
The Library Lounge Hotel The Orient, Perpustakaan dan Tempat Nongkrong Asyik di Jakarta | Travel & Featured | Februari 2026
Saya menemukan the Library Lounge Hotel the Orient Jakarta dari sebuah tautan dan footage Instagram seorang pejalan ternama. Video dan fotonya terus saya pandangi dan putar ulang berulang kali karena begitu terkesan dengan sajian keindahan yang dia tampilkan. Unggahan nya bagus, indah, bersih, dan patut dijadikan referensi untuk para pejalan. Saya bahkan dengan sengaja menyimpan status tersebut dengan maksud agar bisa dilihat kembali.
Beberapa kali meyakinkan lokasi yang disematkan di media sosial IG @libraryloungejakarta dan @orientjakarta saya menandai bahwa the Library Lounge Hotel the Orient Jakarta berada di tengah kesibukan beberapa gedung perkantoran di mana saya pernah bekerja.
Berada di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, the Orient Hotel hanya beberapa langkah dari gedung kantor pertama tempat saya bekerja di awal 1990-an plus tempat jajan yang sering saya dan teman-teman kos sambangi. Meskipun lumayan jauhnya jika ditempuh dengan jalan kaki dari kos kami di area Setiabudi, saya dan beberapa teman lumayan sering pergi bareng ke warung-warung pilihan di kawasan ini demi makan enak bersama, ngobrol berlama-lama untuk mempererat persahabatan.
Kami biasanya berkumpul di awal-awal minggu gajian dengan kesepakatan bayar masing-masing. Maklum kami semua masih berstatus pegawai tanpa pangkat yang gajinya masih pas-pasan. Kami terkadang ke RM Padang Bopet Mini (ini yang paling sering kami datangi), beberapa warung gerobakan, berbagai mie ayam dan bakso, serta banyak jajanan lain yang selalu bikin kangen untuk dikunjungi kembali.
Jadi saat memutuskan ingin kembali ke Benhil, selama dalam perjalanan menuju the Library Lounge the Orient Hotel Jakarta, kepala saya dipenuhi oleh tumpukan memori dan kenangan manis bersemayam di ingatan saat masih berusia di awal 20-an.
Bagaimana ya kabar teman-teman kos saya dulu?


Kemewahan dan Keindahan Tiada Duanya
Hujan deras tanpa ampun membawa langkah saya turun persis di sisi depan lobby utama the Orient Hotel Jakarta. Seorang petugas dengan ramah menyambut komplit dengan senyum manis yang menggembirakan hati. Dia sepertinya ingin membawakan saya payung tapi begitu melihat lincahnya saya melompat kecil dari mobil dan berlari cepat, niat itu tampak dibatalkan dengan hormat.
Tapi saya tetap mengucapkan terima kasih karena keramahan sambutannya.
Sesaat setelah berdiri di depan pintu pemeriksaan, dan berada di lobby yang megah, saya langsung menyampaikan maksud saya untuk berkunjung ke the Library Lounge. Seorang petugas kemudian dengan ramah dan sigap mengantarkan saya ke sebuah lift, merapatkan sebuah kartu akses kemudian memencet tombol 5 (baca: lantai 5) di mana the Library Lounge berada.
Dari ruang penerimaan tamu saat saya datang tadi, saya langsung dibuat terkesan dengan keindahan the Orient Hotel. Salah satu hotel bintang 5 yang berada di Jl. Jend. Sudirman No. 36, Bendungan Hilir, Tanah Abang ini, menghadirkan interior design yang meski tampak heavy tapi terlihat terkonsep dan tertata dengan baik.
Banyak unsur bangunan yang dihadirkan di sini. Mulai dari kayu dan ukirannya, lukisan aliran natural dan kontemporer, logam/tembaga, emas, perak, berbagai jenis hiasan kertas, aneka sentuhan lawas, dan berderet penataan ruang yang saling berpadu satu sama lain.
