
Melipir sejenak dari rutinitas di Puri Indah Inn Kaliurang Yogyakarta | Travel, Featured & Hotel Review | Januari 2026
Tak butuh waktu lama bagi saya untuk mengajukan permohonan sebagai awardee dari sebuah pelatihan menulis yang dibimbing oleh Okky Madasari. Salah seorang mentor menulis yang juga adalah founder dari OM Institute. Komunitas yang mengajak para penulis untuk kerap bertumbuh dari waktu ke waktu dan mengijinkan saya berada di dalam nya
Tak berapa lama pengumuman para penerima awardee disosialisasikan dan saya tak henti mengucap syukur karena nama saya ada di dalamnya. Alhamdulillah.
Dari pengumuman ini tertera jelas bahwa acara pelatihan dengan tema writing retreat, akan diadakan di Puri Indah Inn yang berada di Kaliurang Yogyakarta. Hati ini tentu saja senang luar biasa. Bukan hanya tentang kesempatan belajar dan bertemu kembali dengan salah seorang guru menulis saya, tapi juga karena Yogyakarta sudah “tinggal” dengan apiknya di hati belakangan tahun. Ada satu asa saya yang terpapar di daerah istimewa ini dan selalu membuat saya rindu untuk kembali, kembali, dan kembali.
Skema teknis pun disampaikan. Semua peserta diminta untuk datang di H-1 pelaksanaan pelatihan. Saya pun berangkat naik pesawat dengan perasaan membuncah. Ada rasa tak sabar yang juga hinggap karena saya sudah lama tidak mengikuti acara pelatihan menulis secara off-line di luar kota.
Karena saat tiba di Yogyakarta waktu check in masih beberapa jam lagi, saya memutuskan untuk mampir ke sebuah pameran buku, menikmati makan siang yang umami bersama seorang sahabat, sebelum akhirnya memesan taxi on-line untuk menggapai kawasan Kaliurang. Tempat yang kabarnya punya kesejukan udara, suasana nyaman, dan lingkungan senyap, masih dapat kita rasakan.
Saya mendadak punya harapan tinggi akan keberadaan Puri Indah Inn. Karena ini bakal jadi kali pertama saya menginap di Kaliurang.

Dalam perjalanan, pak supir yang mengantarkan saya ke Kaliurang menyampaikan informasi yang cukup membuat saya berpikir (ekstra). Menurut beliau, menimbang letak Puri Indah Inn yang cukup tinggi (baca: di dataran yang paling tinggi dalam kawasan Kaliurang), mobil sewaan biasanya hanya melayani pengantaran tamu maksimum sampai pkl. 20.00 WIB saja. Jarang ada yang berani jalan lebih dari waktu tersebut. Kenapa? Faktor keamanan dan kenyamanan lah yang jadi sorotan. Khususnya saat supir menyusur jalan pulang. Suka ada begal dan balap liar.
Really? Beneran nih?
Duduk saya mendadak tegak. Saya tidak menduga akan menerima informasi seperti ini. Karena bagi saya untuk sebuah daerah tujuan wisata populer dan humanis seperti Yogyakarta, isu keamanan dan kenyamanan adalah dua faktor yang wajib dijaga dan dimiliki. Bukan hanya dijamin oleh pemerintah dan aparat setempat tapi juga oleh rakyat dan lingkungan di mana destinasi wisata itu berada. Pewisata pun berhak mendapatkan dua hal tersebut tanpa terkecuali.
Dan hei bukankah Yogyakarta dikenal sebagai daerah yang begitu menjaga kehormatan, kenyamanan, dan keamanan tamu yang datang?
Tapi baiklah. Kita tinggalkan dulu masalah ini ya. Panjang nanti ceritanya.


Tempat Istirahat yang Lapang
Di sore hari saat saya tiba, ternyata Puri Indah Inn bukanlah tempat yang menjorok dan jauh dari mana-mana seperti yang baru diceritakan si bapak. Bukan pula tempat yang butuh perjuangan ekstra untuk digapai. Memang mobil yang saya tumpangi harus menanjak lumayan tinggi. Tapi saya tetap merasa nyaman karena pernah merasakan mobil nge-ngas menanjak dengan posisi yang lebih tinggi dan lebih sulit dari Kaliurang.
Si bapak kurang jauh nih mainnya. Belum tahu dia kondisi timurnya Indonesia (ngomong sambil nyengir lebar).
