Yakinlah, dengan Cinta dan Kebersamaan SEMUA AKAN BAIK BAIK SAJA | Film Review | September 2026
Di satu malam yang melelahkan, saya mencoba mengistirahatkan mata dan tubuh dengan beralih ke layar tablet. Jari otomatis membuka Netflix dan segera mencari tontonan sinema Indonesia. Sebuah film berjudul SEMUA AKAN BAIK BAIK SAJA langsung muncul menyambut netra
Poster filmnya tampil di halaman depan dengan sebuah tambahan tulisan “Baru Ditambahkan” di bagian bawahnya. Satu identifikasi bahwa saya belum sama sekali memutar/menyaksikan tautan film atau serial yang diupload oleh Netflix tersebut.
Wajah dua orang aktor langganan peraih Piala Citra โChristine Hakim dan Reza Rahadianโ dengan kualifikasi istimewa hadir di poster tersebut. Sebuah pertanda, bahkan boleh dibilang sebuah jaminan, bahwa film Semua Akan Baik Baik Saja dilahirkan dengan garansi bahwa kualitas film ini tidak diragukan lagi.
Disambut dengan Indahnya Persaudaraan dan Sebuah Kematian
Film dibuka dengan pemandangan sebuah rumah susun yang padat dan sesak. Tidak hanya tentang jumlah manusianya tapi juga oleh bertumpuknya barang di hampir setiap sudut bangunan. Tapi kondisi ini justru menghidupkan suasana di tempat tinggal bertumpuk dan merakyat ini. Tawa, canda, teriakan, terdengar di sana-sini. Rame di sepanjang waktu.
Hari itu ada satu hal istimewa yang terjadi pada Langit (Reza Rahadian). Hari itu, kakak perempuannya Mentari (Happy Salma), datang mengunjungi setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Keduanya terlibat dalam percakapan sarat dengan rasa kasih sayang antar saudara. Saling menanyakan kabar, saling membangkitkan ingatan akan masa kecil, termasuk cerita tentang anak-anak Mentari yang sudah menginjak usia remaja.
Tapi ternyata, hari itu menjadi hari terakhir Langit bertemu Mentari. Karena persis keesokan harinya, Langit yang bersengaja pulang ke rumah, menemukan kakak perempuan satu-satunya itu sudah tak bernyawa karena serangan jantung.
Ibu Wida (Christine Hakim) โibu kandung Mentari dan Langitโ langsung memeluknya erat. Mengajak Langit yang sesenggukan untuk ikhlas melepaskan Mentari yang sedang dimandikan oleh adik Langit, Bintang (Raihaanun) bersama kedua anak Mentari, Malika (Aquene Aziz Djorghi) dan Syafa (Malika Shaquena). Hadir di rumah itu juga ada adik bungsu Langit bernama Banyu (Ari Ilham) dan seorang keponakan istimewa (down syndrome) bernama Alim (yang memerankan seseorang dengan namanya sendiri).
Di sebuah rumah sederhana yang berada di pinggir rel kereta api dan setelah Mentari wafat inilah semua urusan dan masalah keluarga terangkat satu persatu. Rangkaian peristiwa muncul tanpa henti dan menghiasi setiap detik dan menit yang memperkaya alur cerita film Semua Akan Baik Baik Saja.
Apa saja itu?
Masalah Keluarga
Sehari setelah Mentari wafat, Langit berbicara akrab dengan Bintang dan Bayu tentang tanggung jawab mengurusi ketiga keponakan mereka Malika, Syafa, dan Alim. Mereka sadar bahwa ipar mereka Ilham (Rifnu Wikana) sudah tak lagi peduli akan istri dan anak-anaknya. Ilham sudah meninggalkan rumah dan berselingkuh dengan Sara (Asri Welas). Akhir dari percakapan ini menghasilkan keputusan bahwa Langit akan mengurus keseharian anak-anak almarhumah sementara Bintang dan Bayu akan menanggung biaya sekolah para keponakan.
