Mengunjungi berbagai destinasi wisata menarik di satu tempat adalah waktu-waktu yang selalu saya tunggu.  Apalagi ketika berada di Bontang, sebuah kota kecil di timur Kalimantan, yang (mungkin) sangat jarang menjadi pilihan berlibur masyarakat luas.  Jadi ketika 1 hari setelah tiba di Bontang dan langsung diajak ke Bontang Kuala, semangat menjelajah saya pun meletup-letup tanpa bisa dibendung.

Berkendara selama (hanya) 10 menit dari pusat kota Bontang, hawa pelelangan ikan pinggir pantai sudah terasa 1km dari gerbang masuk.  Sepanjang jalan yang sudah dicor ini, kita dapat menemui beberapa resto seafood dan barisan tanaman bakau yang belakangan saya tau bahwa ini adalah salah satu proyek CSR dari PT. BADAK NGL dengan nama Danau Belanda.

Halaman parkir berukuran sedang dikelilingi oleh berbagai penjual kelontong, makanan, dan ikan asin, yang tampak berjajar rapih.  Sore itu adalah kunjungan pertama kami ke Bontang Kuala (BK).  Ditemani oleh Mbak Ida Ratnawati, salah seorang pengurus PWP Badak (organisasi yang mengundang saya mengajar di Bontang), kami tiba sore hari menjelang sunset.

Pemukiman di atas laut seluas 5,67km2 ini sedang mengadakan perayaan tahunan berupa Pesta Laut yang biasa diadakan di akhir tahun.  Alasan inilah yang akhirnya menjawab penuhnya motor yang lalu lalang selama kami berjalan menelusuri jembatan berkayu Ulin.  Jembatan atau jalan pijakan inilah yang menjadi moda lalu lintas bagi para penghuni dan pengunjung untuk mengelilingi seluruh penjuru BK.

Walaupun sudah terbagi atas 2 lajur untuk lalu lalang, nyatanya kami harus melangkah pelan dan berhati-hati mengimbangi puluhan motor yang mondar mandir tanpa henti.  Jeritan kayu ulin yang terhantam roda motor sempat membuat saya gentar.  Wadduuhhh gimana kalo kayunya tiba-tiba patah ya?  Ketakutan sayapun ditertawakan oleh Mbak Ida, “Kayu Ulin kan terkenal kuat Bu.  Yo gak mungkin runtuhlah”

 

Melangkah pelan menyusuri setiap potongan kayu yang tersusun dan terpaku rapih ini, saya melihat roda kehidupan pariwasata yang unik dan khas serta jarang kita temui di Indonesia.  Deretan rumah kayu yang berdiri tegak di atas laut dengan berbagai corak menjadi pemandangan yang begitu mengesankan.  Beberapa perahu sederhana tampak tertambat di beberapa rumah pun meninggalkan tanda bahwa memang benar inilah pemukiman nelayan.  Pekerjaan yang sebagian besar memang menjadi sumber nafkah utama masyarakat Bontang Kuala.

Ditasbihkan sebagai salah satu destinasi wisata andalan Bontang, BK tampaknya lebih dari siap menata perkampungan dengan berbagai persyaratan kelayakan.  Akses untuk mencapai BK yang mudah.  Pengaturan aksesabilitas di dalam kampung juga nyaman.  Pengunjungpun tak perlu takut kehausan dan kelaparan.  Karena hampir di setiap jengkal langkah, tak lebih dari 200m, kita akan dengan mudah menemukan tempat makan baik dalam skala kecil (warung sederhana) sampai dalam skala besar (restoran besar dengan pemandangan yang memanjakan mata).

Wargapun sepertinya sangat sadar akan kebersihan lingkungan.  Diantara pemukiman dan air laut yang membelah beberapa bagian dari pemukiman pun tampak jauh dari tumpukan sampah.  Kotak-kotak sampah berukuran besar maupun kecil bertebaran di sana sini.  Di salah satu sudut paling ujung, di restoran tempat kami biasa menghabiskan waktu, tampak sebuah lapangan besar yang tentu saja beralaskan kayu Ulin.  Area yang luas ini sepertinya memang dipersiapkan sebagai venue utama untuk acara-acara yang diadakan oleh BK.

