
Melepas Penat di Pantai Pasir Putih Land’s End PIK 2 Jakarta | Travel & Featured | Februari 2026
Masih dalam rangka menyusur Pantai Indah Kapuk (PIK). Sembari menunggu suami selesai pelatihan di area Kota, saya dan si bungsu memutuskan menyusur kawasan ke-2 yang populer dengan sebutan PIK 2. Ngutak-ngatik destinasi yang menarik di sana, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Land’s End. Area pantai pasir putih yang mengajak publik untuk melepas penat
Beberapa kali melihat perkembangan Pantai Indah Kapuk (PIK) lewat beberapa unggahan para content creator di Instagram, akhirnya saya kembali setelah bulanan bahkan hampir setahunan yang lalu. Kok jarang? Ya, karena untuk saya yang tinggal di Cikarang (Jakarta coret, perpindahan antara ibu kota dan provinsi Jawa Barat) untuk mencapai PIK tuh butuh effort yang lumayan besar. Sama perjuangannya saat ingin ke bandara Soekarno Hatta (Soetta). Jalurnya persis serupa. Jadi saat memutuskan ingin ke PIK, berarti harus ada rencana yang pasti dan kudu bawa niat yang kuat. Gak cuma sekedar mampir.
Sementara dari arah Kota (tempat saya mengantarkan suami) sebenarnya tidak terlalu jauh karena sama-sama berada di Jakarta Utara. Cuma kondisi lalu lintas di bagian utara Jakarta ini, sering membuat kita menabung banyak kesabaran dan ketelitian saat memilih jalur dan arah menuju PIK. Untuk saya yang sempat tinggal di Pluit (Jakarta Utara) dan Kalideres (Jakarta Barat) yang terhubung langsung dengan PIK, selipan-selipan jalan tuh sudah saya pahami. Tapi itu dulu. Ruwet. Sekarang? Ya tambah ruwet dengan bertambahnya jumlah kendaraan.
Termasuk di Sabtu, waktu saya ke PIK bareng si bungsu ini.



Meluncur ke Land’s End
Karena sudah pernah berkunjung ke PIK, saya tidak mengalami hambatan yang berarti untuk sampai di kawasan ini. Tapi GMaps kemudian saya nyalakan saat mulai masuk pintu awal PIK agar tidak nyasar untuk mencapai Land’s End di PIK 2.
Berada di Jl. Pantai Indah Kapuk Boulevard, Kapuk Muara, Jakarta Utara, saya menyusur banyak aspal baru dan tentu saja puluhan ruko baru bertingkat di berbagai sisi jalan. Ada yang sudah terisi tapi ada juga yang masih kosong. Termasuk bangunan stand-alone yang arsitekturnya menarik perhatian. Ada jenama internasional dengan jejaring luas, jenama lokal yang pasti dikenal publik nusantara, dan jenama yang tidak familiar di lingkar pengetahuan saya.
Saya sengaja nyetir perlahan agar bisa menikmati setiap jengkal sembari dalam beberapa detik mengalihkan perhatian. Cukup panjang sih perjalanan dari pintu awal PIK hingga akhirnya saya melewati Republik Seafood milik Nex Carlos dan menggapai Jembatan Baruyungan kemudian melihat tujuan yang dimaksud di sisi kanan jalan. Dari jembatan ini saya melihat sebuah mercusuar berwarna putih biru yang menjadi ikon dari Land’s End dan banyak banner berkibar mengelilingi bagian depan Land’s End yang mempromosikan Lilo & Stitch.
Ah akhirnya sampai juga.


Menyusur Pantai Pasir Putih Land’s End
Saya mengalami kesulitan saat berusaha menemukan slot parkir. setelah memutar bolak-balik, akhirnya mobil saya pasrahkan ke pelayanan valet saja. Apalagi setelah diberitahukan oleh Pak Satpam bahwa jika ingin mendapatkan parkir yang lebih luas, saya harus menggapai satu area tertentu yang berada beberapa ratus langkah dari pintu depan. Ah, dah tanggung banget. Valet sajalah biar praktis. Apalagi spot ini berada persis di depan pintu utama Land’s End.
