TIBA (KEMBALI) DI BANDAR LAMPUNG

Siang terik menyengat ketika saat itu saya tiba (kembali) di Bandar Lampung.  Keringat bercucuran tak terbendung.  Badan berpeluh seperti orang yang baru nyangkul gunung pun terasa banget.  Tapi semua tidak menyurutkan semangat saya untuk bertemu beberapa teman Blogger, bersama menggali kekayaan alam Way Kanan, sisi terjauh utara dari provinsi Lampung, atas undangan Dinas Pariwisata Way Kanan.

Ini perjalanan ke-2 saya ke provinsi Lampung bersama Katerina dan Dian Radiata.  Uforia berkumpul kembali, setelah 2 bulan sebelumnya kami bersama merasakan indahnya Krui, Pesisir Barat, sangat terasa begitu berpelukan di Bandara Radin Inten II  (((berpelukan))).  Perasaan yang samapun mendera saat bertemu Wijatnika Ika, blogger yang juga bergabung dengan kami saat itu.  Walaupun baru bertemu, canda dan kicauan akrab pun langsung terbangun.

Dijemput oleh Angga dan Ayu, dari Tim Wisata Way Kanan, kami pun menyempatkan diri berpose di sebuah jembatan penyambung antara area bandara dan tempat parkir. Jembatan ini sering jadi obyek foto yang katanya istagramable banget.  Baiklah, coba simak foto-foto berikut ini ya.  Barangkali ada diantara pembaca yang merindukan kami  (((jiaaahhh))).

 

 

SEKILAS MENGENAI WAY KANAN

Lepas membayar penasaran berfoto di jembatan dengan warna wani yang menyilaukan mata, kami pun melanjutkan perjalanan darat menuju Way Kanan.  Terus terang, nama Way Kanan sendiri masih berasa asing di telinga saya.  Jadi selama kurang lebih 5jam berada di dalam mobil, saya banyak menyerap informasi dari Rien dan Dian yang sudah pernah berkunjung ke sini.  Plus bahasan lebih rinci dari Ika yang ternyata adalah putri daerah asal Lampung atau (setidaknya) berdarah Lampung.

Sedikit informasi yang saya rangkum dari beberapa sumber/referensi, Kabupaten Way Kanan, pada awalnya adalah pemekaran dari Kabupaten Lampung Utara yang menyediakan lahan seluas 10.000 hektar untuk menjadi daerah tujuan transmigrasi.  Inilah yang akhirnya menjawab pertanyaan saya tentang mengapa ada sekian banyak suku yang bermukim di Way Kanan dan mengapa akhirnya pemerintah daerah setempat menggunakan dua kata RAMIK RAGOM sebagai MOTO DAERAH.  Yak!!  Keberagaman yang seleras dan saling menghargai serta menghormati inilah menjadi pegangan bermasyarakat di kabupaten dengan 14 kecamatan, 6 kelurahan, dan 221 desa ini.

Ketika kami berkunjung, Kabupaten Way Kanan, dengan ibukota Blambangan Umpu, sedang bersukacita merayakan Hari Jadi nya yang ke 18, yang jatuh pada 27 April 2017.  Berbagai acara runut diadakan selama hampir 3 minggu (tulisan mengenai ini akan saya hadirkan terpisah).  Sungguh suatu perayaan yang tentunya sangat menguras energi, biaya, juga melibatkan sekian banyak anggota tim yang solid.  Kami pun sesungguhnya menjadi bagian kecil dari acara ini karena diijinkan untuk mengangkat dan merasakan sendiri berbagai destinasi dan program-program wisata unggulan, yang kedepannya akan menjadi agenda tetap pariwisata kabupaten.

Dalam berbagai tulisan yang nantinya akan saya hadirkan mengenai Way Kanan, adalah apa yang menjadi bagian dari perayaan tersebut di atas.  Berkibar di atas bendera WAY KANAN ASYIK, Kabupaten yang dipimpin oleh Raden Adipati Surya ini, siap bergerak maju dan melakukan langkah-langkah serius memperkenalkan dan memajukan pariwisata lokal di kancah nasional, pun bisa jadi menembus pasar wisata internasional.

