Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

Photo of author

By Annie Nugraha

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa Nusantara | Book Review | Mei 2026

Siapa sih di sini yang gak suka jajan?

Gak ngiler dengan kudapan abang-abang gorengan yang melegenda itu, soto di dalam mangkok yang asap nya tak henti mengepul, atau asupan pedas yang membuat lidah kita mengecap tanpa henti? Jika kamu masuk dalam golongan ini, maka kamu belum berkelana sepanjang penjuru nusantara atau nongkrong asyik di pinggiran jalan

Terdorong oleh rangkaian rasa yang tertinggal dan memori yang tahunan merasuk ke dalam ingatan dan kecapan lidah, para penulis perempuan yang bernaung di komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) melahirkan buku antologi Kelana Rasa Nusantara. Buku yang mengajak kita untuk ikut berkelana menyusur banyak sisi nusantara yang kaya akan aneka ragam kuliner dan kudapan khas daerah yang selalu mendapatkan tempat istimewa bagi para penjelajah rasa

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

Saat mendiskusikan rencana kelahiran buku ini dengan seorang teman pembaca, satu pertanyaan muncul dari mulutnya?

“Apa bedanya buku Kelana Rasa Nusantara ini dengan buku-buku ulasan tentang kuliner lainnya yang sudah beredar lebih dahulu?”

Siapa dia ini? Kok berani langsung nancep gitu omongannya?

Yang pasti pertemanan kami sudah menginjak puluhan tahun. Jauh sebelum kami menikah dan memiliki anak. Seseorang yang rajin saya tanyakan pendapatnya tentang apa saja termasuk buku, tulisan, dan dunia literasi. Dan begitu pun sebaliknya. Karena lahir dan besar di lingkungan “angkatan,” teman yang satu ini, memulai diskusi hangat kami dengan kalimat yang menohok. Tanpa basa-basi. Dia juga orang yang kritis karena rutin melahap banyak buku dengan banyak genre, topik, obyek, dan tema.

Kami berdua, masing-masing, sudah menjadi teman diskusi hangat di banyak kesempatan. Saling bertanya khususnya di beberapa hal yang cukup menggelitik untuk diputuskan. Seringkali kami terlibat diskusi berjam-jam dengan bahasan yang semakin tajam dari menit ke menit hingga berjam-jam kemudian, hingga salah seorang di antara kami telah menemukan titik penting untuk mengambil keputusan.

Saya kembali tertegun. Otak kram dalam beberapa menit. Selama ini saya selalu mengedepankan foto sebagai pendamping tulisan. Tentu saja dengan maksud agar pembaca bisa melihat seperti apa makanan atau minuman yang dibahas di dalam tulisan. Pun penulis perempuan di komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) memang yang paling rajin berkontribusi. Kemampuan menulis mereka juga sudah cukup karena sebagian besar juga berprofesi sebagai blogger dengan jam terbang yang tidak sedikit. Atau sering menjadi kontributor untuk beberapa komunitas lainnya dan sudah melahirkan beberapa buku.

Saya mendadak terdiam beberapa saat.

Menampilkan foto selain narasi sudah. Melibatkan penulis perempuan – woman to woman empowermen – sudah ada juga. Menghadirkan food blogger juga sudah. Terus apa yang istimewa?

Saya bergeming dalam pikiran yang terus berusaha mencari jawaban. Hingga akhirnya menyerah.

“Entahlah” Tapi yang pasti program PAPI melahirkan buku-buku “bergizi” di ranah non-fiksi akan terus berjalan. Tentu saja dengan semangat untuk (tetap) memberikan sumbangsih nyata bagi dunia literasi tanah air. Tidak ada yang istimewa kecuali semangat untuk berkarya. Dan saya yakin semangat yang sama tetap terukir di hati semua anggota komunitas.

“Meskipun peminatnya (akan) sedikit? Tak sesuai harapan misalnya?” Sebuah tatapan tajam mampir menghujan.

Lagi-lagi saya terdiam.

“Kenapa enggak? Saya yakin berapa pun yang (akan) menjadi kontributor tentunya tidak akan menurunkan isi dari buku tersebut. Angka hanyalah hitungan jumlah,” jawab saya diplomatis, sembari bergelut di antara keraguan dengan omongan sendiri dan kekuatan kalimat untuk menyemangati diri sendiri.