Pembagian tugas ini ternyata tidaklah mudah karena baik Langit, Bintang, dan Bayu juga hidup dalam keterbatasan secara ekonomi. Pun bagi ibu mereka yang sudah lansia yang tetap berkenan menjadikan rumahnya (peninggalan suaminya almarhum) sebagai tempat berlindung bagi cucu-cucunya.
By the time, satu persatu masalah muncul.
Ilham yang tak peduli pada ketiga anaknya menyembunyikan sertifikat rumah Ibu Wida. Tak jelas pekerjaannya. Hidup tanpa nikah dengan Sara. Menahan mobil milik Mentari yang akhirnya direbut oleh Langit demi bisa mengantarkan ketiga keponakannya sekolah. Malikha yang tak mau meneruskan sekolah dan bertekad untuk melanjutkan pendidikan di sekolah musik yang menuntut biaya puluhan juta.
Semua kemudian menjadi beban hidup yang begitu dirasakan oleh Langit. Selain karena dia sendiri tidak punya pekerjaan dan penghasilan tetap, Langit juga akhirnya menemukan kenyataan bahwa Bintang bekerja sebagai perempuan pelayan nafsu lelaki dan punya seorang anak lelaki yang sudah lama disembunyikan keberadaannya. Dia juga akhirnya tahu bahwa Bayu, adik lelakinya, bekerja sebagai streamer media sosial yang menghadirkan ilmu tentang agama dan mengandalkan donasi dari para penontonnya.
Setiap masalah dihadirkan satu persatu, terjalin runut, hingga akhirnya terpecahkan setelah melewati perjuangan yang tidak sedikit. Justru dengan kebersamaan dan cinta lah, masalah demi masalah bisa selesai sesuai yang Langit dan keluarga harapkan dan impikan.

Berbagai Hal yang Sangat Mengesankan
Selain menciptakan rangkaian adegan yang natural hingga kita terhanyut seperti melihat sebuah keluarga yang terasa nyata dalam cinta dan kebersamaan, film Semua Akan Baik Baik Saja mampu menghadirkan berbagai hal yang sangat mengesankan.
Sebagai seorang ibu, saya bisa melihat bagaimana kuatnya Ibu Wida menghadapi setiap cobaan serta kenyataan yang bertubi-tubi datang dalam hidupnya. Khususnya setelah menjanda tapi tetap menjadi “rumah” bagi anak sulungnya, Mentari, yang harus tetap bertahan dengan berbagai cobaan. Suami selingkuh dan tidak bertanggung jawab membesarkan ketiga anaknya. Apalagi saat sang suami menolak menerima kenyataan bahwa anak bungsu mereka lahir dengan kondisi down syndrome.
Ibu Wida jugalah yang tetap merekatkan hubungan anak-anak serta cucu-cucunya agar selalu menjaga kebersamaan. Menerima kondisi setiap anak yang kurang beruntung secara ekonomi hingga memutuskan untuk menjual tempat tinggal satu-satunya milik mereka agar Malikha bisa sekolah musik dengan biaya puluhan juta rupiah.
Perempuan lansia ini jugalah yang akhirnya dengan terpaksa dan hati hancur menerima kenyataan bahwa Bintang, anak ketiganya, bertahan hidup dengan menjual diri dan sudah memiliki seorang anak tanpa dia ketahui.
Keputusan Baim Wong (sang sutradara) dan Tiger Wong Entertainment memilih Christine Hakim sebagai Ibu Wida, betul-betul sebuah keputusan yang (sangat) tepat. Duh siapa sih yang tahu kualitas acting beliau. Natural dan begitu hidup. Gak seperti sedang direkam sebagai adegan film. Bahkan saat dia menyuapkan nasi beserta lauk-pauk saat Langit duduk di kasur juga terlihat begitu keibuan. Satu kegiatan yang biasa dilakukan Christine terhadap Reza di dunia nyata.