 

Pesta Laut. Acara tahunan yang diadakan oleh Bontang Kuala. Foto ini saya jepret di kunjungan pertama. Tapi pada kunjungan ke-2, tempat ini sudah bersih dari tenda-tenda dan menjelma jadi area terbuka yang sangat luas

 

Di beberapa titik jalur merapat ke darat, kita dapat melihat ekowisata/ecotourism hutan mangrove yang dikembangkan oleh PT. BADAK NGL.  Pihak Badak menyediakan beberapa perahu sederhana yang bisa membawa kita mengelilingi hutan bakau ini.  Hanya sayang, setelah beberapa kali mencoba, kami tidak berhasil mewujudkan keinginan untuk menelusuri keindahan lingkungan alam yang sudah terbentuk.

Di satu waktu air terlalu surut yang dapat membuat kapal terbentur akar-akar bakau yang nongol ke permukaan.  Sementara di waktu yang lain air terlalu pasang sehingga menghalang perahu untuk melewati kolong-kolong jembatan kayu.  Saya pun harus menguburkan harapan untuk bertemu berbagai hewan laut yang katanya hidup sejahtera dan bebas di sepanjang jalur yang bisa ditempuh di hutan bakau ini.

Barisan kayu Ulin yang rapih tersusun dan terpaku kokoh sebagai sarana lalu lintas sekeliling Bontang Kuala. Tampak di sisi kiri adalah Hutan Mangrove, ecotourism yang dibina dan dikembangkan oleh PT. BADAK NGL

Satu-satunya hiburan yang selalu saya nikmati selama beberapa kali berada di Bontang Kuala adalah menikmati bercangkir-cangkir kopi dan berpiring-piring makanan ringan yang gak pernah gagal memenuhi selera di Bhe Kha Cafe.  Barisan bangku-bangku kayu penuh warna begitu menyempurnakan keindahan dan kesempurnaan wisata kuliner yang ditawarkan oleh Bontang Kuala.  Selain itu, buat saya yang memang menyukai laut ketimbang gunung, duduk berjam-jam sambil ngobrol bersama teman di pinggir laut, sudah menjadi hiburan yang mewah dalam hidup.

Bhe Kha Cafe. Resto open air yang istagenic. Kalau sudah di sini jangan lupa memesan pisang goreng dan roti bakarnya ya. Dijamin gak bakalan kecewa

 

Menutup kunjungan terakhir saya di Bontang Kuala, saya menyempatkan waktu memotret Masjid Jami Al-Misbah.  Sebuah masjid yang juga adalah peninggalan sejarah bagi Kota Bontang dan merupakan salah satu masjid tertua di kota ini.  Ketika saya mampir, terlihat puluhan anak-anak kecil sedang bersiap-siap untuk mengaji.  Suara-suara bahkan teriakan-teriakan kecil mereka terasa sangat menghidupkan masjid yang tampak bersahaja .

Kami pun meninggalkan Bontang Kuala dengan timbunan kesan yang tak terlukiskan.  Buat kami bertiga (saya, Mbak Yayuk, dan Dewi) yang hidup jauh dari laut, bisa mendapatkan kesempatan dan meluangkan waktu di sebuah perkampungan di atas air, bakal jadi kenang-kenangan yang tak terlupakan.  Apalagi ini, di sebuah kota kecil, di timur pulau terbesar di Indonesia, yang jaraknya ratusan atau malah mungkin ribuan kilometer dari tempat tinggal kami.

Terimakasih untuk Mbak Ida, Mbak Tri, dan Mbak Dhany yang telah menemani acara jalan-jalan kami ke Bontang Kuala.  Teristimewa untuk PWP BADAK NGL yang memungkinkan semua memory ini terjadi.  Semoga suatu saat kami bisa kembali ke Bontang dan menikmati aneka hidangan seafood di Bontang Kuala yang sempat kami lewatkan.

 

Facebook Comment