
Belajar Adab dari Drakor Teach You A Lesson | Film Review | Juni 2026
Prior Statement: Foto-foto yang saya hadirkan di sini bersumber dari akun IG Netflix
Bertaburan drakor tentang perundungan anak sekolah yang sudah saya saksikan di berbagai aplikasi tontonan, tapi “Teach You a Lesson” meninggalkan kesan yang begitu dalam bagi saya. Apa sajakah itu?
Saat membaca judulnya saja, saya sudah punya feeling kuat tentang premis yang akan disajikan oleh drama ini. Apalagi kemudian diisi dengan banyak ulasan singkat dari beberapa portal berita nasional yang menghadirkan rangkaian informasi yang terus memancing rasa ingin tahu yang mendalam. Dan semua ini membuat saya makin tak sabar menantikan tanggal 5 Juni 2026. Karena di hari itulah Teach You a Lesson bakal ditayangkan. Promosi yang dilakukan Netflix di media sosial pun membuat rasa penasaran saya makin membuncah. Mereka menampilkan profil pemain, sekelumit tentang jalan cerita, dan promotional materials yang sangat “menggigit.”
Penantian itu terbayar manis saat seharian itu saya menyaksikan Teach You a Lesson dengan sepuluh episode secara maraton. Mulai dari nonton di meja kerja, berpindah ke kursi baca, ke kursi pijat, lalu berakhir di tempat tidur. Berjeda karena harus ke kamar kecil dan mandi, inilah kali pertama saya terhipnotis menonton drakor dengan tema ekosistem sekolah dan sebuah institusi yang ingin memberantas praktik-praktik yang tak manusiawi, tak wajar, dan penuh gejolak. Setiap episode came up with solution or certain ending. Jadi begitu datang episode baru kita bisa menikmati cerita yang berbeda.
Walhasil, saat menutup tablet sekitar pukul 03.00 WIB keesokan harinya, mata saya sempat ngambek gak mau ditutup. Kancilen kalo dalam bahasa Jawanya. Setiap keseruan dan pesan moral yang disampaikan di setiap episodenya nyantol di kepala. Kepikiran.
Yang pasti dari semua kesimpulan yang menutup setiap cerita, hal terpenting yang ingin disampaikan oleh drakor Teach You a Lesson adalah mengajak kita untuk senantiasa belajar tentang adab dan akhlak, tentang kasih sayang yang mendalam, tentang merendahkan ego, tentang betapa berharganya arti sebuah kehidupan, dan tentang cinta kasih.
Lalu apa saja yang membuat saya begitu terkesan dengan Teach You a Lesson?

1. Menghadirkan Empat Tokoh Sentral dengan Kepribadian yang Kuat
Lee Sung-min
Pertama adalah Lee Sung-min (Sung-min) yang berperan sebagai Choi Gang-seok (Gang-seok). Beliau ini adalah aktor berkelas dan masuk dalam jajaran pelakon Chungmuro. Gelar yang diberikan kepada aktor kehormatan karena kualitas acting yang mumpuni dan memiliki reputasi luar biasa pada industri layar lebar di Korea. Dan biasanya sebuah drama atau film yang dibintangi oleh seorang Chungmuro, akan laris manis. Atau setidaknya mendapatkan pujian dari para kritikus film.
Di Teach You a Lesson, Sung-min berperan sebagai Menteri Pendidikan Korsel sekaligus pemimpin tertinggi dari Biro Perlindungan Hak Pendidik (BPHP) yang menjadi sentral dari lembaga pengawasan sekolah dan anak didik.
Gang-seok adalah ayah dari Choi Ga-yun (Ga-yun) yang diperankan oleh Ha-young. Putri tunggal yang berprofesi sebagai guru dan mati tertusuk pisau oleh salah seorang murid yang sedang memiliki masalah mental, Cho Gyu-cheol (Gyu-cheol) yang diperankan oleh Lee Bong-joon (Bong-joon). Murid ini sedang berada dalam bimbingannya karena kasus kekerasan. Kematian Ga-yun menjadi salah satu alasan kuat Gang-seok untuk mendirikan BPHP.