Tadi, jalan yang saya lewati tidaklah semenakutkan seperti yang diceritakan. Semua, bagi saya, oke-oke aja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Sepanjang perjalanan saya malah bertemu berbagai tempat wisata kuliner yang sudah populer di media sosial. Salah satunya adalah Warung Kopi Klotok yang menyajikan masakan rumahan dan dihidangkan secara buffet. Antrian nya mengular terutama di waktu-waktu makan di akhir pekan. Salah dua masakan yang diincar di tempat ini adalah sayur lodeh dan tempe mendoannya. Saya pernah ke sini dua kali tahunan yang lalu (baca: beberapa masehi yang lalu). Tempat yang menurut saya selain menjual masakan enak juga bisa membangun suasana dan pengalaman berbeda bagi para tamunya. Nuansa pedesaan, lingkungan kampung sederhana lengkap dengan sawah, dan berbagai hal yang mengingatkan kita akan rumah nenek. Tempat tinggal yang jauh di pedesaan dan seringnya (hanya) dikunjungi saat lebaran tiba.
Ah mendadak ngiler dengan kelezatan sayur lodeh plus tempe mendoan dan ingat rumah panggung kayu nenek saya di Pagaralam, Sumatera Selatan.
Tiba di Puri Indah Inn sekitar pkl. 15.00 WIB, penginapan ini tampak begitu sepi dan lengang. Yang langsung terlihat adalah sebuah kompleks penginapan (baca: perumahan mini) dengan sebuah rumah kayu besar yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi. Kemudian ada sebuah rumah kecil dengan fasad yang bertuliskan Puri Indah Inn dalam huruf-huruf yang berukuran besar.
Mobil yang saya tumpangi masuk dan parkir persis di depan rumah kecil yang ternyata berfungsi sebagai ruang kerja penerimaan tamu dan work station bagi para petugas hotel.
Tidak ada seorang petugas pun yang siap saat saya datang. Jadi setelah semua barang diturunkan dari mobil, saya memutuskan untuk berkeliling. Saya kemudian bertemu dengan tukang taman yang akhirnya memanggil seorang petugas penerima tamu. Proses administrasi berjalan lancar hingga kemudian datang petugas tambahan untuk membawakan koper saya menuju kamar.
Melewati rumah yang besar di tengah tadi, saya sengaja berjalan pelan sembari menikmati kebersihan dan penataan rapi yang mampir ke netra. Rumput dan pohon bertumbuh subur dengan banyak jalan setapak yang bisa kita injak tanpa harus mengganggu tanaman yang ada di sekitar langkah kita. Sekilas saya mengintip lewat vitrase tipis yang terbuka, saya melihat rumah besar ini tampak seperti unit suite yang bisa diinapi oleh keluarga besar. Lengkap dengan dapur, ruang keluarga, ruang tidur, dan teras depan yang tampak lapang untuk berkumpul dan bercengkrama.
Saya malah mengkhayal bakar sate dan makan bareng di teras ini dengan teman-teman atau keluarga. Pasti asyik lah. Atau eh nge-botram dengan nasi uduk, sambal, ikan asin, dan semua lauk yang menggugah selera.

Kamar Lama yang Sederhana
Kamar untuk saya ternyata ada di balik rumah besar tadi. Ada sekitar tujuh unit kamar dengan tipe yang sama. Berjejer dalam ukuran yang juga sama seperti kontrakan di daerah industri. Setiap kamar memiliki teras dengan dua buah bangku dan meja bulat. Semua terbuat dari kayu. Saya bahkan berulang kali ngobrol dan berdiskusi dengan teman-teman sesama peserta pelatihan hingga berjam-jam di teras ini. Bahkan terkadang melakukan brain-storming untuk saling mengisi tentang beberapa dan banyak hal. Khususnya isu seru yang terjadi di tanah air.
Petugas yang mengantarkan saya membukakan pintu dengan menggunakan kunci manual model lama dilengkapi dengan gantungan kayu kecil berlogo hotel dan nomor kamar.
Tapi sebelum masuk tadi, saya menyadari bahwa semua kamar yang sejajar dengan saya tampak sepi dan hening. Belum ada satu pun tamu yang datang. Menurut petugas, semua kamar nanti akan diisi oleh tamu yang akan menghadiri pelatihan yang saya ikuti. Cuma ada satu tamu perempuan asal Malaysia yang sudah check-in tapi kamarnya tidak di bagian ini.
