Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta

Photo of author

By Annie Nugraha

Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta

Menyambangi surga kuliner kambing di HOHAH Bantul Yogyakarta | Culinary Review & Travel | Januari 2026

Hari sudah beranjak sore saat Mas Adi – driver yang menemani saya selama jalan-jalan di Yogyakarta – mengingatkan saya untuk segera beranjak. Masih ada dua tempat lagi yang harus saya kunjungi dan agar tidak kelamaan check-in di hotel

Saya langsung bergegas. Bener banget. Untung diingatkan Mas Adi. Apalagi saat berada di Tebing Breksi sejatinya saya sudah melewatkan waktu makan siang yang sudah berlalu sekitar dua jam yang lalu. Belum lagi kondisi jalanan yang terhambat karena sedang ada pembangunan jalan ke dan dari Tebing Breksi, yang membuat waktu penjelajahan menjadi lebih lama.

Mas Adi mengusulkan saya untuk makan dulu meski sudah lewat waktunya. Bener juga sih. Daripada masuk angin karena lambung kosong, mending terlambat tapi tubuh tetap prima. Urusan lambung sejatinya gak boleh dianggap enteng saat kita dalam sebuah rangkaian perjalanan.

Saya kemudian menyampaikan ingin makan kuah-kuah yang posisi warungnya akan kami lewati saja. Tak butuh waktu lama, Mas Adi pun mengusulkan Tengkleng Hohah sebagai pilihan. Lucu juga ya namanya.

Saya langsung setuju.

Selama empat hari berada di Yogya dan mengikuti writing retreat di Kaliurang, saya memang belum sama sekali berkesempatan menikmati sajian khas Yogyakarta ini. Bahkan selama pelatihan hanya beberapa kali mengunyah masakan kuah. Selebihnya ada menu kering-keringan dan atau gorengan. Padahal waktu itu yang namanya tinggal di dataran (lumayan) tinggi, makan soto dan sejenisnya adalah pilihan yang cocok dengan udara di sana. Tengkleng? siapa juga yang bisa nolak.

Okelah. Mari kita berkendara menuju Tengkleng Hohah.

Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta

Kedai Makan dengan Warna yang Mencolok Mata

Barisan kendaraan roda empat dan roda dua tampak terparkir di bahu jalan persis di depan Tengkleng Hohah. Seorang bapak yang tampak sudah berumur dan perut buncit yang semlohai menyapa lalu mengarahkan saya agar tidak terjebak ke sisi belakang kedai ini.

“Pintu depannya di sana Bu,” ujarnya sembari menunjuk ke satu arah. Saya mengangguk sembari mengucap terima kasih.

Tadi saat saya mengintip informasi tentang Tengkleng Hohah di mesin pencarian on-line, salah satu tautan berita lokal menyematkan bahwa Tengkleng Hohah adalah surga kuliner kambing (baca: perkambingan) yang juga adalah destinasi wisata kuliner yang wajib dikunjungi saat kita berada di Bantul, Yogyakarta. Beberapa foto masakan mereka pun bertebaran dengan apiknya. Sebagian besar tampak menyelerakan dan membuat naga-naga di lambung saya menggeliat seru. Apalagi melihat beberapa orang tampak mengangkat dan memegang iga kambing yang besar-besar dengan hebohnya.

Alamak. Menggoda sekali yak.

Warung yang didominasi warna kuning itu tampak relatif sepi saat saya melangkah masuk. Ya iyalah. Saya datang pas bukan di jam makan. Tapi meskipun tidak begitu ramai, kesibukan para petugas berseragam kaos yang kerap mondar-mandir ke sana kemari menghidupkan suasana warung. Ada juga yang sibuk menanak nasi. Lalu mengelap banyak peralatan makan. Semua tampak ligat beberes dan rapi-rapi mumpung tamu sedang tidak membludak.

Salah seorang dari mereka menyambut saya dan bertanya tentang “berapa orang.” Tapi saat saya jawab bahwa saya sendirian, petugas ini tersenyum manis. Saya paham. Mencari area duduk buat pengunjung solo tentunya jauh lebih gampang ketimbang menghadapi rombongan.

Sang petugas mengarahkan saya duduk tak jauh dari area kasir. Meja kecil yang compatible untuk dua orang tamu saja. Di meja itu selain peralatan makan juga tersedia aneka kerupuk dan minuman botolan yang bikin ngiler. Kalo gak ingat kandungan gula darah, saya tertarik juga tuh dengan salah satu minuman sodanya.

Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta
Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta

Menu yang Menggugah Selera

Petugas tadi langsung menyodorkan lembaran menu sesaat setelah saya duduk. Sebuah kertas tebal dilaminating dengan banyak foto masakan yang bisa dipilih. Gambarnya dipadati juga oleh informasi minuman dan beberapa menu atau masakan yang bisa dibawa pulang untuk dijadikan oleh-oleh. Termasuk aneka camilan dan kaos berjenama Jogist.