Sung-min, lelaki kelahiran 1968 ini sudah mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi seperti Baeksang Arts Awards sebanyak empat kali. Kabarnya Baeksang ini menempati tahta tertinggi dari pemberian penghargaan atas prestasi aktor/aktris Korea Selatan. Selain Baeksang, Sung-min juga pernah mendapatkan penghargaan dari Blue Dragon Film Awards, Blue Dragon Series Awards, Blue Film Awards, Chunsa Film Arts Awards, dan masih banyak lagi lainnya. Saya sendiri sudah menonton banyak produk sinema yang dia lakoni dan tak sekalipun pernah kecewa dengan penampilannya.
Kim Mu-yeol
Aktor kelahiran 1982 dan bapak seorang anak ini di Teach You a Lesson berperan sebagai Na Hwa-jin (Hwa-jin). Seorang pengawas senior yang bekerja untuk BPHP. Hwa-jin juga adalah menantu dari Gang-seok, sang Menteri Pendidikan. Kecocokan di antara keduanya dan rasa kehilangan yang sama, membuat mereka sangat dekat. Hwa-jin sendiri masih belum bisa menghapus kenangan atas kematian istrinya yang tragis itu.
Di film ini dia memimpin satu tim khusus yang bergerak dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Mengupas masalah yang ada di sana. Kemudian menemukan pemecahan masalahnya. Dengan cara baik-baik atau dengan kekerasan jika perlu. Karena setiap sumber masalah yang disajikan di setiap episode tuh sangat beragam. Tapi yang pasti kehadiran dia di episode pertama sungguh fenomenal. Dia beradu otot dengan pelaku perundungan dengan mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi lalu menampar sang pelaku begitu kerasnya sampai terpental lumayan jauh. Sosoknya yang jangkung menggunakan tuksedo hitam begitu mengesankan.
BTW, saya sudah menonton banyak produk sinema yang diperankan oleh Mu-yeol. Diantaranya adalah The Roundup; Punishment, The Gangster – The Cop and The Devil, Eunyo, Queen Woo, dan Forgotten. Tapi yang paling berkesan buat saya adalah film Forgotten yang tayang di 2017. Yang pernah nonton film ini pasti paham bagaimana kuatnya tokoh kakak yang diperankan oleh Mu-yeol. Di film ini dia beradu acting dengan Kang Ha-neul. Salah seorang aktor Korsel kelas A yang juga populer di negeri ginseng tersebut.
Jin Ki-joo
Saya lupa apakah dulu saya pernah nonton film atau drama yang diperankan oleh Ki-joo selain di Teach You a Lesson ini. Ki-joo memerankan tokoh Im Han-rim (Han-rim), satu-satunya anggota perempuan di BPHP. Dia juga jago beladiri, cenderung nekat, suaranya lantang serta nyaring, dan taktis mengikuti arahan pemimpinnya. Mantan anggota pasukan khusus yang sengaja ditugaskan ke BPHP untuk memperkuat lembaga ini.
Tokoh Han-rim sendiri adalah perempuan jagoan, pemberani, dan banyak akalnya. Dalam satu episode Ham-rim menangani kasus perundungan di sekolah perempuan. Ada salah seorang pelajar yang playing victim, manipulatif, dan dengan kemampuannya mengecoh pemikiran orang lain. Tapi Han-rim tak mudah dijadikan korban. Termasuk saat menghadapi sekelompok pelajar yang jago di bidang teknologi. Kolaborasi dengan rekan kerjanya, membuat kehadiran tokoh Ki-joo semakin menantang.
Pyo Ji-hoon alias PO Block B
Lucu ya namanya. Tapi Ji-hoon ini memang lucu dan menggemaskan banget mukanya. Saya beberapa kali melihat acting Ji-hoon di drakor saeguk sebagai second role. Di Teach You a Lesson aktor kelahiran 1993 ini memerankan tokoh Bon Geun-dae (Geun-dae). Salah seorang staff BPHP yang bekerja erat dengan Han-rim. Karena kepintarannya di dunia teknologi, Geun-dae memegang posisi penting dalam mengumpulkan barang bukti digital. Baik berupa rekaman suara maupun video. Pekerjaannya jadi penting agar BPHP bisa menyeret para pelaku ke meja hijau lewat bukti-bukti yang diatur dan didapatkan oleh Geun-dae.
Dia sendiri tak pandai berkelahi seperti Hwa-jin atau Han-rim. Tapi dengan kepintaran, kecerdikan. dan wajah nya yang masih seperti anak SMA, membuat Geun-dae seringkali menjadi penyusup di tempat atau sekolah yang sedang diselidiki. Saya sempat khawatir saat dia “terpaksa” masuk ke satu lingkungan sekolah yang gila judi lewat gadget. Merinding banget melihat situasi pertemanan dan lingkungan toxic ini. Tapi Geun-dae berhasil berbaur dengan baik dan menelusuri siapa sebenarnya pelaku atau otak utama dari peristiwa ini. Meski terkadang dia sendiri harus menjadi salah seorang korban perundungan.

