Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang

Photo of author

By Annie Nugraha

Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang
Tim jalan-jalan sebagian dari anggota keluarga besar suami. 90% sudah di golden age.
Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang
Mengukir kenang-kenangan di Kusuma Kopi, Pantai Marina, Semarang

Selesai check-in dan sempat ngaso sebentar di dalam hotel, komandan rombongan keluarga langsung mengingatkan semua anggota untuk bersegera bersiap melanjutkan acara seharian itu. Sesuai rencana kami akan menikmati senja di Pantai Marina Semarang, baru setelah itu makan malam, dan menutup hari dengan tepar di kamar masing-masing

Teh Ida, sang ketua rombongan sekali lagi mengingatkan agar kami semua tidak tidur terlalu lama sesiangan itu. Kalau enggak, buyar semua rencana. Harus kompak waktu dan disiplin dengan kesepakatan serta jadwal yang sudah tersusun rapi sebelum berangkat.

Tapi ini jadi tantangan yang luar biasa bagi saya. Apalagi saat dalam perjalanan ke hotel hingga selesai proses check-in hujan deras sedang mengguyur hebat kota Semarang. Langit pun terlihat pekat dan menghitam. Angin kencang mengiringi saat mobil yang kami tumpangi berusaha mencapai bagian depan hotel yang kecil dan serba mepet.

Salah seorang tante yang sudah berusia 65-an tahun terpaksa basah kuyup karena hujan angin yang deras tanpa ampun. Padahal beliau turun dari bangku tengah yang sudah dikondisikan berada di titik teraman dan jauh dari rintik hujan yang menghujan bumi tanpa ampun.

Dengan cuaca seperti ini jujurly pengen rasanya menikmati sisa hari dengan ngukur kasur di dalam kamar. Mandi air hangat, pakai baju tidur dengan setelan udara yang nyaman dari pendingin ruangan. Lalu meluruhkan lelah serta meluruskan pinggang yang remuk redam selama perjalanan darat sekitar 5-6 jam dari Bandung. Kebayang dong duduk di deretan bangku bagian belakang dengan hantaman jalan yang seperti roller coaster. Mantab pisan lah pokoknya untuk penderita HNP seperti diriku ini.

Yok ah. Tetap semangat.

Anggota rombongan kami sebenarnya adalah ibu-ibu menjelang dan sudah lansia. Termasuk saya. Hanya 1-2 orang yang setidaknya belum 50 tahun. Namun semangat ngelencer nya gak kalah sama yang masih muda. Buktinya pada oke aja sewa mobil Hiace 14 seats, menyusur perjalanan darat selama berjam-jam dengan hanya waktu jelajah selama 2 hari 1 malam. Satu kondisi yang menjadikan 80% waktu dihabiskan di dalam kendaraan dan mampir kesana kemari.

Baca Juga : Bertamu ke D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang

Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang
Sisi depan dan sebagian area makan Kusuma Kopi, Pantai Marina, Semarang
Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang

Cuaca yang Mendadak Berubah

Teh Ida adalah salah seorang dari kami yang hobi ngukur jalan seperti halnya saya. Referensi dan pengetahuannya tentang banyak tempat menarik di berbagai sudut negeri sudah dia kantongi. Khususnya jalur sepanjang Jawa dan banyak kota yang ada di dalamnya. Si teteh yang satu ini, menikmati masa pensiun dengan melakukan banyak kegiatan. Olah raga, pengajian, ngurusin kos-kosan, nongkrong-nongkrong (baca: bersosialisasi), termasuk diantaranya bergabung dengan berbagai komunitas emak-emak yang salah satu kegiatannya adalah pelesiran. Menikmati me and our time berkualitas bersama para sahabat.

Jadi saat beliau menyampaikan bahwa akan mengajak kami semua menikmati indahnya senja di pinggir pantai, saya langsung terlonjak. Baru nyadar bahwa Semarang punya tempat dengan kualifikasi seperti itu. Meski, menurut beliau, hanyalah pinggir laut seperti biasa, saya tetap penasaran.