Saat seorang petugas menyapa saya di area pelayanan tamu datang dan pergi tadi, kemudian diarahkan melangkah di sebuah lorong yang panjang dan terlihat minim cahaya, kemudian masuk ke sebuah lounge di lantai yang sama, kekaguman saya atas hotel ini semakin menjadi-jadi. Decak kagum terus meluncur tanpa henti.
Di lounge yang ada di sisi yang berbeda dengan saat saya datang tadi, saya menemukan sebuah ruangan grande berdinding kaca. Ruangan dengan ceiling menjulang ini menghadap ke Jl. Jend. Sudirman, dengan sebuah taman kecil dan dinding batu yang terlihat kokoh. Lounge tampak penuh dengan pengunjung yang sibuk berkomunikasi satu sama lain. Suara tawa dan obrolan mereka terdengar seru karena hadir dalam berbagai bahasa. Mereka duduk di banyak sofa besar yang terhampar di setiap sudut ruangan. Di salah satu sisi saya melihat pusat pelayanan makan minum yang cukup terbuka dan sebuah grand piano hitam. Entah apa yang dimasak, tapi hidung saya sempat tergoda untuk mendekat. Tapi karena petugas yang mengantarkan saya berjalan cepat, akhirnya saya terpaksa membatalkan niat ini.

Sesungguhnya saya ingin berhenti sebentar di depan ruang tunggu lift nya karena keindahan dekorasi di titik ini tuh sungguh mengagumkan. Pengen berfoto pastinya. Tapi saya sudah niatkan untuk melakukan itu di saat pulang saja. Terlalu sayang untuk dilakukan tergesa-gesa karena keindahan rancang ruang kecil ini sungguh sophisticated and eye-entertaining.
Tiba di lantai 5 pun saya kembali dibuat tercengang. Kali ini karena penggabungan rancang ruang antara konsep vintage dan kekinian yang memanfaatkan perpaduan antara warna hitam putih termasuk untuk lampu dan lantainya. Transisi di antaranya keduanya pun begitu menarik.
Sebuah label atau lebih tepatnya sebuah ukiran kecil terbuat dari bahan tembaga bertuliskan Library Lounge tampak tertempel di satu dinding. Di dekatnya ada sebuah pintu yang bahannya terbuat dari kayu tebal. Seperti kayu jati berat dengan efek guratan dan ukiran yang begitu in-to details. Saya merasakan sebuah sensasi layaknya masuk ke sebuah rumah lewat pintu gebyok kokoh yang biasa kita temukan di rumah tradisional Jawa. Ukuran lebarnya pintu ngepas untuk satu orang atau setidaknya hanya cocok untuk bergantian keluar masuk.
Duh rasa penasaran saya semakin membuncah. Mendadak melintas di kepala akan bertemu dengan kejutan lain setelah pintu ini.

the Library Lounge yang Megah Tak Terbantahkan
Terus terang, meski sudah melihat video the Library Lounge dari berbagai tautan, rasa penasaran saya semakin membuncah dan tak sedikit pun surut. Apalagi setelah melewati rangkaian sisi dalam hotel mulai dari lantai dasar hingga welcoming area di lantai 5.
Beberapa detik masuk melewati pintu gebyok nan indah tadi, saya langsung tersentak dengan bagaimana genius nya seseorang atau mereka yang terlibat dalam pembangunan ruang seindah ini.
Dari berbagai tautan yang sempat saya buka, nama Bill Bensley berulangkali dituliskan. Dia adalah seorang arsitek lanskap dan desainer interior maksimal asal Amerika Serikat yang telah bekerja untuk beberapa resor ikonik dunia. Seperti Oberoi Amarvilla Agra di India, Rosewood Luang Prabang di Laos, dan Capella Ubud serta Four Seasons di Jakarta.
Kesan vintage bercampur gaya oriental menjadi ciri khas Bill Bensley. Menelusur setiap bangunan yang dia rancang, kita seperti dibawa memasuki sebuah lorong waktu. Ini yang tadi saya rasakan saat berjalan dari ruang penerimaan tamu lalu berpindah ke sebuah lounge dengan dinding kaca di awal tadi.