2. Drama Dihadirkan Secara Streaming
Poin ini menurut saya sangat penting. Saya suka serial drama yang dihadirkan/disiarkan “langsung habis” jadi gak perlu nunggu lama, berpindah hari atau minggu, yang mengakibatkan saya harus menunggu dan mati penasaran (mati?). Jadi seringkali, karena dua alasan itu, saya biasanya nonton 2-3 episode dulu sebagai preambule singkat. Jika tertarik, saya tunggu dramanya berakhir, baru nonton maraton. Kalo ternyata gak selera, ya sudah lah tak tinggalkan. Entar-entar aja disambung nontonnya.
Nah beda cerita kalau streaming seperti Teach You a Lesson ini. Netflix langsung menghadirkan sepuluh episode dalam satu hari penyiaran di tanggal 5 Juni 2026 itu. Konsekuensinya kalo ketagihan ya kek saya itu. Gak ada angin gak ada hujan, langsung semua episode dibantai. Bela-belain meninggalkan kerjaan hanya agar bisa konsen nonton drama ini.
3. Menghadirkan Sepuluh Cerita yang Menantang dan Dengan Premis yang Beragam
Baru juga di episode pertama, saya langsung terhenyak. Gimana enggak. Di sebuah sekolah yang megah nan mentereng dengan kondisi yang bersih dan terang benderang, ada murid, anak seorang pejabat pemerintahan bersama teman-temannya, menyiksa dua temannya habis-habisan. Meski sudah berulangkali nonton drama atau film sejenis, hati saya tetap aja ngilu melihat serangan yang membabi buta dengan banyak cipratan darah itu. Nyiksanya itu loh. Kejam banget.
Di tengah adegan perundungan itu, penonton diberikan kejutan.
Muncul seorang pria jangkung bertuksedo hitam, merengkuh leher si pelaku perundungan, mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi, lalu melayangkan telapak itu ke wajah si pelaku. Efeknya sungguh gak main-main. Si anak merah pipinya lalu terlempar lumayan jauh. Karena masih berusaha melawan dan berkata kasar, si anak diangkat kembali, digampar lagi, angkat lagi, gampar lagi, sampe dia tak berkutik. Pingsan di tempat.
Saya beneran dibuat terpana. Hebatnya lagi dengan kalimat menantang, sang pria bertuksedo hitam itu menatap kejam sang anak kemudian mengenalkan dirinya dengan dagu terangkat tinggi. Dialah Hwa-jin. Pengawas utama dari BPHP yang hadir sebagai pahlawan hingga sepuluh episode.
Selain premis tentang perundungan di episode awal, Teach You a Lesson juga menghadirkan sembilan kisah lain yang berhubungan dengan ekosistem sekolah. Mulai dari TK sampai dengan SMA. Ada yang mengulas tentang egosentris orang tua/wali murid yang menekan para guru dan membuat sang pendidik bahkan sekolah terintimidasi sekaligus. Lalu ada kisah ambisi orang tua yang ingin anaknya masuk perguruan tinggi tertentu, menekan anaknya belajar sana-sini, gak kenal waktu, sembari kasih vitamin yang katanya bisa menguatkan konsentrasi. Belakangan diketahui vitamin ini adalah sejenis psikotropika yang dilarang.
Ada juga sekolah teknik, mungkin sejenis STM gitu ya. Yang anak-anaknya super begajulan dengan tampilan yang yaaahh begitu dah. Tanpa takut anak-anak tiap hari nantangin gurunya buat adu jotos. Kemudian ada lingkungan sekolah yang anak-anaknya gila main game di HP. Permainan yang ujung-ujungnya adalah judi dan menyebabkan mereka (baca: orang tua mereka) harus berhutang untuk membayar hutang judi itu.
