
Disadari atau tidak, wayang, salah satu warisan budaya ratusan tahun yang lalu, semakin berkurang penggemar, pembuat, dan pecintanya. Luruh tergerus teknologi, hiburan digital kekinian, dan semakin merebaknya keengganan publik untuk mendalaminya. Bagaimana dengan nasib wayang otentik Bali yang sekarang ada?
Perjalanan Wisata ke Klungkung Bali
Hari mulai beranjak siang saat saya dan Mega, seorang teman blogger yang tinggal di Bali, menyusur jalan menuju Klungkung, Karangasem. Langit tampak redup dan matahari tidak sepenuhnya menerangi bumi. Meski dalam beberapa waktu sinar mentari terlihat benderang, namun terkadang tiba-tiba menyiramkan air hujan di luar dugaan.
Cuaca Bali di saat itu memang sedang tidak menentu. Dan itu sungguh menjadi tantangan bagi kami berdua yang sedang berada di sebuah rangkaian perjalanan wisata dengan tujuan menggali banyak sumber budaya.
Kami tak punya tujuan khusus atau satu tempat yang sudah diincar sebelumnya. Tapi kami sangat berharap bahwa dengan menyusur beberapa titik sepanjang jalan, kami akan bertemu gerai para pembuat wayang khas Bali.
Wayang Kamasan namanya.
Wayang tradisional otentik Bumi Dewata yang perajin, pembuat, dan pemasarnya mulai sulit ditemukan. Kehadirannya pun menjadi semakin eksklusif dengan jejak peninggalan yang tak mudah untuk ditemukan, digali, meski banyak yang menyadari bahwa wayang tradisional ini harus dilestarikan.
Kami berdua sangat berharap bahwa dengan menyusur langsung kawasan Klungkung kami dapat bertemu beberapa tempat yang dapat melontarkan banyak informasi menarik tentang Wayang Kamasan tersebut.

Dogol dan I Ketut Madra
Tak lama, harapan itu terkabulkan. Semesta menjawab dengan manisnya saat tanpa sengaja mata saya bersirobok dengan beberapa hasil karya lukis di sebuah gerai kecil yang berada persis di pinggir jalan, di kawasan Banjar Sangging.
Karya yang langsung terlihat tersebut tidak hanya satu. Tapi beberapa produk dengan jenis yang biasa ditawarkan kepada para pewisata. Seperti lukisan, aneka dekorasi rumah, gantungan kunci, dompet, beragam tas perempuan, ukiran kayu kecil-kecil, dan beberapa produk yang mudah untuk dibawa.
Gerai atau artshop dengan nama Dogol ini tampak hening dan sepi. Dua buah display kaca yang padat dengan produk buah tangan yang berada di sisi depan terlihat penuh sesak dan saling berhimpitan.
Saat melangkah masuk, terlihat sepasang suami istri tampak duduk terpekur dalam suatu kegiatan.
Mereka sedang melukis.
Sang lelaki yang terlihat sudah berusia lanjut dengan rambut keperakan, bekerja di atas sebuah meja kayu usang. Dia tampak sedang melukis di atas media kain blacu yang sudah diolah. Memegang sebuah alat khusus berujung runcing yang kemudian saya tahu bahwa itu adalah alat yang berfungsi layaknya sebuah kuas untuk membuat pola lukisan.
Alat itu mirip seperti sebuah pensil yang terbuat dari bambu dan sudah diserut tajam di bagian ujungnya. Didekatnya ada sebuah wadah kecil yang menampung cat hitam. Pewarna akrilik yang biasa digunakan untuk membuat konsep dasar sebuah motif lukisan.
Sementara yang perempuan duduk ndeprok di lantai, memegang kuas berujung runcing dengan beberapa mangkuk kecil berisikan cairan pewarna.
Saat saya melangkah masuk, sang ibu menyapa dengan keramahan yang luar biasa. Dia mengenalkan diri dan menyebut nama I Ketut Madra, sang suami, yang sedang bekerja di meja kayu tersebut.
Saya dan Mega pun turut memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangan kami. Acara salaman yang terjadi kemudian membuat saya serasa disambut oleh keluarga sendiri. Saya tersenyum sama ramahnya sebelum akhirnya mohon izin untuk berkeliling, melihat dan memotret berbagai produk seni yang ada di artshop mereka terlebih dahulu, sebelumnya akhirnya larut dalam sebuah obrolan panjang yang sangat inspiratif

Terjebak dalam Kekaguman
Anggukan, sapaan, dan izin dari sepasang suami istri ini begitu terasa nyaman di hati. Saya pun menyusur setiap sudut dan berusaha mendapatkan foto terbaik dari hampir semua produk yang dijajakan.
