
Habitaas. Homestyle Dining and Library di Bandung yang Bikin Betah | Travel, Restaurant & Culinary Review | Maret 2026
Sehari sebelum berangkat ke Garut bareng rombongan keluarga, saya dan si bungsu sudah berada di Bandung. Mumpung sekalian datang, kami berdua memutuskan untuk mampir ke beberapa tempat yang sudah lama saya incar untuk disambangi. Salah satunya adalah Habitaas, Homestyle Dining and Library yang berada di kawasan Malabar.
Hari itu Jum’at. Syukurnya lalu lintas di seputaran kota lumayan kondusif. Tiada aka kemacetan yang berarti. Mengikuti GMaps juga lebih mudah karena jalur yang kami tempuh menuju Jl. Talaga Bodas No. 30, Malabar, di mana Habitaas berada, terlihat biru terang. Pertanda jelas bahwa tidak ada kemacetan di sepanjang jalur yang (akan) kami tempuh.
Saat tiba persis di depan homestyle dining and library ini, barisan mobil yang terparkir sempat membuat saya ragu. Apalagi di sekitarnya masih banyak rumah yang dihuni plus beberapa lainnya yang juga dioperasikan sebagai sentra/pusat bisnis. Itu pun space parkiran nya menjadi lebih sempit karena dalam beberapa meter, parkiran motor sudah lebih dulu menguasai. Berjejer penuh dengan manisnya.
Tapi dasarnya rezeki ya. Saat mobil saya terdiam, saya dan kang parkir bingung mau mengarah ke mana, eh sekelompok tamu dalam satu mobil bergerak keluar. Meninggalkan satu slot yang pas untuk saya. Lah kok klop betul. Si bungsu pun langsung semringah karena tadi dia sempat ingin mengunjungi tempat lain jika memang tidak bisa parkir.

Homestyle Dining and Library
Taman kecil dan sebuah standing signage menyambut di halaman depan. Saya menyempatkan diri berfoto di sini seperti halnya banyak tamu lainnya. Mumpung langit cerah tak terkira. Persis di teras depan dengan beberapa dudukan untuk menunggu, seorang petugas menyambut kami sembari menanyakan apakah sudah pernah datang ke Habitaas. Karena belum sama sekali, dia pun menyebutkan beberapa aturan tentang bertamu di tempat ini. Salah satunya adalah bahwa ada batasan berkunjung maksimal dua jam bagi setiap tamu atau per kelompok tamu. Tidak boleh lebih dari itu. Jam masuk pun dicatat oleh si petugas ini dalam sebuah buku reservasi untuk meyakinkan bahwa aturan ini benar-benar akan berlakukan tanpa kecuali.
Saat di depan tadi saya sempat berpikir sekilas. Kenapa harus begitu ya? Tapi begitu masuk, berkeliling sejenak mencari tempat, dan melihat area serta ruangan yang lumayan terbatas, saya langsung paham. Pembatasan waktu ini tentunya fair untuk memberikan kesempatan kepada tamu lain untuk masuk. Dua jam per tamu/kelompok cukup lah ya. Saya pun jika diberikan tugas memegang operasional tempat atau bahkan sang empunya tempat, pasti akan memberlakukan hal yang sama.
Mengikuti arahan petugas penerima tamu tadi, saya mendapatkan penjelasan singkat tentang area yang bisa saya hampiri. Di lantai bawah ada yang ber-AC persis di dekat sentra pelayanan minuman dan produk bakery. Kemudian bisa ke teras di sisi depan, di taman belakang tanpa atap atau di selasar luar. Semuanya tanpa pendingin ruangan dan bisa merokok. Cuma ya itu karena kami datang setelah makan siang dan matahari lagi garang-garangnya, saya tentu tak memilih spot ini.
Usulan kedua adalah ke lantai atas yang kesemuanya adalah ruangan ber-AC. Meski tidak terlalu dingin karena banyak dinding terbuka, lantai dua ini terlihat lebih akomodatif untuk orang yang tak tahan dengan cuaca panas. Di lantai atas ini ada musala, toilet, sebuah ruang meeting yang musti dipesan dulu dengan daya tampung sekitar 6-8 orang, mini library di bagian tengah keseluruhan ruangan, dan dua area duduk di sisi kanan dan belakang perpustakaan kecil itu.
Saya memilih ruangan terakhir ini karena kondisinya cenderung tidak begitu padat. Ruangan ini memiliki dinding kaca yang cukup besar dan membuat tamu bisa melihat di taman yang ada di lantai bawah. Di sini juga banyak ornamen cantik, beberapa buku, dan AC nya lebih berasa. Dinding kaca itu pun sungguh membantu saya saat ingin memotret menu yang sudah saya pesan. Tidak over lighting tapi tetap akomodatif dan pas untuk sesi pemotretan.
Ada yang unik tentang mini library nya. Ada 3 seaters, 2 seaters, dan sofa tunggal yang dihadirkan di sana. Sofa besar yang disediakan itu hadir dengan bentuk yang berbeda dan tak pernah saya lihat sebelumnya. Joknya berlipat lipat dengan sandaran tinggi. Berwarna hitam pekat dan tampak begitu nyaman untuk diduduki berlama-lama. Ada meja kotak-kotak hitam putih di antara sofa ini. Persis seperti papan catur. Koleksi buku ditaruh di dalam lemari kaca dan dalam kondisi terkunci. Ah pantesan gak ada yang membaca di sini. Lah wong bukunya semua hanya bisa dilihat doang. Duh sayang banget padahal ada beberapa buku yang menarik perhatian saya. Setidaknya ada kesempatan menilik blurb dan rincian tentang buku yang biasa nya dituliskan di lembaran kata pengantar.
Jadi sepertinya mini library ini dihadirkan untuk mengikuti kebutuhan kekinian yang sedang rame dengan konsep cafe yang dilengkapi oleh perpustakaan. Dan Habitaas lebih memusatkan perhatian pada kebutuhan dan pelayanan cafe nya saja.
Tapi jika saya jadi pemilik tempat ini, saya akan mengorbankan ruang meeting di lantai dua itu untuk menjadi mini library dalam artian yang benar-benar berfungsi sebagai perpustakaan dan tempat membaca. Saya akan tempatkan dudukan yang nyaman, mendirikan rak-rak estetik, untuk menampung beberapa koleksi buku dari beberapa genre. Tentu saja dengan aturan tidak boleh membaca sembari minum atau membawa makanan karena akan mengganggu kebersihan library. Kebutuhan konsumsi ini harus diletakkan di meja-meja khusus atau loker yang berjarak dari perpustakaan. Termasuk tas dan barang bawaan lainnya.
Oia, by the way, saat menunggu pesanan datang, saya sempat bertemu dengan buku berjudul The 1.000 Best Recipes. Triple-tested recipes and Step by Step Photography yang diterbitkan oleh Murdoch Book. Hadir dengan hard cover dan jumlah halaman sekitar 600-an, buku ini menarik banget buat disimak. Saya terpaku dengan setiap foto yang hadir. Rinci dan membuat kita semakin mengenal setiap masakan/menu yang ada berikut dengan proses pembuatannya. Sayangnya buku ini status masih import. Jadi butuh effort lebih untuk mendapatkannya.


