Ingin menginap di Ubud tapi dana terbatas? Bisa banget.  Awalnya saya sedikit pesimis bisa menemukan tempat menginap murah di Ubud, salah satu pusat wisata di Bali yang terkenal eksklusif.  Tapi setelah berjuang browsing on line di sana sini, akhirnya ketemu GERHANA SARI Bungalow, dengan harga sewa yang pas di kantong.

Plang nama Gerhana Sari Bungalow yang kecil nyempil di ujung gang

Lalu lintas macet luar biasa menyambut kami jauh sebelum memasuki daerah Monkey Forest.  Mobil bergerak bak kura-kura kurang makan.  Sudah terkenal lambat eh lemes pulak.  Dan kamipun mati gaya di dalam mobil.  Yang ada mulut gak berhenti nguyah sambil ngoceh sana sini melihat orang jalan kaki, melewati mobil kami.  Pengen rasanya berpartisipasi dan ikut baris berbaris dengan wisatawan asing yang tampak enjoy jalan kaki.  Tapi apa daya, kami masih sangat jauh dari tempat tujuan.  Belum lagi jalurnya yang turun naik.  Yah, kagak dah.

Benar aja. Setelah hampir 1jam terbuang dengan dudukan yang mulai trepes, kami memutuskan untuk parkir di bawah pohon besar tempat wisata Monkey Forest, kemudian melanjutkan mencari Gerhana Sari Bungalow dengan berjalan kaki.  Traffic terlihat stuck.  Tapi dari tempat ini, walaupun jalan menanjak, setidaknya menurut google map, bungalow yang kami cari sudah tidak jauh.

Dengan pertolongan Wawan, pemuda 23tahun yang  baik hati dan tidak sombong, mencari bungalow ini ternyata tidak segampang yang kami kira.  Berbekal google map dengan signal yang naik turun bener-bener jadi penguji emosi. Membawa setumpuk besar semangat mendaki, dalam beberapa langkah, kami sering bertemu tumpukan signage kayu yang bertumpuk menjulang.  Setiap lembar kayu, tertulis nama guest house, bungalow, dan penginapan-penginapan yang tidak terlihat dari jalan.

Satu demi satu dibaca, tapi kok gak ketemu tulisan Gerhana Sari Bungalow.  15menit yang berakhir ngos-ngosan, di bawah rintik hujan dan langit yang mulai gelap, akhirnya kami melihat papan kecil putih dengan tulisan nama bungalow yang kami cari.  Posisinya pun rada ngumpet karena nempel di tiang gang.  Aaahh akhirnya.

Berlari-lari kecil bersusul-susulan dengan rintik hujan, kami menelusuri gang berukuran lebar tidak lebih dari 1.5m sepanjang (kira2) 200m.  Dalam perjalanan, saya melihat sebuah warung kecil dengan beberapa dudukan untuk bersantap.  Di ujung gang kemudian terlihat sebuah gerbang semen dengan tanaman rambat yang tumbuh subur.

Melewati gerbang, rangkaian tapak semen berbentuk persegi panjang dan bertuliskan nama-nama negara menyambut kami.  Tanaman-tanaman hijau, pohon-pohon tinggi, dengan sebuah kolam kecil di kiri pintu masuk terlihat segar setelah habis diterpa hujan.  Gak susah untuk mencari pengelola bungalow karena tak lama kami disambut oleh Bli Wayan Wisnu yang tampak asyik mengutak-atik sesuatu di halaman salah satu kamar.

Sambutan ramah sangat terasa dari Bli Wayan, yang ternyata adalah penerus dan putra tertua dari pemilik awal bungalow ini, Bli Made Marsa, seorang pelukis yang cukup punya nama di Ubud.  Tanpa membuang waktu, kami langsung diantar ke kamar yang berada di lantai bawah.  Berbagi tugas dengan adiknya yang tinggal di dalam bungalow, Bli Wayan menjelaskan aturan-aturan yang harus kami patuhi serta layanan makan pagi yang bisa kami nikmati tiap hari (roti tawar panggang, telur rebus atau scramble/orak arik, buah potong atau juice).

