Liburan singkat yang tidak direncanakan.  Mendadak dapat ajakan untuk main ke Pulau Pramuka dan langsung memutuskan untuk ikut.  Setelah beberapa kali sempat membatalkan rencana untuk mengunjungi gugus Kepulauan Seribu karena beberapa hal yang tidak terduga, sepertinya ajakan kali ini benar-benar datang di saat yang tepat.  Sedang tidak acara dan pas pengen jalan-jalan tapi tidak membunuh waktu karena terkepung kemacetan (gak jauh-jauh dari rumah).

Pulau Panggang dan Pulau Pramuka terlihat dari kejauhan

 

Marina Bay | Ancol

Meluncur dari arah Kelapa Gading pkl. 06:15 wib, kami tidak menemukan hambatan yang berarti untuk sampai di Ancol.  Jarak tempuh yang relatif dekat dan jalan lengang karena (masih) libur lebaran, benar-benar memberikan kenyamanan berkendara.  Masuk Ancol tidak antri seperti biasanya dan kami pun mendapatkan kemudahan untuk menemukan parkir mobil yang tidak jauh dari Dermaga 17, tempat dimana kami harus berkumpul.

Pagi itu, Marina Bay yang berada di belakang Dufan (Dunia Fantasi), terlihat penuh sesak dengan ratusan pengunjung.  Parkiran mobil pun sangat padat.  Gerombolan wisatawan menyemut di sana sini.  Sebagian besar rombongan yang datang dalam jumlah yang tidak sedikit dengan berbagai tujuan.  Ada yang ke Pulau Tidung, ada yang ke Pulau Bidadari, dan ada yang akan ke Pulau Pramuka seperti kami.  Menunggu sekitar 30menit, akhirnya satu demi satu pengunjung diabsen untuk loading ke atas kapal sesuai tujuan masing-masing.

Menggunakan kapal cepat dengan 6 mesin penggerak, Black Pearl 2 yang berkapasitas 190 orang, mulai dipenuhi oleh penumpang.  Rombongan kami, berjumlah 8 orang, memilih untuk duduk di lantai atas (tanpa AC) dan menikmati hempasan air laut dalam 1 jam ke depan menuju Pulau Pramuka.  Kapal berbadan lebar dengan 2 lantai yang dimiliki oleh Sea Leader Marine ini pun melaju membelah Teluk Jakarta.  Sayang, karena duduk di deretan dalam diantara sesaknya penumpang, saya tidak bisa merapat ke jendela dan memotret selama dalam perjalanan.

Kapal Cepat Black Pearl 2 yang membawa kami menuju Pulau Pramuka

 

Pulau PRAMUKA | Kepulauan Seribu

 

Disambut dermaga memanjang berukuran sedang, kami mendarat di Pulau Pramuka dengan selamat dan antrian panjang un-loading ratusan penumpang.  Tampak beberapa pedagang makanan dan minuman ringan berjejer rapih di sepanjang dermaga.  Terlihat juga beberapa warung nasi, penyewaan sepeda, angkot motor dengan bak penumpang di bagian belakang, dan kapal-kapal kecil yang parkir di pinggiran dermaga yang siap untuk disewakan menuju pulau-pulau kecil yang berada di perairan teluk Jakarta.

Ibukota dan pusat administrasi Kabupaten Kepulauan Seribu ini pagi itu tampak sibuk dan penuh pengunjung walaupun tidak terlalu membludak.  Dengan luas sekitar 16 hektar, pulau ini sebagian besar digunakan untuk kantor-kantor pemerintah dan tempat penginapan baik itu homestay maupun villa.  Sementara untuk tempat tinggal penduduk sebagian besar ada di Pulau Panggang.  Pulau yang berada persis berseberangan dengan Pulau Pramuka.

Pulau Pramuka sendiri tidak memiliki pantai.  Bibir lautpun langsung mengitari pulau yang merupakan bagian dari Kelurahan Pulau Panggang.  Jadi jangan berharap untuk dapat bermain-main pasir di sini.  Tapi meskipun begitu, sejak 2003, Pulau Pramuka telah ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, yang membawahi 2 kecamatan yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dan Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.  Pulau ini juga mendadak jadi bahan perbincangan dan sorotan media, serta saksi sejarah ketika salah seorang mantan Gubernur DKI Jakarta melakukan pelecehan verbal atas agama Islam yang akhirnya dihukum penjara selama 2 tahun.

KHARISMA Homestay. Sewa/malam 250K-450K. Ada 3 unit kamar dengan kapasitas 8-10org, 450K/malam, lengkap dengan AC, kamar mandi di dalam, dan makan pagi. INFO: Ibu Kulsum, 0878-8930-7936, 0821-1091-1057
VILLA DE’LIMA. Harga sewa 450K/malam sudah termasuk makan pagi untuk (kapasitas) 2 orang/kamar. INFO: Bpk. Untung – 0813-1955-1955

Setelah berganti pakaian renang dan siap basah-basahan, kami pun digiring oleh petugas travel yang sudah kami booking untuk menaiki sebuah kapal kecil bermotor dan beratap terpal menuju Pulau Ayer dan Pulau Semak Daun (yang sering dibecandain dengan sebutan Pulau Smack Down).  Di dalam perahu kami telah disiapkan masker snorkling, baju pelampung, kaki katak, sekotak penuh air mineral dan nasi serta lauk pauk untuk makan siang.  Let’s start the journey!!