Ada juga sekelompok anak SMP, usia di bawah 14 tahun, yang getol banget mengganggu orang lain. Merasa aman bahwa usia mereka “tidak bisa dipolisikan” kelakuannya jahatnya malah makin bertambah. Hingga akhirnya oleh BPHP mereka dimasukkan ke dalam penjara dan merasakan sendiri “bagaimana ganasnya” kehidupan di di balik jeruji, bercampur dengan para penjahat kelas atas. Kapok? awalnya tidak. Tapi akhirnya mereka “digojlok” juga oleh salah seorang penghuni lapas dengan catatan kejahatan berulangkali pernah membunuh orang.
Tapi ada satu premis yang jadi benang merah cerita dari awal sampai akhir yaitu keberadaan tokoh Cho Gyu-cheol (Gyu-cheol). Seorang anak sekolah didikan Ga-yun (anak sang Menteri Pendidikan/Gang-seok dan istri dari Hwa-jin) yang tanpa sebab membunuh sang guru. Bebas dari penjara, kembali ke sekolah, Gyu-cheol nyatanya sama sekali tidak berubah. Baik Hwa-jin dan Gang-seok yang sejatinya masih menyimpan dendam pada anak ini, akhirnya bisa benar-benar membalas apa yang pernah dilakukan Gyu-cheol. Apalagi saat dalam proses penyidikan ternyata terbukti bahwa Gyu-cheol lah otak dari penyediaan barang haram di sekolah.

4. Kekuatan Sebuah Lembaga Pengawasan
Lahirnya BPHP tidaklah gampang. Dia mendapatkan tentangan dari para petinggi karena dinilai terlalu kejam dan melangkahi wewenang institusi hukum lainnya. Tapi Gang-seok, sang Menteri Pendidikan, mematahkan opini ini. Garis batas kerja mereka itu jelas. Hanya di lingkungan sekolah dan perkara yang berhubungan dengan bobroknya sistem pendidikan.
Bahkan setiap ada aksi yang dilakukan oleh BPHP Gang-seok selalu tampil dalam sebuah konferensi pers yang merinci sebab akibat dari tindakan yang telah diambil oleh lembaga yang dipimpinnya tersebut. Apalagi semua tindakan dan keputusan yang diambil BPHP berasal dari sebuah dan atau rangkaian keresahan tentang perilaku kasar dan meresahkan yang disampaikan oleh masyarakat.
BPHP pun tidak sembarangan menangani kasus. Tujuan utama mereka, jika saya tilik dari awal sampai akhir, adalah tentang belajar adab dan akhlak, mengembalikan visi dan misi sekolah sebagai wadah pendidikan yang baik dan mumpuni, melibas semua ekosistem sekolah yang tak bermoral, sistem pendidikan itu sendiri yang harus lepas dari pengaruh apapun dan siapapun, dan para orang tua yang ternyata bisa menjadi salah satu munculnya konflik antara wali murid dan pihak sekolah.
Jadi meski ada orang/lembaga yang ingin menghancurkan mereka, nyatanya BPHP berhasil menjejak kekuatan dan fungsi keberadaannya. Dalam beberapa adegan, ada beberapa pihak yang berusaha menumbangkan BPHP, tapi seiring dengan berhasilnya BPHP menuntaskan masalah-masalah yang terjadi, mereka pun mendapatkan dukungan masyarakat. Bahkan Gang-seok, sang Menteri Pendidikan, kemudian menjadi kandidat kuat sebagai calon Presiden Korea Selatan berikutnya gara-gara prestasinya memimpin BPHP.

5. Realitas Pelik di Dunia Pendidikan
Setelah beberapa kali nonton drama korea dengan tema perundungan di sekolah seperti the Glory, Weak Hero, Extracurricular, dan masih banyak lagi, hanya di Teach You a Lesson lah saya melihat bahwa realitas pelik di dunia pendidikan mendapatkan perhatian serius dari sebuah lembaga resmi dengan sudut pandang serta penanganan yang tepat sasaran.
Bagi sebagian orang mungkin memberikan “pelajaran keras” terhadap orang-orang yang berperilaku kejam diluar nalar dan kemanusiaan terlihat atau terasa ngilu. Jika sang pemegang aturan juga keras apa bedanya dengan sikap di pelaku perundungan?
Tapi saya pribadi punya pendapat berbeda. Di satu waktu saat segala upaya “halus” tak mempan, menghukum berat para pelaku perundungan memang harus dilakukan. Baik itu ke sesama pelajar, orang tua/wali murid kepada guru dan sebaliknya, orang tua kepada anaknya, atau seorang pengajar kepada anak didiknya. Karena perundungan sejatinya bukan hanya secara fisik tapi juga meliputi tekanan moral dan batin yang disampaikan lewat kata atau kalimat.
