

Cerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasional | Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) & Book Review | Maret 2026
Melanjutkan kesuksesan buku antologi ke-8 PAPI yang berjudul dari Garasi ke Galeri, dua belas orang penulis yang bernaung di komunitas PAPI memutuskan untuk melanjutkan misi mengangkat kisah kesuksesan UMKM Indonesia lewat buku Cerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasional
Tidak mudah memang menyusur data dan mencari referensi agar menemukan materi dan atau obyek bahasan yang tepat untuk penulisan buku ini. Tapi bukan tidak mungkin. Semua, apa pun itu, jika diniatkan bersama dengan rangkaian kemauan yang juga baik, selalu akan menemukan jalannya.
Satu persatu preferensi didatangkan dari berbagi sumber. Lewat media sosial, penelusuran lewat beberapa orang yang dipercaya memiliki jaringan bisnis yang luas, para pembina UMKM, hingga meminta beberapa daftar referensi ke Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang tentunya menyimpan sekian banyak nama usaha yang layak untuk dibahas. Untuk menembus Bekraf pun tentunya tidaklah mudah. Butuh “jalur dalam” dan profil pemohon data yang trustable agar daftar usulan tersebut dapat digunakan dengan penuh tanggung jawab.
Saya cukup beruntung karena Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI), lebih dari setahun belakangan ini, sudah menjadi bagian dari Bekraf khususnya di dalam divisi penerbitan di bawah koordinasi Bapak Imam Sentosa (Direktur Bidang Penerbitan dan Fotografi Bekraf). Keterhubungan inilah yang memungkinkan PAPI dibantu oleh divisi ini agar terhubung dengan tim lain dari Bekraf yang khusus menangani dan membina ratusan usaha di bidang ekonomi kreatif.
Untuk itu, atas nama dua belas orang penulis dan PAPI sebagai komunitas penulis serta organisasi yang menceburkan diri di dunia literasi, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu membukakan pintu agar buku ini dapat dan layak dihadirkan kepada publik.


Perjuangan Membangun Kepercayaan
Terlepas dari rencana lebih memperkenalkan para pengusaha ini kepada publik lewat buku antologi, karya tulis keroyokan ini mengajak PAPI untuk senantiasa konsisten di ranah non-fiksi dengan tujuan akhir melahirkan produk literasi yang berkualitas dan berisi.
Memahami aturan bertamu ke rumah orang lain, kami tentunya harus dan wajib mempresentasikan diri sembari menguraikan maksud kedatangan. Pemahaman inilah yang kemudian saya sampaikan dan disadari oleh rekan-rekan penulis sebagai bagian dari tanggung jawab profesi. Dan pastinya ini menjadi bagian dari tata krama meski kebermanfaatan maksimal akan lahirnya buku ini lebih berfokus kepada apa dan siapa yang diulas di dalam buku.
Obrolan pembuka pun dihadirkan. Satu demi satu agar setiap rumah yang kami ketuk mau membukakan pintu dan menerima kedatangan kami dengan tangan lebar. Sementara kegiatan ini berjalan, diskusi internal lewat WhatsApp Group di antara penulis pun dibangun seefektif dan seefisien mungkin. Saya pun rutin mengirimkan reminder, melakukan pengecekan serta koordinasi berulang kali, dan memastikan bahwa semua penulis bekerja right on the track.
Misi mengetuk pintu ini ternyata tidaklah mudah. Persis seperti apa yang saya bayangkan. Beberapa di antara UMKM yang direferensikan (tetap) meminta proposal resmi yang menjelaskan visi dan misi tentang buku yang akan dilahirkan. Itu pun ada yang tidak langsung ditanggapi. Sementara proses produksi dan date-line sudah dalam hitungan hari. Tapi ini justru menjadi perihal yang menantang meski pada akhirnya tim penulis harus bersikap dan mengambil keputusan penting di detik-detik terakhir.
Manajemen kerja pun kemudian harus diaplikasikan. Jika komunikasi yang sudah terbangun tidak mencapai kesepakatan dan berubah menjadi burden bagi kedua belah pihak khususnya penulis, langkah berikutnya pun harus segera diambil. Penulis diharapkan bisa memindahkan obyek (dalam hal ini UMKM) yang berbeda dan tidak berhenti di jejak yang sudah tidak bisa lagi dirubah.
