JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI
Hamparan sawah terbentang luas di depan mata. Seandainya tiang listrik itu tidak berada di sana

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI
Pemandangan yang mendamaikan hati

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI

Penebel, Tabanan, Bali, Juni 2016

Lahir, besar dan lama hidup di kota besar, menjadikan saya norak setiap kali ketemu tempat yang masih alami dan belum tersentuh dengan segala modernitas.  Bagi mereka yang pernah, bahkan sering menjadi travel mate saya, pasti sangat mengerti gimana kelakuan berlebihan saya sejak dari turun kendaraan sampe naik mobil di perjalanan pulang.  Turun dari mobil blingsatan dan gak inget temen.  Main ngacir aja. Dan di setiap perjalanan pulang pun, mulut biasanya tak henti merepet menceritakan tempat yang baru dikunjungi walaupun teman ngobrol nya sudah melayang ke pulau kapuk.

Bahkan kadang-kadang (baca: sering) saya kena marah karena gak berhenti berkicau sementara yang diajak ngobrol matanya sudah nyaris rapet, merem melek menahan kantuk.  “Diem kenapa, gua dah ngantuk banget nih!!”.  Iiisss, kalo dah gitu yang ada saya menukar partner ngobrol ke pak supir atau gerapyakan kutak katik kamera dan hape.

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI
Seandainya punya rumah yang ada di titik saya berdiri mengambil foto ini. Mungkin tiap hari makannya berbakul-bakul dengan ikan asin aja udah enak banget

Meninggalkan rumah di daerah Denpasar, acara hari itu adalah nebeng Michael, yang katanya mau lihat sawah (mau jadi juragan sawah kali ya hahaha).  Awalnya tak pikir paling banter dia dibawa Pak Made ke Tegalalang. Mmmm kalo di sana sih, saya dah berkali-kali mampir.  Tapi ketika saya tanya tempat tujuan dan mendengar nama yang asing di telinga dari Pak Made, wah, boleh juga nih.  Yasudlah mari kita kemon. New place. New Adventure.

Semangat rekreasi yang tadinya membara, sempat melempem gara-gara kelamaan di perjalanan.  Ukuran 2.5jam Cikarang ke dalam kota Jakarta mungkin sudah biasa, karena time consumsing lebih disebabkan oleh kemacetan.  Tapi kalau untuk ukuran provinsi, waktu segitu, berarti memang bener-bener jauh dalam jumlah jarak.

Awalnya saya kira kami sudah melampaui 75km dari titik awal berangkat, tapi nyatanya dari Denpasar (rumah) ke Penebel cuma 48km (menurut peta).  Sepertinya, mungkin, karena Pak Made banyak menghindari beberapa jalan utama dan memutuskan mengambil jalan-jalan pintas (baca: tikus), gak terasa kalau strategi keluar dari dugaan macet, malah menjadikan waktu tempuh semakin bertambah.  A lesson to learn.  A short cut is not always a good alternative to overcome the un-expected problem.

Sekian banyak desa sudah kami lalui.  Mulai dari jalan sempit, jalan besar, sampe masuk lagi ke jalan sempit, akhirnya kami mencapai daerah Tabanan.  Memasuki Desa Penebel dan Desa Pucung, jalan pun mulai menanjak dan berliku-liku.  Aura pegunungan sangat terasa.  Kami sempat mematikan AC agar acara menanjak tidak menyusahkan mesin mobil.  Dan sekaligus, tentu saja, menghirup udara segar yang sangat jarang kami rasakan.

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI
Hamparan sawah bak karpet hijau

Ketika jalur tempuh mulai mendatar, selangkah demi selangkah, pemandangan indah pun mulai terhampar di depan mata.  Walaupun hanya cukup untuk ukuran 2buah mobil berbeda arah, lalu lintas mulai melambat.  Rasa penasaran semakin membuncah karena mendekati lautan sawah Desa Jatiluwih ini, saya melihat puluhan mobil terparkir, berjejer rapih di kiri kanan jalan. Terlihat puluhan bule dari kejauhan menyemut di berbagai area. Waaahh…nampaknya tempat ini memang telah populer di dunia internasional.  Bahkan Michael yang asal Jerman pun lebih tau tentang tempat ini dibanding kami.