Belakangan saya jadi (sangat) akrab dengan peserta dari Malaysia ini. Rafidah namanya. Kami bahkan menghabiskan waktu bersama saat writing retreat selesai. Saya mengajak Raf berkeliling kota Yogyakarta, menikmati bermangkuk-mangkuk Ramen lezat, dan menginap bersama di hotel yang sudah saya booking, sebelum akhirnya saya mengantarkan dia ke stasiun Tugu, naik KRL ke bandara YIA lalu terbang kembali ke Malaysia.

Baiklah. Saya akhirnya memutuskan untuk masuk dan istirahat sejenak. Sekalian memotret fasilitas yang ada di dalam.
Seperti tampak di sisi luarnya, kamar standard ini tampil sederhana saja. Ada kasur tipe queen dengan warna natural yang dilengkapi oleh sebuah bed runner tanpa motif. Seandainya menggunakan batik pasti lebih cakep deh. Ada sebuah lukisan di salah satu sisi dinding. Ada meja bulat beralaskan kaca dan tempat duduk kayu persis seperti di luar. Bisalah untuk menaruh barang bawaan atau bekerja. Saya memutuskan untuk menggunakan meja kursi ini sebagai ruang kerja mini. Meski sangat terbatas. Tapi setidaknya saya bisa mengerjakan tugas-tugas pelatihan di meja ini.
Di seberang kasur ada sebuah TV flat dan di bawahnya tersedia meja panjang dengan satu kursi lagi. TV nya tidak berfungsi dengan baik. Begitu pun dengan remote nya. Jadi kalau saya mau menyalakan TV dan mengganti program, berarti harus memencet tombol samping secara manual. Pernah terjadi di satu malam, saat saya sudah mengantuk dan terlalu malas untuk mematikan TV, akhirnya TV itu menyala terus sampai pagi.
Astaga. Betapa saya sudah membuang-buang energi.
Di sisi belakang kamar ada sebuah lemari/buffet hitam yang lumayan fungsional. Saya naruh koper kecil dan menggantung pakaian di sini. Lalu ada cangkir, penanak air, dan gelas serta berbagai compliment sehari-hari. Karena stok nya tidak banyak, saya usulkan teman-teman membawa teh dan kopi sachet tambahan ya. Beberapa Pop-mie berkuah juga kayaknya jadi usulan yang bagus. Berasa banget butuhnya saat udara dingin menusuk dan keheningan begitu tercipta, sementara lambung suka minta diisi tanpa mengenal waktu. Sulit pula untuk mencari petugas yang siap 1x24jam untuk menanggapi kebutuhan (mendadak) kita.
Jadi untuk kedamaian dan keamanan “kampung tengah” sangat saya anjurkan untuk belanja berbagai ransum dulu di mini market dalam perjalanan menuju Puri Indah Inn. Jika pun ada warung, kita butuh tenaga ekstra untuk jalan kaki. Lumayan jauh sih menurut saya.
Satu yang kudu atau seharusnya disediakan juga oleh pihak hotel adalah room slipper. Berpengaruh sih buat saya yang gak kuat dengan dinginnya lantai dan gampang masuk angin kalau menginjak tegel. Apalagi di tempat yang udaranya sejuk seperti di Kaliurang dan shower air panasnya lebih sering tidak berfungsi. Lumayan menggigil meski saya tipe penghobi udara dan suasana dingin. Untungnya di dalam koper saya selalu ada stok slipper yang saya pungut dari setiap hotel yang saya inapi. Beneran membantu.
Di depan kamar ada sebuah tanah lapang yang cukup luas memanjang dengan rumput gajah yang tumbuh subur. Persis di seberang kamar saya ada ruang terbuka dengan banyak tempat duduk untuk ngumpul-ngumpul. Saat sore, malam, dan sehabis subuh, biasanya tempat ini “dikuasai” oleh sekumpulan monyet yang memang hidup liar di hutan yang berada di seberang teras luar kamar.
Petugas hotel sering berpesan agar tamu tidak meninggalkan/menaruh makanan di teras kamar karena itu akan mengundang sekawanan monyet untuk “bertamu.” Hampir tiap malam saya suka terkaget-kaget karena sekawanan binatang ini sering berlarian dan berkejar-kejaran di atas atap kamar. Derap langkah yang seru itu lumayan mengganggu waktu tidur dan suka mengagetkan. Apalagi jika ditambahi teriakan seru di antara mereka.