Termasuk saat dia memeluk Langit yang sesenggukan tak kuat menerima kenyataan akan wafatnya Mentari. Dari semua adegan di dalam film Semua Akan Baik Baik Saja, adegan inilah yang sangat menyentuh hati dan membuat saya ikut tersedu sedan, mengusap air mata yang terus menerus bercucuran.
Kehadiran dua orang anak down syndrome di film ini juga menarik perhatian. Rahmatullah Nan Alim (Alim) dan Vanessa Calista Halim (Vanessa) hadir memperindah suasana dan nuansa cerita. Keterbatasan mereka memberikan sentuhan tersendiri. Bagaimana akhirnya Vanessa membantu Alim di penghujung cerita juga sangat manis dihadirkan. Interaksi antara mereka pun tampak begitu natural.
Beberapa tokoh pendukung seperti Ade Rai (Abang Rai) yang dibuat serem dan selalu terkesan “mau makan orang,” beserta orang-orang unik yang tinggal di rumah susun, malah menambah kelucuan dan keseruan. Bahkan kehadiran Asri Welas (Sara) pun tak hanya menyajikan rasa gemas karena memainkan tokoh pelakor genit. Dia berhasil “mengubah presepsi” kita akan kelakuan tokoh yang dia wakili. Karena akhirnya tokoh Sara jugalah yang ikut memecahkan salah satu masalah yang dihadapi oleh keluarga ini.
Pendapat Pribadi
Yakinlah, dengan cinta dan kebersamaan Semua Akan Baik Baik Saja.
Saya menjadikan rangkaian diksi ini sebagai judul artikel bukan tanpa alasan. Karena nyatanya kehadiran cinta dan kebersamaan lah yang akhirnya menjadi penguat bagi keluarga Ibu Wida untuk keluar dari berbagai masalah.
Semua dihadapi bersama dengan menyelipkan rasa cinta yang tetap berkembang di antara semua anggota keluarga. Meskipun harus dihadapi dengan air mata, nyatanya saat mereka sepakat untuk menghadapi setiap tantangan bersama, saling menerima kekurangan, saling menghargai kelebihan, menjadi perekat dan solusi untuk semuanya.
Sejatinya kita tidak bisa memilih keluarga seperti apa yang diberikan-Nya kepada dan untuk kita. Tapi Dia pasti punya rencana besar untuk hidup kita. Memberikan kesempatan kepada kita untuk melewati kehidupan sesuai dengan kemampuan kita serta memetik banyak hikmah dan pelajaran hidup yang bermanfaat untuk kita.
Film humanis bertemakan keluarga telah menjadi premis lahirnya banyak produk sinema yang apik luar biasa. Salah satu karya para sineas negeri yang saya harapkan dapat terus lahir dari waktu ke waktu, di tengah tema horor yang juga menjadi favorit banyak orang termasuk saya.
Sukses terus film Indonesia. Selalu berjaya dan menjadi tuan ruman di negeri sendiri.




Kayaknya kalau pemain nya Christine hakim dan Reza mah, udah jadi jaminan mutu ya mba, filmnya pasti baguuuus.
Ga kebayang yaaa, kalau hari ini ketemu dengan saudara, trus besoknya meninggal ๐ญ. Sedihnya kayak nusuk banget itu.
Serasa aku ikut emosi pas baca suami nya yg ga peduli dengan istri dan anak, malah selingkuh . Tp ga nyangka asri welas jadi selingkuhan ๐ ๐ .
Oke mba, aku pun bakal nonton juga film ini. Dari review mba aja, udah tertarik dan yakin bagus. Walau mungkin banyak yg bikin aku bakal ikutan nangis scene nya ๐
Yang pasti film ini menggugah dari awal hingga akhir. Ada tawa, ada duka, tapi juga penuh dengan kejutan. Cerita tentang keluarga yang sering kita temukan di dunia nyata. Khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan. Pokoknya gak nyesel deh nonton film yang satu ini.