Banyak karya handmade mereka yang kemudian terekam indah di gawai saya. Mulai dari lukisan dalam beberapa ukuran, tas dan dompet dalam berbagai bentuk, hiasan rumah atau dekorasi, hingga beragam buah tangan yang biasa diminati oleh wisatawan seperti kipas tangan, mangkuk kayu dan perlengkapan berbahan dasar kayu lainnya, ikat pinggang, telur hias, dan masih banyak lagi.
Mata saya tak henti menatap setiap produk dengan rinciannya, sebelum dan sesudah memotret. Bahkan berkali-kali terjebak dalam kekaguman yang tak bisa ditolak karena menandai ada sentuhan unik yang tentu saja butuh keahlian khusus.
Keahlian istimewa yang tentunya tidak dimiliki oleh orang kebanyakan.
Saya melihat berbagai jenis gambar dan rangkaian lukisan indah lewat bertumpuk-tumpuk goresan halus dengan garis-garis tipis. Gambar dari para tokoh yang menginspirasi yang diambil dari cerita epik dan mitologi Hindu, seperti dari Ramayana, Mahabrata, dan Kitab Sutasoma. Lukisan klasik yang kemudian divariasikan dan dikombinasikan dengan gambar daun atau bunga.
Saya terjebak dalam kekaguman yang terus merangsek ke dalam hati. Sebagai seorang penggiat produk handmade, Wayang Kamasan, bagi saya adalah materi yang membutuhkan seorang loyalis seni, pembelajar tak kenal lelah, dengan tumpukan kesabaran yang tidak sedikit.
Bagaimana ya mengerjakannya? Berapa lama ya setiap produk dikerjakan hingga layak untuk ditawarkan ke hadapan publik?
Goresan dan liukan tipi-tipis serta begitu rinci itu pasti butuh ilmu dan usaha yang tidak sedikit. Khususnya saat dikerjakan di atas media kecil yang butuh ketajaman penglihatan yang sangat jitu.
Saya mendadak teringat sehari sebelumnya saya dan Mega menjadi tamu dari Taman Kerta Gosa yang ada di Semarapura. Sebuah kota kecil yang menjadi ibu kota Kabupaten Karangasem.
Saya melihat lukisan dengan jenis yang sama di atap langit-langit Bale Kambang. Satu bale yang berada di tengah sebuah danau buatan, dibangun di satu ketinggian tertentu, dan kabarnya dulu menjadi pusat atau tempat perundingan Raja Klungkung dan para pejabat kerajaan untuk berdiskusi serta mengambil keputusan penting.
Ah bener banget. Goresannya sama. Dan itu diyakinkan oleh Bli Madra saat kami terlibat dalam diskusi hangat kemudian. Wayang Kamasan memang hadir di langit-langit Bale Kambang. Sebagian besar lukisan yang hadir di sana adalah cerita saat Raja Klungkung berkomunikasi dengan para petinggi, tamu-tamu kerajaan, bahkan bersama rakyat yang datang untuk menghadap sang raja.

Dogol, Sang Pewaris Wayang Kamasan
Bli Madra masih berkutat dengan kuas/pensil lukisnya, saat saya memperhatikan detik demi detik beliau menggoreskan tinta hitam pada pola gambar yang sudah dia buat. Tarikannya terlihat sangat hati-hati meski sudah ada draft pensil sebelumnya.
Saya menjaga keheningan agar beliau tetap bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Tangannya masih luwes melukis, membuat sketsa lebih tepatnya, dari sebuah bidang kain belacu yang sudah diproses. Kain yang dicelup ke bubuk beras, dikeringkan, kemudian permukaannya digosok agar rata dan mulus dan mudah menyerap tinta akrilik.
Lewat keahlian yang dia turunkan dari sang ayah, Nyoman Dogol (1873-1963), seorang pelukis Wayang Kamasan legendaris dan sangat terkenal di masanya, Bli Madra meramu setiap tarikan tangan, membentuk satu konsep rancangan yang selanjutnya akan diberi warna. Dari almarhum ayahnya lah Bli Madra mewarisi semua keahlian untuk tetap setia menjadi pewaris Wayang Kamasan.
Nama panggilan ayahnya inilah, Dogol kemudian menjadi jenama resmi yang beliau daftarkan sebagai merek paten bersertifikat resmi. Nama atau jenama inilah yang membawa Bli Madra berkarya dan memasarkan hasil karyanya.