Jadi dalam waktu-waktu tertentu penanganan perundungan secara ekstrem memang harus dilakukan.
Di sebagian besar film, adegan perundungan dihadirkan sebagai pemicu dari masalah kejiwaan yang dialami oleh korban di masa mendatang. Korban mengalami gangguan psikologis berat hingga berubah menjadi pelaku dengan tindakan yang lebih kejam. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya mengejar para pelaku yang merundung mereka dahulu kemudian membalaskan dendam dengan berbagai cara yang juga sama biadabnya.
Tapi di Teach You a Lesson, penonton diajak untuk menyadari bahwa banyak hal tentang perundungan dan ekosistem yang saling terkait di dalam sekolah dan dunia pendidikan, tidak boleh kita pandang sebelah mata. Karena efeknya akan menembus ke masalah psikologis yang begitu mendalam bagi para korban.

Di salah satu episode yang menghadirkan anak-anak TK, saya dibuat tertegun dan sedih teramat mendalam. Seorang ibu yang awalnya terlihat biasa-biasa saja, ternyata menyimpan obsesi agar anaknya yang masih TK itu mendapat perhatian dan penanganan lebih dari gurunya. Dia seperti “memindahkan tanggung jawab” mengapa sang anak tampak berbeda dari teman-temannya. Si anak terlihat lebih sering murung, menjadi pendiam, dan tak mudah bersosialisasi. Alih-alih menyalahkan sang guru, ternyata sang ibu lah biang dari segala sikap yang muncul di diri sang anak. Ketidakharmonisan hubungan suami istri, pertengkaran kasar di dalam rumah, membuat si anak kecil ini tertekan batin dan fisik.
Tidak mendapatkan “perlakuan wajar” dari ibunya, si anak malah begitu dekat dan akrab dengan gurunya. Tapi sayang, si ibu malah terlihat ingin memisahkan anak tersebut dengan guru yang dia sukai itu.
Duh. Hati saya sungguh mengharu biru saat melihat bagaimana hubungan cinta kasih yang terbangun antara si anak dan sang guru saat mereka berbincang dan bersenda gurau lewat kegiatan menggambar. Senyum dan wajah ceria sang anak dan gurunya terlihat begitu natural dengan sorot mata bahagia yang tak bisa mereka sembunyikan.

Menyusul lima poin kelebihan film Teach You a Lesson yang saya tuliskan di atas, saya tak ragu untuk memberikan rating 9.5/10 untuk Teach You a Lesson. Apalagi kemudian tak lama setelah drama ini tayang, saya membaca banyak komentar publik di kolom berbagai platform media sosial yang memuji dan tak segan menaruh rating tinggi kepada drama ini.
Kekaguman ini menjadi semakin mengesankan saat Netflix memberitakan bahwa Teach You a Lesson mendapatkan peringkat teratas di Netflix Global Top 10 TV Show non-english hanya dalam tiga hari setelah penayangan. Sebuah prestasi yang cukup mengesankan.
Yang sudah nonton dan punya pendapat tertentu tentang film keluaran 2026 ini, yuk drop komentarnya ya. Barangkali punya sudut pandang yang berbeda dari saya.







Wah, Mba Annie nonton drakor sampe jam 3 pagi….?
Astagaaaa….
Bener-bener se-magnet itu jalan ceritanya ya, Mba. Tentang perundungan pasti menguras emosi.
Pernah sekali waktu nonton drakor judulnya “The Art of Sarah” pas staycation sama anak-anak, malah aq yang sibuk di depan TV mbaaa. Nonton dari jam 8 pagi sampe jam 7 malem huhuhuhuuu…
Sejak itu jadi paham, kalau drakor memang punya daya tarik kuat di kemasan konfliknya.
Njlimet yang nggak umum, bikin melekat kuat di ingatan.
Dan memang tema perundungan ini seringkali menarik begitu banyak perhatian. Ngilu hati sih nontonnya. Tapi lewat drakor ini ada banyak pelajaran yang bisa dipetik. Khususnya dengan adab dan perilaku yang seharusnya bisa menahan dan mengurangi perilaku seperti ini di sekolah.