“Bukan dengan pantai berpasir yang bisa kita injak dan jadi tujuan wisata alam seperti yang sering kita temui di Bali, Pangandaran, Ancol, dan daerah-daerah pesisir lainnya sih. Tapi lumayanlah buat menikmati senja,” sambungnya lagi memberikan semangat.

Saya tetap dan malah tambah penasaran. Gak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan.

Ternyata Pantai Marina, tempat yang direferensikan Teh Ida dan akan kami kunjungi ini, tak begitu jauh dari hotel. Melewati sebuah kawasan dengan banyak bangunan besar, angin deras terlihat menyambut. Banyak batang dan daun pohon melambai-lambai dengan hebohnya. Titik air hujan pun tampak enggan untuk benar-benar beranjak.

Duh hujan please deh ya. Gak bakalan muncul deh sunset nya kalau begini.

Saya, bagai bocah ingusan yang lagi nunggu dihadiahi sesuatu, terus aja membatin. Kalau kondisi alamnya begini, bukan gak mungkin kami semua hanya menikmati waktu dengan ngopi dan ngobrol saja. Dan eh semangkuk besar Indomie kuah dengan potongan rawit dan telur rebus. Yah setidaknya itulah kondisi terbaik yang bisa menghibur hati.

Dan eeehh, ternyata impian saya terjawab. Tak lama setelah kami berlarian turun dari mobil saya melihat kedai Kusuma Kopi tampak hening dan sepi. Saya melihat kain kotak-kotak hitam putih terikat di sana-sini. Mendadak teringat dengan banyak cafe pinggir jalan yang ada di Bali yang selalu hadir dengan ciri khas yang sama.

Saya mengalihkan pandangan.

Ada sepasang tamu yang duduk di salah sudut tapi mereka tak pun hirau dengan kehebohan kami. Beberapa petugas langsung sigap menyambut dan segera membersihkan tempat duduk/bangku yang sempat basah tertimpa air hujan.

Kami pun dipersilahkan duduk di deretan bangku yang ada di teras terluar tapi masih terlindungi oleh atap. Jadi jika tiba-tiba hujan kembali hadir, kami gak perlu kocar-kacir.

Namun ketakutan itu tidak terbukti. Nyatanya doa saya dikabulkan oleh semesta. Dalam hitungan menit langit perlahan merekah dengan semburat sinar matahari yang sedikit meninggi. Tidak terlalu terang karena memang di saat itu adalah waktunya sang mentari mulai meninggalkan angkasa dan melangkah keperaduannya.

Saya duduk sejenak. Terpaku mengamati sekeliling, sekitar kedai Kusuma Kopi dan lingkungan Pantai Marina serta apapun yang berada di dekatnya.

Saya mendapati kedai ini seperti berdiri sendiri. Tak ada kawannya. Hadir mandiri dengan lapangan parkir yang (cukup) luas. Dari titik terujung yang mendekat ke laut, saya bisa melihat ada sebuah anjungan dengan fasilitas penyewaan speed boat. Sementara di sisi yang berbeda, ada sebuah lahan/jalan yang dinaungi oleh banyak pohon dan tempat duduk. Sepertinya tempat ini diperuntukkan bagi para pengunjung Pantai Marina yang datang dengan motor dan hanya ingin duduk-duduk menanti syahdunya senja.

Saya mencoba merekam menit demi menit, detik demi detik, sembari menyeruput kopi hitam yang saya pesan. Saat waktu beranjak Kusuma Kopi pun menyalakan lampu-lampu mereka dan membuat senja di Pantai Marina itu semakin syahdu.

Baca Juga : Umbul Sidomukti, Wisata Alam di Lereng Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah

Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang
Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang
Saat-saat senja itu mulai merekah di Pantai Marina. Terima kasih Kusuma Kopi yang sudah menghadirkan tempat nongkrong se-asyik ini.
Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang
Ice tea dan sepiring tempe mendoan. Tempenya enak betul. Apa karena lagi lapar ya?