Di usia yang sudah berada di angka 70an, Bli Madra, meneruskan tugas sebagai seorang pelukis dan pelestari Wayang Kamasan kepada anak ke-3 nya, I Komang Gede Anugrah Diatmika. Anak lelaki satu-satunya yang menimba ilmu di Institut Seni Indonesia Bali (ISI Bali) dan mengambil jurusan seni murni.
Dengan menimba ilmu di ISI Bali inilah, Bli Komang, menggali banyak teori dan praktek tentang proses kreatif Wayang Kamasan. Bermodal kemampuan dan ilmu yang sudah didapatkan, Bli Komang sekarang membantu orang tuanya meneruskan usaha jenama Dogol dari hulu ke hilir. Baik dari segi konsistensi produksi, manajemen kerja, dan kegiatan pemasaran serta konsep diversifikasi produk.
Kecintaan Bli Komang atas Wayang Kamasan pun semakin bertumbuh dari hari ke hari. Seorang generasi Z yang nyatanya mampu membawa Dogol ke level yang lebih tinggi dengan manajemen yang lebih tertata.
Lewat pengetahuannya jugalah, Dogol tak hanya berdagang secara off-line lewat galeri yang berlokasi di Banjar Sangging ini tapi juga sudah merambah pasar on-line, khususnya e-commerce, sehingga penjualan bisa menggapai ekspor.
Dogol pun menjadi binaan dari beberapa BUMN. Lewat jaringan inilah mereka bisa mengikuti beberapa pameran dan membangun jejaring bisnis yang lebih luas.
Bli Madra begitu semangat menceritakan banyak hal tentang Dogol. Khususnya tentang mengenalkan Wayang Kamasan agar senantiasa mendapatkan perhatian pemerintah daerah setempat. Diberi banyak kesempatan untuk lebih bersosialisasi dan mengenalkan Wayang Kamasan di beberapa acara atau event yang berskala nasional serta internasional.


Semangat Produksi Tiada Henti
Sembari melukis, Bli Madra dan sang istri tak henti menghujani saya dengan pengetahuan tentang Wayang Kamasan itu sendiri.
Dengan kemampuan yang terisi sedari muda dari ayahnya, Bli Madra menceritakan tentang eksistensi Wayang Kamasan dari masa ke masa.
Konsisten melukis dan menghadirkan tokoh-tokoh manusia, makhluk mitologi, dewa-dewi, dan prajurit pewayangan, wayang otentik Bali ini awalnya diproduksi menggunakan banyak pewarnaan alami yang diambil dan diolah dari alam. Warna-warna cerah dan kontras dihadirkan sebagai ciri khas dan kekuatan dari wajah asli Wayang Kamasan itu sendiri.
Lukisan para tokoh ini biasanya dilengkapi dengan gambar lingkungan di mana tokoh tersebut sedang berada, hiasan bunga dan gambar dedaunan yang rinciannya sangat rumit.
Lukisan Wayang Kamasan juga diaplikasikan ke beberapa perlengkapan sembahyang dan upacara adat seperti bokor dan masih banyak lagi. Ini juga menjadi pertanda bahwa Wayang Kamasan menggiring makna simbolis tentang ajaran agama, moral, bebajikan, sifat manusia, yang bisa dengan mudah kita lihat saat menghadiri berbagai upacara keagamaan Hindu.
Dalam obrolan lebih lanjut di tengah hujan yang mendadak menghujan bumi, Bli Madra juga menceritakan tentang formula bisnis yang dipraktikkan oleh Dogol. Memenuhi kebutuhan konsumen yang menginginkan produk Wayang Kamasan dengan harga yang lebih ramah di kantong, Dogol melahirkan produk dengan tinta akrilik yang dijual bebas di pasaran, lebih mudah didapat, dan tentu saja lebih murah.
Cara ini nyatanya bisa mengurangi ongkos produksi dan melahirkan harga yang lebih ekonomis. Pangsa pasar pun tidak melulu terkonsentrasi pada level atas tapi juga bisa menggapai kelas menengah dan di bawahnya.
Saya tertarik dengan salah satu tas tangan wanita dengan bentuk persegi panjang dan kantong serut yang cukup unik. Tas yang belum pernah saya miliki sebelumnya. Menggunakan cat akrilik, tas ini saya adopsi di harga Rp250.000,00. Sementara jika menggunakan pewarna alami harganya bisa mencapai dua kali lipat bahkan lebih.
Istri Bli Madra juga bercerita bahwa mereka sering mendapatkan pesanan dari BUMD dan beberapa institusi lokal untuk menyediakan produk kreatif sebagai buah tangan. Ada juga beberapa langganan dari Kementerian pusat yang menggunakan produk Dogol sebagai hadiah bagi tamu-tamu istimewa mereka.
