Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku “dari Bumi Nusantara ke Piring Kita”

Photo of author

By Annie Nugraha

Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"

Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku dari Bumi Nusantara ke Piring Kita | Book Review | April 2026

Buku Ini Bermanfaat Untuk

Menambah Wawasan : Kenali 66 jenis tumbuhan pangan lokal Nusantara. Mengetahui hal secara terperinci : Pelajari detail setiap tanaman dan olahannya dari 7 wilayah berbeda. Menemukan hal-hal baru : Temukan makanan yang belum pernah kamu coba sebelumnya. Berpetualang tanpa batas : Semua informasi menarik ini bisa kamu jelajahi tanpa keluar rumah. Mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas : Dilengkapi dengan gambar-gambar berwarna yang memanjakan mata dan menambah keseruan membaca.

Rangkaian blurb yang saya baca di toko buku Post di Pasar Santa, Jakarta Selatan inilah yang membuat saya tak ragu untuk mengadopsi buku dari Bumi Nusantara ke Piring Kita. Buku ensiklopedia yang dikemas hard cover, berukuran 26×31 cm yang ditulis secara cermat oleh Maria Stephanie dengan ilustrasi yang dikerjakan oleh Widyasari Hanaya dan diterbitkan oleh Guru Bumi, Taman Belajar Seru, dan Bermakna, asal Jogjakarta.

Saat berada di tangan, pihak toko buku Post mengijinkan saya membuka dan menyusur lembar demi lembar yang penuh ilustrasi, warna alam, dan rangkaian kata serta kalimat yang sangat mudah untuk dipahami. Jadi tak heran ya jika buku dari Bumi Nusantara ke Piring Kita ini cocok untuk dimiliki anak-anak di usia 9 (sembilan) tahun ke atas karena dapat membantu membangun karakter anak dan kebiasaan membaca yang menyenangkan. Anak-anak tak hanya disuguhkan ribuan data keilmuan tapi juga menikmati banyak gambar yang mewakili tentang apa yang sedang dia baca. Dominasi warna hijau pun membuat buku ini terasa membumi, sedap dipandang mata, dan melahirkan rasa adem serta sejuk yang membuat kita betah untuk terus membaca.

Mereka dan kita diajak mengenal 66 jenis tumbuhan sembari menjelajah kekayaan pakan nasional dan berbagai olahan dari 7 wilayah yang bisa jadi baru kita ketahui dan kita pahami lewat buku ini. Termasuk saya tentu saja.

Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"

Kenangan dan Tentang Ensiklopedia

Saat anak-anak saya di usia SD, “jajan” ke toko buku tuh hampir setiap akhir pekan. Saya saat itu masih jadi budak korporat yang kerjaannya bantuin banyak orang, banyak departemen, banyak boss. Sibuk sampe antah berantah dan gak kepegang buntutnya. Selain menghujani anak-anak dengan mainan, jajan buku ini jadi salah satu kompensasi saya atas waktu dan perhatian ke mereka yang sempat hilang.

Toko buku yang populer saat itu hanya Gramedia. Hampir memonopoli penjualan buku di nusantara dengan jejaring yang sangat luas, Gramedia juga menghadirkan pilihan mainan dan stationeries yang bikin anak-anak saya betah berlama-lama. Koleksi bukunya juga lengkap banget.

Salah satu jenis buku yang (sangat) disukai anak-anak saya adalah Ensiklopedia. Buku berjudul WHY, selalu jadi pilihan. Entah berapa jilid saya adopsi dan nyatanya memang terus dibaca ulang oleh mereka. Hingga di satu waktu buku-buku itu saya sumbangkan ke beberapa taman bacaan karena anak-anak sudah berubah kegemarannya dan kami pun harus pindah rumah.

Jadi terus terang, buku ensiklopedia ini tuh menyambungkan kenangan akan masa kecil anak-anak saya yang dulu gila beli buku dan gila baca.

Bahkan saat saya membeli buku dari Bumi Nusantara ke Piring Kita di toko buku Post Pasar Santa bersama si bungsu, dia tampak tersenyum penuh arti. Ingatannya langsung terhubung dengan rangkaian memori yang saya ceritakan di atas.

“Sayang banget ya Bun, buku-buku WHY adek dulu dikasihin ke orang,” ujarnya dengan sorot mata berkabut. “Kan mahal-mahal itu bukunya. Ada yang seri-an pulak. Habis berapa itu duitnya?”

Saya tersenyum. “Dulu kan belanja buku jadi hiburan sekalian jalan-jalan akhir pekan. Bunda juga masih gajian. Gapapa. Lagian itu kan investasi ilmu.”