Tadi, tak berapa lama setelah kami duduk menghadap ke laut, Teh Ida memanggil kami satu persatu untuk memesan minuman dan camilan hangat. Saya seperti biasa memesan kopi hitam. Gak sempat terfoto karena saya fokus berkeliling mencari spot foto terbaik.

Tapi saya lihat para sepupu senior saya sudah gerak cepat memesan berpiring-piring tempe mendoan yang digoreng nyemek-nyemek dan pisang goreng keju. Penganan sederhana yang biasa kita nikmati di rumah sembari ngopi atau ngeteh bercangkir-cangkir. Semua menjadi semakin lengkap dan sempurna saat para sepupu terlibat dalam percakapan seru.

Saya? Hanya mojok dalam keheningan dan terkadang membantu banyak orang untuk dipotret. Gak bisa ikutan ngobrol karena semua berbicara dalam bahasa Sunda. Bahasa daerah suami yang hingga saya mengetik ini tidak juga saya kuasai. Jadi jika semua tertawa ngakak bareng-bareng dan saya ikut tertawa, berarti saya sedang mentertawakan orang yang sedang tertawa itu tanpa paham artinya.

Kenangan yang Tertinggal

Saya dan rombongan menikmati syahdunya senja di Kusuma Kopi Semarang dengan hati yang damai. Percakapan seru yang ikut menyertai begitu mengikat rasa persaudaraan yang terbangun di antara kami. Saya tetiba merasakan bahwa keterikatan hubungan kekeluargaan suami terus menerus dibangun dan dijaga. Hampir setiap bulan ada pertemuan seperti misalnya arisan reguler yang nawaitu utamanya adalah silaturahim. Melepas kangen dan saling memberi kabar.

Pertemuan ini biasanya diadakan di Bandung. Berpindah-pindah aja dari satu rumah ke rumah yang lain. Tapi yang pasti arisan reguler dan acara-acara keluarga dikomunikasikan bersama lewat sebuah whatsapp group yang sengaja dibangun untuk saling melepas kangen. Kelompok percakapan yang dikoordinir dan dijaga oleh Teh Ida. Sepupu suami seangkatan tertua dari garis keturunan ke-3. Baik sepupu kandung maupun para ipar, khususnya emak-emak, selalu update apa yang terjadi di dalam keluarga besar. Termasuk acara keluyuran kami ke Semarang ini.

Sebagai salah seorang yang diandalkan untuk mengukir kenangan lewat foto-foto, saya pun membagikan hasil jepretan ke dalam grup yang ditanggapi dengan suka cita seluruh anggota keluarga besar. Banyak banget yang berkomentar seru saat melihat foto-foto kami saat keindahan sunset itu dibagikan. Pengalaman langka yang tentunya jarang atau tidak bisa dinikmati bagi anggota keluarga yang tinggal di dalam kota atau kawasan industri seperti saya.

Jadi saat bisa berkelana ke kawasan Marina Semarang dan nongkrong asyik di Kusuma Kopi ini jadi rekam jejak kebersamaan keluarga kami yang bakal akan terus menjadi memori indah. Menuliskannya di sini pun adalah satu satu upaya saya agar kenangan tersebut dapat dibaca oleh semua anggota keluarga. Kini dan nanti.

Sebuah kenangan telah tertinggal di sini. Semoga bisa menjadi legacy dan catatan penting bagi kebersamaan dan keterikatan keluarga kami.

BTW, yang pengen tahu lebih banyak tentang Kusuma Kopi, kuy mampir dan jelajahi akun IG @kusumakopi_ Siapa tahu pengen ikut menyaksikan dan merasakan syahdunya senja di Pantai Marina. Mereka buka 24 jam loh. Asyik kali ya sarapan di sini sambil mendengarkan deburan ombak laut yang menghantam sisi depan kedai.