Rombongan kecil keluarga kami. 3 ipar wanita saya, 3 keponakan, 1 anak perempuan saya, plus tentunya saya sendiri yang jadi photographer selama perjalanan berlangsung

 

Pulau AYER | Kepulauan Seribu

Berlayar dengan kecepatan sedang, mata kami dihibur dengan birunya air laut dan langit dengan warna yang lebih muda.  Walaupun tidak banyak terlihat sekumpulan awan di sana sini, cuaca pagi hari menjelang siang itu sangat bersahabat.  Selama berlayar kami berpapasan dengan beberapa rombongan perahu yang juga berkeliling pulau-pulau yang berada tidak jauh dari Pulau Pramuka.

Rute pertama adalah mengelilingi pulau kecil tak berpenghuni yang disebut sebagai Pulau Ayer.  Dipenuhi oleh pepohonan dengan daratan yang terbelah, menurut pemandu wisata kami, pulau ini adalah salah satu pulau konservasi yang sangat dijaga kebersihan dan kelestariannya.  Keunikan pulau ini adalah memiliki anjungan pasir yang akan muncul ketika air laut pasang.  Daratan kecil berupa pasir ini dapat kita singgahi dan biasanya menjadi salah satu spot foto favorit para wisatawan.  Rombongan kami pun tidak melewati kesempatan ini.

Berikut adalah beberapa foto Pulau Ayer yang saya abadikan melalui kamera Handphone Samsung Galaxy E7 dan Oppo F1s (sedang fakir kamera yang mendadak minta pensiun setelah lebih dari 10 tahun bersama).

Sesaat setelah membuang sauh.  Kecuali saya, semua anggota rombongan kami nyemplung dan turun ke daratan kecil ini.  Dari tempat perahu terparkir, ternyata air laut tingginya hanya selutut orang dewasa aja.  Saking bersih dan beningnya air laut, kita bisa berkaca dan melihat dasar pijakan tanpa terhalang apapun.  Pasirnya pun lembut, putih dan nyaman untuk dipijak (ini info dari anak perempuan saya yang sangat menikmati pantai kecil ini).

Saya pun mencoba membingkai beberapa perahu yang terparkir tidak jauh dari kapal kami.  MasyaAllah, jernihnya air membuat seolah-olah deretan kapal tersebut mengambang tanpa penahan sama sekali.  Teriknya sinar matahari, menjadikan kejernihan air laut tanpa sampah ini pun semakin sempurna.  Tidak ada kata atau kalimat yang tepat untuk mewakili kekaguman saya atas lukisan semesta karya Sang Maha Pencipta.

Puas menghabiskan waktu dengan berfoto-foto di tempat yang sarat akan keindahan ini, kami kemudian mengelilingi lagi Pulau Ayer untuk tiba di sudut yang berbeda.  Kali ini bukan pasir putih yang menjadi sasaran rekreasi, tapi sekumpulan karang laut, terumbu karang, dan segerombolan berbagai jenis ikan yang rajin dan ramah mengikuti siapapun yang berenang di dekat mereka.  Tanpa menunggu instruksi, semangat snorkling pun membuncah.  Lagi-lagi tanpa saya yang tetap sibuk foto dari atas perahu yang terguncang ombak kesana kemari.

Tak lama setelah kapal kami parkir di sini, beberapa kapal lain yang tadinya juga berada di dekat kami, kembali berkumpul di tempat yang sama.  Suasana yang sempat sepi kembali riuh rendah dengan grudak gruduk persiapan snorkling, candaan yang saling bersahutan, di tengah-tengah kalimat-kalimat pujian dan luapan kegembiraan.  Para nahkoda kapal dan pemandu wisata setiap kapalpun tampak saling menghormati area masing-masing dengan tidak memarkirkan kapal terlalu berdekatan.

Waktu 1 jam pun berlalu tidak terasa.  Puas menyapa ikan-ikan yang berenang bebas di air laut yang bersih terjaga, kami pun melanjutkan perjalanan ke sebuah pulau tak berpenghuni dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dari Pulau Ayer.  Deru mesin kapalpun menderu kembali sambil membawa kerinduan menikmati Fanta merah dengan luapan es dan embun dingin di sekeliling gelasnya (((kangen minuman dingin)))

 

Pulau SEMAK DAUN | Kepulauan Seribu

Sering dibecandain dengan panggilan pulau Smack Down, saya tak menyangka bisa bertemu kembali dengan sebuah pulau kecil, berpasir putih, dan terkepung dengan air laut bening seperti yang pernah saya alami dengan Pulau Failonga di Tidore Kepulauan.