Bill Bensley juga tercatat lama menetap di Bangkok, Thailand dan Bali. Mungkin hal inilah yang memberikan pengaruh pada beliau untuk melahirkan rancang design yang meng-Asia dengan mengangkat begitu banyak unsur kayu, alam, dan kerajinan tangan yang biasa kita lihat di dua negara ini. Dari sebuah artikel juga saya memahami bahwa Bill Bensley begitu cinta akan batik.
Dia juga terkenal dengan julukan “raja resor mewah eksotis.” Gak heran ya jika Bill Bensley menghadirkan nuansa unik dengan elemen budaya lokal berpadu dengan alam di mana tempat yang “dia sentuh” itu berada.
Di the Library Lounge sendiri saya melihat beberapa pilar besar dari material kayu yang tampak berat yang terpadu apik dengan nuansa batik nusantara. Batik era kolonial yang sudah sangat jarang bisa kita saksikan secara langsung.
Tak hanya itu. Selain batik, the Library Lounge juga menghadirkan banyak ukiran kayu tematik, rak-rak buku yang menjulang tinggi, serta lemari buku setinggi pinggang dengan celah-celah besar untuk menyimpan beberapa koleksi buku. Beberapa buku tampak tersusun rapi dan apik di rak kayu ini. Saya bahkan menghabiskan waktu puluhan menit sebelum memutuskan untuk mengambil beberapa.
Ada juga beberapa ukiran wayang di atas kulit serta pahatan-pahatan lain yang mengingatkan saya akan sebuah museum. Semua dipasang di dekat pintu masuk ruang basuh. Keindahan ornamen yang membuat saya tak mampu memalingkan wajah. Bahkan melewati ini dan masuk ke dalam toilet, saya jadi lupa untuk mengambil foto. Padahal seperti halnya ruang tengah, toilet ini juga dirancang serius. Estetik dengan kenyamanan yang patut diacungi jempol.


Berdiri di satu titik dan melihat jendela kaca yang jangkung dengan horden yang terbuat dari tumpukan bambu tipis, ada beberapa area tempat duduk dengan konsep yang berbeda-beda. Ada satu set sofa besar dengan latar belakang dinding yang full vintage dan sarat ukiran. Lalu ada satu area dengan dudukan kayu berpadu dengan rotan yang mengingatkan saya akan kejayaan tahun 70-an. Kemudian ada beberapa sofa dengan desain modern yang merapat ke dinding lainnya.
Saya memutuskan untuk duduk di sofa super besar itu karena pertimbangan efek cahaya matahari. Agar acara membaca dan memotret tidak ter-distraksi oleh over lighting. Keputusan ini ternyata jitu. Di atas sofa dan di meja kayu yang berada di hadapannya itulah, saya kemudian merekam beberapa buku edisi ekslusif yang disediakan dan dimiliki oleh the Library Lounge.
Sajian desain premium kemudian saya temukan di area lain. Ada sebuah ruangan yang bersisian dengan tempat baca tadi. Ruangan ini digunakan untuk melayani makan dan minum sembari menyediakan beberapa dudukan dan sofa yang terlihat begitu nyaman. Beberapa di antaranya terbuat dari bahan beludru yang halus banget.
Ada sebuah bar yang siap dengan seorang petugas dengan marmer hitam yang mengilat dan unsur bangunan yang premium. Kecantikan ceiling ruangannya pun menggetarkan banget. Eksklusif dengan gempuran warna keemasan yang tersentuh apik oleh lampu kuning. Kombinasi yang mengundang pujian tanpa henti.
Sebagai seorang tamu yang masuk the Library Lounge tanpa biaya, saya memutuskan untuk memesan secangkir kopi americano, fresh orange juice, dan french fries sebagai sebuah visiting appreciation. Kesopanan bertamu di “rumah orang” yang sudah menghadirkan pengalaman luar biasa buat saya pribadi.