“Keknya dulu pernah punya buku tentang tanaman dan makanan-makanan seperti ini.”

Saya mengangguk. “Tapi dulu ilustrasinya gak semeriah seperti buku ini. Teknologi digital dan drawing skill di jaman itu belum secanggih sekarang. Penata kreatif nya masih menghadirkan gambar atau ilustrasi yang dikerjakan manual atau foto sederhana saja. Pelaku dunia kreatif pun masih terbatas. Sekarang bahkan ilmu seni murni sudah tersaingi oleh DKV.”

“Sesuailah dengan kemajuan jaman.” Balas si bungsu singkat dan tepat.

Saya sempat terdiam sesaat. It’s indeed so true and I couldn’t agree more.

Semua memang berubah. Jangankan teknologi, seni dan sebab akibatnya, serta setiap personal yang tercebur di dalam nya pun ikut terseret kemajuan jaman. Gak mau atau gak bisa berubah? Kita akan hilang, tergerus, dan ditelan jaman. Kecuali yah kamu adalah seorang maestro yang kehadiran mu menghentak dunia, tercatat sebagai legenda, dan keahlian mu tidak tergantikan. Sustain sepanjang masa.

Buku ensiklopedia yang satu ini bisa jadi contohnya. Menyadari bahwa buku ini telah menjelajah Sumatera, Jawa – Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, tak terbayangkan berapa lama rentang waktu dan tenaga riset yang harus dilakukan. Betapa rangkaian seni mengulik catatan lama dan menggali banyak sumber sahih (pustaka maupun tinjauan lapangan langsung) agar bisa dan layak menggenggam gelar sebagai buku ensiklopedia.

Lewat profil dan deretan team work yang ada di halaman terakhir, buku yang dicetak pertama kali di 2024 kemudian dicetak lagi pada 2025, menampilkan wajah-wajah generasi sekarang dengan latar belakang ilmu yang gak kaleng-kaleng.

Maria Stephanie sang author, punya background pendidikan formal dengan gelar Master of Philosophy dalam Food Science. Keren gak tuh. Selain tentu saja memiliki pengalaman sebagai peneliti lepas yang bersinergi dan terlibat langsung dengan para petani, produsen, aktivis, dan akademisi yang bergerak di bidang food science. Termasuk di antaranya mendokumentasikan pangan lokal dalam rangka kelahiran buku ini. Steffi, begitu dia biasa dipanggil, bisa kita telusuri profile nya di IG @ssshteffi. Kali aja ada yang mau berkenalan lebih jauh kan.

Sementara sang ilustrator, Widyasari Hanaya, IG @widyasari_h adalah lulusan DKV ISI Jogjakarta yang sudah malang melintang dengan banyak pengalaman di dunia literasi dan bekerja sama dengan berbagai lembaga independen serta Kementrian dan Kementrian Kebudayaan RI.

Dari tangan-tangan midas merekalah buku referensi pendidikan kekayaan pangan nusantara ini hadir dengan begitu apiknya.

Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"

Menyusur Isi Buku

Mengutip beberapa baris kalimat yang dihadirkan oleh Ester Dwi Wulan Nugraheni, ibu rumah tangga, pegiat kebun pekarangan dan pangan lokal, IG @kebuncandi, di bagian Kata Pengantar, ada sekian makna yang menyadarkan kita tentang serangkaian alasan kuat agar buku dari dari Bumi Nusantara ke Piring Kita ini layak untuk dibaca dan menjadi salah satu koleksi ensiklopedia yang wajib untuk dimiliki. Kalimat-kalimatnya seperti ini.

“Mengenal dan mengkonsumsi makanan real food dari bahan pangan yang tumbuh di sekitar kita itu tak hanya memberikan asupan yang sehat untuk tubuh, tapi juga turut melestarikan tanaman-tanaman ini untuk tetap tumbuh dan dibutuhkan. Selain itu, dengan memanfaatkan sumber makanan yang lebih dekat, kita akan menghasilkan sampah yang sedikit pula”

Mengena sekali ya pesannya.

Ada yang paham tentang makna dari Pangan Lokal yang akan diurai di setiap lembar buku? Pengertiannya adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal.

Saya menggaris bawahi tentang potensi dan kearifan lokal itu ya. Karena apa? Karena bisa jadi bahan mentah yang sama ada di berbagai tempat tapi kemudian diolah dengan cara berbeda dan hadir dengan nama yang berbeda pula. Seperti contohnya Papeda. Ada yang menyebutnya Popeda karena ada di tanah yang berbeda juga.

