Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang

Photo of author

By Annie Nugraha

Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang
Isi dari menu “the Congklak. Dishes of the Indonesian Archipelago Sets”

Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang | Restaurant and Culinary Review, Featured | Agustus 2026

Acara keluarga di Pasuruan kemudian membawa langkah saya ke Malang. Sebuah kota kecil di timurnya Jawa dan pernah saya tinggali saat SMA. Selain membangkitkan banyak ingatan, keberadaan saya di Malang juga dalam rangka memenuhi undangan Melati Restaurant yang berada di Hotel Tugu Malang

Saya dan suami memutuskan untuk beranjak dari sebuah vila yang disewa keluarga di Pasuruan pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB. Mobil yang saya sewa pun datang lebih awal, sekitar 15 menit sebelum kesepakatan waktu yang dua minggu lalu kami rembuk bersama. Kedisiplinan dan etos kerja yang sungguh sangat saya hargai.

Langit terlihat cerah membiru saat saya keluar villa. Udara panas menyeruak meski hari masih pagi dan matahari baru muncul malu-malu. Kesibukan sepagian itu sangat terasa karena kami semua akan berpindah dari Pasuruan ke Malang, melanjutkan acara masing-masing. Saya dan suami akan liburan ke Malang selama tiga hari dua malam. Sementara anggota keluarga lainnya juga akan mengunjungi Malang. Mereka akan menghabiskan waktu berharga sekitar enam jam sembari menikmati keindahan kota Malang sebelum naik sleeper bus, balik ke Bandung di sore harinya.

Mas Rifqy driver dari Adi Hutama Tour Malang selama dua hari ke depan akan mendampingi saya dan suami menyusur kota Malang, kabupaten Malang, dan pegunungan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Di antara banyak daftar yang masuk dalam agenda wajib kunjung di hari itu, salah satu tempat dan kegiatan yang masuk skala prioritas adalah makan siang di Melati Restaurant yang ada di Hotel Tugu Malang. Hotel bintang lima yang berada persis di jantung kota Malang.

Tempat yang mengijinkan saya untuk menemukan jiwa dan cerita sejarah yang akan menjadi barisan memori, pengalaman kuliner istimewa sepanjang menceburkan diri sebagai seorang travel blogger, food blogger, dan food photographer.

Properti yang Mengesankan

Saya meminta Mas Rifqy untuk pelan mengitari Alun-Alun Tugu Kota Malang yang terletak persis di depan Hotel Tugu Malang. Seperti apa yang terukir dalam ingatan dan cerita tinggal di sini di tahun 80-an, saya menyaksikan ikon kota Malang tersebut tetap memesona. Terlihat sangat konseptual, punya ciri khas, rapi, dan sangat terawat.

Selain area Alun-Alun Tugu yang berbentuk melingkar (taman bundaran air mancur dan bunga teratai), di sekitarnya ada beberapa bangunan bersejarah yang fisik bangunan ala Belanda (kolonial) nya tetap dipertahankan. Seperti misalnya Balai Kota Malang, kantor DPRD Kota Malang, SMAN 1 dan 4, serta rangkaian bangunan milik Kodam V Brawijaya.

Semoga semua bangunan di area ini senantiasa lestari dan terjaga dengan baik sekarang dan nanti.

Saya cukup terhenyak dengan properti di lingkungan hotel yang terlihat begitu mengesankan. Meski sudah berulangkali mendapatkan kesempatan staycation di beberapa hotel berskala premium, salah satu hotel yang tergabung di Tugu Grup ini, punya greget jadoel yang selalu bertahan dalam benak. Hangat, klasik, dengan perlengkapan berbahan kayu yang perawatannya begitu terjaga.

Jadi saat seorang petugas dengan ramah mengantar saya ke Melati Restaurant, indera penglihatan saya “celamitan” kesana kemari tanpa ampun. Mulai dari fasad, area lobby, ruang depan tamu dan sebuah jalan masuk yang mengantarkan saya tiba di tujuan.