And here we come. Setelah melewati masa “undangan” untuk bergabung, kontributor buku Kelana Rasa Nusantara hanya tujuh orang saja. Angka terkecil yang pernah terjadi selama PAPI melahirkan buku. Hanya ada saya, Wiwi Yuningsih, Tea Terina, Raihana Mahmud, Heni Hikmayani Fauzia, dan Ifah Arthur. Padahal anggota PAPI berhamburan food blogger yang sudah mumpuni dalam mengulas kuliner. Kemampuan menulis mereka bahkan jauh jauh lebih baik dari saya.

Ya sudahlah. Sedikit bukan berarti proyek nya harus berhenti. Kami pun kemudian bergulat dengan merangkai kata, melukiskan sekian banyak panganan yang pernah mampir ke lidah kami masing-masing, hingga akhirnya buku ini bisa menuntaskan lima belas tulisan tentang kuliner dari Aceh hingga utara Maluku.

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

Proses Kreatif yang Menantang

Masa dua bulan menulis selesai di akhir April 2026 kemudian diikuti dengan proses penyuntingan dan pengaturan tata letak buku dalam delapan hari berikutnya. Kedua proses ini bisa selesai cepat karena naskah yang masuk tidaklah banyak. Semua tampak baik-baik saja hingga saya tersadar bahwa jumlah halaman buku hanya mencapai 90-an lembar. Itu juga sudah termasuk halaman judul, halaman balik judul, kata pengantar, daftar isi, artikel, profil penulis, profil PAPI, profil Annie Nugraha Mediatama (ANM), dan promosi paket penulisan yang disediakan oleh PAPI.

Omakjang. Ngeri kali kutengok.

Baiklah. Markitdur. Mari kita tidur dulu. Resep yang selalu saya gunakan saat menghadapi sesuatu yang butuh pemikiran tenang dan pertimbangan matang. Barangkali pulak nanti pas bangun kepala langsung plong dan ada ide moncer yang hinggap dan menginspirasi.

Dan eh ternyata manjur. Memang selalu manjur.

Alokasi menulis setiap orang maksimum tiga artikel, saya tawarkan kepada teman-teman untuk bisa melebihi dari itu. Yang hanya sempat melahirkan satu artikel, saya dukung untuk membuat artikel yang lain. Tentu saja konsekuensi nya adalah jadwal finalisasi buku terpaksa harus mundur. Tawaran ini kemudian ditanggapi dengan baik oleh Raihana Mahmud yang menambah satu artikel dan Tea Terina dengan juga satu tambahan artikel.

Terpecahkan kasusnya? Ternyata belum. Jumlah halaman masih berada di taraf mengkhawatirkan. Solusinya? Mari cari akal lainnya. Tidur lagi? Enggak. Karena keputusan harus segera diambil dalam maksimum satu jam kemudian.

Ya sudah. Saya akhirnya sampai pada keputusan bahwa tambahan lembar yang masih kurang, harus saya isi sendiri. Harus bisa. Tidak boleh mengandalkan orang lain. Jadilah saya yang tadinya mempersembahkan tiga artikel karena batas maksimum, sekarang harus menambah dua artikel lagi agar buku bisa hadir secara proporsional. Itu pun harus dengan kecepatan menulis bagai petir agar date line tidak mundur lagi.

Akhirnya dengan mengorbankan waktu tidur, buku Kelana Rasa Nusantara berakhir dengan halaman sejumlah 148 sudah termasuk beberapa halaman kelengkapan yang sudah saya sebutkan di atas. Setidaknya, meski jumlah halamannya lebih sedikit dari buku-buku PAPI sebelumnya, Kelana Rasa Nusantara masih nyaman untuk dipegang dan menghadirkan keragaman yang menambah insight bagi pembacanya.

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Cungkring Bogor – Tea Terina | Kanan: Gipang – Wiwi Yuningsih

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Asinan Betawi (Ifah Arthur) | Kanan: Soto Kudus (O’ik Moehadie)

Menyusur Rasa Menggugah Selera

Apa saja topik makanan, masakan, dan panganan yang dihadirkan oleh tujuh penulis perempuan yang bergabung di komunitas penulis Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) ini? Yok mari kita bedah satu persatu.

