi Tuku Jogja lucu banget tempatnya, rumah klasik gitu terus ada Toserbaku.
Kalau di dekat rumah saya Kopi Tukunya di ruko, jadi mungil, tempat duduk hanya beberapa, buat nunggu pesanan saja…Jadilah cuma pernah sekali ke situ, lebih sering pesan online kalau pas pengen atau kalau ada tamu..
Mereka sepertinya, sejauh yang saya lihat hingga saat ini, tidak menghadirkan konsep tempat nongkrong yang megah seperti cafe. Yang di Jogja ini pun tempat duduknya terbatas. Menyediakan bangku saja tanpa sofa yang seru untuk berlama-lama. Mereka fokus pada penyediaan kopi dan produk lainnya saja.
Di Medan juga ada, tapi ntah kopi tuku yang sama entah berbeda (keknya sih sama ya)
Dan baru2 ini aku berhasil minum kopi tanpa berdebar2 dan begadang, yeeey…
jadi keknya mulai “candu” dan setelah baca ini aku pingin nyoba ngopi Tuku deh.
Kuat ngga yaa,,,
Woah berarti selera Suci klop dengan Kopi Tuku ya. Kapan-kapan foto dong saat di cabang mereka di Medan ini Ci.
Untuk selera, saya sama nih ma Mbak Annie. Penikmat kopi hitam tanpa gula. Jadi, ketika saya memesan ‘kopi susu tetangga’ juga sekadar menuntaskan penasaran. Tapi, saya tetap kagum dengan perkembangan kopi Tuku. Apalagi menciptakan Kopi Susu Tetangga tuh ikonik dan cerdas.
Betul banget Myr. Kebetulan pula tetiba ada waktu untuk bisa bertamu ke cabang mereka di Jogja. Gak nyangka. Setelah berbulan-bulan tak pernah jadi ke home base mereka di Cipete, eh malah jadi tamu mereka di Jogja.
Pertama kali nyobain kopi Tuku emang yang kopi susu tetangga, berkat diajakin sodara. Rupanya di Kota Bogor, tepatnya area Pajajaran ada kopi Tuku yang terbilang lumayan besar.
Nah, bener sih, kata tetangga yang mereka pakai sepertinya punya arti mendalam. Aku suka sama mereka karena mendukung yang mau ngopi bawa tumbler sendiri. Kalau pakai tumbler harga kopi lebih murah alias ada diskon.
Konsepnya, bangunannya menarik. Cobain mampir ke yang Cipete, sepertinya lebih besar. Yang Jogjakarta emang agak terbatas sepertinya tempatnya. Mereka smart juga karena menjual aneka merchandise. Tumbler nya cakep-cakep banget.
Tapi, bagi yang suka kopi hitam, tentu kopi susu tetangga itu terlalu manis dan creamy.
Aku penasaran banget pengen bertamu ke home base mereka di Cipete itu. Kedai pertama di mana Kopi Tuku kemudian memperluas jejaring bisnisnya. Kapan yok janjian di sana La.
Familiar oleh daku karena jadi nama salah stasiun MRT. Padahal mah belum pernah nyobain Kopi Tuku apalagi buat mampir ke tokonya hehe.
Nah dengan ulasannya Bu Annie ini dengan tampilan area toko yang banyak spot kerennya, sepertinya boleh juga untuk didatangi. Bisa sambil ngopi cantik di sana
Aku pengen banget datang ke “sarang pertama” mereka yang di Cipete itu. Pengen hadir di satu titik awal di mana Kopi Tuku kemudian bisa sesukses sekarang.
Slogannya oke banget, Kak. Lahir karena mimpi, Besar karena Tetangga.
Kelihatannya sepele. Tapi, maknanya gedhe banget. Kalau jumlah tetangga untuk membesarkan sebuah mimpi tuh harus banyak banget.
Dalam artian, mereka menempatkan pelanggan sebagai tetangga. Yang berarti seorang yang dekat.
Yup bener banget. Sungguh bijak dan pintar manajemennya dalam menentukan slogan yang mengiringi bisnis mereka. Salut untuk orang yang menjentikkan ide ini.
Saya juga suka nih Kopi Susu Tetangga, pesannya yang less sugar. Oh iyaa, donat gula dan coklatnya juga saya suka. Sayangnya di Lombok belum ada, jadi tiap transit di Surabaya (saat perjalanan ke Balikpapan dan Makassar), pasti mampir di kopi Tuku.
Dan memang seenak itu sih. Saya yang biasanya stuck dengan kopi hitam aja, di Kopi Tuku jadi suka dengan Kopi Susu Tetangga. Kopi racikan kekinian yang bisa hadir dengan less sugar. Pengalaman pertama bertamu ke Kopi Tuku yang sangat menyenangkan dan menggoreskan kenangan apik.
Yassalaaaammm…. ciyus lo blom pernah ke Kopi Tuku, An?
ngakak baca matahari panas kejengkang wqeqwqqeqqqq… Yogya memang seadem sekaligus seterik itu kadang. Tapi anehnya… kita tetep kangen Yogya yaa..
see you when i see you at Tuku Jekardah, okeeee
Iya. Beneran. Berulang kali diajak temen ke sarang pertama mereka di Cipete selalu ada aja yang bikin batal. Padahal penasarannya dah lama karena Kopi Tuku bisnisnya melesat. Eh malah dapat jodohnya saat di Jogjakarta. Beneran gak nyangka.
Sambil nulis ini pun gue langsung kangen Jogja euy. Sudah berbulan-bulan tidak ke sana.
Tuku ini salah satu kopi fav saya. Dia itu memang settingan tokonya buat pencinta kopi yang dibawa pulang atau isi di tumbler. Soalnya semua gerai Tuku itu ga ada tempat duduk2 buat nongkrong lama ala cafe. Ada tempat duduk2 tapi buat duduk tunggu antrian. Kan kalau beli disana antriannya panjang terus ga pernah sepi
Betul Mbak. Beruntunglah yang di Yogyakarta ini. Masih disediakan tempat duduk untuk mengaso dan menikmati kopi pesanan. Itu pun bukan sofa yang sering bikin kita enggan untuk beranjak.
Berdiri sejak tahun 2015, dan sampai saat ini masih mampu bertahan, itu suatu hal yang luarbiasa. Karena biasanya cafe kekinian jarang yang mampu bertahan lama. Artinya kopi yang disajikan memuaskan para pelangganya
Setuju banget Mas Andi. Mempertahankan bahkan bisa mengembangkan bisnis di tengah gonjang-ganjing ritme ekonomi tentunya sama sekali tidak mudah. Salut untuk Kopi Tuku yang tetap tegak berdiri dan melayani para pelanggannya sebaik mungkin.