Saya memperhatikan lembaran bolak-balik ini dan mencoba mencari satu asupan yang pas buat seorangan. Setidaknya yang mampu saya habiskan. Dan pilihan pun jatuh pada Tengkleng khas HOHAH seharga Rp55.000,00. Balungan kambing yang dihidangkan dengan kuah kaldu ala Tengkleng Hohah. Saya minta tidak pedas karena pada dasarnya saya juga gak kuat dengan sensasi pedas. Takut gampang mules.

Untungnya nasi bisa kita ambil sendiri di magic jar besar yang ada di salah satu sudut kedai. Jadi saya bisa kira-kira sebanyak apa nasi yang bisa kita habiskan. Saya, terus terang, paling suka dengan pengaturan begini. Kita ambil sesuai dengan porsi yang bisa kita pertanggung jawabkan.

Tak butuh waktu lama untuk menunggu pesanan saya datang karena sejatinya tengkleng yang dihadirkan di hadapan saya ini pasti sudah diolah dan dimasak per harinya. Siap saji pokoknya. Bahkan mungkin mereka sudah siap dengan berkilo-kilo balungan kambing berempah di satu wadah masak yang besar.

Saya langsung membatin, “Sebesar apa ya wadah masaknya? Sementara balungnya sendiri segede itu.” Astaga.

Sebelum terintimidasi dengan tulang yang besar-besar itu, saya mencoba kuah berempah yang ada di mangkuk. Kuah tanpa santan itu begitu nikmat. Hancuran daging dan kombinasi rempahnya begitu menusuk dan membangkitkan rasa. Kelezatan kaldunya bikin saya gak berhenti nyendok. Kombinasi rasa asin dan sensasi gurih nya juga pas. Gak melejit. Gak berlebihan.

Saya langsung ketagihan. Khusyuk mencari selipan daging di antara balung yang besar-besar.

Saya menikmati setiap detik waktu makan dengan menggerogoti daging yang menempel di potongan balung. Tak kira gak bakalan kenyang dengan daging seukuran itu. Tapi ternyata saya malah kekenyangan. Banyak juga dagingnya. Nasi yang saya ambil cuma sejumput itu justru saya makan dengan kuah kaldu itu aja. Itu pun dengan susah payah. Nyendok ekstra pelan agar mulut tetap mau diajak mengunyah. Apalagi di sebagian besar balungan, ada lemak-lemak yang butuh “keahlian ekstra” untuk dikunyah.

Sungguh episode makan kesiangan yang tak mudah.

Pengen disisakan kok sayang. Sementara sejujurnya seporsi Tengkleng Hohah dan sejumput nasi di hadapan saya itu butuh perjuangan untuk ditandaskan. Tolong.

Jadi saat sendokan terakhir tertelan dengan sempurna. Saya cukup berbangga diri. Bagi orang lain mungkin semangkuk tengkleng itu adalah porsi cukup. Tapi bagi saya yang lambungnya sudah kisut ini, makan banyak tuh sudah sangat jarang terjadi. Terutama sejak belasan tahun lalu saat saya (mulai) memutuskan untuk rutin intermitten fasting. Sistem diet yang akhirnya membuat kemampuan makan saya jadi jauh berkurang.

Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta

Kedai Makan Kuning yang Meriah

Usai makan dan membayar, saya memutuskan untuk keliling ruangan yang dikepung oleh warna kuning ini. Kuning gonjreng ala Golkar yang tampak sedikit memudar karena mulai terlihat kotor di sana-sini.

Saya memutuskan untuk memotret sebelum melangkah keluar. Kesan pertama adalah takjub karena di hampir seluruh dinding terpasang banyak foto, lukisan, ilmu gizi khususnya tentang masakan kambing, dan beberapa kalimat bijak yang menguatkan ingatan kita.

Satu yang eye-catchy dan menjadi perhatian saya adalah tentang sum-sum kambing nya. Sajian utama yang dihadirkan oleh Tengkleng Hohah. Lewat tulisan ini saya jadi paham bahwa sum sum kambing itu mengandung sel puncak myeloid dan limfoid yang dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, kaya asam amino glisin dan prolin yang dapat mengatur keseimbangan enzim dan hormon, kaya mineral seperti kalsium, zat besi, zinc, selenium, magnesium dan mangan, untuk kesehatan tulang, gigi, dan sel tubuh. Kaya vitamin seperti vitamin A, melawan kanker, juga alkilgliserol untuk meningkatkan imunitas kita.

Saya tidak paham sepenuhnya karena memang tidak memiliki ilmu tentang kesehatan, farmasi, atau pun kedokteran. Tapi setidaknya ada berita baik di balik sajian penuh lemak dari menu tengkleng. Jadi untuk sementara, saat makan di Tengkleng Hohah, jangan pikirin soal lemak yang menimbun di tubuh dan bisa menyebabkan kegemukan.