Raihana Mahmud. Penulis senior dan editor buku asal Aceh yang sekarang tinggal di Kuala Lumpur ini tentu saja membahas tentang aneka rupa kuliner dari tanah kelahirannya. Tanah Rencong yang banyak dikenal dengan julukan Serambi Mekah. Di buku Kelana Rasa Nusantara, Irai, biasa dia dipanggil, menghadirkan Sambai On Peugaga, Lincah Gue U, U Groeh, buah Salak yang bergabung dengan Pliek U, dan dadar telur bebek yang sering dijuluki sebagai omelette ala kita.

Empat tulisan yang diramu oleh Irai, mengajak kita mengingat bahwa Aceh yang pernah mendapat gelar sebagai salah satu daerah istimewa di NKRI ini menyimpan banyak asupan dengan campuran rempah yang begitu beragam. Rempah yang membuat semua masakan menjadi kaya rasa dengan wangi yang khas. Untuk Anda penyuka masakan ala Timur Tengah atau India dengan sentuhan yang sepadan, pasti akan bangkit seleranya saat bertemu beragam kuliner Aceh.

Wiwi Yuningsih. Guru Taman Kanak-kanak yang sekarang tinggal di Cilegon ini, menghadirkan tiga jajanan yang laris dan kaya rasa di tempat tinggalnya. Diantaranya adalah Gipang, Getas, dan Bolu Kuwuk.

Saya sendiri baru mengenal tiga jajanan ini dari tulisan Mbak Wiwi ini. Ah, jadi ngiler. Apalagi saya penggemar camilan serba asin dan kriuk-kriuk. Betah rasanya membaca sambil “mengasah gigi” dengan aneka kriukan yang bikin nagih itu. Bisa habis setoples kalau gak ingat-ingat berat badan.

Tea Terina. Guru SMK di Kepanjen, Malang ini menghadirkan dua tulisan yang sangat menggoda. Cungkring asal Bogor dan Pecal Sambal Tumpang.

Terus terang, saat membaca kata “cungkring” otak saya langsung berpikir tentang kata “kurus” yang jadi salah satu makna dari kata cungkring (dalam bahasa Betawi). Eh ternyata cungkring yang dimaksud di sini adalah mulut/congor sapi seperti halnya salah satu bahan untuk membuat Rujak Cingur. Keduanya memunculkan efek kenyal saat dikunyah dan dilimpahi dengan kuah kacang yang membuat makanan ini gurih dan mengenyangkan.

Pecal Sambal Tumpang yang jadi artikel ke-2 juga sesuatu banget. Setidaknya buat saya yang tidak pernah makan tempek (nyaris) busuk, yang dalam asumsi saya pasti memunculkan bau yang menyengat. Kuliner khas Jawa (terutama Kediri, Solom dan Ngawi) memadukan nasi dengan sayuran rebus (kulupan), disiram bumbu kacang pecel, dan kuah sambal tumpang yang dibuat dari Tempe Semangit (tempe hampir busuk). Di atasnya kemudian ditaburi oleh rempeyek udang, rebon, tahu atau tempe goreng. Ada yang sudah coba?

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Dadar Telur Bebek (Raihana Mahmud) | Kanan: Lincah Gue U, U Groeh (Raihana Mahmud)

Sekarang kita membahas tulisan Heni Hikmayani Fauzia ya. Librarian yang tinggal di Sukabumi ini menghadirkan tulisan yang membahas tentang Surabi Majalengka. Kudapan gurih dari negeri Parahyangan yang menyentuh rasa.

Kudapan ini mungkin sudah banyak yang tahu bahkan menggemarinya. Terbuat dari bahan utama yaitu tepung beras dan santan kelapa, adonannya ditambahi ragi, gula, garam, dan daun pandan. Tekstur adonannya lembut di lidah apalagi jika dimakan saat masih panas/hangat. Cara memasaknya adalah dipanggang dalam cetakan tanah lihat di atas bakaran arang atau kayu. Sajiannya bisa polos saja atau dengan beragam topping, seperti oncom, keju, coklat/meses, diberi warna pandan, dan masih banyak lagi.

Nulis ini sambil ngiler saya. Secara ya. Di lingkungan kompleks rumah di Cimahi, Bandung, ada penjual serabi/surabi yang larisnya luar biasa. Antriannya panjang betul. Sungguh cobaan kesabaran yang gak kaleng-kaleng.