Decak kagum tak henti keluar dari mulut kami ketika berdiri di pinggiran sawah seluas 2.372 hektar ini.  Berdiri di atas paving blok yang dibuat menjorok ke persawahan, saya sempat terdiam dan tercekat melihat betapa indahnya sawah disusun bertingkat dengan jalan setapak diantara potongan-potongan lahan tanam yang dibentuk meliuk laksana lukisan.  Pada saat itu, padi sebagian besar masih dalam usia remaja. Kalo boleh menunggu sekitar 3bulan ke depan, dijamin butir-butir beras sudah mulai merunduk.  Di periode inilah biasanya sawah akan terlihat sangat cantik untuk difoto.

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI
Gaya gak jelas tapi pengen banget di foto di titik ini

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI

Tentang Jatiluwih

Nama JATILUWIH sendiri berasal dari 2 kata yaitu JATI yang berarti NYATA/REAL dan LUWIH yang berarti SEIMBANG/KESEIMBANGAN.  Dari kedua makna inilah, masyarakat desa, selalu menjaga keseimbangan alam dengan lingkungan, sehingga kelestarian ekosistem berjalan dengan semestinya.  Hal ini dibuktikan dengan keseriusan rakyat setempat menjaga kebersihan, memelihara setiap tumbuhan terutama tanaman padi, dan aliran sungai yang terdengar syahdu dengan air yang sangat jernih.

Persawahan di Jatiluwih ini sudah dinyatakan sebagai salah satu WORLD HERITAGE kekayaan alam khususnya di bidang pengaturan dan perawatan sistem pengairan tradisional Bali, yang dikenal dengan sebutan SUBAK.  Penghargaan ini secara resmi diberikan kepada Provinsi Bali pada 26 Juli 2012 setelah melalui proses panjang pengajuan/pengusulan kepada Unesco di tahun 2003.  Area yang diakui sebagai World Heritage ini meliputi 14 buah subak yang menaungi 11 Desa, luas hamparan sawah (padi fields) sebesar 2.372ha, taman seluas 3.545ha, hutan seluas 9.316ha, rumah sebanyak 317unit, dan semak-semak liar seluas 475ha.

Melihat lingkungan sekitar persawahan, terlihat Gunung Watukaru yang terbentang di sebelah barat Pura Watukaru.  Berada di ketinggian 700m di atas permukaan laut, cuaca di Jatiluwih terasa sejuk dan sangat pas untuk mengganti oksigen perkotaan yang menyesakkan dada.

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI

Selesai bercengkrama dengan puluhan wisatawan yang kesemuanya larut dengan kamera, tetiba kami disergap hujan yang turun deras.  Waktu sudah menunjukkan pkl. 13:00 wita ketika kami memutuskan untuk masuk ke Billy’s Terrace Cafe yang berada di dataran tertinggi persawahan.  Puluhan pelancong terlihat duduk tenang memandangi sawah yang sedang disiram air langit, sambil menikmati makanan buffet yang disediakan oleh Cafe.

Cafe yang dibuat tanpa dinding ini berada di tempat yang sangat strategis.  Tempat duduk pun diatur sedemikian rupa sehingga tamu-tamu dapat menikmati makan minum sambil memandang luas ke arah sawah.  Untuk buffet dengan aneka masakan, setidaknya 2 jenis nasi, 4 macam lauk (ala Indonesia), dan 2 jenis makanan penutup, harga IDR 125.000/orang termasuk teh hangat, sepertinya sudah pas untuk kantong.  Makanan pun bisa diambil sepuasnya.  Kami menambah sedikit rupiah untuk menikmati kopi.  Minuman yang pas banget dengan udara saat itu.

 JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI

Menuntaskan makan siang yang sedikit terlambat dan sambil menyeruput kopi, obrolan kami pun berputar dari berbagai topik.  Gelak tawa saya memecah kekakuan teman seperjalanan kami, yang tampaknya mulai ngantuk karena kekenyangan. Menyadari bahwa kami masih memiliki satu tempat lagi untuk dikunjungi, siang itu, tanpa menunggu hujan benar-benar berhenti, kami bergegas melangkah ke mobil sewaan menuju Danau Beratan yang juga berada di seputaran Tabanan.

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI

#Jatiluwih #RiceField #TabananBali #BaliRiceField #BaliTourism #BaliTrip #UnescoHeritage #BaliHeritage #BaliIndonesia

Related Stories

JATILUWIH. UNESCO World Heritage di Tabanan BALI

Discover

GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum

Siapa sih yang gak kepengen kulit wajahnya glowing, bersinar indah, bersih tanpa...

TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang...

Hidup bertetangga itu banyak cerita, dinamika...

TALE OF THE CITIES. Antologi Berbagai Kisah Kenangan...

Senang rasanya mendapatkan kesempatan untuk menceritakan kembali beragam kisah kenangan dari sebuah...

Dibalik Lahirnya Buku Solo TETANGGA KOK GITU

Setiap orang patut bermimpi. Mimpi menjadi orang terkenal, menjadi orang kaya,...

BACK TO THE 90’s. Antologi Berbagai Kisah Sarat...

Buku antologi BACK TO THE 90's ini adalah buku bancakan ke-2 saya...

Eksplorasi Perawatan Wajah di SS (Shine Skin) Clinic, Grand...

Selama pandemi berlangsung sejak semester pertama 2019, saya tak pernah sekalipun melakukan...

Popular Categories

Comments

  1. Memang indah yaa area yang diakui sebagai World Heritage ini. Saya juga bakal norak kalau berada di sini hihi. SUka banget lihat hamparan hijau seperti itu.

  2. Ulalaaa, ini sih surga yg terhampar di muka bumi, Mbaaaa
    aku mauuk banget ke Jatiluwih.
    Ini relaxing sekaligus bisa jadi sarana utk membersihkan jiwa yg lara *heitsss*

    • Banget Nur. Aku juga pengen banget balik lagi. Mau sempetin nginep biar bisa jalan pagi atau sepedaan keliling desa

  3. Tahun 1998 saya KKN di Kabupaten Tabanan, sekitar 10 km dari Jatiluwih. Sering saya dan teman-teman kalau lagi ada perlu belanja apa gitu sengaja berhenti di persawahan dan subak ini. Adem lihat ijonya padi begini ya.. Senangnya sudah jadi Unesco World Heritage, dulu masih sangat alami dan belum banyak dikunjungi wisatawan mancanegara

    • Waaahh pasti nyenengin banget ya Mbak. Lihat sawah terbentang hijau tuh bikin hati adem dan damai. Sayang pas saya kesini, setelah sempat motret 30 menitan, hujan lebat turun. Jadi cuma bisa nongkrong sambil ngopi di cafe yang ada di bukit. Dingin banget.

  4. Saya sejak SD, sudah dapat pelajaran tentang SUBAK ini. Bahwa sistem irigasi untuk persawahan terbaik adalah yang ada di Bali, dengan nama subak. Setelah memperoleh pengetahuan itu, saya kala itu penasaran banget, apa sih istimewanya subak sampai dikatakan terbaik. Rasa penasaran yang sampai sekarang belum tertuntaskan karena belum berkesempatan untuk melihat langsung.

    Persawahan dengan terasering gini emang bagus banget ya buat latarbelakang foto. Tapi kenapa itu tiang listrik nyempil aja menganggu pemandangan

    • Subak sudah diakui dunia malah Mbak Nanik. Sistem irigasi tradisional Bali yang sangat efektif dan efisien. Persawahan di daerah TEGALALANG juga begini Mbak. Cakep sekali jadi obyek foto.

