
Dari Ide Menjadi Lembaran. Diskusi dan Bedah Buku Antologi Jelajah Pasar Nusantara | PAPI, Featured, and Community | September 2026
Minggu pagi itu, 16 Agustus 2026, beberapa menit setelah Subuh berlalu, saya segera beranjak dan berkendara menuju Bandung. Kali ini bukan dalam rangka pelesir atau urusan keluarga seperti biasanya, tapi untuk mengadakan sebuah acara diskusi dan bedah buku serta mengulas proses lahirnya antologi Jelajah Pasar Nusantara

Pasar, Cerita, dan Kita
Ide untuk mengadakan acara diskusi dan bedah buku di perpustakaan dan toko buku BUNGA di TEMBOK Bandung sebenarnya sudah terpikirkan sejak lama. Persisnya setelah beberapa waktu komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) menandatangani kesepakatan kerjasama dalam rangka promosi dan penjualan rangkaian buku antologi yang dilahirkan PAPI dan diterbitkan oleh indie publisher Annie Nugraha Mediatama (ANM).
Saat ide ini diseriuskan dan rincian acara diperbincangkan lebih mendalam, pihak perpustakaan mengusulkan agar pertemuan yang akan diadakan di tempat mereka pada Minggu, 16 Agustus 2026 tersebut, bisa mengangkat salah satu buku antologi yang temanya unik dan jarang digali oleh penulis lainnya. Tentu saja sekaligus mengenalkan komunitas PAPI kepada lebih banyak orang, khususnya di Bandung.
Buku yang dipilih acara ini adalah Jelajah Pasar Nusantara. Antologi milik PAPI dan yang menjadi buku perdana di 2026. Acaranya sendiri lalu diberi judul Pasar, Cerita, dan Kita. Sebuah lingkup bahasan tentang beberapa pasar di nusantara yang diulas di dalam buku. Rangkaian cerita pengalaman pribadi dari 21 (dua puluh satu) orang kontributor, serta bagaimana kita โpublik/masyarakatโ terlibat dalam pergerakan ekonomi serta rangkaian kisah menarik yang disajikan di berbagai pasar tersebut.
Lewat semua artikel juga dikisahkan bagaimana para kontributor membangun komunikasi dengan para pedagang, melakukan pengamatan, bertransaksi, dan menyusur sejarah singkat tentang pasar yang mereka kunjungi. Rangkaian pengalaman inilah yang membuat buku ini terasa berbeda, unik, dan menghadirkan rangkaian kisah memorable yang layak untuk dibukukan.
Berbagai cerita serta proses kelahiran inilah yang kemudian diurai satu persatu saat saya dan dua orang anggota PAPI (Kang Dudi dan Mbak Hani) hadir di tempat acara. Dari ide menjadi lembaran, melewati proses penyuntingan dan sentuhan kreatif, hingga kemudian berwujud buku yang saat itu sudah bisa dipegang.
Di sebuah ruang kecil yang ditata dengan baik oleh Mbak Salma yang mewakili Bunga di Tembok dan di tengah semriwing wangi kopi, acara diskusi dan bedah buku antologi Jelajah Pasar Nusantara pun mengalir selama kurang lebih dua jam.
Apa saja yang kemudian didiskusikan dan dibedah?


