
Menikmati Warisan Rasa di Pondok Mie Ayam Wonogiri Samiasih Lippo Cikarang | Travel & Culinary Review | July 2026
Kepopuleran Pondok Mie Ayam Wonogiri Samiasih di Lippo Cikarang ini sudah merebak di kalangan para pecinta mie di kawasan Cikarang. Info tentang kelezatan nya beredar di banyak lini sosial media publik penggemar jajan, khususnya mereka yang tinggal di Cikarang dan sekitarnya. Ih, jadi penasaran
Karena banyak yang memberikan penilaian hampir sempurna (4.8) di GMaps, rasa penasaran itu pun bangkit dan menggelitik. Apalagi lokasinya gak jauh dari rumah. Yah sekitar 1-2km aja. Dan cukup sering saya lewati karena posisi mereka ada di salah satu opsi memotong jalan untuk sampai di pintu tol Cibatu. Akses yang sering saya gunakan saat ingin ke Jakarta atau ke Bandung.
Banyak ulasan yang tercantum di aplikasi ini pun kerap memuji kelezatannya. Mulai dari mie nya yang lembut, mudah dikunyah tapi tak gampang hancur. Topping nya (potongan ayam) yang gurih dan berbagai pilihan menu tambahan yang bikin nagih. Khususnya sajian ceker yang bersih dengan sentuhan rasa manis gurih yang terasa hingga ke tulang-tulang nya.
Ya ampun. Seketika saya langsung ngences. Sebagai pecinta mie ayam, deskripsi yang tertulis jelas di setiap unggahan ulasan, seketika membuat saya membayangkan betapa menyenangkannya bisa menikmati mie ayam khas Wonogiri ini.
Mari kita datangi dan buktikan sendiri.

“Wonogiri Jadi Sentra Pedagang Mie Ayam. Dari satu gerobak jadi ratusan warung. Puluhan ribu perantau Wonogiri kini berdagang mie ayam di seluruh Indonesia. Banyak yang berasal dari Tunggurejo, Ngadirojo, dan sekitarnya. Muncul komunitas pedagang seperti PAPMISO buat saling bantu. Dari Jakarta, Bandung, Medan, hingga Papua. Selalu ada rasa Wonogiri di mangkuk mie ayam.”
“Simpulan dan Warisan Rasa. Bukan sekedar makanan tapi warisan perjuangan. Mie ayam Wonogiri jadi ikon nasional tapi sedikit yang mengetahui sejarahnya. Ini bukan soal resep saja tapi cerita tentang tekad, solidaritas, dan akar budaya. Dan setiap kamu makan mie ayam Wonogiri, kamu juga ikut mencicipi semangat para perantau dari desa kecil yang kini melegenda”
Serangkaian kisah dan sejarah tentang Mie Ayam Wonogiri terpajang di salah satu sisi dinding kedai ini, saya baca pelan-pelan dan foto satu persatu. Dibuat dalam bentuk poster berukuran A3 dengan lapisan akrilik, sumber informasi ini terlihat serius dicetak dan ditampilkan oleh pemilik tempat. Rangkaian kekaguman dan perenungan kemudian hinggap di benak saya. Baru menyadari bahwa ternyata mie ayam Wonogiri adalah sebuah warisan rasa dari daerah asalnya yang hingga kini masih dipertahankan.
Lewat sebuah poster lain yang berjudul “Asal Mula Mie Ayam Wonogiri” saya mendapatkan insight baru yang sungguh mengagumkan. Ternyata ide “melahirkan” mie ayam khas Wonogiri ini berasal dari seorang pemuda dari sebuah desa kecil di Wonogiri yang merantau ke Jakarta pada 1963. Di perantauan inilah dia mencoba mie ayam dengan kuah gurih dan ayam manis yang kemudian membuat dia jatuh cinta.
Dari situlah kemudian Ratiman, si pemuda ini, akhirnya berdagang mie ayam dengan gerobak, berkeliling kemana-mana sembari membawa sajian mie ayam kenyal dengan kaldu gurih dan potongan ayam yang manis, sembari mengenalkan nama Wonogiri sebagai identitas mie yang dia tawarkan. Perjuangan Ratiman inilah yang kemudian menjadi cikal bakal populernya mie ayam Wonogiri. Mie ayam yang menghadirkan ciri khas seperti kuah dan minyak bawang yang melahirkan aroma harum khas bawang, topping semur ayam yang dilengkapi oleh ceker manis, dan keripik pangsit yang renyah.