Ya ampun dasar bocah. Pengen rasanya ikutan kejar-kejaran biar rame sekalian. Atau ngajak mereka main bola di halaman depan kamar. Biar tenaga mereka terarah dan bisa jadi anggota tim sepak bola perbinatangan tanah air.
Di hari esoknya, saat terselip jam istirahat di antara waktu pelatihan, saya menyempatkan diri melihat dan memotret beberapa fasilitas yang ada di Puri Indah Inn. Di gedung dan ruang pelatihan berada, ada beberapa kamar lain di berbagai sisi bangunan. Yang cukup menarik perhatian saya adalah sederetan kamar yang langsung berhadapan dengan sebuah area serbaguna tanpa atap. Di area ini bisa digunakan untuk acara berkelompok dan makan bersama. Dan ini saya lihat saat di satu malam ada acara seperti ini. Pihak hotel menyediakan sajian makanan buffet, sound system, tempat duduk beserta meja, dan acara hiburan lainnya.
Oia, sebelum saya lupa. Hotel ini juga menyediakan layanan laundry ya. Murah, cepat, dan bersih. Buat saya hal ini berpengaruh betul karena selain tak mampu membawa barang dalam jumlah banyak dengan koper besar karena alasan kesehatan, saya tipe yang tidak bisa menyimpan baju kotor di dalam koper. Jadi jika ada layanan laundry saya biasanya langsung grecep. Prosesnya gampang, tinggal kirim pesan lewat WA ke salah seorang petugas hotel. Nanti dia akan datang ke kamar kita. Janjian dulu pastinya ya.

Karena masih ada waktu lowong, saya memutuskan untuk menyusur sekeliling hotel sembari mencari tempat ngopi, nongkrong, dan menikmati kudapan. Membunuh waktu yang ada sebelum acara refreshing and opening writing retreat diadakan.
Berjalan pelan, saya menemukan sebuah angkringan dengan ukuran luas persis di samping hotel. Tadi saat dilewati parkirannya penuh banget. Orang-orang tampak berkerumun. Ternyata tambah penuh saat saya datang. Pinggiran jalan padat oleh puluhan sepeda motor yang ditunggui oleh seorang petugas.
Angkringan ini punya dua tempat. Satu seperti rumah pohon dengan teras belakang yang menghadap ke hutan, sementara satu lagi di sebuah tanah lapang yang jauh lebih besar dengan bangunan resto yang cukup megah. Rumah pohon itu adalah cikal bakal suksesnya angkringan ini. Bahkan dapur pun tetap dipertahankan di sini meski di bangunan yang baru terlihat lebih luas dan lapang.
Saya memesan setangkup roti bakar keju dan secangkir kopi hitam. Karena tempatnya terbatas dan setiap meja dan kursi sudah penuh dengan tamu, saya akhirnya diundang sepasang suami istri untuk bergabung di meja mereka. Seperti biasa, ketemu saya yang doyan “berkicau,” kami akhirnya malah asyik mengobrol berjam-jam. Lupa waktu. Saya malah tersadar harus balik ke hotel karena sebuah pesan whatsapp dari panitia mampir di gawai. Acara perkenalan dan refreshing akan segera dimulai dalam 30 menit mendatang. Saya pun izin pamit dengan langkah tergesa-gesa.
Saya akhirnya, di hari-hari berikutnya, jadi sering bolak-balik ke angkringan ini setelah acara writing retreat selesai atau di sela waktu istirahat. Menyenangkan sekali berjalan-jalan sebentar di tengah kesibukan menyelesaikan lembaran tulisan yang diarahkan oleh Okky Madasari. Setidaknya menyegarkan pandangan dan merasakan udara sejuk dan kabut yang sering datang tanpa kenal waktu.



Writing Retreat yang Merabuk Jiwa
Konsep melipir sejenak dari rutinitas begitu saya rasakan saat writing retreat berlangsung selama tiga hari. Setidaknya dengan mengikuti acara yang diorganisir oleh OM Institute ini, saya bisa berkenalan dengan banyak penulis dengan latar belakang yang beragam. Meluangkan waktu barang sejenak untuk meng-upgrade kemampuan menulis, memperluas networking, dan belajar dari ahlinya.