Sepasang pasutri ini dengan semangat menceritakan bahwa meskipun penjualan mengalami pasang surut, mereka tetap berkarya. Banyak waktu mereka habiskan dengan melukis sebagai panggilan jiwa dan pengabdian akan seni budaya Wayang Kamasan.
Sang Bapak mengerjakan draft atau konsep lukisan sementara sang ibu mengerjakan sebagian besar pewarnaan. Keduanya saling bekerja sama, saling mengisi, saling mendukung, agar produk-produk Dogol akan tetap eksis sepanjang masa. Selalu siap dengan stok apabila mendadak mendadak mendapatkan undangan mengikuti eksibisi.
Apalagi sekarang, Bli Komang, anak ke-3 mereka, sudah mendominasi manajemen Dogol, menggantikan kedua orang tua yang sudah sepuh. Tongkat estafet pun sudah mereka pindahkan.
Lewat ribuan karya yang sudah dihasilkan, sistem kerja serta pemasaran yang sudah terkinikan saat ini, tentu saja menjadi bukti dari serangkaian langkah baik yang selalu dijaga dan dibangun oleh jenama Dogol.


Barisan Harapan Untuk Dogol
Hujan mulai mereda saat saya dan Mega berpamitan pulang. Bli Madra dan sang istri tak putus mengucapkan terima kasih atas kebersamaan, obrolan panjang, dan keakraban yang sudah terbangun.
Saya dan Mega pun menyampaikan hal yang sama. Tentu saja dibarengi dengan setumpuk harapan baik agar budaya lukis dan Wayang Kamasan yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Gelgel di abad ke-14 dan semakin berkembang pesat di abad ke-16 saat dinasti Kepakisan memerintah Bali dan sekitarnya, akan terus lestari.
Akan lahir generasi penerus yang mampu membawa tongkat estafet eksistensi Wayang Kamasan kini dan nanti. Produk-produk jenama Dogol pun semakin indah, berkualitas, dan menembus selera serta keinginan publik.
Tak mudah memang.ย Tapi saya yakin Bli Madra dan keluarga akan mampu menjalankan misi ini sepanjang hidup di kandung badan. Tentu saja diiringi dengan banyak stakeholders yang juga terlibat dalam kegiatan pelestarian ini.



IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com



Ya ampun .. keren banget yaaa …
Bisa dibilang: Wayang Kamasan = gaya seni lukisnya, Dogol = salah satu tokoh yang dilukis dalam gaya itu gitu ya An?
Emang ya orang Bali gak ada duanya kalau membuat karya …. dari atas sampe bawah berdecak kagum liatnya. Iiih pengen ke Bali lagiiii
Kapan ke Bali sempatkan main ke Klungkung dan melihat koleksi Wayang Kamasan yang berlimpah ruah Tan. Nyenengin banget pokoknya. Apalagi buat kita yang menyukai seni dan budaya.
Beruntungnya mereka ada di wilayah yang tepat, ya, Bu.
Kawasan wisata Bali yang cukup banyak digemari dan populer.
Jadi pemasarannya bisa terbilang mudah.
Mana semua model tasnya lucu-lucu lagi, lukisannya unik2 dan aku suka warnanya, cerah meriah.
Kalo duitnya lagi mepet bangeet, keknya beli satu kipas aja juga udah seneng, deh
cantik kali, Bu…
Kipasnya aja sudah secantik itu Ci. Detail banget lukisannya.
Aku selalu suka dengan budaya mbak. Tapi baru tentang wayang Kamasan khas Bali ini. Semoga semakin banyak anak muda yang tertarik dengan wayang Kamasan dan melestarikannya.
Dulu almarhum Mbah Kakung juga pembuat wayang di kotaku. Tapi sayangnya saat ini tak ada yang meneruskan lagi.
Seni dan budaya wayang memang sedikit betul yang mau terlibat. Jadi pelan-pelan terasa sekali mulai tergerus. Peminatnya pun bisa dihitung jari. Jika pun ada jumlahnya sangat terbatas. Tapi semoga kedepannya ada kelompok yang peduli hingga seni dan budaya wayang tetap akan lestari.
Aku jadi inget pernah beli tas di live copi yang ternyata pengirimannya dari Bali.
Beliau bercerita kalau Ayah dan Ibunya adalah pekerja seni di daerah Klungkung.
