Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Photo of author

By Annie Nugraha

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung | Featured & Travel | Juni 2026

Impian saya untuk memiliki cafe library dan book store, membuat saya rajin menyusur banyak tempat sejenis untuk mendapatkan referensi dan sudut pandang tertentu. Dari sekian banyak daftar nama tempat yang saya catat adalah Taman Bacaan Hendra, toko buku legendaris yang berada di kawasan Cihapit Bandung

Adalah di sebuah akhir pekan, suami mengajak saya untuk mewujudkan kunjungan ke Taman Bacaan Hendra ini sekaligus ke beberapa tempat yang sekiranya menarik untuk sekalian disambangi. Jadi di hari itu selain ke Taman Bacaan Hendra di Cihapit, saya juga bertamu the Hallway Space di pasar Kosambi, Kopi Dartoyo yang berada di Naripan, kawasan yang sama dengan Rumah Makan Hj. Ine di mana saya, suami, dan si bungsu menikmati masakan rumah yang kaya rasa. Empat tempat yang cukup bahkan sangat menarik untuk dipotret dan dihadirkan di blog ini.

Apa yang kemudian saya temukan di Taman Bacaan Hendra ini?

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Warisan yang Dijaga Generasi Berikutnya

Setelah melewati masa berkendara sekitar dua jam-an dari Cikarang, mobil kami memasuki kawasan Cihapit dengan keruwetan lalu lintas yang selalu menyergap di kawasan ini. Sebenarnya area parkir Cihapit tuh lumayan luas, hanya saja jumlah pengunjung dan kendaraan yang masuk lah yang membuat kawasan ini sering terkunci oleh sibuknya mencari lahan parkir.

Jika beberapa kali yang lalu suami berhasil (baca: beruntung) menemukan slot parkir, ternyata kali ini tidak. Datang dari Jl. Sabang, di mana Taman Bacaan Hendra berada, tumpukan kendaraan terlihat begitu rapat satu sama lain. Akhirnya, suami menganjurkan saya untuk turun di depan taman bacaan legendaris ini sementara dia berkeliling mencari tempat parkiran.

Untuk mencapai Taman Bacaan Hendra yang berada di Jl. Sabang No. 28 di kawasan Cihapit ini sebenarnya sangat mudah karena area ini memang cukup populer. Mereka pun memasang sebuah signage di fasad bangunan yang tinggi dan terlihat dari kejauhan. Tempatnya sendiri masih berupa rumah lama dengan pagar jangkung model lama dan kanopi yang sudah jadul termakan usia.

Jalan di mana tempat ini berada tidaklah lebar. Tapi masih bisa dilewati oleh dua mobil dengan tentunya butuh keahlian khusus agar tidak saling bersinggungan. Apalagi jika bertemu dengan motor yang tampaknya bebas parkir dan seliweran sana-sini di hampir sepanjang jalan. Etapi sepertinya lalu lintas di Jl. Sabang ini diatur satu arah saja. Saat saya tiba ada seorang petugas parkir yang sibuk mengatur puluhan motor yang akan dititipkan di teras depan pagar Taman Bacaan Hendra.

Kawasan sibuk yang harus kita cermati kapan waktu terbaik untuk bertandang.

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Saat melangkah masuk, teras depan Taman Bacaan Hendra sedang dipenuhi pengunjung. Di salah satu sisi ada sebuah kedai kecil Ency Coffee. Kesibukan terlihat sekali di kedai minum ini. Banyak yang duduk ngantri sembari memegang telepon genggam.

Di teras ini juga tersedia banyak meja dan kursi kayu untuk membaca dengan nuansa sederhana. Gak terlihat penyusunan yang ciamik atau terlihat sebagai ruang baca yang kekinian dan penuh dengan dekorasi seperti layaknya cafe library and book store. Tapi sepertinya memang itulah konsep Taman Bacaan Hendra ya. Mereka fokus pada peminjaman buku dan tidak melakukan penjualan sama sekali.

Melewati sebuah pintu besi dengan kawat kasa, mata saya langsung disambut oleh rak kayu di sana-sini dengan koleksi buku yang berdesakan. Di sebelah kiri ada sebuah meja pelayanan tamu yang juga sudah padat dengan buku. Di dekatnya ada sofa jadul yang tampaknya sudah butuh diganti. Lalu ada dua set dudukan kayu tanpa sandaran dan meja-meja kecil di hadapannya. Raknya sendiri tinggi menyentuh langit-langit ruangan.

Taman bacaan yang berdiri sejak 1967 oleh Ibu Juliana Huwae dan sekarang dioperasikan oleh generasi ke dua, Ibu Atie Hendra (menantu Ibu Juliana) dan generasi ketiga, Derian – cucu Ibu Juliana ini kelihatannya masih mempertahankan konsep dan penampilan lamanya. Hal ini saya buktikan saat melihat foto-foto lama di periode 1960-an dan 1980-an di mana hadir deretan foto lawas yang dipresentasikan dengan sangat menarik.

Sebuah warisan yang dijaga dengan baik oleh generasi berikutnya.

Hingga hari ini, buku-buku antik termasuk komik Indonesia tahun 1960-an masih terawat rapi di beberapa lemari khusus yang saya lihat di bagian belakang tempat ini. Perjalanan yang dimulai dari garasi kecil yang dipersembahkan oleh Ibu Juliana untuk Hendra, anaknya, kini menjadi bagian dari sejarah keluarga dan Kota Bandung.