Sekarang beralih ke Ifah Arthur (Ipeh). Sahabat saya yang sekarang berprofesi sebagai dosen komunikasi di sebuah PTS. Dia juga dikenal sebagai MC yang handal, renyah dengan tawa yang menyegarkan. Untuk Kelana Rasa Nusantara, Ipeh menghadirkan dua sajian khas Betawi yaitu Gado-gado dan Asinan Betawi.

Asupan yang disukai sejuta umat dengan banyak penjual. Mulai dari resto mewah dengan plating yang cantik hingga gerobak dorongan yang mangkal atau rajin berkeliling kemana-mana. Ada juga penjual yang mengandalkan kotak boncengan kecil yang dibawa oleh motor atau sepeda. Keduanya menghadirkan keunikan masing-masing. Yang pasti “rumus” kedua sajian ini sudah banyak yang menyusuri. Tapi Ipeh menghadirkan jenama Gado-Gado Benteng Karya yang telah tahunan melestarikan dan menyajikan kedua masakan ini kepada publik. Dari obrolan inilah lahir sekian banyak cerita yang membelakangi lahirnya Gado-gado dan Asinan Betawi.

Sekarang kita beralih ke naskah milik O’ik Moehadie tentang Soto Kudus. Lewat uraiannya kita diajak untuk lebih memahami apa dan bagaimana Soto Kudu itu. Serta apa perbedaannya dengan Soto Semarang, kota kelahiran O’ik.

Saya awalnya tidak begitu paham tapi jadi tertarik saat perbedaan itu diulas secara rinci oleh O’ik. Sebagai keturunan Jawa asli, perempuan dari beberapa orang cucu ini, pasti lebih paham tentang hidangan Soto di berbagai sisi pulau Jawa. Termasuk penjual Soto Kudus dengan daging kerbau yang berada di Grand Galaxy, tempat di mana O’ik tinggal. Adalah kedai bernama Soto Kudus Matahari yang selalu jadi incaran karena menyajikan Soto Kudus dengan sajian otentik dengan banyak penggemar hingga kini.

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Salak + Pliek U (Raihana Mahmud) | Kanan: Sambai On Peugaga (Raihana Mahmud)
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Sate Maranggi Sari Asih Cipanas (Annie Nugraha) | RM 999 Ayong Pontianak (Annie Nugraha)

Last but not least adalah lima artikel yang saya siapkan. Saya menghadirkan tulisan yang mengajak pembaca menyusur rasa menggugah selera lewat buku Kelana Rasa Nusantara. Di antaranya adalah Sate Maranggi Sari Asih Cipanas Jawa Barat, Camilan jadoel di Pasar Cihapit Bandung, jajanan merakyat yang disajikan di acara Car Free Day Garut, nasi telur ceplok yang ditawarkan oleh RM 999 Ayong Pontianak, dan beberapa kudapan (Lalampa dan Kue Lapis khas Tidore), dan Kopi Dabe saat saya bertamu ke Kadato Kie (Istana Sultan) Tidore.

Kelima topik yang saya angkat ini sungguh meninggalkan memori yang seru dari sekian banyak perjalanan panjang saya menyusur beberapa daerah di tanah air. Setiap langkah selalu disertai oleh sepaket pengalaman dengan kuliner. Tak lengkap rasanya berada di satu daerah atau di satu tempat tanpa mencoba tawaran jajanan di tempat yang bersangkutan. Dan itulah yang akhirnya mengajak saya berkenalan dengan sate maranggi Sari Asih, jajanan bermacam-macam di CFD Garut, telur ceplok ala RM 999 Ayong Pontianak, Lalampa, Kue Lapis Khas Tidore dan Kopi Dabe yang saya nikmati saat bertamu ke Kesultanan Tidore.

Tulisan yang tertuang dari perjalanan saya ke Cipanas, Garut, Bandung, Pontianak hingga Tidore. Semua meninggalkan jejak indah di hati, meski beberapa dari materi tulisan ini adalah kuliner baru yang hanya saya cicipi saat berada di daerah tersebut. Tak saya temukan di tempat saya tinggal karena pengolahannya yang eksklusif di lokasi tertentu. Untuk itulah dengan niat tulus dan hati riang gembira, saya membagikan semua pengalaman tersebut lewat buku Kelana Rasa Nusantara. Buku tentang kekayaan kuliner tanah air yang juga adalah antologi ke-3 PAPI di 2026.