Dari perkenalan awal, saya mencatat bahwa para peserta beranjak dari profesi yang berbeda-beda. Ada yang masih mahasiswa, pekerja seni, dosen, pegawai swasta, mantan ASN, penulis naskah, penggiat budaya dan lingkungan, pengacara (pengangguran banyak acara) seperti saya, dan masih banyak lagi. Keberagaman ini justru menjadikan writing retreat ini penuh warna. Dan itu terbukti saat masing-masing dari kami diminta untuk menulis sebuah artikel singkat yang berangkat dari pengalaman pribadi atau topik yang menarik minat kami. Cara penulisan yang tentu saja mengikuti arahan teori yang sudah diberikan oleh Okky Madasari, sebagai pelatih di event ini.
Sosiolog dan kini aktif berbicara di banyak kesempatan atau podcast tentang politik praktis di tanah air ini, tak hanya menyampaikan teori tentang menyusun tulisan yang “matang” tapi juga membuat para peserta berlatih langsung kemudian menghadirkannya di hadapan semua yang hadir.
Saya sendiri pernah mengikuti writing retreat yang dibimbing Okky Madasari beberapa waktu sebelumnya. Saat itu saya juga jadi awardee yang didapat dari Komunitas Satu Pena. Info yang disosialisasikan lewat OM Institute dan diadakan di salah satu resort di kawasan Puncak.
Setiap essay yang dibacakan langsung mendapatkan masukan, penyegaran, dan kritik membangun dari Okky. Writing tutor yang meraih gelar doktor di salah satu universitas bergengsi di Singapura ini, bahkan memberikan kesempatan kepada peserta lain untuk menyampaikan pendapat atas essay yang dibacakan oleh rekan sepelatihan.
Sebagai orang yang senang mendapatkan fresh idea dan sudut pandang yang berbeda dari pihak yang berkompeten, saya sangat menikmati waktu-waktu seperti ini. Bagi saya kritikan atau masukan dan diskusi hangat tentunya akan membuat “mata kita” lebih terbuka. Jiwa dan pikiran juga jadi responsif atas sudut pandang orang lain. Jadi saya tidak menutup akses untuk apa pun yang bisa menjadikan tulisan kita lebih baik. Syukur-syukur dengan cara seperti ini kita lebih bisa mengembangkan diri. Baik untuk karakter personal maupun bagi kemampuan kita untuk menghadirkan tulisan yang lebih berkualitas dan bergizi.
Yang juga begitu saya rasakan adalah rasa akrab yang terbangun di antara peserta. Kami kadang tertawa terbahak-bahak tapi kadang juga berpikir serius. Saya jadi (kembali) mengenal beragam profesi yang jika ditelusuri punya kemampuan menulis yang tidak kaleng-kaleng. Jika pun mendapatkan masukan dari Okky, untaian kalimat berbobot itu juga didengarkan oleh yang lain. Di sinilah waktunya saya mencuri kesempatan untuk turut menyimak dan memahami hal yang diolah pada saat itu, untuk diri saya pribadi.
Selama masa pelatihan berlangsung, saya berkenalan dengan beberapa anggota OM Institute yang mengawal terlaksananya acara ini. Mas Kukuh yang menjadi pembawa acara dan luwes memberikan arahan. Keberadaan Mas Kukuh dan candaannya membuat suasana jadi lebih hidup serta cerah ceria.
Lalu ada Ray (Raymizard Alifian) yang membantu mengkoordinir event ini dengan pihak Puri Indah Inn. Ray juga lah yang menjamin kelancaran sambungan internet selama kami berlatih agar bisa menggali berbagai informasi untuk tulisan yang dihadirkan. Dari obrolan berjam-jam di beberapa kesempatan, ternyata saat skripsi dia melakukan penelitian kepustakaan (studi pustaka) tentang Ternate dan Tidore. Khususnya tentang jejak sejarah di mana Maluku mencapai masa kejayaannya sebagai penghasil rempah-rempah yang kualitasnya disegani oleh dunia.
Ray sendiri belum pernah menginjakkan kaki di kedua kota di timur Maluku ini. Tapi pengetahuannya cukup luas untuk diajak berdiskusi banyak hal tentang Ternate dan Tidore. Khususnya dari sisi sejarah yang terkupas dan seru untuk kami bahas. Saya dan Ray bahkan terlibat tukar pendapat dan informasi hingga lewat tengah malam. Saking asyiknya.
Ray pun begitu antusias mendengarkan saat saya membaca materi tulisan saya. Kala itu saya membahas tentang Puta Dino Kayangan. Jenama wastra Tidore yang sempat hilang selama ratusan tahun lamanya. Satu brand kenamaan dan kebanggaan Tidore yang sekarang menjejak popularitas dan prestasi yang terus mendunia.