Semua ciri khas yang dihadirkan lewat poster itu, saya temukan di Pondok Mie Ayam Wonogiri Samiasih. Terasa banget bedanya saat menikmati jenis sajian yang sama di resto Tionghoa atau yang berasal dari negara lainnya.
Menyempurnakan kunjungan perdana, saya memesan mie ayam biasa (Rp17.000,00) untuk suami dan mie ayam pangsit (kuah) ceker (Rp24.000,00) untuk saya. Kedua asupan kesukaan saya ini, di harga segitu, sudah termasuk pangsit goreng semangkuk penuh. Harga yang menurut saya sangat ramah di kantong.
Dari daftar harga yang ditempel di dinding ini, selain mie ayam dengan segala pilihan sajiannya (dengan berbagai jenis bakso, pangsit, ceker, atau lengkap kombinasinya) Pondok Mie Ayam Wonogiri Samiasih ini juga menawarkan beberapa opsi jajanan bakso (bakso urat, bakso tahu kuah, bakso keju, bakso mercon, bakso wagyu gurih, bakso wagyu pedas, bakso telor, bakso rusuk, dan bakso beranak).
Ya ampun. Deretan pilihan ini membuat saya terpaku dan tergiur sekaligus. Pikiran langsung berputar mengingat ada beberapa pilhan menu yang begitu menggoda untuk dicoba. Asyik juga kali ya mengkombinasikan antara mie ayam dengan ceker semangkok penuh, pangsit kuah, bakso wagyu gurih, bakso telor, bakso rusuk, plus tentu saja potongan gurih pangsit goreng. Astaga banyak kali lah itu ya.
Tapi apalah daya. Lambung kisut ini hanya mampu menghabiskan semangkok kecil mie ayam biasa dengan dua potong ceker dan sebuah pangsit kuah. Itu pun saya habiskan dengan susah payah. Ngos-ngosan karena diiringi dengan kalimat “Ayok dihabiskan. Porsi nya gak gede-gede amat kok itu” yang meluncur lancar dari mulut suami. Aroma intimidasi pun menyeruak di kepala.
Tapi bener sih. Skala porsi nya kedai mie ayam ini tuh sesungguhnya gak besar-besar amat. Mangkuk nya, yang ada gambar ayamnya itu, hadir dengan ukuran standard aja. Buat cowok yang predator mie ayam, seperti tamu yang duduk di sebelah saya, dua mangkok mie ayam tuh tandas lebih cepat dibandingkan saya yang dapat jatah semangkok aja.

Selama duduk di dalam kedai, saya melihat banyak tamu datang dan pergi. Ada yang makan di tempat, datang dengan permintaan bungkus saja, dan suara krang kring pesanan on-line yang kerap berbunyi dalam hitungan menit.
Kesibukan ini begitu terasa di akhir pekan ini. Gak heran sih karena posisi kedai yang lumayan strategis. Berada di pinggir jalan besar dan di kompleks ruko yang begitu dikenal oleh warga Lippo Cikarang di mana kedai ini berada, Pondok Mie Ayam Wonogiri Samiasih ini juga bertetangga dengan sebuah gereja dan paroki besar yang selalu padat oleh umat di sepanjang hari Minggu.
Jadi mereka sepertinya gak bakalan tutup deh kalau Minggu. Tamu mereka membludak tak terelakkan. Cuma ya itu tadi harus sabar ngantri. Saya sendiri pun belum mencoba jika datang di hari kerja. Tapi melihat bahwa posisi mereka juga berdekatan dengan dua sekolah swasta dengan gedung besar, bisa jadi sepanjang weekdays, apalagi saat jam-jam pulang sekolah, pasti banyak orang yang nongkrong di sini.

Eh jadi lupa membahas tentang rasa. Buat saya sih kualitas rasa nya patut dapat pujian meski tidak terlalu istimewa. Seperti apa yang barusan saya baca tadi, keunikan dari mie ayam Wonogiri bisa saya nikmati dengan baik. Mie nya lembut dan terbungkus dengan baik oleh wanginya bawang goreng. Potongan dadu ayam yang dominan manis juga lembut. Ceker nya juga jempolan. Manis berwarna coklat persis seperti tempe atau tahu bacem. Opsi berbeda selain ceker yang diolah dengan sambal khusus. Cocok buat saya yang gak kuat makan pedas.
Kuahnya juga gurih dan membangkitkan selera. Semangkok kecil kuah ini diisi dengan pangsit kuah sebanyak dua buah. Isian pangsit nya nikmat tiada tara tapi kulit nya terlalu tebal dan agak sulit dikunyah. Mungkin karena proses rebusan nya kurang lama.
Menurut suami yang sempat menambah bakso urat di dalam pesanan, rasa dan kekenyalan bakso yang dia pesan juga oke. Pengen sih suatu saat mencoba bakso yang versi nya banyak itu. Saya sempat melihat salah seorang tamu lahap menyendok bakso keju yang isian keju nya mengalir/meleleh deras. Ya ampun. Nikmat bener kelihatannya.

Semakin padatnya tamu yang datang sehabis misa di gereja, saya pun bergegas menghabiskan apa yang saya pesan. Ukuran ruangannya tidak terlalu besar soalnya. Meski dipadatkan oleh banyak bangku dan meja kayu, plus area makan di lantai dua, ruangan tetap terasa begitu berdesakan. Apalagi kemudian dilengkapi oleh obrolan seru, tawa yang membahana, yang membuat suasana di dalam kedai terasa begitu sesak. Jadi gak heran jika banyak tamu yang makan cukup terburu-buru.
Semoga ke depan nya luas kedai ini akan semakin bertambah ya. Terlihat lebih lapang, lebih luas, lebih nyaman, dan lebih bersih. Tidak dipadati oleh berbagai barang karena sepertinya tidak memiliki ruangan khusus untuk menyimpan segala properti dan barang-barang operasional. Jika pun ada gudang, sepertinya belum mampu sepenuh nya menampung banyak nya barang yang dimiliki oleh Pondok Mie Ayam Wonogiri Samiasih Lippo Cikarang ini.
Saya membayangkan jika ukuran ruang makan nya bisa lebih lega, ada pemisahan area untuk para ahli hisab dengan ruangan khusus berpendingin ruangan atas nama kenyamanan, bukan gak mungkin para penggemar mie ayam ala Wonogiri ini akan lebih betah bertamu. Lumayan loh effort nya makan di ruang sesak dengan kuantitas pengunjung yang banyak plus bercampur dengan barang-barang kebutuhan operasional serta para petugas yang sibuk mondar-mandir. Terlalu padat rasanya.