Menyusur Rasa Menggugah Selera

Tag line ini, menurut saya, begitu pas untuk buku Kelana Rasa Nusantara. Setiap kontributor termasuk saya, merangkai diksi dari jejak berkelana ke beberapa daerah di Indonesia hingga menemukan dan merangkai kalimat penuh makna yang bertujuan untuk menggugah selera para pembacanya.

Selain sebagai sarana untuk (lebih) mengenalkan beberapa asupan yang (mungkin) belum banyak dikenal oleh masyarakat luas, Kelana Rasa Nusantara pun berharap untuk bisa menjadi salah satu buku rujukan saat kita berada di tempat yang dibahas di dalam buku ini. Rangkaian harapan dan doa baik yang juga diukir oleh Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) sebagai komunitas/wadah untuk menyusun buku ini dan Annie Nugraha Mediatama (ANM) yang selalu mendampingi PAPI dalam mencetak dan menyebarkan buku yang diterbitkan oleh PAPI.

Ingin menjadi bagian dari Kelana Rasa Nusantara dan ikut mendukung lahirnya buku cetak serta tetap berkembangnya dunia literasi tanah air? Yuk, hubungi saya di 0811-108-582 untuk mengadopsi Kelana Rasa Nusantara.

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Camilan Jadul (Annie Nugraha) | Kanan: Kopi Dabe, Lalampa, dan Lapis Tidore (Annie Nugraha)
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Jajajan CFD Garut (Annie Nugraha) | Kanan: Surabi (Tea Terina)

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

15 thoughts on “Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara”

  1. Kalau aku pribadi, akan tertarik membaca buku ini meski sudah banyak buku kuliner nusantara. Pertama, jika gaya berceritanya khas bloger. Sebab, kebanyakan buku kuliner menggunakan bahasa jurnalistik. Kedua, jika menu yang dimuat di buku enggak banyak dikenal orang. Sepertinya, buku ini punya keduanya.

    Reply
    • MasyaAllah. Bener banget ya Mbak. Setiap diksi dan sentuhan cara menulis tuh pasti berbeda-beda di setiap orang. Saya pun saat membaca naskah yang masuk satu persatu, selalu tertegun dengan apa yang disampaikan oleh setiap kontributor. Ada travel writing dan food blogging yang punya ciri khas sendiri.

  2. Judul bukunya sangat menarik banget. Sayangnya saat diumumkan akan membuat buku tersebut, ku sedang banyak agenda khawatir tidak kepegang, padahal kulineran itu salah satu favorit ku.

    Keren sekali, perjuangan menuntaskan buku Kelana Rasa Nusantara. Awalnya halaman sangat kurang dan jauh dari jumlah semestinya, akhirnya berkat banyak istirahat ide-ide brilian pun berhamburan dan finally, kelar dengan berkualitas.

    Seneng banget karena PAPI sangat mengedepankan kualitas. Buku yang terlahir nggak perlu diragukan. Penulisnya pun keren semua ini sih. Mestilah punya minimal satu buku.

    Reply
    • Semoga buku ini membawa manfaat bagi orang banyak ya La. Baik untuk kontributornya maupun untuk publik yang membacanya.

      Hayuk ikutan nulis lagi. Kembali turut merasakan bagaimana gembiranya berada di satu lingkungan pertemanan yang sefrekuensi.

  3. Sarapan saat aku kecil yang paling sering adalah sego tumpang, alias nasi dengan sayuran dan sambal tumpang…Dulu dijual sebagai sarapan pagi di Kediri, tapi kini sudah meluas dijual kapan saja bukan untuk waktu tertentu. Enak tenan lho Mbak Annie, kapan-kapan cobain deh…ada kok di Jakarta dan sekitarnya, meski enggak seistimewa di Kediri, karena tempe sana tuh beda rasanya kalau dibikin “tempe busuk” ..
    Btw, buku Kelana Rasa Nusantara terasa hangat dan dekat, pembaca bakal ikut โ€œlaparโ€ sekaligus turut merasakan perjuangan di balik tiap halaman bukunya. Salut untuk semangat para penulis perempuan di Pondok Antologi Penulis Indonesia yang terus berkarya dan mengenalkan kekayaan rasa Nusantara lewat tulisan.

