Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III

Photo of author

By Annie Nugraha

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Bahagia dapat teman-teman baru. Mutia, Aca, dan Velia. Teman sepiknik yang seru

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara Bagi Baca III | Featured | Agustus 2026

Sebuah pengumuman di media sosial (IG) langsung menarik perhatian saya. Rangkaian info tentang kumpul bareng pembaca bersama Aliansi Perpustakaan Independen (API) dan beberapa perpustakaan serta ruang baca yang beroperasi di Bandung. Keseruan apa saja yang kemudian saya temukan dan dapatkan di sini?

Beberapa saat setelah membaca rincian acara yang tertera di akun Instagram HOWL Library and Creative Space Bandung, hati saya langsung kepincut. Bertempat di Kintsugi Terrace yang berlokasi di Sukajadi, Bandung, event ini mengajak peserta untuk menikmati piknik santai dengan silent reading, dan book sharing session bersama Aliansi Perpustakaan Independen (API) dan beberapa perpustakaan independen di Bandung.

Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini akhirnya mengajak saya untuk meluncur ke Bandung persis usai shalat Subuh. Dengan asumsi waktu tempuh sekitar 1.5-2 jam perjalanan darat lalu menyempatkan diri sarapan singkat terlebih dahulu setibanya di Bandung, kemudian disambung dengan perjalanan menyusur kawasan Sukajadi untuk menemukan Kintsugi Terrace.

Rangkaian perjalanan ini โ€”yang tanpa kemacetan seperti biasanyaโ€” membuat saya menikmati Bandung lebih selesa dari biasanya. Jalanan relatif lebih landai tanpa keriuhan. Tak ada kemacetan berarti di beberapa titik yang biasanya selalu penuh oleh kendaraan. Bahkan saat meraih kawasan Geger Kalong โ€”khususnya yang mendekat ke arah lokasi acaraโ€” udara terasa lebih bersih dan segar. Berbeda dari biasanya. Mata pun terhibur dengan keindahan barisan tempat tinggal yang besar serta megah yang berada di lingkungan perumahan di mana Kintsugi Terrace berada.

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Sebuah perpustakaan kecil yang dihadirkan untuk para tamu memilih buku

Tempat yang Luas dan Lega

Sebuah neon box berbentuk bulat, lahan parkir terbatas, dan obrolan serta arahan seorang petugas parkir di halaman depan, menyambut kedatangan saya di Kintsugi Terrace. Situasi masih terasa hening meski saya tiba sekitar lima belas menit sebelum acara dimulai.

Sebuah tangga kecil kemudian membawa langkah saya masuk ke tempat ini. Tak butuh waktu lama bagi netra untuk menikmati sebuah tempat luas dengan lahan rumput serta pepohonan yang begitu pas buat berpiknik. Sangat sesuai dengan konsep yang ingin dihadirkan oleh penyelenggara acara agar semua tamu yang ada bisa menikmati waktu membaca dalam diam. Tentu saja sembari berleha-leha di atas rumput sekaligus merasakan nyamannya udara serta menghirup oksigen yang dihasilkan oleh beberapa pohon yang tumbuh di lahan terbuka itu. Yang pasti luasnya area rerumputan ini membuat Kintsugi Terrace terlihat begitu lega.

Selain lahan untuk berpiknik, hadir juga resto dan banyak meja untuk bersantap di satu sisi yang berbeda. Musala yang nyaman berikut dengan ruang basuh yang bersih. Plus tentu saja teras bangunan untuk menyambut datangnya mentari pagi.

Resto nya sendiri sepagian itu sudah bersiap diri melayani tamu yang datang untuk menikmati sarapan terlebih dahulu. Wah tahu begitu mending tadi sarapan nya di sini aja ya.