Baca Juga : Sam Poo Kong, Klenteng Sarat Cerita di Semarang

Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang
Yang kiri entah minuman pesanan siapa tapi yang kanan itu pisang goreng dengan taburan parutan kerja yang berlimpah ruah. Endes pisan.
Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang
Beberapa shoot di kala senja mulai tampak. Tolong abaikan sandal jepitnya ya
Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang
Pose bersama sebelum melanjutkan perjalanan
Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang

IG @annie_nugraha | email : annie.nugraha@gmail.com

16 thoughts on “Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi, Pantai Marina Semarang”

  1. Saya sebelumnya sudah membaca perjalanan seri naik hiace ini, mbak Dan lanjut membaca keseruan di Pantai Marina dengan kopi dan tempe mendoannya hehehe.
    Namanya panta Marina sama dengan nama pantai Marina Ancol. Walau tidak bisa bertelanjnag kaki menyusuri pasir putih, Tapi tetap ada kenikmati tersendiri menikmati sunsut di Pantai Marina Semarang ya, Mbak.

    Reply
    • Bener banget Mas Bambang. Duduk sembari menanti senja tuh memorable banget. Lengkap sambil minum kopi dan nyobain banyak camilan yang rasanya jempolan.

  2. Ibuku yang sehari-hari kadang ngeluh pegel ini itu tapi kalo jalan sama rombongan pengajiannya, sampe Bali via jalur darat juga gas! hahaha. Tapi ya mungkin hepi ketemu temennya itu yang jadi sumber energi tambahan, persis kayak tante-tante yuk Annie yang baterenya full terus hwhw.

    Cakep banget yuk semburat langit itu. Ditambah hidangan buat ngangetin perut. Aku udah lama gak kena angin laut dan kelilipan air asin, kangen juga. Terakhir aku jga ke pantai Marina tapi yang ada di Lampung. Baru ngeh banyak juga pantai bernama sama ini, iseng ngecek ternyata Marina itu nama perempuan yang berasal dari bahasa Latin yang berarti “dari laut” atau “yang berhubungan dengan laut”. Panteslah ya :)

    Reply
    • Hahahahaha cak itulah emak-emak Yan. Mun berame-rame tuh beda nian rasonyo. Apolagi pegi samo kawan-kawan seorbrolan. Aaaiii sepanjang jalan pasti itulah gawenyo. Ngobrol, makan, minum. Seru nian hahahaha.

      Is, jadi rindu samo Lampung ye. La dak katek acara undangan pergi cak itu ye. Padahal banyak nian kenangannyo.

  3. Semoga saat golden age nanti saya juga bisa seperti Teh Ida, Mbak Annie dan kerabatnya yang ada di cerita ini. Senangnya bisa pelesiran di usia senja dalam keadaan sehat dan bahagia.
    Btw, pas banget sampai di Kusuma Kopi, hujan pun berhenti. Jadi bisa menikmati keindahan Pantai Marina berteman pisgor, tempe mendoan, ice tea…dan kehangatan kebersamaan keluarga besar.
    Sehat-sehat ya semua…

    Reply
    • Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Ngelencer seperti ini tuh bikin acara lebih seru. Sekalian melekatkan rasa persaudaraan juga kan ya.

  4. Seperti mamah saya. Kalau udah jalan sama teman-teman, gas lah semangat hehehe. Saya seneng aja kalau lihat mamah jalan sama teman-temannya.

    Alhamdulillah cuaca saat di pantai Marina bersahabat ya, Mbak. Jadi, bisa merasakan suasana sunset yang cakep. Saya suka hujan. Tapi, kalau lagi jalan-jalan memang seringkali berharap jangan hujan dulu.

    Reply
    • Hahahaha kudu semangat 45 Myra. Sayangnya cuma 2 hari 1 malam. Pengennya sih lebih lama. Semoga bisa diagendakan di acara berikutnya.

  5. Kalo rombongan begitu jalannya memang gak berasa lelahnya ya Bu Annie, karena banyak rona bahagia bisa silaturahmi terus saling mendukung berbagi kebahagiaan, terlebih juga pesona pemandangan di sana benerยฒ bikin happy.

    Btw, itu yang penuh taburan kejunya, daku mau dikirimkan, Bu, eh ๐Ÿ˜…

    Reply
    • Ho oh. Melekatkan rasa persaudaraan juga ya. Jarang-jarang bisa ketemuan dan menghabiskan waktu bersama.