Dalam berbagai banyak referensi dan catatan, saya mengetahui bahwa taman bacaan ini sengaja dinamakan sebagai Taman Bacaan Hendra karena alasan tersebut di atas. Bahkan dengan usia tempat yang sudah menyentuh angka 59 tahun di 2026 saat saya menuliskan artikel ini, taman bacaan ini saya ketahui tetap beroperasi dengan baik.

Mengikuti arahan petugas yang melayani tamu, saya diminta untuk membaca jejak perjalanan tempat ini lewat beberapa foto lama yang dilengkapi oleh informasi singkat dan sangat menarik.

Lewat beberapa information board, saya melihat banyak foto lama saat Taman Bacaan Hendra mulai berdiri. Ada foto Ibu Juliana Huwae sang pendiri, yang membuka lembaran awal di 1965. Ada foto saat beliau menikah dengan Cornelius Eduard Huwae dan foto kedua anak mereka Hendra Carlos Huwae (lahir 1965) dan Febia Carin Huwae (lahir 1968). Rumah yang dulu mereka tempati di awal pernikahan inilah yang kemudian menjadi Taman Bacaan Hendra.

Di salah satu board yang bisa dibaca khalayak, ada potret kesibukan publik saat berada di antara tumpukan dan rak-rak buku yang tersedia di tahun 60-an tersebut. Diceritakan juga bahwa di tahun-tahun awal pernikahan tersebut, Ibu Juliana yang dulunya adalah seorang model dan karyawan BUMN, memilih meninggalkan pekerjaan tetapnya agar bisa mengurus Hendra, anak pertamanya sambil tetap produktif di rumah. Koleksi pertama di taman bacaan ini adalah komik Indonesia yang lahir di 1960-an, cerita Gareng Petruk, dan cergam lama.

Di 1980, seiring waktu, semakin banyak anak-anak dan remaja datang membaca. Tamunya berlimpah hingga akhirnya di tahun tersebut, taman bacaan ini dipindahkan ke rumah tengah yang awalnya adalah ruang tamu. Mereka juga mengalami masa perluasan kembali setelah koleksi buku ini bertambah. Ruang tengah yang dahulu hanya dimanfaatkan setengahnya, kini dibuka lebih lebar ke samping pada proses renovasi di 1982. Rak-rak buku diganti dan ditata ulang untuk menampung koleksi buku yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Bagian depan juga diperbaharui hingga tampilannya mendekati wujud yang publik kenal saat ini.

Tak ayal, selain dikenal sebagai taman bacaan legendaris dan tertua di Kota Bandung, tempat ini tetap dengan rapi menyimpan lebih dari tujuh puluh ribu koleksi buku termasuk komik silat dan novel lawas yang tidak atau jarang kita temukan di tempat lain.

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Saya dan si bungsu melanjutkan penelusuran.

Di ruang utama perpustakaan dan terbenam di antara puluhan ribu koleksi buku, saya menemukan banyak koleksi buku yang begitu mengagumkan. Semua hadir sebagai edisi perdana dan mulai menua. Di antaranya adalah koleksi buku karya Agatha Christie, Sandra Brown, Tintin, novel remaja, novel terjemahan, komik Dragon Ball, Kungfu Boy, Harry Potter, Asterix, Ko Ping Hoo, dan tentu saja para penulis yang namanya berkibar di era 1990-an hingga kini.

Penataannya sendiri begitu rapi dan bikin siapa pun pasti berdecak kagum.

Dari petugas kemudian saya mengetahui bahwa buku-buku ini bisa dipinjamkan dengan meninggalkan kartu identitas diri termasuk nomor handphone. Peminjaman juga untuk baca di tempat dan saya tidak bertanya apakah bisa dibawa pulang (sepertinya gak mungkin bisa ya). Taman bacaan ini juga menerima hibah buku dengan sukarela. Tapi mereka bukanlah toko buku dengan kegiatan penjualan. Jadi di sini murni beroperasi sebagai perpustakaan saja.

Lewat petugas ini jugalah saya mengetahui bahwa mereka membuka kedai makan dengan ruang yang lebih luas di bagian belakang (Dapur Sabang). Area yang memiliki pintu besi yang terhubung langsung dengan pasar tradisional Cihapit. Jadi saat saya duduk dan memotret di bagian ini, lalu lalang publik yang mau belanja keperluan rumah tangga di dalam pasar dan melewati sebuah gang kecil ini, akan otomatis menoleh. Tamu kedainya juga mulai berdatangan saat saya melangkah keluar.

Di sini, di Dapur Sabang ini juga, saya melihat beberapa rak kayu berkaca dan terkunci rapat yang berisikan koleksi buku langka dan terjaga dengan paripurna. Hati saya mendadak mengharu biru. Membayangkan sebuah rangkaian pelestarian yang sudah dilakukan oleh Taman Bacaan Hendra untuk merawat setiap koleksi yang mereka miliki.

Sebuah rangkaian warisan bernilai yang semoga tak lekang oleh waktu bahkan hingga menyentuh generasi ke-empat, ke-lima, dan seterusnya.

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

Bertandang ke Taman Bacaan Hendra, Toko Buku Legendaris di Kawasan Cihapit Bandung

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Leave a Comment