Catatan penting dari semua hal di atas adalah bahwa membangun kepercayaan itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Untuk urusan apa pun itu. Penafsiran yang tentunya awam berlaku di dalam masyarakat. Bahkan untuk satu hal gratis, tanpa biaya, tanpa tuntutan, dan yang termudah sekalipun.
Menyajikan niat baik pun juga ada tantangannya. Selalu ada tanda tanya yang mengiringi. Tepatnya dugaan yang akhirnya berwujud jadi kendala.
“Beneran nih gratis? Hari gini kegiatan promosi bisa tanpa biaya? Yakin?”
“Aman gak sih? Bakalan kebongkar gak sih jeroan usaha gue kalau ditulis di buku ini?”
“Jangan-jangan nanti bukunya gak terbit. Omdo aja kali proyek ini?”
Semua pertanyaan ini manusiawi sih menurut saya. Usaha apa pun itu wajib berhati-hati. Maklum merebaknya berbagai penipuan banyak sekali muncul di lingkungan kita, mewajibkan kita untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Kami pun nyatanya tak lepas dari dugaan ini. Jangan sampai waktu yang sudah dihabiskan untuk riset, menunggu kepastian berdiskusi, dan menghabiskan waktu menyusun naskah, justru harus berakhir karena data yang tidak lengkap atau tidak sesuai dengan fakta. Ini sejatinya adalah perjuangan yang saya dan kesebelas penulis lainnya rasakan yang sudah berkomitmen untuk menggarap tujuh belas naskah Cerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasional, agar selesai tepat pada waktunya.


Mereka yang Berkenan Tampil di Buku Ini
Melewati masa-masa yang cukup menantang selama dua bulan masa penulisan, dua belas orang kontributor dari komunitas PAPI berhasil merampungkan naskah untuk tujuh belas UMKM yang berkenan dihadirkan di buku Cerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasional ini.
Satu yang membuat saya merasakan sebuah keistimewaan atas buku ini adalah hadirnya sekian banyak UMKM dari berbagai sisi nusantara. Mulai dari Sumatera Barat, Palembang, Jakarta, Bandung, Bogor, Kelaten, Jogjakarta, Palangkaraya, Bali, Ternate, hingga Sumba. Jadi meliputi pulau Sumatera, Jawa, Bali, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.
Deretan jenama yang dihadirkan meliputi Mysari Pala (Bogor), Kunang Jewelry (Bali), Irna La Perle (Bandung), Saraswati Papers (Bali). UNICI Songket – Silungkang (Sawahlunto, Sumatera Barat), Balango Galogandang (Sumatera Barat), Merapi Mountain (Jakarta), Kimibag (Klaten – Jawa Tengah), kedai Gang Selera (Bandung), Herbaria (Yogyakarta), Indang Apang (Palangkaraya), Patera (Palembang), Berdikari Home (Jakarta), Rubysh Jewelry (Bekasi), DeyaZ Snack (Jakarta), ManaMu (Sumba), dan Kagounga (Ternate – Maluku Utara).
Produk milik UMKM yang diulas juga sangat beraneka rupa. Ada papeda/popeda instan, anyaman khas Sumba yang diaplikasikan pada dekorasi ruangan, camilan, perhiasan creative handmade berbahan dasar limbah, kebutuhan rumah tangga, produk rotan, ecoprint, flower art, kedai makan usaha rumahan, tas yang menjadi core business dari sebuah pondok pesantren, produk untuk kegiatan hiking dan pecinta alam, budaya tanah liat, wastra (songket) khas Silungkang, pengolahan dan produksi kertas daur ulang, fashion muslim eksklusif, dan ragam kudapan berbahan dasar buah pala.
Seru banget kan ya? Serasa sedang menyusur sekian banyak usaha pembangkit sekaligus penyemarak ligatnya ekonomi nasional dari sisi barat hingga timur nusantara. Bisa membayangkan dong bagaimana serunya saat berada di posisi saya yang menjalankan tugas sebagai editor atau penyunting buku ini? Berjam-jam saya terbenam dalam naskah panjang sembari tak henti mengagumi sepak terjang setiap usaha.