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Di perpustakaan kecil ini juga dihadirkan profil beberapa perpustakaan independen yang ada di Bandung

Berpiknik, Bersosialisasi, dan Membangun Jejaring

Melihat tamu mulai banyak berdatangan, antrian pendaftaran ulang pun mulai mengular. Saya sempat deg-degan karena tidak melakukan reservasi terlebih dahulu, seperti yang diarahkan di Instagram. Baru teringat saat si bungsu menanyakan soal ini dan kami sudah berada di antrian yang panjang. Ya ampun. Betapa lalainya saya. Tapi akhirnya berkat kemurahan hati panitia, saya pun bisa mengikuti acara ini tanpa hambatan.

Usai mendaftar, saya diberikan dua belah gelang, lalu dipersilakan memilih area piknik. Ada dua gelang kertas yang ditawarkan. Berwarna hijau yang menandakan bahwa kita berkenan diajak ngobrol, berdiskusi, dan bergabung dalam grup kecil yang nanti akan diarahkan oleh panitia. Sementara satu lagi berwarna merah yang menandakan bahwa yang bersangkutan tidak ingin diganggu.

Tau kan saya yang hobi merepet dari Sabang sampai Merauke ini memilih gelang berwarna apa?

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Suasana membaca sembari berpiknik di event BAGI BUKU III

Setelah sejenak melemparkan pandangan ke tanah lapang yang sudah dilengkapi oleh beberapa kain kotak-kotak, saya memilih untuk duduk di sisi paling ujung yang berada di bawah sebuah pohon besar. Tak jauh dari tempat ini tersedia sebuah perpustakaan kecil dengan pilihan buku yang banyak banget.

Saya kagum dengan penataan kubikal rak buku yang terbuat dari kotak kayu tersebut. Dibuat menumpuk laksana piramid kecil yang di dalamnya terdapat banyak buku yang bisa dipinjam selama acara berlangsung. Di beberapa bagian kayu tertempel Peta Perpustakaan Bandung Raya yang menjadi anggota Aliansi Perpustakaan Independen (API). Peta yang sempat saya lihat dan foto saat saya mengunjungi Bunga di Tembok Perpustakaan dan Toko Buku yang berlokasi di Pasirluyu.

Profil singkat beberapa perpustakaan tersebut juga disematkan di rak kayu buku ini. Saya tidak sempat membaca satu persatu karena antrian yang cukup panjang untuk memilih buku apa yang akan dibaca sepagian itu. Yang pasti dari semua perpustakaan yang ditampilkan hari itu, baru Bunga di Tembok dan HOWL yang saya kunjungi (HOWL juga setelah acara ini berlangsung di hari yang sama).

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Clinsen (Perihal Nama) yang turut meramaikan acara | Sebuah puisi yang dikerjakan Clinsen untuk Aca

Selain area mini panitia yang tadi melayani para peserta, saya terpaku pada dua meja yang tampaknya seru untuk ditelusuri. Setelah sempat disebutkan oleh pembawa acara, saya akhirnya tahu bahwa keduanya menghadirkan opsi kegiatan yang membuat acara Bagi Buku III menjadi lebih berwarna.

Di sebuah meja bulat kecil tampak seorang pria sedang menata tempat yang disediakan untuknya. Pakaian yang dia kenakan mengingatkan saya akan detektif partikelir di jaman tujuh puluhan dan produk sinema jadoel. Mengenakan jas wol, topi mirip Tin Tin, berkumis tipis dengan raut wajah seorang seniman kehadirannya cukup eksentrik.

Namanya Clinsen dari Perihal Nama. Unik ya. Dia diperkenalkan oleh MC sebagai maestro puisi. Serangkaian kata-kata berbobot dengan narasi khusus yang bisa dia kerjakan langsung di tempat. Semua yang terurai menjadi puisi tersebut bersumber dari obrolan yang dia bangun dengan mereka yang datang dan duduk di hadapannya.

Saya sempat duduk menemani Aca saat ingin dibuatkan puisi. Obrolan yang terbangun antara Aca dan Clinsen terlihat begitu hangat. Terkadang serius, kadang juga tergelak-gelak. Pertanyaan Clinsen sesungguhnya singkat-singkat saja. Apa yang kamu suka. Kepribadian kamu seperti apa. Apa yang kamu harapkan. Apa yang kamu impikan dalam hidup. Pengalaman terindah apa yang pernah kamu alami. Dan masih banyak lagi.

