AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
Di depan adalah pintu masuk resto yang langsung terhubung dengan counter kasir dan mini bar

Berkunjung ke dan makan di restoran Timur Tengah, buat saya, bisa dihitung pakai jari. Apalagi kalau nyebutin resto Lebanon. Selama 50 tahun eksis di dunia fana, tak pernah sekalipun nangkring di sana. Bahkan berfikir untuk memasukkan mereka dalam list kunjungan sayapun tak pernah terlintas. Tapi ajakan Dian, teman baik di Bali, merubah semuanya.

Tau kalau saya barusan mampir ke Abunawas Resto dan kesengsem dengan Nasi Mandi berikut potongan daging kambingnya yang aduhai, Dian menawarkan saya untuk ketemuan dan makan bareng di Al Diwan, Lebanese Restaurant, di seputaran Petitenget, Seminyak.

“Tempatnya keceh buanget Mbak. Pengen deh foto di salah satu dinding yang ada gambar mata ceweknya. Jare koncoku makanannya juga highly recommended,” begitu kata Dian.

Untuk lebih meyakinkan ke-terhebohan alasan di atas, akun IG @aldiwanbali pun diberikan ke saya. Dan, wow, bener, keceh banget IG nya. Foto-foto makanannya pun menggugah selera. Beberapa potret menampilkan perempuan bercadar, bermata cantik, dengan hijab dan niqab serba biru yang kuat banget karakternya. Wall mural yang layak diapresiasi karena keindahan dan sapuan kuas yang begitu rinci lagi sempurna. Satu yang memang menjadi spot foto terbaik bagi para pengunjung. Ini nih tadi yang diomongin Dian.

Baca juga : Merasakan Masakan ala Timur Tengah di ABUNAWAS Bali. Lezat Makanannya. Cantik Restonya.

AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
Meja panjang dengan tempat duduk (sofa dan kursi) yang nyaman banget

Suasana Dalam Ruang Resto

Selangkah masuk ke resto ini ada 2 hal yang langsung saya rasakan. Pertama adalah kemewahan termasuk privacy di dalamnya. Kedua adalah udara dalam ruang yang nyaman luar biasa. Apalagi di hari itu, panasnya udara Bali sungguh memanggang wajah dan tubuh. Jadi hanya dalam beberapa menit berada di dalam, badan langsung maknyes merasakan pendingin ruangan kualitas kelas atas. Keringet pun mendadak berhenti mengucur. Tempat “pelarian” yang ciamik untuk mengusir panas kejengkang di luar ruang.

Gak cuma bicara tentang AC berkualitas, interior design, furniture, dan equipment yang terpampang di depan mata mengajak kita merasakan berada di dalam rumah dengan ruang makan khusus yang serba mewah. Ornamen high-tech, cover serba beludru, warna-warna shocking, kayu-kayu dan kaca berkualitas tinggi, membuat kita betah berada di sini. Meja dibuat besar-besar. Bahkan pengaturan untuk 4 orang pun sangat lega dibuat. Setting up yang memang ditujukan untuk keluarga atau tamu dalam jumlah banyak.

Talk About Ambiance. Ini yang barusan saya tuliskan di atas. Ambiance dan atmosphere yang tercipta jadi salah satu kelebihan yang tak diragukan lagi. Venue yang seolah ingin meninggalkan kesan bahwa Lebanon pun mampu menjamu dan memanjakan para pengunjungnya dengan sentuhan-sentuhan bernilai seni tinggi.

Hal ini bukan cuma bisa kita rasakan ketika di ruang makan. Restroom nya pun lapang dengan kenyamanan dan kebersihan. Menuju tempat buang hajat ini ada tirai warna merah fanta yang diikat cantik dengan kristal. Ada juga lukisan perempuan dengan outfit jaman sebelum masehi ala-ala Cleopatra. Mengesankan lah pokoknya.

Dan eh, kalo nggosipin soal ngobrol berbanyak sambil nyemil, ketawa reramean, dengan udara bebas, plus tidak mengganggu kenyamanan tamu-tamu lainnya, saya sempat ngeliat ada teras khusus di sisi luar resto. Semi terbuka loh ya karena masih ada atapnya. Jadi sinar matahari gak langsung menyentuh kulit. Kursi-kursi dan sofa nya pun terlihat nyaman dengan dekorasi tumbuhan agar tidak terkesan garing. Pengen sih nyobain nongkrong di situ karena dari pagar pinggir teras kita bisa melongok lalu lintas di seputaran Petitenget. Tapi gak jadi saya lakukan karena udara panas masih terlalu garang untuk dilawan.

AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
Jalan menuju toilet
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
Saya, Dian, dan Fuli di depan mural si cantik bermata indah yang keren banget itu

Hidangan dengan Plating yang Menarik Hati

AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata

Kalau pembaca budiman sempat membuka IG @aldiwanbali yang saya sebutkan di atas, semua pasti terkesan dengan plating nya yang penuh. Makanan terlihat tumpah ruah dan begitu banyak untuk per porsinya. Yup, bener banget. Untuk beberapa menu, memang ada yang direkomendasikan untuk dihabiskan bersama. Jadi saat si Mbak waitress datang dengan pertanyaan, “Mau yang menu sharing Bu?”, saya pun langsung paham.

Piring putih nya memang besar dan isinya juga grande seperti yang tampak di foto. Saya sempat melirik 6 orang lelaki Timur Tengah yang duduk di dekat saya. Pesanan-pesanannya super duper heboh. Jatahnya 8 kuli itu sih (ngekek). Ngeliat tiap piring diantar satu persatu aja saya sudah kenyang duluan. Makjang. Tapi hebatnya semua amblas tak bersisa. Padahal tak satupun dari mereka terlihat tambun (ngekek lagi). Don’t judge the book by it’s cover. Pemahaman yang ternyata berlaku untuk urusan makan dan daya tampung lambung. Catet!!

Untuk kami? Terus terang saya mendadak salting menentukan apa yang ingin di pesan. Secara sebelum sowan ke Al Diwan, saya dan Fuli sempat kalap makan pempek di Erlangga. Satu-satunya markas pempek enak dan selalu saya kangenin setiap ke Bali. Jadi ketika melirik ke 2 sohib saya ini, keputusan untuk sharing pun sepakat kami tetapkan. “Apa yang dipesan?” Maaf saya lupa namanya. Ribet juga buat diinget. Tak pun ingat memotret lembaran bill nya. Tapi yang pasti pesanan kami adalah sepiring penuh Hummos, roti tepung panggang yang sepertinya jadi menu wajib Timur Tengah. Plus 1 piring lain yang berisi sate kambing (tetap dibungkus Hummos), kentang panggang, berikut pelengkap sayuran (tomat, cabe tanpa diolah, dan selada).

Kalo mencermati apa yang mereka tulis di website, untuk setiap masakan Al Diwan selalu mengutamakan freshness, raw vegetables, dengan appetizers mostly vegetarian. Freshness menjadi top priority selain tentu saja quality of processed products. Jadi kalau saya menatap hidangan di depan mata hadir tanpa bumbu yang berat, jargon freshness, menurut saya, sudah pas untuk Al Diwan. Fresh tanpa proses campuran lain, seperti santan misalnya, yang membuat rasa hidangan menjadi berat, baik dari segi rasa maupun efek lemak yang ditimbul dari proses tersebut.

So how’s the taste exactly? Well, buat saya, si anak Sumatera, yang sejak melek mata bahkan hampir setiap waktu menikmati menu olahan (baca: bersantan), makanan yang saya nikmati saat itu tak begitu ketemu dengan selera. Kecuali kentang panggangnya yang maknyus dan terasa beda. Hummos nya juga tasteless dan sedikit lebih ngelawan saat dikunyah. Lumayanlah untuk melatih rahang. Kelebihan untuk sajian sih saya lihat dari platingnya. Cara menata konsep “keroyokan” begitu, ternyata sangatlah menggugah selera. Jadi Al Diwan menang di langkah pertama yaitu menggoda mata penikmat.

IMANI Suites dan Rooftop

Waktu beranjak ke maghrib ketika kami menuntaskan makanan. Tirai tebal persis di samping meja kami 3/4 nya masih tertutup. Hanya celah kecil dibiarkan terbuka. Tapi dari celah kecil ini sinar matahari masih benderang, seakan enggan untuk turun. Dian mengajak saya dan Fuli untuk sekalian menunggu sunset di rooftop. Waw, ada rooftop nya ternyata.