Writing retreat kemudian ditutup dengan ulasan panjang dan sebuah kesimpulan yang memompa semangat saya untuk terus menggali ilmu di bidang kepenulisan. Apalagi saat ini saya sudah “tercebur” jauh ke dalam dengan terlibat secara aktif di sebuah indie publisher bernama Annie Nugraha Mediatama.
Semoga dengan semangat yang dibawa dari writing retreat bersama OM Institute ini, saya bisa lebih banyak menyumbangkan pemikiran dan berfungsi sebagai technical and operation director yang lebih mumpuni sembari – tentu saja – tetap menulis, menghasilkan karya tulis yang bisa dibaca oleh orang banyak dan menjadi manfaat bagi para pecinta dunia literasi di mana pun mereka berada.
Harapan saya, di kota dengan minat pembaca tertinggi di Indonesia ini, saya bisa membangun sebuah perpustakaan yang bisa diakses oleh orang banyak, menjadi pusat kegiatan menulis, wadah untuk berkreasi dan meng-upgrade diri, serta memberikan kesempatan kepada banyak penulis baru untuk bisa tampil, kerap berkembang, dan berkarya bersama Annie Nugraha Mediatama.

Saat meninggalkan Puri Indah Inn menuju kota Yogyakarta, saya menanamkan tekad kuat di dalam hati untuk konsisten di dunia kepenulisan, penerbitan buku, dan semua hal yang menjadi sinergi untuk kedua hal ini.
Saya dan Rafidah bahkan sempat membahas tentang hal ini saat semalam kami menginap di tempat yang sama. Di hotel di kawasan Malioboro dan walking distance dengan Stasiun Tugu inilah suntikan dorongan dan semangat disampaikan oleh sang penulis skenario ini. Bahkan Rafidah sempat berjanji bahwa jika perpustakaan yang saya impikan tersebut terwujud, dia akan menjadi salah seorang yang pertama menginjakkan kaki di sana. Dia sangat ingin kembali ke Yogyakarta lebih lama dan kembali menyaksikan bahwa daerah istimewa di NKRI ini kembali memecut semangat untuk tetap menjadi daerah dengan tingkat minat membaca tertinggi di Indonesia.
Mata saya berkaca-kaca. Tak ada yang lebih penting dalam hidup kecuali dukungan semangat yang datang dari mereka yang ada di sekitar kita.



IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com



Baru lihat foto pertama aku bayangin enak kumpul keluarga sambil bakar2 atau nyanyi2, eeeeh Ibu kepikiran yang sama, hihii…
Seriusan enak banget rumahnya, macam pulang kampung ke rumah mbah.. rapih, bersih, nyaman, itu kacanya kilat bangeeet ngga nampak ada noda sama sekali.
Trus kabut2 tipis menutupi perbukitan di belakang itu vibesnya enak.
Tapi keknya kalo sendirian aku jiper, Bu.. hihii
Jadi inget duluuu ke jojga thn 2016 sewa motor mau ke kaliurang ngga jadi krn di tengan jalan hujan dereees bangeet dan emang bener jalannya nanjak
tapi aku masih inget parit disepanjang jalannya itu jernih
ahhh rindunyaa sama jogjaa
Kalau di kawasan seperti ini tuh memang enaknya bareng keluarga Ci. Jalan-jalan di tengah kabut dan bikin acara makan bareng yang seru. Nah baru pas lah itu kurasa hahahaha.
Saya baru beberapa kali main ke Kaliurang dan baru kali ini nginap di kawasan ini. Karena berada di area yang lebih tinggi, cuaca memang lebih adem dan menyenangkan. Malam tuh ya, enak banget ngobrol berlama-lama sambil ngopi. Ah jadi ikutan kangen Yogya.
Wow… selamat ya ternyata berhasil menerima kesempatan belajar bareng Okky Madasari. Okky memang salah seorang mentor menulis yang juga founder dari OM Institute yang terkenal itu ya.
Gabung bareng komunitas yang mengajak para penulis untuk kerap bertumbuh dari waktu ke waktu melalui awardee yang diselenggarakannya memang kesempatan bagus… Saya ikutan menyerap ilmunya, Bu. Hehehe…
Pengalaman di Yogyakarta temanยฒ selalu membahagiakan. Sebagus itu daya tarik Yogyakarta ya… Vibes nya positif selalu
Saya dan Okky Madasari dah kenal cukup lama. Pernah ikut kelas menulis opini yang dia adakan, kemudian bergabung dalam komunitas OM, kemudian ikut lagi beberapa pelatihan dan yang terakhir itu ya yang diadakan di Kaliurang ini.