Sesaat melangkah masuk, mata saya langsung dihibur dengan suasana beach club yang bertebaran di Bali. Bangunan wah, artistik, menarik perhatian siapa pun yang lewat, serta hembusan angin pantai yang halus menyentuh kulit.
Tapi sebelum menyusuri setiap sisi satu persatu, saya dan si bungsu memutuskan untuk mampir ke toilet, yang ternyata (sangat) bersih dengan tata ruang serta dekorasi ala makhluk lucu laut yang tertempel rapi. Nyaman, bersih, dengan air yang mengalir bersih memberikan kesan yang valuable untuk sebuah destinasi wisata.
Selain banyak resto yang masing-masing memiliki “rumah” sendiri, saya juga melihat area permainan seperti volley ball, taman-taman kecil, tempat duduk yang bisa digunakan gratis, juga rangkaian kedai yang menjual beragam produk yang bisa kita gunakan untuk bermain di pantai. Ada juga fashion outlet yang sering kita temukan saat berada di mall atau pertokoan besar.
Tapi yang paling mencolok di antara semuanya adalah kegiatan promosi Lilo & Stitch. Gerai produk dan buah tangan kedua tokoh ini hadir di banyak titik. Ada juga spot foto dan bangunan outdoor khusus yang mengizinkan publik untuk tak segan berlama-lama mengabadikan waktu berlibur bersama keluarga dengan kedua tokoh kartun digital ini. Patung keduanya dibangun besar tinggi dan mudah terlihat dari segala arah dan sisi. Saya bahkan sempat berulangkali dan bersenang hati membantu banyak keluarga untuk berfoto dengan formasi lengkap di area ini. Kebahagiaan mereka menyesap hingga ke hati.
Pantai putihnya sendiri tampak begitu cantik seperti halnya banyak pantai indah di Bali yang terpelihara sempurna dan digunakan sebagai fasilitas utama beach club ternama. Di tengah panas terik seharian itu, saya sempat menggenggam sang pasir yang butirannya terasa lebih tebal dari biasanya. Begini rasanya berada di atas pantai reklamasi ya. Pantai yang tadinya dipenuhi oleh bakau akhirnya menjelma menjadi pantai pasir putih sebagai tujuan wisata.
Butiran yang setiap bagiannya terbang dengan ringan bersama debu saat saya melihat sekelompok remaja bermain bola di pinggir pantai. Seru banget pastinya.
Teriakan riang gembira anak-anak menggema menghiasi pantai Land’s End ini. Pun gonggongan anjing piaraan yang berlarian menangkap bola yang dilemparkan oleh pemiliknya. Salut banget dah. Tahan dari gempuran sinar mentari yang garangnya ampun-ampunan. Sementara saya erat mengenakan topi lebar berpita, menahan silau yang menghujan indera penglihatan. Itu pun sudah mengenakan kacamata hitam.
Binatang peliharaan memang diizinkan masuk ke Land’s End. Dengan catatan mereka mengenakan popok saat ke pantai dan tidak dilepaskan berkeliaran begitu saja tanpa penjagaan. Pantai pet friendly yang tentunya diincar oleh banyak penyayang binatang. Next time, sepertinya saya ingin juga mengajak 4 orang anggota pasukan bulu saya di rumah (Bella, Monty, Momo, dan Miko) untuk bermain di sini. Gimana ya nanti reaksi mereka? Bakal pada seneng gak sih berlarian di pinggir pantai?
Berniat istirahat sejenak dari garangnya sinar mentari, saya memutuskan untuk masuk ke sebuah rumah kecil dengan warna pastel yang terpoles dengan sangat rapi. Saya menuju pintu depannya dengan teras kecil di depannya. Ternyata rumah kayu ini adalah salah satu media promosi LIlo & Stitch. Di dalamnya ada dua foto studio mini untuk kita melebur dengan kedua tokoh ini.
Karena penasaran dan tidak ada antrian panjang, saya pun melangkah masuk. Ternyata ada antrian kecil di dalam. Petugas mengijinkan semua masuk dan tidak antri di luar biar gak kepanasan. Seru juga pepotoannya. Ada dua set kecil yang ditata sedemikian rupa supaya kita bisa merasakan vibes shooting nya film Lilo & Stitch. Kita dipotret dengan kamera polaroid dan hasilnya bisa kita bawa pulang gratis.
Seseruan yang menghibur betul.