Tapi ini akan beda kasusnya jika pangan lokal itu sifatnya Endemik alias hanya ditemukan di tempat yang bersangkutan. Tak ada di tempat lain. Nah, ini nih yang menarik sangat karena kita hanya punya kesempatan untuk melihat dan mencicipi pangan tersebut di tempat di mana dia tumbuh dan berasal.

Jujurly, di usia yang sudah setua ini, saya masih menemukan banyak tanaman yang baru saya lihat di buku ini. Ada juga yang pernah saya temui tapi saya tak paham namanya. Atau serasa pernah lihat tapi tak mengerti bahwa tanaman itu bisa dimakan atau diolah menjadi sesuatu yang layak untuk ditelan.

Jadi saya memutuskan untuk membahas secara singkat tentang aneka pangan lokal tersebut saja.

Sumatera

Ini tentang tanah kelahiran saya. Ada beberapa pangan lokal yang diolah di pulau ini dan menghadirkan kesan istimewa pada indra pengecap dan perasa saya. Seperti Ayam Tangkap asal Aceh, Dekka Na Niarsik/Arsik Ikan Mas dai Sumatera Utara, Sambal Terasi Rampai/Sambal Cung dari Lampung dan Sumatera Selatan, Sambal Kabau Teri dari Bengkulu, Lempuk/Lempok Durian dari Riau, Taula Gambuang asal Sumatera Barat, Ikan Lempah Nanas dari Bangka Belitung, dan Kopi Tuak dari Jambi.

Dari serangkaian tumbuhan atau bahan yang menjadi salah satu bahan dasar masakan di atas, saya terpaku pada beberapa yang saya sebut berikut ini.

Kabau/Kabeu dalam bahasa Bengkulu dan Jaling-Jaling dalam edisi orang Lampung. Tanaman bersilinder pendek, kulit hitam pekat, biji berdiameter sekitar 1cm dan tebal, serta berbau tajam ini, saya kenal dengan nama Kabau. Biasanya dinikmati mentah dan dihidang bersamaan dengan sayuran mentah/lalapan. Jika tak kuat dengan pete atau jengkol, jangan coba-coba menikmati Kabau ini ya. Bau nya yahud betol. Tapi di banyak tempat di Sumatera Selatan, khususnya kampung-kampung pedalaman, Kabau tuh lebih digemari ketimbang pete atau jengkol. Ada yang pernah nyoba?

Satu lagi yang istimewa di Sumatera, khususnya Sumatera Utara adalah Andaliman. Yang dikenal sebagai merica Batak. Bahan baku ini terhitung sebagai tumbuhan endemik di Sumatera Utara. Bentuknya bulat kecil, bergerombol, dan selalu hadir di sebagian besar masakan/menu Batak. Begitu kuatnya image Andaliman, namanya sendiri sering sekali digunakan sebagai nama restoran khas Batak atau di beberapa rumah makan di kawasan Sumatera Utara.

Satu lagi yang begitu saya perhatikan adalah Rampai/Cung Kediro. Tanaman ini tumbuh liar di Sumatera Selatan dan Lampung. Ukurannya sebesar kelereng, sekeluarga dengan tomat tapi kulitnya lebih tipis. Cung Kediro biasa dihidangkan mentah atau dicampurkan dengan sambal. Di kampung alm. Ayah saya, Pagaralam, Cung Kediro jadi lalapan wajib. Bahkan di rumah saya pun, yang di Palembang, sambal Cung Kediro tuh selalu hadir. Saya suka krenyes-krenyes nya. Apalagi saat digigit dan meletup di dalam mulut lalu dibarengi dengan sambal. Woah nikmat tiada tara.

Dari sekian banyak yang dihadirkan untuk Sumatera, saya tidak menemukan Tempoyak. Durian yang difermentasikan. Padahal tempoyak tuh, sekarang, sudah jadi kebanggaan orang Sumatera. Kadang dinikmati langsung, dicampur sambal, lalu diulen bareng nasi. Kadang juga jadi tambahan bumbu untuk masakan berkuah. Seperti pindang. Jadi ada pindang ikan tempoyak, pindang iga tempoyak, dan masih banyak lagi.

Menuliskan ini membuat rasa rindu saya akan kampung halaman jadi tambah-tambah. Susah soalnya mencari masakan dengan campuran tempoyak di Cikarang (tempat saya tinggal), bahkan di Jakarta. Jika pun tersedia, rasanya tidak seenak yang bisa dinikmati di Palembang.

Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"

Jawa – Bali

Dari bahasan tentang tanaman yang ada di kedua kawasan ini. saya mencatat beberapa yang jadi banyak perhatian dan penggunaan publik. Di antaranya adalah Daun Jati yang biasa digunakan untuk membungkus makanan agar tidak mudah basi. Kemudian ada Ranti/Leunca, Lengkuas/Laos, Teh/Camellia, Kencur/Cikur, Kacang-kacangan seperti kacang tanah dan polong-pologan seperti Gude, lalu Anggur Laut – sejenis rumput laut yang bisa dimakan mentah.

Ragam makanan khas Jawa dan Bali juga dihadirkan. Seperti Tempe & Tahu Bacem, Ulutukek Leunca Oncom, Teh Melati, Jamu Beras Kencur, Sego Berkat, Jukut Undis (hidangan sayur berkuah khas Kabupaten Buleleng di utara Pulau Bali), Sate Madura, dan Rujak Bulung Kuah Pindang.

Daerah di Luar Sumatera, Jawa, dan Bali

Selain Sumatera, Jawa – Bali, masih banyak lagi aneka tanaman yang menjadi keistimewaan dan kekayaan alam yang dimiliki oleh nusantara kita tercinta. Seperti di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Semua kekayaan tumbuhan tersebut dijelaskan satu demi satu, lembar demi lembar, dengan uraian keunikan, keistimewaan, fungsi serta manfaatnya bagi kesehatan dan olahan masakan daerah setempat. Kita juga diajak untuk mengetahui banyak fakta menarik serta masakan-masakan yang dibuat dengan bahan-bahan lokal tersebut.

Tradisi Masyarakat Lokal

Di satu bagian tertentu kita diajak untuk mengenali beberapa tradisi di setiap daerah yang menghubungkan kita dengan tanaman lokal ini. Satu yang baru saya ketahui adalah Tradisi Bakar Batu di Papua. Tradisi ini diadakan di kawasan pegunungan tengah yang meliputi Provinsi Papua Tengah dan Papua Pegunungan. Penamaannya pun beragam. Disebut Mogo Gapil oleh masyarakat Paniai, Lago Lakwi oleh Suku Lani, dan Kit Oba Isago oleh masyarakat Wamena. Acara adat ini dihadirkan sebagai simbol kebersamaan, diadakan dalam rangka menyambut tamu penting, memperingati hari suci seperti natal dan paskah, dan sebagai wujud perayaan atas beberapa peristiwa penting kehidupan seperti pernikahan, kelahiran, dan kematian.

Beneran membuat ilmu pengetahuan kita akan kekayaan bumi dan budaya nusantara semakin bertambah ya.

Buku Ilmu Pengetahuan Untuk Publik Nusantara

Sependek yang saya tahu, generasi sekarang lebih menyukai pusat informasi dan ilmu pengetahuan yang bukan hanya menghadirkan untaian kalimat. Kehadiran ilustrasi berwarna dengan presentasi yang menarik, kekinian, dan proporsional, mendorong mereka untuk lebih menyukai buku.

Buku Ensiklopedia dari Bumi Nusantara ke Piring Kita ini adalah salah satu yang – menurut saya – memenuhi kriteria tersebut. Jenis huruf yang digunakan jelas meski untuk saya yang berumur sedikit kekecilan. Layout nya juga begitu tertata dengan peletakan dan atau komposisi yang pas.

Dicetak hard cover juga oke banget. Pengerjaannya rapi dan mudah untuk digenggam. Ukurannya yang besar barangkali terlihat merepotkan tapi menurut saya ini masih masuk ukuran kegemaran anak-anak. Karena buku bisa dibuka 180′, terbentang dengan baik di atas meja, atau bisa dipangku seperti posisi yang (sangat) disukai anak-anak.

Buku ini juga seharusnya nangkring di banyak toko buku dan perpustakaan. Jadi buat mereka yang tidak punya dana lebih untuk mengadopsi, bisa turut membacanya di ruang publik.

Saya mengutip kalimat pemilik toko buku Post saat saya mendekap kemudian membayar buku ini di kasir.

“Pilihan jitu Bu. Saya sempat stok banyak buku ini dan ternyata laris. Banyak juga anak-anak yang suka,” ujarnya dengan wajah berbinar.

Saya langsung mengangguk. “Kalau buat saya, seorang food blogger, buku ini tuh sangat membantu sekali Pak. Saya jadi ikutan nambah ilmu. Supaya ulasan saya akan masakan nusantara bisa terus berkembang.”

Beliau langsung menjabat tangan saya dengan senyum manis yang luar biasa bersahabat.

Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"
Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"
Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"

Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"
Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"

Menjelajah Kekayaan Pakan Lokal Lewat Buku "dari Bumi Nusantara ke Piring Kita"

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Leave a Comment