 

GEDUNG BATIN

Menikmati jalan darat penuh perjuangan, berkelok-kelok dan banyak “sumur” kecilnya, kami akhirnya sampai di Desa Gedung Batin, yang sejak Juni 2007 lalu ditetapkan sebagai KAMPUNG WISATA LESTARI oleh Sekjen Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Berada di Kecamatan Blambangan Umpu dan 22km dari ibukota kabupaten, untuk mencapai desa ini dari jalan besar antar provinsi, kami harus menempuh rute sepanjang 7km untuk mencapai persimpangan (seperti foto di bawah ini) dan 2km lagi melewati kebun karet, sebelum akhirnya tiba di tugu depan kampung.

 

Persimpangan menuju Kampung Gedung Batin. Foto dari Rinto Macho
Kebun karet dan jalan menuju Kampung Gedung Batin. Foto dari Rinto Macho

Sambutan dan bincang-bincang hangatpun terjalin ketika kami menginjakkan kaki di sebuah rumah tua yang akan menjadi tempat kami (saya, Rien, Dian, dan Ika) 2 hari bermalam.  Rumah kayu yang telah berumur lebih dari 200an tahun ini, tampak mulai berdirit dengan beberapa titik pijak yang mulai rapuh.  Saya yang sudah lama tidak melangkahkan kaki di dalam rumah panggung, sempat merasakan sensasi ketar ketir di dada.  Sejenak merasakan dosa memiliki berat tubuh yang lumayan.  Padahal apalah arti saya seorang dengan kokohnya kayu di bawah rumah  (((khawatir tak beralasan))).

Sekelebat mendadak merasakan dejavu masa kecil ketika berkunjung ke rumah nenek (dari pihak Ayah) yang berada di dusun Besemah, Pagaralam, Sumatera Selatan.  Hanya saja, di rumah nenek, kayunya lebih tebal dan terlihat lebih kokoh.  Mungkin jika masih ada, umurnya akan sama dengan rumah ini.

 

Ketika kami kembali ke rumah dari makan malam hari itu, saya menyempatkan diri mandi menghanyutkan daki yang melekat di badan.  Menuruni anak tangga yang lumayan curam, pijakan-pijakan bambu dengan jarak yang jauh-jauh, membuat saya gentar.  Setelah beberapa kali traveling dan menguji diri sendiri, balik dari Way Kanan, saya mendadak menyadari bahwa TANGGA adalah salah satu dari sumber ketakutan saya selain Allah SWT, Petir, dan Bokek.

Tapi saya kudu mandi sebelum tidur.  Secara badan otomatis akan menolak panggilan lelap jika belum dibersihkan. Jadilah, walaupun harus mengalahkan ketakutan akan tangga, saya tetiba berolah raga nimba sumur sambil ketawa-tawa kecut bareng Dian.  Di tengah gelap gulita hutan yang mengelilingi rumah, dan sumur yang berpagar bambu di 3/4 sisinya, saya pun cebar cebur merasakan segarnya air.  Kalau mungkin ada pocong yang lewat, pasti dia enggan ngintipin saya  “Gerah Neng??” (((pllaaakkk))).

Tak sampai 30 menit kemudian, saya pun terlelap merajut mimpi dengan tidur di kasur gulung/lipat yang sudah disiapkan di tengah-tengah bagian rumah.  Tidurpun dengan berderet dan tersusun rapih diantara kami berempat.  Maksudnya, kalau satu menghadap kanan, berarti semua harus menghadap kanan, kalau ada yang berubah miring ke kiri yah berarti barisanpun berubah ke arah kiri.  Itu saking patuhnya tubuh terhadap lebar kasur dan menghindari berebut udara dari hidung akibat posisi tidur yang berhadap-hadapan.