Semua sangat inspiratif dan mengajak pembaca untuk menyadari tentang bagaimana membangun sebuah bisnis yang berangkat dari nol, merintis dalam masa tahunan, memiliki kekuatan branding, mempertahankan keunikan serta budaya, ciri khas yang kuat, dan manajemen pengelolaan yang mumpuni. Semua memiliki sejarah, cerita, jejak langkah yang patut kita runut sebagai contoh nyata dari sebuah usaha.
Jadi jika kamu masih ragu membangun usaha sendiri dan mengukir keberhasilan yang tak sekedar eksis? buku Cerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasional ini lebih dari pantas untuk dimiliki. Sebagai bagian dari UMKM yang masih merangkak menggapai asa dan impian, saya pun belajar banyak dari semua jenama yang ditampilkan di buku ini.





Tim Hebat yang Ikut Membidani
Saya bangga bisa membersamai rekan-rekan penulis Dudi Iskandar, Indah Wibowo, Salmanbiroe, Ari Dian Aryono, Raihana Mahmud, Rurisa Hartomo, Dilla NFD, Mina Megawati, Temmy Arthapuri, Ifah Arthur, dan Marita S. Sudarmo untuk bersama-sama membidani lahirnya buku ini. Mereka lah sejatinya para penulis hebat dan aset berharga yang dimiliki oleh PAPI.
Mereka jugalah yang dengan setia bergandengan tangan, menulis bersama, menyiapkan lembar demi lembar naskah, lalu menabung kesabaran selama tiga bulan masa produktif dan proses kreatif, agar antologi ke-2 tentang UMKM Indonesia setelah dari Garasi ke Galeri ini bisa terselesaikan sesuai rencana awal.
Masing-masing hadir dengan gaya menulis dan pilihan diksi yang berbeda-beda dengan sentuhan personal agar setiap usaha yang mereka wakilkan menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak, mulai dari lembaran awal – halaman pertama – hingga lembaran akhir – di halaman ke-247.
Terima kasih kawan. Jangan pernah letih untuk tetap menulis, membersamai PAPI dalam menjejak dunia literasi dan terus aktif terlibat melestarikan kehadiran buku cetak serta budaya membaca di tanah air. Sekarang dan di tahun-tahun mendatang.



IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com



Kabarnya, UMKM ini merupakan penyokong kekuatan ekonomi Indonesia. Selama UMKM masih tumbuh subur, InsyaAllah perekonomian kita akan baik2 saja
Terharu saya membaca cerita yang disampaikan Mbak Annie. Apa yang ditulis memang saya rasakan, benar terjadi dalam proses kepenulisan. Perlu membangun kepercayaan dengan para pelaku UMKM. Di antara mereka ada yang belum mengerti niat baik penulis untuk menjadi support system mereka. Menulis UMKM edisi ke-2 ini menambah adrenalin saya. Namun, setelah selesai, saya merasakan kelegaan karena berhasil mengangkat dua UMKM dan saya banyak belajar juga dari mereka. Terima kasih PAPI yang sudah memberi ruang bagi kami untuk berkarya bersama.
Proses perjuangan itulah yang akhirnya melahirkan karya yang begitu berkesan buat diri kita pribadi ya Mbak. Justru dengan begini kita mendapatkan rangkaian pengalaman yang memorable sepanjang karir kita sebagai penulis.
Saya pun berada di proses itu. Mengalami masa awal “mengetok pintu” kemudian mendekatkan diri dengan konsep buku, melakukan approaching yang mengarah ke value dari UMKM yang akan dibahas, hingga akhirnya berbincang langsung untuk menguatkan pemahaman kita. Semua didukung oleh riset off-line supaya tulisan kita punya greget yang berbeda.
Berada di posisi juru kunci sebagai penulis yang tergabung dalam buku antologi bertema โCerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasionalโ. Ini kali pertama saya bergabung dengan PAPI menulis artikel bertema UMKM. Mungkin saya termasuk beruntung mendapatkan narasumber yang koperatif saat saya menyampaikan bahwa usahanya Mysari Pala Bogor Kudapan Buah Pala saya angkat ke dalam buku antologi UMKM. Saya juga merasakan para penulis berjuang dengan caranya masing-masing untuk menulis sebaik mungkin tentang UMKM yang mereka ulas. Akhirnya buku ini telah selesai melalui proses yang harus diperjuangkan untuk terbit. Alhamdulillah saat ini kami tinggal menunggu proses cetak. Mengucapkan terima kasih kepada Mbak Annie Nugraha yang sudah menerima saya dengan tangan terbuka untuk bergabung bersama PAPI.