Mata saya masih berbinar-binar saat memandangi foto yang ada di tangan. Ah unik betul. Meski tak begitu memahami Lilo & Stitch, saya bisa menikmati secuil hiburan di dalam rumah cantik ini. Saya dan si bungsu lalu melangkah keluar dan menemukan serangkaian cafe pinggir pantai yang mulai dipadati orang dan memutar lagu-lagu reggae.
By the way, saya tuh sejatinya salah seorang penggemar musik reggae, meski bukan penggemar di level “akut” Salah satu lagu reggae favorit saya adalah Red Red Wine nya Level 42. Yang seangkatan saya pasti ngerti lagu ini. Dulu, waktu masih kerja di Bali, ada cafe di area Kuta yang khusus memutar lagu-lagu di genre ini. Selalu jadi langganan saya di saat weekend, melepaskan penat di cafe itu bareng teman-teman sekantor.
Mata saya kemudian terhibur dengan lautan bean bags berwarna-warni yang tersebar di pantai. Posisinya persis di depan deretan cafe. Semoga memang disediakan free oleh Land’s End bagi pengunjung ya. Atau bisa jadi ini adalah fasilitas dari cafe sebagai tempat nongkrong konsumen mereka.
Lagi-lagi ingatan saya kembali menyeruak ke Seminyak, Bali. Atmosphere nya persis sama. Bahkan kalau memang niat ke deretan cafe dengan lautan bean bags seperti ini, kita baiknya datang satu jam sebelum sunset muncul. Dan biasanya ada minimum order selama duduk di sana. Rebutan tempat betul soalnya. Saya sendiri baru berhasil dapat area nongkrong yang proper setelah berulangkali mencoba datang before time. Perjuangan betul pokoknya.
Sinar matahari tepat di atas kepala saat saya memutuskan untuk melangkah keluar Land’s End. Sudah mendekati makan siang pulak. Saya dan si bungsu ingin menikmati dua potong snack di Artirasa, salah satu outlet heavy snack yang ada di dalam Land’s End sebelum akhirnya menuju ke Republik Seafood yang jaraknya tak jauh, mungkin hanya sekitar 1-2 km aja.


Ngaso Sejenak di Artirasa
Sebenarnya banyak banget resto yang menawarkan makan siang di Land’s End ini. Tapi hati saya sudah terlanjur kepincut dengan Republik Seafood nya Nex Carlos. Tapi karena kerongkongan sudah mulai kering dan 1/4 lambung minta diisi camilan, jadilah kami berdua memutuskan untuk jajan kudapan aja. Setelah berkeliling kesana-kemari pilihan kemudian jatuh pada Artirasa.
Mengikuti kemauan si bungsu lebih tepatnya. Karena saya sendiri bukan tipe orang yang suka ngemil. Anak saya ini langsung kepincut saat kami melewati outlet mereka yang cukup besar, menurut saya. Rumah stand alone dengan sentuhan broken white, atap biru, serta kaca gelap tebal sebagai penangkal sinar matahari. Alasannya adalah dari beberapa kali si bungsu dan teman-teman berusaha makan di salah satu outlet mereka, antrian konsumen hebohnya melebihi barisan masyarakat yang tertib dan sabar untuk mendapatkan sembako gratis pemerintah.
Jadilah, saat melihat teras depannya lowong dengan sedikit tamu di bagian dalam, anak saya si penggila aneka cakes ini langsung merengek. Ya sudah. Dia pun langsung memesan dua slices Dubai Kunafa, secangkir kopi panas Americano, dan segelas tinggi cold tea. Pemesanannya dilakukan lewat sebuah mesin (seperti mesin ATM) dan kita juga bisa langsung melakukan pembayaran digital di sana. Kita lalu tinggal duduk menunggu hingga nama kita dipanggil di counter pelayanan.
Jangan khawatir akan mis-leading karena ada seorang petugas yang berdiri di dekat mesin dan akan dengan sabar dan teliti membantu kita.
Gimana rasanya?
Kesan pertama saya jatuh pada kopi Americano nya. Kopi hitam kesukaan saya yang selalu jadi satu-satunya pilihan saat ngafe. Bagi saya, ngopi adalah menikmati kopi hitam tanpa gula atau sedikit saja. Tapi itu pun harus gula diet. Di sini Americano hot nya mantab betul. Nothing’s fails. Perfecto. Kalau gak ingat-ingat akan makan siang, pasti saya pesan secangkir lagi.