Ruang tengah (inti) rumah tempat seluruh kegiatan berlangsung. Makan, tidur, beberes, semua dilakukan di sini. Walaupun keliatan serba terbatas, aliran listrik di kampung ini moncer tanpa hambatan

Ada catatan penting dari episode proses tidur buat saya malam itu, plus 1 hari lagi kedepan, bahwasannya  ternyata signal handphone yang sekarat bisa memberikan pengaruh kuat terhadap signal tubuh untuk beristirahat.  Karena biasanya, sebelum tidur, saya butuh hampir 1jam untuk menemukan kantuk.  Naaahhh mengisi jalan menuju kantuk inilah, saya memanfaatkan otak atik HP sebagai hiburan sebelum akhirnya teler dengan HP yang tergeletak.  Ternyata, terkepung kesunyian, ketenangan, mata dan badan pun akan patuh beristirahat  (((catet))).  Jadi jangan heran jika menemukan bahwa angka pertumbuhan jumlah penduduk di desa-desa selalu tinggi (((nah pikirkan dah tuh hubungannya hahahaha))).

Sumur (kanan foto) yang berada persis di depan tangga turun dan kakus yang berupa bilik kecil
Dapur sederhana dengan kompor kayu bakar. Di sini, induk semang kami memasak makanan yang selalu nikmat di pagi hari.

Di rumah ini, selain banyak menabung cerita-cerita sejarah rumah-rumah tua yang ada di desa, kami pun menampung asa yang terucap dari bibir pemilik rumah.  Cerita-cerita lucu jaman dahulu tentang kehidupan muda-mudi yang terbatas pada adab, menjadi bahan obrolan yang bikin ngakak.  Di lain waktu, kami juga diceritakan sejarah putra putri daerah yang merantau untuk mengangkat perekonomian keluarga.  Bahkan sempat ada suatu waktu dimana banyak barang-barang peninggalan sejarah yang terpaksa harus dijual karena himpitan ekonomi.  Mendengar ini, saya hanya mampu tercenung dan menikmati goresan hati dalam diam.

Sebagian besar, waktu-waktu berbincang santai, banyak ditemani oleh bercangkir-cangkir kopi.  Salah satu ciri nuansa desa yang khas Sumatera.  Beberapa kali, ketika mendapatkan kesempatan bertukar cerita dengan Pak Rajamin (pemilik rumah) dan Pak Sumbay (adik bungsu Pak Rajamin), saya merasakan kehangatan dan harapan-harapan besar beliau untuk Desa Gedung Batin.  Kesempatan hidup Pak Sumbay bekerja di luar desa, tampaknya sudah membuka pengetahuannya membangun sumur-sumur pencari rejeki, yang mungkin bisa dimanfaatkan ketika pembangunan Kampung Wisata Lestari secara fisik terselesaikan dengan baik.  Harapan yang selalu saya aminkan dalam hati tanpa henti.

Perlu diketahui, disaat kunjungan kami di minggu ke-3 April 2017 barusan, jalan-jalan di lingkungan desa sedang dipadatkan dan akan diaspal.

Pak Rajamin dan Pak Sumbay. Tuan rumah kami selama berada di Desa Gedung Batin.

 

SEJARAH GEDUNG BATIN

Sebagaimana tercatat di dalam sejarah, Desa Gedung Batin adalah salah satu desa tertua di Lampung.  Penduduk yang menetap di tepian sungai Way Besay ini merupakan cikal bakal berkembangnya Kabupaten Way Kanan.  Kehidupan mereka pun tidak terlepas dari keberadaan dan fungsi sungai ini.  Masyarakat terbiasa menggunakan rakit bambu, menelusuri sungai, untuk mengangkut dan memperdagangkan hasil bumi, seperti lada, cengkeh, kopi, dan karet.

Perkebunan rempah-rempah ini pun masih berkembang di Way Kanan sebagai salah satu sumber nafkah asli masyarakat setempat.  Ini terbukti, di beberapa titik, bahkan menuju Desa Gedung Batin, masih terlihat lahan-lahan luas perkebunan rempah.  Di pinggir jalan antar provinsi, beberapa kali saya melihat area besar yang menampung sekian banyak truk pengangkut hasil kebun.  Beginilah tanda kehidupan perekonomian menggeliat.