Satu kata yang pas: Mengesankan.

Bangunan nya sendiri masih seperti yang dulu. Saat saya mengunjungi Malang di sekitar tahun 1998 (sebelum masa atau kegiatan reformasi). Tak ada perubahan yang signifikan. Tetap mempertahankan semua yang sudah puluhan tahun dihadirkan bagi para tetamu. Warna coklat khas kayu bertebaran di sana-sini, berpadu apik dengan dominan dinding bercat putih sepanjang langkah menjejak.

Saya juga melewati sebuah kolam renang berukuran sedang yang dipenuhi oleh banyak tamu mancanegara. Sebagian besar adalah para lansia yang leyeh-leyeh di bangku panjang pinggir kolam sembari membaca dan mengenakan baju serba terbuka atau hanya baju renang saja. Salut untuk mereka yang kuat bertahan di bawah sinar matahari panas cabang Malang yang centang merentang. Padahal cuaca di saat itu sumuk nya minta ampun. Bahkan angin pun enggan bertiup.

Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang
Rangkaian hidangan dari menu “The Congklak. Dishes of the Indonesian Archipelago Sets”

Kehadiran saya disambut oleh sebuah ruang makan yang dipadati oleh banyak peninggalan masa lampau. Sebuah tulisan tangan rapi dengan spidol keperakan di atas sebuah daun hijau yang memanjang membuat mata saya berbinar-binar. Di daun yang cukup tebal itu โ€”bertuliskan “Selamat siang, Ibu Annie Nugraha” โ€” terlihat begitu personal.

“Tulisannya mirip banget dengan tulisan tangan kamu,” ujar suami refleks saat melihat ke arah si daun. Saya tersenyum senang.

Melati Restaurant mulai dipadati oleh pengunjung karena memang saat itu sudah memasuki jam makan siang. Seperti yang tadi saya lihat di kolam renang, tamu Melati Restaurant juga sebagian besar diisi oleh beberapa tamu asing. Berbagai bahasa dari negeri Eropa saya dengar dari beberapa arah. Tidak berisik tapi tetap saja menumbuhkan keyakinan bahwa Hotel Tugu Malang memang jadi favorit para pejalan mancanegara.

Saya dipersilakan menyusur buku menu yang dipadati oleh deretan foto cantik khas sentuhan seorang food photographer profesional. Padanan warnanya apik dengan segala kelengkapan yang mendukung keindahan masakan yang ditampilkan. Setiap sajian dihadirkan berikut dengan penjelasan rinci tentang bahan baku yang membuat masakan tersebut jadi istimewa dengan keunikan dan karakter tersendiri.

Saya membuka lembar demi lembar, satu persatu, mencoba merekam di kepala bagaimana proses dan hasil karya photography secantik itu lahir. Sampai akhirnya tiba di halaman yang berjudul “The Congklak. Dishes of the Indonesian Archipelago Sets”

Menu istimewa seharga Rp288.000,00 (sebelum pajak) untuk minimum dua orang tamu ini menawarkan dua pilihan set beberapa makanan tradisional nusantara yang dihidangkan di atas sebuah congklak kayu berukir dengan kepala naga di kedua ujungnya. Permainan ringan dalam posisi duduk yang tahunan menghiasi masa kanak-kanak dan remaja saya.

Pilihan pertama berisikan kriuk jagung (bakwan jagung), dendeng ragi, sate ayam batang tebu bululawang, sambal goreng tahu, tempe, pete, tewel nangka sengon, dua pilihan sambal, dan dua pilihan nasi. Sementara pilihan kedua meliputi martabak Arab (Sambosa), pepes ikan gurame dengan blimbing wuluh, sate kambing kapuran camaran, kering tempe manis selamatan, gulai daung singkong. Setiap paket dilengkapi oleh dua pilihan sambal dan dua pilihan nasi.