Saya hanya mencicipi kue Kunafa sesendok teh kecil saja. Enak. Tapi saya memutuskan untuk tidak melanjutkan penjelajahan rasa itu. Kue yang sudah saya coel itu akhirnya dihabiskan si bungsu, sementara satu slice lainnya dibawa pulang.
Desain dalam ruang kedai Artirasa ini super menarik perhatian. Warna merah yang dihadirkan gak tanggung-tanggung. Terkombinasi baik dengan efek pencahayaan dan furniture yang disediakan untuk tamu. Tata letak dagangan dan peralatan pengolahan kopi juga tersusun rapi. Tempatnya sungguh bikin kita betah sembari menunggu pesanan datang.


Pantai Indah Kapuk yang Terus Berkembang
Sebelum kunjungan ini, saya terakhir tuh main ke kawasan Pantjoran di PIK 1. Salah satu destinasi wisata dengan spot yang terbangun seperti berada di perkampungan Tionghoa. Saat itu sudah dengar sih bahwa PIK bakal meluas dan berkembang ke arah pantai. Tapi saya tidak mencapai sana karena memang sedang dalam tahap pengembangan.
Nah, Land’s End ini salah satu tempat main di PIK 2 yang saya dengar cukup lama. Bahkan saat belum lama dibuka, seorang teman sempat mengajak main ke sini. Sayangnya saya gak bisa ikut. Tapi dari teman pejalanan ini saya dapatkan info bahwa Land’s End kondisinya masih growing. Belum benar-benar well-prepare untuk menerima pengunjung. Panas kejengkang sangat menyentuh tubuh tapi belum diimbangi dengan banyaknya pilihan tempat jajan untuk meluruhkan dahaga. Bahkan untuk berteduh sekalipun. Kecuali jika kita dine-in di salah satu resto yang sudah ada waktu itu.
PIK 2 sendiri konsepnya adalah waterfront city yang didesain berkelas dengan fasilitas lengkap dan komprehensif untuk kualitas kehidupan yang lebih baik. Khususnya bagi mereka yang memilih untuk tinggal di pinggir pantai dan kuat dengan cuaca panas.
Kalau melihat luasnya cakupan PIK 2 menggabungkan banyak unsur irama hidup, developer tentunya punya konsep yang sudah sangat ditata sedemikian rupa. Karena selain berbagai fasilitas entertainment, berdirinya banyak kantor dan sumber kegiatan ekonomi, beragam fasilitas kegiatan sosial dan umum (fasos dan fasum), dijadikan tujuan wisata (alam, seni budaya, dan kuliner), PIK 2 berfungsi sebagai smart city yang hadir dengan teknologi tinggi sekaligus pengembangan properti dengan peluang investasi yang menjanjikan.
Ini semua menjadi marking statement saat kita melihat promosi digital yang dihadirkan oleh PIK untuk publik.
Saya bahkan tak henti berdecak kagum saat keluar dari pintu tol dan bergabung dengan lingkungan PIK dalam sekian menit berkendara ke berbagai sisi fasilitas umum. Dalam sekian menit kemudian, saya langsung menggumam di dalam hati, “Inilah yang disebut sebagai Kota Mandiri. Gak perlu jauh-jauh main ke tanah orang lain. Di sini semua ada. Lengkap tanpa terkecuali.” Bahkan saking lengkapnya, gak heran jika ada yang menjuluki PIK adalah “negara di dalam negara” atau “sebuah negara mini di utara Jakarta yang punya identitas sendiri”
Menurut saya kedua perumpamaan ini cocok.
Saking pesatnya PIK berkembang, termasuk memiliki akses dalam hitungan menit untuk ke bandara, PIK bisa dengan “gagah” menutup diri jika suasana politik memanas seperti saat masa reformasi. Mereka bisa hidup dengan semua kebutuhan harian yang ada di lingkungan dalam kawasan. Yah setidaknya kebutuhan dasar bisa tetap terpenuhi dalam waktu bulanan, sebelum keputusan dan langkah strategis berikutnya diambil.