The pleasure should be mine and PAPI Mbak Marita. Terima kasih sudah berkenan bergabung dengan komunitas penulis yang menghadirkan banyak karya tulis di ranah non-fiksi seperti halnya buku ini.
Keep writing with us ya Mbak. Karya-karya Mbak Marita punya deep contribution yang inshaAllah membawa salah satu titik penting untuk PAPI.
Satu kata untuk bukunya, “awesome! ” Semoga memberikan pada pelaku UMKM lainnya.
Alhamdulillah. Semoga jadi berkah dan manfaat bagi banyak orang.
Luar biasa PAPI, selalu konsisten menelurkan karya yang berdampak luas. Semoga saya bisa berkontribusi segera, pingin banget deh nama saya tercantum bersama teman-teman penulis hebat PAPI.
Yuk Mas Adi. Saya menunggu kontribusi Mas Adi di banyak buku yang dilahirkan PAPI. Mari kita berdampak dan menyebar manfaat serta bacaan yang berkualitas bagi banyak orang.
Senang nih ada wadah promosi dalam bentuk buku utk menyampaikan informasi umkm di seluruh indinesia. Tinggal marketingnya untuk membuat buku ini laris manis ketingkat nasional.
Apresiasi buat PAPI, apalagi ternyata udah jadi bagian dari Bekraf. Ini langkah sekaligus amanah yang perlu dijaga dengan apik pastinya. Sebab bener, seperti yang Bu Annie sampaikan merawat kepercayaan itu nggak mudah, tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan, apalagi ada para brand dari pelaku usaha yang kisahnya diangkat.
Sukses terus PAPI, dan semoga berkesinambungan hubungan simbiosis mutualisme ini.
Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga setiap buku yang dilahirkan oleh PAPI dan ANM membawa berkah dan menjadi manfaat bagi orang banyak.
baca tulisan Mbak Annie ini jadi inget waktu nonton drakor The art of Sarah
ceritanya tentang masyarakat Korea yang tergila-gila tas branded, karena mereka gak punya pilihan seperti kita
Di Indonesia yang kaya ragam budaya ini, justru mereka yang pakai produk UMKM akan mendapat apreasiasi. Mereka well educated, karena memahami nilai (bahan baku dan prosesnya) setiap produk
Semoga UMKM senantiasa lestari dan eksis di tanah air ya Mbak. Memberikan dan melahirkan dampak ekonomi yang berkesinambungan, baik lagi pelaku maupun publik yang menikmati produknya.
Salut dan bangga atas kerja keras tim yang membidani buku “Cerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasional”. Menilik proses panjang yang dijalani tidaklah mudah, tapi dengan niat baik akhirnya lahir buku yang bisa jadi referensi komprehensif untuk memajukan sektor UMKM di Indonesia.
Sukses untuk UMKM Indonesia, para penulis dan PAPI yang telah menjembatani!
Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga nanti kedepannya PAPI dan ANM bisa menghadirkan banyak buku bermanfaat bagi dunia literasi ya Mbak. Makasih untuk doa dan dukungannya selalu.
Bener seperti yang ditulis Mbak Annie, proses “ketuk pintu” itu sesuatu banget. Belum lagi setumpuk keraguan dari pelaku UMKM. Alhamdulillah, mereka terbuka dan berkat kerja keras para penulisnya, jadi kisah perjuangan UMKM bisa diangkat dalam antologi PAPI ke-8. Kisah perjuangan mereka semoga menjadi inspirasi bagi pegiat UMKM lainnya.
Mudah-mudahan dari semua tantangan yang dihadapi, para penulis jadi menabung banyak hal dalam proses nya, menjadikan buku ini satu produk literasi yang membawa berkah dan manfaat bagi semua yang terlibat dan mereka yang membacanya.
Bisa dibilang ini versi lanjutan dari Garasi ke Galeri ya Yuk Annie?
Semoga makin laris dan bisa jadi ajangsana promosi gratis bagi para pelaku UMKM yang sudah mau berbagi rahasia kesuksesannya.