Setelah berunding dengan suami, khususnya untuk mendapatkan sebuah photography yang unik dan jarang saya temukan, kami akhirnya memilih opsi kedua menu set ini. Pilihan sambalnya adalah sambal matah dan sambal bawang. Sementara nasinya adalah nasi merah kesukaan suami dan nasi kuning kegemaran saya.

Apakah keindahan aslinya akan setara atau lebih cantik dari foto yang tercantum di buku menu? Atau malah tidak sesuai dengan hasil foto nya?

Ah, jadi berdebar-debar.

Sambil menunggu saya juga memesan sepiring lumpia goreng dan semangkuk sup Tom Yam yang digemari suami. Saya tidak sempat mencoba Tom Yam nya karena beberapa detik setelah diantarkan ke hadapan kami, masakan khas Negeri Gajah ini langsung dilahap oleh suami tanpa tolah-toleh bahkan tanpa menawarkan saya untuk ikut mencicipi. Tapi tak apa. Karena saya sendiri enjoy merasakan kriuk gurih dan lezatnya sepiring lumpia goreng hingga tandas. Dua menu pembuka yang membangkitkan selera kami sesiangan itu.

Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang

Sekitar lima belas menit kemudian, setelah saya menghabiskan segelas tinggi fresh orange juice yang super menyegarkan di tengah kejamnya sinar matahari, si congklak ini pun tiba.

Ternyata skenario untuk dua orang tuh melenceng dari apa yang kami lihat. Setidaknya dibandingkan dengan foto di dalam buku menu. Dengan hidangan sebanyak ini, seharusnya sih lebih pas untuk tiga hingga empat orang dewasa. Untung kuantitas nasinya saya minta setengah saja karena saya dan suami memang menghindari, setidaknya membatasi/mengurangi, asupan nasi.

Decak kagum muncul saat saya berdiri dan mengamati hidangan di atas congklak ini dengan lebih rinci lagi. Ide manis yang membuat presentasi masakan berbeda dari biasanya.

Congklak yang digunakan terlihat berat, gagah, dan besar dengan ukiran kepala naga di kedua sisi ujung. Setiap masakan dihadirkan beralaskan daun pisang di setiap lubang congklak โ€”kecuali sayur daun singkong yang dihadirkan dengan wadah mangkuk putihโ€” saya melihat serangkaian menu rumahan yang diberikan sentuhan dan ide yang unik. Mata saya kemudian beralih ke dua wadah nasi berukuran kecil yang menjadi alas nasi merah dan nasi kuning. Dibuat dari rajutan woven lembaran rotan, wadah nasi ini menyempurnakan presentasi yang juga unik dan mewakili keindahan wadah khas nusantara.

Beberapa menit kemudian saya lamat memperhatikan dan mencoba mencari sudut pemotretan yang bagus. Mendapatkan tempat yang clear dan clean, serta tidak mengganggu kenyamanan tamu lainnya.

Let’s do the job.

Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang

Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang

Usai memotret, dada saya terpenuhi oleh rasa penasaran dan lapar yang mendadak begitu menggebu-gebu. Yang pasti langkah pertama adalah memindahkan nasi kuning yang gurih dengan skala kuantitas yang pas ke sebuah piring yang sudah disediakan. Kematangan nasinya mantab betul. Tidak lembek tapi juga tidak susah untuk dikunyah. Pera dan nikmat. Sentuhan warna kuning dari kunyit dan gurih dari santan mampir begitu nyaman di lidah.

Sebagai pecinta sekaligus penggemar nasi kuning, baik yang dijual di pinggir jalan sampai restoran berkelas seperti Melati Restaurant ini, menurut saya, nasi kuning yang sedang saya nikmati di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang, kualitasnya oke banget. Wanginya juga gak nyegrak tapi tetap tercium tipis.

Setiap lauk saya pindahkan satu persatu ke piring di hadapan saya dalam porsi kecil terlebih dahulu. Supaya bisa mencicipi semua yang sudah dihadirkan. Dari semua yang dihidangkan saya jatuh cinta dengan pepes ikan gurame yang dimasak dengan belimbing wuluh serta sate kambingnya yang lembut banget saat dikunyah.