Yang seru itu justru “tamu” yang berada di depan pria muda ini. Jawaban-jawabannya bikin saya tersenyum-senyum sendiri. Hebatnya lagi Clinsen bisa “memindahkan” apa diceritakan konsumen menjadi rangkaian puisi yang dia ketik di atas sebuah kertas A5 menggunakan mesin ketik lama lalu diberi stempel merah yang lucu.

Untuk jasa ini Clinsen tidak menentukan tarif khusus. Kita/konsumen diberikan kebebasan untuk menentukan biaya jasanya.

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
In-live Drawing oleh Biru Tersembunyi

Saya berpindah ke meja sebelah Clinsen. Di sini saya menemukan sebuah photo booth kecil putih dengan rangkaian tulisan yang sungguh provokatif. Meja ini milik Biru Tersembunyi. Ada seorang ilustrator perempuan yang menyediakan jasa untuk membuat ilustrasi/doodle wajah kita. Kita difoto terlebih dahulu lewat handphone, baru setelah itu dibuatkan lembar kreatifnya di atas kertas panjang kecil menggunakan spidol biru.

Ada tiga penawaran yang bisa kita ambil. Satu wajah saja, dua lukisan wajah, atau tiga deret ilustrasi. Harga menyesuaikan berapa banyak pekerjaan yang harus ditangani oleh ilustrator. Saat melihat hasil pekerjaan untuk saya โ€”yang ternyata tulisan namanya kurang satu Nโ€” derai tawa mendadak mengudara. Pipi saya hadir begitu gembil, tembem menggemaskan. Lucu banget.

Makasih Biru Tersembunyi.

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Peta perpustakaan Bandung Raya (kiri) | Salah satu sudut makan di Kintsugi Terrace

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Suasana silent reading sembari piknik di taman milik Kintsugi Terrace

Usai menuntaskan rasa penasaran di Perihal Nama dan Biru Tersembunyi, saya berdiri di salah satu sudut teras dan memperhatikan kesibukan para panitia yang melayani pembayaran untuk kedua meja kreatif tersebut. Pihak Kintsugi pun terlihat mondar-mandir mengantarkan makanan serta minuman yang banyak dipesan oleh peserta acara. Termasuk saya yang memesan fresh orange juice dan kopi Americano dingin. Sebagian peserta juga bertahan di atas kain piknik. Beberapa terlihat terpekur dengan buku dan membaca dalam diam. Tapi sebagian besar tampak asyik saling berkenalan, berbagi cerita, termasuk membahas buku yang dibaca.

Di sudut piknik yang saya pilih tadi, saya bergabung dengan Velia dan Mutia yang tinggal di Bandung serta Aca yang datang dari Purwakarta. Selain berbagi info tentang kegiatan masing-masing, kami juga berbagi pendapat tentang beberapa buku yang telah/sempat kami baca atau yang baru kami buka saat acara berlangsung. Kami juga berkisah tentang beberapa penulis ternama yang nama dan hasil karya nya telah mencuri hati dan membuat kami betah duduk membaca.

Bagi saya, waktu-waktu seperti ini tuh berharga banget. Karena bird-of-view setiap orang, khususnya penyuka, pecinta, dan pembaca buku, pastinya sangat beragam. Untuk seorang yang terlibat dalam proses kreatif lahirnya sebuah buku, menampung banyak pendapat seperti ini jadi noktah penting buat saya pribadi dan indie publisher โ€”Annie Nugraha Mediatamaโ€” yang saya rintis sejak 2025. Mencatat minat dan apa yang menjadi peminat para pembaca buku.

Lewat Velia โ€”ibu satu orang anak iniโ€” saya baru “berkenalan” dengan dua orang penulis dengan genre yang berbeda.