Pengen terus menimba ilmu dari Okky Madasari yang sangat kuat penguasaan diksinya untuk tulisan opini. Ranah ini yang belum begitu saya kuasai.
Sayang banget ada masalah begalnya itu. Tapi, di X juga beberapa kali pernah menyimak obrolan tentang kasus ini di Jogja. Semoga aja bisa segera ada solusi untuk memberantas. Sayang banget image Jogja sebagai tempat wisata jadi berkurang karena kenyamanan terganggu.
Kelihatan nyaman banget menginap di Puri Inn. Kayaknya kalau udah di sana, malas deh mau keluar buat jalan-jalan. Cukup ditemani dengan buku-buku dan aneka camilan.
Iya Myra. Prihatin saya. Semoga meskipun mungkin dianggap perkara kecil, masalah begal ini harus diperhatikan dengan serius. Jangan sampai dibiarkan apalagi sampai merebak ke banyak hal dan mengganggu nama baik wisata Yogyakarta.
Aku pun. Selesai kelas di sore hari. Mampir sebentar di warung buat makan malam, mandi, lalu mengerjakan tugas. Setelah itu banyak menghabiskan waktu di teras kamar (jika tidak ada monyet-monyet) sembari ngobrol-ngobrol dengan sesama peserta pelatihan.
Mbak Annie sangat beruntung bisa terpilih mengikuti writing retreat ini. pertama pastinya akan meningkatkan kemampuan menulis, akan dapat banyak masukan juga seputar menulis, pastinya menambah teman lagi. Kedua… bisa healing dan menikmati suasana tenang di Puri indah Inn Kaliurang Yogyakarta. Dan sebenarnya kegiatan menulis seperti ininyang saya sukai dan inginkan. Lokasi sekitarnya tidak hanya indah, tapi juga tenang. cocok untuk menulis.
Makanya saya langsung mupeng lihat Puri Indah Inn Kaliurang ini. Apalagi foto-foto Mbak Annie sangat ciamik. Jadi soal cerita si Bapak Driver itu bisa di kesampingkan saja ya, Mbak. Karena memang, masih banyak jalanan lebih ekstrem di Indonesia hehehe. Semoga nih, saya bisa menginap di Ouri Indah Inn Kaliurang.
Iya Mas Bambang. Lewat pelatihan ini banyak banget hal positif yang saya dapatkan. Bukan cuma ilmunya tapi juga bertambahnya teman dan networking yang ada.
Wah senangnya bisa ikut latihan menulis bareng Okky Madasari,
Jogja nih kayanya pusat literasi, jadi kota pelajar gak sekadar jargon
Hal ini tak lepas dari keberadaan beberapa tokoh literasi seperti Okky Madasari dan Puthut EA (pendiri mojok.co)
Ya Mbak. Apalagi dengan status awardee. Mendapatkan kesempatan emas tanpa mengeluarkan biaya kursus sama sekali.
Energi writing retreat-nya kerasa sampai ke sini Mbak Annie. Jadi, ini lebih dari sekadar tempat menginap aja. Ikut ngerasain pengalaman batinnya Mbak Annie, pertemanannya, dan tentunya semangat menulisnya yang ikut dibawa sampai pulang lagi ke rumah dan akhirnya dituliskan dalam blog ini.
Samaa..
Terasa sekali ka Annie menuliskan dengan rasa sehingga sampai ke hati pembaca.
Rasanya sulit sekali menolak pesona penginapan yang nyaman di hati.. bukan hanya pengalaman yang diperoleh, tetapi juga ketenangan jiwa setelahnya..
Ciamik Bu Annie bisa ikut pelatihan menulis, dan pastinya tambah networking juga.
saya pernah sekali ke kaliurang dan memang dingin pas pagi dan malamnya. Jadinya pas tidur saya pakai jaket.
Kebayang kalau pas di momen sekarang yang intensitas cuaca sedang dingin dan ke sana, kudu bersiap dengan jaketan hehe.
Setiap pelatihan selalu ada/banyak hal yang mengisi diri kita. Termasuk salah satunya adalah networking dan lingkungan yang baru. Bener-bener refreshing dan merabuk jiwa.