Tempat tidur besar di kamar kami

Berada di lahan seluas hampir 500m2, bungalow ini terbagi atas 3 bagian.  Di tengah adalah taman.  Di sisi kiri masuk ada 2 kamar dengan bangunan lama, yang belakang kami ketahui adalah cikal bakal bungalow ini.  Sementara di bagian ujung adalah bangunan baru dengan 2 kamar di bawah dan 3 kamar di atas.  Semua kamar memiliki teras dengan sofa dan meja panjang di bagian depan, yang memang digunakan untuk makan karena Gerhana Sari tidak ada ruangan atau bangunan khusus untuk restoran.

Tampak depan kamar kami

2 kamar dari bangunan lama adalah kamar standard, berkipas angin, disewakan dengan harga Rp 240.000,- – Rp 280.000,-/kamar/malam.  2 kamar dari bangunan baru adalah kamar superior, berada di lantai bawah (salah satunya adalah kamar kami), berkipas angin, disewakan dengan harga Rp 280.000,- – Rp 330.000,-/kamar/malam.  Sementara 3 kamar di lantai 2 bangunan baru, kamar superior menggunakan AC, disewakan dengan harga Rp 330.000,- – Rp 370.000,-/kamar/malam.

Kamar kami cukup luas yang walaupun tidak berAC, tapi cukup nyaman dan tidak panas.  Jika duduk di teras depan ada sebuah kolam ikan koi dengan air mengalir dan sebuah gazebo kayu yang tampak nyaman.  Sambil menikmati sarapan di teras, kami dapat melihat taman yang terlihat sangat terawat.  Dengan lokasi yang menjorok ke dalam, bungalow ini tidak berisik, tenang dan homy banget.

Dari Bli Wayan saya mendapatkan cerita bahwa dulu ayah beliau, Bli Made Marsa, awalnya hanya memiliki rumah dengan 2 kamar dalam 1 rumah kayu tradisional yang cukup besar.  1 kamar dipakai untuk keluarga dan 1 kamar lagi disewakan kepada tetamu yang biasanya ingin membeli koleksi lukisannya.  Seiring dengan perkembangan wisata di Ubud dan ke-2 anaknya lulus dari sekolah pariwisata, Bli Made, membangun sebuah bangunan 2 lantai untuk disewakan.  Dan ketika beliau wafat, usaha ini diteruskan oleh anak-anaknya.

Saya sempat bertanya mengapa bungalow ini diberi no 2 (Gerhana Sari Bungalow 2). Bli Wayanpun bercerita bahwa dulu Tante/Bibi nya telah lebih dulu memiliki bungalow yang juga di Ubud dan menggunakan nama Gerhana Sari.  Tapi sayangnya karena tidak ada penerus, tempat tersebut akhirnya dijual dan digunakan untuk toko sampai saat ini.

 

 

Di saat kami menginap, semua kamar penuh.  Sebuah keluarga dari Australia sempat menyapa dan ngobrol agak lama dengan kami karena sempat beberapa kali ketemu di sebuah salon massage yang berada di seberang jalan.  Kami pun akhirnya bertukar cerita kegiatan kami hari itu seperti sudah kenal bertahun-tahun.

 

3hari 2malam kami berada di sini, meninggalkan kesan tersendiri buat saya.  Walaupun tidak terlalu luas, bungalow ini tidak memaksakan diri menghabiskan lahan untuk sekedar menambah pendapatan dari sewa kamar.  Keputusan untuk tetap dengan komposisi seperti sekarang dan mempertahankan taman cantik agar kaya oksigen, sungguh suatu hal yang tepat.  Reservasi yang selalu ada dan nyaris tidak pernah terputus dari waktu ke waktu, menurut Bli Wayan, sudah cukup untuk menghidupi mereka dan mempertahankan agar bungalow ini tetap ada.

Buat teman-teman yang ingin menginap di Ubud dengan dana yang terbatas, Gerhana Sari Bungalow bisa jadi tempat yang tepat.  Letaknya yang berada di tengah-tengah jalur Monkey Forest menuju Pasar Ubud, jadi keuntungan buat kita yang ingin menikmati suasana sekitar yang dikelilingi oleh beberapa outlet dengan berbagai jenis tawaran produk.  Restoran-restoran istagenic pun dapat diraih hanya dengan berjalan kaki.  Nyenengin lah pokoknya.

Gerhana Sari Bungalow 2 | Jl. Monkey Forest, Ubud | Bli Wayan Wisnu +62-821-4497-3158

 

 

Facebook Comment