Pertama adalah Yusi Avianto Pareanom yang punya gaya bercerita bebas, ritme yang “nakal” dengan para tokoh dan ending yang tidak terduga. Saya masih mengingat bagaimana Velia bercerita tentang buku Muslihat Musang Emas yang dihadirkan oleh penulis yang satu ini. Walhasil dari mulut Velia lah akhirnya buku bersampul kuning gonjreng ini saya cari dan adopsi tanpa keraguan sedikit pun.

Aca dan Mutia mengajak saya “berkenalan” dengan Intan Paramaditha. Salah seorang penulis buku horor yang disukai mereka. Menurut mereka Intan selalu berhasil membuat pembaca tak bisa menebak akhirnya. Selalu berhasil menghadirkan plot twist yang bikin gemas, penokohan serta alur cerita yang unik, dan membuat kita betah untuk bertahan membaca karena mati penasaran hingga akhir. Salah satu buku yang mereka referensikan dan dibaca saat itu adalah Gentayangan, Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu.

Saya sendiri mengajak ketiga adik-adik ini untuk tidak sekedar menjadi pembaca. Tapi juga rajin menulis dan menghadirkannya dalam bentuk buku. Setidaknya jika (hanya) ingin menulis dan melahirkan karya tulis yang bisa selalu dibaca, menjadi blogger adalah salah satu pilihan yang tepat. Saya mengajak mereka mengenal profesi ini dan banyak kemungkinan menjadikan blog tersebut sebagai salah satu “mesin” mendapat tambahan penghasilan.

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Suasana piknik membaca di tengah halaman rumput

Rangkaian kenangan manis merasakan piknik santai dengan para pecinta buku di acara BAGI BUKU III (jilid 3) ini berhasil mengajak saya berkontemplasi, menabung pengalaman khususnya tentang bagaimana menghadirkan acara kumpul membaca yang seru dan berkualitas, dan membangun relasi yang bisa jadi akan membawa banyak manfaat bagi saya pribadi. Sebagai seorang blogger, penulis, dan pemilik indie publisher yang masih seumur jagung, banyak “mendengar” dan mengamati adalah dua di antara banyak cara yang tepat untuk mengembangkan diri.

Saya pun berkesempatan memiliki Library Passport khusus kawasan Bandung Raya yang pertama kali diluncurkan. Di dalam buku kecil ini ada sederetan daftar perpustakaan independen di Bandung Raya yang bisa dikunjungi. Bisa kita mintakan stempelnya. Mirip seperti Museum Passport.

Di antaranya adalah Nimna Bookcafe, HOWL: Library & Creative Space, Kineruku, Rumah Baca Cibeunying, The Room 19, Salman Reading Corner, Rumah Baca Taman Sekar, Pustakalana Children’s Library, Goethe-Institute Bandung, Taman Bacaan Hendra, Embun Taman Bacaan, Pitimoss Fun Library, Toko Buku Pelagia, Ajip Rosidi, Kedai Jante, Toko Buku Bandung, Indeks, Rin Matcha Library, Dr. Long Book, Perpustakaan Bunga di Tembok, Taman Awan, Desacotta, Rumah Baca Cikal, Insitut Francais Indonesia Bandung, Imakata, dan Gelanggang Olahraga.

Beuh. Banyak juga ternyata ya.

Setiap tempat yang dihadirkan dilengkapi dengan identitas spesifik yang meliputi alamat, akun media sosial, nomor telepon, info operasional tempat yang bersangkutan, dan banyak informasi lainnya.

Ah. Saya jadi semangat menyusur setiap nama yang ada di daftar satu persatu. Seru banget tampaknya ya.

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Meong cilik yang menjadi salah satu pusat perhatian para peserta acara

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Library Passport yang diluncurkan di acara ini. Isinya masih meliputi banyak independent library yang beroperasi di Bandung Raya

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III
Ilustrasi wajah saya yang dikerjakan oleh tim Biru Tersembunyi (kiri) | Piknik membaca (kanan)

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Piknik Santai dengan Para Pecinta Buku di Acara BAGI BACA III

Leave a Comment