Terlepas dari rempah-rempah yang sempat merajai roda kehidupan masyarakat, kesadaran untuk melestarikan peninggalan sejarah pun mulai dibangkitkan.  Karena sejatinya wisata sejarah bisa dijadikan sebagai salah satu opsi sumber pendapatan daerah.  Rumah-rumah tua ini misalnya.  Berkeliling desa, yang tidak terlalu besar ini, kita bisa menemukan 8 unit rumah tua yang masih tegak berdiri.  Dibangun di atas gelondongan kayu yang kokoh, rumah-rumah ini membawa ciri khas rumah panggung Lampung.

Dari catatan yang didapatkan dari Tim Wisata Way Kanan, rumah tertua dibangun tahun 1741 dengan arsitektur tradisional Lampung.  Ada papan bertuliskan kata atau kalimat ditempelkan di bagian depan rumah yang tidak saya mengerti.   Di dalam rumah masih tersimpan perabotan-perabotan antik, peralatan rumah tangga kuno, perangkat adat dan budaya Lampung.

Di salah satu rumah (milik Ibu Lurah/Ibu Alvera Devi), saya melihat rangkaian huruf/tulisan Cina yang terukir dengan rapih di kayu penyanggah.  Sepertinya huruf-huruf (atau angka) ini adalah petunjuk sisi kayu yang tersambung dengan kayu lainnya.  Jejak ini seperti mengarahkan kita bahwa dalam suatu waktu memang ada keterlibatan orang Cina (kemungkinan besar adalah pedagang) yang tinggal dan membantu masyarakat setempat membangun tempat tinggal.

Sementara di rumah yang lain (bersebelahan dengan rumah tempat kami menginap), Pak Sumbay menunjukkan koran Belanda keluaran ratusan tahun lalu, yang menempel di salah satu kayu pondasi rumah.  Nah kalau urusan Belanda, rasanya tidak mungkin melenceng karena toh nyatanya negara ini memang menjajah kita sampai 300an abad.

Berjalan berkeliling desa, kamipun diajak untuk melihat sebuah kuburan tua dengan nisan yang menyerupai kubah lancip berukuran kecil.  Angka 1305 dan nama Siti Fatimah pun terukir di nisan ini (((sambil merinding nulisnya))).  Berbagai versi ceritapun sempat bermunculan.  Tapi biarlah menjadi misteri  (((diam)))

 

 
 
 

 

Berikut adalah rumah-rumah penduduk desa yang saya abadikan melalui kamera saya.  Nuansa yang kental pedesaan yang kaya akan bangunan dan tidak tersentuh materi modernisasi.  Jadi kalau melihat lingkungan sekitar, adalah tepat kiranya pemerintah daerah Way Kanan menetapkan Desa Gedung Batin sebagai Kampung Wisata Lestari.

 

 

 

BERTEMU BUPATI WAY KANAN

Di hari ke-2 kunjungan kami, setelah berkeliling menikmati indahnya Desa Gedung Batin,  beberapa dari kami merasakan Bamboo Rafting menelusuri Way Besay dari Desa Banjarmasin sampai Desa Banjarsari, juga dalam rangka memeriahkan rangkaian ulang tahun kabupaten.  Saya pada awalnya memang memutuskan untuk menjadi tukang foto penyambut peserta rafting di titik finish.  Tapi nyatanya titik foto yang sudah saya incar sedari sampe di Desa Banjarsari, dinyatakan tertutup oleh aparat keamanan setempat karena alasan keselamatan.

 

Jembatan gantung di atas sungai, titik foto yang saya sebutkan di atas, sebenarnya lebih dari strategis untuk menangkap foto-foto sampan bambu peserta rafting.  Tapi sayangnya, walaupun bapak pulisi sudah saya hadiahi senyum manis, termanis sejagat raya, ternyata pendiriannya tidak tergoyahkan.  “Tidak ada yang boleh berdiri di jembaan gantung ini demi keselamatan!” gegar beliau sambil mengusir saya.  Yaealaaahh secara yak disenyumin emak-emak estewe.  Coba kalo yang request artis sekelas Tamara Blezinski.  Byaaarrr.  Pecah itu aturan  (((ngakak meringis sedih))).

