Yang sering mondar mandir ke Bali dan main di seputaran Kuta, pasti tau banget sama Bubba Gump Shrimp & Co (Bubba).  Secara sudah nangkring di tempat yang sama sejak 2004.  Dah 14 tahun euy.  Gak pindah-pindah.  Tetap gagah berdiri walaupun dengan beberapa polesan sedikit demi sedikit dari segi fisik karena mengikuti perkembangan jaman dan tentu saja untuk alasan outlook refreshment.

Dengan berbagai perubahan yang terjadi sepanjang Jl. Kartika Plaza, menjamurnya tempat makan yang semakin beragam di lokasi yang sama, serta naik turunnya perekonomian Indonesia, nyatanya Bubba tetap eksis dan jarang terlihat sepi.  Kalau bukan karena tangan dingin sang pemilik, pemegang lisensi Bubba di Indonesia (kabarnya orang Jepang), pastilah tidak mungkin Bubba bisa bertahan selama itu di Bali.  Good management for sure!!

Melihat foto saya di resto jejaring internasional ini via medsos, seorang teman muslimah mengirimkan WA ke saya, “An, kok lo makan di sana sih, bukannya banyak menu gak halal nya?”.  Tenang bray, barusan saya cuma mesen minuman dan ice cream, buat modal ngobrol-ngobrol segala topik dengan Dewi, melepas lelah dari acara ngider sana-sani dan  tentu saja “tiket” untuk ijin foto-foto sepuasnya.  Modus hahahaha.

Jadi ceritanya, demi bisa mendapatkan foto-foto ciamik untuk tulisan ini, saya dan Dewi sampe bela-belain 2 kali bolak balik ke sini, pasang muka lempeng tanpa dosa, dan nekat cuma pesen minuman masing-masing segelas.  Modalnya kira-kira Rp 150.000,- berdua/kunjungan lah hahahaha.

Kunjungan pertama, malam hari.  Nyatanya hasil foto saya kurang maksimal karena minimnya cahaya (taaahh nyalahin lampu hahaha).  Padahal sayanya yang masih harus belajar dan belajar banyak lagi soal photography.  Kedua, tepat di saat-saat awal Bubba buka (sekitar jam 11 WITA/siang hari) atas usulan Mas pelayan yang ketemu kami di malam sebelumnya.  Selain karena cahaya yang cukup, resto pun belum ramai.  Perfecto!! Waktu 1 jam menuju makan siang betul-betul saya manfaatkan semaksimal mungkin.

Non-smoking area | Tempat yang pas untuk makan-makan bersama keluarga (baca: anak-anak) | Nyaman | Full AC | Dan luas
Smoking Area | Ditata dengan konsep terbuka tapi tetap nyaman | Bar dengan dekorasi atraktif dipusatkan di sini

 

Review Area

Untuk sebuah bisnis kuliner yang sudah berjalan 14 tahun, tentunya Bubba sudah memahami apa yang menjadi kemauan pengunjung.  Ngerti banget masalah kenyamanan. Hidup di Indonesia, salah satu negara produsen rokok dengan 85% prianya adalah perokok, pemilik rumah makan ada baiknya memisahkan antara smoking area dan non-smoking area.  Dan Bubba sudah melakukannya.  Sebelum masuk, persis di pintu utama, pelayan akan dengan ramah menanyakan sisi mana yang kami pilih.

Sisi kiri untuk tanpa asap rokok.  Sisi kanan untuk para ahli hisap.  Sementara bagian tengah, untuk penjualan berbagai merchandise Bubba plus kasir utama.  Lengkap tertata rapih dan menarik, mata digoda untuk membeli aneka produk seperti kaos, tempelan kulkas, perlengkapan dapur, alat-alat makan, sampe pernak pernik dekorasi dengan warna shocking alias gonjreng menyala.  Dijamin.  Buat yang doyan belanja, pasti beli satu dua barang hahahaha.  Yok intip sedikit barang jualannya lewat foto-foto berikut ini.

 

Satu hal yang pasti jika membahas soal area adalah semua sisi kaya akan pernak pernik.  Baik yang tergantung di dinding maupun yang tergeletak di setiap meja.  Tulisan-tulisan provokatif (dari sisi positif) banyak menyita pemandangan di sana sini.  Sebagian besar terbuat dari kayu yang diukir.  Kaya warna dan istagenic untuk dijadikan sasaran foto.

 

Pernak Pernik di Meja Makan

Materi favorit saya sesungguhnya ada di meja makan.  Energi Forrest Gump begitu kental mendominasi.