Aih, penginapannya memang cocok sekali untuk melipir sambil menulis, kak. Tenang, hijau, nggak banyak dekorasi tapi tetep apik. Kaliurang itu memang Lembang-nya Jogja, mana sama-sama di sisi utara kota.
Betul, orang Jogja yang belum merantau atau belum pernah ke daerah lain di Indonesia memang jadi lebay dengan kondisi di Jogja. “Jauh” di sana, masih tergolong “dekat” buat orang Jakarta atau Bandung. Nah, “begal” di sana paling remaja-remaja iseng aja, yang bakal diketawain sama begal beneran di Sumatera.
Btw, KOK BISA TAU ACARA SESERU INIIII AKU JUGA MAUUU HAHAHA.
Bener Gi. Kesian banget kalau dengar cerita itu orang jadi takut ya. Semoga tidak jadi serius ya Gi. Ngeri kalau membayangkan jika yang terjadi itu seperti di Sumatera. Merinding akutu.
Hahahaha iya. Aku juga suka kaget kalau ukuran 15km sudah dianggap “jauh” oleh teman-teman di daerah, sementara aku dari rumah ke Halim yang 40-an km sejauh ini tak anggap “dekat”
Aku rasanya belum pernah dengar kabar kalau di Jogja ada begal.
Asyik banget kayaknya kegiatan writing retreat-nya, Kak. Apalagi masih ada waktu buat bolak-balik ke angkringan setelah kegiatan. Hehehe
Saya juga kaget waktu dikasih tahu. Mungkin maksud pak supir juga baik. Agar kita, sebagai orang luar, lebih berhati-hati.
Ya ampun di kawasan Kaliurang pun sudah marak begal Yuk? Miris banget, padahal potensi wisatanya besar dan cukup dekat kawasan beberapa kampus ternama.
Seru banget writing retreatnya. Semoga ilmu yang didapat membawa suntikan semangat baru buat usaha yang sedang dikembangkan ya Yuk.
Nah itulah yang aku heran. Padahal kalau dilihat sih jalurnya aman-aman. Sepanjang jalan, meski sepi, ada rumah penduduk seperti biasa. Sayang ya Nis kalau sampe hal ini terus terjadi. Kesian wisata di Kaliurang.
Setiap ikut pelatihan selalu ada insight baru yang aku dapatkan. Meski sering ikut kelas di sana-sini dengan guru yang berbeda-beda, semua menghadirkan ilmu yang bermanfaat.
Acaranya pasti seru banget ya mba. Ada workshop nulis secara offlinenya. Biasanya cuma tau yang acara online aja. Udaranya sejuk di sana ya. Bikin betah ikutan kegiatannya.
Btw, soal keamanan ini Jogja emang lagi banyak klitih.
Dulu aku pernah denger daerah deket malioboro aja rawan dihadang klitih.
Untung selama ini bolak balik jogja aman2 aja , bahkan pernah ngeliput acara blogger yang pulangnya nyampe jam 12 malem. Untung aja pulang kosan temen dengan selamat. Huhu
Cuaca dan kondisi di hotel memang mendukung. Nyaman buat pelatihan yang butuh konsentrasi panjang. Materi pelatihannya juga menarik. Kadang serius, kadang ketawa, kadang saling mentertawakan hahahaha.
Nah bener banget Mbak. Masalah klitih ini juga disampaikan sama Pak Supir. Ngeri betul denger ceritanya. Bikin rusak nama baik wisata di Yogya ya.
Keren mbak, bisa ikut kelasnya Okky Madasari, dan ini yang kedua kalinya pula. Pasti lah banyak ilmu yang bisa diperoleh dari beliau.
Kaliurang, bagi warga lokal emang jalur menanjak dan berlikunya udah mengerikan mbak. Beda bagi yang pernah ke luar jawa, jalur itu masih belum ada apa-apanya.
Puri Indah Inn, tempatnya rapi banget ya. Luas pula, tapi masih banyak monyet yang berkeliaran. Jadi kudu waspada dengan barang perintilan, terutama camilan di luar kamar ya
Aihh cantik sekali puri nya..
Di kaliurang memang suasananya memang lebih sejuk yaa mirip-mirip seperti di lembang
Pastinya betah dan enak makan apa aja hahaha
Makanya kadang kita kalo liburan ke Yogya justru yang bikin kangennya adalah suasana staycation yang tenang
Berarti kudu nyoba nginep di sini Fah.