Tapi tak apa, selalu ada kejadian manis di ujung derita (((ssrrooott))).  Hasil dari keberadaan kami selama di desa Banjarsari, mencatatkan kesan yang sangat baik. Betapa roda ekonomi terangkat di tempat ini jika Bamboo Rafting menjadi salah satu wisata andalan di Way Kanan.  Adanya warung-warung penjaja makanan dan minuman yang diadakan oleh masyarakat sekitar, tampak diserbu oleh para pengunjung.  Jadi bukan tidak mungkin, ketika kegiatan ini benar-benar sudah dilaksanakan secara regular, pendapatan rakyat desa setempat akan terangkat.

 

Kesan lain yang saya dapatkan ketika berada di sini adalah betapa keberagaman suku sangat terasa.  Percakapan dalam beberapa bahasa daerah pun menyegarkan hati saya.  Walaupun mereka datang dari suku dan bahasa yang berbeda-beda, nyatanya tidak jadi penghambat mereka untuk menyatu.  Contoh kecil saja misalnya, Ibu yang membuka warung, keturunan Jawa, ini saya ketahui ketika beliau memberikan arahan kepada asistennya.  Tapi ketika beliau menerima pelanggan berbicara bahasa Lampung, beliaupun lancar membalas omongan si tamu.  Wuiiihhh.  Kalau mau dicatat, ibu ini sebenarnya bilingual, malah multi lingual, karena ketika saya coba ajak ngomong bahasa Palembang, dia mengerti dan menjawab dengan bahasa yang sama.  Keren aaaahhh!!

Menuntaskan pengamatan di desa ini, kami pun bersegera kembali ke Gedung Batin.  Sesuai rencana yang sudah disusun, di rumah Ibu Lurah akan diadakan jamuan makan dan temu wicara dengan Bapak Adipati, Bupati Way Kanan.  Semangat saya pun melonjak.  Membayangkan bisa mendengarkan visi dan misi beliau, serta berkesempatan mengeluarkan ide kepada pejabat tertinggi di tempat kita berada, benar-benar satu kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan.

Belum juga bertemu dengan Bupati, saya sudah dibuat ngences melihat hidangan yang sudah dipersiapkan oleh ibu-ibu desa.  Berderet rapih memanjang di atas karpet, menu sehat berbagai jenis sudah melambai-lambai minta disentuh.  Rebusan sayur, ikan pindang, ikan goreng, telur dadar, tempe, tahu, dan yang tidak ketinggalan adalah pijok-pijok khas Lampung.

 

Pindang kepala patin dan serutan mentimun favorit saya

Pijok-pijok ini pun diperkenalkan oleh Pak Adipati dengan mempraktekkan langsung cara pembuatannya.  Mencampurkan sambal dengan ikan dalam satu piring atau mangkok kecil, kemudian dilumat-lumat menjadi satu dengan menggunakan tangan. Dan jika ingin lebih “berat” isinya, kita bisa menambahkan tempoyak (fermentasi durian), terasi, nanas dan asam kandis.

Kalau liat dari cara mengolahnya, saya jadi teringat sambal jok-jok khas Komering, Sumatera Selatan.  Sesuatu yang menurut saya unik, adalah meremas-remas semuanya sesuai dengan takaran pribadi dan membuat campuran tersebut jadi ringkes untuk dimakan dalam sekali suap.  Kekayaan kuliner yang patut dilestarikan.

Kalau untuk saya, sudah cukup bahagia berdekatan dengan sepiring pindang kepala patin.  Sigap memindahkan piring kecil ini mendekati saya (((modus))), makan siang menjelang sore itupun, membuat saya terkapar kekeyangan karena menghabiskan 2 piring nasi lengkap dengan sambal terasi yang enaknya sampai menyentuh langit.  Mata sempat mulai mengajak melayang tapi untungnya kesadaran akan acara penting setelah makan membuat saya siap tegap seperti tentara.