Pesanan yang Menyelerakan
Karena belum lama makan siang dengan sepiring penuh nasi rawon di kedai Gang Selera, saya dan si bungsu memutuskan nyemil-nyemil bahagia lengkap dengan minuman dingin yang mampu membantu menuntaskan udara panas yang masih melekat di badan. Setelah menyusur menu lewat bar code yang tertempel di meja, beberapa pilihan makanan dan minuman pun sungguh menarik perhatian.
Hari gini ya. Paperless dan efisien. Cukup browsing dan lihat infonya secara digital. Nanti akan langsung terhubung dengan petugas yang melayani pesanan. Gak perlu berlama-lama ngobrol dengan petugas pastinya. Jaringan internetnya pun gacor. Jadi gak butuh waktu lama untuk tersambung dengan daftar menunya.
Awalnya saya kira apa yang dipesan porsi nya kecil tapi ternyata meski terlihat tidak begitu besar, isinya juga lumayan banyak dan bikin lambung tambah penuh.
Di kunjungan perdana ini saya memesan sandwich sapi panggang jamur yang dilengkapi dengan sayuran (63K), kentang sosis goreng ala Habitaas (43K), lalu minuman dingin cumburple – campuran timun segar dan apel hijau (39K), summer time juice – campuran mangga dan jeruk (37K). Semuanya sungguh sangat menyelerakan. Tapi saya jatuh cinta pol sama kedua minuman dinginnya. Segar dengan kombinasi buat yang pas. Comfort dan benar-benar bisa mendinginkan diri dari cuaca panas di luar ruang. Yang suka fresh juice tanpa gula, kedua pilihan minuman dingin ini (sangat) saya referensikan. Highly recommended lah pokoknya.

Saya melanjutkan jalan pulang ke rumah di Cimahi dengan lambung yang penuh dan padat. Karena tak ingin jatuh mengantuk selama berkendara dalam sekitar 45 menit ke depan, saya memutuskan untuk memesan secangkir kopi hitam dengan sedikit gula sebagai senjata agar mata tetap melek. Si bungsu pun kerap mengajak saya ngobrol. Khususnya tentang rencana persiapan esok hari, naik kereta Panoramic, dari stasiun KA Bandung menuju Garut. Si bungsu tampaknya begitu antusias karena ini akan jadi pengalaman pertamanya.
Kami juga tak lupa membahas tentang apa yang baru saja kami nikmati selama di Habitaas. Dari apa yang kami alami, cocok banget jika Habitaas mengusung tema homestyle dining karena memang, jika melihat dari serangkaian menunya, tempat ini menawarkan masakan yang sudah akrab di lidah kita dengan suasana yang biasa menghampiri saat kita berada di rumah. Terutama bagi mereka yang lebih menyukai masakan kekinian yang praktis ketimbang menu tradisional yang butuh proses lebih lama.
Tempatnya juga asri dan nyaman untuk berkumpul. Terutama di taman dan selaras taman belakang. Dan bakal lebih terasa convenient jika kita datang pada sore hingga malam hari, di mana garangnya matahari sudah tidak lagi kita rasakan. Jadi waktu duduk-duduk di ruang terbuka terasa jauh lebih nyaman.
Yang merokok juga akan terasa nyaman karena banyak area terbuka. Baik di selasar belakang dekat taman tadi, maupun di satu ruang khusus yang ada di teras depan. Ruang terbuka dengan pembatas batu bata yang ditumpuk artistik dengan beberapa bangku yang cukup akomodatif. Saya suka dengan pemisahan seperti ini demi kenyamanan semua tamu.
Siang menjelang sore di hari itu saya nikmati dengan melanjutkan perjalanan menuju Cimahi. Bersiap-siap untuk keesokan harinya berkelana bersama keluarga menuju Garut.






IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com