Bumbu keduanya resap betul. Skala rasa asin, gurih dan sedikit manisnya berkolaborasi paripurna menyentuh lidah.

Pepesnya seperti sudah diproses sekian waktu hingga setiap tetes bumbu yang dicampurkan menyatu sempurna dengan daging ikannya. Sebagai penyuka ikan, bertemu dengan proses masak yang sedemikian butuh waktu, keahlian, dan kesabaran, dengan hasil yang (sangat) memuaskan, selalu bikin saya terkesan. Daging ikannya juga empuk, bebas duri, dan entertaining. Asyiknya karena suami bukan pemakan ikan, apalagi pepes, hidangan ini bisa saya monopoli.

Kedua sambal yang saya pesan โ€”sambal bawang dan sambal matahโ€” lazis tak terkira. Keduanya tandas tanpa sisa sedikit pun. Ada yang kurang. Kuantitasnya. Pengen nambah tapi takut malu-maluin. Kudunya semangkok gede nih biar puas. Khususnya sambal matah itu. Tahu saya ketagihan dengan si sambal ini, suami memutuskan untuk menuntaskan sambal bawangnya. Saya bahkan mencampur sambal matah ini ke seluruh nasi kuning yang saya ambil supaya nikmatnya lebih terasa dan tidak ada yang tersisakan.

Niat banget pokoknya.

Lauk lainnya enak meski tidak terlalu istimewa. Gulai sayur singkong tak terjamah utuh di lidah saya. Hanya sempat tak coel sedikit. Santannya โ€”menurut sayaโ€” cukup heavy untuk sebuah gulai. Berbeda dengan cara memasak yang sering saya nikmati. Daun singkongnya lembut sih tapi santannya takutnya mengocok lambung dan memberontak. Maklum lambung emak-emak seusia saya tuh kudu harus ekstra dijaga khususnya saat menikmati kuah santan. Sementara saya masih ada jadwal kunjungan lain setelah bersantap di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang ini.

Yang pasti dari sekian jam menjadi tamu kehormatan Melati Restaurant saya menemukan jiwa dan cerita sejarah yang telah sekian lama menjadi bagian penting dari Tugu Hotel Malang. Khususnya sajian nusantara yang juga adalah bagian dari jejak gastronomi tanah air yang akan terus dilestarikan dengan senantiasa menyajikannya kepada publik.

Terima kasih kepada Tugu Hotel Malang yang berkenan menjadikan saya sebagai bagian dari tugas dan tujuan mulia itu.

Yang berminat mendapatkan pengalaman kuliner istimewa seperti saya, bisa menghubungi nomor ini untuk reservasi ya.

Kita sesungguhnya adalah kunci utama dari pelestari peradaban gastronomi nusantara. Menjaga, melestarikan, dan mewariskannya kepada generasi penerus. Generasi yang wajib tahu bahwa tanah air tercinta kaya akan bermangkuk-mangkuk, berpiring-piring, bernampan-nampan santapan yang mampu mengguncang dunia. Seperti yang dilakukan oleh Melati Restaurant yang ada di Hotel Tugu Malang ini.

Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang
Pepes ikan gurame, sambang bawang, dan sambal matah (kiri) | Fresh orang juice yang segar betul (kanan)
Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang
Barisan hidangan yang saya nikmati sesiangan itu (kiri) | Daftar properti yang dimiliki oleh Tugu Hotel Malang (kanan)

Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang
TUGU Hotel Malang (photo courtesy of Tugu Hotel Malang)

Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

1 thought on “Menemukan Jiwa dan Cerita Sejarah di Melati Restaurant Tugu Hotel Malang”

  1. Perpaduan antara cita rasa kuliner legendaris dan narasi sejarah yang kental memang jadi kekuatan utama tempat ini. Menarik banget membaca bagaimana jiwa dan memori masa lalu tetap hidup di tengah sajian modern.

    Reply

Leave a Comment