Mengambil posisi strategis duduk di sebelah Pak Adipati, menyegarkan pandangan saya bahwa ada angkatan muda yang pantas dan mulai banyak bermunculan menjadi orang nomor satu di dalam pemerintahan.  Anak muda yang duduk di sebelah saya saat itu, masih berusia 39 tahun dan akan menjadi Way Kanan 1 sampai masa bakti 2021.  Putra daerah dengan keturunan asal Gedung Batin, Pak Adipati terlihat begitu santai dan rileks menghadapi kami, terutama para bloggers, yang lebih dari semangat mendengarkan untaian kalimat penuh refresif.  Sudah saatnya memang republik ini digawangi oleh kaum muda dengan pemikiran-pemikiran segar dan lebih terbuka mengikuti sekian banyak tuntutan mengikuti perkembangan jaman.

Setelah sebelumnya sempat menjadi Ketua DPRD Way Kanan, di uraian awal beliau, saya mendapatkan kesan bahwa beliau lebih dari cukup untuk memahami bagaimana media sosial dapat memberikan pengaruh dalam dunia pariwisata.  Berkembangnya profesi Travel Blogger pun, secara realitas di Indonesia, nyatanya memberikan andil yang besar, khususnya untuk memperkenalkan obyek wisata.  Bukan tidak mungkin kedepannya para bloggers inilah yang akan menjadi duta wisata berkesinambungan bagi suatu daerah.

Menjawab pertanyaan saya mengenai pariwisata unggulan dan keunikan obyek wisata Way Kanan dari daerah-daerah lain, beliau tampak suprise.  Menempatkan diri sebagai turis lokal yang buta sama sekali mengenai Way Kanan, tentunya ini yang akan menjadi pertanyaan pertama “Apa sih kekhasan wisata Way Kanan sehingga saya harus datang ke sana?”.  Secara global beliau menjelaskan bahwa sejatinya daerah ini memiliki sekian banyak tempat berwisata yang belum terlalu/sempat diangkat kepermukaan.  Berkonsentrasi lebih pada perkebunan, beberapa tahun terakhir keputusan untuk memajukan bisnis piknik, semakin dipikirkan oleh pemerintah daerah setempat.

Bamboo Rafting misalnya.  Di kesempatan perayaan ulang tahun ini, bamboo rafting dikenalkan dan akan mulai dicanangkan sebagai wisata petualangan di Way Kanan.

 

Begitupun untuk Gedung Batin.  Akses dan sarana di desa ini diperindah, diperbaharui, sehingga mampu menampung wisatawan yang ingin tinggal dan merasakan berlibur dengan suasana desa dengan segala keterbatasan.

Pertanyaan lain pun muncul dari rekan-rekan yang ikut berdiskusi.  Overall, menurut Pak Adipati, Way Kanan akan terus menerus berbenah.  Tentu saja dengan tetap memperhatikan anggaran yang ada.  Menjawab sekian banyak masukan dari seluruh warganya, ternyata 80% suara adalah permohonan untuk lebih meningkatkan mutu infrastuktur (terutama jalan).  Tidak bisa dibantah memang karena kalau ingin jujur, perkara terberat yang dihadapi oleh Provinsi Lampung adalah fasilitas jalan yang hampir 80% kurang layak untuk ukuran tempat tujuan wisata.

Sore itu diskusi kami berakhir dengan masih banyak pertanyaan di benak saya.  Tapi mudah-mudahan setidaknya, hasil dari kunjungan pertama ke Way Kanan, akan membawa saya lebih bersemangat lagi membantu para sahabat pejuang pariwisata.  Usaha menjadi besar dimulai dari mereka-mereka yang mau membangun usaha kecil.

Untuk Gedung Batin sendiri, saya berharap kedepannya akan ada perubahan-perubahan yang signifikan dalam penataan dan pengelolaan tempat, termasuk merawat semua kekayaan budaya dan alam yang saat ini masih ada.  Jika ingin benar-benar berkembang menjadi Kampung Wisata Lestari, pertahankan kearifan lokal yang ada.  Meleburlah dengan kemajuan jaman tanpa melepas semua kebaikan-kebaikan lama yang masih layak dipertahankan.

Facebook Comment