The Art of Sarah aku denger juga bagus. Belum sempat nonton akunya.
walah nonton marathon, udah lama gak saya lakoni, karena seperti yang dialami Mbak Annie, isi kepala rasanya “penuh”
Eniwei kayanya saya harus nonton drama ini, karena udah kangen aktingnya Jin Ki-Joo dan (khususnya) Lee Sung-Min
apalagi drama ini dapat rating 8,9 dari Mydramalist, rating yang wow banget
jarang drama Korea dapat rating setinggi itu
Rating nya tinggi banget ya Mbak. Dan ternyata setelah nonton, beneran bagus drakor ini. Sekalian jadi pelajaran buat berbagai pihak yang berurusan dengan dunia pendidikan, psikologi anak, orang tua, dan siapa pun yang menyadari bahwa mendidik bukan sekedar ilmu pengetahuan tapi juga mengajak kita untuk mengevaluasi makna besar di baliknya.
Saya belum nonton..huhuhu, baca ini jadi ikut penasaran. Yang paling menarik adalah pesan tentang adab, kasih sayang, dan bagaimana lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak.
Setuju bahwa perundungan tidak boleh dianggap sepele karena dampaknya bisa sangat panjang, bahkan hingga membentuk karakter seseorang di masa depan. Sebuah pengingat bagi kita untuk memikirkan realitas yang terjadi di dunia pendidikan saat ini.
Bagian tentang anak TK yang menjadi korban konflik orang tua itu rasanya paling mengaduk emosi. Kadang kita lupa bahwa anak-anak menyerap begitu banyak hal dari suasana di rumah.
Btw, sama kita, saya pilih tayangan streaming, sekali duduk tonton sampai habis…biar enggak mati berdiri nunggu jadwal tayang selanjutnya
Saya harus memasukkan Teach You a Lesson ke daftar tontonan berikutnya nih, kepo saya, bagus pasti….Mbak Annie aja rela maraton sampai jam tiga pagi hihihi
WAJIB nonton Mbak. Tema perundungan memang sering ngilu di hati. Apalagi saat menyaksikan bagaimana seseorang merasa lebih berkuasa atas hidup orang lain. Gak cuma antar murid tapi juga tentang orang tua kepada anak dan bagaimana sebuah institusi pendidikan menangani hal serius seperti ini.
Oh ini yang dimaksud BPHP. Tadi sore, di threads baca utas singkat berandai-andai ada BPHP di Indonesia. Komentarnya lumayan ramai mendukung. Tapi, saya gak tau apa itu BPHP. Baru tau setelah membaca artikel ini ehhehe.
Isu bullying di dunia pendidikan memang sangat pelik. Menarik sekali melihat bagaimana drakor Teach You a Lesson ini memberikan sudut pandang penanganan yang tegas (lewat BPHP) dibandingkan drakor tema bullying lainnya yang biasanya fokus ke balas dendam pribadi.
Berharap banget lembaga seperti BPHP ini ada di setiap sekolah ya Myra. Setidaknya ada lembaga pengawasan yang memastikan bahwa lingkungan sekolah adalah salah satu yang teraman bagi anak didik untuk berkembang dan berperilaku baik.
Hmmm… banyak banget ulasan gw kali ini jadinya!
1. Nonton Drakor yang ceritanya menarik dan relate emang bikin. penasaran, so aku juga sekarang pilah-pilih mana review yang aku “ijinkan” diriku tonton…wwkkwk Salah satunya Drakor ini deh!
2. Baru dari judulnya aja udah bikin penasaran, ternyata Teach You a Lesson bukan sekadar drama tentang konflik, tapi juga membawa pesan tentang adab, empati, dan bagaimana kita belajar memahami sisi manusia lain. Aku suka banget kalau drakor bisa kasih โtamparan halusโ lewat cerita
Jadinya nggak cuma bikin baper, tapi juga ngajak mikir dan refleksi diri. Kadang pelajaran hidup memang datang dari hal sederhana, bahkan dari karakter fiksi yang terasa relate sama kehidupan nyata.
3. Aku setuju ada lembaga pengawas di masing masing wilayah sekolah, walaupun.. . yaaa walau pun… aku meragukan hal ini akan ditegakkan di Indonesia tanpa bantuan the power of Ibu-ibu yang terhormat ( salah satunya SIDINA community yang emang ga main-main komitmennya untuk pendidikan dan pilar pilar pendidikan)
4. Yes bullying adalah kasus yang sangat meresahkan, di manapun dan kapan pun. Ga cuman di sekolah tapi di kantor, lembaga apapun. So kadang mempertanyakan kasus yang diangkat berkali-kali bahkan dalam film. Di satu sisi, “yessss.. harus diangkat ke permukaan” di sisi lain, sumpah aku takut dijadikan contoh pembully biadab ini..