Dan melihat kunjungan ka Ann kali ini ke Dogol untuk melihat secara langsung pembuatan wayang Kamasan, Bali.. aku jadi semakin yakin bahwa daerah Bali ini banyak yang menuangkan kreatifitasnya untuk dijadikan lapangan usaha. Seni kreatif memang harus terus berkembang. Semoga gak terhenti di pasutri Bli Madra dan sang istri.
Hampir di setiap sudut kawasan Bali banyak banget pekerja seni ya Len. Inilah yang menjadi kekuatan Bali sebagai pulai Dewata dengan seniman yang berlimpah ruah. Tempat yang layak untuk dikunjungi oleh wisatawan dari seluruh dunia.
Karyanya gak sekadar goresan, tapi juga ada ceritanya ya, Mbak. Bagus banget semua karyanya. Kayaknya kalau saya ke sana bakal lebih terkagum-kagum lagi. Apakah di sana pengrajinnya juga banyak, Mbak?
Iya Myra karena memang sebagian besar goresan Wayang Kamasan diambil dari kisah pewayangan. Sarat dengan pesan moral yang tersirat lewat setiap garis wayang.
baru tahu kalo Bali juga punya wayang
tapi wayangnya merupakan seni lukis, termasuk untuk produk seperti kipas
Karena ini kamasan ya?
saya sampai searching pertunjukan wayang Bali, ternyata banyak jenis pertunjukan wayang di Bali seperti wayang kulit dan wayang wong
Iya. Wayang Kamasan ini lebih pada karakter dari Hindu yang dibangkitkan dalam rangkaian lukisan. Saya sempat sih melihat lukisan wayangnya dalam bentuk wayang secara harafiah tapi belum menyaksikan pertunjukkannya sendiri. Yang dibuat oleh Bli Madra lebih berupa lukisan dalam berbagai media.
Wayang Kamasan ini wajib diketahui sama generasi muda Indonesia nih. Bagian dari sejarah juga menurut saya. Btw saya suka banget dengan desain produk handmade seperti tas, pouch dll. Semoga produk produk UKM tersebut banyak peminatnya
Betul banget. Budaya otentik asal Klungkung yang wajib dilestarikan.
Syukurlah keahlian melukis Bli Madra berlanjut ke anaknya, I Komang Gede Anugrah Diatmika, karena ini jadi langkah juga dalam pelestarian wayang kamasan yang bisa disaksikan oleh generasi berikutnya
Betul banget Fen. Harus ada penerus agar Wayang Kamasan tetap lestari.
Wah saya kok deja vu ya mbak sama Dogol ini. Apa pernah mampir dan berkunjung di sini ya? Di Bali emang penuh dengan keindahan, baik alam maupun karya para senimannya.
Semoga ada kenangan istimewa saat berkunjung ke Dogol ya Mas Adi.
Wah, keren lihat proses Bli Madra & keluarga tetap konsisten lestarikan Wayang Kamasan, meski bukan hal yang gampang. Lukisannya punya detil. Semoga saja anaknya bisa tetap terus lanjutin usaha keluarga sih.
Aamiin. Betul Ded. Semoga dengan diwariskan kepada anak keturunan, Wayang Kamasan bisa tetap lestari sepanjang sejarah.
Aku pernah ke Karangasem, tapi baru tahu kalau ternyata Bali juga punya Wayang,
Semoga Wayang Kamasan bisa terus dilestarikan, bahkan bisa banyak masyarakat luas yang mengenal, baik dalam atau luar negeri
Mungkin tidak menyadari ya Mbak. Karena sejatinya lukisan Wayang Kamasan ini banyak dipasang di banyak tempat, khususnya destinasi wisata budaya, sejarah, dan pendidikan di Bali. Semoga dengan tulisan ini, bisa menambah pengetahuan Mbak Rohmah akan Wayang Kamasan, wayang tradisional serta otentik Bali.
Mbakyu Annieeeee, tulisannya adem banget dibaca. Perjalanan Mbak Annie bikin aku nostalgia, soalnya pulang dari Klungkung ini aku langsung hamil dan lahirlah Maetami. Hahahahaha. Jadi pengen ke Klungkung lagi. Bagian ketemu Bli Madra sama istrinya itu bikin merinding, kaya ketemu penjaga terakhir warisan budaya. Salut banget Mbak Annie angkat kisah mereka, soalnya cerita kayak gini sering kelewat sama orang banyak.
MashaAllah. Klungkung menghadirkan cerita yang tak terlupakan ya Muthe. Cerita bahagia pastinya. Alhamdulillah.
Jejak sejarah DOGOL memang wajib dituliskan dan dilestarikan. Agar sebuah legacy tercipta dan bisa dibaca oleh orang banyak. Semoga jadi manfaat.