Pulau Semak Daun dilihat dari ujung dermaga

Merapat pelan di sebuah dermaga baru yang cukup tinggi dengan warna yang sangat mencolok, kami melangkah ke dalam pulau yang luasnya sekitar 6 hektar dengan hutan kecil dan tak berpenghuni.  Ketika kami tiba di daratannya yang lebar, tampak beberapa tenda di sana sini, sebuah rumah penjaga dan rumah toilet dengan sanitasi secukupnya.  Beberapa pinggiran pantai ditembok sekitar 1 meter.  Sepertinya untuk menghindari air laut pasang yang bisa menghantam dan menyeret apapun yang berada di pinggir pantai.

Dermaga yang cukup besar untuk Pulau Semak Daun

Selesai menikmati makan siang penuh keserdahanaan yang disiapkan oleh Travel yang membawa kami, sayapun menggeliat mencari beberapa titik kemewahan alam di pulau kecil ini di tengah banyaknya pengunjung yang datang silih berganti.  Berikut adalah beberapa foto yang berhasil terekam di kamera handphone saya

 

Perahu sewaan wisatawan yang semakin banyak berdatangan. Tampaknya memang wisatawan diarahkan untuk menghabiskan waktu makan siang di Pulau Semak Daun ini
Dermaga Pulau Semak Daun yang terlihat dari bibir pantai

Melakukan penjelajahan kecil-kecilan di seputar pulau tak berpenghuni ini, saya menemukan hutan mini yang tampak hijau dengan pohon-pohon pinus dan kelapa yang menjulang tinggi, serta beberapa tanaman yang berdaun tebal dengan warna hijau solid yang cantik luar biasa.

Kenyamanan berkeliling ini kemudian terganggu dengan beberapa sampah bekas makanan (terutama botol-botol bekas dan kotak makanan) serta tumpukan plastik sampah hitam yang bertebaran di seputaran hutan mini yang saya lewati.  Peringatan dan aturan pembuangan sampah nyata tertulis di beberapa papan berukuran sedang dan besar yang dipasang di beberapa titik.  Tapi nyatanya hanya sedikit dari pengunjung yang benar-benar mau mengindahkan aturan ini.  Saya berharap semoga kedepannya, ada petugas yang khusus mengawasi kebersihan pulau dan pemda setempat berkenan menyediakan kapal/perahu khusus yang rutin mengangkut sampah dari pulau yang seharusnya diperhatikan dengan baik ini.

 

Satu jam menikmati pasir putih yang lembut dan lembab di pinggir pantai pulau ini, kami pun bergegas kembali ke kapal untuk berlayar pulang menuju Pulau Pramuka.  Sesuai jadwal, kapal cepat dari Marina Bay akan mengangkut kami kembali ke Dermaga 17 tepat pkl. 14:00 wib.

 

Tips berekreasi ke Kepulauan Seribu

Jika ingin ke Pulau Pramuka, lakukanlah reservasi tiket setidaknya 1 hari sebelumnya.  Pilihlah keberangkatan kapal cepat di pagi sekali agar bisa menikmati perjalanan tanpa cuaca panas yang menyiksa.  Rombongan kami menggunakan reservasi via travel dengan biaya Rp 500.000,-/orang.  Sudah termasuk tiket PP Marina Bay – Pulau Pramuka, penyewaan perahu bermotor selama tour berlangsung, makan dan minum selama perjalanan, penyewaan peralatan snorkling, dan fasilitas mandi serta ganti baju di sebuah homestay, serta 1 buah CD foto selama perjalanan.  Tapi jika ingin melakukan perjalanan solo (tanpa jasa travel), ongkos kapal cepat adalah berkisar antara Rp 125.000,- – Rp 150.000,-/orang (untuk sekali jalan).

Bawalah beberapa makanan kecil dalam kotak/plastik tertutup dan anti air, serta beberapa minuman dingin di dalam kotak pendingin agar tidak dehidrasi selama melaut.  Cuaca panas di tengah terik matahari lebih cenderung membuat kita gampang kehausan.

Gunakan sun-block dengan SPF tertinggi karena sengatan matahari di air laut lebih kejam dibandingkan ketika kita berpetualang alam bebas di daratan.  Akan bermanfaat jika sun-block sudah kita gunakan sebelum menaiki kapal cepat.  Rentang waktu 1 jam selama perjalanan, membuat cream penangkal sinar matahari ini sudah terserap dengan baik ke kulit kita.

Selalu mentaati aturan yang sudah ditetapkan oleh pengelola setiap tempat wisata termasuk tidak membuang sampah sembarangan.  Jika kita menyewa perahu secara pribadi, mintalah nahkoda perahu untuk menyediakan tempat sampah dan membawa balik semua sampah kita dan buang kembali ke daratan.  Ingatlah bahwa selembar sampah yang tidak kita pedulikan, akan merusak lingkungan ditahun-tahun mendatang.  Kita wajib melestarikan kekayaan alam yang bersih, indah, dan terawat kepada anak cucu/generasi penerus kita.

 

Facebook Comment