Kalau buat saya, saat hari ini makan berlemak, berarti besoknya kudu mengkonsumsi asupan yang bisa mengimbangi. Rumus ini saya pakai khususnya saat sedang dalam perjalanan. Pokoknya jangan picky dan terlalu pemilih saat sedang tidak di rumah. Yang penting halal dan tidak ekstrem atau terlalu mengkonsumsi apa pun dengan cara berlebihan.

Jadi saat melangkah meninggalkan Tengkleng Hohah di jam tanggung itu, saya langsung berniat untuk mengisi makan malam di hotel dengan buah-buahan dan fresh juice saja. Menghabiskan sisa waktu di hari itu dengan istirahat yang berkualitas.

Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta
Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta

Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

16 thoughts on “Menyambangi Surga Kuliner Kambing di Tengkleng HOHAH, Bantul, Yogyakarta”

  1. Tengkleng HOHAH emang destinasi wajib kalau lagi ke Jogja, apalagi buat pecinta pedas yang mau tantangan! Perpaduan daging kambing yang empuk sama kuah pedasnya bener-bener bikin nagih dan keringetan.

    Reply
    • Kuahnya memang nagih. Campuran antara rempah-rempah dan kaldu yang nyaman banget di lidah. Bikin ketagihan memang.

  2. Kalau saya pernah dengar sumsum yang ada di tulang (ayam, sapi, bahkan kambing ini) punya manfaat luar biasa tubuh, karena kandungannya yang memang baik, misalnya ada kandungan kalsium.

    Sehingga kalau makan hidangan terkait pertulangan, sebisa mungkin jangan lewatkan untuk menyeruput bagian sumsum nya.

    Hidangan yang menarik nih, terlebih disediakan juga paket-paketnya, jadinya kalau bawa rombongan bisa lebih hemat lagi ya

    Reply
  3. Aku yang nggak suka daging kambing tentu nggak pernah makan sajian daging ini, termasuk tengkleng.

    Cuma, kadang nonton orang makan tengkleng kok ya pingin gitu.

    Hanya saja, aku belum berani nyoba. Hehehe…

    Bagi yang mau daging kambing, kedai Tengkleng Hohah ini pasti menggoda sekali untuk dicoba.

    Reply
  4. Salah satu tengkleng yang masih membuat penasaran ini.
    Barangkali kalau penyuka pedas, saat menikmati tengkleng kambing pasti pas banget dengan namanya Hohah sambil makan, dengan keringat ngucur di wajah. Baca tentang tengkleng jam segini pas cuaca hujan, bikin makin laper.

    Reply
    • Memang pas dan cocok banget dengan udara dingin ya Mbak. Atau makannya pas hujan-hujan. Nasi sepiring juga kurang keknya hahaha.

  5. Kalau ngga salah ini pemiliknya Mas Saptuari, penulis buku “manusia tanpa cicilan” dan “kembali ke titik nol” yang terinpirasi dari kisah nyatanya pernah terlilit hutang MM-an.
    Kalo ngga salah….

    Dulu wktu masih jadi anggota oriflame mentor kali selalu sebut nama beliau utk dijadikan “tauladan” kalo lagi ada webinar

    Masyaallaaah ini orang bener2 menginspirasi dan kabarnya suka berbagi / bersedekah. Ngga salah kalau usaha kulinernya sesukses sekarang…

    Udah terkenal seantreo negeri

    Reply
    • Ogitu ya? Wah harus aku telusuri lagi. Memang ada sih display buku-buku di sebuah rak gitu. Tapi aku gak perhatikan judul dan nama penulisnya.

  6. Klo dah denger atau melihat tengkleng auto ngiler daku mbak hahaaa

    Terbayang nyata bentuk dan kenikmatan daging dan tulang dalam mangkuk tersebut๐Ÿคฉ

    Tuh kan gegara ini daku meluncur dulu aahh ke tukang tengkleng didekat rumah daagg

    Reply
    • Dan memang seenak itu Mbak Emma. Dagingnya empuk, gampang dikunyah. Kuah rempahnya juga segar dan gak terlalu berat di lidah. Kudu nyobain Mbak.

  7. Wah wajib ke sini nih saya, masukin list ah

    udah lama pingin ke Bantul, selain katanya kulinernya enak-enak, juga besan saya tinggal di sana. Harus dijadwalin karena rumah saya dekat Malioboro jauh dari Bantul

    sayang sang besan jarang di tempat karena baru punya cucu di Surabaya

    tinggallah saya ngeces lihat tengkleng yang disantap Mbak Annie dan menekan perut yang mendadak krucuk-krucuk :D

    Reply
    • Hayuk Mbak. Niatkan main ke Bantul. Wisata alam dan kuliner. Pasti seneng main ke sini. Di list saya masih banyak yang ingin dikunjungi di Bantul. Tak simpan buat perjalanan selanjutnya.

    • Kapan yok kita ngumpul di Yogya. Kangen ngobrol panjang-panjang dan berbab-bab. Bunda juga pengen ketemu Emy.

Leave a Comment