      Wuaaahhh itu pisang goreng keju emang top banget Fen. Pisangnya hadir dengan kematangan yang pas. Nggorengnya juga pas tanpa meninggalkan rasa kelu di lidah. Top dah pokoknya.

  6. hihihi kebayang roamingnya Mbak Annie ngedenger obrolan berbahasa Sunda
    Tapi emang gak bisa ditahan sih, beberapa ungkapan tuh gak bisa diomongin dalam bahasa Indonesia
    Tentang Pantai Marina, sedih banget punya nenek kakek dari semarang (sehingga dulu tiap tahun pasti ke sini) tapi belum pernah ke pantai Marina
    Masuk list ah, entar kalo ke Semarang mampir ke sini

    Reply
    • Iya Mbak. Bahasa Sunda tuh sama seperti bahasa Jawa. Perbendaharaan katanya khusus, ada tingkatan kesopanan, dan butuh waktu khusus supaya bisa memahami dan menguasainya.

      Wah wah wah, kapan ke Semarang mampir ke Kusuma Kopi ini Mbak. Tempatnya nyaman, menyenangkan, masakan/camilannya enak, petugasnya juga cekatan dan ramah-ramah.

  7. Bu Annie ada HNP ? Ngerti banget tingkat kesulitan di perjalanan jauh karena terbiasa nemanin ibu yang kena sejak usia 35. Sekarang beliau makin sepuh tapi sakitnya makin bisa dikontrol karena sudah tahu ‘sela’nya biar ga kambuh. Ya kuncinya harus hidup sehat dan hindari hal-hal pemicu seperti duduk lama di lantai atau kecapean.

    Senangnya bisa kumpul bareng para ipar dan keluarga besar lain. Semoga saya dan para ipar bisa tetap langgeng Bestie-an sampai masa golden age and beyond juga. Aamin YRA

    Reply
    • Betul. Sudah sekitar 5 tahun ini HNP itu ketahuan. Penyebabnya adalah karena dari semasa kecil saya sering jatuh oleh berbagai sebab. Efeknya baru terasa sekarang. Itu kalau sudah kumat, nauzubillah sakitnya. Makanya saya terus berjuang “meringankan tubuh” supaya tidak terseok-seok atau merepotkan orang lain untuk memindahkan saya.

  8. Beruntung banget geng ngelencer ini ada ka Annie.. karena uda bisa dipastikan gakkan melewatkan momen foto-foto cantik nan estetik dari kamera terbaik ka Annie.
    Beneran cakeepp cakeepp banget!

    Ya cakep kebersamaannya.
    Susah senang bersama. Meskiii ka Annie jadi pupuk bawang yaa..
    Hihihi.. aku sebenernya berdosa ngetawain ka Annie, karena aku sendiri beneran gak suka ditaruh di bagian belakang kalau di perjalanan. HUhuhu.. tapi sebagai nasib anak bungsu, pastilah selalu aku yang jadi korban. Uhhuukk!!

    Kusuma Kopi Semarang ini unik banget yaa, ka Anniee..
    Menyediakan paket lengkap!
    Paket makanan, minuman dan kenangan.

    ((aaiihh….sedaapp!!))

    Reply
    • Hahahaha bener banget Len. Mungkin juga karena mereka tidak tahu kalau saya penderita HNP yang seharusnya gak bisa duduk di tempat yang kurang nyaman. Tapi gapapa, gak mungkin jugalah ya meminta privilege sementara ada beberapa ibu-ibu yang lebih “berhak” duduk di bangku yang lebih nyaman.

      Saya juga pengen banget ngulang berkunjung ke sini. Pengen ke sini bareng teman dekat buat ngobrol-ngobrol lebih akrab sebebas mungkin. Atau sendirian pun juga ok karena semua pelayan di sini tuh baik-baik dan ramah-ramah. Ngobrol sama mereka juga bisa jadi waktu yang berharga.

Leave a Comment