Pesan moralnya berlimpah Tan. Aku barusan nonton lagi nih hahahaha. Ternyata memang sebagus itu meski sudah banyak drakor tentang perundungan yang hadir di dunia sinema Korea. Teach You a Lesson banyak mengulas segala hal yang sangat mengesankan. Khususnya tentang adab dan perilaku. Sukak banget deh sama yang satu ini.
Satu lagi… semoga yaaa gak sampe kancilen juga gw nonton Drakor yang ceritanya bagus kek Teach you a lesson ini hihihi…
As a teacher saya relate banget sih sama drakor ini. Sayangnya kok di Korea ya, kalau di Konoha pasti lebih ‘sedap’ lagi kasus-kasusnya.
Miris ya Mas Adi. Kalo di kita perundungan lebih banyak dilakukan oleh lembaga dan atau pendidik kepada anak-anak. Sedih banget saya tuh.
Pelaku masih di bawah umur, alasan ini emang jadinya seolah adalah kalimat pengampunan bagi pelaku bullying di dunia pendidikan/sekolah. Padahal menurut saya, sekarang ini matokan 17 tahun ke atas, kemampuan secara emosional itu berbeda dengan anak 17 tahun ke atas pada 5 atau 10 tahun yang lalu.
Nah setuju banget Mbak Nanik. Di kita sepertinya pelajaran soal adab dan perilaku ini sudah ditanamkan sejak mereka usia dini. Tentu saja dengan dukungan keluarga. Bisa jadi apa anak-anak lakukan di sekolah adalah karena lingkungan/pengaruh orang-orang terdekatnya.
Aku nggak tahu ya gimana kondisi sebenarnya yang ada di Korea Selatan tuh gimana. Cuma, kalau di drama-drama, lingkungan pendidikan emang rentan banget sama perundungan.
Makanya, pas nonton cuplikannya di media sosial, aku merasa Teach You A Lesson ini beda sama drama perundungan yang lain. Kayak, oke. Aku bakalan nonton yang ini.
Bullyingnya tuh kayak yang normal gitu lho. Meski emang parah banget. Beda banget vibesnya sama perundungan yang dialami sama Song Hae-kyo di dramanya yang terakhir itu. Aku lupa judulnya.
Drama yang dibintangi Hae-kyo judulnya THE GLORY. Itu juga parah banget ya Mbak Yuni. Kasar bener serangan fisiknya. Jadi gak heran jika korban mendendam sedemikian dalam hingga mengatur rencana membalas dendam dengan kondisi psikis yang lebih parah. Merinding nontonnya.
Sampai bela-belain maraton ya Yuk? Emang sih senagih itu. Tapi saya nontonnya dicicil karena si bujang mau ikutan nonton jadilah kami nonton 1-2 episode per harinya.
Memang banyak banget ya yang bisa dipelajari dari Drakor ini..
Selain dari sisi sebagai orangtua, karena saya pernah jadi guru jadi ibarat mimpi para pendidik di Indonesia seandainya ada lembaga sejenis yang bisa dijalankan.
Betul Nis. Kalau di kito perundungan ini melingkupi dak cuma antara anak didik tapi jugo “kekejaman seksual” yang dilakukan oleh pendidik kepada anak-anak. Geram nian aku kalo baco berita cak ini yang hampir dak pernah berhenti dari lini media.
Jujur aku terkesan saat nonton drakor Teach You a Lesson. Meskipun banyak kasus yang terasa sangat seram, rupanya diangkat dari kisah nyata sebagian. Jadi aku merinding bayangi nya. Ngeri sekali saat anak sekolah berani kriminal dan berlindung dibawah kata “masih di bawah umur” ajaibnya banyak ortu yang membela mati-matian anaknya.
Premis ceritanya oke banget. Pemilihan pemainnya terasa pas. Maraton memang paling ciamik biar nggak penasaran. Sebuah drakor yang worth it buat ditonton, bisa belajar banyak hal, sudut pandang lebih luas juga.
Bener La. Merinding ngikutinnya ya. Setiap episode punya premis kuat yang jujurly bikin aku semakin terbuka matanya karena perundungan bukan hanya soal kekerasan fisik antara anak didik tapi jauh lebih dari itu.