Dihidangkan dari dapur hotel bintang 5, kualitas tentunya jadi isu utama. All perfect. Seduhan dan takaran kopinya pas, jus jeruknya terolah murni dan sangat segar, kentang gorengnya umami banget. Presentasi kentang gorengnya berbeda dari biasanya. Bukan edisi instan tapi dari potongan manual yang besar-besar. Cara menggorengnya juga jitu. Garing di luar tapi lembut di dalam. Meski perut sejatinya masih kenyang karena makan lahap di Blok M sebelum ke sini, selera saya untuk ngemil bangkit tanpa bisa ditahan. Semangkuk kentang goreng pun tandas hanya dalam hitungan 10 menit.

Bertemu Buku Kuliner Edisi Eksklusif
Selesai memotret dan dipotret di berbagai sudut, tak lengkap rasanya menyusur setiap sudut koleksi bukunya. Dalam keheningan yang begitu terjaga di ruangan ini, saya mengambil dua buah buku edisi eksklusif yang hadir dengan hard cover yang begitu apik. Pertama adalah buku yang berjudul The Evolution of Jakarta’s Street Food dan satu lagi berjudul Bali.
Saya memilih untuk membuka buku pertama yang hadir dengan cover merah meriah dengan ilustrasi semangkuk aneka masakan nusantara. Buku yang ditulis oleh Chef Stefu, Jureke, dan Anton Diaz yang diterbitkan oleh Red & White Publishing ini sudah memukau dari lembaran awal hingga akhir.
Sebagai seorang food blogger, editor dan penata letak sebuah karya tulis, kehadiran buku ini membuat insight saya semakin bertumpuk. Ada sebuah jejak sejarah terhadirkan di setiap lembar termasuk rangkaian diksi yang begitu rinci dan foto yang menawan. Paket konsep yang jadi favorit saya saat mendampingi para penulis dalam melahirkan buku. Gabungan antara diksi dan visual yang seyogyanya bisa menjadi media yang membangkitkan salah satu kenyamanan yang membuat orang betah membaca.
Membuka lembar demi lembar The Evolution of Jakarta’s Street Food saya menyelami ranah rasa dan aroma makanan jalanan dari berbagai daerah di nusantara yang ada di Jakarta. Melihat bagaimana mereka diolah, ditawarkan, serta disajikan pada sebuah wadah oleh para pedagang jalanan dengan segala keriuhannya.
Banyak footage yang saya ukir. Tapi beberapa diantaranya yang fotonya begitu mengundang selera adalah lontong sayur yang dilengkapi oleh dua tusuk sate, gado-gado, soto betawi, dan cakwe yang tampak tergoreng begitu pas dan sempurna. Penyusunan narasinya juga rapi dengan jenis serta ukuran font yang readable, lebih dari nyaman untuk dibaca.
Nyatanya hasil karya literasi ini memang sehebat itu.
Buku yang dihadirkan ke publik pada 2023 oleh Red & White Publishing ini menorehkan prestasi di ajang internasional dengan meraih penghargaan ke-2 Terbaik Dunia dalam kategori Street Food pada Gourmand World Cookbook Awards 2025. Kemenangan ini diumumkan dalam acara bergengsi Cascais World Food Summit di Portugal dengan mengusung ide terkuat tentang bukan hanya memetakan perkembangan kuliner jalanan Jakarta, tapi juga menghormati para pedagang kaki lima yang menjadi pahlawan kuliner sehari-hari.
Kehadirannya tidak hanya mengulas ingredients dari jajanan yang sedang dibahas tapi juga mengulas tentang evolusinya serta kisah di balik layar. Bagaimana jajanan ini diolah dan dipresentasikan ke hadapan publik. Menu yang disajikan pun bukan hanya jajanan khas Jakarta tapi juga dari daerah lain yang laris dan disukai oleh masyarakat ibu kota. Saya sempat melihat pempek tunu dari Palembang, tanah kelahiran saya. Rawon dari Jawa Timur. Dan masih banyak lagi.