Jarak PIK dengan bandara itu sangat dekat. Jika ada mobilisasi untuk “berpindah” ke daerah atau negara tetangga karena situasi darurat, menggerakkan warga untuk “bergerak” tuh akan mudah sekali. Satu lagi jangan lupa, PIK juga bersentuhan langsung dengan pantai/laut. Punya yacht atau kapal pesiar kecil dengan mesin ganda dan mampu menampung sekian liter bahan bakar, manusia bisa berpindah ke sisi lain Jawa atau negara tetangga dengan mudahnya.
For those people who only concern about their own shake, memilih tinggal di PIK mungkin menjadi opsi yang pas.
Barangkali karena posisi tempat ini ada di bagian terujung dari tanah yang bisa diinjak sebelum bertemu dengan laut lepas, nama Land’s End jadi penamaan yang tepat.





IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@annienugraha



Panas kejengkang, hehe… iya sih walau banyak bean bags nyaman yang bisa dipakai duduk di Lands end, tapi kalau kesana di atas jam 10 dalam dalam kondis matahari bersinar terik, ya mata bakal menyipit pastinya.
Dengan konsep meniru pantai di Bali, jadinya warga PIK 2 dan sekitarnya bisa sering-sering merasakan vibes pantai Bali tanpa perlu banyak waktu dan biaya yang terpakai ya mbak
Betul banget Mbak Nanik. Kalau saya tinggal di PIK, kemungkinan bakal sering nongkrong di Land’s End. Sore menjelang sunset sampe malam hari. Menikmati makan malam ditemani hembusan angin. Wah bakal betah deh ngobrol di sini.
Terakhir ke sana udah lama banget, masih baru beres beberapa restorannya aja. Udah sebagus ini aja di dalamnya sekarang. Langsung aku forward ke suami. Makasih rekomendasinya Mbak Annie. Kece banget foto-fotonya. Anak-anak pasti suka nih.
Nah cocok tuh Mut ngajakin anak-anak main pasir di Land’s End. Pagi-pagi atau sore hari biar kulit gak terpanggang udara panas.
Ini sih keknya warga PIK ngga butuh kemana2 lagi ya sebab di hunian mereka udah ada semuanya. Cuma gunung yang ngga ada hahaa
Dan setuju sekali kalo binatang piaraan yang suka dibawa2 sama majikannya kudu make popok bukan hanya ke pantai tapi kemanapun itu. Kalo bisa ayam juga termasuk deh, sebel aja udah selesai ngepel teras eh ayam berdatangan cuma “setoran” doang. Ini sih terjadi di kampung emak, kalo bukan krn emak yang nahan2 udah jadi adu bacot pun jadi sama yang punya ayam. (kesempatan curhat, deh)
BTW, mengenai si Lilo ini juga kalo bukan karena tontonan anak, aku juga ngga kenal, bu..
Keknya emang udah ngga jamannya lagi ya wkwkwk
Kalau pas ke Jakarta dan ada waktu lowong, main ke PIK wajib jadi agenda Ci. Di dalam PIK aja sudah banyak entertainment nya. Gak perlu keluar-keluar ke kawasan lain.
Aku terakhir ke Land’s End PIK 2 ya pas ada pembukaan pop up store yang bertemakan Lilo n Stitch itu. Puanaseee tapi emang kalo sorean dikit di sana tuh bikin betah ma suasananya apalagi ketambahan musik reagea bob marley atau level 42 ๐
Udah lama banget itu ya Mbak Hida. Waktu kapan saya juga ada undangan ke sana tapi sayang waktunya yang gak pas. Memang panasnya luar binasa di sana. Asyik memang sore-sore, nikmatin sunset, terus kulineran makan malam.
Meski sama2 di kawasan jakarta utara utk menuju ke pik aku juga ngerasain effort banget soalnya pake trasum
Oh ternyata lands end nya keliatan lebih bagus ada mercusuar gitu. Itu akses pantainya dikasih pembatas ga? Soalnya klo di Aloha iya.. :/
Kalo ke sini niatannya sama kalau ingin ke bandara Soetta. Karena memang lokasinya berdampingan dengan Soetta. Di dalam PIK nya sendiri bener-bener layaknya kota mandiri yang segala ada.