      Haahahahaha itu dia Mbak. Dan posisi si tiang listrik strategis pulak hahahaha. Jadi saya musti turun lebih banyak supaya bisa dapat spot foto yang strategis

    • Aamiin YRA. Saya juga belum puas mengeksplor daerah ini Mbak Nia. Pengen balik lagi sekalian sempetin nginep terus sepedaan keliling kampungnya

  5. kebalikan dengan saya Mbak

    rumah saya di sukabumi bersebelahan dengan sawah, padahal terletak di tengah kota

    dan sekarang sudah hilang, diganti perumahan

    namun ingatan tentang persawahan dan bermain-main di pematang sawah akan jadi kenangan indah

    • Ya ampun. Pasti kangen banget ya dengan suasana pedesaan Mbak. Padahal asik banget kalo bisa setiap saat memandangi hijaunya sawah

  6. Hijau royo-royo bikin hati adeeem… terbayang suasananya segar, udaranya bersih dan nyaman di sana sepanjang mau … Pantas kalau dijadikan situs yang harus dijaga oleh semuanya ya …

    • Betul banget Mbak Okti. Terasa banget ademnya. Apalagi untuk orang seperti saya yang hidup di daerah industri

    • Banget Mbak Intan. Pengen balik lagi kemari. Menyempatkan tinggal di sini sambil menikmati hijaunya lingkungan yang segar.

  7. Kalau berkendaraan sudah hampir ke sana, memang bakalan asik AC mobil dimatikan, dan biarkan kaca mobilnya yang diturunkan. Hmm, segernya udah kebayang dah. Soalnya ke kawasan puncak daku suka gitu haha. Apalagi ke sana misalnya suatu saat. Nggak hanya bakalan wajah yang akan didekatkan ke kaca, tetapi juga kamera ponsel harus ready buat merekam hehe. Masya Allah pemandangan hamparan si hijau di sana

    • Duh bener banget itu Fenni. Menikmati udara segar langsung dari alam plus pemandangan hijau terhampar. Rasanya damai di hati. Semoga suatu saat bisa sampai sini ya Fen

    • Semoga suatu saat bisa sampai kesini ya Bang Sani. Ini juga kisah perjalanan saya ke Jatiluwih jauh sebelum pandemi

  8. Tempat tinggal saya nggak kota-kota amat. Ya, KTP-nya sih di Kota Bogor. Tapi aslinya, belakang rumah persis tuh masih sawah. Cuma sepetak sih, karena daerah sekitarnya sudah jadi komplek perumahan. Tapi tetap loh, kalau main ke pedesaan beneran (mudik), memang norak banget jejeritan lihat sawah, hahaha … Ternyata saya ada temannya.

    Jadi penget icipin juga jejeritan lihat persawahan di Jatiluwih ini.

    • MashaAllah. Pasti nyenengin banget itu ya Mbak Melina. Tiap pagi bisa memandangi area kehijauan yang menyejukkan hati.

  9. Ke Cafe Obama gak mba. Hehehe. Jatiluwih sudah menjadi warisan dunia. Semoga keberadaan sawahnya terus lestari sampai anak cucu cicit kita nanti.

    Hujan di sana emang susah diprediksi mba. Sama kayak di Bogor. Wkwkwk. Kota Hujannya Bali itu Jatiluwih.

    • Belum sampai situ Mutia. Sehabis foto-foto di sawah ini langsung hujan deras banget hampir 1 jam. Kita stuck nongkrong di cafe yang ada di bukitnya. Habis itu langsung pergi tempat lain

  10. bayangin di sawah Desa Jatiluwih bakalan refresh banget nih otak yang kaku diterpa pandemi tak kunjung usai. Apalagi menghirup udaranya, bakalan menyegarkan pernapasan karena terasa terkecik PPKM Mikro hehe. Asik banget mba Annie, berasa adem disana. Liat ijo ijo gini bikin imun naik, mashaAllah baguuuusnya sistem persawahannya.

    • Tempat refreshing yang highly recommended banget Mbak. Apalagi duduk, ngopi, makan pisang goreng dan ngobrol bareng temen di cafenya. Aahh menyenangkan banget

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here