Ada yang belum tau siapa itu Forrest Gump? Monggo nonton dulu filmnya ya.  Dibintangi oleh aktor papan atas, Tom Hanks, film ini begitu fenomenal dan mencetak box office di berbagai negara.  Males nonton, pengen baca artikelnya aja? Baca di sini ya.

Terus apalagi hal-hal menarik di meja makan? Wwwihh banyak banget.  Ada ember seng besar yang menampung botol sambal, garam, merica, sampe gulungan tissue dan lain-lain.  Tumpukan piring kecil yang menurut saya mungkin sering digunakan untuk share makanan dalam kuantitas kecil, atau wadah untuk tulang-tulang (sisa makanan dari steak atau seafood).  Ada juga tatakan gelas dalam berbagai warna.  Alat pemukul permainan ping-pong dengan lembaran-lembaran menu yang sudah terlaminating.  Dan tentu saja tulisan-tulisan tentang Forrest Gump dalam 2 warna dominan (merah dan biru).

Dari semua itu, yang paling mencuri hati saya adalah tulisan-tulisan tangan dengan spidol permanen di meja.  Ada yang lucu.  Ada juga yang sinis menohok.  Tulisan tangannya bagus dan readable.  Aaahhh seandainya saya diijinkan untuk ikutan menulis di situ ya.  Kira-kira topik apa yang pas untuk disampaikan?

 

 

 

Hidangan Yang Bisa Dinikmati

Bicara soal restoran pastilah otomatis membahas soal makanan dan minuman yang ditawarkan.  Untuk Bali, masih banyak beberapa tempat yang lebih condong tetap mempertahankan makanan non-halal.  Terutama resto dengan jejaring internasional dengan pengunjung yang sebagian besar adalah non-muslim.  Apalagi ditunjang dengan kondisi daerah yang memang minoritas muslim.  Jadi, sampai saat ini, adalah suatu keniscayaan untuk bersantap tanpa khawatir di lokasi-lokasi ternama yang ada di Bali.

Bubba pun begitu.  Walaupun menurut pelayan, dapur halal dan non-halal dipisahkan, saya hanya bisa mengangguk.  Sempat beberapa tahun yang lalu saya memesan aneka gorengan seafood bersama Mbak Yayuk, tapi perasaan gak enak muncul dengan sendirinya.  Jadi, ketika kembali ke Bubba bersama Dewi, di awal Agustus 2018, saya gak berminat untuk makan di sini.

Kalaupun diantara teman-teman merasa yakin untuk bersantap dengan memesan seafood, saya usulkan agar menakar 1 menu untuk disantap 2 orang.  Porsinya gede banget ya bok.  Bule-bule seterek aja makannya sharing.  Apalagi kita yang notabene lebih mungil.  Jadi walaupun seporsi makanan harganya yahud, kalo dibagi berdua, ya tetap aja hitungannya murah.

Terus gimana soal minuman? Emang minumnya sudah pasti halal? Naaahh kalo untuk urusan minuman rasanya jauh lebih meyakinkan.  Memang sih Bubba mengakomodir beberapa minuman berakohol.  Tapi saya percaya, dengan menu minuman yang tampak terpisah dan hijab yang saya kenakan, mereka tidak akan sembarangan menawarkan minuman.  Dan satu lagi yang pasti adalah saya bukan peminum dari orok sampai setua ini.  Jangankan nenggak liquor sampai mabuk, minum Panadol sebiji aja bisa langsung teler dalam hitungan maksimal 30 menit hahahaha.

 

 

Selain menegaskan mengenai dapur yang terpisah, salah seorang crew dengan hati-hati juga menjelaskan bahwa menu utama mereka adalah seafood yang diolah dengan minyak dan cara memasak yang dijamin kehalalannya.  Sering juga mereka menerima tamu muslim yang membawa sendok, garpu dan pisau sendiri.  Ini yang belum mudeng a.k.a tercerna dengan baik dalam pola pikir saya.  Maksudnya apa ya? Hahahaha.

Apapun itu saya sangat menghargai setiap detil penjelasan yang sudah disampaikan.  Karena itulah informasi ini saya tulis, agar saudara-saudara muslim, bisa mempertimbangkan dan memutuskan akan makan dengan minum, atau minum doang sambil menikmati cantiknya setiap jengkal sisi resto seperti yang baru saja saya alami.

 

Oia, untuk Anda yang hanya ingin sekedar mampir tanpa makan dan minum, tapi tetap dapat kenang-kenangan yang manis dari Bubba, ada photo spot ciamik yang disediakan di dekat pintu masuk.  Bangku panjang, koper kecil tergeletak, dan sepasang sepatu raksasa, sering banget jadi obyek foto para wisatawan yang lewat di depan Bubba.  Nih, seperti foto yang saya ambil untuk Dewi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here