Mbak Annie seneng banget bisa jalan-jalan dengan si bungsu ya?
mempererat bonding sekaligus jalan-jalan sekaligus bikin konten ^^
PIK emang beda ya? sampai toiletnya juga beda
saya auto bandingin dengan taman-taman di Bandung yang dibangun semasa Kang Emil, hehehehe …..
Sayang ya taman-taman di Bandung sekarang gak terurus dengan baik. Padahal waktu jaman Kang Emil bagus-bagus semua. Bandung terlihat lebih hijau dan rapi.
Keren banget ya kak, PIK. Kaya beda banget sama daerah-daerah lain di tanah air.
Instalasi promo film Lilo & Stich itu sempat viral dikalangan anak-anak lho yuk. Keponakan saya sampai ngerayu pengen ikut mamanya yang pelatihan di Jakarta. Adik saya jelas menolak, karena memang macetnya gila-gilaan ga mungkin banget nganterin dari Tebet, lokasi pelatihan ke PIK buat sekedar foto-foto. Minimal harus meluangkan satu hari ekstra.
Kalau mau puas main di PIK memang paling enggak tiga hari dua malam. Mengunjungi setiap sudut satu persatu dan gak diburu-buru. Karena memang fasilitasnya udah lengkap banget. Gampang pulok transportasinya dari bandara ke PIK. Deket nian.
Udah lama banget nggak ke PIK. Terakhir kesana tuh pas 2022 sore jelang malam dan beberapa kawasan belum dibuka buat umum. Bener sih mbak, PIK itu udah pesat banget, maju. Semua hal ada di situ, manalah terawat banget. Meski sempat sulit cari tempat parkir dan jadi valet. Ternyata ada banyak hal yang mengobatinya ya.
Pantai Pasir Putih Landโs End, aku penasaran sih apalagi deskripsi nya sangat mengajak buat ikut di sana.
Kedainya juga cakep banget ya. Estetik pula. Banyak spot foto di sini sih.
Kalo ke Land’s End sendiri emang asyiknya tuh sunset sampe malam. Gak panas dan sebagian besar wisata kulinernya buka dengan meriah. Duduk di pinggir pantai sembari ngobrol tuh pasti asyik betul. Kapan yok La kita wujudkan.
Tulisan ini tuh kena banget di aku, mungkin karena aku juga pernah duduk di tepi Pantai Pasir Putih Landโs End, ngerasain angin pantai yang ademnya nggak nyangka ada di Jakarta, sambil nyeruput es kelapa yang dinginnya pas โบ๏ธ Momen-momen kecil kayak gitu yang kamu ceritain bikin aku sadar: lepas penat itu kadang nggak perlu jauh, cukup duduk, tarik napas, dan ngebolehin diri buat hadir sepenuhnya.
Yang aku suka, dirimu nggak sekadar ngajak pembaca โlihat pantaiโ, tapi ngajak merasakan suasananya. Dari pasir putih yang bikin langkah melambat, suara ombak yang nyempil di sela obrolan, sampai live music yang jadi latar tanpa maksa โ semuanya tuh kayak pengingat halus kalau capek boleh, berhenti sebentar juga nggak apa-apa.
Bacanya tuh kayak lagi duduk bareng, ngobrol santai sambil nunggu matahari turun, bukan kayak baca review tempat wisata. Hangat, jujur, dan manusiawi. Terima kasih udah nulis pengalaman sejujur ini โ aku jadi pengen balik lagi, bukan cuma ke tempatnya, tapi ke rasa tenangnya…
Aku pengen suatu saat menikmati sunset di sini. Kata seorang petugas, Land’s End itu tuh ramenya pas sore ke malam. Udara juga gak panas kan? Jadi bikin kita betah ngobrol dan menikmati kuliner. Semoga kapan-kapan bisa terealisasi.
Saya kurang suka film Lilo and Stitch. Tapi, karakternya memang lucu gemesin. PIK ini memang pas banget jadi kota mandiri ya. Karena lokasinya lumayan jauh. Kalau saya tinggal di sana kayaknya bakal malas ke mana-mana. Apalagi kalau di sana udah segala ada.
Bener banget. Tinggal di kota mandiri tuh memang ada asyiknya. Semua ada. Gak perlu jauh kemana-mana. Apalagi untuk urusan hiburan dan kebutuhan sehari-hari.