Keren dan membanggakan banget ya.
Saya seketika bermimpi. Bisa kali ya Annie Nugraha Mediatama melahirkan buku sejenis dan diikutsertakan dalam lomba seperti ini. Tinggal menentukan topik otentik, berkelas, dan tematik untuk digarap bersama beberapa rekan penulis saja.



Pulang Membawa Kesan Mendalam
The Library Lounge Hotel the Orient Jakarta ini bukan hanya hadir sebagai perpustakaan tapi juga tempat nongkrong yang asyik di ibu kota. Tidak hanya hadir mewakili kelas bintang 5 tapi juga esensi estetika, keindahan, kenyamanan, dan berkenan menjadi tempat yang bisa diakses gratis oleh publik.
Hal terakhir ini menurut saya juga turut melambungkan nama the Library Lounge. Apalagi dalam beberapa kesempatan saya melihat sudah banyak content creator yang meliput dan menghadirkan tempat ini ke hadapan masyarakat. Seperti saya misalnya yang pulang membawa kesan mendalam. Lewat medsos lah saya jadi tahu tentang perpustakaan dan tempat nongkrong ini. Bahkan baru ngeh bahwa gedung menjulang yang berada di pojokan Benhil ini adalah sebuah hotel berkelas.
Gak perlu menginap untuk bisa mendapatkan akses ke perpustakaan berkelas ini. Tinggal lapor ke concierge atau receptionist, tunggu sebentar untuk mendapatkan akses ke lantai 5 lewat seorang petugas keamanan. Segampang itu aja. Satu privilege yang tentu saja akan menyenangkan hati publik yang ingin mengukir kenangan di the Library Lounge.




IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com



Cakeeeep sekali tempatnya Mba Annie…
Sebuah library yang tenang, privat dan berkelas. Cantik dan estetik…
Library lounge yang mengubah ruang baca kaku menjadi ruang sosial-budaya yang elegan dan menarik, bisa buat me time, meeting atau kerja. Mana enggak perlu nginap pula. Sungguh sebuah tempat pelarian sempurna dari hiruk-pikuk Jakarta.
Juga, selain ngulik buku dan ngemil, pepotoan di berbagai spotnya bakalan seruuu
Jadwalkan ah ke sini
Cakep dan mewah banget Mbak Dian. Lokasinya juga strategis dan mudah banget untuk dicapai. Di dalamnya tuh nyaman, tenang, dan beneran kondusif buat membaca atau meeting eksklusif. Kapan ada waktu boleh Mbak cobain mampir ke sini. Koleksi buku-bukunya juga bagus-bagus dan edisi langka.
Pas tahu kalau boleh ke the Library Lounge Hotel tanpa biaya, buat aku udah istimewa banget. Interiornya walaupun detailnya ramai agak berlebihan, tapi terlihat harmonis aja sih. Apalagi ditunjang ceiling yang tinggi jadi engga sumpek. Ruangan bagus disertai buku-buku bagus, waaaah…bakalan betah ya baca di sini. Sambil eksplore juga berbagia buku untuk studi banding. Keren Mbak Annie mah…Engga berhenti belajar…
Setuju Mbak Hani. Istimewa banget. Mengijinkan publik luas untuk bertamu tuh rasanya menyenangkan betul. Tempatnya juga menyenangkan sekali untuk membaca. Kemewahannya bikin betah. Betah berlama-lama. Yuk Mbak kapan-kapan berkunjung ke the Library Lounge ini. Gampang dicarinya. Lokasinya stategis di sentral Jakarta.
Vintage banget ya mbak untuk desain interior di library-nya. Suka dengan desainnya, dan seolah menyatu dengan apa saja benda yang diisi disitu. Tampil rapih dan bersih, penataan interior yang berkelas. Seru ya, santai disitu sambil ngopi dan baca2 buka atau nonton. :)
Bener banget Mas Wahid. Koleksi buku-bukunya bagus-bagus deh. Jadi betah berlama-lama stay di the Library Lounge.