    Reply
    • Waah kapan-kapan ah nyobain Sambal Tumpang. Seru dan lezat sepertinya.

      Semoga dengan perjuangan yang telah dilalui, buku ini bisa menjadi jejak literasi yang dibanggakan oleh PAPI sebagai wadah komunitas, ANM sebagai wadah untuk menerbitkan, dan tentu saja bagi semua kontributor yang terlibat.

      Yuk Mbak Dian, kapan-kapan ikut bergabung bersama kami.

  4. auto laperrrrr……..
    Padahal baca ulasan ini masih pagi, masih jauh waktu buka puasa :D
    mengeksplor kuliner emang gak pernah habisnya ya?
    Apalagi Indonesia kayaaaa…..banget
    kaya jajanan cilok (aci dicolok) berkat kreativitas muncul cilor (aci telor), cireng (aci digoreng) dst

    Reply
  5. Seneng banget sama buku yang satu ini. Dari covernya pun sudah semenarik itu. Bahkan pemilihan judulnya patut diacungi jempol. Kelana Rasa Nusantara, berima dan puitis pula.

    Sudah pasti isi bukunya pun bikin nyaman pembaca dan mendapatkan banyak insight terkait makanan hingga camilan Nusantara yang sangat beragam. Bahkan selalu ada cerita menarik di balik sebuah hidangan.

    Semoga next bisa join meramu buku bareng PAPI lagi dan cetakan ANM emang udah jempolan, kualitasnya oke.

    Reply
  6. mengorbankan waktu tidur yang berbuah manis ya Mbak?

    demikian juga obrolan yang berbuah tantangan untuk menciptakan hal yang berbeda

    walau banyak yang beralih ke hal praktis seperti konten TikTok untuk mengetahui banyak hal tentang kuliner, saya selalu optimis buku adalah yang terbaik, karena dibahas dengan dalam dan membantu pembacanya meningkatkan literasi

    Reply
  7. kalau baca buku kelana rasa nusantara ini pasti dibikin ngiler sepanjang halaman buku dah. mana makanannya nggak hanya dari jawa yang sudah familiar. tapi dari daerah lain di nusantara yang tentu akan menambah kaya selera kita. Mantap ya, Kak.

    Meski lika-liku untuk bukunya terbit nggak mudah. tapi, akhirnya bisa terbit tuh pasti sesuatu yang melegakan dan membanggakkan banget ya, Kak

    Reply
  8. Dari fotonya yang menggugah selera dan narasi deskriptif nya.. MashaAllaah..
    Selalu salut dengan penulis PAPI yang cerdas memilih pasangan kata yang tepat untuk sekedar menggambarkan “rasa nikmat”.

    Ternyataaa..
    Rasa itu se-‘kaya’ ituu yaa, ka Annie..

    Sukses selalu ka Annie..
    Barakallahu fiikum.

    Reply
  9. Mantap Bu Annie, terus berkiprah dalam bidang literasi. Apalagi ini kerennya menghadirkan buku dengan tipe Non-fiksi, di tengah gempuran dan banyaknya karya fiksi.
    Lewat karya ini, tidak hanya terkait kuliner nusantara yang dapat menjadi wawasan buat pembaca tapi khasanah bahwa menulis Non-fiksi itu menyenangkan loh, dan banyak penulisnya

    Reply
  10. Selamat atas peluncuran buku terkininya Yuk. Kelana Rasa Nusantara semoga bersambung ke seri berikutnya.

    Ohya, enam tahun di Semarang, saya lebih akrab dengan Soto Kudus dibanding Soto Semarang lho yuk. Bahkan bisa dibilang setelah baca sempat berpikir sejenak, apakah saya pernah makan Soto Semarang?๐Ÿคฃ Setelah mengingat-ingat sepertinya hanya sekali di rumah seorang teman yang memang keluarganya asli Semarang.

    Reply
  11. Wah…menarik antologinya. Jajanan dan kulinernya banyak yang belum tahu rasa maupun bentuknya. Pastinya penulisan dengan gaya storytelling ala PAPI, bisa menggugah selera pembacanya.
    Waktu itu ragu mau ikut. Jajanan Bandung kayak udah banyak yg tahu & engga keburu survei sih…
    Selamat ya atas kelahiran buku Antologi PAPI lagi…

    Reply

Leave a Comment