Tadi pagi waktu buka beranda Netflix, saya sempat melihat film ini masuk nomor 3 Top 10 Movies in Indonesia Today. Eh, sorenya malah ketemu review Mbak Annie tentang film yang sama. Jadi makin penasaran ingin menontonnya. Dari judul, deretan pemainnya dan ulasannya, film ini membawa pesan tentang cinta, kebersamaan, dan bagaimana menghadapi masalah bersama-sama. Film dengan tema seperti ini justru terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, ya. Apalagi kalau ceritanya dikemas dengan ringan tetapi tetap menyentuh. Suka banget dengan judul artikel yang dipilih: Yakinlah, dengan cinta dan kebersamaan Semua Akan Baik Baik Saja. Kalimat yang memberikan energi positif dan bikin penasaran dengan isi filmnya. Apalagi pesan tentang cinta dan kebersamaan memang selalu relevan dalam kehidupan.
Semoga Mbak Dian juga punya kesan baik berlimpah setelah nonton film ini. Seperti yang Mbak Dian tuliskan, film SEMUA AKAN BAIK BAIK SAJA ini mengulas banyak cinta dan kebersamaan keluarga. Setiap masalah dipecahkan bersama. Semua karena timbangan kasih sayangnya berada seimbang.
jadi inget sebuah utas di Threads yang bilang: Emang Indonesia cuma punya Reza Rahadian ya? Gak ada aktor lainnya?
Tapi emang keren sih aktingnya Reza, gak heran banyak sutradara menginginkan dia jadi pemeran utama pria, termasuk Baim Wong
jadi penasaran pingin lihat film ini, bukan untuk lihat aktingnya Reza atau Christine Hakim, tapi Ade Rai, hehehhe
Hahahaha. Akupun. Rasanya sudah terlalu sering Reza tuh muncul dimana-mana. Sudah bisa jadi duta aktor FFI dia tuh hahahaha.
Nah segera nonton Mbak. Peran Ade Rai tuh seru banget. Ada lucunya. Ada seremnya.
Kayaknya film ini berusaha menampilkan kehidupan jaman now yang serba membingungkan, namun tetap memegang optimisme. Menarik untuk dinikmati, nich…..
Sepertinya menarik nih filmnya, karena saya jarang nonton film Indonesia juga. Salut sih “menyelipkan” aktor ABK dalam film ini. Jadi bener-bener seperti kejadian sehari-hari. Banyak “Ibu Wida” lain dan segudang persoalan yang mirip ada di sekitar kita. Pastinya kalau Christine Hakim yang memerankan, kerasa banget menjiwai.
Kalau bicara soal Christine Hakim, keknya dah speechless. Langganan penghargaan dia tuh. Selalu jadi pemenang Piala Citra untuk Aktris Utama Terbaik. Nominator yang lain langsung kesepak aja hahaha.
Baru lihat nama Christine Hakim dan Reza Rahardian aja, saya udah langsung berpikir bakal jaminan mutu sih ini filmnya. Meskipun akhir-akhir beberapa penonton kerap menyindir karena Reza melulu. Tapi, saya akui kalau dia memang pemain karakter. Di setiap filmnya berhasil beda-beda karakternyamdan selalu berkualitas filmnya. Saya mau nonton ah yang ini,
hiiih… gemes liat trailernya :(
deket banget sama kehidupan sehari-hari, karena aku yang tinggal persis di tengah dua dunia yang bertolak belakang, tahu persis ini real life
Dari awal sudah terasa bahwa Semua Akan Baik-Baik Saja bukan sekadar cerita tentang kehilangan, tapi tentang keluarga yang dipaksa menghadapi satu per satu persoalan setelah seseorang pergi.