Library-nya bukan jenis library yang kayak full banget dengan buku ya, Kak. Tapi, kesan estetikanya kuat banget. Bikin membaca di sana menjadi lebih nyaman dan asyik. Nggak heran kalau kemudian dibilang tempat nongkrong asyik di Jakarta.
Iya. Konsepnya lebih kepada hotel lounge. Hanya saja ada di lantai atas, berbeda dari lounge hotel yang biasanya ada di ground floor. Tapi saya lihat koleksi bukunya lumayan banyak dan dalam berbagai bahasa. Jadi menyenangkan pastinya buat tamu hotel atau publik untuk membaca. Yang pasti the Library Lounge tuh nyaman banget.
Saya suka banget baca destinasi yang menyediakan perpustakaan (walau mini gapapa)
Karena orang akan terpicu membaca dan sejenak mengalihkan perhatian dari gadgetnya, salah satu cara meningkatkan tingkat literasi yang katanya “lemah” ini
Selintas tadi saya pikir makanan betulan lho ternyata gambar-gambar dari buku The evolution of Jakarta’s Street Food ^^
Woaahh betol banget Mbak Maria. Dengan kenyamanan yang tercipta dan vibes yang eksklusif, membaca jadi kegiatan yang valuable betul. Kapan ke Jakarta sempatkan mampir ke sini Mbak. Dan temukan banyak buku-buku edisi terbatas yang berkualitas.
Ternyata mbak sudah kesana 🤩 aku masih simpan Perpustakaan ini di bucket list tempat yang ingin ku kunjungi dan perfect banget rupanya. Ada di lantai lima, kemudian setiap sudut bermakna, estetik serta bikin betah.
Aduhai, jadi bayangin foto di beberapa sudut kemudian baca buku sambil nyantai dan pesan beberapa camilan serta minuman (oke mesti bulan biasa non Ramadan).
Makasih, udah memperkenalkan The Library Lounge Hotel The Orient, dengan detail. Semoga abis lebaran aku bisa sowan kesana 😇🤩
Aamiin buat harapan untuk Annie Nugraha Mediatama, semoga segera terwujud.
Yok La, kapan-kapan janjian di sini. Foto-foto di setiap sudut yang super duper indah dan cantik luar biasa. Bakalan betah deh kalau sudah di sini.
Salut sama Mbak Annie. Ketemuuuuu aja tempat-tempat unik kayak gini. Aku jadi kayak ikut masuk ke The Library Lounge ini mbak say, dari lobi sampai rak bukunya.
Baru aku paham kenapa ruangannya seunik itu. Ternyata ada background Bill Bensley di sana. Konteksnya jadi makin kaya. Berasa lagi baca liputan eksklusif, tapi bukan by media, by Mbak Annie. Lengkap, pengalaman estetik berikut emosionalnya. Dapet banget. Thx u rekomendasinya Mbak Annie.
Hahahaha iya Mut. Aku pun dapatnya dari scrolling di media sosial. Dah banyak content creator yang bikin footage di sini. Ternyata tempatnya memang seindah dan secantik itu. Nyaman dan bikin betah.
Waahh.. Baru tau mbak Annie pernah ngekost sekitaran Setiabudi, ya makanya paham daerah Bendhil, tahun berapa itu? Orang tuaku rumahnya di Bendhil juga. Hotel Orient ini juga aku pernah ke sana pas ada acara, sayangnya ga tau kalo ada perpusnya yang free untuk umum. Kapan-kapan mau ah ke sana.
Iya Mbak. Dulu kantor ku di kawasan Kuningan yang terhubung dengan area Setiabudi. Jadi suka jajan ke Benhil bareng temen-temen kos. Jadi saya relatif hafal dengan kedua tempat yang seru ini.
Yok Mbak cobain. Tempatnya cantik, nyaman, dan menyenangkan. Bikin footage di sini tuh memorable betul. Koleksi bukunya juga eksklusif.