di Balik Lahirnya buku Jelajah Pasar Nusantara
Saat tamu mulai berdatangan dan buku antologi Jelajah Pasar Nusantara sudah dibagikan, acara pun dimulai oleh sambutan singkat Kang Dudi sebagai pembawa acara. Mengenalkan kami bertiga dan memberikan uraian singkat tentang acara di hari itu.
Saya kemudian melanjutkan dengan memperkenalkan PAPI, para anggota yang sekarang bergabung di komunitas, dan tentu saja kegiatan menulis bersama yang sudah dilakukan sejak 2022. Tahun di mana PAPI resmi berdiri dan mulai meluncurkan antologi. Tentu saja dengan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya akan perkenan perpustakaan dan toko buku Bunga di Tembok yang sudah mengijinkan PAPI mengadakan acara diskusi dan bedah buku di tempat mereka.
Sebelum masuk ke pembahasan utama, saya juga menyajikan napak tilas, cerita tentang perjuangan menulis, serta proses kreatif untuk melahirkan buku antologi. Perjalanan yang (tentu) tidaklah mudah. Bahkan untuk sekedar menemukan premis di ranah non-fiksi yang menjadi ciri khas PAPI. Pekerjaan ini harus jeli, punya “kekuatan” yang bisa menarik anggota untuk mau bergabung berkarya bersama, dan tentu saja (nantinya) akan menarik minat publik untuk membeli buku tersebut.
Rangkaian usaha panjang yang tidaklah mudah.
Termasuk saat menentukan, mengumpulkan ide hingga menjadi 195 halaman, dan mengajak anggota komunitas agar mau bersama-sama menggarap cerita tentang pasar. Apapun jenis pasar yang ingin diceritakan. Saya yang pada awalnya tidak yakin buku ini akan minat malah cukup kaget saat mengetahui 21 (dua puluh satu) orang anggota komunitas mau/berkenan terlibat.
Kesempatan presentasi kemudian diberikan kepada Mbak Hani Widiatmoko yang juga hadir di acara ini. Dengan barisan cerita menarik dan pengalaman lucu, Mbak Hani mengurai pengalamannya saat merasakan nikmatnya dawet saat berada di Pasar Gede Hardjonagoro dan mengikuti suami menjelajah Pasar Burung Sukahaji. Dari pengalaman inilah โkhususnya saat di pasar burung ituโ Mbak Hani jadi mengenal banyak jenis dan kicau burung. Menarik banget ya.
Saya pun kemudian mengurai kisah saat bertemu sayur lilin yang ditawarkan oleh Pasar Sarimalaha di Tidore. Baru kali itu saya mengenal sayur lilin ini dan merasakan kelezatannya saat sedang meliput sebuah upacara adat yang diadakan di Kelurahan Gurabunga. Salah satu desa dengan udara dingin yang berada di bahu Gunung Marijang.
Saya juga menghadirkan dua tulisan lagi untuk buku Jelajah Pasar Nusantara. Tentang pasar kaget yang rutin ada setiap Minggu di kompleks perumahan Permata Cimahi di mana rumah kami berada. Lalu tentang Pasar Rawa Belong. Pusat penjualan bunga segar yang berlokasi di Jakarta Barat.
Setelah itu saya juga memperkenalkan dan mengurai bahasan singkat tentang semua artikel yang juga hadir di dalam buku ini dan digarap oleh 19 (sembilan belas) kontributor lainnya, selain Mbak Hani dan saya.
Review lengkap tentang Jelajah Pasar Nusantara bisa dibaca di artikel yang saya sematkan di bawah ini ya.
Komunikasi Interaktif
Acara diskusi dan bedah buku ini menjadi begitu menggeliat saat Kang Dudi memberikan kesempatan kepada hadirin untuk mengajukan pertanyaan. Serangkaian komunikasi interaktif pun terbangun. Diskusi yang saya harapkan pun tercipta.
Beberapa tamu kembali menanyakan tentang bagaimana membangun sebuah komunitas menulis, mengelola rutinitas menulis, menyemangati anggota untuk terus berkarya, dan melahirkan premis yang menarik untuk diangkat. Termasuk salah satu pe-er mensosialisasikan dan menjual buku yang sudah terbit.
Bagian akhir yang sesungguhnya terus menerus dipelajari. Khususnya bagi komunitas seperti PAPI yang belum memiliki wadah off-line untuk menjual buku. Sejauh ini kegiatan yang bisa dilakukan PAPI adalah bekerjasama dengan berbagai pihak perpustakaan yang juga menjual buku seperti halnya Bunga di Tembok. Kemudian dengan Narapuspitan Library yang berlokasi di Yogyakarta.
Tentu saja saya mengajak semua yang berkenan datang untuk menghaturkan doa dan harapan agar suatu saat โketika saatnya tepat dan tibaโ PAPI akan menggandeng tangan Annie Nugraha Mediatama (ANM) agar bisa dan mampu menjejakkan kaki kuat untuk memiliki “rumah sendiri.”

Sebuah Langkah Berarti
Acara diskusi dan bedah buku di sini adalah kegiatan off-line kedua yang diadakan oleh PAPI setelah perayaan ulang tahun ke-3 di Perpustakaan Kemendikdasmen di Jakarta pada Januari 2025. Sebuah event syukuran sederhana sekaligus mengenalkan ANM sebagai indie publisher yang menaungi penerbitan buku-buku PAPI yang dimulai pada 2025.
Saya cukup bersyukur karena di tahun berikutnya PAPI kembali bisa hadir di hadapan publik. Jika dulu di Jakarta, di tahun berikutnya (2026) PAPI bisa menyapa publik di Bandung. Semoga kegiatan seperti ini bisa dilakukan setiap tahun โsebagai agenda tahunanโ supaya eksistensi PAPI semakin bergaung dan dikenal masyarakat luas.
Bandung telah membuat sederetan langkah itu semakin berarti.
Terima kasih untuk Bunga di Tembok yang sudah menyediakan tempat dan waktu untuk PAPI. Semoga kerjasama erat yang sudah terbangun akan semakin kokoh dan kuat. Bergiat dan konsisten di dunia literasi dan menghadirkan buku berkualitas di tanah air.
Berminat menjadi anggota PAPI melahirkan karya tulis di ranah non-fiksi? Yok, silakan hubungi saya di 0811-108-582. Yuk mari menulis dan meninggalkan legacy serta jutaan diksi lewat buku antologi bersama dengan puluhan penulis Indonesia.