“Bli Tut dari Sunsang Eco Village pengen ketemu Mbak Annie nih. Gimana?” Dian menatap saya meminta persetujuan sesaat kami melangkah keluar. Saya cepat mengangguk. Tak ada ruginya menambah teman dan memperluas jaringan. Apalagi buat saya yang hobi ngobrol dari Sabang sampai Merauke. Waktu 3 jam mah terasa 15 menit doang (ngekek)

Baca juga : Berkunjung ke Sunsang Eco Village di Kerambitan, Tabanan, Bali. Mendekat ke Alam dan Mencintai Bumi.

Keluar resto dan menaiki lift, kami tiba di Imani Rooftop. Hantaman udara panas masih terlalu garang. Tanda-tanda sunset pun tidak terlihat. Persis seperti nunggu Hilal yang seringnya mewajibkan kita melatih kesabaran. Entah kenapa sepertinya matahari enggan “turun tahta” hari itu. Atau bisa jadi si bulan yang masih malas-malasan nongol ke langit.

“Masih terlalu panas Bu. Nanti saja kembali lagi,” si Mas penjaga menyapa kami dengan ramahnya.

Gak perlu waktu lama untuk meng-iya-kan pendapat itu. Kami pun sepakat untuk duduk sebentar di sebuah ruangan kecil yang berada persis di depan lift dan di bawah lantai rooftop. AC terpasang tapi seperti tidak berfungsi. Saya kembali mengusap keringat yang mulai bercucuran. Astaga. Bener-bener cuaca yang luar biasa menguji kesabaran ini. Buat saya yang memang gak tahan dengan panas tapi lebih seneng ke pantai ketimbang gunung ini, merasakan badan penuh peluh, mendadak tergoda untuk booking kamar di Imani Suites. Lah kok bisa gitu?

Ternyata di gedung yang sama ini, ada hotel exclusive bernama Imani Suites. Pantesan tadi ketika Dian nanya tempat sholat ke si Mas, petugas tersebut mengarahkan untuk buka kunci salah satu kamar agar bisa sholat dengan nyaman. Nah yang pengen intip-intip tentang hotel ini, bisa berselancar ke www.imanisuites.com ya.

AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
Saya, Fuli, dan Dian di Rooftop Imani

Ada sekitar 15-30 menit kami menunggu waktu yang pas untuk naik ke rooftop. Meskipun gak begitu luas, rooftop ini bagus banget penataan dan posisinya. Dengan 1 bar kecil di salah satu sudut, tempat ini menyediakan sofa dan banyak tempat duduk yang lebih dari nyaman untuk menikmati turunnya matahari. Ketinggiannya juga istimewa menurut saya karena saat menebarkan pandangan ke sekitar, semua bangunan tampak begitu kecil. Kalo gak salah liat sih, gedung yang ditempati oleh Al Diwan dan Imani ini adalah salah satu bangunan tertinggi di sekitar Petitenget

Dari lantai teratas tempat kami berfoto ini, ada sebuah kolam renang dengan beberapa tenda berkursi dengan botol-botol shisa di pinggirnya. Kolam ini persis di depan ruangan tempat kami menunggu tadi. Dan pastinya fasilitas yang satu ini hanya bisa dinikmati oleh tamu-tamu hotel Imani.

Tak ingin kehilangan waktu-waktu berharga menyaksikan cantiknya sunset, saya, Fuli, dan Dian, tak henti memotret di setiap sudut. Saat yang tidak boleh dilewatkan. Terutama untuk saya yang sangat jarang bisa menikmati momen-momen berkesan seperti ini. Maklum, sehari-hari hidup dalam lingkungan daerah industri. Tempat yang terkepung dengan gedung, lalu lintas padat, dan kegiatan bekerja yang hampir tidak mengenal waktu.

Aaaahhh waktu yang semakin menguatkan saya untuk (segera) ngungsi ke Bali, menghabiskan masa tua dan pensiun bersama suami, tetap berkarya sebagai crafter dan penulis, sambil menunggu anak-anak dan cucu-cucu berkumpul bersama.

Al Diwan Lebanese Resto and Imani Suites | Jl. Petitenget No. 99X, Seminyak, Bali

AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata

Galeri Foto

AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata
AL DIWAN Bali.  Menghadirkan Pengalaman Baru dari Satu Tempat yang Jauh di Mata

#AlDiwanBali #ImaniSuitesBali #LebaneseRestoBali #BaliCulinaryVenue #BaliExecutiveSuites #VisitBali #ExperienceBali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here