Detail karakter dan masalahnya juga bikin penasaran, apalagi ketika ternyata masing-masing anggota keluarga menyimpan persoalan hidupnya sendiri. Membaca review ini jadi bikin aku merasa film ini bukan cuma menguras emosi, tapi juga ngajak kita melihat bahwa dalam keluarga, kadang cinta itu bentuknya bukan kata-kata manis, melainkan tetap bertahan dan saling menopang ketika keadaan sedang nggak baik-baik saja.
kemaren baru aja memutuskan pengen nonton setelah ada filmnya Ardit Erwandha – Tunggu Aku Sukses Nanti – yang juga bikin terharu (ga sampe sesenggukan amat pas nonton, malah di akhir film yang bikin mewek)
Slice of life banget ya Tan. Kisah yang yakin banyak dialami oleh mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Ah gue awalnya juga gitu. Kenapa sih Reza lagi Reza lagi. Gak ada apa aktor yang juga layak jadi pemeran Langit. Jadi pas awal nonton gue berasa “ah sudahlah yah. Produser kan pasti ada alasan memilih Reza.” Dan eh di tengah waktu nonton dan setelahnya, gue jadi ngelamun sendiri. Kalau bukan Reza siapa lagi?
Duh itu ya. TUNGGU AKU SUKSES NANTI juga jadi incaran ulasan gue juga. Kek gak lagi nonton film sih vibes nya. Serasa ngeliat aja gimana keluarga-keluarga sederhana menghadapi cobaan hidup. Gak cuma soal materi tapi juga tentang harga diri.
Setuju deh, Bu, kalo ada Reza, garansi kualitas filmnya biasanya ngga diragukan lagi. Setidaknya menurutku begitu. Dia ini merankan apa aja watak bangeeet. Suka deh. Keknya hampr semua filmnya aku udh nonton.
Nah ini yang belum sempet ditonton nih, tapi wajib ditonton pasti nanti … Apalagi dari judulnya aja udah mengandung bawang, trus abis baca review ini udh pasti aku meweek haha
Dasar si cengeng ini
Pas banget. Beberapa hari yang lalu aku nonton film Semua Akan Baik Baik Saja. Beneran takjub dan kagum sama dua pemeran Ibu Wida dan Langit. Dua artis yang memang the best, selalu menyajikan akting super natural dan amat menjiwai peran.
Beneran bikin nangis. Banyak part permasalahan keluarga yang terbilang related dengan keluarga Indonesia juga. Sebuah film yang amat humanis serta punya pesan baik. Selama keluarga inti masih saling menyayangi dan mendukung, semua terasa lebih ringan. Meski kadang tidak akur, karena perselisihan akhirnya kembali saling merangkul. So sweet pisan ini film. Semoga makin banyak film bagus di Indonesia jadi nya yang nonton pun happy dan dapat pembelajaran berarti.
Ibu Christine Hakim kalau sudah memainkan peran, apiknya luar biasa. Selain di film ini, beliau juga ada film lainnya yang menjadi seorang ibu dari anak istimewa (tapi ini anak angkat kalau ga salah ingat).
Dan disisi lain, daku setuju Bu Annie, film tema keluarga seperti ini harusnya memang bisa lebih banyak sih ya dihadirkan, ketimbang tema romance atau horor. Dengan begitu, sisi humanis bisa tercipta dan diambil hikmahnya oleh penonton.
Saya belum sempat nonton ini.. sepertinya emang cukup layak sih buat ditonton.. apalagi deretan pemerannya juga oke punya.. cuma kalau genre begini biasanya hambur tisu gitu deh
>.<
Takut banget kalo yang main uda Christine Hakim di combo sama Bang Reza.
MashaAllah.. keren!
Aku belum nonton, tapi membaca peliknya masalah keluarga, pastilah bakalan rumit. Namun judulnya “Semua Akan Baik-baik Saja” yaa.. jadi happy ending mereun yaa, ka Ann?
Sutradanya Baim Wong?
Beneran se-HAVE ituuu dia tuh yaa.. secara bikin film engga murce juga budgetnyaah..
Kereenn~